Entah, sudah beberapa bulan ini kok rasanya malas sekali untuk menulis. Pekan lalu sudah muncul keinginan itu, sayang di saat yang tidak tepat. Menjelang pulang kantor tiba-tiba jari-jari ini ingin mengalirkan tulisan yang selama ini mentok di dalam kepala. Baru satu halaman, terpaksa diputus karena sudah waktunya pulang kantor. Laptop dengan semangat aku masukkan tas untuk aku bawa pulang kost dengan maksud nanti melanjutkan tulisan tersebut di kost. Ternyata sampai kost semuanya buyar, rencana menulis tinggal rencana. Alhasil, sampai hampir sepekan hari ini, tulisan itu tetap berhenti di halaman pertama.
Tadi malam sambil ngutak-atik rubik di kamar (dari pada pikiran idle, dimanfaatkan untuk berimaginasi dengan mainan rubik), kembali terpikir, alangkah kurang bermanfaatnya ketika ide-ide tulisan di kepala ini tidak bisa tertuangkan dalam tulisan. Selama ini, aku selalu merasakan kepuasan tertentu ketika bisa membahasakan ide-ide, kenangan-kenangan, pikiran-pikiran sederhana, atau pun sekedar lintasan konyol yang hinggap di kepala ini. Ahh... aku jadi ingat blog ku yang telah lama tak kutengok. Aku jadi ingat kompasiana, sudah lama pula tidak aku update tulisanku di sana.
Pekan lalu juga, aku membaca tulisan di website kepegawaian kantorku. Membaca paragraf awal, aku langsung ingat gaya tulisan itu. Aku langsung mencoba menerka siapa penulisnya. Segera kursor aku arahkan ke bagian akhirn tulisan itu. Dan benar. Penulisnya adalah kepala seksiku dulu. Aku ingat waktu awal-awal menulis dulu selalu di forwardnya tulisannya ke aku. "Layak di konsumsi publik gak, ker?" tanyanya. "Bagus pak, sangat layak. Kita akan belajar menulis dengan sering menulis kok. Pede aja intinya." kira-kira jawabanku begitu. Dan benar, tulisannya sekarang semakin baik. "Lihat tulisan terbaruku di web kepegawaian." tiba-tiba beliau mengirim pesan via gtalk kemaren. "Hehehe.. sudah aku baca pak." kataku.
Bismillah. Meski ini hanya sedikit keluhan atau apalah, setidaknya dengan ini semoga bisa menjadi langkah awal untuk kembali menulis. "Aku kangen dengan tulisan-tulisan mas lho. Ada banyak kejadian yang bisa ditulis tuh." Kata istriku pekan lalu ketika kami diskusi tentang sekolah anak bungsu kami yang cukup unik, yang memasuki jenjang sekolah dasar tahun ini. Biarlah, beberapa paragraf curhatan ini (halah) menjadi saksi bahwa sesungguhnya aku selalu rindu untuk menulis.
Jadi? Mari mencoba untuk menulis lagi.
"Hidup ini seperti aliran air yang akan menuju ke muaranya. Maka jernihkan alirannya..."
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Selasa, 03 Agustus 2010
Kamis, 18 Juni 2009
Mendadak Bosan
Aku dilanda kebosanan. Semua aktifitas hari ini terasa tidak enak. Tidak nyaman. Aku ingin bergerak tapi terasa tak mampu. Aku ingin mendobraknya tapi serasa tak ada tenaga untuk itu. Jenuh. Seakan tak ada asa tersisa dalam dada ini. Di sisa-sisa kekuatanku, aku mencoba mencari makna tentang bosan ini.
Bosan, kata Fisher, adalah suatu kondisi perasaan (afektif) yang tidak menyenangkan. Bersifat sementara. Seseorang merasakan suatu kehilangan minat dan sulit konsentrasi, terhadap aktivitas yang sedang dilakukannya.
Definisi itu makin memperjelasku, bahwa bosan muncul bukan karena tak ada sesuatu untuk dikerjakan. Tetapi karena ketidakmampuan untuk terikat dalam suatu aktivitas tertentu. Meskipun sering muncul hasrat yang amat dalam ke arahnya.
Mendadak, aku tersengat dengan sebuat tulisan. Seakan aku belum pernah membaca tulisan itu. Padahal, sungguh telah berulang kali aku membaca tulisan itu.
Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.
(alm. Ust Rahmat Abdullah)
Bahwa sesungguhnya tidak ada yang baik atau buruk kecuali fikiran kita yang membuatnya demikan.
Dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwasanya Nabi s.a.w. memasuki rumahnya dan di sisi Aisyah itu ada seorang wanita. Beliau s.a.w. bertanya: "Siapakah ini?" Aisyah menjawab: "Ini adalah si fulanah." Aisyah menyebutkan perihal shalatnya wanita tadi - yang sangat luar biasa tekunnya.
Beliau s.a.w. bersabda: "Jangan demikian, hendaklah engkau semua berbuat sesuai dengan kekuatanmu semua saja. Sebab demi Allah, Allah itu tidak bosan - memberi pahala - sehingga engkau semua bosan - melaksanakan amalan itu. Adalah cara melakukan agama yang paling dicintai oleh Allah itu ialah apa-apa yang dikekalkan melakukannya oleh orangnya itu - yakni tidak perlu banyak-banyak asalkan langsung terus." (Muttafaq 'alaih)
Bosan? Jenuh? Itu kadang kala manusiawi. Yang berbahaya adalah ketika kita tidak bisa menelusuri sumber rasa bosan itu, sehingga kita salah dalam mensikapi dan mencari solusi atas kebosanan itu.
Pancoran 18/06/2009 : 00:11 WIB
Bosan, kata Fisher, adalah suatu kondisi perasaan (afektif) yang tidak menyenangkan. Bersifat sementara. Seseorang merasakan suatu kehilangan minat dan sulit konsentrasi, terhadap aktivitas yang sedang dilakukannya.
Definisi itu makin memperjelasku, bahwa bosan muncul bukan karena tak ada sesuatu untuk dikerjakan. Tetapi karena ketidakmampuan untuk terikat dalam suatu aktivitas tertentu. Meskipun sering muncul hasrat yang amat dalam ke arahnya.
Mendadak, aku tersengat dengan sebuat tulisan. Seakan aku belum pernah membaca tulisan itu. Padahal, sungguh telah berulang kali aku membaca tulisan itu.
Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.
(alm. Ust Rahmat Abdullah)
Bahwa sesungguhnya tidak ada yang baik atau buruk kecuali fikiran kita yang membuatnya demikan.
Dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwasanya Nabi s.a.w. memasuki rumahnya dan di sisi Aisyah itu ada seorang wanita. Beliau s.a.w. bertanya: "Siapakah ini?" Aisyah menjawab: "Ini adalah si fulanah." Aisyah menyebutkan perihal shalatnya wanita tadi - yang sangat luar biasa tekunnya.
Beliau s.a.w. bersabda: "Jangan demikian, hendaklah engkau semua berbuat sesuai dengan kekuatanmu semua saja. Sebab demi Allah, Allah itu tidak bosan - memberi pahala - sehingga engkau semua bosan - melaksanakan amalan itu. Adalah cara melakukan agama yang paling dicintai oleh Allah itu ialah apa-apa yang dikekalkan melakukannya oleh orangnya itu - yakni tidak perlu banyak-banyak asalkan langsung terus." (Muttafaq 'alaih)
Bosan? Jenuh? Itu kadang kala manusiawi. Yang berbahaya adalah ketika kita tidak bisa menelusuri sumber rasa bosan itu, sehingga kita salah dalam mensikapi dan mencari solusi atas kebosanan itu.
