Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Juli 2021

Pelajaran tentang Komitmen

Suatu saat, kami mengadakan acara mabit di masjid sebuah gedung sekolah islam terpadu di daerah Kalibata. Selepas isya beliau baru sampai di tempat acara diadakan.
"Saya baru datang dari Semarang ini." Ucap beliau selepas mengucap salam. "Oh, ustadz langsung dari bandara ini tadi?" Tanya kami. "Iya, saya datang khusus untuk acara kita ini."
Benar, besoknya pagi-pagi selepas subuh beliau langsung pamit ke bandara lagi untuk kembali ke Semarang. Karena agenda dakwah beliau yang lain telah menanti di sana.

Jumat, 30 Januari 2015

Laki-laki harus Kuat Logikanya

Ketika SD kelas enam, kami diberi tugas untuk menuliskan karangan tentang cita-cita kami. Kelompok belajarku yang terdiri 4 orang, aku, Wid, Tri dan Tejo malam harinya segera menggelar rapat paripurna untuk merumuskan tugas itu. Malam itu rumahku dipakai rapat sebuah organisasi pemuda di desaku, dimana kakak perempuan pertamaku sebagai ketua di organisasi itu. Aku dan kelompok belajarku, belajar di bilik rumahku yang lain. Dengan penerangan seadanya.

Salah seorang pengurus organisasi itu, sebut saja Mas Gepeng, ikut nimbrung di rapat paripurna kami. Ia kuliah di IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) seingatku. Tanpa kami minta, maka kemudian ia diktekan untuk kami kalimat demi kalimat. Cita-citaku, itu judul karangannya. Kalimat pembukanya aku masih ingat, tidak lazim untuk seusia kami. “Sebagai seorang manusia…” Karena, biasanya anak-anak ketika membuat karangan, dimulai dengan kalimat, “Pada suatu hari…” Hee..

Jumat, 16 Januari 2015

Ikatlah Dengan Menuliskannya

“Le, aku ninggal bubur karo sayur neng kursi ya.” Dari ruang tengah, suara seorang ibu-ibu yang sangat aku kenal terdengar dari terasku pagi tadi. Pagi-pagi sekali. Aku sedang mempersiapkan ragilku untuk mandi. “Nggih, nuwun nggih, bu.” Saya coba mengejarnya dengan membuka pintu secepatnya, tapi sosoknya sudah di kejauhan. Maka aku tenteng ke dalam satu bungkusan keresek, berisi sayur satu plastik dan bubur dua bungkus. Semua masih hangat.

Ini sudah yang kedua kali pemberian di pagi buta itu dalam beberapa hari terakhir ini, dengan mengantarkannya ke teras rumahku. Pemberian secara langsung dengan mencegatku sepulang sholat subuh aku bahkan lupa menghitungnya sudah berapa kali. Kadang buah-buahan, di lain waktu lauk-pauk, dan tak jarang sekedar jajanan atau makanan kecil. Anak dan menantu beliau adalah Pembina yayasan tempat aku ikut sedikit berperan di sana dulu.

Dst.. Dst.. Dst.. (memberilah maka engkau akan mendapat lebih)

Selasa, 12 Agustus 2014

Fraud Dalam Keluarga

Temans, Bang Napi dulu sering menyampaikan dan mengingatkan kita dalam reportasenya bahwa kejahatan itu ada karena adanya niat dan kesempatan. Dalam pengetahuan saya yang dangkal ini, apa yang kita kenal dengan nama fraud (penipuan, penggelapan, kecurangan) adalah merpuakan bagian lain dari bentuk-bentuk kejahatan.

Kejahatan bisa terjadi dimana-mana, dengan berbagai bentuk dan ragamnya. Bahkan dalam keluarga, orang tua bisa menjahati anak, anak jahat kepada orang tuanya, dan tidak sedikit suami menjahati istrinya atau pun sebaliknya. Kita berbincang tentang fraud sejenak ya, agar seperti kata Bang Broery Pesolima dulu : 'Jangan sampai ada fraud di antara kita'

Selasa, 18 Desember 2012

Sakinah Mawaddah Warrahmah




“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri,
 supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,
dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berpikir.”
(QS Ar Ruum : 21)

SAKINAH

Bahwa ketika Allah menciptakan untuk kita pasangan hidup kita, maka yang pertama kali harus terwujud dalam rumah tangga kita adalah apa yang disebut dengan as-sakinah. Allah menyebut dalam ayat di atas: “Litaskunu ilaiha”, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Sakinah secara bahasa berarti tenang, bahagia, terhormat, bermartabat dan memperoleh pembelaan. Ketika seseorang laki-laki menyunting perempuan sebagai istrinya, maka faktor yang harus diukur pertama kali adalah litaskunu ilaiha nya ini muncul tidak.

Jumat, 14 Desember 2012

Tetaplah Bertahan Dalam Barisan


Saya ingin mencoba menelisik, kenapa kita ditarbiyah dengan cara dan materi yang sama, dalam rentang waktu yang misal sama juga, tapi bisa memunculkan cara pandang dan penyikapan yang cukup berbeda terhadap suatu masalah yang muncul dalam perjalanan dakwah ini. Ini analisis saya berdasar pengalaman dan pengamatan saya pribadi. Semoga bisa menambah cara pandang kita dalam menyikapi dinamika dakwah. Setidaknya ini akan selalu menjadi pengingat untuk diri saya sendiri.

Suatu saat di rentang tahun 2009-2010, halaqoh kami ada perdebatan cukup hangat antara satu a’dho dengan guru kami, Ust. Amir Faishol Fath. Masalah yang sama, terkait dengan ikhwah kita yang mendapat amanah di dewan maupun walikota. Saya dan beberapa teman lain waktu itu hanya sebatas sebagai pengamat dan mencoba untuk mengambil pelajaran dari diskusi hangat itu. Satu hal yang selalu beliau ulang-ulang waktu itu, “Akhi, hisab kita nanti adalah hisab pribadi. Tidak ada hisab atas nama partai atau golongan. Antum tidak perlu menghabiskan terlalu banyak energi antum untuk menyoroti ‘kelakuan’ atau gaya hidup ikhwah lain. Lakukan yang terbaik dan terbenar yang antum yakini untuk jama’ah ini, selesai.”

Rabu, 18 Juli 2012

Marhaban Yaa Ramadhan : Momentum Tepat Melejitkan Potensi Diri

“Barangsiapa yang bergembira atas datangnya Ramadhan, Allah telah mengharamkan jasadnya dari api neraka“. (HR. An-Nasa’i)

Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk membangun perasaan gembira dengan datangnya bulan ramadhan. Bahkan (‘hanya’ dengan) bergembiranya seorang muslim ketika menyambut bulan ramadhan, Allah hargai dengan mengharamkan jasadnya dari api neraka. Dalam hadits yang lainnya Rasulullah SAW telah berpesan : “Akan segera datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah SWT bersama kalian pada bulan itu, maka diturunkanlah rahmat, diampuni dosa-dosa dan dikabulkan do’a dan permintaan. Allah melihat kalian berlomba-lomba dalam kebaikan, lalu diikutkan bersama kalian malaikat-malaikat. Maka tunjukkanlah kepada Allah kebaikan diri kalian, sesungguhnya orang yang rugi adalah mereka yang tidak mendapatkan rahmat Allah”

Ibarat suatu turnamen, maka Ramadhan adalah pusat pelatihan untuk menghadapi pertandingan sesungguhnya. Satu bulan pelatihan di bulan ramadhan, ia menjadi bekal untuk menghadapi pergulatan kehidupan di 11 bulan berikutnya, begitu seterusnya di setiap tahunnya. Kedatangan bulan Ramadhan hendaknya membawa dampak bagi pribadi muslim. Kenapa bulan Ramadhan disebut dengan Syahrut Tarbiyah (bulan pembinaan dan pendidikan)? Karena pada bulan ini umat Islam dididik langsung oleh Allah SWT dan diajarkan oleh-Nya supaya bisa mengatur waktu dalam kehidupan secara baik; Kapan waktu makan, kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat dan kapan waktu beribadah.

Selasa, 08 November 2011

Menjaga Tradisi Kepahlawanan

Menjaga Tradisi Kepahlawanan


"Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.
dan Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian,
(Asy-Syuara : 83-84)


Keputusan telah dijatuhkan. Ibrahim harus dihukum dengan membakarnya hidup-hidup dalam api yang besar, sebesar dosa yang telah dilakukannya. Maka persiapan upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat terus dilakukan. Tanah lapang tempat pembakaran disediakan, kayu bakar dengan jumlah yang demikian banyaknya terus dikumpulkan. Tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bagian membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat, sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mereka yang telah dihancurkan oleh Ibrahim.

Setelah terkumpul kayu bakar di lapangan yang disediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksana sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan terbentuklah lautan api yang dahsyat. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Ibrahim didatangkan dan dilemparkanlah ia ke dalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu. Maka datanglah kebesaran dan kuasa Allah. "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." (QS. 21:69)

Kisah di atas hanyalah satu episode dari perjalanan panjang kehidupan Nabi Ibrahim yang mendapatkan sebutan sebagai Bapaknya Para Nabi ini. Kisah Nabi Ibrahim memang selalu sarat dengan pelajaran dan hikmah untuk digali setiap saat. Maka itulah salah satu rahasia mengapa Allah mengabadikannya nyaris secara detil episode-episode kehidupan Nabi Ibrahim di dalam Al Qur’an. Dan doa-doanya pun melegenda, melewati batas generasi dan zaman.

Momentum Sejarah

Muhammad al Fatih, sejak kecil ia telah mempelajari Al-Qur’an dan Al-Hadist Rasulullah SAW. Di antara hadist yang disampaikan secara berulang-ulang kepada beliau pada masa kecilnya adalah hadist yang berisi ramalan Rasulullah tentang penaklukan kota Konstantinopel sebagai berikut: “Konstatinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada dibawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad)

Di masa shahabat, pasukan muslim sudah sangat dekat dengan kota itu. Bahkan salah seorang shahabat yaitu Abu Ayyub Al-Anshari ra, yang menjadi anggota pasukannya dikuburkan di seberang pantainya. Tetapi tetap saja kota itu belum pernah jatuh ke tangan umat Islam sampai 800 tahun lamanya sejak era kenabian.

Abu Ayyub Al-Anshari berkata, "Aku mendengar baginda Rasulullah SAW bersabda bahwa ada seorang lelaki shalih akan dikuburkan di bawah tembok tersebut, Dan aku juga ingin mendengar derap tapak kaki kuda yang membawa sebaik-baik raja, yang mana dia akan memimpin sebaik-baik tentara seperti yang telah diisyaratkan oleh baginda".

Konstantinopel adalah sebuah kota yang sangat kuat dan hanya sosok yang kuat pula yang dapat menaklukkannya. Sepanjang sejarah, kota itu menjadi kota pusat peradaban barat dan tidak pernah ada satu pun lawan yang mampu menembus benteng pertahanannya. Benteng Bosporus terlalu tinggi temboknya, terlalu tebal dindingnya. Bahkan benteng itu dikelilingi oleh laut yang membuat musuh yang ingin menerobos selalu gagal.

