Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Juli 2020

Antara Hidayah dan Taufiq


Di QS Al A'raf : 43 digambarkan, ucapan yang keluar dari penghuni surga ketika masuk surga adalah alhamdulillahilladzi hadana lihadza, wama kunna linahtadiya lauwla an hadanaLlah.

Mereka memuji kepada Allah atas adanya petunjuk (hidayah) yang Allah berikan dan telah mengantarkan mereka ke dalam surga tersebut. ^alhamdulillahilladzi hadana lihadza."

Sy tertarik dengan diskusi tentang hidayah di atas. Dulu pernah ustadz Tifatul menjelaskan kepada tentang makna hidayah dan taufiq secara ringkas dan sederhana.

Kamis, 12 Maret 2015

Menakar dan Mengukur Diri


Aku ingat, dulu sedari waktu kecil hingga beranjak dewasa, jika aku mendapati sebuah masalah, kesulitan, kesempitan atau sekedar ujian kecil berupa sandungan batu dalam langkahku, aku akan segera berhenti dan bergumam, "Kesalahan apakah gerangan yang telah aku lakukan hingga aku bertemu dengan kejadian ini?"

Aku ingat, aku selalu berusaha mencoba menafsirkan hal-hal kecil itu sembari mencoba memposisikan diri ini dalam persepsi terbaikku. Karena, aku pun meyakini bahwa tidak selalu apa yang telah kita anggap terbaik dalam langkah kita, akan mendapatkan respon yang terbaik juga dari berbagai karakter yang ada di sekitar kehidupan kita.

Maka membaca dan merenungi segala tanda yang menghampiri dan berserak di hadapan kita adalah sebuah keniscayaan untuk mengukur dan menakar diri kita. Apakah kita telah benar dalam memposisikan diri kita, ataukah kita justeru terlanjur memberikan angka yang berlebih untuk ukuran yang semestinya dan sewajarnya kita terima.

Selasa, 03 Februari 2015

Tak Ada Judul

Perempuan tua yang kuhormati itu menggeser posisi duduknya lebih mendekat kepadaku. Aku duduk di kursi kayu, sementara Ia duduk di tepian bale-bale kayu di depanku. Maka kini Ia lekat memandangku. Kami berbincang di dapur. Aku menceritakan beberapa hal tentang keadaanku belakangan ini. Ia antusias mendengar. Pandanganku agak menerawang, mungkin itu yang membuatnya ingin mendengar lebih dekat.

Sore itu aku mengantar bapak melakukan operasi pengangkatan daging tumbuh yang berada di pahanya. Selama operasi berlangsung, aku menemani di sampingnya. Melihat secara langsung bagaimana pisau dan gunting bedah secara bergantian membelah kulitnya, memotong  dan menyayat serta mengangkat daging yang tumbuh liar di bawah jaringan kulit yang telah dibelah itu. Hingga kulit itu dijahit rapat kembali.

Bapak sedari awal memang tampak tidak mau dioperasi. Selalu mengulur dan menghindar jika ditawari opsi itu. Pada obrolan dengan perempuan tua yang juga ibuku itu, aku baru ingat, mungkin bapak trauma dengan operasi prostatnya dulu. Hampir setengah hari beliau di karantina di ruang operasi sambil menunggu giliran. Dan operasipun dilakukan dengan bius lokal. Maka bayangan buruk pengalaman operasi itu sangat membekas.

Kamis, 29 Januari 2015

Bersyukur dengan Cara Sederhana

Dengan sebuah nampan kecil yang telah dilapis beberapa helai daun pisang, sebongkah nasi putih ditaruh di tengah-tengahnya. Di sekeliling nasi itu ditata sayur gudangan lengkap dengan bumbunya. Ada sedikit taburan kedelai yang telah digerus halus. Sebutir atau kadang dua butir telur rebus, diletakkan di salah satu sisinya. Irisan kecil tempe dan tahu yang telah digoreng kering serta sambal kentang menjadi pelengkap berikutnya.

Itu adalah nasi bancakan ala ibuku, seorang perempuan sederhana yang telah melahirkan, membesarkan dan juga mendidikku dengan cara-caranya yang sederhana. Di sore hari itu, Jumat Pahing, ibuku biasanya sudah memanggil teman-teman sebayaku. Kami duduk mengitari nampan tersebut. Ibuku dengan sigap membagi nasi dan gudangan itu ke pincukan-pincukan kecil. Butiran telur yang ada dibagi sejumlah kami yang datang.

Rabu, 28 Januari 2015

Obsesif Kompulsif

Pernahkah kita mendengar kata obsesif kompulsif? Bagi penggemar tetralogi Laskar Pelangi, pada sekuel Sang Pemimpi, tentu tidak lupa dengan satu sosok yang bernama Jimbron. Ia gagap, tapi ulet. Jimbron sangat menyukai kuda. Diceritakan bahwa dalam sebuah film di televisi balai desa yang ditonton Jimbron seminggu sebelum ayahnya wafat, tampak seseorang membawa orang sakit untuk diobati dengan mengendarai kuda secepat angin sehingga orang itu dapat diselamatkan.

Barangkali Jimbron menganggap nyawa ayahnya dapat tertolong jika ia membawa ayahnya ke Puskesmas dengan mengendarai kuda. Maka Jimbron segera menjadi pencinta kuda yang fanatik. Sangat cinta. Tak ada satu pun hal lain yang menarik di dunia ini bagi Jimbron selain kuda. Apa pun yang berhubungan dengan kuda, segera menarik perhatiannya. Maka tulis Andrea Hirata, “Jimbron terobsesi pada kuda, penyakit gila nomor 14, Obsesif Kompulsif.”

Selasa, 27 Januari 2015

Kenangan akan seorang Sahabat sekaligus Guruku

Gtalk 07/04/10

16.12 Ragil Kuncoro: assalamu 'alaikum

16.13 saya: wa'alaikumussalam wrwb. Pripun pak, ada kabar baru? hehe..

16.21 Ragil Kuncoro: apa khabar. kangen sama antum. kangen sama romantisnya. kalau lihat antum pengin segera peluk istri. ha ha ha

Aku tidak ingat persis kapan mengenal beliau. Mungkin di kisaran tahun 2002. Aku pertama kali mengenalnya melalui forum diskusi di instansiku, dimana aku menjadi salah satu moderator di sana. Aku tahu beliau sangat senior di kalangan alumni perguruan tinggi kedinasanku. Meski kami belum pernah saling bertemu, aku sudah merasa amat dekat dengan beliau. Hingga pada suatu kesempatan beliau ke Jogja, beliau memintaku bertemu.

Aku ingat waktu itu, kira-kira tahun 2004, aku mengajak 3 atau 4 temanku untuk membersamai beliau, di RM Pring Sewu di Jalan Magelang. Rupanya beliau juga mengajak temannya, Dr. Catur Sugiyanto (kalo tidak salah nama), teman beliau waktu kuliah S2 di luar negeri dulu. Itu adalah saat aku pertama kali berjumpa dengan beliau, setelah sekian lama berinteraksi berbagai pengalaman di forum dunia maya. Kesan pertamaku, beliau pribadi yang sangat hangat.

Rabu, 21 Januari 2015

Kontemplasi Perjalanan

Sabtu dini hari, 16 Mei 2009, sesaat setelah lepas tengah malam.

Mungkin sekitar jam 2.00 an. Aku tidak tahu persis. Semua penumpang kereta ini dibuai lelap. Tiba-tiba, “Braaaak…..!” Terjadi goncangan hebat, suara besi beradu dengan besi berdecit hebat tanda telah dilakukan pengeremen secara keras dan mendadak. Menciptakan aroma hangus. Tiba-tiba sesaat kemudian udara di gerbong menjadi memutih, seolah asap yang pekat menutup pandanganku yang masih nanar karena mendadak tergagap dari lelapku.

