Selasa, 22 Juli 2008

Kenapa Harus yang Mahal….?

Kenapa Harus yang Mahal….?

Senin malam setelah malam sebelumnya menghabiskan malam di dalam kereta, seringkali ustadz saya meminta untuk menggantikan beliau mengisi halaqohnya. Karenanya saya mestinya harus dalam keadaan fit…

Selasa malam adalah agenda pekanan saya dengan teman-teman di Pancoran. Sering membahas agenda hingga jauh malam. Untuk inipun fisik saya harus prima agar mampu mengikutinya dengan optimal…

Rabu malam adalah agenda pekanan saya dengan mutarobbi. Saatnya berbagi dengan mereka. Saya selalu mengatakan di depan mereka bahwa bertemu mereka, melihat senyum-senyum mereka, memberikan kekuatan yang luar biasa bagi saya. Karena saya pun harus dalam kondisi fisik yang segar...

Kamis malam relatif tidak ada agenda. Biasanya saya suka membawa pekerjaan kantor untuk dilembur di kost dengan meminjam laptop kantor. Jika pun tidak sedang mood, biasanya saya gunakan untuk mengobrol dengan teman kost yang lain, sekedar saling menghibur satu sama lain, atau membicarakan agenda pertiketan beberapa pekan ke depan.

Senin sampai dengan Jumat, siang harinya sudah tentu waktu habis di kantor. Belum jika harus verifikasi lapangan untuk PBB, tentu ini cukup menguras tenaga. Karenanya kondisi fisik memang harus benar-benar dijaga...

Jumat malam adalah perjalanan di kereta kerinduan (begitu Ust. Ragil menyebutnya), meskipun bisa tertidur, tidur dalam perjalanan tetaplah melelahkan.

Sabtu sampai dengan Ahad adalah waktu untuk keluarga. Banyak agenda sabtu ahad yang cukup melelahkan. Menemani anak-anak bersepeda ria. Mengantar dan menjemput anak sekolah. Mengantar dan menjemput istri mengaji maupun mengisi liqo. Belum agenda sya’bi dadakan lainnya. Kerja bakti, arisan RT, arisan DPRa, rapat takmir masjid. Maka, fisik harus benar-benar dalam kondisi terbaik...

Sabtu malam ada halaqoh yang mesti dikunjungi. Dan malamnya disambung dengan piket ronda. Mengingat dan menimbang keterbatasan waktu dan fisik saya, saya meminta dengan ikhwah di kampung saya untuk berbagi dalam mengisi liqoat tersebut. Jika pekan ini saya mengisi halaqoh tersebut, maka pekan berikutnya dia yang giliran. Begitu seterusnya. Dan untuk ronda pun saya selang seling, jika malam itu saya mengisi halaqoh, maka saya tidak datang ronda. Sebaliknya, jika malam tersebut saya tidak mengisi halaqoh, maka saya berusaha untuk datang ronda. Melelahkan memang, karenanya fisik mesti diperhatikan...

Ahad malam, kembali kepada perjalanan kereta yang sekali lagi meski kita bisa tertidur, perjalanan tersebut tetaplah perjalanan yang melelahkan. Apalagi jika tidak bisa tidur, alamat fisik bakalan drop. Padahal rentetan kegiatan di atas, kembali telah menanti. Karenanya mestinya fisik dalam kondisi yang yang baik...

Karenanya... jika saya harus memakai jasa perjalanan yang sedikit mahal, tentu ada maksudnya. Bukan sekedar gagah-gagahan. Bukan untuk sesuatu yang mubadzir insyaAllah. Karena diri kita sendiri yang bisa mengukur kekuatan tubuh kita. Semoga Allah memberikan kemudahan dan kekuatan kepada kita semua.

Jadi, kenapa harus mahal? Karena ada sekian alasan yang bisa kita berikan untuk menjawab itu semua.

