Tergopoh-gopoh laki-laki mulia itu melangkah ke rumahnya. Ada kecemasan dan ketakutan yang amat sangat tergambar jelas di wajahnya. Dia baru saja mengalami kejadian luar biasa, yang kelak ini merupakan titik awal dimulainya perjuangan risalah Beliau. “Ada apa gerangan, kakanda. Mengapa badanmu menggigil sedemikian rupa?” Sambut sang istri, sang legenda wanita agung ini, dengan penuh ketenangan. Diselimutilah tubuh beliau. Direngkuhnya laki-laki mulia itu ke dalam dekapannya.
Maka mengalirlah cerita kegundahan dan kecemasan dari lisan laki-laki mulia ini. Kejadian yang baru saja dialaminya di tempatnya menepi dan melakukan perenungan, benar-benar telah menggoncangkan sendi-sendi jiwanya. “Sesungguhnya aku khawatir terhadap diriku sendiri.” Kata laki-laki itu. Wanita agung itu menjawab, “Tidak! Bergembiralah Kakanda! Demi Allah, Allah sama sekali tidak akan membuat Kakanda kecewa. Kakanda seorang yang bersikap baik kepada kaum kerabat, selalu berbicara benar, membantu yang lemah, menolong yang sengsara, menghormati tamu, dan membela orang yang berdiri di atas kebenaran.” Mendengar ucapan itu, maka perlahan, berangsur hati laki-laki mulia itu menjadi lebih tenang. Beban berat yang seakan terbebankan di pundaknya, perlahan menjadi meringan kapas, seolah tak lagi ada tersisa di sana.
Ini adalah potongan salah satu episode romantis perjalanan laki-laki mulia itu, Muhammad saw. Kehidupan beliau dan istri beliau ini, Khadijah ra, begitu melegenda. Bahkan kecintaan beliau kepadanya, tak pernah lekang dimakan zaman. Sepeninggalnya, laki-laki mulia ini selalu mengingat akan semua ketulusan dan kebaikannya, juga ketegarannya dalam mendampingi perjuangan risalah yang diembannya.
Kisah ini selalu membuat kita terpesona setiap kali membacanya. Inilah romantika yang sebenarnya. Romantisme itu semestinya menguatkan, bukan malah membuat kita rapuh. Bukankah saat itu umur beliau adalah 40 tahun dan khadijah 55 tahun? Bukankah mereka telah 15 tahun menjalani kehidupan rumah tangga itu? Dan justru mulai umur itulah, kemudian kita mengetahui bahwa ujian-ujian yang jauh lebih berat mulai mendatangi kehidupan beliau.
Selalu begitu. Perjalanan cinta boleh jadi mengalami pasang surut. Bukan karena cinta itu menipis. Bukan pula karena cinta itu tak lagi membiru. Tapi justru karena adanya ujian yang makin mendera dari luar sana. Apa pun bentuk ujian itu, bisa jadi mempengaruhi gairah cinta itu. Rutinitas yang padat, sempitnya waktu, kepenatan yang mendera, jarak yang tiba-tiba terbentang memisahkan, ataupun berbagai bentuk kesempitan lainnya, ia bisa hadir dalam perjalanan rumah tangga kita.
Oleh karena itu, romantisme harus selalu dihadirkan dalam perjalanan epsiode cinta kita. Romantisme tentu bukan monopoli pasangan yang baru menikah.Seiring berjalannya usia pernikahan, justru dia harus senantiasa dipupuk. Romantisme itu hanya masalah persepsi, jika kita bersepakat dengan pasangan kita bahwa sebuah aktifitas itu kita anggap romantis, maka romantislah dia. Jangan hiraukan dunia akan mengatakan apa.
Suatu saat, di sebuah sudut jalan di Jogja, seorang lelaki setengah baya menarik gerobak berisi sampah. Di sebelahnya berjalan sang istri. Penampilan mereka bagi orang mungkin jauh dari kesan keren. Sesekali di jalanan yang sepi, mereka bergandengan tangan. Bercanda. Beberapa pengguna jalan terlihat risi melihat mereka. Menyebalkan, bikin jalan macet aja, begitu pikir mereka barangkali. Tapi bagiku itu luar biasa. Romantisme bukan hanya monopoli mereka yang berpunya, bukan?
Romantisme sekali lagi, hanya masalah kesepakatan. Hanya terletak pada bagaimana kita mempersepsikannya. Tidak selalu harus mahal dan formal. Tidak selalu harus dramatis dan rumit. Tidak harus selalu diskenariokan sebagaimana sebuah drama. Tadi pagi sempat membaca tulisan seorang senior, umurnya telah di atas 40 tahun. Kata beliau, merasakan belaian tangan istri baginya merupakan hal yang membuatnya tentram. Sederhana bukan?