Pancoran 18/06/2009 : 00:11 WIB
Senin, 27 Oktober 2008
Lupa yang kedua
Sabtu-ahad kemaren mbak yang biasa bantu di rumah kami pulang kampung. Ada sedikit kejadian menggelikan sekaligus menjengkelkan. Pagi itu, istri ada acara kajian di rumah. Sementara istri sibuk dengan para tamunya, saya mencuci piring dll di belakang. Selesai acara, istri langsung berbenah memasak.
"Mas, tolong masak nasi ya" Kata istri. "Oke. Berapa takar?" Jawab saya. "Tiga aja" Katanya.
Selesai mususi beras langsung saya taruh kembali ke dalam magic com. Waktu itu sekitar pukul 08.00. "Selesai" batin saya. Menjelang pukul 11.30 lauk pauk dan sayur sudah siap. Istri kemudian menengok nasi di magic com. Tiba-tiba dia teriak, "Maasss... tadi masak nasinya gimana? Lupa dipasang tombol cook nya ya?"
Gubrak!! Betul, saya lupa menurunkan tombolnya ke posisi cook rupanya. "Maaf, lupa"
"Gimana sih, ini yang kedua kalinya tahu" Kata istri sedikit sewot. Jadinya siang itu kami makan siang sedikit agak terlambat. "Mi, mau makan" Kata anak gadis saya. "Nasinya belum matang, tuh abimu lupa lagi.." Anak saya kemudian menoleh ke saya. Dan saya hanya bisa tersenyum kecut.
"Mas, tolong masak nasi ya" Kata istri. "Oke. Berapa takar?" Jawab saya. "Tiga aja" Katanya.
Selesai mususi beras langsung saya taruh kembali ke dalam magic com. Waktu itu sekitar pukul 08.00. "Selesai" batin saya. Menjelang pukul 11.30 lauk pauk dan sayur sudah siap. Istri kemudian menengok nasi di magic com. Tiba-tiba dia teriak, "Maasss... tadi masak nasinya gimana? Lupa dipasang tombol cook nya ya?"
Gubrak!! Betul, saya lupa menurunkan tombolnya ke posisi cook rupanya. "Maaf, lupa"
"Gimana sih, ini yang kedua kalinya tahu" Kata istri sedikit sewot. Jadinya siang itu kami makan siang sedikit agak terlambat. "Mi, mau makan" Kata anak gadis saya. "Nasinya belum matang, tuh abimu lupa lagi.." Anak saya kemudian menoleh ke saya. Dan saya hanya bisa tersenyum kecut.
Rabu, 28 Mei 2008
Akhirnya Saya Menyerah
Biasanya, sangat mudah bagi saya untuk memutuskan hal ini. Tapi untuk kali ini, ada nuansa lain yang begitu menggoda. Begitu setidaknya yang menari-nari dalam benak pikiran saya. Barang kali karena aura jihad siyasi yang semakin dekat, ikut membuat ritme dalam jantung saya mulai mengalami akselerasi luar biasa.
Sudah sejak dua minggu yang lalu saya mencoba memantabkan niat, untuk mengikuti kegiatan mukhoyam -acara kepanduan yang berupa camping, out bond, long march, sholat malam dan semacamnya- yang diselenggarakan teman-teman wilayah DKI Jakarta di Bumi Perkemahan Cibubur. Pendeknya, kegiatan ini meliputi olah fisik, intelektual juga ruhaniyah kita.
Hingga keberangkatan ke ibukota ahad kemaren, saya masih optimis bisa memantabkan hati. Kaos, topi dan rompi khusus tak lupa telah saya masukkan dalam tas saya. Kepada teman-teman seperjuangan di kereta api pun saya mencoba meyakinkan mereka bahwa saya akan ikut andil dalam acara tersebut. Itu artinya, saya tidak akan pulang ke Jogja akhir pekan ini! ”Tenane...!” begitu ledek teman satu kost saya.
Tak kurang-kurang, Istri pun ikut mendorong untuk tidak pulang saja dulu dengan alasan agar bisa istirahat. Namun ketika kemaren saya gambarkan kegiatan yang marathon dari kamis malam hingga ahad siang/sore (meski kalaupun saya jadi benar-benar ikut andil, paling mungkin berangkat adalah jumat malam), istri mulai kawatir karena adanya keterbatasan fisik saya. Ah, ini mulai membuat peta kekuatan dalam hati saya, antara tarikan untuk berangkat mukhoyam dan tarikan untuk pulang ke Jogja menjadi makin mendekati seimbang. Sama kuatnya !
”Bi, besok sabtu ahad aku mau persahad” begitu anak sulung saya mengabari saya saat saya telepon kemaren sore. Persahad adalah perkemahan sabtu ahad. ”Ya, tempatnya di mana?”. ”Ndak tahu, mungkin di sekolahan.” begitu jawabnya. Biasanya kalo dia persahad, malam ahadnya saya dan istri suka menjenguk dia ke perkemahannya. Sekedar memastikan bahwa dia memang benar-benar menikmati kegiatan tersebut. Belum lagi laporan istri saya kemudian, ”Tadi Ghifar tetap ndak mau sekolah...” Yah, anak saya yang bungsu itu memang sedang ada ’masalah’ dengan sekolahnya. Sudah dua pekan dia mogok sekolah. Menurut informasi yang dikumpulkan istri saya, guru yang kebetulan mengampu kelas anak saya pendekatannya kurang cocok dengan style anak saya itu. Pendekatan yang sedikit menggunakan bahasa kekerasan, meski sekedar kekerasan verbal atau isyarat. Sedikit banyak, cerita-cerita ini membuat saya semakin termangu-mangu.
Hingga tadi malam, setidaknya saat bertemu dengan teman-teman di Pancoran, saya masih mencoba untuk optimis bisa berangkat mukhoyam. Apalagi ketika ustadz mengatakan, ”Berangkat dong, wong akh keri lagi tumbuh-tumbuhnya nih” begitu kata beliau ketika ada teman yang mempertanyakan kepastian keberangkatan saya. Pun ketika saya memboncengkan beliau bermotor ria di jalanan dekat Makam Kalibata dan beliau bertanya ”Gimana punggung antum?”. ”Alhamdulillah ustadz, sejauh ini tidak ada masalah lagi” begitu jawab saya. Meyakinkan kalo kegiatan mukhoyam tidak akan memberatkan saya.
Pagi-pagi tadi, menjelang sholat subuh seorang teman saya sms. ”Mau beli tiket ahad senja solo nih, Antum ikut gak? Masih gojag-gajeg mutunya?” Wah, serangan fajar nih, pikir saya. Dan saya masih berani menjawab, ”Ditinggal aja deh, tarikannya agak kuat ke arah ikut.”
Saya memang bukan tipe orang yang bisa berlama-lama jauh dari keluarga. Bagi saya, keluarga adalah tempat yang luar biasa untuk mengekspresikan diri saya. Apalagi bagi saya, sebisa mungkin masa-masa kecil anak jangan sampai terlewatkan. Masa-masa inilah waktu utama untuk membangun kedekatan dengan mereka, sebelum kelak mereka siap menjadi pribadi-pribadi yang mandiri.
Menyusul sms teman saya, sehabis sholat subuh istri saya sms, ”Mas, kalau mukhoyamnya berat gak usah ikut aja...” Hmm, godaan. Sesampai di kantor, sesaat duduk di depan meja kerja, teman yang baru penempatan di ibukota setelah kuliah S2 UGM sms, ”Ente pulang gak?” Duh,.... Belum lagi sepenuhnya bisa berpikir, istri sms lagi, ”Kalo mangu-mangu gak usah ikut aja..” Weleh weleh, betul-betul serangan yang bertubi-tubi.