Kenapa Kepercayaan itu Harus Ditumbuhkan…? (Part 3)

Kenapa Kepercayaan itu Harus Ditumbuhkan…? (Part 3)

Pulang dari kantor senin kemaren sesampai di kost, masih tersisa pening di kepala serta hidung meler dan mampet. Sepertinya dampak dari aktifitas akhir pekan di Jogja sebelumnya ditambah perjalanan kereta pada malam harinya. Ingin sekali segera merebahkan tubuh. Saya keluarkan hp dari tas, biasanya jam-jam begini istri atau anak-anak sering miskol. Ada 2 kali miskol, ternyata dari ustadz saya. Dengan pertimbangan beliau sedang muskernas di Makasar, saya hanya sms balik “Afwan ustadz, tadi ana di perjalanan”.

Sesaat kemudian adzan Maghrib telah berkumandang. Belum sempat mandi, segera kami tunaikan sholat Maghrib berjamaah di masjid jami’ dekat kost bersama 2 teman saya, rombongan kereta dari Jogja juga. Dan seperti biasa, ba’da sholat kami langsung jalan bersama untuk makan malam. Malam kemaren kami ingin menu yang agak spesial, karena kondisi fisik agak drop, maka kami memutuskan untuk mencari sop iga. Biar segar katanya. Jadilah kami menuju sebuah tempat makan di daerah kalibata. Cukup jauh dari kost, harus berjalan kaki dulu 500-an meter kemudian naik angkot Rp. 2000,- Tidak mengapa.

Ternyata saya salah membawa hp. Hp cdma fren yang saya bawa, sementara yang gsm tertinggal di kost. Saya sudah menduga, pasti akan ada yang miskol. Sesampai di kost sehabis makan, saya perhatikan di layar hp ada 6 kali miskol. Dari ustadz saya ! Merasa tidak enak, langsung saya telepon balik. “Afwan lagi ustadz, tadi hp tertinggal di kamar kost. Ana tadi makan malam dulu.” Sebelum beliau menanyakan, langsung saya berikan penjelasan tersebut. Karena ini bukan kejadian yang pertama kali...!

“Iya, ndak papa. Ini akh, malam ini kan ada liqo di rumah saya. Tadi sih sudah saya minta untuk diskusi karena saya hubungi antum gak masuk-masuk. Antum kalau sempat tolong ditengokin ya” begitu kata beliau. “InsyaAllah ustadz, nanti ana sempatkan” jawab saya singkat.

Belum sempat saya beranjak, “Assalamu’alaikum..” salah seorang mutarobbi saya tiba-tiba nongol di depan pintu kost. “Sakit tho Pak?” tanyanya. “Ndak kok akh, cuma sedikit pusing dan pilek” Ya, saya teringat malam itu ada salah satu teman di halaqoh kami yang mengaqiqahi anaknya. Dan kami telah berjanji untuk datang ke sana. “Teman-teman ke sini juga?” tanya saya. ”Nggak pak, mereka menunggu di depan alfamart.”

Sejatinya, dalam hati tadi saya ada rencana untuk minta ijin dan mempersilakan mereka untuk hadir di aqiqahan tersebut. Tetapi melihat semangat mereka, tidak tega saya untuk memupusnya. Akhirnya saya kenakan jaket, bergegas kami menemui teman-teman yang lain untuk kemudian menuju rumah kontrakan teman kami. Tidak jauh memang, tapi kami harus bertanya 2 kali untuk sampai ke lokasi.

Sampai di tempat hajatan ternyata persis pada saat selesainya pengajian aqiqah. Namun wajah teman kami tetap berbinar begitu melihat kehadiran kami. ”Terima kasih pak ustadz. Mohon maaf lho tempatnya seperti ini” ucapnya saat menyambut kehadiran kami. Sekitar 30 menitan kemudian kami berbincang tentang berbagai hal. Dia bercerita tentang kondisi kontrakannya, tetangga-tetangganya dan tak lupa beberapa keluarga dan kerabatnya ditunjukkannya kepada kami.