Namun akhirnya benteng itu terbuka juga dan kota Konstantinopel menyerah. Pahlawan muslim yang ditakdirkan menjadi orang yang telah dikabarkan Rasulullah SAW itu adalah Sultan Muhammad Al-Fatih. Al-Fatih adalah gelar untuk beliau yang maknanya Sang Penakluk. Karena beliau adalah orang yang berhasil membebaskan jantung Eropa itu ke tangan Islam.

Memaksimalkan Peran

Nabiyullah Ibrahim dengan peran kenabiannya yang telah Allah abadikan dalam Al Qur’an, membuat sejarah mencatatnya sebagai peletak kembali pondasi ketauhidan. Muhammad al Fatih yang dengan peran kesultanannya berhasil menaklukkan kota Konstantinopel, telah mencatatkan namanya dalam jajaran para pahlawan Islam yang mengharumkan peradaban bumi ini.

Maka sesungguhnya, tabiat Islam adalah senantiasa mendorong, menumbuhkan dan memunculkan jiwa-jiwa pahlawan pada setiap insan yang secara kaffah mengamalkannya. Yang dituntut hanyalah totalitas kita dalam menjalankan peran-peran yang kita emban. Allah SWT berfirman :

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah : 105)

Dan dalam ayat yang lain Allah berfirman :

Katakanlah: "Hai kaumku, Bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, Sesungguhnya aku akan bekerja (pula), Maka kelak kamu akan mengetahui.” (QS Az-Zumar : 39)

Mengukir Prestasi, Mencatat Prasasti

Apa pun peran kita, yang ada adalah tuntutan totalitas. Pengerahan segala potensi, keterampilan, keahlian bahkan tabiat atau karakter yang kita punyai untuk mendukung peran-peran yang kita emban, InsyaAllah akan menghasilkan prestasi yang terbaik dalam kehidupan kita. Maka sebagaimana doa Nabi Ibrahim di atas, prestasi itu akan terprasastikan dan menjadi buah tutur yang baik bagi generasi berikutnya.

Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalanNya.” (QS Al isra’ : 84)

Maka dengan begitu, negeri ini akan kembali subur melahirkan jiwa-jiwa pahlawan seperti ketika dulu negeri ini melahirkan sosok-sosok besar seperti Imam Bonjol, Teuku Umar dan Pangeran Diponegoro yang menurut laporan sejarah dari orang Belanda sendiri, akibat perlawanan yang bersamaan yang mereka lakukan, 8000 serdadu Belanda tewas dan kehilangan 20 juta gulden habis oleh gerakan yang dipimpin oleh para ulama tersebut lewat satu komando.

Wallahu a’lam bish-shawab.
@Lt 19 Ged Utama, 16.15 WIB. bahan utk buletin

Rabu, 07 September 2011

Puasa, Takwa, dan Syawal

Puasa, Takwa, dan Syawal

Sudah kita ketahui bahwa ibadah puasa ramadhan untuk membentuk pribadi yang bertakwa, lalu bagaimana kah ciri pribadi yang bertakwa itu selepas bulan ramadhan bisa kita lihat? Maka mari kita lihat QS Ali Imran : 133-135 :

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”


Salah ciri satu orang yang bertakwa di atas, sbg hasil dari tarbiyah ramadan selama sebulan adalah wa afina ‘aninnaas yaitu memaafkan kesalahan orang. Maka untuk mensyiarkan karakter inilah maka terciptalah tradisi halal bi halal yang ada di negara ini. Yang pada intinya adalah untuk saling mengikhlaskan segala keselahan di antara sesama.

Halal bi hala tidak akan lengkap kalo kita tidak membahas tentang silaturahim yang kemudian identik dengan mudik. Banyak di antara kita rela untuk membayar tiket mahal, melewati perjalanan yang panjang dan bermacet ria, demi satu hal yang bernama silaturahim tadi. Maka perlu kita lihat juga, beberapa hadits nabi yang mengabarkan kepada kita tentang pentingnya silaturahim.

1. Orang yang memutus silaturahim tidak akan masuk surga

Hadis riwayat Jubair bin Muth`im ra.:
Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan. (Shahih Muslim No.4636)

2. Silaturahim akan memudahkan rejeki

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung hubungan kekeluargaan (silaturahmi). (Shahih Muslim No.4638)

3. Silaturahim akan memanjangkan umur

Selain hadits di atas (point 2), Keutamaan inipun dikuatkan dengan hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, yang berbunyi :

صِÙ„َØ©ُ الرَّØ­ِÙ…ِ تَزِÙŠْدُ الْعُÙ…ُرَ

Artinya: “Silaturahim bisa menambah umur.” [Dikeluarkan oleh Al Qadha’i dalam Musnad Asy Syihab dan dihasankan oleh Al Munawi dalam Faidhul Qadir (4/192) dan Al Albani menshahihkannya dalam Shahihul Jami' no. 3776]

Pertama. Yang dimaksud dengan tambahan (atau dipanjangkan umurnya) di sini, yaitu tambahan berkah dalam umur. Kemudahan melakukan ketaatan dan menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat baginya di akhirat, serta terjaga dari kesia-siaan.

Kedua. Berkaitan dengan ilmu yang ada pada malaikat yang terdapat di Lauh Mahfudz dan semisalnya. Umpama usia si fulan tertulis dalam Lauh Mahfuzh berumur 60 tahun. Akan tetapi jika dia menyambung silaturahim, maka akan mendapatkan tambahan 40 tahun, dan Allah telah mengetahui apa yang akan terjadi padanya (apakah ia akan menyambung silaturahim ataukah tidak). Inilah makna firman Allah Ta’ala :

ÙŠَÙ…ْØ­ُÙˆ اللهُ Ù…َايَØ´َآءُ ÙˆَÙŠُØ«ْبِتُ

Artinya: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).” (QS Ar Ra’d:39).

Sehingga seolah-olah di mata manusia, umurnya yang bertambah shg menjadi 100 tahun.

Dan yang ketiga. Yang dimaksud, bahwa namanya tetap diingat dan dipuji. Sehingga seolah-olah ia tidak pernah mati. Demikianlah yang diceritakan oleh Al Qadli, dan riwayat ini dha’if (lemah) atau bathil. Wallahu a’lam. [Shahih Muslim dengan Syarah Nawawi, bab Shilaturrahim Wa Tahrimu Qathi’atiha (16/114)]

Terakhir, sebagai hiburan marilah kita belajar tentang makna ikhlas. Bagaimana seharusnya sikap kita yang harus kita bangun dalam mengikhlaskan segala kesalahan orang lain kepada kita. Ustadz Mujab Mahalli, seorang kyai di bilangan Krapyak Yogyakarta, dalam sebuah bukunya menceritakan tentang contoh sebuah keikhlasan.

Tersebutlah seorang kyai yang mempunyai dua orang santri yang telah lulus dari pondoknya. Kebetulan keduanya bersaudara dan tinggal berdekatan. Sebut saja namanya Karyo dan Kardi. Setelah sekian bulan lamanya mereka tidak bertemu kyai mereka, ada kerinduan dalam diri mereka.

Karyo mengutarakan hal itu kepada istrinya, ”Aku kok kangen sama pak kyai ya, Bune. Bagaimana kalo kita sowan beliau?” ”Ya bagus tho Pakne, saya setuju itu.” jawab istrinya. ”Kita bawa oleh-oleh ya buat beliau, kita punya apa?” tanya Karyo. Mereka hanya seorang petani desa dengan ladang yang tidak begitu luas. ”Ya, cuma ketela di belakang rumah itu, Pakne.” kata istrinya. ”Ya sudah, tujuan kita kan silaturahmi. InsyaAllah beliau berkenan.” kata Karyo mantab.

Singkat cerita, mereka berdua akhirnya sampai di rumah kyai mereka. Kyai dan santri itu banyak berbincang sambil melepas kerinduan mereka. Ketika hari menjelang sore, Karyo dan istrinya berpamitan. ”Tunggu sebentar ya.” kata sang kyai sambil ke ruang dalam mengajak istrinya. ”Nyai, apa yang kita punyai untuk oleh-oleh si Karyo?” tanya kyai kepada istrinya. ”Cuma seekor kambing di belakang itu, kyai.” jawabnya. ”Yo wis, kita bawakan untuk si karyo ya.” kata kyai. Karyo pulang ke desanya sambil menuntun seekor kambing, pemberian sang kyai

Sampai di rumah, demi melihat Karyo menuntun seekor kambing, Kardi bertanya kepadanya, ”Lah, dari mana kamu yo? Kok pulang-pulang membawa seekor kambing?” ”Dari rumah kyai.” jawab karyo singkat. ”Memang kamu bawa oleh-oleh apa tadi?” tanya kardi penasaran. ”Cuma bawa ketela pohon saja.” kata Karyo.

Tiba-tiba pikiran Kardi berhitung matematis. Jika Karyo saja sowan kyai membawa ketela diberi seekor kambing, kalo bawa seekor kambing pasti dapatnya paling tidak seekor sapi.Begitu pikiran dalam benaknya.

Hari berikutnya, segera Kardi mengajak istrinya sowan ke sang kyai. Tidak lupa dia menuntun seekor kambing buat oleh-oleh gurunya itu. Sesampai di rumah kyai, mereka disambut gembira sang kyai. Sama seperti Karyo, mereka berbincang banyak hal sambil melepas kerinduan mereka. Ketika hari beranjak sore, Kardi berpamitan. ”Tunggu sebentar ya.” kata sang kyai. Kyai dan nyai kemudian masuk ke ruang dalam. ”Nyai, kita punya apa buat oleh-oleh si Kardi?” tanya kyai. ”Tinggal ketela yang di dapur itu, kyai. Pemberian Karyo kemaren.” jawab nyai. ”Ya sudah, bawakan buat si Kardi ya.” kata kyai. Akhirnya Kardi pulang dengan hati dongkol karena hanya memperoleh sekarung ketela. Ia tidak mendapatkan oleh-oleh seperti yang dia bayangkan sebelumnya.

Inilah gambaran sederhana dari makna ikhlash. Bahwa keikhlasan itu akan membawa kita kepada sesuatu yang lebih baik. Ketika ada sedikit saja motif yang melenceng dari hati kita, maka kita akan dapati sesuatu yang tidak sesuai dengan maksud sesungguhnya.