Romantisme kadang memang harus diciptakan. Mungkin sedikit dipaksakan. Tak mengapa. Yang terpenting kemudian adalah adanya kesepakatan dan kerelaan di antara kedua belah pihak. Saya terkadang meminta istri untuk sekedar mencari uban di kepala saya. Bukan apa-apa, saya memang menikmati kepala saya diacak-acak olehnya. Bagiku itu sangat menentramkan. Semua itu, bagiku cukup untuk memupuk rasa di hati ini agar selalu berkembang tunasnya.
Begitulah, energi romantisme ini akan mempengaruhi daya juang kita kemudian. Setiap kita mampu untuk melakukannya. Yang ada tinggal tekad untuk mewujudkannya. Bahkan dalam setiap saat, sesungguhnya bisa dijadikan momen untuk membuat romantika episode hidup kita kembali merona. Sekali lagi, tinggal kita mau atau tidak.
Pancoran, finished at menara jamsostek 28/10/09
"Hidup ini seperti aliran air yang akan menuju ke muaranya. Maka jernihkan alirannya..."
Rabu, 28 Oktober 2009
Jumat, 25 September 2009
Tradisi Saling Memaafkan (Selamat Hari Raya Ied 1430 H)
Selagi ada waktu
Selagi aku teringat
Selagi Allah masih mengijinkan kita bersua
Di bulan yang baik ini
Ijinkan aku beserta segenap keluarga
Mengucapkan :
Taqabbalallahu minna wa minkum
Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua
Selamat Hari Raya idul fitri 1430 H
Mohon maaf lahir dan batin
Mari terus budayakan tradisi saling memaafkan ini
Terima kasih.
Selagi aku teringat
Selagi Allah masih mengijinkan kita bersua
Di bulan yang baik ini
Ijinkan aku beserta segenap keluarga
Mengucapkan :
Taqabbalallahu minna wa minkum
Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua
Selamat Hari Raya idul fitri 1430 H
Mohon maaf lahir dan batin
Mari terus budayakan tradisi saling memaafkan ini
Terima kasih.
Kamis, 20 Agustus 2009
Buah Mengembalikan Urusan Kepada Allah dan Bersabar
Dalam hidup ini setiap muslim kadang menghadapi ujian, cobaan dan bencana. Karena itu, ketika diuji, hendaknya ia bersabar dan mengharapkan pahala kepada Allah atas musibahnya. Jika demikian, tentu Allah tidak akan menyia-nyikan sesuatu pun untuknya, bahkan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang hilang darinya.
Dalam Shahih-nya, Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah ra, bahwasanya ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw, 'Tidaklah seorang muslim yang tertimpa suatu musibah, lalu ia mengatakan apa yang diperintahkan Allah, 'Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah aku pahala karena musibah ini, dan gantikanlah untukku sesuatu yang lebih baik darinya,' kecuali Allah akan memberinya ganti yang lebih baik.' Ummu Salamah berkata, 'Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku berkata, 'Siapakah orang Islam yang lebih baik dari Abu Salamah?, (penghuni) rumah yang pertama kali hijrah kepada Rasulullah saw? Lalu aku mengucapkan perkataan diatas, kemudian Allah menggantikan untukku Rasulullah saw sebagai suami'."
Wahai ummat Islam, ketahuilah! Sesungguhnya barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari padanya. Siapa yang meninggalkan dari menampar pipi sendiri, mengoyak-ngoyak pakaian dan berteriak-teriak meratap serta kemungkaran yang sejenisnya, kemudian ia memohon pahala di sisi Allah atas musibahnya serta mengembalikan semuanya kepada Allah, niscaya Allah akan menggantikanya dan sungguh Allah adalah sebaik-baik Pemberi ganti.
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Dalam Shahih-nya, Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah ra, bahwasanya ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw, 'Tidaklah seorang muslim yang tertimpa suatu musibah, lalu ia mengatakan apa yang diperintahkan Allah, 'Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah aku pahala karena musibah ini, dan gantikanlah untukku sesuatu yang lebih baik darinya,' kecuali Allah akan memberinya ganti yang lebih baik.' Ummu Salamah berkata, 'Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku berkata, 'Siapakah orang Islam yang lebih baik dari Abu Salamah?, (penghuni) rumah yang pertama kali hijrah kepada Rasulullah saw? Lalu aku mengucapkan perkataan diatas, kemudian Allah menggantikan untukku Rasulullah saw sebagai suami'."