Mendadak saya teringat kembali dengan amanah ustadz tadi. Saya hubungi salah seorang di halaqoh itu, sekedar memastikan bahwa mereka liqa mandiri dan diskusi memang berjalan baik. Saya menanyakan berapa orang yang hadir, diskusinya tentang apa dan acara ditutup jam berapa. Alhamdulillah, setidaknya saya bisa membuat laporan ke ustadz jika ditanyakan nanti.

Meski akhirnya kami seakan hanya ’sekedar’ hadir dan parahnya lagi terlambat acara aqiqahnya, tapi saya melihat ada kegembiraan yang lain di wajah-wajah mereka. Yang dikunjungi merasa begitu diperhatikan, yang mengunjungi ikut merasakan kegembiraan yang mungkin sulit untuk bisa diucapkan dengan kata-kata. Menjelang pukul 22.00 kami berpamitan pulang.

Pelajaran berikutnya yang bisa saya ambil adalah tentang makna perhatian. Meski hanya ’sekedar’ ikut hadir dalam ’momen-momen spesial’ mereka, itu akan membekas dalam hati mad’u kita. Pada saatnya akan melahirkan kepercayaan. Sesuatu yang amat berharga bagi dakwah ini.

Kenapa Kepercayaan itu Harus Ditumbuhkan…? (Part 2)

Kenapa Kepercayaan itu Harus Ditumbuhkan…? (Part 2)

Pagi tadi selepas sholat subuh, sengaja saya mengirim sms ke salah seorang (mantan) mutarobbi. Tidak selang beberapa lama, langsung dia telepon balik.

Dia bekerja di bagian akuntansi, sebuah perusahaan yang membuat mesin traktor di daerah Jalan Magelang. Menikah kurang lebih satu setengah tahun yang lalu. Proses menikahnya menurut saya termasuk heroik, karena ada sedikit ketidaksepakatan dalam beberapa hal teknis dengan orang tua akhwatnya. “Bro, akhwatnya minta nikah sirri dulu gimana?” lapornya saat-saat berkoordinasi dengan pihak akhwat terkait hari H pernikahan, ketika orang tua akhwat minta agar pernikahan diundur setahun lagi (jika mereka ingin orang tua mereka hadir di pernikahan itu) karena dalam tahun itu juga, kakaknya akhwat akan menikah.

Saya sarankan agar mereka mengurungkan niat untuk menikah sirri tersebut (setelah saya berkonsultasi dengan salah seorang ustadz) dan melanjutkan bernegosiasi dengan orang tuanya. Akhirnya ditemukan kata sepakat, orang tua merestui mereka segera menikah akan tetapi tidak dilaksanakan di sebuah kota di sumatera sana dan orang tua minta diwakili oleh paman akhwatnya. Beliau tidak mau hadir karena kukuh memegang tradisi adat yang beliau yakini.

“Alhamdulillah bro, berkat doanya ini istri sudah ‘isi’ kurang lebih 10 minggu.” Ucapnya tadi pagi di telepon. “Alhamdulillah, gimana keadaan istri, sehat?” tanya saya. Maka mengalirlah cerita pengalaman pertamanya menemani istri yang sedang hamil muda. Dengan setia saya dengarkan semuanya.

“Oh iya bro, pekan kemaren Bro ****** silaturahim ke rumah. Lama lho bro, ada kali 3 jam-an. Dia minta maaf setelah menikah kemaren ‘agak futur’, gak pernah datang liqo. Dia bilang kangen dengan teman-teman. Dia mengajak saya untuk bertemu dengan antum. Pekan depan pulang tidak bro?” tiba-tiba ceritanya beralih ke salah seorang teman di halaqoh kami dulu.

Ya, saya ingat. Dia adalah salah seorang dosen muda di UII. Cerdas. Kritis. Cukup idealis. Awalnya banyak bersentuhan dengan dakwah salafi. Tapi menjelang menikahi seorang kader tarbiyah, kemudian ia intens ikut tarbiyah. Menikah beberapa minggu setelah gempa hebat di Yogyakarta, dua tahun lalu. Saya masih ingat ketika datang ke walimahannya di sebuah daerah di bantul, onggokan-onggokan puing bangunan masih segar di depan mata.