@lt 19 jakarta, 7/9/2011 13.25

Selasa, 02 Agustus 2011

Belajar Taqwa di Bulan Ramadan

Belajar Taqwa di Bulan Ramadan

Allah berfirman : “Yaa ayyuhalladziina aamanu kutiba ‘alaikumush-shiyaamu kamaa kutiba ‘alalladziina min qablikum la’alakum tattaquun.” Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS Al Baqarah : 183)

Nabi bersabda : “Ittaqillaha haitsu maa kunta wa’atbi’is-sayyiatal hasanata tamkhuha wa kholiqinnasi bi khuluqin hasan.” Artinya : Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya (perbuatan baik) akan menghapusnya (perbuatan buruk). Dan berperilakulah terhadap sesama manusia dengan akhlak yang baik. (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)

Tujuan dari puasa ramadan sebagaimana tersebut dalam QS Al Baqarah : 183 di atas adalah la’alakum tattaquun yaitu agar kalian bertakwa. Untuk memahami makna dari kata taqwa, ada riwayat dialog antara umar bin khatab dengan sahabat Ubay. Umar bin khatab bertanya. “Wahai Ubay, apa menurutmu taqwa itu?” Ubay menjawab dengan memberikan pertanyaan pada Umar. “Apa yang Anda akan lakukan bila dalam perjalanan Anda banyak menemukan duri yang menghalangi perjalanan.” Umar dengan bijaksana menjawab pertanyaan Ubay. “Saya akan berjalan dengan berhati-hati supaya tidak terkena duri.” Ubay menanggapi jawaban dari umar. “Itulah yang dinamakan taqwa, berhati-hati”.

Dari penggalan kisah tadi bisa kita ambil bahwa taqwa itu berhati-hati dalam melangkah supaya hidup kita selamat dan terhindar dari duri yang bisa mencelakakan kita. Karena Allah sendiri sudah berfirman bahwa sebaik-baik bekal dalam mengarungi kehidupan ini adalah takwa. Lalu, mari kita perhatikan hadits di atas, “Ittaqillaha haitsu maa kunta wa’atbi’is-sayyiatal hasanata tamkhuha wa kholiqinnasi bi khuluqin hasan.”

Ini adalah wasiat Nabi ketika beliau mengantar seorang sahabat ketika hendak berangkat ke suatu tempat. Nabi tidak membekali berupa materi secara khusus, tapi beliau memwasiatkan beberapa pesan dalam kalimat tersebut, hal-hal yang selayaknya kita lakukan dimana pun kita berada. (apalagi dalam konteks pegawai seperti depkeu yang sering mutasi dari tempat satu ke tempat lain). Agar dalam perjalanan kita dimanapun kita berada mendapatkan kebaikan, maka hal-hal yang harus kita lakukan sesuai wasiat nabi di atas adalah :

1. Ittaqillaha haitsu maa kunta. Bertakwalah dimana pun engkau berada. Maka seperti uraian di atas tadi bahwa takwa itu bermakna kehati-hatian, dengan takwa itulah Allah akan menjaga kita, menunjuki langkah-langkah kita dan menyelamatkan kita dari segala macam rintangan dan godaan.

2. wa’atbi’is-sayyiatal hasanata tamkhuha. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya (perbuatan baik) akan menghapusnya (perbuatan buruk). Manusia adalah makhluk tempat berbuat salah. Maka sebagai bentuk ikhtiar kita agar kefitrahan (kesucian) kita senantiasa terjata, maka setiap kita sadar berbuat kesalahan, maka iringilah dengan perbuatan baik agar kesalahan tadi terhapus.

3. wa kholiqinnasi bi khuluqin hasan. Dan berperilakulah terhadap sesama manusia dengan akhlak yang baik. Dalam interaksi dengan berbagai teman dan kolega, tentu akan menimbulkan gesekan. Kita akan bertemu dengan berbagai tipe manusia. Maka hal yang perlu kita lakukan adalah, bergaul dengan mereka dengan akhlak yang baik.

Itulah 3 wasiat yang nabi titipkan kepada kita, agar kita selamat dalam pergaulan sesama manusia, dimanapun kita berada. Teruslah bertakwa (berhati-hati) dimanapun kita berada, ikuti perbuatan buruk dengan perbuatan baik, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik. Insya Allah kita akan diselamatkan dunia dan akhirat. Aamiin.

Jumat, 29/07/2011 @Gedung Utama Lt 19

Jumat, 29 Juli 2011

Prasangka baik thd ketentuan Allah

Prasangka baik thd ketentuan Allah

Sebelum kita bicara jauh tentang makna prasangka baik kepada ketentuan Allah, maka mari kita simak dulu kisah rekaan berikut. Alkisah, ada seorang raja di sebuah negeri antah berantah yang memerintah sebuah kerajaan yang besar. Sang Raja mempunyai kebiasaan berburu ke hutan, bahkan hingga sampai jauh ke dalam hutan. Dalam setiap berburu, Raja selalu ditemani oleh seorang penasehat yang bijak. Seringkali mereka berdua saja ketika melakukan perburuan ke hutan tanpa pengawalan. Selebihnya selalu dikawal oleh pasukan kerajaan.

Suatu saat ketika melakukan perburuan ke hutan, Jari kelingking Sang Raja digigit oleh serangga yang beracun, mengalami pembengkakan dan membusuk sehingga diputuskan harus segera diamputasi. Penasehat Raja dengan hati-hati menyampaikan perihal tersebut. Mendengar hal tersebut Sang Raja sangat marah, sungguh ia tidak mau jari kelingkingnya diamputasi. “Ini aib!” kata Sang Raja. Penasehat raja berusaha menasehati Sang Raja dengan baik, “Paduka Raja, jari kelingking paduka harus segera diamputasi. Kalo tidak ia akan menjalar dan membahayakan jiwa paduka. Barang kali nanti akan ada hikmah dan pelajaran besar dari peristiwa ini, paduka. Mohon maaf paduka raja.”

Mendengar argumentasi tersebut Sang Raja justru makin marah, maka dipecatlah sang penasehat tersebut. Meskipun akhirnya Sang Raja tetap harus merelakan jari kelingkingnya diamputasi, tapi terhadap penjelasan penasehatnya ia tetap tidak bisa menerima sedikitpun. Maka Sang Raja kemudian mengangkat penasehat baru. Waktu terus berlalu, Sang Raja tetap menekuni hobi berburunya, ditemani penasehat barunya. Tetap seperti biasanya, terkadang dia hanya berdua saja dengan penasehatnya, terkadang dengan pengawalan pasukan kerajaan.

Suatu saat ketika sedang berburu dan hanya ditemani penasehatnya saja, saking asiknya mengejar hewan buruan, Sang Raja terpisah dari penasehatnya dan tersesat hingga masuk ke dalam hutan. Sang Raja tidak menyadari bahwa ia telah masuk ke wilayah sebuah suku yang primitif. Suku yang belum pernah tersentuh oleh kerajaan selama ini. Tanpa ia sadari, puluhan mata terus mengawasi dan mengikuti mereka. Hingga pada akhirnya Sang Raja jatuh dan terperangkap dalam sebuah jebakan yang telah disiapkan oleh suku tersebut. Maka tertawanlah Sang Raja.

Sudah menjadi kebiasaan di suku itu, bila ada orang asing yang tertawan maka diadakanlah sidang rakyat. Ketua suku meminta pendapat para warganya terkait tindakan hendak diapakan tawanan itu. Maka diputuskanlah bahwa tawanan itu akan dijadikan korban untuk sesembahan kepada para arwah leluhur mereka. Maka segera dipersiapkanlah proses upacara persembahan itu. Semua warga laki-laki dan perempuan, dewasa maupun anak-anak semua telah berkumpul di seputar tempat persembahan.

Maka Sang Raja segera dia dihadapkan di depan tempat persembahan. Ada ritual khusus sebelum acara persembahan, yaitu sang kepala suku akan melakukan pemeriksaan secara detil terhadap tubuh calon korban. Karena calon korban harus benar-benar sempurna fisiknya. Tidak boleh ada cacat. Demikain pula dengan Sang Raja, maka kepala suku mulai memeriksa satu persatu anggota tubuh Sang Raja. Sang Raja terlihat sudah pasrah dan putus asa. “Tamatlah riwayatku.” Pikirnya. Tiba-tiba dahi sang kepala suku mengernyit, “Wahai rakyatku, aku temukan ternyata orang ini jari kelingkingnya telah putus. Ia cacat, maka ia tidak layak untuk dijadikan korban. Lepaskan saja orang ini.”

Kaget sekaligus gembira, sang raja tidak mampu berkata apa-apa. Singkat cerita, Sang Raja kemudian dilepaskan kembali setelah diantarkan cukup jauh dari area suku agar dia tidak bisa mencari kembali keberadaan suku itu. Sang Raja tak henti-hentinya bersyukur dengan selamatnya dia. Dalam perjalanan itu, tiba-tiba Sang Raja teringat kembali dengan pesan dari penasehat lamanya, “Barang kali nanti akan ada hikmah dan pelajaran besar dari peristiwa ini, paduka.” Sesampai di kerajaan, rakyat bergembira dengan telah kembalinya raja mereka yang hilang hingga sebulan itu. Maka diadakanlah pesta rakyat. Dalam pesta rakyat itu, Sang Raja memutuskan untuk memanggil kembali penasehat lamanya.

Ini mungkin hanya cerita rekaan, tapi semangat dan pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas adalah :

1. Pentingnya kita untuk selalu berprasangka baik dengan ketentuan-ketentuan Allah. Firman Allah dalam sebuah ayat dalam Al Qur’an : “Boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, sedangkan engkau tidak mengetahui apa-apa.” (QS Al Baqarah : 216). Kita hanya perlu bersabar sejenak, terus berdoa dan bertawakal, maka Allah akan berikan perlajaran besar terhadap ketentuan yg telah terjadi itu.

Boleh jadi kita beranggapan bahwa sesuatu itu tidak baik untuk kita, padahal kalo kita coba renungkan sejenak, boleh jadi itu justru yang terbaik menurut Allah. Dan sebaliknya sesuatu yang sangat kita inginkan dan kita anggap terbaik bagi kita, ternyata itu justru buruk di mata Allah. Maka kita harus selalu meminta petunjuk kepada Allah Yang Maha Tahu.

2. Bersama kesulitan selalu ada kemudahan-kemudahan. Firman Allah : “Fa inna ma’al ‘usri yusro. Inna ma’al ‘usri yusro.” Artinya maka sungguh bersamaan dengan kesulitan itu akan ada kemudahan-kemudahan. Sungguh bersamaan dengan kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan. Dalam ayat ini Allah menyebutkan kata ma’a yang artinya bersama. Al ‘usri artinya kesulitan Allah sebut dalam makna tunggal sedang yusron yang artinya kemudahan-kemudahan Allah sebutkan dalam makna jamak.

Itu berarti dalam sebuah kesulitan, Allah persiapkan banyak kemudahan-kemudahan yang bisa kita gali dan temukan.