Gelap. Yang ada dalam pikiran para penumpang termasuk aku adalah segera keluar dari gerbong kereta. Sesuatu telah terjadi. Dan bau gosong itu sangat mirip bau sesuatu yang terbakar. Dan sesuatu yang gelap pekat itu tentu asap. Maka kami berebut keluar. Saling mencoba untuk tetap tertib di tengah kepanikan itu. Kereta telah berhenti. Entah dimana, di luar pun tampak gelap. Dan kami harus meloncat cukup tajam ketika keluar dari gerbong kami.

Selasa, 20 Januari 2015

Cara Kembali yang Indah

“Pak, masa sih sarang P*S dipakai untuk acara P*B. Hebaaat sekaliii..” Sekilas aku perhatikan wajahnya di seberang sana tampak masgul. Ia mengirimkan sms saat rapat yang aku pimpin itu. “Tidak apa-apa, Pak. Sy ingin menunjukkan bahwa masjid ini terbuka untuk semua golongan.” Aku jawab sms nya, mencoba menenangkannya. Aku memang sedang merencanakan sebuah kegiatan yang sangat NU, pengajian akbar dengan mengundang seorang Habaib. Aku tantang anak-anak IKRAM, organisasi remaja masjid, untuk menghandle acara itu. Dan mereka sanggup.

Ia sosok yang sederhana. Aku panggil ia, Pak Moh. Rambutnya telah memutih. Di masa mudanya, ia dikenal akrab dengan dunia malam. Tapi yang aku tahu, ia insyaf di masa tuanya. Aku ingat ketika yayasan kami memutuskan mendirikan masjid, dan juga sekolah di dekat lingkungan tempat tinggal kami, ia mengajukan diri agar bisa membantu di sana. Maka kemudian ia menjadi muadzin sekaligus penjaga sekolah. Sampai kemudian periode ketiga ketakmiran aku pegang, ia tetap menjadi muadzin setia kami. Suaranya yang lantang dan merdu menggaung setiap waktu adzan berkumandang.

Senin, 12 Januari 2015

Lampu Hijau Kehidupan

Di perempatan Condongcatur dari jauh, dari jarak sekitar 300 meter, aku melihat lampu itu menyala hijau. Aku hafal jalan ini. Setiap hari aku melewatinya. Maka segera aku naikkan kecepatan kendaraanku. Aku yakin dengan kekuatan dan kecepatan lari motor ini. Aku yakin aku cukup waktu untuk sampai dan melewati lampu itu. Jalanan tidak cukup padat pagi ini. Beberapa pengendara lain telah aku dahului. Di bawah tiang lampu itu sekilas aku liat argo hitungan mundurnya. Di angka 1 menjelang nol. Dan aku berhasil melewatinya.

Aku suka menikmati setiap jenak perjalanan yang aku lakukan. Ada banyak pelajaran dan hikmah selalu aku temukan dalam rentang waktu ini. Ada pelajaran tentang kehati-hatian dan kecerobohan. Ada pelajaran tentang kesabaran dan ketergesaan. Dan pelajaran tentang kedisiplinan, keruwetan, toleransi, kebesaran hati, kearoganan, keegoisan pun lengkap tersaji di jalanan. Tadi aku mendapatkan satu pelajaran penting. Memaknai kesempatan.

Jumat, 29 Juli 2011

Prasangka baik thd ketentuan Allah

Prasangka baik thd ketentuan Allah

Sebelum kita bicara jauh tentang makna prasangka baik kepada ketentuan Allah, maka mari kita simak dulu kisah rekaan berikut. Alkisah, ada seorang raja di sebuah negeri antah berantah yang memerintah sebuah kerajaan yang besar. Sang Raja mempunyai kebiasaan berburu ke hutan, bahkan hingga sampai jauh ke dalam hutan. Dalam setiap berburu, Raja selalu ditemani oleh seorang penasehat yang bijak. Seringkali mereka berdua saja ketika melakukan perburuan ke hutan tanpa pengawalan. Selebihnya selalu dikawal oleh pasukan kerajaan.

Suatu saat ketika melakukan perburuan ke hutan, Jari kelingking Sang Raja digigit oleh serangga yang beracun, mengalami pembengkakan dan membusuk sehingga diputuskan harus segera diamputasi. Penasehat Raja dengan hati-hati menyampaikan perihal tersebut. Mendengar hal tersebut Sang Raja sangat marah, sungguh ia tidak mau jari kelingkingnya diamputasi. “Ini aib!” kata Sang Raja. Penasehat raja berusaha menasehati Sang Raja dengan baik, “Paduka Raja, jari kelingking paduka harus segera diamputasi. Kalo tidak ia akan menjalar dan membahayakan jiwa paduka. Barang kali nanti akan ada hikmah dan pelajaran besar dari peristiwa ini, paduka. Mohon maaf paduka raja.”

Mendengar argumentasi tersebut Sang Raja justru makin marah, maka dipecatlah sang penasehat tersebut. Meskipun akhirnya Sang Raja tetap harus merelakan jari kelingkingnya diamputasi, tapi terhadap penjelasan penasehatnya ia tetap tidak bisa menerima sedikitpun. Maka Sang Raja kemudian mengangkat penasehat baru. Waktu terus berlalu, Sang Raja tetap menekuni hobi berburunya, ditemani penasehat barunya. Tetap seperti biasanya, terkadang dia hanya berdua saja dengan penasehatnya, terkadang dengan pengawalan pasukan kerajaan.

Suatu saat ketika sedang berburu dan hanya ditemani penasehatnya saja, saking asiknya mengejar hewan buruan, Sang Raja terpisah dari penasehatnya dan tersesat hingga masuk ke dalam hutan. Sang Raja tidak menyadari bahwa ia telah masuk ke wilayah sebuah suku yang primitif. Suku yang belum pernah tersentuh oleh kerajaan selama ini. Tanpa ia sadari, puluhan mata terus mengawasi dan mengikuti mereka. Hingga pada akhirnya Sang Raja jatuh dan terperangkap dalam sebuah jebakan yang telah disiapkan oleh suku tersebut. Maka tertawanlah Sang Raja.

Sudah menjadi kebiasaan di suku itu, bila ada orang asing yang tertawan maka diadakanlah sidang rakyat. Ketua suku meminta pendapat para warganya terkait tindakan hendak diapakan tawanan itu. Maka diputuskanlah bahwa tawanan itu akan dijadikan korban untuk sesembahan kepada para arwah leluhur mereka. Maka segera dipersiapkanlah proses upacara persembahan itu. Semua warga laki-laki dan perempuan, dewasa maupun anak-anak semua telah berkumpul di seputar tempat persembahan.

Maka Sang Raja segera dia dihadapkan di depan tempat persembahan. Ada ritual khusus sebelum acara persembahan, yaitu sang kepala suku akan melakukan pemeriksaan secara detil terhadap tubuh calon korban. Karena calon korban harus benar-benar sempurna fisiknya. Tidak boleh ada cacat. Demikain pula dengan Sang Raja, maka kepala suku mulai memeriksa satu persatu anggota tubuh Sang Raja. Sang Raja terlihat sudah pasrah dan putus asa. “Tamatlah riwayatku.” Pikirnya. Tiba-tiba dahi sang kepala suku mengernyit, “Wahai rakyatku, aku temukan ternyata orang ini jari kelingkingnya telah putus. Ia cacat, maka ia tidak layak untuk dijadikan korban. Lepaskan saja orang ini.”

Kaget sekaligus gembira, sang raja tidak mampu berkata apa-apa. Singkat cerita, Sang Raja kemudian dilepaskan kembali setelah diantarkan cukup jauh dari area suku agar dia tidak bisa mencari kembali keberadaan suku itu. Sang Raja tak henti-hentinya bersyukur dengan selamatnya dia. Dalam perjalanan itu, tiba-tiba Sang Raja teringat kembali dengan pesan dari penasehat lamanya, “Barang kali nanti akan ada hikmah dan pelajaran besar dari peristiwa ini, paduka.” Sesampai di kerajaan, rakyat bergembira dengan telah kembalinya raja mereka yang hilang hingga sebulan itu. Maka diadakanlah pesta rakyat. Dalam pesta rakyat itu, Sang Raja memutuskan untuk memanggil kembali penasehat lamanya.