Pun saat dia menempati kontrakan baru, kami langsung memakainya sebagai liqo perdananya pasca pernikahan dia. Sampai kemudian kepindahan saya ke Jakarta, sedikit demi sedikit dia mulai jarang datang liqo semenjak istrinya hamil dan melahirkan, karena ia harus bolak-balik ke rumah mertua di bantul. Setidaknya itu yang saya dengar.

”Bro ****** mau S2 ke Australia lho bro. InsyaAllah mulai bulan Pebruari nanti. Beasiswa.” Tambahnya. Alhamdulillah. Kini yang saya tunggu adalah silaturahimnya. Semoga saja ‘aset’ berharga ini bisa kembali menemukan kesejukan dalam naungan tarbiyah. Semoga saja kerinduannya akan saat-saat tarbiyah bisa kembali dirasakannya.

Tak terasa lebih dari 16 menit obrolan kami. Semburat pagi telah nampak dari sela-sela jendela kamar saya. Saatnya untuk memulai aktifitas hari ini dan menuntaskannya dengan karya-karya terbaik semampu saya.

Ashbahna ’ala fithratil islam wa kalimatil ikhlash ....

*****

Beberapa saat di kantor. Pluggghh! Bunyi nada email di outlook express ku. ” Bro aq nt tenis dl ba'da maghrib soale diajak bos kira2 nyampe jam 19.30 trus langsung ke kos antm (ane blom tau rmh ustadz )”

Maka setelah selesai satu urusan, kerjakanlah (urusan) yang lain. (Fa idza faraghta fanshab)

*****

Kenapa Kepercayaan itu Harus Ditumbuhkan…?

Kenapa Kepercayaan itu Harus Ditumbuhkan…?

Bulan April lalu, seorang mutarobbi alumni ekstensi teknik mesin UGM yang telah bekerja di PT LG Tangerang menyempatkan telepon ke saya. ”Bro, gimana kabarnya?” begitu sapanya. Saling bertanya kabar, dia kemudian memberitakan bahwa istri dan anaknya yang baru berusia 3 bulan masih dia tinggal di Brebes. Rencananya akan segera diboyong kembali ke Tangerang beberapa hari ke depan. Alhamdulillah.

Sekitar bulan Mei, saya lupa persisnya, salah seorang mutarobbi lain saya menelepon dari sebuah kota perbatasan jawa tengah – jawa timur, persisnya di pesisir pantai utara jawa. ”Ustadz, ada apa ini?” Tiba-tiba dia memulai dengan sebuah pertanyaan yang menyentak. Setelah berbicara panjang lebar, rupanya dia mendapat sebuah kabar dari seorang temannya di sebuah organisasi non kampus, tentang dirinya yang perlu ditabayunkan. Dan dia meminta saya untuk klarifikasi. Setelah saya tenangkan dan saya janjikan tidak ada apa-apa, nada bicaranya kembali tenang. ”Tolong ustadz, karena ini sangat berbahaya buat jama’ah. Saya di sini mendapat amanah yang cukup berat” Begitu pintanya.

Saya hanya tersenyum. Membayangkan mimik dia yang serius, bicaranya yang meledak-ledak, semangatnya yang luar biasa, saat-saat masih di halaqoh Jogja dulu.

Awal Juli, salah seorang mutarobbi yang kini kuliah ekstensi di UNPAD semester akhir, sms menanyakan kabar. Pagi harinya langsung saya telepon, yah sekedar memberitakan kepadanya bahwa saya masih mengingatnya. Setelah berbincang banyak hal, dia minta alamat email dan nomor hp cdma, agar bisa mengobrol lebih lama katanya. Esoknya dia mengabarkan bahwa dia telah mengirim email dan dia menelepon dengan nomor hp cdma baru (yang satu operator dengan dengan cdma saya), ”Tolong dibaca ya bro, saya banyak cerita di sana. Kalo bisa sih nanti saya pengin ketemu langsung saja.” katanya.

