Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Agustus 2021

Kesempatan (mungkin) tidak berulang

Ketika engkau bersepeda, di depanmu ada seranting kayu kering yang terserak di tengah jalan. Apakah kakimu akan kau julurkan, menghalau ranting itu agar jauh ke pinggir jalan?

Ketika engkau berjalan atau berlari. Dan engkau jumpai sebongkah batu terkulai di hadapanmu. Akankah engkau bungkukkan badanmu untuk menyingkirkan batu itu?

Ketika engkau berbelanja di pasar. Dan kau temui seorang nenek tua yang duduk menanti pembeli untuk jualannya yang sangat sederhana, berhentikah engkau untuk membelinya?

Ketika engkau diberikan kesempatan berkunjung ke tanah haram. Akankah engkau maksimalkan waktumu untuk beribadah di baitullah, ataukah mencukupkan diri di hotel?

Sabtu, 07 Agustus 2021

Satu dari kami telah pergi

 "Mbak, kelingan ora dulu kita menggoreng jagung di dapur, sambil pakai payung?" Tanyaku kepadamu saat engkau di Bulan Mei lalu kami paksa pulang ke Klaten untuk dirawat. Pertanyaan itu untuk mengenang jaman 'heroik' dulu. "Hehe.. iyo, bener Ri." Engkau tertawa saat mengenang itu. 

Itu penggal kenangan peristiwa kami hampir empat puluhan tahun yang lalu. Saat itu hujan deras. Sebagai orang desa, yang kami punya jagung hasil petikan dari ladang, yang belum begitu kering. Kami goreng di dapur sambil memakai payung, karena genteng dapur kami banyak bocor di sana-sini.

Engkau kami paksa pulang ke Klaten, karena kami kawatir dengan kondisi psikis dan kesehatanmu. Di awal Februari sebelumnya, engkau ditinggalkan anak gadis pertama kesayanganmu. Aku pun tahu betul masa-masa perjuangan bagaimana engkau merawat dua anak pertamamu.

Rabu, 07 Juli 2021

Ini semua tentang Pilihan (3)

Pada akhirnya, pandemi kemudian menyebar ke penjuru dunia. Termasuk Indonesia. Semua proses telah aku lalui. Semua tahapan telah aku selesaikan. Para talent yang lulus periode ini akan ditermpatkan dalam rentang Juni 2020 hingga Mei 2021 nanti. Kalau pun aku misal termasuk dalam Talent Ready Now, harapanku adalah semoga penempatanku di akhir-akhir masa expired dari tahapan manajemen talenta tahun ini. Pandemi membuatku sedikit gigrik.

Dan benar. Bulan Mei berikutnya telah dirilis nama-nama yang lulus dalam proses ini. Ada namaku. Itu artinya sebentar lagi akan ada sebagian dari kami yang lulus ini, terangkat promosi di periode Mei-Juni tahun 2020 ini. Aku banyak berdoa, semoga aku tidak terangkut di periode awal ini, karena saat ini aku dalam tahapan menyelesaikan ujian tesisku. Untuk lolos dari uji plagiarisme sebelum proses ujian tesis tersebut, rupanya cukup menguras tenaga dan emosiku. Wewwww…

Ini semua tentang Pilihan (2)

Mendekati penghujung tahun 2018, persis sepulang aku dari melaksanakan ibadah haji, tahapan perdana dari manajemen talenta mulai diterapkan di instansiku. Unit eselon II di atasku memanggil nama-nama para calon talent yang sebelumnya telah disaring dengan kriteria khusus, untuk dikonfirmasi kesediaannya. Ada sekitar 13 pegawai yang namaku ada di sana. Di sisa cuti besar dalam rangka ibadah haji yang masih aku jalankan, aku dipanggil ke kantor.

“Bersedia tidak, Nama Njenengan dimasukkan sebagai salah satu talent yang siap untuk dipromosikan?” Pertanyaan tanpa basa-basi disampaikan Ibu Pejabat SDM kami waktu itu. Jika bersedia, kami harus menandatangani surat pernyataan bermeterai, yang isinya menyatakan bahwa kami akan taat dan patuh mengikuti tahapan-tahapan yang ada di sana. “Jika iya, bisa langsung tanda tangani surat pernyataan ini. Jika butuh waktu berpikir, kita tunggu sampai sore ini.”

Ini semua tentang Pilihan

Dalam rentang perjalanan hidup kita masing-masing, kita akan selalu dipertemukan dan dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Seringnya, pilihan itu harus dipilih dari dua hal yang terkadang, hampir sama-sama beratnya dari segi risiko, atau sama-sama baiknya dari segi manfaat. Sehingga agama ini mengajarkan agar kita bertanya kepada hati nurani terdalam kita, atau pada titik puncaknya kita diminta untuk istikharah meminta petunjuk kepada Dzat Yang Maha Pemberi Petunjuk.

Entah sudah berapa kali aku bertemu dengan pilihan-pilihan tesebut, yang pasti dalam perjalanan usiaku, salah satu pilihan terberat adalah ketika harus memilih antara karir atau keluarga. Ada beribu pertimbangan yang harus kupilih, sehingga pada akhirnya aku pun harus sampai di titik pencapaian seperti saat ini. Harus mengambil risiko untuk menjauh dari zona nyaman, demi sebuah nilai dan idealita, dan juga tuntutan untuk tetap bertahan atau menyerah.

Kamis, 25 Juni 2020

Cerita Haji 2018: Ali, Sahabat Haji dari Pakistan






[22:46, 6/22/2020] Ali Pakistan: Assalamu Alekum dear

Di saat musim haji, hari jumat menjadi salah satu hari yang heroik. Istimewa. Apalagi ketika hari jumat yang mendekati prosesi armina, ketika bis-bis yang disediakan pemerintah untuk menjadi angkutan antar jemput jamaah haji yang jarak penginapan di atas 1,5 KM, mulai dihentikan. Jamaah haji yang ingin tetap sholat jumat ke masjidil haram, harus menempuhnya dengan berjalan kaki. Pulang pergi. Berangkat sepagi mungkin, biasanya jam 08.00 paling tidak harus sudah berangkat, pulang di saat terik mentari begitu mempesona. Sangat istimewa.

Saya termasuk yang selalu berusaha untuk tidak kehilangan momen-momen istimewa tersebut, yang barangkali sulit untuk bisa terulang kembali dalam episode hidup ini. Berangkat sepagi mungkin agar mendapat tempat di dalam area masjid. Bertahan sekuat mungkin untuk duduk dan menjaga wudhu sedari pukul 09.00 sampai paling tidak pukul 13.00. Biasanya para jamaah haji mengisi waktu sepanjang itu dengan membaca al qur’an. Sesekali kami berkenalan dan berbincang dengan jamaah haji di kanan kiri kami. Yang seringnya mereka tidak setanah air.