Ini mungkin hanya cerita rekaan, tapi semangat dan pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas adalah :

1. Pentingnya kita untuk selalu berprasangka baik dengan ketentuan-ketentuan Allah. Firman Allah dalam sebuah ayat dalam Al Qur’an : “Boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, sedangkan engkau tidak mengetahui apa-apa.” (QS Al Baqarah : 216). Kita hanya perlu bersabar sejenak, terus berdoa dan bertawakal, maka Allah akan berikan perlajaran besar terhadap ketentuan yg telah terjadi itu.

Boleh jadi kita beranggapan bahwa sesuatu itu tidak baik untuk kita, padahal kalo kita coba renungkan sejenak, boleh jadi itu justru yang terbaik menurut Allah. Dan sebaliknya sesuatu yang sangat kita inginkan dan kita anggap terbaik bagi kita, ternyata itu justru buruk di mata Allah. Maka kita harus selalu meminta petunjuk kepada Allah Yang Maha Tahu.

2. Bersama kesulitan selalu ada kemudahan-kemudahan. Firman Allah : “Fa inna ma’al ‘usri yusro. Inna ma’al ‘usri yusro.” Artinya maka sungguh bersamaan dengan kesulitan itu akan ada kemudahan-kemudahan. Sungguh bersamaan dengan kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan. Dalam ayat ini Allah menyebutkan kata ma’a yang artinya bersama. Al ‘usri artinya kesulitan Allah sebut dalam makna tunggal sedang yusron yang artinya kemudahan-kemudahan Allah sebutkan dalam makna jamak.

Itu berarti dalam sebuah kesulitan, Allah persiapkan banyak kemudahan-kemudahan yang bisa kita gali dan temukan.

3. Dengan selalu berprasangka baik kepada Allah, maka hati menjadi tenang dan senantiasa ridho dengan ketentuan Allah.


Finished @ Lantai 19 Gedung Utama. 29/07/2011. 14.36 WIB

Selasa, 28 Juli 2009

Inilah di Antara Amalan Ahli Syurga

Oleh. Ustaz Abu Jibriel

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa’i, Anas bin Malik menceritakan sebuah kejadian yang dialaminya pada sebuah majelis bersama Rusulullah Saw.

Anas bercerita, “Pada suatu hari kamu duduk bersama Rasulullah Saw., kemudian beliau bersabda, “Sebentar lagi akan muncul dihadapan kalian seorang laki-laki penghuni surga.” Tiba-tiba muncullah laki-laki Anshar yang janggutnya basah dengan air wudhunya. Dia mengikat kedua sandalnya pada tangan sebelah kiri.” Esok harinya, Rasulullah Saw. berkata begitu juga, “Akan datang seorang lelaki penghuni surga.” Dan munculah laki-laki yang sama. Begitulah Nabi mengulang sampai tiga kali.

Ketika majelis Rasulullah selesai, Abdullah bin Amr bin Al-Ash Ra. mencoba mengikuti seorang lelaki yang disebut oleh Nabi sebagai penghuni surga itu. Kemudian beliau berkata kepadanya : “Saya ini bertengkar dengan ayah saya, dan saya berjanji kepada ayah saya bahwa selama tiga hari saya tidak akan menemuinya. Maukah kamu memberi tempat pondokan buat saya selama hari-hari itu ?” kata Abdullah bin Amr bin Al-Ash.

Abdullah mengikuti orang itu ke rumahnya, dan tidurlah Abdullah di rumah orang itu selama tiga malam. Selama itu Abdullah ingin menyaksikan ibadah apa gerangan yang dilakukan oleh orang itu yang disebut oleh Rasulullah sebagai penghuni surga. Tetapi selama itu pula dia tidak menyaksikan sesuatu yang istimewa di dalam ibadahnya.

Kata Abdullah, “Setelah lewat tiga hari aku tidak melihat amalannya sampai-sampai aku hampir-hampir meremehkan amalannya, lalu aku berkata: “Hai hamba Allah, sebenarnya aku tidak bertengkar dengan ayahku, dan tidak juga aku menjauhinya. Tetapi aku mendengar Rasulullah Saw. berkata tentang dirimu sampai tiga kali, “Akan datang seorang darimu sebagai penghuni surga.” Aku ingin memperhatikan amalanmu supaya aku dapat menirunya. Mudah-mudahan dengan amal yang sama aku mencapai kedudukanmu.”

“Yang aku amalkan tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan.” Kata orang tersbut. Ketika aku mau berpaling, kata Abdullah, dia memanggil lagi, kemudian berkata, “Demi Allah, amalku tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan itu. Hanya saja aku tidak pernah menyimpan pada diriku niat yang buruk terhadap kaum Muslim, dan aku tidak pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka atas kebaikan yang diberikan Allah kepada mereka.”

Lalu Abdullah bin Amr berkata, “Beginilah bersihnya hatimu dari perasaan jelek dari kaum Muslim, dan bersihnya hatimu dari perasaan dengki. Inilah tampaknya yang menyebabkan engkau sampai ke tempat yang terpuji itu. Inilah justru yang tidak pernah bisa kami lakukan.

Memberikan hati yang bersih, tidak menyimpan prasangka yang jelek terhadap kaum Muslim kelihatannya sederhana tetapi justru amal itulah yang seringkali sulit kita lakukan. Mungkin kita mampu berdiri di malam hari, sujud dan rukuk di hadapan Allah Swt., akan tetapi amat sulit bagi kita menghilangkan kedengkian kepada sesama kaum Muslim, hanya karena kita pahamnya berbeda dengan kita. Hanya karena kita pikir bahwa dia berasal dari golongan yang berbeda dengan kita. Atau hanya karena dia memperoleh kelebihan yang diberikan Allah, dan kelebihan itu tidak kita miliki. “Inilah justru yang tidak mampu kita lakukan.” kata Abdullah bin Amr. (Hayat Al-Shahabah, II, 520-521)

Wallahu’alam bish showab…

(http://www.abujibriel.com/)

Kamis, 18 September 2008

Semoga Hidayah Itu Kekal

Sebut saya namanya Mas Darso. Seorang lelaki sederhana tetangga rumah di kampung saya. Pekerjaan utamanya adalah tukang batu. Orangnya sederhana dan tidak neko-neko. Untuk kegiatan kemasyarakatan hampir selalu dia menjadi kelompok yang terdepan. Di lingkup RW dia cukup berperan, di lingkup RT lebih lagi. Orangnya tidak banyak biocara tapi jika sudah bekerja seperti tidak kenal lelah.

Dua kali saya meminta keahliannya untuk membenahi rumah saya. Pertama kali adalah saat merapikan kamar mandi rumah saya. Dan yang adalah kedua saat membuat garasi di samping rumah. Pekerjaannya halus. Kerjanya rapi. Masalah jam kerja pun bahkan untuk ukuran orang desa, dia layak diacungi jempol. Pagi belum jam 08.00 dia sudah datang. Saat istirahat siang, dia hanya sekedar menggunakan waktu secukupnya untuk pulang makan siang dan istirahat sejenak. dan belum pukul 13.00 sesudahnya dia sudah datang lagi untuk bekerja sampai pukul 16.00 sore. Ketika minggu pertama tahu upah yang sengaja saya berikan di atas rata-rata upah tukang, pekan berikutnya dia menambah jam kerja bahkan sampai pukul 17.00.

Di lingkup tetangga dia dikenal juga sebagai orang yang ringan tangan. Jika ada yang membutuhkan bantuannya maka ia segera menyanggupinya, sepanjang dia mampu. Pernah ketika awal saya pindah di kampung ini, waktu itu jam menunjukkan pukul 02.00 dinihari. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah saya. Di tengah keterkejutan saya, ketika pintu terbuka yang terlihat adalah wajah dia.

”Mohon maaf, Pak. Maaf mengganggu istirahatnya.” katanya sopan, dengan bahasa jawa halus.

”Oh, tidak apa-apa, Mas. Ada apakah gerangan?” tanya saya.

”Begini Pak. Mas Joko malam ini batu ginjalnya kambuh. Harus segera di bawah ke rumah sakit. Minta bantuan Bapak untuk mengantar ke rumah sakit.” jelasnya.