Karena saya diklat, saya meminta mutarobbi saya di sini mencetak email tersebut. Rupanya dia tidak main-main. Cukup banyak dia menulis di emailnya. Yang membuat saya terharu adalah pembukaan dia di emailnya, ”Salam silahturahmi selalu untuk guruku Ust. Sukeri, orang tuaku Pak Keri sekaligus sahabatku Brokeri dimanapun berada.” Saya hanya ingat bahwa dia adalah seorang yang flamboyan, funky, rambut agak panjang berombak, kadang memakai celana jeans yang disobek sana sini. ” That’s all bro, thanks very much for your education & dedication to me. God bless you…” ini kalimat penutup di emailnya.

Benar bahwa dia telah terputus tarbiyahnya. Tapi, rupanya dia merindukan suasana tarbiyah yang dulu kami nikmati bersama. Setidaknya berita ini, ketika saya bagikan ke mutarobbi di sini, cukup membuat hati-hati kami menjadi gerimis.

Seorang mutarobbi lain yang setelah hampir 5 tahun menunggu hadirnya anak, akhir juni kemaren permohonannya terkabul. Lahir anak pertamanya bayi laki-laki. Sehari setelah kelahiran putranya, saya mengajak teman-teman liqonya untuk berkunjung ke rumahnya. Sebuah rumah di tengah gang-gang kecil di bilangan manggarai sana. Orangnya sederhana, umurnya bahkan di atas saya dua tahun. Tapi intima’ nya bagi saya cukup mengesankan, meski dia baru gabung ke liqo 3 atau 4 bulan yang lalu. Saya teringat sms nya ketika minta ijin tidak datang liqo, “Ustadz, akhwat ana sedang tidak enak badan. Jadi ana tidak bisa datang liqo”. Intinya, istrinya sedang sakit sehingga dia minta ijin. Ah, saya tersenyum membaca sms tersebut.

Hari Ahad kemaren di sela-sela kerja bakti saya, dia menelepon. ”Pak Ustadz, saya mau konsultasi”. Setelah saya persilakan, dia minta pendapat saya terkait dengan rencana aqiqoh anaknya senin malam ini. Bagi saya ini hanya masalah teknis, tapi melihat keseriusan dan kesungguhan dia untuk minta pendapat saya, lagi-lagi ini membuat saya terharu. Bahwa sebenarnya, belum banyak yang bisa saya berikan kepada mereka sehingga sering kali saya malu kepada diri saya sendiri.

Membangun kepercayaan dan kedekatan dengan mad’u memang gampang-gampang susah. Masing-masing mempunyai karakter dan pembawaan yang berbeda dan harus disikapi dengan cara yang berbeda pula. Dan ini bagi saya adalah seni.

Saya bukan tipe orang yang bisa mengubah dan mempengaruhi orang dengan cara yang revolusioner. Bagi saya, perubahan yang pelan namun pasti dan membawa kesan yang mendalam dalam diri mad’u, lebih saya sukai dari pada perubahan dengan cara yang ”sedikit dipaksakan” karena ingin cepat terlihat perubahannya.

Bergerak dan berubahlah bersama mereka.

Selasa, 01 Juli 2008

Terpautnya Dua Hati

Berikut ini adalah tulisan istri saya beberapa tahun yang lalu
Kurang lebih 10 tahun yang lalu
Lebih tepatnya beberapa lama setelah kami menikah 05/04/1998

Terpautnya Dua Hati

Namaku Ummu Jundi, umurku dua puluh empat tahun lebih, suamiku Abu Jundi, aku ingin bercerita tentang pertemuanku dengan suamiku tercinta.

Pagi yang cerah, langit berselimutkan cahya mentari yang merona, mega berarak putih. Namun keindahan itu tak terhiraukan oleh lalu lalangnya manusia-manusia yang sibuk dengan urusan masing-masing. Raung kendaraan yang mengeluarkan asap hitam menambah pikuknya kata ini. Inilah Jakarta yang menjadi ladang impian bagi berjuta-juta manusia, pun aku. Keramaian Jakarta tidak membuat perasaanku turut ramai, saat ini aku justru merasa sendiri, benar-benaaar sendiri. Aku merasa butuh seseorang yang menemaniku, menemani hari-hariku, tempatku menumpahkan segala isi hatiku. Siapakah dia? Entah, aku tak berharap selain apa yang ditetapkan oleh Rabbku.