Jumat, 13 Maret 2015

Pernik Ringan Seorang Ayah

Pulang kantor kemarin, bungsuku Ghifar tampak berbaring malas-malasan di depan televisi sambil berselimut tebal. Sejenak aku temani sambil memeluknya. "Tadi pagi di sekolah perutnya masih sakit, dex?" Tanyaku. "Malah muntah bi, aku." Waduh. "Sekarang abi ambilin nasi ya? Mau abi buatin lauk telur dadar ala warung padang?" Dia cuma mengangguk sambil matanya terus menikmati tayangan di televisi.

Bergegas aku buka kulkas. Aku ambil 2 butir telur, satu batang loncang dan beberapa helai daun selederi. Setelah dicuci bersih, kucacah kecil-kecil loncang dan helai daun selederi itu. Aku potong bawang bombai kurang lebih seperempat bagian dan aku cacah kecil-kecil juga. Fyuuuh... tiba-tiba mataku terasa pedas dan perih. Bawang bombai ini telah sukses membuat mataku menangis bombai. Heee...

Dua butir telur yang telah aku pecah di mangkok plastik, aku campur dan aduk rata dengan cacahan loncang, selederi dan bawang bombai itu. Aku tambahkan garam secukupnya. Sekilas sambil beraktifitas di dapur aku lihat kamar belakang tampak tertutup rapat. Ibuku yang menemaniku di Yogya sepekan terakhir tampaknya sedang istirahat, pikirku. Dari kepulanganku tadi beliau belum nampak keluar kamar.

Selasa, 03 Februari 2015

Tak Ada Judul

Perempuan tua yang kuhormati itu menggeser posisi duduknya lebih mendekat kepadaku. Aku duduk di kursi kayu, sementara Ia duduk di tepian bale-bale kayu di depanku. Maka kini Ia lekat memandangku. Kami berbincang di dapur. Aku menceritakan beberapa hal tentang keadaanku belakangan ini. Ia antusias mendengar. Pandanganku agak menerawang, mungkin itu yang membuatnya ingin mendengar lebih dekat.

Sore itu aku mengantar bapak melakukan operasi pengangkatan daging tumbuh yang berada di pahanya. Selama operasi berlangsung, aku menemani di sampingnya. Melihat secara langsung bagaimana pisau dan gunting bedah secara bergantian membelah kulitnya, memotong  dan menyayat serta mengangkat daging yang tumbuh liar di bawah jaringan kulit yang telah dibelah itu. Hingga kulit itu dijahit rapat kembali.

Bapak sedari awal memang tampak tidak mau dioperasi. Selalu mengulur dan menghindar jika ditawari opsi itu. Pada obrolan dengan perempuan tua yang juga ibuku itu, aku baru ingat, mungkin bapak trauma dengan operasi prostatnya dulu. Hampir setengah hari beliau di karantina di ruang operasi sambil menunggu giliran. Dan operasipun dilakukan dengan bius lokal. Maka bayangan buruk pengalaman operasi itu sangat membekas.

Senin, 02 Februari 2015

Ayahku

"Ass. Dik, wingi bapak arep tak prisakne ra gelem, tapi arep maghrib simbok ngulon jare gelem. Rencanane mengko arep tak priksakne disik." Kemarin kakak perempuan pertamaku mengabariku. Rencana untuk merayu bapak agar operasi ternyata belum berhasil. Cukup lama kami harus melobi beliau.

Ada benjolan, entah apa, di paha beliau yang menyebabkan beberapa syaraf ke kaki mungkin terjepit sehingga menyebabkan rasa sakit jika berjalan dalam jarak tertentu, atau saat mengangkat beban. Kami sudah menyarankan untuk banyak istirahat, namun tak pernah diindahkannya. Kata simbok, "bapakmu memang atos."

Tadi kakakku berkirim kabar lagi, "Dik, bapak njaluke suk minggu langsung operasi. Aku engko tak janjian karo paryanto disik."  Paryanto kalau tidak salah adalah dokter yang akan mengoperasi bapak nanti. Memang operasi minor, tapi mungkin karena orang tua dan pola pikir desa, menghadapi kata operasi yang terbayang adalah kengerian.

Senin, 26 Januari 2015

Pelupa Tingkat Dewa

Aku hendak ke masjid untuk dhuha. Di depan lift, seorang anak muda langsung menghampiriku, "Mas Keri, ya?" langsung dia menyapaku dan menjabat tanganku. 

Aku agak tertegun, dia seperti begitu mengenalku. Aku tahu dia pegawai baru di kantor ini. Kira-kira sebulan ini dia mulai di sini. 

Beberapa hari lalu seseorang teman di kantor mencolekku di line chat kantor kami, “Masker, ada anak baru tuh? Dari Penampilannya keknya anggota pramuka. Kenal gak?” Aku jawab bahwa aku tidak mengenalnya, dan aku janjikan nanti aku akan coba berkenalan dengan anak itu.

Setelah bersalaman aku tarik ke tempat yang agak lega. “Eh iya, kita pernah bertemu ya? Dimana?” aku antusias menyambutnya.

“Iya mas, saya dulu pernah ke rumah Mas Keri?” Gubrak! What?

Selasa, 20 Januari 2015

Cara Kembali yang Indah

“Pak, masa sih sarang P*S dipakai untuk acara P*B. Hebaaat sekaliii..” Sekilas aku perhatikan wajahnya di seberang sana tampak masgul. Ia mengirimkan sms saat rapat yang aku pimpin itu. “Tidak apa-apa, Pak. Sy ingin menunjukkan bahwa masjid ini terbuka untuk semua golongan.” Aku jawab sms nya, mencoba menenangkannya. Aku memang sedang merencanakan sebuah kegiatan yang sangat NU, pengajian akbar dengan mengundang seorang Habaib. Aku tantang anak-anak IKRAM, organisasi remaja masjid, untuk menghandle acara itu. Dan mereka sanggup.

Ia sosok yang sederhana. Aku panggil ia, Pak Moh. Rambutnya telah memutih. Di masa mudanya, ia dikenal akrab dengan dunia malam. Tapi yang aku tahu, ia insyaf di masa tuanya. Aku ingat ketika yayasan kami memutuskan mendirikan masjid, dan juga sekolah di dekat lingkungan tempat tinggal kami, ia mengajukan diri agar bisa membantu di sana. Maka kemudian ia menjadi muadzin sekaligus penjaga sekolah. Sampai kemudian periode ketiga ketakmiran aku pegang, ia tetap menjadi muadzin setia kami. Suaranya yang lantang dan merdu menggaung setiap waktu adzan berkumandang.