Wahai ummat Islam, ketahuilah! Sesungguhnya barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari padanya. Siapa yang meninggalkan dari menampar pipi sendiri, mengoyak-ngoyak pakaian dan berteriak-teriak meratap serta kemungkaran yang sejenisnya, kemudian ia memohon pahala di sisi Allah atas musibahnya serta mengembalikan semuanya kepada Allah, niscaya Allah akan menggantikanya dan sungguh Allah adalah sebaik-baik Pemberi ganti.
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Senin, 10 Agustus 2009
Selingkuh
by Eko Novianto Nugroho
“Istri saya bersyukur memiliki suami seperti saya ini”, demikian kalimat pembuka ta’aruf teman saya. “Dengan wajah seperti ini, kalau masih ada juga perempuan lain yang intim dengan saya, maka dapat dipastikan sayalah yang kurang ajar”, lanjutnya dengan enteng.
....................
Selingkuh. Satu kata yang semakin popular belakangan ini. Dulu ada menyeleweng atau nyleweng. Sekarang ada selingkuh. Perubahan istilah itu mungkin dilakukan demi tuntutan pasar. Pasar sudah jenuh dengan istilah menyeleweng dan perlu ada inovasi baru. Tapi substansinya sama. Menghianati pasangan, membohongi pasangan, dan menutupi sesuatu dari pasangan. Hanya karena kepentingan inovasi saja, menyeleweng diganti dengan selingkuh. Entah kosakata apalagi yang ada di depan sana untuk aktivitas hitam ini.
Seorang teman pernah memberikan tips selingkuh yang sehat. Saya agak terheran-heran dan hendak menolaknya. Tapi saya menahan diri untuk kemudian mencoba mendengarkan dulu paparannya. Selingkuh yang sehat – menurutnya - adalah selingkuh yang dilakukan dengan tetap menjaga kesetiaan pada pasangan, menjaga keterbukaan, dan tetap menjaga kejujuran. Saya tersenyum. Dan teman saya menyimpulkan sendiri. Katanya, ’Kalau setia, jujur dan terbuka. Mengapa selingkuh?’. Saya kembali tersenyum. Saya rasa memang tidak ada selingkuh sehat. Yang ada selingkuh yang seakan-akan sehat.
Suka atau tidak, kita sedang hidup dalam situasi yang kondusif dalam urusan selingkuh ini. Ada banyak propaganda yang indah. Ada pembenaran-pembenaran yang rajin di launching media. Ada banyak syair lagu yang memperindah aktivitas ini. Ada sekian banyak argumen yang membuat selingkuh seakan-akan adalah hanyalah kecelakaan kecil, ketidaksengajaan yang lumrah, atau bahkan sesuatu yang tidak salah. Selingkuh kemudian kerap kali dipandang sebagai sekedar selingan untuk menjaga kesetiaan.
Dan saya percaya jika komunitas tarbiyah bukanlah sebuah komunitas yang aman dari tema ini. Tidak harus panik memang. Hanya perlu waspada saja. Dan jangan katakan tidak mungkin.
Yang kerap menjadi alasan para pelaku selingkuh adalah kebosanan dan keinginan untuk mencoba sensasi dan variasi lain dari pasangan dengan cara yang aman dan menantang. Bosan adalah sesuatu yang memang tidak mudah dihindarkan dalam kehidupan berumah tangga. Ada saja bisikan untuk itu. Yang kurang inilah dan yang kurang itulah. Atau sebaliknya, ada cita-cita atau sensasi yang belum pernah ternikmati.
Bukan tidak pernah terlihat perempuan lain yang mempunyai kelebihan dibanding istri saya yang ajaib itu. Entah perempuan itu di mana. Bisa ada di dekat sini. Bisa juga jauh di sana. Jauh di tempat yang lain. Atau jauh di masa yang lain. Atau bahkan jauh dari realitas. Atau hanya ada di mimpi. Karena perempuan ideal sesungguhnya tidak pernah ada. Hanya ada di ranah idealita.
Sebagaimana – boleh jadi – ada laki laki lain yang memiliki keunggulan dibanding saya di mata istri saya. Entah laki laki itu ada di dekatnya. Atau jauh darinya. Atau bahkan laki laki itu tak pernah ada. Atau kalaupun ada, setidaknya laki laki itu ada di imajinasinya.