Mas Joko adalah salah satu tetangga kami. Jarak rumah saya dengan rumah Mas Joko di bandingkan dengan jarak rumah Mas Darso ke rumah Mas Joko, hampir sama. Rupanya istri Mas Joko yang meminta tolong ke Mas Darso untuk memintakan tolong ke saya agar bersedia mengantar ke rumah sakit. Dan karena Mas Darso lah, akhirnya saya berkesempatan untuk melakukan amal baik di pagi buta itu.

Mas Darso termasuk orang yang suka melawak. Dari sisi usia mungkin usianya di atas saya 2 atau 3 tahunan. Kalo bicara kadang tidak basa-basi. Apa adanya. Bahkan dengan saya pun semenjak saat itu makin akrab saya. Sering saya diledeknya, misal saat bertemu saya di jalan di suatu malam, ketika saya tidak datang rapat RT karena lebih berat untuk mengisi liqo’. “Mau dicoret dari daftar warga RT 07 apa ya?” ledeknya waktu itu. Saya hanya menanggapinya dengan tertawa.

Dari semua itu, hanya satu hal yang sangat ingin saya saksikan. Yaitu melihat dia sholat. Saya tidak tahu persis di rumah dia sholat atau tidak. Tapi dari sahabat dekatnya, menginformasikan bahwa dia belum menjalankannya. Selama ini bukan dia tidak mau datang ke mesjid yang kebetulan jaraknya 30 meteran dari rumahnya. Bahkan ketika rapat-rapat pembentukan panitia ramadhan, panitia idul qur’ban, atau ketika rapat untuk pembangunan ataupun perbaikan masjid, hampir dia selalu datang dan berpartisipasi. Tapi untuk sholat atau sekedar datang kajian, saya belum pernah melihatnya.

Empat tahun saya tinggal di kampung ini, belum pernah sekalipun saya menjumpainya sholat. Meski sekedar sholat jumat. Atau pun sholat idul raya. Hingga akhirnya, saat sabtu kemaren kami mengadakan buka puasa bersama di masjid kami. Alhamdulillah Allah berikan saya dan istri rejeki sehingga bisa ikut membantu program kegiatan masjid hari itu. Saya tidak tahu bagaimana ucapan panitia ketika mengundang jama’ah untuk hadir pada acara buka puasa itu. Yang pasti, Mas Darso tiba-tiba bersedia hadir di kajian buka puasa sore itu. Hati saya sedikit gerimis. Dari luar beberapa kali saya perhatikan dia tekun memperhatikan tausiyah dari pembicara.

Kejadian itu berlanjut malam harinya. Saat sholat isya’ dan taraweh ternyata saya menemukan wajahnya di antara jama’ah malam itu. Seusai sholat dia sempat mendatangi dan menyalami saya. Dalam hari saya hanya bisa berdoa, semoga apa yang dia awali di ramadhan ini terus dia jaga. Semoga hidayah yang telah dia dia rintis di bulan ini akan terus tersemai di bulan-bulan mendatang.

             •  • 
"Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)".

Kamis, 21 Agustus 2008

Ramadhan Mubarak

Wahai diri...
Sudahkah engkau mempersiapkan diri akan datangnya syahrul mubarak ini
Masih ada waktu tersisa untuk bersiap
Maka, gunakan segera

Lembar Mutaba'ah Harian
Edisi Ramadhan 1429 H
------------------------------------------------------------
No Aktifitas Syiar Yaumiyan Target Harian
------------------------------------------------------------
1 Tilawah Al Qur'an 2 Juz
2 Menghafal Juz 28 3 ayat
3 Sholat Maghrib Berjama'ah di Masjid 1x
4 Sholat Isya' Berjama'ah di Masjid 1x
5 Sholat Subuh Berjama'ah di Masjid 1x
6 Sholat Dhuhur Berjama'ah di Masjid 1x
7 Sholat Ashar Berjama'ah di Masjid 1x
8 Sholat Taraweh 1x
9 Qiyamul Lail 1x
10 Sholat Dhuha 1x
11 I'tikaf
12 Infak dan Shodaqoh
13 Membaca Buku Islami
14 Taklim/Tatsqif/Kajian
15 Mengisi Halaqoh
16 Mengisi taklim/kultum
17 Menghafal Hadist
18 Membaca Dzikir Ma'tsurat 2x
-----------------------------------------------------------

Jadikan Ramadhan kali ini
Yang terindah dalam hidupmu

Tentang Keterdahuluan dan Kebersegeraan

Tentang Keterdahuluan dan Kebersegeraan

Saya tidak tahu dua kosa kata di atas ini sesuai dengan kaidah baku Bahasa Indonesia atau tidak. Akan tetapi, keduanya menghiasi pikiran saya tadi malam setelah sebelumnya saya membaca sebuah taujih dari struktur di wilayah saya.

Dalam generasi Islam, kita mengenal adanya asabiqunal awalun, yaitu generasi pertama yang masuk Islam. Mereka memiliki keutamaan-keutamaan yang tidak dimiliki generasi setelahnya, dan Allah pun memuji mereka dengan sebutan umat terbaik (khairu ummah). Sayyid Qutb pun melabeli mereka dengan sebutan generasi qur�ani yang unik, karena kehidupan mereka seolah-olah seperti pengejawantahan sepenuhnya dari nilai-nilai yang terkandung dalam Al Qur�an. Keunggulan keimanan mereka pun kita tentu tidak perlu menyangsikannya.

Dalam beribadah pun kita dikenalkan nilai-nilai bahwa sholat yang di awal waktu itu lebih utama jika dibanding sholat setelah waktu berikutnya bergulir. Nilai shaf pertama lebih baik dari pada shaf-shaf belakangnya. Pun anjuran-anjuran untuk bersegera dalam melakukan amal-amal kebaikan, banyak kita jumpai dalam Al Qur�an, semisal dalam surat Ali Imran : 133 :

133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

Dalam sebuah hadits Rasulullah juga bersabda, �badiru bi a�mali shalih�� bersegeralah kalian dalam beramal shalih, anjuran sekaligus perintah inipun menegaskan urgensi hal tersebut di atas.

Ikhwati fillah�
Kata kunci yang ingin saya tekankan di sini adalah konsep dua hal di atas tadi, pertama keterdahuluan dan yang kedua adalah kebersegeraan. Dengannya maka akan kita mendapatkan kualitas sesungguhnya dari sesuatu yang kita dahulukan dan kita segerakan tadi.

Kedua hal tadi saling terkait tidak bisa lepas satu sama lain, meski tidak selalu. Untuk menjadi barisan generasi terdahulu, tentu seseorang harus bersegera. Tetapi ada kalanya kita �hanya� perlu bersegera, karena ada barisan generasi yang telah mendahului kita. Tapi kita juga harus ingat bahwa akan generasi berikutnya yang akan mengikutinya sehingga pada saatnya kita juga telah �mendahului� mereka.

Kita tentu bisa melihatnya langsung kepada profil generasi sahabat sebagai generasi terbaik. Mereka generasi pertama dalam dakwah ini, pasti. Respon terhadap seruan-seruan kebaikan dan dakwah pun, mereka selalu berlomba-lomba menjadi yang terdepan memberikan contoh dan tauladan.

Begitulah seharusnya...
Terhadap seruan-seruan dakwah dan kebaikan, hendaklah kita berusaha menjadi yang pertama dan bersegera dalam seruan-seruan itu. Jangan pernah terbesit keraguan, jika itu memang seruan dakwah. Jangan pernah berikan peluang berpikir ulang untuk menunda, jika itu adalah seruan-seruan kebaikan. Sebagaimana ketika adzan berkumandang, maka hendaklah kita bersegera untuk menyambut seruan itu.

Kita tentu tidak ingin seperti kaum yahudi yang dalam Al Qur�an suka menawar-nawar perintah dakwah maupun kebaikan. Bahkan mereka pun terlalu banyak bertanya yang tidak seharusnya sehingga hampir-hampir mereka lupa dan lalai dengan perintah yang sesungguhnya. Dan justru itu kemudian mempersulit diri mereka.