Jumat, 16 Januari 2015

Ikatlah Dengan Menuliskannya

“Le, aku ninggal bubur karo sayur neng kursi ya.” Dari ruang tengah, suara seorang ibu-ibu yang sangat aku kenal terdengar dari terasku pagi tadi. Pagi-pagi sekali. Aku sedang mempersiapkan ragilku untuk mandi. “Nggih, nuwun nggih, bu.” Saya coba mengejarnya dengan membuka pintu secepatnya, tapi sosoknya sudah di kejauhan. Maka aku tenteng ke dalam satu bungkusan keresek, berisi sayur satu plastik dan bubur dua bungkus. Semua masih hangat.

Ini sudah yang kedua kali pemberian di pagi buta itu dalam beberapa hari terakhir ini, dengan mengantarkannya ke teras rumahku. Pemberian secara langsung dengan mencegatku sepulang sholat subuh aku bahkan lupa menghitungnya sudah berapa kali. Kadang buah-buahan, di lain waktu lauk-pauk, dan tak jarang sekedar jajanan atau makanan kecil. Anak dan menantu beliau adalah Pembina yayasan tempat aku ikut sedikit berperan di sana dulu.

Dst.. Dst.. Dst.. (memberilah maka engkau akan mendapat lebih)

Selasa, 12 Agustus 2014

Fraud Dalam Keluarga

Temans, Bang Napi dulu sering menyampaikan dan mengingatkan kita dalam reportasenya bahwa kejahatan itu ada karena adanya niat dan kesempatan. Dalam pengetahuan saya yang dangkal ini, apa yang kita kenal dengan nama fraud (penipuan, penggelapan, kecurangan) adalah merpuakan bagian lain dari bentuk-bentuk kejahatan.

Kejahatan bisa terjadi dimana-mana, dengan berbagai bentuk dan ragamnya. Bahkan dalam keluarga, orang tua bisa menjahati anak, anak jahat kepada orang tuanya, dan tidak sedikit suami menjahati istrinya atau pun sebaliknya. Kita berbincang tentang fraud sejenak ya, agar seperti kata Bang Broery Pesolima dulu : 'Jangan sampai ada fraud di antara kita'

Selasa, 18 Desember 2012

Sakinah Mawaddah Warrahmah




“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri,
 supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,
dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berpikir.”
(QS Ar Ruum : 21)

SAKINAH

Bahwa ketika Allah menciptakan untuk kita pasangan hidup kita, maka yang pertama kali harus terwujud dalam rumah tangga kita adalah apa yang disebut dengan as-sakinah. Allah menyebut dalam ayat di atas: “Litaskunu ilaiha”, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Sakinah secara bahasa berarti tenang, bahagia, terhormat, bermartabat dan memperoleh pembelaan. Ketika seseorang laki-laki menyunting perempuan sebagai istrinya, maka faktor yang harus diukur pertama kali adalah litaskunu ilaiha nya ini muncul tidak.

Rabu, 03 Agustus 2011

Kunjungan Pertama ke Dokter Spesialis Orthopedi

Kunjungan Pertama ke Dokter Spesialis Orthopedi

Kawan, sejak sadar bahwa kebengkokan tulang belakang adalah sumber dari timbulnya rasa nyeri dan berbagai keluhan lainnya di sebagian organ tubuh ini (tahun 2004), aku memang belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke ruang dokter spesialis orthopedi. Dulu sebenarnya oleh dokter Suko Basuki (seorang sahabat yang sedang mengambil spesialis bedang tulang) aku sudah disarankan untuk ke spesialis orthopedi (namanya Dokter Tedjo), namun karena waktu itu masih takut kalo harus dioperasi maka aku dan istri sepakat memutuskan cukup periksa dan konseling ke dokter spesialis syaraf saja.

Awalnya konsultanku adalah dokter Fuad (spesialis syaraf) yang sekaligus menggawangi instalasi rehabilitasi medik. Melalui beberapa jenis terapi berangsur nyeri dan beberapa keluhan di kaki kiri mulai hilang. Seperti biasa, untuk jenis kelainan tulang belakang sepertiku, yang disarankan pertama kali adalah RENANG. Kemudian ada beberapa exercise yang harus rutin aku lakukan setiap hari, selain tentunya agar aku harus lebih berhati-hati dalam menjaga sikap tubuh agar beban tulang punggung tidak berlebih diantaranya adalah anjuran memakai korset.

Lama tidak kambuh, mulai 2008 mulai terasa kembali sedikit demi sedikit rasa nyeri itu (kalo rasa pegal jangan ditanya ya kawan, asal tulang belakang capek rasa pegal itu akan dengan setia datang menemani). Puncaknya di awal tahun 2010. Akhirnya setelah kembali berkunjung ke bagian syaraf RS Sardjito, aku dikenalkan dengan dokter spesialis syaraf yang lain, Bu Indarwati (belakangan aku tahu ternyata beliau kakak kandung dari teman sekantor di Jakarta). Akhirnya saya diminta untuk Rontgen, MRI dan ENMG, hasilnya seperti yang sudah aku tuliskan beberapa waktu lalu. Dan alhamdulillah, semuanya berangsur membaik.

Belakangan aku sadar, kalo sekedar menghilangkan (baca : mengurangi) rasa sakit, mungkin selama ini sudah aku lakukan dan ada hasilnya (meski kemudian sering kambuh lagi). Tapi esensi permasalahannya mungkin justru belum aku sentuh sama sekali. Yaitu kondisi tulang punggungku yang mengalami kebengkokan itu. Secara selama ini anjuran dokter spesialis syaraf tentang renang, senam, terapi, (sekedar) untuk menjaga agar tidak kambuh lagi rasa sakit itu. Maka atas kesadaran ini kemudian aku mencoba berdiskusi dengan istri dan akhirnya kami memutuskan, inilah saatnya aku harus bertemu dokter spesialis orthopedi.

Akhirnya 16 Juli 2011 adalah pertemuan pertamaku dengan Dokter Tedjo di Poli Perjanjian RS Panti Rapih, setelah hunting jadwal piket beliau di hari sebelumnya. Ternyata kawan, ada banyak hal yang sungguh berbeda, antara dokter spesialis orthopedi dan dokter spesialis syaraf. Tapi dua hal tadi bisa aku kompromikan dan pertemukan titik persinggungannya. Berbicara masalah penyebab kebengkokan tulang, aku menemukan hal baru bahwa kebengkokan tulang belakang itu bisa terjadi karena faktor genetis. Ia bisa terjadi karena akumulasi waktu dan kebiasaan dalam waktu yang panjang. (Silakan baca artikel kompas di bawah ini).