Sebatas itu tak apa. Siapa yang bisa membatasi selera. Mengikutinya dengan tindakan nyata itu yang bermasalah. Pendekatan, rayuan, membuka peluang, memberi kesempatan, merekayasa, mengarang situasi, dan tindakan lain yang sesungguhnya hanya untuk pasangan adalah langkah yang potensial bermasalah.
Sampai saat ini, saya percaya selingkuh tidak ujug-ujug. Tidak tiba-tiba. Dan tidak sekonyong konyong. Ia adalah buah dari saling pengertian, saling mendekati, saling merayu, saling mengikuti hasrat, saling membenarkan alasan, saling menguatkan argumentasi dan saling melindungi. Dan kesemuanya memerlukan waktu. Memang relatif. Bisa cepat bisa lama. Tapi tetap perlu waktu. Dan di waktu-waktu itulah situasi akan semakin membenarkan.
Kata kuncinya adalah pembiaran situasi. Sering kali kita berharap dalam situasi itu akan ada jalan kembali. Di depan sana. Padahal tidak. Semakin ke depan semakin sulit untuk kembali. Jika tidak mau dikatakan tidak ada lagi jalan kembali. No way out!!!. Semakin lama situasi semakin membenarkan dan semakin mewajarkan selingkuh yang dilakukan.
Itulah sebabnya jalan menuju selingkuh wajib kita hindari. Sebagaimana ayat-Nya. Apapun itu variasinya. Selingkuh sebagai efek samping kewajaran bisnis, sebagai efek samping keniscayaan sosial, sebagai efek samping kebutuhan lembaga, sebagai efek samping keharusan kerjasama, atau variasi lainnya.
Hal lain yang menjadi keniscayaan hari ini adalah banyaknya pribadi yang merasa pesimis dengan keluarga. Bagi mereka keluarga bukanlah sebuah kebutuhan melainkan sebuah malapetaka. Lebih dari itu, mereka merasa gerah jika ada keluarga yang sehat. Mereka terobsesi untuk merusak keharmonisan keluarga sehat.
“Saya diteror perempuan yang mengaku pacar suami saya. Dia main ancam. Bagaimana pak?”. Demikian sebuah sms yang saya terima. Saya juga pernah menerima pengaduan seorang perempuan yang mengeluhkan kedekatan suaminya dengan fulanah. Saya tanya si suami, ”Apakah benar ada fulanah dalam kehidupan antum?”. ”Benar ada”, jawab si suami jujur. ”Sebagai apa?”, tanyaku berikutnya. ”Teman kerja dan teman kuliah dulu”, jawabnya. ”Antum mengerti keberatan istri tentang ini”, saya sedikit masuk. ”Ya. Bahkan perempuan itu juga mengerti keberatan istri saya”, jawab si suami mantap. ”Lalu?”. ”Dia semakin terobsesi jika kehadirannya menyebabkan keluarga kami berantakan”, jawab lelaki perkasa itu dengan lemas.
Hati-hati dan adanya kepercayaan kepada pasangan saya kira tidak boleh dipandang sebagai sebuah 2 (dua) hal yang klise. Keduanya harus ditumbuhsuburkan seiring perjalanan sebuah perkawinan. Keduanya juga harus dijaga komposisinya. Berimbang dan proporsional. Hati-hati dan bertanya pada pasangan jika diperlukan. Memperingatkan jika memang harus dilakukan. Dan – di sisi lainnya – tetap memberikan kepercayaan bahwa pasangan kita adalah manusia dewasa yang bertanggungjawab.
Ada perasaan khas yang muncul pada seseorang yang dikhianati pasangannya. Penasaran. Penasaran mengapa pasangannya selingkuh?. Penasaran tentang sebenarnya kurang apa aku?. Penasaran sejak kapan mereka mulai selingkuh?. Penasaran apa pemicu mereka bersekongkol dan mengkhianati?
Perasaan ini sulit dihindari. Tidak perlu dihindari. Jika masih belum terlampau jauh dan masih bisa dimaafkan, sebaiknya perasaan ini tidak dilanjutkan terus sampai saat yang tidak ditentukan. Jika tidak dihentikan, maka kecurigaan dapat menutup upaya-upaya positif pasangan yang ingin memperbaiki diri.
Dan jika kita yang dicurigai oleh pasangan kita. Wajar mereka sulit menghilangkan trauma. Itu akibat tingkah laku kita juga. Sekali lancung ujian, ia akan menimbulkan trauma berkepanjangan. Jangan cengeng.
”Sebenarnya siapa perempuan yang kamu cemburui, Can?”, sebuah pertanyaan meluncur dari bibirku pada istri ajaibku. Jawabannya mencengangkan.