"Kolong-kolong." Suara kondektur menghentikan lamunanku. Aku turun, berjalan menuju ke kantorku, rutinitasku, tempat aku berjuang mempertahankan idealismeku (yang kadang terdengar klasik dan berlebihan) dan tempat yang sering memenjarakanku pada kesendirian.

Ramadhan pagi ini aku lebih bersemangat dibanding pagi-pagi sebelumnya. Hari ini sebelum ke kantar aku harus menemui seniorku di sebuah masjid. Beberapa hari yang lalu beliau menitipkan pesan kepada salah seorang rekanku di kantar agar aku menemuinya untuk sesuatu urusan, penting katanya. Sejak dalam perjalanan tadi pikiraan-pikiran berkecamuk di kepalaku. Mengapa beliau memintaku menemuinya, mengapa harus aku, mengapa di masjid, ada perlu pentingkah. Jangan-jangan ..... ah, aku tak berani meneruskan, berusaha kutepiskan semua pikiran-pikiran itu ketika aku mendapati masjid yang ditetapkan. Kucari beliau, ternyata tak kujumpai, terlalu pagi mungkin. Kulirik Albaku, setengah jam lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Sementara menunggu, kubuka Al-Qur'anku.

"Assalamu 'alaikum." Seseorang menyapaku.

"wa 'alaikum salam." Jawabku sambil kuulurkan tanganku.

"Sudah lama menunggu?" Tanya beliau. "Lumayan” Anggukku.

Kami mengobrol tentang bagaimana Ramadhan ini, tentang pekerjaan dan sampai akhirnya ...

"Gimana, masih tetap siap menikah?" Tanya beliau.

"InsyaAllah, mbak." Robbi, inikah jawaban atas apa yang berkecamuk di fikiranku, inilah awalnya.

"Ini, ada seorang abdullah yang sedang mencari pendamping. Saya berusaha menjodohkannya denganmu, fikirkan dan renungkan sebelum engkau membuat keputusan” Jelas beliau.

Kuterima sebuah amplop dari beliau. Kami berpisah di pelataran masjid. Aku meneruskan perjalanan ke kantor. Sepanjang perjalananku pikiranku terus tertuju ke amplop itu. Aku ingin segera mengetahui isinya. Sebelum aku mengetahuinya, aku telah bertekad bahwa siapapun dia, apakah dia dari kasta brahmana atau kasta sudra, apakah dia pemikir atau pekerja, apakah dia Yusuf atau Bilal, yang terpenting dia berislam dan memegang keislamannya.

Aku tak sabar menunggu sampai di rumah. Sesampai di kantor kubuka amplop itu. Robbi aku telah memutuskan untuk menerimanya. Ada beberapa hal yang membuatku sangat tertarik dengan abdullah, yakni latar belakang keluarganya dan saat ketika ia dilahirkan, nyaris mirip denganku. Robbi inilah awal dari persamaan-persamaan selanjutnya. Aku yakin dia belum mengatahui bahwa akulah yang dipilihkan untuknya, dia pasti belum mengetahui aku. Sementara hari bertambah hari, bertambah keyakinanku bahwa aku menerimanya, tidak ada ganjalan sedikitpun tentangnya. Setiap keyakinanku muncul, muncul pertanyaan apakah aku tidak bertepuk sebelah tangan, apakah dia juga menerimaku, menerima segala kekuranganku setidaknya untuk saat ini.

Kulalui sisa Ramadhan ini dengan lebih mendekatkan diri pada Robbku dengan kepasrahan total. Aku ingin keputusan ini bukan karena nafsuku, tetapi benar-bener karena kehendak Robbku. Ya Robbi, kalau dia baik bagi dinku, bagi keluargaku dan bagiku, maka dekatkanlah ia padaku, kalau tidak maka jauhkanlah ia dariku. Do'a itulah yang selalu kupanjatkan di akhir shalat-shalatku, bahkan dalam perjalanan-perjalananku aku berdzikir dengan itu.