3. Dengan selalu berprasangka baik kepada Allah, maka hati menjadi tenang dan senantiasa ridho dengan ketentuan Allah.


Finished @ Lantai 19 Gedung Utama. 29/07/2011. 14.36 WIB

Kamis, 26 Mei 2011

Selamat Jalan : Ustzh Yoyoh Yusroh

Saat dalam perjalanan kereta menuju jogja, Sabtu 21/5/2011 pagi kira-kira pukul 4.30 ada sahabat yang memberitahu via BBM bahwa salah satu ustadzah kami, Yoyoh Yusroh, telah Allah panggil pagi itu setelah terjadi kecelakaan di tol palimanan cirebon. Segera setelah itu seharian hari itu di BBM maupun di milis IKADI, berbagai perkembangan dan info terkait musibah itu terus-menerus update. Saya memang tidak pernah berinteraksi langsung dengan ustadzah satu ini, tapi saya hanya ingat dulu waktu ospek kampus STAN 2007, saya sempat memoderatori suami beliau (Ust. Budi Darmawan) dalam acara itu. Atau sekedar tahu dan mengenal anak-anak beliau yang kuliah di UGM. Atau sekedar menyaksikan dan mendengar suara lantang beliau yg berorasi saat ada aksi untuk Palestina beberapa waktu lalu di silang Monas.

Berita-berita dan informasi-informasi tentang beliau cukup bagi saya untuk menyimpulkan bahwa beliau adalah salah satu dari wanita-wanita hebat yang lahir dari rahim republik ini. Kesedihan saya teramat sangat saat membaca berita-berita seputar beliau yang terus menerus bermunculan. Terakhir, ijinkan saya untuk mengkopi-pastekan sambutan Ust. Hilmi A di hadapan para pentakziyah di masjid komplek rumah dinas DPR Kalibata. Semoga banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup beliau, ustadzah Yoyoh Yusroh. "Allahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wa'fuanha."

-----------------------
Sambutan Ust. Hilmi A
-----------------------

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un tsumma Innalillahi wa inna ilaihi raji’un tsumma Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Alhamdulillah wash sholatu was salamu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi wasohbihi wa ma walah.

Wa qolallahu azza wa jalla fi kitabihil aziz, a’udzubillahi minasy syaitanir rajim, wa likulli ummatin ajal, faidza ja-a ajaluhum la yasta’khiruna saah – wa la yastaqdimun.

wa qola: kullu nafsin dza-iqatul maut, wainnama tuwaffauna ujurakum yaumal qiyamah, fa man zuhziha ‘anin naari wa udkhilal jannata fa qad faza. Wa mal hayatud dunya illa mata’ul ghurur.

wa qola: minal mukminina rijalun shodaqu ma ‘ahadullaha alaihi, fa minhum man qadla nahbahu wa minhum man yantazhir, wa ma baddalu tabdilaa.

Shodaqollahu azhim

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah swt,
Saya diminta untuk mewakili keluarga besar almarhumah ustadzah Yoyoh Yusroh dan keluarga besar ayahanda beliau, ayahanda almarhumah, KH Abdushshomad (alm) dan Hj. Siti Aminah ibunda Yoyoh, begitu juga tiga belas anak-anaknya.

Pertama-tama untuk menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada hadirin-hadirat yang telah meluangkan waktu untuk bertakziyah dan mendoakan almarhumah. Mudah-mudahan doanya insya Allah diterima oleh Allah swt.

Jika sebagai manusia ada kekhilafan, ada kesalahan, ada kelalaian mohon dimaafkan. Begitu juga jika ada hutang-piutang yang tidak diketahui keluarga mohon disampaikan kepada pihak keluarga untuk diselesaikan dan atau kemudian jika tidak sempat menghubungi keluarga mudah-mudahan bisa meridhokan, bisa meridhokan sehingga tidak menjadi beban bagi almarhumah.

Hadrin dan hadirat yang dimuliakan Allah swt,

Selain mewakili keluarga besar almarhumah saya di sini juga mewakili keluarga besar jamaah Partai Keadilan Sejahtera yang pada hari ini merasa kehilangan kader terbaiknya, kader yang merintis dari awal pertumbuhan jamaah dakwah ini, gerakan dakwah ini. Dari awal tahun 80 beliau sudah bergabung dengan aktifitas dakwah ini, bergabung dengan penuh semangat wala’ wal intima', semangat loyalitas dan komitmen. Bergabung dalam gerakan dakwah ini dengan semangat tho’at wat tadlhiyyah. Seluruh hidupnya diwakafkan, diserahkan pada dakwah ini. Seluruh perjalanan hidupnya telah bergabung dengan dakwah ini secara totalitas, diberikan untuk dakwah ini. Dalam hal ini kita merasa kehilangan.

Sesungguhnya yang merasa kehilangan bukan hanya jamaah dakwah Partai Keadilan Sejahtera, bukan hanya bangsa Indonesia, tetapi saya sendiri dari sejak pagi menerima takziyah dari segenap penjuru dunia, dari negara-negara ASEAN, dari negara-negara Timur Tengah menyampaikan takziyah ini. Karena sekali lagi yang kehilangan bukan hanya jamaah dakwah Partai Keadilan Sejahtera, bukan hanya bumi pertiwi Indonesia, tapi ikut kehilangan juga Masjidil Aqsha dengan Baitul Maqdis-nya, seluruh mujahidin-mujahidah di Palestin sudah menyampaikan takziyahnya dan merasa kehilangan.

Bukan hanya bumi Indonesia yang kehilangan amarhumah bahkan bumi di mana terletak Masjidil Aqsha-pun merasa kehilangan, bumi para mujahidin-mujahidah yang sampai hari ini sedang dikepung oleh tentara zionisme Israel turut juga merasa kehilangan. Karena beliau selain mewakili jamaah dakwah Partai Keadilan Sejahtera, sebagai anggota DPR juga mewakili bangsa Indonesia hadir di tengah-tengah pejuang mujahidin di Gaza, sehingga mereka pun ikut merasa kehilangan.

Bahkan, baru saja kita juga menerima takziyah dari kesatuan-kesatuan milliter dan kepolisian Indonesia yang sedang bertugas melaksanakan menjaga perdamaian di Sudan di Darfur pun menyampaikan takziyahnya. Semuanya ini adalah merupakan respon atas kehilangan seorang daiyah seorang mujahid/mujahidah dakwah yang telah memperlihatkan dedikasinya untuk apa yang dia yakini, apa yang dia cita-citakan dan apa yang dia perjungkan.

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah swt,

Sekilas bagaimana dakwah ini bertemu dengan beliau, pada akhir tahun – sekitar pertengahan tahun 80 beliau sebagai mahasiswi di IAIN Ciputat, waktu itu masih mahasiswi baru dan kebetulan saya sekali-kali diundang ceramah oleh mahasiswa di sana - mahasiswi di sana, ternyata beliau bukan hanya pendengar ceramah yang baik tapi langsung menginginkan adanya komitmen dengan nilai-nilai yang diceramahkan. Dan sejak saat itulah beliau tidak pernah lepas dengan dakwah ini, dengan segala pengorbanannya. Bahkan ketika rezim Orde Baru memenjarakan saya selama dua tahun beliau terus melakukan langkah-langkah dakwah dan ketika saya keluar dari penjara beliau segera menemui saya lagi dan bergabung lagi, tanpa malu dengan eks tahanan politik. Terus bergabung.

Bahkan ada titik-titik sejarah yang mungkin pada generasi sekarang sulit mengaplikasikannnya. Ketika masuk saatnya beliau harus menikah beliau datang kepada saya dan mengatakan, “Ustadz saya diminta orang tua untuk segera menikah.” Saya katakan, “Insya Allah saya doakan semoga diberikan kemudahan.” “Tapi calonnya minta dicarikan ustadz, saya ingin sesama aktifis dakwah.” “Ada pilihan?” “Tidak ada pilihan. Pilihan jamaah dan pilihan Allah itulah yang akan menjadi pilihan saya.”

Dan segeralah saya mencari-cari siapa yang sudah jadi, sudah tentu pada saat itu masih mahasiswa dan mahasiswi yang iklimnya sulit untuk siap nikah waktu itu. Dalam kesulitan mencari itu akhirnya kita menggunakan logika qum ya Hudzaifah! Lalu yang menyambut panggilan qum ya Hudzaifah, itulah suami beliau yang setia mendampingi beliau sampai sekarang yaitu akhunal fadhil Budi Darmawan. Yang ketika saya minta segera mengasih tahu orang tua beliau di Bandung, bahkan belum tahu nama lengkapnya. Ketika ditanya oleh orang tuanya, “Budi siapa nama calon istrimu?” “Yoyoh.” “Yoyoh apa?” “Belum tahu.” Tapi orang tua Budi Darmawan ini seorang sholih dan sholihah dan menemui saya dan merestui rencana pernikahan bahkan mempersiapkan segala perangkat rumah tangganya dan kemudian sayalah yang melamar beliau kepada KH. Abdushshomad almarhum, yang kemudian juga beberapa hari kemudian menyelenggarakan pernikahannya. Seluruhnya bahkan proses ini sepertinya almarhumah dan akh Budi Darmawan kayaknya belum pernah ketemu sebelum proses ini. Inilah sikap generasi pertama dari yang memegang komitmen dengan dakwah ini. Yang kisah-kisah seperti itu sangat banyak tapi yang sangat menonjol adalah kisah almarhumah ini.

Begitu juga dengan perjuangan-perjuangan, baik sebelum era reformasi dengan segala ketekunannya ekspansi dakwah hampir ke seluruh penjuru Indonesia dan sesudah era reformasi dan kita bersama komponen bangsa yang lain membangun kehidupan berbangsa dan bernegara ini menuju yang lebih baik, almarhumah dengan sangat tekun menjadi legislator dua periode di DPR, Ti Ti...tiga? Tiga periode di DPR, yang periode ketiganya ini belum selesai. Jadi beliau tiga periode ini secara terus menerus berjuang dan membuktikan dedikasi dalam kiprahnya. Bahkan ketika ditugaskan di komisi I, luar biasa perkembangan kiprahnya merambah seluruh dunia yang memerlukan kontribusi Indonesia baik dalam pembebasan Palestina, perdamaian Sudan atau di Lebanon atau di Istanbul hampir tugas-tugas internasional semua beliau laksanakan. Ini sudah barang tentu menjadi suri tauladan bagi kita semua dan beliau tidak pernah dalam melaksankan tugas ini mengeluh biaya dan menanyakan dari mana biayanya? Siapa yang mengurusnya? Tidak! Seluruhnya dimenej dikelola dengan kemampuan semangat ruhul badzlu wat tadlhiyah. Keteladanan inilah yang harus kita ikuti dan kita lanjutkan.

Sudah barang tentu beliau tadi jam 03.30 dipanggil oleh Allah swt untuk insya Allah menikmati pahala dari kerja keras, dari pengorbanan, dari perjuangan, dari jerih payah. Mudah-mudahan insya Allah kita diberi kesempatan oleh Allah swt untuk bergabung dengan beliau kalak di jannatil Firdausi a'la.