“Istri saya bersyukur memiliki suami seperti saya ini”, demikian kalimat pembuka ta’aruf teman saya. “Dengan wajah seperti ini, kalau masih ada juga perempuan lain yang intim dengan saya, maka dapat dipastikan sayalah yang kurang ajar”, lanjutnya dengan enteng.
....................
Selingkuh. Satu kata yang semakin popular belakangan ini. Dulu ada menyeleweng atau nyleweng. Sekarang ada selingkuh. Perubahan istilah itu mungkin dilakukan demi tuntutan pasar. Pasar sudah jenuh dengan istilah menyeleweng dan perlu ada inovasi baru. Tapi substansinya sama. Menghianati pasangan, membohongi pasangan, dan menutupi sesuatu dari pasangan. Hanya karena kepentingan inovasi saja, menyeleweng diganti dengan selingkuh. Entah kosakata apalagi yang ada di depan sana untuk aktivitas hitam ini.
Seorang teman pernah memberikan tips selingkuh yang sehat. Saya agak terheran-heran dan hendak menolaknya. Tapi saya menahan diri untuk kemudian mencoba mendengarkan dulu paparannya. Selingkuh yang sehat – menurutnya - adalah selingkuh yang dilakukan dengan tetap menjaga kesetiaan pada pasangan, menjaga keterbukaan, dan tetap menjaga kejujuran. Saya tersenyum. Dan teman saya menyimpulkan sendiri. Katanya, ’Kalau setia, jujur dan terbuka. Mengapa selingkuh?’. Saya kembali tersenyum. Saya rasa memang tidak ada selingkuh sehat. Yang ada selingkuh yang seakan-akan sehat.
Suka atau tidak, kita sedang hidup dalam situasi yang kondusif dalam urusan selingkuh ini. Ada banyak propaganda yang indah. Ada pembenaran-pembenaran yang rajin di launching media. Ada banyak syair lagu yang memperindah aktivitas ini. Ada sekian banyak argumen yang membuat selingkuh seakan-akan adalah hanyalah kecelakaan kecil, ketidaksengajaan yang lumrah, atau bahkan sesuatu yang tidak salah. Selingkuh kemudian kerap kali dipandang sebagai sekedar selingan untuk menjaga kesetiaan.
Dan saya percaya jika komunitas tarbiyah bukanlah sebuah komunitas yang aman dari tema ini. Tidak harus panik memang. Hanya perlu waspada saja. Dan jangan katakan tidak mungkin.
Yang kerap menjadi alasan para pelaku selingkuh adalah kebosanan dan keinginan untuk mencoba sensasi dan variasi lain dari pasangan dengan cara yang aman dan menantang. Bosan adalah sesuatu yang memang tidak mudah dihindarkan dalam kehidupan berumah tangga. Ada saja bisikan untuk itu. Yang kurang inilah dan yang kurang itulah. Atau sebaliknya, ada cita-cita atau sensasi yang belum pernah ternikmati.
Bukan tidak pernah terlihat perempuan lain yang mempunyai kelebihan dibanding istri saya yang ajaib itu. Entah perempuan itu di mana. Bisa ada di dekat sini. Bisa juga jauh di sana. Jauh di tempat yang lain. Atau jauh di masa yang lain. Atau bahkan jauh dari realitas. Atau hanya ada di mimpi. Karena perempuan ideal sesungguhnya tidak pernah ada. Hanya ada di ranah idealita.
Sebagaimana – boleh jadi – ada laki laki lain yang memiliki keunggulan dibanding saya di mata istri saya. Entah laki laki itu ada di dekatnya. Atau jauh darinya. Atau bahkan laki laki itu tak pernah ada. Atau kalaupun ada, setidaknya laki laki itu ada di imajinasinya.
Sebatas itu tak apa. Siapa yang bisa membatasi selera. Mengikutinya dengan tindakan nyata itu yang bermasalah. Pendekatan, rayuan, membuka peluang, memberi kesempatan, merekayasa, mengarang situasi, dan tindakan lain yang sesungguhnya hanya untuk pasangan adalah langkah yang potensial bermasalah.
Sampai saat ini, saya percaya selingkuh tidak ujug-ujug. Tidak tiba-tiba. Dan tidak sekonyong konyong. Ia adalah buah dari saling pengertian, saling mendekati, saling merayu, saling mengikuti hasrat, saling membenarkan alasan, saling menguatkan argumentasi dan saling melindungi. Dan kesemuanya memerlukan waktu. Memang relatif. Bisa cepat bisa lama. Tapi tetap perlu waktu. Dan di waktu-waktu itulah situasi akan semakin membenarkan.