Akhirnya di tengah-tengah kegamangan itu saya coba mencari kemantaban dengan sms ke teman satu kost yang juga merencanakan akan ikut mukhoyam. ”Jadi ikut MUTU?...” Tapi bersamaan dengan itu saya pun iseng sms ke bos kasubag umum pancoran, ”Mas, bsk jumat jadinya naik apa?” Ternyata respon yang terakhir lebih cepat. ”Rencana naik gajayana, ikut po? Ini aku lagi di lapangan banteng. Kalo iya ntar tak sekalian beli.” Waduh. Gagap saya menjawab teleponnya, mencoba berpikir cepat. Harus ada keputusan segera. ”Yo wis, ikut...” Inilah ending dari ketermangu-manguan saya dua pekan belakangan. Dan akhirnya memang, saya harus menyerah...
Menyerah untuk tidak bisa tidak pulang akhir pekan ini. Adzan dhuhur pun telah terdengar dari masjid di sebelah gedung menara jamsostek ini. Ada pengajian ustadz Arifin Ilham ba’da sholat Dhuhur. Lebih dari cukup untuk membantu menenangkan hati. Alhamdulillah. Ya Allah, ampuni ketidakberdayaan hamba-Mu ini.
Jangan salahkan
Jika aku tidak bisa berlama-lama dari kalian
Karena memang di sini
Di dada ini
Selalu dipenuhi rasa cinta dan rindu
Jakarta, 28/05/08
Sudah sejak dua minggu yang lalu saya mencoba memantabkan niat, untuk mengikuti kegiatan mukhoyam -acara kepanduan yang berupa camping, out bond, long march, sholat malam dan semacamnya- yang diselenggarakan teman-teman wilayah DKI Jakarta di Bumi Perkemahan Cibubur. Pendeknya, kegiatan ini meliputi olah fisik, intelektual juga ruhaniyah kita.
Hingga keberangkatan ke ibukota ahad kemaren, saya masih optimis bisa memantabkan hati. Kaos, topi dan rompi khusus tak lupa telah saya masukkan dalam tas saya. Kepada teman-teman seperjuangan di kereta api pun saya mencoba meyakinkan mereka bahwa saya akan ikut andil dalam acara tersebut. Itu artinya, saya tidak akan pulang ke Jogja akhir pekan ini! ”Tenane...!” begitu ledek teman satu kost saya.
Tak kurang-kurang, Istri pun ikut mendorong untuk tidak pulang saja dulu dengan alasan agar bisa istirahat. Namun ketika kemaren saya gambarkan kegiatan yang marathon dari kamis malam hingga ahad siang/sore (meski kalaupun saya jadi benar-benar ikut andil, paling mungkin berangkat adalah jumat malam), istri mulai kawatir karena adanya keterbatasan fisik saya. Ah, ini mulai membuat peta kekuatan dalam hati saya, antara tarikan untuk berangkat mukhoyam dan tarikan untuk pulang ke Jogja menjadi makin mendekati seimbang. Sama kuatnya !
”Bi, besok sabtu ahad aku mau persahad” begitu anak sulung saya mengabari saya saat saya telepon kemaren sore. Persahad adalah perkemahan sabtu ahad. ”Ya, tempatnya di mana?”. ”Ndak tahu, mungkin di sekolahan.” begitu jawabnya. Biasanya kalo dia persahad, malam ahadnya saya dan istri suka menjenguk dia ke perkemahannya. Sekedar memastikan bahwa dia memang benar-benar menikmati kegiatan tersebut. Belum lagi laporan istri saya kemudian, ”Tadi Ghifar tetap ndak mau sekolah...” Yah, anak saya yang bungsu itu memang sedang ada ’masalah’ dengan sekolahnya. Sudah dua pekan dia mogok sekolah. Menurut informasi yang dikumpulkan istri saya, guru yang kebetulan mengampu kelas anak saya pendekatannya kurang cocok dengan style anak saya itu. Pendekatan yang sedikit menggunakan bahasa kekerasan, meski sekedar kekerasan verbal atau isyarat. Sedikit banyak, cerita-cerita ini membuat saya semakin termangu-mangu.
Hingga tadi malam, setidaknya saat bertemu dengan teman-teman di Pancoran, saya masih mencoba untuk optimis bisa berangkat mukhoyam. Apalagi ketika ustadz mengatakan, ”Berangkat dong, wong akh keri lagi tumbuh-tumbuhnya nih” begitu kata beliau ketika ada teman yang mempertanyakan kepastian keberangkatan saya. Pun ketika saya memboncengkan beliau bermotor ria di jalanan dekat Makam Kalibata dan beliau bertanya ”Gimana punggung antum?”. ”Alhamdulillah ustadz, sejauh ini tidak ada masalah lagi” begitu jawab saya. Meyakinkan kalo kegiatan mukhoyam tidak akan memberatkan saya.
Pagi-pagi tadi, menjelang sholat subuh seorang teman saya sms. ”Mau beli tiket ahad senja solo nih, Antum ikut gak? Masih gojag-gajeg mutunya?” Wah, serangan fajar nih, pikir saya. Dan saya masih berani menjawab, ”Ditinggal aja deh, tarikannya agak kuat ke arah ikut.”
Saya memang bukan tipe orang yang bisa berlama-lama jauh dari keluarga. Bagi saya, keluarga adalah tempat yang luar biasa untuk mengekspresikan diri saya. Apalagi bagi saya, sebisa mungkin masa-masa kecil anak jangan sampai terlewatkan. Masa-masa inilah waktu utama untuk membangun kedekatan dengan mereka, sebelum kelak mereka siap menjadi pribadi-pribadi yang mandiri.
Menyusul sms teman saya, sehabis sholat subuh istri saya sms, ”Mas, kalau mukhoyamnya berat gak usah ikut aja...” Hmm, godaan. Sesampai di kantor, sesaat duduk di depan meja kerja, teman yang baru penempatan di ibukota setelah kuliah S2 UGM sms, ”Ente pulang gak?” Duh,.... Belum lagi sepenuhnya bisa berpikir, istri sms lagi, ”Kalo mangu-mangu gak usah ikut aja..” Weleh weleh, betul-betul serangan yang bertubi-tubi.
Akhirnya di tengah-tengah kegamangan itu saya coba mencari kemantaban dengan sms ke teman satu kost yang juga merencanakan akan ikut mukhoyam. ”Jadi ikut MUTU?...” Tapi bersamaan dengan itu saya pun iseng sms ke bos kasubag umum pancoran, ”Mas, bsk jumat jadinya naik apa?” Ternyata respon yang terakhir lebih cepat. ”Rencana naik gajayana, ikut po? Ini aku lagi di lapangan banteng. Kalo iya ntar tak sekalian beli.” Waduh. Gagap saya menjawab teleponnya, mencoba berpikir cepat. Harus ada keputusan segera. ”Yo wis, ikut...” Inilah ending dari ketermangu-manguan saya dua pekan belakangan. Dan akhirnya memang, saya harus menyerah...
Menyerah untuk tidak bisa tidak pulang akhir pekan ini. Adzan dhuhur pun telah terdengar dari masjid di sebelah gedung menara jamsostek ini. Ada pengajian ustadz Arifin Ilham ba’da sholat Dhuhur. Lebih dari cukup untuk membantu menenangkan hati. Alhamdulillah. Ya Allah, ampuni ketidakberdayaan hamba-Mu ini.