Tadi saya bacakan ayat yang menyebutkan minal mukminina rijalun shodaqu ma ‘ahadullaha alaihi, fa minhum man qadla nahbahu wa minhum man yantazhir, dan almarhumah termasuk yang man qadla nahbahu, telah menunaikan tugasnya dan menghadap kepada Allah swt, dan kita termasuk waminhum man yantazhir. Mudah-mudahan kita diberi kekuatan oleh Allah swt utk tetap meneruskan semangat seperti yang dicontohkan oleh almarhumah yaitu semangat wala baddalu tabdilla, tidak pernah mau mengubah keyakinan keimanan dan aqidahnya, tidak pernah mau merubah idealisme sikapnya dan tidak mau merubah minhaj langkah-langkah perjuangannya dan tdk mau merubah ghoyah tujuan perjuangannnya, wa ma baddalu tabdiila, itulah yang diwariskan oleh almarhumah kepada kita. Mudah-mudahan Allah swt pertama-tama menempatkan almarhumah fi maq'adi shidqin ‘inda malikin muqtadir dan mudah-mudahan juga memberikan kepada kita semangat wa ma baddalu tabdiila, istiqomah terus lurus dalam memperjuangkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan oleh Allah swt,

Kisah perjuangan beliau kalau ditulis mungkin berjilid-jilid buku. Silahkan dari saya sebagai pembuka bagi hadirin-hadirat yang mungkin kreatif memunculkan sejarah-sejarah perjuangan dari kader-kader dakwah yang telah qodho nakhbahu yang telah menunaikan tugasnya dengan sungguh benar. Mudah-mudahan insya Allah bisa diwariskan kepada generasi penerusnya terutama putra-putrinya yang insya Allah dalam kesibukannya berjuang tapi insya Allah putra-putrinya tiga belas adalah minash shilihin was sholihat. Dan ini juga membuktikan bahwa kesibukan perjuangan tidak membuat lalai mengurus rumah tangga, begitu juga kesibukan rumah tangga tidak membuat lalai untuk melaksanakan tugas-tugas perjuangan. Ini contoh mempertemukan antara tugas-tugas kerumahtanggaan dan tugas-tugas perjuangan disatupadukan dalam jiwa hidup perjuangan dan pengorbanan yang penuh telah diberikan oleh almarhumah ustadzah Yoyoh Yusroh. Insya Allah, aqulu qouli hadza, astaghfirullaha li wa lakum.
Assalamu ‘alaikum wr wb.

[Translate dari rekaman audio oleh Abu Rasyidah / www.mimbarpenyuluh.com]

Catatan:
Sambutan ini disampaikan dihadapan ratusan pelayat setelah pelaksanaan sholat jenazah atas almarhumah Yoyoh Yusroh di Masjid Komplek Rumah Dinas DPR RI – Kalibata, Sabtu 21 Mei 2011 / 17 J. Tsani 1432, sesaat sebelum diberangkatkan ke Tangerang untuk dimakamkan.
Teks kesaksian ini merupakan hasil translate dari rekaman suara, dan ada beberapa kata yang barangkali tidak sama persis karena suaranya tidak terekam jelas (sepertinya tidak lebih dari 5 kata), tetapi tidak sampai menggangu dari segi isi.
Nada suara ustadz Hilmi Aminudin berat dan beberapa kali sangat nampak kesedihan dan keharuan beliau bahkan hampir pecah tangis.
Dari kalangan jamaah juga sesekali terdengar isak tangis kesedihan dan beberapa kali terdengar takbir mendengar kisah perjuangan almarhum ustadzah Yoyoh Yusroh.

Kamis, 23 Desember 2010

Seperti Pohon yang tak lagi Berbuah : Hampa

Dakwah itu cinta. Kalimat pendek dari judul tulisan ustadz yang digelari syaikut tarbiyah ini, sungguh teramat mengesankanku. Suatu saat dalam perenunganku, pernah terbesik dalam keinginanku untuk membuat buku dengan judul singkat itu : Dakwah itu cinta. Ada banyak ekspresi cinta bisa dihubungkan dengan perjalanan bersama dakwah ini. Semua berkelibat penuh dalam kepala ini, tapi sampai sekarang tak pernah tuntas untuk dituangkan ke dalam tulisan. Semua seakan cukup menjadi hiasan indah dalam kepala ini. Tak mengapa.

Dakwah itu cinta. Melalui dakwah inilah aku dikenalkan kepada cinta yang sesungguhnya. Selalu ada banyak warna dalam perjalanan cinta seseorang. Dulu, murabbi pertamaku telah menuntunku dengan penuh cinta, di saat bahkan aku membaca Al Qur’an saja masih sangat terbata-bata. Darinya aku mulai merasa mesra dan dekat dengan Al Qur’an. Mengejanya dan mentadaburinya ayat demi ayat, meski tertatih-tatih, sungguh itu sangat menentramkanku. Aku masih ingat jika giliran tilawah sampai di depanku, aku akan selalu merasa panas dingin. Tapi dia tak pernah mencela bacaanku.

Dakwah ini juga telah menuntun dan mengarahkan orientasi cintaku. Dengan penuh kerelaan. Bukan perkara mudah, ketika kita harus berani memutus sesuatu yang telah lama terjalin di hati kita, kemudian mengarahkan kepada sesuatu yang lebih bersih dan diridhoi. Maka jangan heran ketika kemudian muncul nasyid dengan judul “Langgam kenangan muda” nya Suara Persaudaraan. Secara kebetuan nasyid itu muncul pada masa-masa pengenalan orientasi cintaku. Sampai kini bahkan nasyid itu masih membekas dalam ingatanku. Ah, cinta itu kadang memang aneh bagiku.

Dakwah ini telah mempertemukanku dengan orang-orang yang lembut dan penuh cinta. Tak pernah ada batasan usia di antara kita untuk saling mengekspresikan cinta. Tak pernah ada dinding status yang membentengi di antara kita untuk saling mengungkapkan rindu. Kelembutan dan cinta itu seakan lekat. Senyum dan sapa mereka selalu khas. Dari sinilah pula aku berlatih tentang ukhuwah dan makna berlapang dada. Semua itu membuatku makin nyaman dengan dakwah ini. Selalu ada kerinduan yang membuncah, ketika lama tidak berinteraksi dengan aktifitas-aktifitas di dalamnya.

Dakwah itu cinta. Dakwah itu mengajak dengan cinta, bukan dengan kebencian dan caci maki. Selalu ada cinta untuk disemai. Seorang dai, ketika melihat kemungkaran, maka energi cintanya akan menuntun untuknya agar sebisa mungkin mencegah kemungkaran tersebut. Apatah lagi untuk mengajak dan memulai kebaikan, ajakan dengan penuh cinta lah yang akan mudah untuk mendapatkan sambutan. Karena ajakan dengan cinta itu adalah ajakan akan ketulusan. Dan ketulusan itu berawal dari hati. Maka ajakan dengan hati, tentulah akan direspon dengan sambutan dari hati juga.

(bersambung - masih dengan dakwah itu cinta)

Jumat, 07 Mei 2010

Pelajaran dari Seorang Hathib

Suasana di Madinah mendadak mencekam. Kesiagaan terlihat di beberapa sahabat senior. Penjagaan di perbatasan mulai lebih diperketat. Hari itu, syura yang dibimbing oleh wahyu telah memutuskan untuk penaklukan kota Mekkah, segera. Persiapan demi persiapan terus dilakukan. Ini operasi militer terbesar yang akan dilakukan Rasulullah dan para sahabat. Tujuannya satu, membuka kota Mekah al Mukaromah.

Di sebuah sudut kota madinah, seseorang terlihat begitu gundah. Ia adalah Hathib bin Abu Baltha’ah, seorang sahabat senior yang juga ahli badar. Pikirannya terus tertuju kepada sanak saudaranya yang berada di Mekkah. Kekawatiran akan keselamatan mereka membuatnya tidak bisa memejamkan mata barang sejenak. Hatinya bergejolak. Tapi dia juga sadar, operasi militer ini adalah atas perintah Allah melalui nabinya.

Dalam kebuntuannya, dia nekad meminta bantuan seorang wanita bernama Sarrah untuk mengabarkan kepada sanak saudaranya melalui suratnya, tentang rencana Rasulullah memasuki kota Mekkah dengan pasukan yang berjumlah sangat besar. Agar mereka segera bisa menyingkir dari kota Mekkah demi keselamatan mereka, seandainya nanti terjadi pertumpahan darah yang hebat. Maka bergegaslah wanita ini menuju kota Mekkah.

Semua seakan berjalan seperti apa adanya. Kesibukan terjadi di sana sini. Hingga Rasulullah mendapatkan wahyu, agar mengirimkan utusan untuk menghadang dan menangkap seorang wanita dengan ciri-ciri yang spesifik yang akan lewat di sebuah pohon di sebuah lembah bernama Khah. Serta diperintahkanlah untuk merebut surat rahasia yang dia bawa. Maka diutuslah Ali bin Abu Thalib, Zubbair al Awwam dan Abu Murtsid ke lembah itu.

Benarlah semua informasi wahyu yang disampaikan Rasulullah. Tak berapa lama mereka tiba di lembah itu, lewatlah seorang wanita dengan ciri-ciri persis yang digambarkan Rasulullah, persis di bawah pohon tempat mereka menunggu. Setelah melalui proses interogasi, maka didapatlah surat rahasia itu dan sekaligus nama pengirimnya, yaitu Hathib bin Abu Baltha’ah. Bergegas Ali, Zubbair dan Abu Murtsid kembali ke Madinah menemui Rasulullah.

Mendengar laporan itu, Rasulullah segera meminta agar Hathib bin Abu Baltha’ah untuk dihadapkan kepada Beliau. Setibanya Hathib, Rasulullah dengan lembut menanyakan perihal surat rahasia itu. Hathib terperanjat sejenak. Dia tidak pernah mengira apa yang dia lakukan akan diketahui oleh Rasulullah. Maka Hathib memberikan alasan yang bisa diterima Rasulullah. “Wahai Rasulullah, aku hanya ingin memanfaatkan bantuan Quraisy yang dengannya Allah melindungi keluargaku dan harta bendaku.”

Mendengar pengakuan itu, Umar marah. “Wahai Rasulullah, biar aku penggal lehernya.”

Rasulullah hanya tersenyum, “Tidak umar, tidak engkau tahu bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa ahlul badar?”

Ini adalah kisah yang terekam dalam asbabun nuzul awal Surat Al Mumtahanah. Ini adalah cerita perpaduan antara kekuatan langit dan ikhtiar manusia. Ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas. Mari sejenak kita menepi di sini, semoga yang sedikit ini bisa membawa manfaat bagi dakwah ini :

Pelajaran tentang Amniyah

Bahwa tentu ada keputusan-keputusan besar dan strategis dari qiyadah yang masuk dalam kategori amniyah. Tidak boleh sembarang orang mengkonsumsinya. Sebagai bagian dari kalangan yang mendapat informasi itu, tentu sikap yang harus dilakukan adalah tetap menjaga keamniyahan ini. Karena kebocoran atas informasi amniyah itu, akan membawa dampak yang besar dalam proses keberhasilannya.

Lalu bagaimana kalo kita berada pada pihak yang tidak atau belum layak mendapat informasi tersebut? Maka sikap yang perlu kita bangun adalah ketsiqohan. Tapi tsiqah bukankah perlu ilmu? Ya. Tentu selalu ada tanda tanya besar dalam benak kita terkait kebijakan tertentu, maka sikap yang bisa lakukan adalah bertabayun sesuai posisi kita. Penjelasan yang kita dapat dari posisi kita itulah modal kita untuk selalu berada pada posisi tsiqoh.