Ikhwati fillah...
Ketika kita memanggil anak kita dan kemudian kita melihat respon anak kita tidak bersegera memenuhi panggilan kita, tentu kita akan kecewa bahkan kadang marah. Kita berpikir bahwa sebagai orang tua yang telah membesarkan mereka, semestinya mereka bersegera merespon dan menghampiri kita begitu kita memanggilnya.

Tentu Allah sebagai Dzat yang telah menciptakan kita dan menguasai hidup dan mati kita, jauh lebih berhak untuk kita dahulukan dan segerakan panggilannya. Seruan-seruan Allah melalui seruan-seruan dakwah, selayaknya kita tempatkan dalam urutan teratas dalam aktifitas hidup kita. Sebagaimana sahabat Handzalah yang bersegera memenuhi seruan jihad yang telah berkumandang, meskipun saat itu dia sedang berbulan madu dengan istrinya. Dia tidak perlu menawar-nawar, dia tidak perlu berpikir ulang, karena itu panggilan dari Allah melalui Rasul-Nya.

Semoga Allah, Dzat yang Maha Pemurah, menganugerahi kita semua dengan hati yang peka dengan seruan-seruan-Nya. Sehingga kita bisa menjadi generasi yang selalu terdahulu dan bersegera dalam seruan-seruan itu.

Allahu �alam..

Selasa, 05 Agustus 2008

Belajar Ikhlas

Hari Selasa pekan yang lalu, kajian di kantor saya diisi oleh Ust. Sukeri Abdillah. Wajah beliau sudah saya kenali sedari beliau menjadi presenter acara kajian pagi di salah satu stasiun televisi swasta, beberapa tahun yang lalu. Di Jakarta pun, saya pernah sekali sholat Juma’at dengan khatib beliau.

Hari sebelumnya teman-teman sudah senyum-senyum jika bertemu dengan saya, “Ustadz, besok mau mengisi kajian ya?” ledek mereka. Hanya karena nama saya mempunyai kesamaan dengannya. Bahkan pagi menjelang acara dimulai, ada yang iseng menjemput ke meja saya. “Ustadz, acara sudah hendak dimulai. Ustadz dimohon segera ke mushola.” Dan saya pun tidak kalah menggoda, “Oh iya? Kalo begitu kita harus segera ke sana.”

Mushola kami berada di lantai 7. Untuk menuju ke sana kami harus melalui lift, atau kalau mau olah raga sedikit bisa lewat tangga darurat. Ketika memasuki lift, masih saja teman-teman bercanda, ”Ayo, ustadz buruan.” Tiba-tiba pandangan saya tertuju kepada sosok di hadapan saya yang langsung saya kenali. ”Lha ini ustadznya sudah ada. Maaf ustadz, ini temen-temen pada bercanda.” langsung saya salami beliau. ”Oh iya, memang kenapa?” tanyanya langsung nyambung. ”Ini, kebetulan nama kita ada kesamaannya. Cuma kalo saya gak pakai abdillah.” jawab saya. ”Oh, begitu.”

Teman-teman mendadak menjadi kikuk. Mungkin merasa tidak enak saja. Perjalanan menuju mushola kami hanya sempet ngobrol beberapa kata. ”Memang antum dari mana asalnya?” tanya beliau. ”Klaten ustadz.” Jawab saya. ”Oh, kalo saya dari Tegal.” Kata beliau. Hmm...

Pengajian siang hari itu kemudian segera dimulai. Beliau memaparkan tentang makna keikhlasan dalam bekerja. Untuk mencapai keikhlasan, maka ada beberapa hal yang harus kita persiapkan :
1. quwwatul ghoyah wal istiqomah (kekuatan orientasi dan konsistensi)
2. al afwu (meringankan kesalahan orang lain)
3. itsarul amal (mendahulukan kepentingan orang lain)
4. al mujahadah (bersungguh-sungguh)

Saya tidak ingin menguraikan satu per satu poin-poin di atas. Yang ingin saya garis bawahi adalah bahwa ikhlash merupakan sesuatu yang mudah diucapkan, tapi berat dan susah dalam pengamalannya. Ustadz Mujab Mahalli, seorang kyai di bilangan Krapyak Yogyakarta, dalam sebuah bukunya menceritakan tentang contoh sebuah keikhlasan.

Tersebutlah seorang kyai yang mempunyai dua orang santri yang telah lulus dari pondoknya. Kebetulan keduanya bersaudara dan tinggal berdekatan. Sebut saja namanya Karyo dan Kardi. Setelah sekian bulan lamanya mereka tidak bertemu kyai mereka, ada kerinduan dalam diri mereka.

Karyo mengutarakan hal itu kepada istrinya, ”Aku kok kangen sama pak kyai ya, Bune. Bagaimana kalo kita sowan beliau?” ”Ya bagus tho Pakne, saya setuju itu.” jawab istrinya. ”Kita bawa oleh-oleh ya buat beliau, kita punya apa?” tanya Karyo. Mereka hanya seorang petani desa dengan ladang yang tidak begitu luas. ”Ya, cuma ketela di belakang rumah itu, Pakne.” kata istrinya. ”Ya sudah, tujuan kita kan silaturahmi. InsyaAllah beliau berkenan.” kata Karyo mantab.

Singkat cerita, mereka berdua akhirnya sampai di rumah kyai mereka. Kyai dan santri itu banyak berbincang sambil melepas kerinduan mereka. Ketika hari menjelang sore, Karyo dan istrinya berpamitan. ”Tunggu sebentar ya.” kata sang kyai sambil ke ruang dalam mengajak istrinya. ”Nyai, apa yang kita punyai untuk oleh-oleh si Karyo?” tanya kyai kepada istrinya. ”Cuma seekor kambing di belakang itu, kyai.” jawabnya. ”Yo wis, kita bawakan untuk si karyo ya.” kata kyai. Karyo pulang ke desanya sambil menuntun seekor kambing, pemberian sang kyai.

Sampai di rumah, demi melihat Karyo menuntun seekor kambing, Kardi bertanya kepadanya, ”Lah, dari mana kamu yo? Kok pulang-pulang membawa seekor kambing?” ”Dari rumah kyai.” jawab karyo singkat. ”Memang kamu bawa oleh-oleh apa tadi?” tanya kardi penasaran. ”Cuma bawa ketela pohon saja.” kata Karyo.

Tiba-tiba pikiran Kardi berhitung matematis. Jika Karyo saja sowan kyai membawa ketela diberi seekor kambing, kalo bawa seekor kambing pasti dapatnya paling tidak seekor sapi.Begitu pikiran dalam benaknya.

Hari berikutnya, segera Kardi mengajak istrinya sowan ke sang kyai. Tidak lupa dia menuntun seekor kambing buat oleh-oleh gurunya itu. Sesampai di rumah kyai, mereka disambut gembira sang kyai. Sama seperti Karyo, mereka berbincang banyak hal sambil melepas kerinduan mereka. Ketika hari beranjak sore, Kardi berpamitan. ”Tunggu sebentar ya.” kata sang kyai. Kyai dan nyai kemudian masuk ke ruang dalam. ”Nyai, kita punya apa buat oleh-oleh si Kardi?” tanya kyai. ”Tinggal ketela yang di dapur itu, kyai. Pemberian Karyo kemaren.” jawab nyai. ”Ya sudah, bawakan buat si Kardi ya.” kata kyai. Akhirnya Kardi pulang dengan hati dongkol karena hanya memperoleh sekarung ketela. Ia tidak mendapatkan oleh-oleh seperti yang dia bayangkan sebelumnya.

Inilah gambaran sederhana dari makna ikhlash. Bahwa keikhlasan itu adalah manakala dalam beramal maupun beraktifitas, tidak ada pamrih lain yang mengotori niat awal kita.