Jangan salahkan
Jika aku tidak bisa berlama-lama dari kalian
Karena memang di sini
Di dada ini
Selalu dipenuhi rasa cinta dan rindu
Jakarta, 28/05/08
Bertanya tentang Tata Cara Kerja dan Kinerja
Entah ini sebuah kesalahan saya atau bukan. Setidaknya saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Dan saya juga tidak menuntut untuk bisa terealisasi sesuai jadwal, sebuah proses kenaikan jenjang reguler hak setiap pegawai, bagi yang telah memenuhi berbagai syarat tentunya.
Ceritanya, oktober nanti jika tidak ada aral melintang, golongan kepangkatan saya menjadi III/a. Untuk mencapai ke sana, seorang pegawai harus melalui DUD atau pun UPKP bagi yang mempunyai ijazah sarjana. Dulu sewaktu di KPP (Yogyakarta) ketika ditanyakan akan ikut DUD tidak, saya selalu menjawab untuk tidak diikutkan karena saya sedang kuliah dan memilih untuk UPKP.
Persis selesai kuliah, saya di mutasi ke Jakarta. Sehingga laporan menyelesaikan pendidikan pun saya buat di kantor baru ini, persisnya tahun kemaren. Dan data di kepegawaian kantor pusat pun untuk pendidikan saya lihat sudah tercantum sarjana. Sekali lagi teman di kepegawaian di sini, waktu ada permintaan usulan peserta DUD menanyakan ke saya juga dan saya jawab saya diikutkan UPKP saja.
Awal Mei kemaren ada teman (yang termutasi ke makasar) mengingatkan untuk siap-siap ikut UPKP. Saya berbaik sangka, tentunya saya telah diusulkan bagian kepegawaian saya. Teman saya mencoba mencari informasi nama saya terdaftar di usulan yang ada di pusdiklat perpajakan tidak, ternyata belum ada nama saya. Selidik punya selidik, teman saya di kepegawaian kemudian menginformasikan kalau ternyata memang belum diusulkan dari kanwil, terlewat katanya waktu itu.
Bagi saya ini sebetulnya tidak masalah. Kenaikan pangkat harus mundur setahun lagi pun insyaAllah tidak akan saya permasalahkan. Itu artinya belum rejeki saya. Hanya kemudian ketika saya kebetulan mampir ke bagian kepegawaian tadi, ada yang memanggil saya. Kemudian mempertanyakan ini itu, kenapa dulu waktu ada surat permintaan peserta UPKP tidak mengusulkan untuk ikut UPKP sebagaimana KPP mengirim data usulan ke kanwil tentang usulan peserta UPKP, sehingga akibatnya nama saya tidak ikut diusulkan ke kantor pusat. Intinya saya diposisikan sebagai pihak yang bersalah.
Logika saya sederhana. Saya berkantor di kanwil. Saya sudah pernah ditanya dan saya sampaikan untuk tidak ikut DUD dan diikutkan UPKP. Laporan menyelesaikan pendidikan pun saya laporkan di sini. Bagian kepegawaian tentunya telah tersedia data kepangkatan pegawai dan pendidikannya. Bahkan dalam Surat Edaran nya tertulis jelas, ”... dengan ini diminta Saudara, sekiranya terdapat pegawai di lingkungan kerja Saudara telah menyelesaikan pendidikan di luar kedinasan dan telah memenuhi syarat untuk mengikuti UPKP, agar segera diusulkan ke Bagian Kepegawaian KPDJP...”. Apakah saya dari bidang PKB mesti mengusulkan surat ke bagian kepegawaian? Ditambah dengan tidak setiap saat saya bisa mengamati secara cermat intranet kepegawaian. Terkait dengan permintaan peserta UPKP pun, baru saya baca dan saya cetak beberapa menit yang lalu.
’Ala kulli hal, saya sudah sampaikan kepada bagian kepegawaian tadi, kalaupun saya harus mundur setahun lagi untuk kenaikan pangkatnya pun tidak apa-apa. Dan saya tidak akan menyalahkan karena tidak mengusulkan saya di daftar peserta UPKP. Tapi yang saya tidak bisa terima adalah sikap menyalahkan saya karena tidak ’melaporkan dan mendaftarkan diri’ untuk diikutkan UPKP.
Sebelumnya, terkait hal ini saya sudah mengirim pertanyaan via email ke Bapak Farid Bachtiar (terlampir di bawah ini) yang kemudian beliau forward ke bagian yang lebih sesuai, tapi belum ada jawaban sampai dengan saat ini. Yah, saya hanya merenung, sepertinya untuk masalah kepagawaian ini, di era modernisasi ini sekali pun, masih menyisakan praktek-praktek lama yang sama sekali tidak modern. Setidaknya dalam benak saya misi kepegawaian adalah harus bisa 'ngemong' para pegawainya, karena memang lingkup kerja mereka di wilayah ini, wilayah internal.
Semoga saja masih ada titik cerah di depan sana nanti. Modernisasi bagaimana pun harus terus maju. Meski harus tertatih, itu lebih baik dari pada tumbang di tengah jalan.
Jakarta, 27/05/2008
~ sekedar untuk melegakan dada ~
Ceritanya, oktober nanti jika tidak ada aral melintang, golongan kepangkatan saya menjadi III/a. Untuk mencapai ke sana, seorang pegawai harus melalui DUD atau pun UPKP bagi yang mempunyai ijazah sarjana. Dulu sewaktu di KPP (Yogyakarta) ketika ditanyakan akan ikut DUD tidak, saya selalu menjawab untuk tidak diikutkan karena saya sedang kuliah dan memilih untuk UPKP.
Persis selesai kuliah, saya di mutasi ke Jakarta. Sehingga laporan menyelesaikan pendidikan pun saya buat di kantor baru ini, persisnya tahun kemaren. Dan data di kepegawaian kantor pusat pun untuk pendidikan saya lihat sudah tercantum sarjana. Sekali lagi teman di kepegawaian di sini, waktu ada permintaan usulan peserta DUD menanyakan ke saya juga dan saya jawab saya diikutkan UPKP saja.
Awal Mei kemaren ada teman (yang termutasi ke makasar) mengingatkan untuk siap-siap ikut UPKP. Saya berbaik sangka, tentunya saya telah diusulkan bagian kepegawaian saya. Teman saya mencoba mencari informasi nama saya terdaftar di usulan yang ada di pusdiklat perpajakan tidak, ternyata belum ada nama saya. Selidik punya selidik, teman saya di kepegawaian kemudian menginformasikan kalau ternyata memang belum diusulkan dari kanwil, terlewat katanya waktu itu.
Bagi saya ini sebetulnya tidak masalah. Kenaikan pangkat harus mundur setahun lagi pun insyaAllah tidak akan saya permasalahkan. Itu artinya belum rejeki saya. Hanya kemudian ketika saya kebetulan mampir ke bagian kepegawaian tadi, ada yang memanggil saya. Kemudian mempertanyakan ini itu, kenapa dulu waktu ada surat permintaan peserta UPKP tidak mengusulkan untuk ikut UPKP sebagaimana KPP mengirim data usulan ke kanwil tentang usulan peserta UPKP, sehingga akibatnya nama saya tidak ikut diusulkan ke kantor pusat. Intinya saya diposisikan sebagai pihak yang bersalah.
Logika saya sederhana. Saya berkantor di kanwil. Saya sudah pernah ditanya dan saya sampaikan untuk tidak ikut DUD dan diikutkan UPKP. Laporan menyelesaikan pendidikan pun saya laporkan di sini. Bagian kepegawaian tentunya telah tersedia data kepangkatan pegawai dan pendidikannya. Bahkan dalam Surat Edaran nya tertulis jelas, ”... dengan ini diminta Saudara, sekiranya terdapat pegawai di lingkungan kerja Saudara telah menyelesaikan pendidikan di luar kedinasan dan telah memenuhi syarat untuk mengikuti UPKP, agar segera diusulkan ke Bagian Kepegawaian KPDJP...”. Apakah saya dari bidang PKB mesti mengusulkan surat ke bagian kepegawaian? Ditambah dengan tidak setiap saat saya bisa mengamati secara cermat intranet kepegawaian. Terkait dengan permintaan peserta UPKP pun, baru saya baca dan saya cetak beberapa menit yang lalu.