Pelajaran tentang (perlunya) backup Allah menjadi keberhasilan

Kita bisa melihat kentalnya kekuatan langit berperan dalam menjaga keberhasilan operasi militer Rasulullah ini. Tanpa itu, boleh jadi informasi itu akan bocor sampai ke kota Mekkah dan berantakanllah rencana yang dibangun dengan rapi itu. Apa pun, backup langsung dari Allah sangat kita perlukan. Karenanya menjadi keniscayaan bagi kita untuk selalu menjaga hubungan vertikal kita dengan kekuatan langit, agar aktifitas-aktifitas dakwah kita memberikan daya dobrak yang lebih kuat.

Pelajaran tentang ketaatan kepada qiyadah dan hasil syura

Arti auliya bukan sekedar penolong, dalam bahasa arab ini bisa mengandung arti pemimpin, pemuka, sahabat karib dan orang yang melindungi. Fithrah manusia mencintai kaum kerabatnya..Sayyid Qutb mengatakan inilah sumber kesalahan yang dilakukan oleh seorang Hathib. Meski dia seorang Ahli Badar sekalipun yang kita tahu seperti apa tingkat keimanannya. Dan kesalahan itu bukan bermaksud untuk pembangkangan, tapi karena atas dasar fithrah mahabbah insani. “Aku hanya ingin mendapatkan bantuan Quraisy yang dengannya Allah melindungi keluargaku dan harta bendaku.” Begitu pembelaannya. Kejujuran dan keimanan jelas menghunjam dalam hatinya dari pengakuannya ini.

Tindakannya hampir-hampir saja memporak-porandakan rencana besar itu. Padahal tujuan dia bukan untuk itu. Hanya agar sanak keluarganya tidak menjadi korban. Tapi di sinilah ujian ketaatan itu. Kecintaan kepada Allah, Rasulullah dan jihad di jalan dakwah ini semestinya menempati porsi utama dalam hati kita. Keputusan qiyadah melalui mekanisme syura, itu adalah keputusan tertinggi yang harus menjadi acuan gerak langkah kita dalam dakwah ini selanjutnya.

Pelajaran tentang cara penyelesian terhadap sebuah ‘pembangkangan’

Keindahan dan akhlak Rasulullah tergambar dari bagaimana Rasulullah tidak buru-buru menghukum Hathib walaupun kesalahannya telah begitu jelas. Bahkan beliau memulai dengan bertanya terlebih dulu dengan kasih sayang dan dada yang lapang. Ini harus dicontoh oleh kita sebagai para murobbi, hendaklah kita bertanya terlebih dulu sebelum melakukan konklusi terhadap kesalahan mutarobbbi. Dada yang lapang dan fikiran yang tajam harus selalu kita kedepankan dalam proses ini.

Pelajaran tentang sikap ihtiram terhadap senioritas

Operasi militer Rasulullah ini hanya ada di ring satu. Perintah langsung dari Allah, dan tak boleh ada kebocoran. Maka usaha pembocoran adalah kesalahan besar dan fatal. Boleh jadi kesalahan Hathib ini termasuk pelanggaran kelas berat. Karena akibatnya bisa sangat luar biasa, operasi ini akan gagal !

Tapi Rasulullah bukan pribadi yang tidak bisa menimbang jasa dan pengabdian yang telah diberikan Hathib kepada Islam. Bahkan Allah telah mengampuni dosa para ahli badar, sampai-sampai Rasulullah mengatakan, “I’malu maa syi’tum..” Perbuatlah sesukamu. Karena kalian telah Allah ampuni kalian. Dan tentu para sahabat ahli badar bukan tipe yang dengan jaminan itu kemudian mereka berbuat sesukanya. Tapi justru dengan jaminan itu mereka makin bersyukur dengan semakin memperbanyak amal bagi dakwah islam ini.

Dalam perjalanan dakwah ini, tentu ada orang-orang yang telah lebih dulu bergabung dengan dakwah ini. Mereka bahkan hidup dan beraktifitas di saat-saat dakwah ini belum berkembang dengan pesat seperti sekarang ini. Bahkan di saat-saat tekanan dan keterbatasan terjadi di sana-sini. Mereka juga manusia, bukan malaikat. Mereka pasti sesekali tergelincir dalam sebuah kesalahan. Tapi itu tidak seharusnya hal ini kemudian menjadikan ihtiram kita kepada mereka menjadi hilang.

Sikap hormat harus selalu kita kedepankan, tanpa kemudian menafikan proses hukum atas kesalahan-kesalahan mereka. Bisa jadi kesalahan itu berupa kesalahan yang sifatnya organisatoris. Biarkan prosesnya dijalankan oleh lembaga yang berwenang mengadilinya. Dan boleh jadi kesalahan itu berupa kesalahan seorang hamba kepada Rabbnya, menurut kita. Maka biarlah Allah yang mengadili. Tidak ada hisab yang sifatnya kolektif di akherat sana. Semua akan dimintai pertanggungjawaban secara personal. Dan tak akan ada yang terlewat. Tugas kita hanyalah beramal dan teruslah beramal untuk dakwah ini. Sampai Allah berkenan memanggil kita suatu saat nanti.

Allahu a’lam bish-shawab.

(Gedung utama KPDJP, hari terakhir di lantai 26. 07/05/2010. 11.01)

Kamis, 04 Maret 2010

Mengapa Tidak Secerdik Siput

Suatu ketika ada seekor siput yang mencoba naik ke atas pohon. Niatnya mau mengambil buah atau sekadar melihat keindahan bunga. Sepintas tentu kita berpikir tidak ada yang aneh dengan perilaku siput ini.

Namun, masalahnya kali ini siput itu naik menuju puncak saat pohon itu belum berbuah dan belum berbunga karena saat itu sedang musim gugur. Maka sangatlah wajar kalau siput ini mendapat cemoohan dari binatang-binatang lain yang ada di sekitarnya.

"Mau apa kamu hari gini naik ke atas pohon? Apa kamu sudah hilang akal?" Celetukan kelinci tersebut memang beralasan karena pada musim gugur, seluruh pohon dalam keadaan gundul. Jangankan buah atau bunga, daun-daunnya pun berguguran. Yang tertinggal hanyalah dahan-dahan pohon yang meranggas.

“Aku tahu, hari ini pohon belum menghasilkan buah atau bunga setangkai pun. Namun, aku yakin ketika aku sampai di atas, pohon sudah menghasilkan banyak buah dan bunga," jawab siput dengan tenangnya. Kemudian siput itu kembali merayap meneruskan perjalanan panjangnya menuju puncak pohon.

Ibrah yang bisa diambil

Mungkin bagi sebagian orang, cerita ini hanya rekaan saja. Tidak ada nilainya apa-apa. Tapi kawan, mari kita sejenak merenungkannya dan mari kita coba gali, hikmah seperti apa yang bisa saja terkandung dari cerita rekaan di atas.

Siput, kita tahu adalah binatang yang bergerak lambat. Apalagi bagi kita yang terbiasa berkendaraan di atas 60 KM/jam, maka itu menjadi sangat lambat sekali tentunya. Untuk jarak 10 M saja dia mungkin butuh waktu lebih dari 10 menit. Hampir pasti setiap kita mendengar kata siput, maka yang ada di benak kita pertama kali adalah bahwa ia binatang yang lamban.

Kawan, orang terkadang tidak sabar ketika berhadapan dengan orang yang lambat. Seperti siput itu, meski dicekik sekalipun, tidak tidak akan mungkin bisa bergerak secepat kucing apalagi panther. Tapi siput dalam kisah di atas menunjukkan kecerdikannya dan kesungguhannya.

Dia tahu dan sadar betul apa kelebihan dan kekurangannya. Dia juga mengetahui bagaimana cara menutupi kekurangannya. Ketika dia paham bahwa ia "dikarunia" gerak yang lambat, maka itu berarti dia harus "mencuri start" dalam bertindak. Tidak mungkin dia bisa bersaing dengan binatang-binatang lain dalam hal kecepatan gerak, jika dia memulai bersama mereka.

Kesadaran dan penerimaan diri

Pertama, ini adalah kisah tentang kesadaran dan penerimaan diri. Setiap orang punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Maka yang diperlukan pertama kali adalah kesadaran akan dirinya tersebut sekaligus penerimaan. Jangan pernah kita merasa rendah dengan kemampuan tertentu yang tidak kita punyai, karena kita masih bisa menggali kemampuan yang lain yang ada dalam diri kita.

Boleh jadi kita tidak pandai merangkai kata dalam berpidato atau berceramah, tapi tidak mustahil kita justru mempunyai kemampuan lebih dalam hal menulis. Boleh jadi kita lemah dalam sisi matematis tapi sangat mungkin kita bisa menemukan kehalusan sentuhan kita dalam hal seni. Intinya adalah, jangan pernah kita merasa lelah untuk menggali potensi diri kita.

Kesabaran dan kecerdikan

Yang kedua, ini juga cerita tentang kesabaran dan kecerdikan membaca peluang. Siput memiliki kesabaran dalam menerima kondisinya. Di sisi lain dia bisa mengakali keadaanya dengan kecerdikannya. Dia telah berhitung bahwa dengan dia mencuri start terlebih dahulu di saat binatang lain bahkan belum sempat memikirkannya, maka dia bisa sampai di puncak pohon di saat pohon sudah berbuah dan musim telah berganti menjadi semi.

Begitulah, dengan kesabaran dalam menerima kondisi yang dimiliki dan kecerdasan yang dimiliki itulah, seseorang akan bisa menuju puncak di saat yang tepat. Kelebihan dan kelemahan manusia tidak akan pernah sama. Selalu berbeda-beda. Maka usaha yang ditempuh untuk mencapai puncak kehidupan pun bisa berbeda-beda.

Peluang dan kemampuan

Kata kuncinya ada pada kata "PELUANG" dan "KEMAMPUAN". Sejauh mana seseorang bisa mempertemukan sekaligus memadukan antara peluang yang ada di hadapannya dengan kemampuan yang dipunyainya, maka yakinlah ia akan bisa mencapai puncak kehidupannya dengan selamat.

Dalam kaitannya dengan dunia dakwah, korelasi dengan bahasan di atas maka kita bisa memulainya dengan menggali semangat dari Qur’an Surat Al Anfal ayat ke-60 :

  •         •  •                     

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

Di sini secara terang dan jelas Allah telah memerintahkan kita untuk senantiasa mempersiapkan kekuatan apa saja yang kita sanggupi dan kita punyai, untuk menggetarkan musuh-musuh Allah. Yang Allah sebut adalah “Maa istatho’tum min quwwah”, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Dengan kata lain, potensi dan kemampuan apapun yang kamu punyai, maka persiapkanlah untuk dakwah ini. Untuk menggetarkan musuh-musuh dakwah ini.