Kata kuncinya adalah pembiaran situasi. Sering kali kita berharap dalam situasi itu akan ada jalan kembali. Di depan sana. Padahal tidak. Semakin ke depan semakin sulit untuk kembali. Jika tidak mau dikatakan tidak ada lagi jalan kembali. No way out!!!. Semakin lama situasi semakin membenarkan dan semakin mewajarkan selingkuh yang dilakukan.
Itulah sebabnya jalan menuju selingkuh wajib kita hindari. Sebagaimana ayat-Nya. Apapun itu variasinya. Selingkuh sebagai efek samping kewajaran bisnis, sebagai efek samping keniscayaan sosial, sebagai efek samping kebutuhan lembaga, sebagai efek samping keharusan kerjasama, atau variasi lainnya.
Hal lain yang menjadi keniscayaan hari ini adalah banyaknya pribadi yang merasa pesimis dengan keluarga. Bagi mereka keluarga bukanlah sebuah kebutuhan melainkan sebuah malapetaka. Lebih dari itu, mereka merasa gerah jika ada keluarga yang sehat. Mereka terobsesi untuk merusak keharmonisan keluarga sehat.
“Saya diteror perempuan yang mengaku pacar suami saya. Dia main ancam. Bagaimana pak?”. Demikian sebuah sms yang saya terima. Saya juga pernah menerima pengaduan seorang perempuan yang mengeluhkan kedekatan suaminya dengan fulanah. Saya tanya si suami, ”Apakah benar ada fulanah dalam kehidupan antum?”. ”Benar ada”, jawab si suami jujur. ”Sebagai apa?”, tanyaku berikutnya. ”Teman kerja dan teman kuliah dulu”, jawabnya. ”Antum mengerti keberatan istri tentang ini”, saya sedikit masuk. ”Ya. Bahkan perempuan itu juga mengerti keberatan istri saya”, jawab si suami mantap. ”Lalu?”. ”Dia semakin terobsesi jika kehadirannya menyebabkan keluarga kami berantakan”, jawab lelaki perkasa itu dengan lemas.
Hati-hati dan adanya kepercayaan kepada pasangan saya kira tidak boleh dipandang sebagai sebuah 2 (dua) hal yang klise. Keduanya harus ditumbuhsuburkan seiring perjalanan sebuah perkawinan. Keduanya juga harus dijaga komposisinya. Berimbang dan proporsional. Hati-hati dan bertanya pada pasangan jika diperlukan. Memperingatkan jika memang harus dilakukan. Dan – di sisi lainnya – tetap memberikan kepercayaan bahwa pasangan kita adalah manusia dewasa yang bertanggungjawab.
Ada perasaan khas yang muncul pada seseorang yang dikhianati pasangannya. Penasaran. Penasaran mengapa pasangannya selingkuh?. Penasaran tentang sebenarnya kurang apa aku?. Penasaran sejak kapan mereka mulai selingkuh?. Penasaran apa pemicu mereka bersekongkol dan mengkhianati?
Perasaan ini sulit dihindari. Tidak perlu dihindari. Jika masih belum terlampau jauh dan masih bisa dimaafkan, sebaiknya perasaan ini tidak dilanjutkan terus sampai saat yang tidak ditentukan. Jika tidak dihentikan, maka kecurigaan dapat menutup upaya-upaya positif pasangan yang ingin memperbaiki diri.
Dan jika kita yang dicurigai oleh pasangan kita. Wajar mereka sulit menghilangkan trauma. Itu akibat tingkah laku kita juga. Sekali lancung ujian, ia akan menimbulkan trauma berkepanjangan. Jangan cengeng.
”Sebenarnya siapa perempuan yang kamu cemburui, Can?”, sebuah pertanyaan meluncur dari bibirku pada istri ajaibku. Jawabannya mencengangkan.
Selasa, 28 Juli 2009
Titip Doa Kepada Anak
Adalah menjadi kebiasaanku untuk mengamati anak-anakku ketika mereka mengerjakan sholat di rumah. Kadang tanpa mereka ketahui, aku berada di belakang mereka mengamati cara mereka berwudhu yang kadang ala kadarnya. “Ayo, diulang lagi mas. Itu mata kakinya masa masih kering begitu.” Kataku ketika mendapati si sulung wudhunya kurang sempurna.
Begitu juga saat mereka mulai mengerjakan sholat, dalam hatiku ikut melafazkan surat Al Fatihah, mencoba mengetes dan meyakinkan bahwa mereka benar-benar telah membaca surat itu dalam sholatnya. Dulu waktu mereka masih belajar sholat, ketika mereka mengerjakannya seperti seorang pesenam aerobik, aku biarkan saja. Bagiku, yang terpenting adalah pembiasaan dulu.