Bahkan ketika membaca hasil rontgen tahun 2010 kemarin, jelas disitu saya baca bahwa kebengkokan tulang belakang saya adalah 15°. Dokter Tedjo mencoret-coret kembali gambar rontgen tersebut dan hasilnya adalah bahwa kebengkokan tulang punggung saya bagian atas adalah 28° dan bagian bawah 32°. Karena itulah yang tampak menonjol adalah bagian bawah. “Ini masuk kategori sedang. Kalo bengkoknya di atas 35°, baru itu masuk kategori berat.” Kata beliau. Woooww... itu artinya, lewat 3° lagi aku masuk dalam kategori berat. Duh,...

Maka kesimpulan sumirku kawan, jika dokter spesialis syaraf domainnya adalah bagaimana caranya agar rasa sakit dan nyeri serta keluhan-keluhan itu hilang (baca : berkurang), maka dokter spesialis orthopedi domainnya adalah bagaimana caranya agar tulang yang bengkok itu bisa berkurang kebengkokannya atau paling tidak kebengkokannya tidak bertambah dari waktu ke waktu. Keduanya memang harus bersinergi. Kita tidak bisa lepas dari dua spesialis tadi, jika kita ingin kualitas hidup kita bisa terus kita tingkatkan atau setidaknya kualitas hidup kita tidak menurun secara radikal. Maka kini aku mulai mencicipi menu-menu yang disajikan sang dokter spesialis orthopedi.

Dalam 6 bulan ke depan (hingga Januari 2012), aku harus berenang sepekan 2x, dan melakukan backup dengan berbagai variasinya, sebanyak-banyaknya. Ini adalah 6 bulan masa untuk evaluasi. Januari nanti aku harus melakukan rontgen lagi, untuk menilai apakah kebengkokan tulang punggungku bertambah atau berkurang setelah melakukan berbagai hal tadi. “Ini tulangnya juga tidak bagus (tidak padat). Intinya olah raga. Dengan olah raga, segala sesuatu bisa diselesaikan.” Katanya. Renang? Aku baru mulai belajar kawan. Dibantu seorang instruktur di Kolam Renang Umbang Tirta Kridosono tiap sabtu dan ahad pagi. Back up? Alhamdulillah sudah jalan sejak dokter menyarankan, meski kadang ada yang harus dirapel (sehari 2 kali) akibat lupa.

Bismillah, untuk hidup yang lebih baik, kenapa tidak? Segala upaya harus kita usahakan. Jika tubuh sehat dan bugar, bukankah dalam beraktifitas ibadah juga akan terasa nikmat? Maka benarlah kata Nabi, “Mukmin yang kuat lebih Allah cintai dari pada mukmin yang lemah.” Dengan catatan, kualitas iman mereka sebanding. Maka, dua orang sama-sama kuat imannya, satu diantara mereka yang lebih kuat fisiknya yang lebih Allah cintai. Tetap semrangaaaat, kawan..!

Rabu, 3/8/2011 finished @Gedung Utama lt 19, 09:22 WIB

Faktor Utama Adalah Aktivitas dan Olahraga, Bukan Kalsium
Lukas Adi Prasetya | Minggu, 4 Oktober 2009 | 19:27 WIB


YOGYAKARTA, KOMPAS.com-Kalsium hanya memberi pengaruh 10 persen sebagai penentu kekuatan tulang belakang. Faktor utama adalah kebiasaan manusia beraktivitas, apakah menyamankan tulang atau tidak, juga olahraga. Sayangnya, manusia jarang menyamankan tulang dan jarang berolahraga.

Hal itu disampaikan Tedjo Rukmoyo, dokter spesialis orthopedi (bedah tulang belakang), di sela-sela Seminar Penangangan Terkini Nyeri Tulang Belakang, di Gedung University Club, Universitas Gadjah Mada.

"Jangan percaya pada iklan yang memaparkan bahwa dengan cukup minum susu, maka tulang dan tulang belakang kita akan kuat. Kekuatan tulang ditentukan akitivitas manusia sejak kecil yang dampaknya baru kelihatan ketika tua," kata Tedjo.

Aktivitas dan kebiasaan yang salah sehingga tidak menyamankan tulang, terutama tulang belakang, gampang diamati dari posisi tidur. Posisi tulang belakang yang tidak lurus dan tidak sejajar dengan tulang leher, jelas bukan posisi ideal.

"Hal itu karena busa atau kasur tidak rata, memakai bantal terlalu tebal atau terlalu tipis. Dengan kata lain, nggak apa-apa kok kita punya kebiasaan tidur telentang, tengkurap, atau miring. Tapi jangan sampai tulang belakang tersiksa," ucapnya.

Selain contoh tersebut, banyak aktivitas lain yang salah. Misalnya kebiasaan membungkuk saat naik kendaraan dan membungkuk saat duduk. Terlalu membungkuk dan memaksa diri kala mengangkat benda berat di lantai, juga aktivitas yang salah.

"Ketika mengangkat benda berat dari lantai, ya jangan langsung angkat. Tapi luruskan dulu posisi tubuh sampai tegak, baru angkat. Jika kelewat berat, ya jangan dipaksa. Tulang belakang, ligamen (pengikat tulang), atau otot, bisa putus," kata dia.

Tedjo menambahkan, muara penyelesaian masalah tulang, ialah mengubah kebiasaan aktivitas sehingga tulang belakang tak tersiksa, ditambah berolahraga secara rutin. Jika itu dilakukan sejak dini, maka manusia menabung investasi kesehatan masa depan.

http://nasional.kompas.com/read/2009/10/04/1927575/faktor.utama.adalah.aktivitas.dan.olahraga.bukan.kalsium

Kamis, 17 Maret 2011

Melepas Anak Sekolah

“Mas, sebetulnya umi belum mantab masukin Ghifar ke SD ini.” Deg! Ucapan ini diucapkan istriku pada minggu kedua Ghifar masuk sekolah ini.

Terus terang, sekolah ini memang menjadi prioritas kesekian ketika kami mulai searching SD untuk anak kami Ghifar. Prioritas utama adalah Ghifar sekolah di SD yang sama dengan kedua kakaknya. Tapi lokasi sekolah untuk siswa baru harus di gedung yang baru dan lokasinya menjauh dari arah kantor istri, membuat kami terpaksa urung dari rencana ini. Setelah menimbang beberapa sekolah dan kepraktisan antar jemput Ghifar, akhirnya kami memilih SD ini.