Oleh karena itu, semestinya bagi seorang ikhwah tidak ada lagi istilah bahwa ia tidak mampu untuk memulai dakwah ‘hanya’ karena ia merasa tidak mempunyai kemampuan untuk itu. Bahwa ia merasa mempunyai banyak keterbatasan-keterbatasan di sana. Mari mengingat kembali kisah siput di atas, kelemahan dan keterbatasan yang ia punyai mampu ia tuntaskan dengan kecerdikannya membaca peluang, bukan?

Nahnu du’at qabla kulli syai’in

Nahnu du’at qabla kulli syai’in. Kita adalah da’i sebelum segala status yang melekat dalam diri kita. Status da’i kita, melekat dalam diri kita sebelum status-status yang lain kita sematkan dalam diri kita. Maka sebagai seorang PNS, kita adalah da’i yang PNS. Potensi apa pun yang kita punyai, kesanggupan apa pun yang kita miliki, maka sudah semestinya kita gunakan dan kita arahkan untuk menopang dakwah ini.

Ketika kita bernafas, maka mari kita bernafas bersama dakwah ini. Saat kita berjalan, mari kita tetap berjalan bersama dakwah ini. Saat kita berlari, maka teruslah berlari bersama dakwah ini. Sampai saatnya kita harus berhenti pun, maka berhentilah dalam rangka membela dakwah ini.

Allahu a’lam bish-shawab.

Finished @ pancoran : 03/03/2010:21.50. Great thank for Fita

Selasa, 01 Desember 2009

Ukhuwah yang Serasa Hilang

Sekilas, aku melihat cairan bening menggenang di sudut mata beliau. Dengan sedikit tercekat beliau berkata, “Akhi, saya akan bicara jujur kepada kalian. Tidak akan saya tutupi.” Kami mengira apa yang akan beliau katakan adalah bagian taushiyah untuk kami. Ya, kami malam itu sedang melakukan program silaturahim tokoh. Kami silaturahim ke salah seorang guru kami di sana. Program ini bahkan telah kami rancang sejak dua pekan sebelumnya.

Beliau melanjutkan, “Tadi siang adalah hari yang unik. Dan saya yakin ini atas skenario Allah juga, antum malam ini datang ke rumah kami. Padahal siang tadi saya dan istri merencanakan bepergian. Saya bilang ke umminya, ‘Mi, ayo kita pergi. Kemana enaknya menurutmu?’ Istri saya menjawab, ‘Silaturahim’. Saya tanya lagi, jawabnya tetap sama, ‘Silaturahim. Pokoknya silaturahim.’”

Kami belum bisa menebak ke arah mana beliau akan bercerita. Karena sebelumnya kami membahas tentang makanan ahli surga. Tentang kehidupan para ahli surga. Beliau tadi menjelaskan tafsir lain beliau tentang sifat dan makanan ahli surga. Tentang penafsiran mengapa ahli surga nanti bisa melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri. Ah, sesuatu yang baru, yang sangat mencerahkan pemahaman kami tentunya.

“Padahal awalnya maksud saya hendak mengajak istri makan di luar.” Beliau menghela nafas sejenak. “Mendengar jawaban istri saya itu, lalu saya katakan, ‘Mi, kita tak punya saudara lagi di kota ini. Ikhwah ini, dia bukan saudara kita lagi. Ikhwah itu, ah dia juga bukan saudara kita lagi. Atau ikhwah yang di sana, rasanya dia bukan saudara kita juga. Rasanya, tak ada ikhwah lagi yang mau menjadi saudara kita di kota ini.’ Suara beliau sedikit bergetar. Kami pun tak kalah bergetar. Kami semua tersentak mendengar penuturan ustadz tadi.

Masih dengan nada sedikit parau beliau berkata, “Maka istri saya kemudian menangis. Saya pun menangis. Begitulah, siang tadi akhirnya kami menangis berdua. Rupanya Allah hendak menjawab galau kami dengan kedatangan antum semua. Allah ingin menunjukkan bahwa masih ada saudara kami di kota ini. Jazakumullah atas kehadiran antum semua malam ini.” Suasana hening dan haru tiba-tiba menyeruak di dada-dada kami. Kami semua tertunduk, terpekur, merenungkan sebuah kata yang bagi kami kini serasa di awang-awang. Kata itu adalah ukhuwah.

Kawan, ini memang hanya cerita kecil tentang sebuah episode di desa agak terpencil, di daerah dekat kaki gunung merapi sana. Episode sepi. Di tempat yang sungguh-sungguh sepi. Tentang seorang yang merasa kesepian di saat dakwah ini justru tengah memasuki hingar bingar keramaian. Sebuah paradoks yang menyentuh hati kami. Dalam perjalanan pulang dari rumah beliau, kami berenam saling introspeksi. Dua dari tiga nama yang beliau sebutkan, ada di antara kami.

Muara kami bertemu pada satu kata tadi, ukhuwah. Entahlah, barangkali salah satu wasilah menjaga ukhuwah yang asasi yang sering kita tinggalkan itu adalah bernama silaturahim. Lidah kita fasih mengucapkannya. Tangan kita lancar menuliskan keutamaan-keutamaannya. Tapi seringkali langkah kita tertahan oleh kesibukan, kepenatan, kesempitan waktu atau pun dalih-dalih yang lain.

Siapa yang pernah menyangka, seorang ustadz seperti beliau sampai pada kesimpulan seperti itu : tak ada lagi saudara kami di kota ini! Kesibukan beliau memang praktis agak menurun sejak tidak menjadi aleg. Pesantren yang dulu beliau kelola sebelumnya dan cukup dikenal di daerahnya kini tidak berkembang. Kini fisik beliau pun diuji dengan penyakit gula dan jantung. Aduhai, pertemuan-pertemuan kami selama ini memang hanya saat-saat formal saja, di tempat-tempat kajian, di jalan, di kantor dakwah, atau di tempat dan even yang senada. Dan kawan, itu tidak cukup. Untuk memaknai sebuah ukhuwah, semua itu tidak cukup!

Karenanya, salah satu syiar yaumiyan yang ada dalam panduan aktifitas harian kita ada yang namanya aktifitas silaturahim. Benar-benar silaturahim. Benar-benar kunjungan atas nama silaturahim. Bukan karena ada kewajiban kita mengembalikan buku yang pernah kita pinjam misal. Bukan pula karena keterpaksaan kita karena hendak meminta suatu pertolongan. Atau kepentingan-kepentingan yang lain. Karena dengan berkunjung, dengan silaturahim, kita bisa menguak hal-hal yang seringkali tidak tersampaikan dalam saat-saat formal tadi.

Banyak keutamaan dari silaturahim ini. Diriwayatkan dari Anas r.a, bahwa Rasulullah Saw, bersabda: “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah ia menyambung silaturrahim.” (H.R. Muttafaqun alaihi)

Ternyata, silaturrahim membawa keberkahan dalam rezeki dan umur seseorang yang suka menyambungnya. Ibnu Umar r.a berkata: “Barang siapa yang bertaqwa kepada Tuhannya dan menyambung silaturrahim, akan dipanjangkan umurnya, diperluas rezekinya, dan dicintai oleh keluarganya.” (H.R. Bukhari)

Orang yang suka menyambung silaturrahim akan mendapatkan keberkahan dalam rezeki dan bertambah umurnya. Rahmat Allah akan senantiasa tercurah kepadanya di dunia dan di akhirat. Ia akan dicintai oleh manusia dan dihormati. Sebaliknya, orang yang suka memutuskan tali silaturrahim akan mendapatkan kesengsaraan, bencana, dan kebencian dari Allah dan manusia. Di akhirat nanti, ia akan dijauhkan dari surga.

Cukuplah bagi orang yang memutuskan tali silaturrahim merasakan kesengsaraan dan bencana apabila mendengar sabda Rasulullah Saw: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturrahim.” (H.R. Muttafaqun alaihi).

Semoga kita dimudahkan untuk memperbanyak silaturahim, sehingga cerita-cerita haru seperti episode di awal tulisan ini tak banyak terjadi di sekitar kita. Di komunitas yang sangat-sangat menjaga makna ukhuwah ini.

Finished at menara jamsostek, 24/11/2009 14:40

Rabu, 11 November 2009

Tiba-tiba Muncul Rindu Itu…

Tangan ini tiba-tiba bergerak ingin mengetikkan kata, ‘Yuswar Hidayatullah’ di search engine google. Tiba-tiba saja. Entah mengapa pagi ini muncul kerinduan akan wajah orang-orang yang telah lama tidak berjumpa. Meski hanya sekedar tulisan atau berita tentang mereka, cukup melegakanku. Apalagi kemudian ditemani dengan alunan nasyid Rabithahnya Izzatul Islam. Ah.. Rasanya aku juga jadi rindu dengan sang penggubah lagu dalam nasyid ini.

Benar-benar ukhuwah ini telah membuatku makin kecanduan terhadap dakwah ini. Di sini aku hampir selalu bertemu dengan orang-orang hebat yang tawadhu’. Orang-orang cerdas yang tidak angkuh. Semuanya terasa setara. Yang ada adalah suasana saling memberi dan menerima. Maka, dalam forum mana lagikah kita bisa menemukan seorang anggota DPR, wakil gubernur, bupati atau seorang ustadz kondang duduk bersama dalam satu lingkaran dengan orang-orang yang barangkali biasa-biasa saja? Selain dalam halaqoh-halaqoh dakwah ini? Rutin, pekanan, dan dalam suasana kekeluargaan. Tak perlu protokoler.

Aku jadi ingat figur seorang ustadz di sebuah pesantren di Ogan Komering Ilir Palembang dulu, Ust. Sholihin Hasibuan. Semoga Allah senantiasa merahmatinya. Letak pesantren ini jauh di luar kota Palembang. Kira-kira hampir 2 jam waktu tempuhnya dengan perjalanan yang lancar di bumi sumatera. Suatu saat, berdua dengan seorang ikhwah kami kemalaman ketika sampai di pesantren tersebut. Ada acara di pagi harinya, dan kami memutuskan untuk mabit saja di sana. Bingung. Akhirnya kami memutuskan menuju rumah ustadz ini.

Inilah ukhuwah yang tidak memandang umur. Tidak memandang kasta ilmu. Tidak memandang suku. Tidak memandang terminologi penduduk asli atau pendatang. Beliau menyambut kami dengan ceria. Dipeluknya kami satu per satu. Sempat berbasa-basi dengan kami sebentar di ruang tamu rumah beliau, kemudian beliau pamit ke belakang. Dari samping rumah kelihatan beliau menyusup di kegelapan malam. Beberapa saat kemudian telah datang dengan membawa sesuatu di tangannya.

Rupanya beliau menyempatkan keluar rumah untuk membeli santapan malam buat kami. Setelah itu pun, beliau mengantarkan kami ke ruang inap di dekat masjid. Lengkap dengan peralatan mabitnya. Semua dilakukannya dengan riang, seolah menyambut kami seperti saudara yang lama tak bersua. Kami menjadi merasa kikuk. Tapi itulah hebatnya ukhuwah yang ikatannya tak lain karena ikatan iman semata. Semua berjalan apa adanya.