Baru ketika usia mereka sudah menginjak di atas 7 tahun, aku mulai benahi mereka. Aku harus agak keras untuk mengingatkan mereka akan waktu-waktu sholat. Sekarang si sulung sudah berumur 10 tahun, adiknya yang perempuan berumur 8 tahun. Alhamdulillah, sholat mereka telah lebih baik dan tertib. Untuk si bungsu yang baru berumur 5 tahun, aku masih memberinya dispensasi sebagaimana kakak-kakaknya dulu.
Sekarang kebiasaan baruku adalah mengamati kebiasaan mereka selepas sholat. Dulu hampir pasti begitu selesai salam, setelah mencium tangan kananku mereka langsung berkelebat. Ketika aku tanyakan, “Kok tidak dzikir dan doa?” jawabnya singkat, “Sudah kok.” Duh, dasar anak-anak pikirku. Sekarang, jika selesai sholat, dalam beberapa kesempatan sering saya tahan mereka untuk duduk sejenak. Tidak selalu. Saya bisikkan kepada mereka, “Berdoa dulu yak.”
Kemaren saat melihat anak gadisku selesai sholat, terlihat komat-kamit sebentar kemudian bergegas merapikan mukenanya. Saat itu aku pura-pura bertanya, “Sudah berdoa belum, ndhuk?”. “Tadi kan sudah?” jawabnya sambil menaruh mukenanya ke dalam rak di kamar kami.
Istriku yang duduk di sampingku bertanya, “Kamu doa apa tho?”. “Ya, berdoa lah…” jawabnya singkat. ”Lha iya doanya, apa?” tanya istri lagi. “Tanya abiii, itu kan doa pesenannya abi.” Deg. Aku agak terpana dengan jawaban anak gadisku itu. Aku tidak menyangka dia melakukan permintaanku beberapa waktu yang lalu, yang aku lupa kapan persisnya. Tapi mendengar jawabannya tadi, setidaknya membuat mataku tiba-tiba berkaca-kaca.
Yang aku ingat, kebiasaan anak-anak jika aku pulang mereka minta tidurnya ditemani terlebih dahulu. Pada suatu waktu, ketika menjelang tidur mereka aku menceritakan masa-masa kecilku sampai kini. Aku buat bersambung sampai beberapa kali. Ada episode aku waktu masih SD, SMP, SMA kemudian kuliah. Bahkan episode setelah menikah dan kelahiran mereka.
Ada saat kemudian ketika itu aku tanyakan kepada anak-anakku. ”Kalian lebih senang kalo abi Jakarta atau deket dengan kalian?”. “Ya di Jogja lah.” Jawab mereka. “Kalo begitu jangan lupa doakan abi tiap habis sholat kalian ya? Sudah sekarang saatnya tidur.” Aku lihat mereka hanya mengangguk kemudian tidur.
Permintaan itu beberapa kali aku ingatkan kepada mereka saat mereka akan tidur. Aku hanya berpikir bahwa mereka adalah anak-anak yang polos. Barangkali Allah akan mengabulkan permohonan kita justru lewat lisan-lisan anak yang masih polos ini. Dan setidaknya aku ingin menanamkan arti doa bagi mereka.
Suatu saat jika Allah mengabulkan doa-doa mereka, aku akan katakan, ”Alhamdulillah, ini berkat doa-doa kalian.” Dan kalaupun belum dikabulkan, aku ingin katakan kepada mereka, ”Teruslah berdoa dan bersabarlah. Allah tidak akan melewatkan doa-doa kalian.”
Yang ingin aku lakukan adalah pembiasaan. Bukankah anak-anak yang sholih/sholihah yang mendoakan orang tuanya adalah salah satu dari 3 hal yang tidak terputus dari kita meski kita telah meninggal nanti? Karena itulah aku ingin agar anak-anakku terbiasa mendoakan orang tuanya. Doa apa pun itu asalkan bernilai kebaikan.
Sampai di sini, anak-anakku telah mengajariku juga agar aku pun belajar mendoakan orang tuaku. Orang tua kandungku, dan juga orang tua dari orang terdekat di hatiku, istriku. Semoga kita semua dikumpulkan kembali di jannah-Nya kelak. Amin.