Dulu ketika istri memutuskan untuk memilih SD ini, aku sendiri kurang begitu mantab. Ada beberapa harapan yang mungkin tidak akan ditemukan di sekolah ini. Tapi mengingat beberapa pertimbangan, utamanya agar tidak merepotkan istri dalam antar jemput (maklum sampai saat ini kami masih harus terpisah jarak Jogja-Jakarta), maka aku memantabkan hati ini pada pilihan itu. Aku munculkan sisi-sisi positif dari sekolah ini. Setidaknya yang aku tahu, sekolah ini juga menjadi pilihan para orang tua karena prestasi akademiknya termasuk yang terbaik di kota ini.

Di awal sempat aku dengar kekurangmantapan istriku, tapi setelah kemudian dia terlihat cukup mantab maka aku pun menjadi tenang. Maka ketika istriku tiba-tiba mengucapkan kembali kekurangmantapan itu justru setelah dua minggu masa sekolah mulai berjalan, aku sedikit kaget. Bukan apa-apa, karena pilihan sekolah ini awalnya juga berasal dari istriku. Aku tidak berani mengajukan beberapa pilihan sekolah yang menurutku lebih pas, karena lokasinya yang memang tidak strategis untuk ukuran single fighter seperti istriku saat ini.

Ucapan itu tidak muncul tiba-tiba. Minggu pertama sekolah tidak ada persoalan yang cukup berarti, karena tiga hari pertama sekolah hanya sampai pukul 09.00 sehingga selalu ditungguin istri sampai pulang. Tiga hari berikutnya masih relatif wajar-wajar saja, pagi diantar istriku pulangnya dijemput oleh saudara kami. Alhamdulillah, hari sabtu minggu pertama itu aku sendiri yang menjemput Ghifar ke sekolah, dilanjutkan menjemput kedua kakaknya di sekolah yang lain.

Masalah kecil mulai sedikit muncul ketika kemudian Ghifar mulai berinteraksi dengan teman-temannya yang sebagian besar berasal dari kalangan yang cukup berada, yang tentu mempunyai gaya hidup yang sedikit berbeda. Ada beberapa budaya, cara didik, cara interaksi dan pembiasaan-pembiasaan yang barangkali tidak kami temukan di sekolah kedua kakaknya. Sebagai contoh tentang uang saku anak, tentang penjual yang bisa masuk ke sekolah, tentang kegiatan-kegiatan dan interaksi antara para wali dan orang tua, dan beberapa hal lainnya.

Sedikit banyak, mau tidak mau ini membawa pengaruh bagi perkembangan anak kami Ghifar, yang sebelumnya kami sekolahkan di sebuah TKIT di dekat rumah, di sebuah kampung, yang pola pendidikan dan para pengasuhnya cukup bersahaja. Ada sedikit “kekagetan” budaya yang dialami anak kami, walau sebetulnya aku yakin ini merupakan sebuah proses pembelajaran untuk anak kami juga. Belum lagi gaya hidup dan interaksi antar orang tua dan wali yang kadang membuat kami kurang nyambung. Semua itu pada akhirnya menimbulkan sedikit galau di hati istriku sehingga muncullah kalimat seperti di awal tadi.

Kegalauan istriku (yang juga kemudian menjadi kegalauanku) sebagai orang tua, tentu sesuatu yang wajar. Dalam benak kami, masa depan anak-anak kami nanti tentu lebih berat dari pada masa-masa yang kami hadapi sekarang ini. Sehingga wajar jika kami kemudian berharap anak-anak kami mendapatkan bekal yang cukup dan memadai untuk melewati masa-masanya nanti. Tentu bukan sekedar bekal akademik, tapi juga bekal mental spiritual berupa keyakinan dan keimanan yang memadai. Termasuk budaya dan kebiasaan-kebiasaan yang membangun.

Alhamdulillah, semua tadi ternyata merupakan bentuk “kekagetan-kekagetan” kami sebagai orang tua, sebagaimana ‘kekagetan-kekagetan’ itu sebetulnya telah dirasakan dan dilewati anak kami sebelumnya. Maka aku menganggapnya itu sebagai proses pembelajaran dan pendewasaan anak kami untuk menghadapi masanya nanti, dan sekaligus merupakan bentuk pembelajaran dan pendewasaan kami sebagai orang tua untuk terus mengawal, mengarahkan, dan mendidik anak-anak kami. Bahwa kapan pun, pasti mereka akan bertemu dengan keadaan seperti itu. Dan yang diperlukan adalah ilmu bagaimana menghadapi kondisi dan keadaan seperti itu.

Melepas anak ke sebuah sekolah, adalah sebuah pilihan. Maka kita harus siap dengan segala konsekuensinya. Tentu kita telah mengkalkulasi untung dan ruginya. Tentu kita telah mempertimbangkan keunggulan dan kelemahan sekolah tersebut. Yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah mengoptimalkan keunggulan-keunggulan sekolah tersebut bagi perkembangan anak kita dan di saat yang bersamaan kita tutupi kelemahan-kelemahan sekolah tersebut dengan program-program keluarga yang bisa diterima dan dijalankan anak kita. InsyaAllah dengan demikian, dimanapun kita menyekolahkan anak kita, maka mereka akan mendapatkan bekal yang cukup dan memadai untuk masa depannya nanti.

"Yesterday is History, Tomorrow a Mystery, Today is a Gift, Thats why it's called the Present"

Finished @Gedung Utama lt. 19. March 17, 2011. 10.55 WIB.

Selasa, 19 Oktober 2010

Mendung di Wajah Bidadariku

Ahad sore itu, sepulang dari sebuah kajian tiba-tiba wajah bidadariku begitu mendung. Aku dibuatnya serba salah. Diam atau menyapanya. “Ini pasti ada sesuatu yang salah” pikirku. Ini memang bukan kali pertama. Duluuuu sekali pernah sekali dua kali ini terjadi. Ini biasa dalam sebuah perjalanan rumah tangga. Tapi tetap saja setiap kali hal ini muncul, aku suka salah tingkah.

Aku bertahan untuk tidak terpancing olehnya. Kutemani sebentar si sulung mengerjakan soal-soal try out yang ia dapat dari bimbel primagama, setelah kemudian mendadak penglihatan saya mulai kabur dan tidak fokus. “Uups, alamat migrain nih.” Segera aku ambil minyak kayu putih dan bergegas ke kamar untuk tiduran. Ini adalah jurus ampuhku selama ini dalam menangkal migrain yang kadang mendadak datangnya. Aku lupakan sejenak soal mendung di wajah bidadariku, karena sore itu aku harus ke Jakarta lagi.