Apalagi kemudian ketika kita kaitkan dengan hidup kita. Bahwa sesungguhnya misi utama kita diciptakan adalah untuk beribadah kepada-Nya. (lihat QS Adz-Dzariyat : 56). Ini mengandung arti bahwa semestinya semua akfitas keseharian kita ghoyahnya (orientasinya) adalah ’hanya’ untuk beribadah kepada-Nya. Ini dahulu yang perlu diluruskan. Sehingga kemudian dalam perjalanannya, pamrih-pamrih dan kepentingan-kepentingan manusiawi kita semestinya tidaklah yang menjadi orientasi hidup kita.

Ketika orientasi telah benar-benar untuk mengabdi kepada-Nya, dan kita bisa konsisten di sana, maka kembangan-kembangan tadi – kepentingan-kepentingan manusiawi kita baik berupa jabatan, harta, penghargaan, dll – itu adalah pekerjaan-Nya. Dia yang akan mencukupkan kita, sejauh yang menjadi hak kita. Dan manakala Dia telah mencukupkan kita, banyak sedikit rejeki atau hasil yang kita dapat dari-Nya tidaklah penting. Yang terpenting adalah ketika semua itu menjadi berkah bagi hidup kita.

Terus, kesimpulannya ikhlash itu seperti apa? Silakan disimpulkan masing-masing. Saya tidak ingin menyempitkan pandangan kita tentang ikhlash. Yang terpenting adalah bagaimana kita mencoba terus belajar ikhlash, ikhlash, dan ikhlash. Termasuk ikhlash terhadap ketentuan-ketentuan (baik qadha maupun qadar) yang Allah tetapkan atas hidup kita. Dengan terus berkarya dengan sesuatu yang terbaik. Sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.

Allahu a’lam bish-shawab.

Jumat, 13 Juni 2008

PESAN DI BALIK KESEDIHAN

Salah seorang sahabat saya
yang ikut menggawangi Solo Peduli (Dompet Duafanya Solo Pos)
berikut ini memberi saya sebuah perenungan juga
bahwa sering kita memang melihat sesuatu 'hanya' dari sudut pandang kita
Mengenakkan kita atau tidak
Merepotkan kita atau tidak
Menyusahkan kita atau tidak
.......... Dst
walau ini juga tidak 100% salah

Hanya, barangkali dalam kaca mata Sang Maha Pemilik Kehidupan
Memang ada kalanya kita dihadapkan dengan 'sesuatu' nasib
yang seakan 'tidak memihak' kita
justeru sebagai bentuk kasih sayang-Nya
agar kita terhindar dari 'keburukan' yang lebih besar

Allahu a'lam

.........................................................................................

Jazakallah atas kirimannya, ada sebuah renungan kecil yang
semoga bisa bermanfaat.

PESAN DI BALIK KESEDIHAN

Bulan ini, kami termasuk orang-orang yang dilanda
kesedihan. Salah satu pengurus Yayasan SOLO PEDULI, Bapak
Drs. Mulyanto Utomo yang selama ini menjadi Sekretaris
Yayasan SOLO PEDULI dan juga Pemimpin Redaksi Harian Umum
SOLOPOS mendapat musibah.

Pagi itu beliau baru saja mengantarkan putranya ke sekolah
dengan sepeda motor. Saat mau memarkir motor di garasi
rumah, beliau bermaksud menggeser ganjal ban mobil. Saat
ganjal ban bergeser, beliau melihat mobil yang diparkir
nggelondor, karena tempat parkir yang memiliki kemiringan
cukup curam. Secara refleks beliau bermaksud menahan mobil
dengan kedua tangan, agar mobil tidak terus nggelondor.

Kedua tangan Pak Mul tidak cukup kuat untuk menahan mobil
yang meluncur ke belakang. Beliau terbalik dan terseret
mobil. Para tetangga yang menolong sudah menemukan beliau
di bawah mobil.

Beliau merasakan sakit yang teramat sangat. Seluruh badan
tidak bisa digerakkan, kecuali tangan. Dengan cepat
tetangga dan keluarga membawa beliau ke rumah sakit Dr.
Oen. Hasil pemeriksaan dokter membuat semua tersentak dan
tertegun hampir tidak percaya. Tulang Belakang Pak
Mulyanto patah. Berbagai kemungkinan buruk menjelang
operasi telah disampaikan oleh tim dokter. Semua hanya
bisa pasrah, bertawakal pada Allah SWT. Alhamdulillah
operasi berjalan lancar. Semua mengharap mu’jizat dari
Allah, semoga syaraf-syaraf di Tulang Belakang beliau
tidak ikut rusak, yang bisa menyebabkan lumpuh permanen.
Beberapa kawan, relasi dan para pembesuk nampak bersedih,
dan seperti tidak percaya dengan kejadian tersebut.

Peristiwa kecil yang berdampak besar. Sudah hampir sebulan
beliau terbaring di rumah sakit. Di antara pembesuk ada
yang berkomentar, “Kenapa musibah itu menimpa Pak Mul yang
tidak suka neko-neko? Kenapa orang sebaik beliau mendapat
ujian seperti itu?”

Rasulullah pernah berkisah, “Pada zaman sebelum kalian,
pernah berkuasa seorang raja yang amat zalim. Pada suatu
ketika raja zalim ini tertimpa penyakit yang amat berat.
Seluruh tabib di istana tidak ada yang bisa mengobati raja
tersebut. Hingga akhirnya ada seorang rahib yang
mengatakan bahwa penyakitnya bisa disembuhkan hanya dengan
memakan sejenis ikan dari laut, tapi sayangnya saat ini
belum musimnya ikan tersebut muncul dipermukaan. Demi
kesembuhannya, raja tersebut memerintahkan semua orang
untuk tetap berburu ikan tersebut. Aneh bin ajaib,
ternyata ikan itu sangat mudah didapat. Sang Raja akhirnya
sembuh, dan memimpin kembali dengan zalim.

Di lain waktu dan tempat ada seorang raja yang terkenal
adil dan bijaksana. Pada suatu ketika raja tersebut sakit.
Menurut diagnosa para tabib, penyakit Sang Raja mengarah
pada kesimpulan yang sama. Penyakit Sang Raja tersebut
bisa diobati dengan sejenis ikan laut yang kebetulan
sedang musimnya muncul dipermukaan. Semua optimis Sang
Raja bisa segera sembuh. Tapi apa yang terjadi? Ikan yang
seharusnya mudah didapat, tidak ada satu pun yang muncul
dipermukaan. Meskipun kerajaan mengerahkan seluruh ahli
selamnya, tetap saja mereka tidak menemukan ikan tersebut.
Akhirnya raja bijaksana tersebut meninggal.

Para malaikat bingung dengan kejadian tersebut, mereka
menghadap Allah dan bertanya, “Ya Tuhan kami, apa sebabnya
Engkau menggiring ikan-ikan itu ke permukaan sehingga raja
zalim itu selamat, sementara pada waktu raja bijaksana itu
sakit, Engkau menyembunyikan ikan-ikan itu ke dasar laut
sehingga raja yang bijak itu meninggal?”

Tuhan pun berfirman, “Wahai para malaikat-Ku, sesungguhnya
raja yang zalim itu walaupun hidupnya penuh dengan
kezaliman, namun dia pernah berbuat kebaikan. Aku balas
kebaikannya tersebut di dunia, sehingga nanti pada waktu
dia datang menghadap-Ku, tidak ada lagi kebaikan sedikit
pun yang di bawanya. Dan aku akan campakkan dia ke dalam
neraka. Sementara raja yang bijak itu, ia pernah berbuat
salah kepada-Ku, karena itu Aku hukum dia dengan
bersembunyinya ikan-ikan itu, sehingga nanti saat dia
datang menghadap-Ku akan membawa seluruh kebaikannya tanpa
sedikit dosa padanya. Hukuman atas apa yang pernah ia
lakukan sudah Kutunaikan seluruhnya di dunia.”

Setiap kita pasti pernah mengalami sesuatu yang tidak
menyenangkan dalam hidup. Bahkan, tidak jarang orang
kemudian berprasangkan buruk kepada Allah. Na’audzubilah.
Maha Benar Allah yang telah berfirman, “Boleh jadi kamu
membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagim, dan boleh
jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu,
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al
Baqoroh: 216).