’Ala kulli hal, saya sudah sampaikan kepada bagian kepegawaian tadi, kalaupun saya harus mundur setahun lagi untuk kenaikan pangkatnya pun tidak apa-apa. Dan saya tidak akan menyalahkan karena tidak mengusulkan saya di daftar peserta UPKP. Tapi yang saya tidak bisa terima adalah sikap menyalahkan saya karena tidak ’melaporkan dan mendaftarkan diri’ untuk diikutkan UPKP.
Sebelumnya, terkait hal ini saya sudah mengirim pertanyaan via email ke Bapak Farid Bachtiar (terlampir di bawah ini) yang kemudian beliau forward ke bagian yang lebih sesuai, tapi belum ada jawaban sampai dengan saat ini. Yah, saya hanya merenung, sepertinya untuk masalah kepagawaian ini, di era modernisasi ini sekali pun, masih menyisakan praktek-praktek lama yang sama sekali tidak modern. Setidaknya dalam benak saya misi kepegawaian adalah harus bisa 'ngemong' para pegawainya, karena memang lingkup kerja mereka di wilayah ini, wilayah internal.
Semoga saja masih ada titik cerah di depan sana nanti. Modernisasi bagaimana pun harus terus maju. Meski harus tertatih, itu lebih baik dari pada tumbang di tengah jalan.
Jakarta, 27/05/2008
~ sekedar untuk melegakan dada ~
Rabu, 14 Mei 2008
Disorientasi
Ini adalah tanggapan saya atas tulisan seorang teman saya di email siang tadi, sekedar untuk menuntaskan perasaan yang masih tersisa tentang modernisasi di instansi tercinta.
Disorientasi
“Maaf Pak, lagi malas” Ini jawaban spontan saya ketika kepala seksi meminta saya untuk segera memberi keputusan sebuah permohonan keberatan, agar target KPI kantor kami tetap tinggi.
Ini bukan malas yang tanpa sebab, setidaknya begitu bagi saya. Dan ini bukan bentuk pembangkanagan saya, tapi sekedar ’protes’ yang saya yakin tidak akan ada yang mau mendengarnya, dan memang solusinya pun masih gelap. Setelah menjawab permintaan beliau itu, saya segera kirimkan email susulan tentang uneg-uneg seputar perkembangan modernisasi.
Ya, saya katakan kepada beliau bahwa saya sedang mengalami disorientasi. Eforia modernisasi yang dulu begitu gempitanya, seakan lenyap dengan laju perkembangan modernisasi belakangan ini.
Kenapa terjadi disorientasi? Setidaknya saya mempunyai dua jawaban. Pertama, harapan yang tidak sebagai mana realita yang ada. Harapan yang terlanjur membumbung, ternyata dihadapkan kepada kenyataan bahwa masih ada budaya-budaya yang tidak mendukung modernisasi. Bisa jadi berupa budaya paternalistik yang masih kental. Budaya-budaya dasar semisal disiplin, keterbukaan, kerja sama, pun masih jauh panggang dari api.
Yang kedua, adanya kebijakan yang sifatnya paradoks di era modernisasi ini. Contoh yang paling terang adalah masalah pengangkatan dan mutasi. Dulu untuk berperan serta dalam modernisasi ini harus melalui seleksi yang bagi saya luar biasa. Tapi justru ketika modernisasi mulai melaju dengan cepat, orang-orang yang menyambut seruan modernisasi ini dengan semangat dan ikhlas, seakan malah mendapatkan ’hukuman’. Sementara yang tidak mau bergeming, justru mendapatkan keleluasaan.
Belum lagi kalau melihat beban kerja dan resiko di kantor baru yang harus mereka pikul. Sementara reward yang mereka dapatkan tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang mendapatkan keleluasaan tadi. Bahkan sebagian saya yakin, justru lebih rendah. Tentu bukan sekedar itu yang ingin saya munculkan. Seorang sahabat saya yang telah 2 tahun lebih dulu menjalani kehidupan jarak jauh, mengatakan ”Bosan cak, begini terus. Apa sih yang kita cari. Piye carane tha aku ben isok pindah saka kene?”
Saya pernah mengobrol dengan mantan kepala seksi saya dalam sebuah perjalanan ke Jakarta, ”Sebetulnya, menurut saya hal seperti itu tidak sehat. Mengangkat dan mengukuhkan orang lama di tempat yang sama, baik itu sebagai kasi maupun AR” begitu kata beliau. ”Tapi begitulah yang terjadi, Pak” jawab saya waktu itu.
Dulu ketika saya mengabarkan modernisasi yang dibarengi dengan remunerasi akan segera dipercepat dan meluas ke MA dan BPK, istri saya hanya berkomentar singkat, ”Ben, bangkrut negarane” Kenapa? Karena merasa tidak layak mendapatkan gaji sebesar itu, sementara pekerjaan dan budaya kerja masih tidak seperti yang diharapkan.
Ya, apapun. Modernisasi memang harus terus bergulir. Dan ongkos yang dibayar memang begitu mahal. Setidaknya itu berlaku bagi para pelaku modernisasi yang belum mendapatkan kebijakan yang ramah dengannya.
”Kamu harus tetap semangat” begitu kepala seksi menanggapi kegundahan saya di emailnya. Kalimat yang sama, yang juga saya dapatkan dari seorang penggagas modernisasi dulu saat saya mengajukan protes saya kepadanya.
Selalu ada sisi positif
Dalam kepasrahan saya, saya selalu mencoba untuk mengais hikmah dan pelajaran. Ada jeda dan rentang waktu yang harus selalu kita isi dengan karya dan amal. Pun dalam sudut-sudut sepi kita.
Sebuah kerja dan amal akan sempurna hanya jika disertai dengan pengorbanan dan keikhlasan. Saya menjadi terinspirasi dengan amal seekor kuda. Dengan kaca mata yang menghalangi dia melihat kiri dan kanan, dia akan berlari dan berlari terus mengikuti perintah tuannya. Kaca mata itu bagi saya adalah kaca mata ikhlas. Dan terus berlarinya dia adalah bentuk pengorbanan kita kepada Rabb kita.
Semoga Dia yang Maha Mendengar dan Menatap, mengampuni dan merahmati langkah-langkah kita semua. Sertakan selalu saya dalam doa-doa kalian.
Masker
Berikut ini adalah tulisan teman saya :
Saat saya mengikuti diklat SAM (atau diklat Pra-Modernisasi, saya lupa) jargon yang diusung para trainer adalah “lebih baik kita segera berubah sekarang daripada nanti di-ubah orang lain” (tentu kata originalnya lebih baik).
Paradox of change
Ini yang perlu kita takutkan, pada saat perubahan harus dilakukan, kita merasa tidak ada kebutuhan sama sekali, tetapi pada saat ada tuntutan untuk berubah, tenaga kita telah habis, kita sudah tidak mampu berbuat apa-apa, ironis. Sekarang kita tanya pada diri kita, apakah kita mau berubah atau tidak mau berubah? kalau jawabannya mau berubah, apakah spirit-nya karena merasa harus berubah ataukan karena ada tuntutan untuk berubah ?.