Tiba-tiba saja waktu telah menjelang pukul 18.00. Adzan maghrib telah terdengar berkumandang. “Alhamdulillah, migrain kali ini tidak parah, meski sedikit menggangguku.” Bidadariku menghampiriku dengan membawa sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauknya, untukku. Aku menggeleng pelan, “Sebentar, sholat maghrib dulu saja.” Maka disiapkanlah untukku meja kecil dan tak lupa diseduhkan segelas teh hangat untuk menemani sepiring nasi tadi. Wajahnya tetap dingin. Sapanya tetap datar. “Hmmm…” Pikirku.

Selepas sholat maghrib berjamaah dengan istri dan anak-anak, segera aku benahi tas dan semua perlengkapan yang akan aku bawa nanti di kereta. Dompet beserta isinya, tiket, selimut, koran, obat-obatan, semua telah siap. Selama itu, temu papas kami berdua berlalu begitu saja. “Ini memang tidak seperti biasanya.” Setelah itu segera aku santap hidangan yang telah disiapkannya untukku tadi, plus sebutir paramex. Ia duduk di sebelahku, tapi kami tetap saling diam. Dari sudut sempit mataku, sempat aku lirik dia dalam diamnya. “Hmm..”

Akhirnya keberangkatanku ke Jakarta malam itu sedikit hambar. Aku tatap matanya, aku ucapkan salam dan kami berlalu begitu saja. Padahal baru pekan sebelumnya dia kirim email untukku, “Luv u mas,.......
Semakin ke sini semakin berat melepas mas tiap pekan ke jakarta.” What happened? Aku masih mencoba menebaknya, tapi aku tidak begitu yakin. Tapi setidaknya aku masih terhibur dengan sikap anak-anakku yang melepasku dengan hangat.

Di kereta aku sempatkan mengirimkan sms permintaan maaf dan ucapan terima kasih untuknya. Sempat terbesit kekawatiran dia tidak mau menjawab sms itu. Alhamdulillah, ada jawaban. Begitu juga selanjutnya sms-sms di hari berikutnya. Tidak sesering sms hari-hari sebelumnya memang. Terasa formal, kurang begitu lekat. Ah.. mungkin memang hanya perasaanku saja barangkali. Tapi komunikasi kami tetap jalan seperti biasanya.

Ba’da sholat subuh hari kedua di Jakarta aku coba chat dengan bidadariku. Kebetulan dia terlihat online gtalknya. Katanya ada slide yang harus dia siapkan buat mengajar di sore harinya. Setelah berbasa-basi ini itu, aku tanyakan kepadanya : “Dek, kenapa sih ahad sore kemaren ada mendung di wajahmu?” aku tunggu responnya.

Maka mengalirlah cerita tentang sore itu. Saat kedatangannya yang aku tidak menyambutnya seperti biasanya. Rumah kami kecil. Maka ketika aku atau bidadariku datang dari bepergian, suara motor kami bisa jelas kami dengar dari dalam. Aku jika sedang di rumah, kebiasaanku adalah membukakan pintu untuknya, dan memarkirkan motor untuknya. Sedang jika bidadariku yang di rumah, biasa dia menyambutku di pintu rumah dan dengan sigap menyiapkan minum teh hangat untukku. Atau kadang kami biasa dengan sambutan si bungsu dengan mimik lucunya, bersembunyi di balik pintu untuk kemudian berulah mengejutkan kami.

Ini sudah menjadi tradisi kami. Aku sendiri lupa sejak kapan itu dimulai. Aku pun pernah beberapa kali protes ketika keberangkatanku ahad malam tidak dilepas oleh bidadariku sampai teras depan rumah. Ada yang kurang. Dan inilah mungkin yang dirasakannya sore itu. “Ah.. aku jadi merasa bersalah kepada bidadariku.” Hmm.. Aku sampaikan beberapa alasan kenapa aku ‘lupa’ tidak melakukan itu. Sekaligus permintaan maafku. “Ya udah, lain kali jangan diulangi lagi ya. Miss u.” Tulisnya. Dan binar cintanya kembali menghangatkan hatiku.

Waktu-waktu kebersamaan kami memang terbatas, maka kami dipaksa dan dibiasakan untuk menjaga kualitas waktu kebersamaan kami. Hal itu membuat ambang sensitifitas kami menjadi samakin peka. Sedikit saja ada yang kurang dari biasanya, akan memunculkan reaksi. Dan dialog yang sehat menjadi kunci dalam melewati pernik-pernik kecil itu. Bentuk perhatian kita kepada pasangan memang bisa apa saja. Tergantung daya kreatifitas masing-masing. Tergantung kesepakatan bersama. Dan bagi kami, episode tersebut di atas adalah salah satu contoh bentuk ekspresi saling perhatian kami. Semoga Allah senantiasa mengokohkan ikatan ini. Amin.

Selasa, 01 Desember 2009

Perbanyak saat-saat indah dalam kenangan mereka

Selepas Sholat Isya’ di masjid dekat kost, sesampai di kamar kulihat ada 2 panggilan tak terjawab di hp fleksiku. Begitu juga di hp simpatiku. “Ini pasti ada yang penting.” Pikirku. Kutelepon balik nomor itu. Sesaat nada telepon diangkat, segera kuucapkan salam. Seseorang menjawab salamku dengan nada tertahan. Terisak. Otakku langsung bekerja untuk mengidentifikasi pemilik suara ini. “Hallo, siapa ini? Zahra ya?” tanyaku. “Iya..” jawabnya setengah terisak. Ah, gadis kecilku rupanya. Ada apa gerangan dia sampai meneleponku 4 kali? ‘Ada apa sayang? Umi kemana?” aku mulai menelisiknya. “Gak apa-apa. Umi lagi ke masjid, pengajian.” Jawabnya masih dengan suara tertahan.

Aku paling tahu sifat gadis kecilku ini. “Tadi yang nelepon abi sampai 4 kali siapa?” desakku. “Aku.” Jawabnya singkat. “Jadi ada apa sayang? Kok menangis” tanyaku lagi. “Tidak ada apa-apa.” Lagi-lagi dia tidak menjawab. Tapi nada suaranya makin tergugu. Ah, anak kecil ini makin membuatku penasaran. Walau kadang sifat cengengnya ini membuatku sering kali kelabakan, tapi kali ini aku harus menenangkannya.