Kepulanganku ke Semarang untuk lebaran tahun ini berbeda dengan kepulangan-kepulanganku sebelumnya. Kali ini ada suatu misi yang herus kusampaikan kepada orang tuaku meski pada diriku pun masih berkecamuk pertanyaan apakah dia juga menerimaku. Memiklikan dia membuatku berdiri di antara harapan dan kecemasan, sampai suatu hari ... "Assalamu 'alaikum. Mbak, afwan saya baru nelfon sekarang. Saya sudah di Semarang nih." Kubagikan kabar dengan beliau.

"Wah, kebetulan nih, dari dia sudah ada kabar."

"Oh, ya mbak." Harapku.

"Dia menerima engkau, mungkin dalam waktu dekat ini dia akan berkunjung ke rumahmu untuk mengenalkan diri ke orang tua. lnsyaAllah tiga hari setelah lebaran, bagaimana ?"

"Alhamdulillah, InsyaAllah saya menanti kunjungannya, mbak." Robbi, sudahkah aku mendekati apa yang aku harapkan selama ini? Apakah jodoh yang engkau janjikan telah begitu dekat padaku. Hanya Engkau tempat aku berharap. Menanti kedatangannya adalah antara harapan dan kecemasan yang lain. Akankah ia benar-benar menerimaku setelah bertemu denganku, melihat keluargaku, atau .... Robbi, berikanlah yang terbaik untukku.

Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ...

Takbir bergema di hari kemenangan. Kupanjatkan syukurku bahwa aku dapat melewati Ramadhan tahun ini. Robbi pertemukanlah aku dengan Ramadhan tahun depan. Aku mengevaluasi tentang hatiku selama Ramadhan ini dan satu hal yang membuatku bahagia adalah kepasrahanku. Kepasrahan tentang apakah si abdullah akan menerimaku atau memang dia bukan yang terbaik untukku. Dengan kepasrahan semua menjadi mudah bagiku. Kala harapan dan kecemasan itu muncul, aku yakin bahwa di situlah kupahami hakekat kemanusiaanku, bahwa selamanya aku butuh bersandar pada-Nya.

Lebaran membuat keluargaku menyempatkan tinggal sejenak di rumah untuk saling memaafkan sebelum kami kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Juga lebaran membuat rumah kami diramaikan oleh tamu-tamu yang silarutahim ke rumah semenjak bapak ditunjuk sebagai sesepuh di kampung. Begitu juga dengan lebaran kali ini.

"Wah, Mbak Ummu, bagaimana kabarnya di Jakarta, kapan nih ?." Canda seorang ibu kepadaku ketika bersilaturahim ke rumah kami.

"lnsyaAllah secepatnya." Jawabku sambil berdoa pada Robbku. Meski selalu itu jawabanku setiap kali pertanyaan tersebut dilontarkan padaku. Namun kali ini pertanyaan itu begitu menyentuh lubuk hatiku.

Di kali yang lain ...

"Ummu, kapan ?" Bulek mencandaiku.

"Tunggu undangannya yang lek'" Balasku, dadaku berdegup lebih kencang.

Di hari ketika aku berpapasan dengan tetangga ...

"Ummu, bagaimana kabarnya, kapan menikah, sekaohnya katanya sudah selesai, sudah bekerja kan tinggal menyenangkan hati orang tua dengan cucu." Begitu berondong seorang ibu kepadaku.

"InsyaAllah secepatnya." Jawabku penuh harap.

Jika pertanyaan-pertanyaan mereka diutarakan dulu mungkin aku tidak melankolis seperti sekarang ini, tapi kini di saat aku berharap.

