Tampilkan postingan dengan label Ungkapan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ungkapan Hati. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Maret 2015

Menakar dan Mengukur Diri


Aku ingat, dulu sedari waktu kecil hingga beranjak dewasa, jika aku mendapati sebuah masalah, kesulitan, kesempitan atau sekedar ujian kecil berupa sandungan batu dalam langkahku, aku akan segera berhenti dan bergumam, "Kesalahan apakah gerangan yang telah aku lakukan hingga aku bertemu dengan kejadian ini?"

Aku ingat, aku selalu berusaha mencoba menafsirkan hal-hal kecil itu sembari mencoba memposisikan diri ini dalam persepsi terbaikku. Karena, aku pun meyakini bahwa tidak selalu apa yang telah kita anggap terbaik dalam langkah kita, akan mendapatkan respon yang terbaik juga dari berbagai karakter yang ada di sekitar kehidupan kita.

Maka membaca dan merenungi segala tanda yang menghampiri dan berserak di hadapan kita adalah sebuah keniscayaan untuk mengukur dan menakar diri kita. Apakah kita telah benar dalam memposisikan diri kita, ataukah kita justeru terlanjur memberikan angka yang berlebih untuk ukuran yang semestinya dan sewajarnya kita terima.

Kamis, 08 Mei 2008

Jika engkau bertanya kepadaku

Pagi ini saya sedang rindu dengannya. Ada sedikit kegalauan ketika akhir pekan kemaren saya meninggalkan dia dan anak-anak. Kutuliskan bait-bait puisi ini khusus untuknya. Sebagai penawar kerinduan dalam dada ini.


Jika engkau bertanya kepadaku

Jika engkau bertanya kepadaku tentang cinta
Aku ingin mengajakmu melihat lilin dan api
Aku rela menjadi lilin itu
Agar api cintamu
terus hangat dan menerangi

Jika engkau bertanya kepadaku tentang cinta
Aku ingin mengajakmu menatap bintang
Aku rela menjadi bintangmu
Yang selalu setia
menemani sang bulan
Dalam malam-malam sepinya

Jika engkau bertanya kepadaku tentang cinta
Aku ingin mengajakmu kepada pelangi
Jangan paksa aku memberimu satu warna
Karena warna-warni pelangi itulah
Yang membuatnya indah

Jika engkau bertanya kepadaku tentang cinta
Aku ingin menggandeng tanganmu untuk melihat mentari pagi
Aku akan menjadi mentari pagimu
Yang terus setia menyapa sang embun pagi
Di setiap paginya


Jakarta Pancoran, 08/05/2008

Senin, 31 Maret 2008

Ada Saatnya Kita Harus Menoleh ke Belakang

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Al Hasyr : 18

Sunatullah. Bahwa perjalanan itu melelahkan. Namun semakin jauh kita melangkah, banyak pembelajaran tentang hidup yang kita peroleh. Baik itu pelajaran dari apa yang telah lakukan, pun pelajaran dari orang-orang di sekitar kita.

Sunatullah. Bila perjalanan itu melelahkan. Maka tengoklah sebentar perjalanan yang telah kita lewati sesaat. Bukan. Bukan berarti kita berhenti. Tetapi, ini adalah jeda sesaat untuk melakukan muhasabah. Untuk menyegarkan kembali langkah-langkah kita ke depan.

Istriku, semoga engkau tidak lelah menemaniku mengarungi kehidupan ini. Masih ada banyak perbaikan yang harus kita lakukan pada bahtera kita. Agar terus bisa melaju mengarungi samudra kehidupan ini. Menuju muara yang abadi.


Saat menikah dengannya
ada kemiripan-kemiripan memang
di sana
selebihnya
kami belajar mengeja dan mengaca

mengeja tentang masa depan
yang memang kami belum tahu bentuknya
tapi kami berdua telah membuat kerangkanya
dan kami berdua telah bertekad untuk membentuknya
... bersama

mengaca tentang diri kami
yang kami pahami bahwa
masing-masing kami adalah seperti kaca
saya tempat berkaca istri saya
dan istri saya adalah tempat berkaca diri saya

di luar itu
semua berjalan
dalam tautan erat tangan-tangan kami
ya, kami berdua lah yang harus menyusun
kepingan-kepingan puzle keluarga kami
agar kelak jadi kepingan-kepingan indah
saat kami menutup mata nanti

Ya Allah
Bimbing kami untuk selalu dalam Ridha-Mu

Kamis, 27 Maret 2008

Disebabkan oleh cinta

Jika anda seorang suami, sungguh mencintai istri dan dicintainya itu sesuatu anugerah yang luar biasa. Jika anda mencintai istri anda, jangan segan-segan mengungkapkannya, walau memang bagi sebagian orang hal ini perlu pembiasaan.

Tapi yakinlah, jika anda telah terbiasa mengungkapkan rasa cinta dan sayang anda, maka akan semakin anda jumpai cinta anda makin merah merekah.


Disebabkan oleh cinta
Matahari pagi ini begitu indah


Kekasih
Sejauh hati ini mengembara
Tetaplah kepadamu jua ku labuhkan
Rindu dan hasrat di dada ini

Dalam alunan nafas yang dalam
Dalam bisikan cahaya sang surya
yang menyusup di antara keping-keping awan
Ku ingin kau tahu
Teduhnya tatapan matamu
Bagiku adalah bagaikan selaksa salju
Yang mendinginkan seluruh penjuru relung kalbu ini

Bersama angin yang mengarak sang awan
Kutitipkan sekeping rindu untukmu

09:19 28/11/2007
masker

Syahdan, hidup ini seperti air yang mengalir. Tak akan pernah berhenti air mengalir sebelum sampai ke muaranya. Banyak cerita yang dibuat sang air dalam perjalanannya ke muara. Tapi hanya air yang mengalirlah yang selalu memberikan cerita tentang kejernihan.


Can
Kita hidup di dunia nyata
Jika ada banyak bayang-bayang masa lalu
Itu mungkin
Tapi jangan biarkan dia menghantui langkah-langkah kita
Karena kita hidup bukan di dunia angan-angan

Can
Di hatimu kutitipkan bergunung asa
Bahwa kita mampu untuk melewati itu semua
Dengan putihnya hati
Dan sucinya langkah


(terilhami oleh perkataanmu dan kisah seorang sahabat)