“Mas Ammar kemana?” tanyaku. “Ikut umi ke masjid” “Dik Ghifar?” tanyaku lagi. “Ikut umi juga.” “Terus Zahra di rumah sama mbah? Ngapain kok gak ikut umi?” desakku. “Iya. Lagi ngerjain PR.” Hmm.. Jawaban terakhir inilah yang kemudian menjadi kunci bagiku untuk menelisik kenapa gadis kecilku ini menangis. Aku segera tahu, pasti ada persoalan dengan PR nya. Yang aku hafal, jika ada kaitannya dengan pelajaran bahasa arab atau matematika, dia lebih suka bertanya kepadaku.

“Ada kesulitan? Apa yang tidak bisa, coba tanyakan ke abi, sayang.” Bujukku setengah merayu. Setelah itu, suaranya kudengar berangsur tenang. Tak ada lagi isak tertahan. Hingga akhirnya bisa aku dengarkan suaranya benar-benar jernih dan renyah kembali, seperti biasanya. “Jadi 975 dibagi 25 berapa, bi?” tanyanya. “Kamu masih ingat diagramnya tho? Mula-mula 97 dibagi 25 dulu, didapat angka 3. Terus 3 kali 25 ada 75 kan? Nah 97 tadi dikurangin 75, hasilnya 22. Terus angka 5 dari 975 tadi diturunkan, dapat angka 225. 225 dibagi 25 ada 9 tho? 9 kali 25 sama dengan 225. 225 dikurangin 225 sama dengan 0. Selesai deh. Jadi 975 dibagi 25 ada 39.” Aku jelaskan satu soal itu.

Alhamdulillah, Allah karuniai aku anak yang cerdas. Cukup satu itu aku jelaskan dan ingatkan kembali, soal-soal yang lainnya yang senada sudah bisa dia kerjakan sendiri. Dia juga sampaikan satu pertanyaan tentang pelajaran PKn, “Dah bi itu aja, ntar yang lainnya tak tanya mbah aja.” Katanya. Aku rasa dia hanya butuh perhatian. Di saat mengerjakan PR-nya, biasanya dia didampingi uminya. Tapi tadi uminya harus ke masjid karena ada pengajian rutin ibu-ibu. Sehingga sedikit kesulitan tadi telah membuatnya galau. Saat meneleponku berkali-kali dan terus-terusan missed call, makin membuatnya galau dan kemudian menangis.

Ini hanya cerita lain tentang tabiat gadis kecilku itu, di luar kegemarannya dalam membaca. “Dia paling mirip denganmu.” Kata istriku jika mengomentari sifat-sifat dan tabiat yang dia punyai. Ya, ketiga anak kami memang membawa sifat, tabiat dan karakter yang saling berlainan. Masing-masing membutuhkan sentuhan yang berlainan. Ada saatnya sifat-sifat mereka itu saling bertemu, tapi di lain waktu karakter dan tabiat itu seolah tak bisa disatukan. Hingga rumah kami laksana kapal pecah. Benar-benar berantakan.

Dunia anak memang dunia warna-warni. Inilah saat tepat memberikan mereka warna sesuai yang kita inginkan. Ketika kita terlewat dalam memaksimalkan peran kita dalam fase ini, maka bersiap-siaplah untuk menyesal. Fase ini tak mungkin bisa kita ulangi lagi, sebagaimana waktu dan umur kita jika telah berlalu maka dia hanya bisa kita kenang atau kita ratapi. Tak akan pernah bisa kita putar ulang kembali.

“Bi, gendong. Aku ngantuk” pinta si bungsu saat kami selesai dari pengajian idul adha malam itu. ‘Ntar kalo abi makin peyok gimana?” tanyaku. “Tapi aku ngantuk.” Akhirnya aku tak kuasa menolak permintaanya. Kapan lagi aku bisa menggendongnya, saat-saat seperti ini akan cepat berlalu, hingga tahu-tahu dia sudah besar nanti. Dan tentunya, aku makin tak akan mampu menggendongnya. Begitu yang aku pikirkan. Hingga setelah kira-kira setengah perjalanan sampai rumah, dia aku turunkan, “Dah ya, punggung abi dah mulai sakit.”

Perbanyak saat-saat indah dalam hidup mereka, anak-anak kita. Penuhi memori mereka dengan kenangan-kenangan indah, itu akan sangat membantunya saat mereka besar nanti. Aku yakin itu. “Mi, tadi malam abi nggendong ghifar.” Anak gadisku mengadukanku tentang kejadian itu. Istriku hanya bisa memandangku tak mengerti, seperti biasa ia tahu, aku selalu melanggar pantangan itu. “Lha dia ngantuk. Kasihan. Mumpung masih kecil.” Begitu pembelaanku.

Suatu saat, punggungku kambuh. Akhir pekanku bersama keluarga tidak maksimal. Biasanya hari sabtu aku antar jemput anak sekolah, dan ahadnya mengantar mereka les renang. Tapi itu tidak bisa aku lakukan. Hampir 2 hari itu aku hanya istirahat di rumah. Menjelang keberangkatanku kembali ke ibukota, saat kami makan bersama, istriku berpesan : “Baik-baik ya, jaga kesehatan.” “Iya, abi gak boleh sakit. Nanti gak bisa main sama anak-anak kalo sakit.” Sambung sulungku sambil makan. Deg! Aku dan istriku saling menatap. Haru.

Begitulah. Yang aku yakini, masa-masa kecil mereka sebentar lagi akan berlalu. Mereka akan cepat menjelma menjadi manusia dewasa. Oleh karena itu, aku tak boleh melewatkan saat-saat ini. Inilah masa-masa mereka masih sangat membutuhkan kami, orang tuanya. Bukan berarti setelah dewasa mereka tidak akan membutuhkan kami. Tapi aku yakin masa-masa itu akan menjadi masa yang rumit bagi mereka. Justru mereka akan makin membutuhkan kami. padahal dekat tidaknya mereka nanti dengan kami, harus kami bangun sedari mereka kecil inilah.

Kawan, semoga jauhnya jarak kita dengan anak-anak kita tak membuat mereka merasa jauh dari kita, orang tuanya. Semoga sedikit dan terbatasnya kedekatan fisik kita dengan mereka, justru membangun dan makin mempererat kedekatan psikis kita dengan mereka. Hanya kepada Allah lah, Sang Penjaga Hidup kita, kita memohon bimbingan dan arahannya agar bisa membesarkan dan mendidik anak-anak kita dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah senantisa memudahkan dan menyederhanakan segala urusan kita.