Sementara itu Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang
muslim tertimpa derita dari penyakit atau perkara lain
kecuali Allah hapuskan darinya (penyakit tersebut)
dosa-dosanya sebagaimana pohon yang menggugurkan daunnya.”
(H.R. Muslim).

Bagi kami – pengelola Yayasan SOLOPEDULI – Pak Mul adalah
sosok Bapak yang akrab dan familiar. Beliau adalah salah
satu profile orang yang énténgan yang pernah kami kenal.
Beliau yang selalu mem-back¬ up program dan kesulitan
yang kami hadapi dalam menjalankan program-program sosial.

Singkatnya, beliau adalah orang yang kami kenal sangat
baik. Sehingga kami yakin, bahwa Allah tidak akan
menyia-nyiakan hamba-Nya yang sholih. Kami yakin ada
hikmah besar atas peristiwa tersebut, sebagaimana kami
yakin bahwa cobaan adalah sarana Allah meningkatkan
derajat seorang hamba di sisi-Nya. Rasulullah saw
bersabda, “Barangsiapa yang Allah berkehendak kebaikan
padanya, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya.”
(H.R. Bukhari).

Rasulullah juga bersabda, “Sesungguhnya ada orang yang
mendapat kedudukan di sisi Allah, akan tetapi tidak ada
satu amal pun darinya yang bisa mengantarkannya untuk
mencapai kedudukan itu. Oleh karena itu Allah SWT
mencobanya dengan suatu hal yang tidak ia sukai, sehingga
dengan hal itu ia mendapatkan kedudukan tersebut.” (H.R.
Ibnu Hibban).

Dr. Abdul Muhdi dalam menjelaskan hadits di atas
mengatakan bahwa Allah telah menetapkan untuk sebagian
manusia manzilah (kedudukan) yang tinggi di surga. Akan
tetapi ia terkadang kurang optimal dalam beramal shalih.
Maka Allah timpakan kepadanya sakit sebagai cobaan
sehingga ia bisa memperoleh manzilah (kedudukan) yang
telah Allah tentukan padanya. Subhanallah. Allahu Akbar.


...............................................................................................................
Jazakallah akh supomo
You are one of my best friend

Burn Yourself !

Kamis, 29 Mei 2008

Paksa Diri Antum....!

Akhi fillah...
Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Karena memang pada hakikatnya dalam hidup kita ini selalu Allah pertemukan kita dengan pilihan-pilihan. Kita mau beriman atau kafir, itu adalah pilihan. Kita mau berbuat baik atau berbuat buruk, itu pun adalah pilihan. Pun, kita mau jannah-Nya atau neraka-Nya kelak, itu semua adalah juga pilihan-pilihan di depan kita.

Dan jamaknya...
Kita bertemu dengan realita bahwa begitu berat untuk mengambil pilihan-pilihan kebaikan. Sebagaimana Rasulullah sabdakan bahwa syurga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak mengenakkan, sedangkan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang enak dan mengasyikkan. Begitupun pilihan baik buruk, untuk sebuah kebaikan sering kita berat untuk melangkahkan kaki ini menuju ke sana. Sementara untuk sebuah keburukan, terkadang tanpa sadar barangkali karena kekurang hati-hatian kita, kita telah berjalan di atasnya.

Ironisnya...
Kita pun banyak menjumpai orang yang begitu memaksa diri mereka untuk bisa berbuat keburukan. Mereka rela mengorbankan apa saja untuk bisa melakukan hal-hal tersebut, meski kadang kala harus menyiksa diri mereka.

Ada orang yang mempelajari berbagai ilmu kesaktian dan rela menjalani berbagai ritual, agar dia bisa menjadi seorang pencopet atau pencuri yang ulung. Ada orang yang rela mengeluarkan uang beratus-ratus juta, bahkan mungkin milyaran, agar dia bisa menduduki sebuah jabatan sehingga dengan jabatan itu dia bisa mengumpulkan kekakayaan yang berlimpah ruah. Dan masih banyak lagi contoh di luar sana.

Pada intinya...
Ada orang untuk berbuat buruk saja mereka mesti memaksakan diri mereka, lalu kenapa kita untuk berbuat baik tidak memaksakan diri?

Paksa diri antum...

Saat sepertiga malam telah menjelang, begitu penat dan letih tubuh kita, begitu berat mata kita terbuka, maka paksa diri antum... paksa diri antum untuk bangun. Karena allah telah menunggu kita...

Saat adzan telah memanggil-manggil, begitu berat kita melangkahkan kaki kita ke masjid untuk bersegera memenuhi panggilan itu, maka paksa diri antum... langkahkan diri kita menuju kemenangan...

Saat banyak peluang-peluang kebaikan terbuka di depan kita, begitu enggan kita untuk meraihnya, begitu berat kita mencoba meraihnya, maka paksa diri antum... barangkali kesempatan itu tidak akan pernah datang lagi ke hadapan kita...

Ya, ada kalanya kita pun harus memaksa diri kita...
Untuk meraih sebuah kebaikan
Fid-dunya wal akhirat

"Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS At-Taubah : 41)

Jumat, 16 Mei 2008

HAK YANG TAK TERTUNAIKAN SEMPURNA

Pagi-pagi sekali tadi handphone saya berdering, teman satu anggota ronda tiap malam ahad menelepon saya. “Pak, ada sripah. Tetangga dekat njenengan meninggal dunia, karena asma yang mendadak”. Dari nada bicaranya, saya langsung menemukan kesedihan yang bertalu-talu. Beliau tidak sedang sakit. Kejadian itu begitu mendadak.

Hati saya terhenyak dalam sedih. Menangis. Beliau adalah teman sekaligus tetangga terbaik saya. Kami berdua adalah pendatang, menghuni desa ini dalam waktu hampir bersamaan. Batas rumah kami pun menyatu, sesuatu yang tidak lazim di desa. Umur kami pun tak jauh berbeda, hanya berselang dua tahun.

Masih hangat dalam ingatan saya, akhir tahun kemaren selama hampir setengah tahun kami berdua menjadi penglajo Jogja-Jakarta karena perusahaan tempat beliau bekerja sebagai seorang analis programmer mendapat proyek di Jakarta. Hampir tiap pekan bersama-sama menikmati riuhnya kereta senja Jogja-Jakarta. Menjadikan kekeluargaan kami semakin kenthal.

Tiap malam ahad pun kami menjadi satu kelompok ronda. Beberapa bulan yang lalu kelompok ronda kami mencetuskan ide membuat kolam ikan yang dikelola bersama, agar ronda kami tidak hanya sekedar berkumpul, tapi bisa menelorkan sesuatu yang produktif. Beliau termasuk yang semangat memberikan ide-idenya.

Saya bertemu dalam forum ronda terakhir adalah tiga pekan yang lalu, karena dua pekan berikutnya secara bergiliran saya dan beliau yang absen. Waktu itu kebetulan giliran berkumpul di teras rumah saya. Beliau sebetulnya ada acara mabit di masjid kami yang letaknya di luar desa berserta kelompok pengajiannya. Namun selepas perserta lain mulai tidur, beliau malah bergabung di teras rumah saya untuk menunaikan ’kewajiban’ rondanya. Berbincang ringan dan berdiskusi tentang berbagai hal.

*****

”Kata istri beliau, pagi tadi selepas beliau berwudhu hendak sholat subuh, tiba-tiba beliau seperti menahan sakit yang luar biasa. Habis itu ’sudah tidak ada’ lagi” begitu istri saya mengabarkan.

Pekan kemaren ketika sholat ashar di masjid, kami berdua adalah yang terakhir keluar dari masjid. Setelah menutup semua pintu masjid, saya disibukkan oleh anak-anak saya sehingga tidak sempat menyapanya. Namun ketika hendak meninggalkan masjid, sekilas saya masih melihatnya terpaku di atas motornya di depan masjid, menatap kosong masjid kami. Entah apa yang beliau pikirkan. Setidaknya itulah terakhir kali saya melihatnya.