Tiga hari berlalu dari lebaran, namun gaungnya masih terasa, satu dua orang tamu masih ada yang silaturahim ke rumah. Sementara pikiranku tak juga lepas dari si abdullah, terlebih hari ini, aku menunggu kedatangannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku mengharapkan kedatangan seorang laki-laki. Pagi sekali aku sudah memikirkan apa-apa yang harus kusiapkan dan apa-apa yang akan aku utarakan kepadanya. Waktu terasa berjalan sangat lambat sampai adzan Dhuhur berkumandang. Kuambil air wudhu, aku butuh menenangkan hatiku, aku butuh mengadu. Kututup shalatku dengan do'a Ya Robbi kalau dia baik bagi dinku, bagi keluargaku dan bagiku mudakanlah jalannya menuju rumahku.

Ketika aku beranjak untuk tidur untuk mengistirahatkan perasaanku, terdengar pintu kamarku diketuk bapak.

”Ummu, ada tamu mencarimu."

Robbi, .... diakah si abdullah itu ? Hatiku berdegup makin kencang.

"Assalamu 'alaikum," sapanya.

'Wa 'alaikum salam," balasku. Untuk kali yang pertama kutatap wajahnya. Robbi, dia terlihat bersahaja. Abdullah seandainya aku diijinkan aku ingin engkau meraba dadaku untuk mengetahui betapa cepat detak jantungku menatap saratmu.

Kami ngobrol ditemani bapak, kadang-kadang Ibu dan adikku turut hadir di antara kami. Ada kecanggungan di antara kami, meski sebetulnya banyak hal yang ingin kuutarakan namun aku tak berani bahkan untuk menatap wajahnya.

Lima hari setelah perjumpaan kami yang pertama, disusul dengan perjumpaan kami berikutnya. Kali ini dia datang ditemani ayahnya, beliaukah calon mertuaku. Sejak pagi kami mempersiapkan menyambut kedatangannya.

"Bu, dia akan mengajakku pergi jauh dari ibu nantinya." Pintaku pada ibu.

"Mengapa tidak, selama dia adalah suamimu," jawab ibu melegakanku.

Kira-kira tengah hari dia datang bersama ayahnya. Kunjungannya kali ini untuk membicarakan hari pernikahan kami. Semua pembicaraan berjalan lancar. Robbi, ini adalah awal yang mudah, beginilah seterusnya, pintaku. Aku dapat merasakan semburat kebahagiaan yang terpancar dari wajah orang tuaku.

Satu setengah bulan menjelang pernikahan kumanfaatkan untuk memupuk cintaku padanya. Menurutku dalam penikahan persamaan din adalah terpenting dan cinta menempati posisi yang penting, karenanya saat-saat inilah waktu yang tepat untuk memupuknya. Selama waktu itu kami terpisahkan oleh jarak sehingga komunikasi kami lakukan melalui telfon. Aku selalu sengaja mencari-cari alasan untuk bisa mendengar suaranya. Aku merasakan kedekatanku dengannya bertambah, entah dia, kecanggunganku berangsur-angsur mencair, sampai suatu saat ...

"Aak, saya merasa berdebar-debar menjelang pernikahan kita," aduku padanya.

"Sama, Aak juga merasakannya, dan perasaan itu selalu dialami oleh calon pengantin, insyaAllah semuanya akan lebih baik." Nasehatnya menenangkan.

Hari bersejarah itu tibalah kini. Aku begitu gugup, berbagai perasaan berbaur di hatiku, ada harapan, kecemasan, kebahagiaan dan kesedihan. Ada kebahagiaan yang menyusup di antara debar jantungku ketika mendengar dia mengucapkan ikrarnya, ada kesedihan tatkala aku memohon ijin kedapa bapak agar dinikahkan dengannya. Dan kini semua pertanyaan telah terjawab.

Untuk pertama kalinya tangannya meraih tanganku, mendo'akanku. Kami saling tatap, ternyata ada sejuta kerinduan. Rindu yaang sekian lama terpendam .. Satu kecupannya di keningku tak cukup untuk menawarkan kerinduan kami, ketika dia merengkuhku ke dalam pelukannya, kami ingin mencairkan kerinduan ini.

Namaku Ummu Jundi, usiaku dua puluh lima tahun. Aku bahagia bersuamikan Abu Jundi.