Sebelum melihat didalam, saya ajak anda untuk melihat keluar sana-tetapi tetap di Republik ini-, betapa setiap kerumunan mampu memporak porandakan sistem yang sebenarnya sudah kita buat dan sepakati untuk dijalankan bersama, sebut saja contoh : korban meninggal semifinal liga Indonesia, korban kepanitiaan konser beberapa grup musik, kasus BLBI dan aliran dana BI (lembaga superbody yang makin gagah dengan kekuatan Undang – undang No.3 Tahun 2004), banjir dan longsor diberbagai daerah (yang memang karna ulah tangan-kerumunan-manusia).
Sekarang mari kita lihat kedalam, apakah institusi yang terdiri dari berbagai kerumunan ini masih memiliki idealisme kuat dan utuh sehingga kita bisa melihat alur dan gerak sistem yang membawa kita pada perubahan-sebagai pertanda kehidupan kita-secara jelas ? sebenarnya perlu penelaahan lebih dalam untuk mengukur idealisme yang ada di mindset penghuni institusi ini, tapi untuk mempermudah pengukuran tersebut kita lihat saja dari beberapa opsi jawaban atas pertanyaan tentang “Apakah saudara melihat dengan jelas perubahan yang ada di tubuh Departemen Cq. Direktorat ini ?” :
Jawaban 1 : ya, saya melihatnya dengan jelas dan utuh karena saya tahu apa yang harus dan tidak harus saya kerjakan, saya tahu persis apa konsekwensi-nya bila saya hanya mengakali sistem ini, saya tahu apa yang akan saya dapat sebagai imbalan atas apa yang saya perbuat dan saya juga tahu apa yang akan saya terima karena saya tidak mengerjakan sesuatu. Ini jawaban mudah untuk mengawinkan antara Modernisasi, Kode Etik dan remunerasi.
Jawaban 2 : tidak, apa yang saya lihat masih buram, saya belum jelas kemana saya harus bergerak tapi saya yakin saya akan di bawa ke arah yang lebih baik.
Jawaban 3 : blank, saya tidak tahu apa-apa, saya hanya ikut saja.
Jawaban 4 : saya tidak perduli..
Jawaban 5 : saya pesimis, apakah kita bisa..
Jawaban 6 : paling ujung – ujungnya sama aja kayak dulu…
Salah persepsi ataukah salah orientasi
Saya yakin banyak dari teman – teman kita yang sudah lama merindukan perubahan ini sama seperti saya meyakini bahwa banyak dari rekan kita yang sudah merasa nyaman dengan keadaan sebelumnya dan merasa terusik dengan perubahan ini, ada segudang teori untuk keyakinan ini, tapi yang saya fahami adalah bahwa keyakinan merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar ….
Hidup ini bukanlah saklar yang hanya ada tombol ‘ON’ dan ‘OF’, terang dan gelap dapat terasa seketika, orang akan tidak terasa sudah berjalan ditempat gelap dalam kurun sekian tahun padahal tadinya dia orang ‘suci’ dan bermoral, begitu sebaliknya, (walau konon lebih sulit) bila kita hati-hati dengan langkah kita maka idealisme akan tetap terjaga.
Persepsi yang terbangun dikepala saya dengan gerakan perubahan ini bisa saja utuh diawalnya, tapi jelas yang tampak dimata saya sekarang adalah kita mulai merasa melangkah menjadi ‘kapitalis yang sopan’, kata-kata modernisasi dan remunerasi cenderung dijadikan kunci untuk membuka brankas keuangan Negara yang sebenarnya masih dipertanyakan kemandiriannya.Dan kode etik dijadikan landasan mengkebiri moral yang memang sudah lama hilang.
Pernahkah anda seperti saya yang bersemangat sekali saat menyambut modernisasi namun kehilangan power di tengah jalan dan sama sekali tidak bisa bergerak lagi ? itu karna ‘protol’nya persepsi yang sudah terbangun
Eman Mulyatman
Disorientasi
“Maaf Pak, lagi malas” Ini jawaban spontan saya ketika kepala seksi meminta saya untuk segera memberi keputusan sebuah permohonan keberatan, agar target KPI kantor kami tetap tinggi.
Ini bukan malas yang tanpa sebab, setidaknya begitu bagi saya. Dan ini bukan bentuk pembangkanagan saya, tapi sekedar ’protes’ yang saya yakin tidak akan ada yang mau mendengarnya, dan memang solusinya pun masih gelap. Setelah menjawab permintaan beliau itu, saya segera kirimkan email susulan tentang uneg-uneg seputar perkembangan modernisasi.
Ya, saya katakan kepada beliau bahwa saya sedang mengalami disorientasi. Eforia modernisasi yang dulu begitu gempitanya, seakan lenyap dengan laju perkembangan modernisasi belakangan ini.
Kenapa terjadi disorientasi? Setidaknya saya mempunyai dua jawaban. Pertama, harapan yang tidak sebagai mana realita yang ada. Harapan yang terlanjur membumbung, ternyata dihadapkan kepada kenyataan bahwa masih ada budaya-budaya yang tidak mendukung modernisasi. Bisa jadi berupa budaya paternalistik yang masih kental. Budaya-budaya dasar semisal disiplin, keterbukaan, kerja sama, pun masih jauh panggang dari api.
Yang kedua, adanya kebijakan yang sifatnya paradoks di era modernisasi ini. Contoh yang paling terang adalah masalah pengangkatan dan mutasi. Dulu untuk berperan serta dalam modernisasi ini harus melalui seleksi yang bagi saya luar biasa. Tapi justru ketika modernisasi mulai melaju dengan cepat, orang-orang yang menyambut seruan modernisasi ini dengan semangat dan ikhlas, seakan malah mendapatkan ’hukuman’. Sementara yang tidak mau bergeming, justru mendapatkan keleluasaan.
Belum lagi kalau melihat beban kerja dan resiko di kantor baru yang harus mereka pikul. Sementara reward yang mereka dapatkan tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang mendapatkan keleluasaan tadi. Bahkan sebagian saya yakin, justru lebih rendah. Tentu bukan sekedar itu yang ingin saya munculkan. Seorang sahabat saya yang telah 2 tahun lebih dulu menjalani kehidupan jarak jauh, mengatakan ”Bosan cak, begini terus. Apa sih yang kita cari. Piye carane tha aku ben isok pindah saka kene?”
Saya pernah mengobrol dengan mantan kepala seksi saya dalam sebuah perjalanan ke Jakarta, ”Sebetulnya, menurut saya hal seperti itu tidak sehat. Mengangkat dan mengukuhkan orang lama di tempat yang sama, baik itu sebagai kasi maupun AR” begitu kata beliau. ”Tapi begitulah yang terjadi, Pak” jawab saya waktu itu.
Dulu ketika saya mengabarkan modernisasi yang dibarengi dengan remunerasi akan segera dipercepat dan meluas ke MA dan BPK, istri saya hanya berkomentar singkat, ”Ben, bangkrut negarane” Kenapa? Karena merasa tidak layak mendapatkan gaji sebesar itu, sementara pekerjaan dan budaya kerja masih tidak seperti yang diharapkan.
Ya, apapun. Modernisasi memang harus terus bergulir. Dan ongkos yang dibayar memang begitu mahal. Setidaknya itu berlaku bagi para pelaku modernisasi yang belum mendapatkan kebijakan yang ramah dengannya.
”Kamu harus tetap semangat” begitu kepala seksi menanggapi kegundahan saya di emailnya. Kalimat yang sama, yang juga saya dapatkan dari seorang penggagas modernisasi dulu saat saya mengajukan protes saya kepadanya.
Selalu ada sisi positif
Dalam kepasrahan saya, saya selalu mencoba untuk mengais hikmah dan pelajaran. Ada jeda dan rentang waktu yang harus selalu kita isi dengan karya dan amal. Pun dalam sudut-sudut sepi kita.