Aduhai sahabatku, saya berharap engkau kembali menghadap-Nya dengan khusnul khatimah. Saya meyakini betapa engkau jauh lebih di sayang Allah. Engkau adalah seorang penyayang keluarga. Beberapa tahun yang lalu engkau rela melepas pekerjaanmu di Jakarta, hanya agar engkau bisa dekat dan lebih banyak waktu dengan keluargamu. Saya pun melihat kedekatan bidadari-bidadari kecilmu kepadamu.

Kembalimu sungguh mengagetkanku, sekaligus mengesankanku. Karena Rasulullah mengabarkan bahwa di antara tanda khusnul khatimahnya seseorang adalah meninggal di hari jumat. Engkau mendapatkannya. Ketika engkau beranjak hendak sholat subuh di pagi jumat yang dingin tadi, Allah berkenan memanggilmu. Semoga Allah merahmatimu, wahai sahabatku.

*****

Satu hal yang membuat kesedihan saya semakin bertalu-talu, saya tidak dapat dan tidak mampu mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Karena saya di sini, ratusan kilometer dari desa kami. Ditambah sulitnya mendapat tiket dadakan, apalagi ini menjelang liburan akhir pekan. Sungguh hak beliau yang harus saya tunaikan ini tak mampu tertunaikan sempurna.

”Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu...”

Sungguh kematian itu begitu dekat dengan kita. Dia tidak pernah memandang usia muda atau tua. Dia tidak melihat fisik kita sehat atau sakit. Dan dia akan datang menjemput sewaktu-waktu, tak ada alasan untuk memajukannya atau pun memundurkannya. Karena itu, tak semestinya kita melewatkan waktu-waktu kita tanpa amal yang bermanfaat sebagai bekal kematian.

”Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS 89 : 27-30)


Jakarta, 16/05/08
Teruntuk sahabatku yang mendahuluiku :
Semoga Allah memberikan maghfirah-Nya. Dan merahmatimu di alam kubur sana.

Kamis, 08 Mei 2008

Energi = m.g.h

By masker

Masih ingat rumus fisika ini waktu kita di bangku sekolah dulu? Energi adalah hasil dari perkalian massa (m) dan grafitasi (g) dengan faktor ketinggian (h). Biasanya massa dan grafitasi diasumsikan tetap atau konstan sehingga di sini berlaku bahwa energi (E) suatu obyek akan tergantung dan berbanding lurus dengan faktor ketinggian obyek tersebut.

Saya tidak hendak menguji kemampuan fisika anda karena barangkali itu sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan yang anda jalani sekarang. Saya juga tidak sedang bernostalgia dengan nilai fisika saya yang sangat bagus kala di kelas satu dan buruk di dua tingkat berikutnya, waktu saya sma dulu.

Saya hanya ingin sedikit mengajak anda untuk membaca rumus ini dengan kacamata yang lain. Energi (E) di sini saya baca sebagai energi kebaikan yang bersemayam dalam diri kita, yaitu energi dakwah dan energi keshalihan kita. Faktor berikutnya adalah m (maknawiyah), g (ghiroh), serta h (rentang waktu kita beraktifitas dakwah).

Ikhwah sekalian, sebagaimana rumus asalnya, saya berasumsi bahwa anda semua adalah orang-orang yang bisa menjaga kestabilan maknawiyah dan ghiroh keislaman anda. Jika ini benar, maka sesungguhnya semakin jauh dan semakin lama anda menapaki jalan dakwah ini maka seharusnya ia akan melahirkan energi dakwah yang semakin besar pula dalam diri anda. Energi ini adalah energi untuk selalu melahirkan kebaikan di lingkungan kita. Energi yang akan mendorong kita untuk tetap tegar di jalan dakwah para nabi ini, walau mungkin berbagai caci maki dan fitnah datang menghadang.

Saya hanya kembali terbayang dengan para sahabat nabi yang ketika usia mereka yang semakin tua sehingga kekuatan mereka pun tidak seperti di kala mudanya, namun tetap mempunyai energi dan semangat untuk selalu berdakwah dan berjihad di jalan ALLOH. Ingat sebuah kisah ketika ada mobilisasi jihad di masa kekhalifahan, seorang bapak yang sudah uzur usianya sampai harus berdebat dengan anak-anaknya hanya untuk menentukan siapa yang layak berangkat? Masing-masing ngotot ingin berangkat berperang, sehingga akhirnya dengan berat hati anak-anaknya tersebut merelakan sang bapak yang berangkat.

Atau pun para salafus shalih, ulama-ulama terdahulu dan juga ulama-ulama mujahid yang datang kemudian, yang saya banyak menemukan pribadi-pribadi yang sampai masa senjanya mereka selalu bisa menjaga energi keshalihannya. Seiring dengan semakin bertambahnya usia identik dengan semakin bertambahnya pengalaman seseorang dalam bergelut dengan asam garam perjuangan. Sehingga ketika hal ini ditopang dengan kondisi maknawiyah yang kokoh dan terjaga, sekaligus dipupuk dengan ghiroh yang senantiasa menyala dalam dada, inilah kiranya rahasia para mujahid tersebut dalam memelihara energi kebaikannya.

Jika semakin usia kita bertambah ternyata energi kebaikan dan keshalihan kita ternyata tak kunjung meningkat atau bahkan malah semakin surut, maka waspadalah. Waspadalah. Waspadalah. Boleh jadi kekonsistenan anda dalam menjaga kestabilan faktor m dan g dalam diri anda masih kurang. Mari kita berbenah kembali.

(dieja lagi saat langkah-langkah sedang memberat)

Selasa, 06 Mei 2008

Menulislah…

Menulislah…

Ya, menulislah kawan. Karena dengan menulis, sungguh engkau akan merasa hidup terus. Tulisan mewakili apa yang berputar dalam pikiran dan hati kita. Dengan menulis, maka ia seakan menjadi prasasti yang siap membawa pikiran dan hati kita ke dimensi waktu yang akan datang.

Bukan perkara yang sulit. Tapi juga bukan perkara yang enteng. Yang dibutuhkan adalah kemauan. Karena memang, untuk menuangkan sebuah ide menjadi tulisan dibutuhkan keseriusan tersendiri dengan ditambahi sedikit mood.

Dengan menulis, semua yang terpendam dalam benak pikiran dan tersimpan jauh dalam relung hati kita terdalam, dapat mengalir tanpa harus ada ganjalan. Selalu ada perasaan tersendiri ketika semua yang tidak bisa terucap dengan lisan, bisa kita tuangkan dalam bentuk tulisan.

Dengan menulis, orang pun akan paham dengan pola pikir kita. Dengan karakter kita. Bahkan mungkin sifat dan kecenderungan kita pun akan terbaca dari tulisan-tulisan kita. Ibaratnya, tulisan kita mencerminkan ruh yang bersemayam dalam raga kita.

Anda bisa melihat, orang-orang hebat bisa terlihat dari apa yang mereka tulis. Karena itulah gagasan-gagasan mereka. Karena itulah pikiran dan ide-ide mereka. Karena itulah letupan-letupan semangat dan asa yang ada dalam jiwa mereka.

Dengan menulis, pun kita bisa berlatih mengontrol dan mengevaluasi kepribadian kita. Karena tulisan-tulisan yang terdokumentasi, akan menjadi bukti otentik cerminan keadaan jiwa kita saat itu. Sehingga bisa kita evaluasi kembali.

Dan ingat pula, dengan menulis anda punya kesempatan untuk memberi pencerahan kepada banyak orang dan lebih banyak orang. Bahkan bisa jadi lintas generasi. Lihatlah para ulama yang telah meninggalkan warisan dalam bentuk ilmu-ilmu melalui kitab-kitab karangan mereka. Betapa mencengangkan kalo kita membayangkan pahala yang akan mereka peroleh karena amal berupa ilmu yang bermanfaat itu.

Karena itu, jangan ragu menulis. Tuangkan ide-ide, gagasan-gagasan, mimpi-mimpi, keinginan-keinginan anda segera. Karena boleh jadi, kesuksesan kita di masa datang sedang kita rancang dan bangun melalui kerangka-kerangka sederhana ini.

Mari mencoba.