Jamsostek : 28/07/09. 17.10
Begitu juga saat mereka mulai mengerjakan sholat, dalam hatiku ikut melafazkan surat Al Fatihah, mencoba mengetes dan meyakinkan bahwa mereka benar-benar telah membaca surat itu dalam sholatnya. Dulu waktu mereka masih belajar sholat, ketika mereka mengerjakannya seperti seorang pesenam aerobik, aku biarkan saja. Bagiku, yang terpenting adalah pembiasaan dulu.
Baru ketika usia mereka sudah menginjak di atas 7 tahun, aku mulai benahi mereka. Aku harus agak keras untuk mengingatkan mereka akan waktu-waktu sholat. Sekarang si sulung sudah berumur 10 tahun, adiknya yang perempuan berumur 8 tahun. Alhamdulillah, sholat mereka telah lebih baik dan tertib. Untuk si bungsu yang baru berumur 5 tahun, aku masih memberinya dispensasi sebagaimana kakak-kakaknya dulu.
Sekarang kebiasaan baruku adalah mengamati kebiasaan mereka selepas sholat. Dulu hampir pasti begitu selesai salam, setelah mencium tangan kananku mereka langsung berkelebat. Ketika aku tanyakan, “Kok tidak dzikir dan doa?” jawabnya singkat, “Sudah kok.” Duh, dasar anak-anak pikirku. Sekarang, jika selesai sholat, dalam beberapa kesempatan sering saya tahan mereka untuk duduk sejenak. Tidak selalu. Saya bisikkan kepada mereka, “Berdoa dulu yak.”
Kemaren saat melihat anak gadisku selesai sholat, terlihat komat-kamit sebentar kemudian bergegas merapikan mukenanya. Saat itu aku pura-pura bertanya, “Sudah berdoa belum, ndhuk?”. “Tadi kan sudah?” jawabnya sambil menaruh mukenanya ke dalam rak di kamar kami.
Istriku yang duduk di sampingku bertanya, “Kamu doa apa tho?”. “Ya, berdoa lah…” jawabnya singkat. ”Lha iya doanya, apa?” tanya istri lagi. “Tanya abiii, itu kan doa pesenannya abi.” Deg. Aku agak terpana dengan jawaban anak gadisku itu. Aku tidak menyangka dia melakukan permintaanku beberapa waktu yang lalu, yang aku lupa kapan persisnya. Tapi mendengar jawabannya tadi, setidaknya membuat mataku tiba-tiba berkaca-kaca.
Yang aku ingat, kebiasaan anak-anak jika aku pulang mereka minta tidurnya ditemani terlebih dahulu. Pada suatu waktu, ketika menjelang tidur mereka aku menceritakan masa-masa kecilku sampai kini. Aku buat bersambung sampai beberapa kali. Ada episode aku waktu masih SD, SMP, SMA kemudian kuliah. Bahkan episode setelah menikah dan kelahiran mereka.
Ada saat kemudian ketika itu aku tanyakan kepada anak-anakku. ”Kalian lebih senang kalo abi Jakarta atau deket dengan kalian?”. “Ya di Jogja lah.” Jawab mereka. “Kalo begitu jangan lupa doakan abi tiap habis sholat kalian ya? Sudah sekarang saatnya tidur.” Aku lihat mereka hanya mengangguk kemudian tidur.
Permintaan itu beberapa kali aku ingatkan kepada mereka saat mereka akan tidur. Aku hanya berpikir bahwa mereka adalah anak-anak yang polos. Barangkali Allah akan mengabulkan permohonan kita justru lewat lisan-lisan anak yang masih polos ini. Dan setidaknya aku ingin menanamkan arti doa bagi mereka.
Suatu saat jika Allah mengabulkan doa-doa mereka, aku akan katakan, ”Alhamdulillah, ini berkat doa-doa kalian.” Dan kalaupun belum dikabulkan, aku ingin katakan kepada mereka, ”Teruslah berdoa dan bersabarlah. Allah tidak akan melewatkan doa-doa kalian.”
Yang ingin aku lakukan adalah pembiasaan. Bukankah anak-anak yang sholih/sholihah yang mendoakan orang tuanya adalah salah satu dari 3 hal yang tidak terputus dari kita meski kita telah meninggal nanti? Karena itulah aku ingin agar anak-anakku terbiasa mendoakan orang tuanya. Doa apa pun itu asalkan bernilai kebaikan.
Sampai di sini, anak-anakku telah mengajariku juga agar aku pun belajar mendoakan orang tuaku. Orang tua kandungku, dan juga orang tua dari orang terdekat di hatiku, istriku. Semoga kita semua dikumpulkan kembali di jannah-Nya kelak. Amin.
Jamsostek : 28/07/09. 17.10
Langganan:
Postingan (Atom)