Sebuah kerja dan amal akan sempurna hanya jika disertai dengan pengorbanan dan keikhlasan. Saya menjadi terinspirasi dengan amal seekor kuda. Dengan kaca mata yang menghalangi dia melihat kiri dan kanan, dia akan berlari dan berlari terus mengikuti perintah tuannya. Kaca mata itu bagi saya adalah kaca mata ikhlas. Dan terus berlarinya dia adalah bentuk pengorbanan kita kepada Rabb kita.
Semoga Dia yang Maha Mendengar dan Menatap, mengampuni dan merahmati langkah-langkah kita semua. Sertakan selalu saya dalam doa-doa kalian.
Masker
Berikut ini adalah tulisan teman saya :
Saat saya mengikuti diklat SAM (atau diklat Pra-Modernisasi, saya lupa) jargon yang diusung para trainer adalah “lebih baik kita segera berubah sekarang daripada nanti di-ubah orang lain” (tentu kata originalnya lebih baik).
Paradox of change
Ini yang perlu kita takutkan, pada saat perubahan harus dilakukan, kita merasa tidak ada kebutuhan sama sekali, tetapi pada saat ada tuntutan untuk berubah, tenaga kita telah habis, kita sudah tidak mampu berbuat apa-apa, ironis. Sekarang kita tanya pada diri kita, apakah kita mau berubah atau tidak mau berubah? kalau jawabannya mau berubah, apakah spirit-nya karena merasa harus berubah ataukan karena ada tuntutan untuk berubah ?.
Sebelum melihat didalam, saya ajak anda untuk melihat keluar sana-tetapi tetap di Republik ini-, betapa setiap kerumunan mampu memporak porandakan sistem yang sebenarnya sudah kita buat dan sepakati untuk dijalankan bersama, sebut saja contoh : korban meninggal semifinal liga Indonesia, korban kepanitiaan konser beberapa grup musik, kasus BLBI dan aliran dana BI (lembaga superbody yang makin gagah dengan kekuatan Undang – undang No.3 Tahun 2004), banjir dan longsor diberbagai daerah (yang memang karna ulah tangan-kerumunan-manusia).
Sekarang mari kita lihat kedalam, apakah institusi yang terdiri dari berbagai kerumunan ini masih memiliki idealisme kuat dan utuh sehingga kita bisa melihat alur dan gerak sistem yang membawa kita pada perubahan-sebagai pertanda kehidupan kita-secara jelas ? sebenarnya perlu penelaahan lebih dalam untuk mengukur idealisme yang ada di mindset penghuni institusi ini, tapi untuk mempermudah pengukuran tersebut kita lihat saja dari beberapa opsi jawaban atas pertanyaan tentang “Apakah saudara melihat dengan jelas perubahan yang ada di tubuh Departemen Cq. Direktorat ini ?” :
Jawaban 1 : ya, saya melihatnya dengan jelas dan utuh karena saya tahu apa yang harus dan tidak harus saya kerjakan, saya tahu persis apa konsekwensi-nya bila saya hanya mengakali sistem ini, saya tahu apa yang akan saya dapat sebagai imbalan atas apa yang saya perbuat dan saya juga tahu apa yang akan saya terima karena saya tidak mengerjakan sesuatu. Ini jawaban mudah untuk mengawinkan antara Modernisasi, Kode Etik dan remunerasi.
Jawaban 2 : tidak, apa yang saya lihat masih buram, saya belum jelas kemana saya harus bergerak tapi saya yakin saya akan di bawa ke arah yang lebih baik.
Jawaban 3 : blank, saya tidak tahu apa-apa, saya hanya ikut saja.
Jawaban 4 : saya tidak perduli..
Jawaban 5 : saya pesimis, apakah kita bisa..
Jawaban 6 : paling ujung – ujungnya sama aja kayak dulu…
Salah persepsi ataukah salah orientasi
Saya yakin banyak dari teman – teman kita yang sudah lama merindukan perubahan ini sama seperti saya meyakini bahwa banyak dari rekan kita yang sudah merasa nyaman dengan keadaan sebelumnya dan merasa terusik dengan perubahan ini, ada segudang teori untuk keyakinan ini, tapi yang saya fahami adalah bahwa keyakinan merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar ….
Hidup ini bukanlah saklar yang hanya ada tombol ‘ON’ dan ‘OF’, terang dan gelap dapat terasa seketika, orang akan tidak terasa sudah berjalan ditempat gelap dalam kurun sekian tahun padahal tadinya dia orang ‘suci’ dan bermoral, begitu sebaliknya, (walau konon lebih sulit) bila kita hati-hati dengan langkah kita maka idealisme akan tetap terjaga.
Persepsi yang terbangun dikepala saya dengan gerakan perubahan ini bisa saja utuh diawalnya, tapi jelas yang tampak dimata saya sekarang adalah kita mulai merasa melangkah menjadi ‘kapitalis yang sopan’, kata-kata modernisasi dan remunerasi cenderung dijadikan kunci untuk membuka brankas keuangan Negara yang sebenarnya masih dipertanyakan kemandiriannya.Dan kode etik dijadikan landasan mengkebiri moral yang memang sudah lama hilang.
Pernahkah anda seperti saya yang bersemangat sekali saat menyambut modernisasi namun kehilangan power di tengah jalan dan sama sekali tidak bisa bergerak lagi ? itu karna ‘protol’nya persepsi yang sudah terbangun
Eman Mulyatman
Selasa, 06 Mei 2008
Kelelahan Jiwa
Kelelahan Jiwa
Jika hati lelah
Maka sempatkan untuk memandang
bintang gemintang yang bertaburan
di atas sana
maka yakinlah
akan kau dapatkan
secercah lapang dalam hatimu
luasnya hamparan yang terbentang
di hadapanmu
seakan membuka kembali
mata hatimu
bahwa
betapa agung dan luas kekuasaan-Nya
Jiwaku
Keletihan yang kini kau rasa
Tak sebanding dengan
Kemurahan yang telah kau dapat
Dari-Nya
Lelahku
Biarlah engkau menjadi saksi
Bahwa
Perjalanan ini memang harus dilewati
Bukan untuk dihindari
Lelah
Jiwa
Pandanglah bintang
Di atas sana
Jakarta, 16:30 06/05/2008
Jika hati lelah
Maka sempatkan untuk memandang
bintang gemintang yang bertaburan
di atas sana
maka yakinlah
akan kau dapatkan
secercah lapang dalam hatimu
luasnya hamparan yang terbentang
di hadapanmu
seakan membuka kembali
mata hatimu
bahwa
betapa agung dan luas kekuasaan-Nya
Jiwaku
Keletihan yang kini kau rasa
Tak sebanding dengan
Kemurahan yang telah kau dapat
Dari-Nya
Lelahku
Biarlah engkau menjadi saksi
Bahwa
Perjalanan ini memang harus dilewati
Bukan untuk dihindari
Lelah
Jiwa
Pandanglah bintang
Di atas sana
Jakarta, 16:30 06/05/2008
Rabu, 26 Maret 2008
Menegur dengan kelembutan
Beberapa hari yang lalu, ada seorang ummahat yang mengadu ke saya, karena mendapat teguran yang kurang simpatik dari qiyadahnya dan juga beberapa teman satu level qiyadahnya. Sebenarnya hanya persolan yang boleh dibilang sepele. Sore itu, di tengah keterbatasan waktunya dia menyegerakan diri untuk mengikuti tatsqif di masjid dekat rumahnya, masjid tempat ia dan keluarganya beraktifitas ibadah maupun dakwah. Dalam benaknya, yang ada adalah bagaimana dia bisa menebus waktu untuk menggantikan ketidakhadirannya dalam tatsqif selama ini.