Pancoran, 30/11/2009 23.40

Rabu, 04 November 2009

Tentang Prasangka

Kali ini tentang prasangka. Prasangka itu pada awalnya adalah sesuatu yang netral, tapi pada galibnya dia akan menarik pemiliknya ke kutub-kutub sesuai dengan kondisi hatinya. Pada kutub negatif, dia akan menjelma menjadi buruk sangka dan pada kutub positif, dia akan mewujud dalam bentuk baik sangka. Baik sangka dengan buruk sangka memang berada pada kutub jiwa yang berlainan. Yang berseberangan.

Dahulu, pernah di keremangan cahaya malam di serambi masjidnya, Rasulullah sedang berbincang sesaat dengan salah satu istri beliau setelah istri beliau ini menjenguknya di saat i’tikaf. Sesuatu yang wajar dan biasa saja tentunya. Tiba-tiba ada dua sahabat anshar yang kebetulan hendak melewati beliau, mereka tertegun. Seolah buru-buru, mereka segera bergegas menjauhi beliau.

Sampai di sini seolah tidak ada yang istimewa. Tapi Rasulullah selalu memberikan pelajaran kepada para sahabatnya di saat yang tepat dan dengan cara yang tepat pula. Maka dipanggillah kedua sahabat Beliau tadi. “Pelan-pelanlah! Sesungguhnya wanita ini adalah Shafiyah binti Huyai” kata Beliau. “Subhanallah ! Wahai Rasulullah. Kami tahu itu. Dan kami tadi tidak berpikir macam-macam tentang Engkau.” Begitu sahabat menjelaskan kepada Rasulullah.

Selesaikah fragmen ini? Belum. Di sinilah kemudian kita mendapatkan kecerdasan Rasulullah dalam memberikan pendidikan dan arahan kepada kita semua, umatnya. “Sesungguhnya setan mengalir pada seseorang seperti mengalirnya darah. Dan sungguh aku khawatir kalau setan membisikkan pada hati kalian berdua kejelekan.” Begitulah, Beliau memanggil kembali kedua sahabatnya untuk mendekat dan memberinya penjelasan dalam rangka menutup celah munculnya prasangka di kemudian hari.

Sangat manusiawi sekali. Bisa saja kemudian karena pengaruh bisikan setan, mereka berpikir, “Rasulullah tadi itu bersama siapa ya?” Sangat manusiawi karena rasa penasaran dan keingintahuan. Namun itu akan menggiring siapapun yang mulai berpikiran demikian untuk kemudian mulai melanjutkan jalan pikirannya dengan kalimat, “Jangan-jangan…”. Maka inilah pintu prasangka itu.

Ini bukan persoalan berandai-andai. Tapi Rasulullah telah mencontohkan tindakan preventif itu untuk menghindarkan agar seseorang terhindar dari berprasangka. Beliau sebagai pihak yang berpotensi untuk diprasangkai, segera menutup celah itu dengan menjelaskan dan mengklarifikasinya. Kedua pihak pun selamat dari tragedi syak wasangka ini. Beliau tidak dipersangkakan, sementara di pihak kedua sahabat tadi mereka selamat dari berprasangka. Penyelesaian yang indah. Kuncinya adalah komunikasi.

Terus bagaimana kalau kedua pihak ini tidak saling bersinggungan? Di sinilah seringnya kemudian muncul persoalan ini. Seseorang akan dengan mudah bisa terjerumus dalam prasangka, terlebih lagi pada buruk sangka. Ini bisa terjadi jika memang tidak ada ruang yang memungkinkan untuk menjalin komunikasi dan melakukan klarifikasi. Sementara di luar itu, terbangun berbagai kemungkinan penafsiran akan suatu kejadian tadi.

Tapi kita sebenarnya tak perlu kuatir. Al Qur’an telah jauh-jauh hari mengingatkan kepada kita untuk menjauhkan diri dari aktifitas berprasangka ini. Kata Allah dalam Surat Al Hujurat ayat 12, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka (dzon), karena sebagian dari berprasangka itu dosa.” Apa yang menarik dari sini? Adalah kalimat “karena sebagian dari berprasangka itu dosa”. Kenapa sebagian? Karena kita masih bisa menumbuhkan prasangka yang tidak membawa konsekuensi dosa yaitu baik sangka (khusnudzon). Sementara jika kita jatuh pada buruk sangka (su’udzon), maka kita akan mudah terjatuh pada dosa.

Selalu membangun prasangka yang baik di benak pikiran kita memang tidak mudah. Ia juga sangat berkaitan dengan kondisi hati kita. Sementara kondisi hati kita, sangat tergantung dengan kedekatan kita dengan Sang Penjaga Hati. Rasulullah mengingatkan kita bahwa kita pun sangat mungkin berprasangka dengan Sang Penjaga Hati ini. Dalam sebuah hadits qudsi Allah mengatakan, “Sesungguhnya Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku.” Maka artinya jika kita ingin agar Sang Penjaga Hati itu dekat dengan kita, maka berprasangkalah bahwa Allah itu dekat dengan kita, bahwa Allah itu selalu mengikuti setiap langkah-langkah kita.

Segala yang berkaitan dengan hati memang terkadang rumit. Karena sifat hati yang mudah berbolak-balik, maka ini pun berbengaruh pada tabiat kita dalam berprasangka. Terkadang kita sangat mudah untuk berbaik sangka. Di lain waktu, begitu mudah pula kita terjatuh pada buruk sangka. Karena itu tak salah jika kemudian kita harus selalu meminta kepada-Nya, agar meneguhkan hati kita pada agamanya dan agar selalu di atas ketaatan kepada-Nya. “Allahumma Ya Muqallibal qulub. Tsabit qalbii ‘ala diinika wa ‘ala tha’atika.”

Semoga Allah senantiasa menganugerahi kita hati yang bersih, sehingga bisa mengarahkan kita untuk selalu bisa berbaik sangka pada kehidupan di sekitar kita. Sehingga dimudahkan-Nya dan disederhanakan pula segala urusan hidup kita. Amin.

@Pancoran, finished at menara jamsostek : 03/11/2009 15:45

Jumat, 25 September 2009

Tradisi Saling Memaafkan (Selamat Hari Raya Ied 1430 H)

Selagi ada waktu
Selagi aku teringat
Selagi Allah masih mengijinkan kita bersua

Di bulan yang baik ini
Ijinkan aku beserta segenap keluarga
Mengucapkan :

Taqabbalallahu minna wa minkum
Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua

Selamat Hari Raya idul fitri 1430 H
Mohon maaf lahir dan batin

Mari terus budayakan tradisi saling memaafkan ini
Terima kasih.