Di tengah berjalannya tatsqif lembar absensi beredar. Ketika menjelang lembar absensi itu bergeser ke tangannya, tiba-tiba ada ummahat lain yang dengan serta merta mengambil lembar absen itu dari tangannya, "Absensi anti tidak di sini.." Sebuah kalimat pendek, datar dan tegas terucap mengiringinya. Hatinya terhenyak, adakah kesalahan yang telah dia perbuat.
Belakangan dia baru mengerti ketika datang sms dari qiyadahnya. "Anti boleh tatsqif di masjid A, B atau C. Tapi tidak di masjid D. Mohon pengertiannya." begitu bunyi pesan singkat tersebut. Dalam hati dia bertanya, kenapa? Untuk meyakinkan hati, dia mencoba mencari jawab dari teman satu halaqohnya. Di dapatlah jawaban bahwa tatsqif di masjid dekat rumahnya tersebut adalah untuk kader level di atasnya.
Waktu berlalu, tapi hatinya belum bisa menerima. Begitukah cara menegur yang berlaku di jamaah dakwah ini? Tidakkah bisa dengan bahasa dan sikap yang lebih lembut? Tidak cukup di situ, bahkan 'salah masuk' nya dia dalam sebuah salah satu wasilah yang bernama tatsqif itu pun perlu dibahas di forum qiyadahnya. Bukankah dakwah ini mengajarkan kelembutan kepada obyek dakwah, apalagi kepada sesama kader? Bukankah dakwah ini mengajarkan untuk mengedepankan khusnudzon?
Saya menjadi teringat dengan taujih salah seorang ustadz, "Akhi, kita ini berhimpun dalam dakwah ini semata-mata karena ikatan iman dan ukhuwah. Tidak ada ikatan selain itu, apalagi ikatan materi. Karenanya, menjadi seorang qiyadah itu bukan untuk menguasai, tapi untuk mengasuh dan mengasihi. Bukan pula semangat memukul tapi semestinya merangkul. Jangan umbar kemarahan tapi umbarlah keramahan. Jadikan semangat menghukum itu pilihan yang paling akhir."
Saya hanya takut, hak-hak ukhuwah barangkali belum sepenuhnya tertunai dalam diri para kader ini. Bahwa tingkatan ukhuwah yang paling mendasar, kata Imam Hasan al Bana adalah, kelapangan dada dalam menerima keadaan saudaranya. Dan puncaknya adalah itsar. Sudahkah kita melapangkan dada kita dengan kekhilafan yang barangkali terjadi tanpa dia sengaja?
Bahkan lebih lanjut Al Qur'an memerintahkan untuk selalu menjaga semangat ukhuwah ini. Ada rambu-rambu yang Allah gambarkan dalam Surat AL Hujurat ayat 6-12, diantaranya adalah :
- Budayakan untuk senantiasa bertabayun (fattabayyanu)
- Semangat untuk selalu ishlah (fa ashlihu)
- Jangan saling mengolok-olok (laa yaskhor)
- Jangan suka mencela (laa talmizu)
- Jangan memberi sebutan yang buruk (laa tabanaazu bil alqob
- Jauhi dari banyak prasangka (ijtanibu katsiiran minadz-dzon)
- Jangan mencari-cari kesalahan (laa tajassasu)
- Jangan saling menggunjing (laa yaghtab-ba'dhukum ba'dho)
Semoga kita bisa selalu menyemai semangat ukhuwah ini. Teguran adalah bagian dari berukhuwah. Tetapi menegurlah dengan lembut. Sebagaimana lembutnya akhlaq seorang mukmin yang dituntut dalam Al Qur'an, 'ruhamaa'u bainahum..." mereka saling bersikap lembut di antara mereka. Agar para kader merasa nyaman dalam bangunan dakwah ini.
Allahu a'lam.
Di tengah berjalannya tatsqif lembar absensi beredar. Ketika menjelang lembar absensi itu bergeser ke tangannya, tiba-tiba ada ummahat lain yang dengan serta merta mengambil lembar absen itu dari tangannya, "Absensi anti tidak di sini.." Sebuah kalimat pendek, datar dan tegas terucap mengiringinya. Hatinya terhenyak, adakah kesalahan yang telah dia perbuat.
Belakangan dia baru mengerti ketika datang sms dari qiyadahnya. "Anti boleh tatsqif di masjid A, B atau C. Tapi tidak di masjid D. Mohon pengertiannya." begitu bunyi pesan singkat tersebut. Dalam hati dia bertanya, kenapa? Untuk meyakinkan hati, dia mencoba mencari jawab dari teman satu halaqohnya. Di dapatlah jawaban bahwa tatsqif di masjid dekat rumahnya tersebut adalah untuk kader level di atasnya.
Waktu berlalu, tapi hatinya belum bisa menerima. Begitukah cara menegur yang berlaku di jamaah dakwah ini? Tidakkah bisa dengan bahasa dan sikap yang lebih lembut? Tidak cukup di situ, bahkan 'salah masuk' nya dia dalam sebuah salah satu wasilah yang bernama tatsqif itu pun perlu dibahas di forum qiyadahnya. Bukankah dakwah ini mengajarkan kelembutan kepada obyek dakwah, apalagi kepada sesama kader? Bukankah dakwah ini mengajarkan untuk mengedepankan khusnudzon?
Saya menjadi teringat dengan taujih salah seorang ustadz, "Akhi, kita ini berhimpun dalam dakwah ini semata-mata karena ikatan iman dan ukhuwah. Tidak ada ikatan selain itu, apalagi ikatan materi. Karenanya, menjadi seorang qiyadah itu bukan untuk menguasai, tapi untuk mengasuh dan mengasihi. Bukan pula semangat memukul tapi semestinya merangkul. Jangan umbar kemarahan tapi umbarlah keramahan. Jadikan semangat menghukum itu pilihan yang paling akhir."
Saya hanya takut, hak-hak ukhuwah barangkali belum sepenuhnya tertunai dalam diri para kader ini. Bahwa tingkatan ukhuwah yang paling mendasar, kata Imam Hasan al Bana adalah, kelapangan dada dalam menerima keadaan saudaranya. Dan puncaknya adalah itsar. Sudahkah kita melapangkan dada kita dengan kekhilafan yang barangkali terjadi tanpa dia sengaja?
Bahkan lebih lanjut Al Qur'an memerintahkan untuk selalu menjaga semangat ukhuwah ini. Ada rambu-rambu yang Allah gambarkan dalam Surat AL Hujurat ayat 6-12, diantaranya adalah :
- Budayakan untuk senantiasa bertabayun (fattabayyanu)
- Semangat untuk selalu ishlah (fa ashlihu)
- Jangan saling mengolok-olok (laa yaskhor)
- Jangan suka mencela (laa talmizu)
- Jangan memberi sebutan yang buruk (laa tabanaazu bil alqob
- Jauhi dari banyak prasangka (ijtanibu katsiiran minadz-dzon)
- Jangan mencari-cari kesalahan (laa tajassasu)
- Jangan saling menggunjing (laa yaghtab-ba'dhukum ba'dho)
Semoga kita bisa selalu menyemai semangat ukhuwah ini. Teguran adalah bagian dari berukhuwah. Tetapi menegurlah dengan lembut. Sebagaimana lembutnya akhlaq seorang mukmin yang dituntut dalam Al Qur'an, 'ruhamaa'u bainahum..." mereka saling bersikap lembut di antara mereka. Agar para kader merasa nyaman dalam bangunan dakwah ini.
Allahu a'lam.
Langganan:
Komentar (Atom)