Ya, forum sederhana itu memang jauh dari forum-forum lain yang mempunyai nilai prestise. Forum kecil itu memang tidak glamour. Tak perlu pamflet atau iklan untuk mengadakannya. Ikatannya hanya iman dan ukhuwah. Tak ada hura-hura di sana. Semua tampil tawadhu. Forum- inilah yang selalu aku rindukan setiap saat. Seorang ustadz di Jogja bahkan mempersiapkan pertemuan itu dengan persiapan fisik secara matang sejak dari siang harinya. Tak kan dibiarkannya fisiknya terkuras oleh kegiatan yang tidak perlu di siang harinya, agar malamnya dia bisa datang dengan fisik yang segar. Ah, aku jadi malu.

Ya, dari forum sederhana inilah lahir pribadi-pribadi yang cemerlang. Seolah di negeri dongeng. Dari forum inilah tertelorkan program dan kerja dakwah yang tak pernah kehilangan inovasi dan kreatifitas. Mengalir tak pernah henti untuk terus menyemai kebaikan bagi umat ini. Maka tak heran kemudian ketika Muasis dakwah ini menyebutnya : Antum ar ruhul jadid fi jasadil ummah. Kalian ini semangat baru, ruh baru, yang lahir di tengah umat ini.

Maka jika forum ini tak lagi kita rindukan, maka kemana lagi kita akan dapatkan ukhuwah yang indah itu? Kemana lagi akan kita dapatkan pelajaran amal jama’i yang efektif ini? Kemana lagi kita akan dapatkan komunitas yang siap menjadi kontrol dan pengawas bagi semua aktifitas kita, karena memang kita sering lemah ketika kita sendiri? Forum ini memang bukan segalanya. Tapi segalanya bisa diawali dari forum yang kecil ini, forum yang sederhana dan berkah ini. InsyaAllah

Maka dalam doa-doaku, aku mencoba sebisa mungkin menghadirkan wajah-wajah saudaraku dalam lintasan-lintasan hatiku. Semoga Allah selalu memudahkan segala urusan dan memberkahi langkah-langkahnya. Dan senantiasa mempersatukan kami semua dalam langkah-langkah di jalan dakwah ini.

Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini tlah berpadu
berhimpun dalam naungan cinta-Mu

bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan
menegakkan syariat dalam kehidupan

*Kuatkanlah ikatannya
Kekalkanlah cintanya
Tunjukilah jalan-jalannya
terangilah dengan cahya-Mu
yang tiada pernah padam

Lapangkanlah dada kami
dengan karunia iman
dan indahnya tawakkal pada-Mu

Hidupkan dengan ma'rifat-Mu
matikan dalam syahid di jalan-Mu
Engkaulah pelindung dan Pembela

Ya Robbi, Bimbinglah kami.....

Mohon maaf, ini bukan taujih. Ini sekedar lintasan hati di hari yang indah ini. Aku tuliskan untuk saudaraku semua di forum yang tak kalah berkah ini, sebagai wujud cintaku untuk antum semua. Bahwa sungguh aku merindukan antum semua. Walau ada di antara kita yang belum pernah bertemu fisik sekalipun. Tapi antum semua terasa begitu dekat di hati ini.

Kita semua punya cerita dan kenangan tentang forum itu. Tentang orang-orang dalam forum itu. Tentang kerja-kerja dalam forum itu. Semua pasti mencerahkan. Maka tak salah jika kita berbagi. Maka tak salah jika kita saling memberi. Bukan untuk unjuk kelebihan, karena kita hanyalah makhluk-makhluk yang tak pernah akan bisa sempurna.

Jamsostek, 11/11/2009 : 11.00

Kamis, 16 Juli 2009

And The Star is Me !

Bintang memang identik dengan prestasi. Maka kita akan menemukan istilah bintang kelas, yaitu mereka yang berprestasi di kelasnya. Atau bagi yang suka sepak bola, di sana ada yang namanya bintang lapangan. Bintang juga identik dengan sesuatu yang bernilai lebih, maka lihatlah dalam pengkategorian jenis hotel misal. Kita akan menemukan bahwa hotel berbintang itu mempunyai nilai lebih jika dibandingkan yang tidak berbintang. Dan bintang pun juga berhubungan tingkatan kedudukan. Lihatlah seorang jenderal, ada berapa bintang yang berjejer di pundaknya?

Bintang, dalam makna-makna konotatif selalu berhubungan dengan kesempurnaan dan kecemerlangan. Karena memang bintang itu ditakdirkan berada di atas sana dan bersinar. Bahkan saat jatuhnya pun, orang menganggapnya sebagai pertanda akan datangnya kebaikan.

Jika anak kita dapat nilai bintang dalam buku sekolahnya, itu berarti pertanda baik baginya. Jika anda adalah pelaku bisnis di MLM, maka bertambahnya tanda bintang anda, itu pertanda makin tingginya level keanggotaan anda. Semakin banyak bintang, semakin sukses anda. Itulah bintang. Ia menjadi perlambang kebaikan dalam keseharian kita.

Dalam perjalanan dari masjid pagi ini, aku sempatkan memandang bintang di atas sana. Aku teringat dengan perbincangan kawan-kawanku tentang bintang kemaren. Menjelang kehadiran sang surya, aku masih menemukan satu bintang yang bersinar terang. “Mungkin dia yang dijuluki Bintang Timur” gumamku dalam hati. Tapi semakin aku tajamkan pandanganku, maka seakan bintang-bintang lain berlomba bermunculan. Ada banyak bintang di atas sana.

Faktanya, bintang-bintang di langit jumlahnya bermilyar-milyar. Mereka semua berada di atas sana dan bersinar. Entah dia besar atau kecil, jauh atau dekat, tapi mereka tetaplah bersinar. Mereka semua adalah bintang. Ketika satu bintang terlihat besar dan dominan di atas sana, sejatinya itu karena andil dari adanya bintang-bintang kecil di sekelilingnya. Sementara besar dan kecilnya bintang itu sendiri adalah sesuatu yang terkadang relatif. Bisa jadi memang ukurannya yang kecil, atau sebenarnya dia juga bintang besar, hanya karena jarak pandang kita sehingga bintang itu terlihat kecil oleh kita.

Intinya, bintang itu selalu bersinar. Bintang mengeluarkan sinar dari dalam dirinya, bukan sekedar memantulkan sinar sebagaimana sang bulan. Tabiat bintang itu menyinari, bukan disinari. Tabiat bintang itu menumbuhkan, bukan mendominasi.

Dalam konteks dakwah, kita mungkin tidak pernah meminta untuk menjadi bintang, Tapi kita sejatinya telah ditakdirkan menjadi bintang. Ya, kita semua adalah bintang. Dan Allah telah tetapkan itu. Bukankah Allah telah katakan : Kalian adalah bintangnya umat (khairu ummah) yang dilahirkan untuk manusia! Ya, ini adalah penetapan dari Allah. Adakah dari kita yang hendak mengelak?

Sebagaimana tabiat bintang yang menyinari, maka Allah pun mensyaratkan agar kita juga bersinar. Agar kita bisa menyinari sekitar kita. Apa parameternya? Yaitu (1) menyuruh kepada yang ma'ruf, (2) mencegah dari yang munkar, dan (3) beriman kepada Allah. Cukup tiga hal Allah syaratkan, agar kita menjadi bintang.

Hanya itulah syarat menjadi bintang. Dan kita memang ditakdirkan menjadi bintang. Kita ditakdirkan untuk menyinari. Jika kita adalah pribadi yang menyuruh kepada yang ma’ruf maka kita adalah bintang. Jika kita adalah pribadi yang mencegah dari yang munkar, maka kita adalah bintang. Jika kita adalah pribadi yang beriman kepada Allah, maka kita adalah bintang. Dan jika ketiga aktifitas di atas terhimpun dalam diri kita, maka kita adalah bintangnya umat.

Jadi, apakah anda yang disebut bintang itu?

Pancoran : Pagi menjelang dan setelah sholat subuh, 16/07/2009.

Rabu, 17 Juni 2009

Kalimat Yang Menggugah

Saya sangat terinspirasi sekali dengan kalimat yang pernah ditulis almarhum Ust. Rahmat Abdullah di bawah ini. Sederhana tapi sarat dengan makna. Semoga Allah merahmati beliau di alam kuburnya :

Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.

(alm. Ust Rahmat Abdullah)

Selasa, 02 Juni 2009

Siapa Yang Berubah Sejatinya?

Masih ingat kisah Bilal, seorang budak dari bangsa Habsy yang telah masuk Islam, dkeluarkan oleh majikannya - Umayah bin Khalaf - pada siang hari yang terik, dia ditelentangkan di padang pasir Makkah yang membara, lalu ditindihkan di atas dadanya sebongkah batu batu besar? “Sungguh engkau akan tetap seperti ini sampai engkau mati atau sampai engkau mengingkari Muhammad dan menyembah tuhan Latta dan Uzza” Kata Umayah. Bilal hanya mampu berkata, “Ahad, Ahad…” Begitu seterusnya.

Atau kisah Abu Dzar, sesaat setelah menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah dia mengucapkan, “Demi Dzat yang diriku berada di dalam kekuasaannya, aku benar-benar akan berteriak di tengah-tengah mereka”. Lalu dia pun pergi ke depan ka’bah dan berteriak lantang, “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.” Maka tak ayal kaum kafir Quraisy beramai-ramai mengepungnya dan memukulinya hingga babak belur. Padahal Rasulullah sebelumnya sungguh telah melarangnya. Bahkan esok harinya diulanginya lagi perbuatan itu.

Atau beberapa puluh tahun yang lalu, kisah dua orang anak umuran SMA yang berangkat ke sekolahnya dengan mengendarai sepeda hampir 20KM setiap hari, setiap mendahului pengendara sepeda lain sesama pelajar yang terlihat ciri-ciri muslimnya, tidak terlewatkan kecuali mereka ucapkan salam kepadanya. Meskipun mereka tidak mengenalnya sama sekali. Bahkan di kampungnya mereka sempat membikin heboh dengan melakukan takbir dengan pengeras suara di masjid, pada hari kedua hari raya idul fitri!

Barangkali kita akan fasih mengatakan, itulah yang dinamakan militansi. Tetapi yang terjadi kemudian untuk saat ini, tidak sedikit kita kemudian menemukan nada-nada pesismis yang mengatakan, “ah, militansi itu hanya milik para asabiqunal awwalun” atau ”militansi itu biasanya terasa kental ketika jumlah kader dakwah itu masih sedikit”. Atau bahkan mungkin ada yang berpikir, “militansi itu sekarang seperti mutiara yang mahal. Sulit untuk ditemukan kembali.”

Seorang ustadz saya pernah mengatakan, “akhi, kita tidak bisa mengharapkan militansi kader kita seperti dulu.” Tapi beliau tidak sedang pesimis, saya menangkapnya ini sebagai peringatan. Kenapa beliau ungkapkan hal itu di hadapan kami? Tak lain agar kami segera bisa berbenah kembali. Ada mimpi-mimpi besar yang harus kita semai bersama tentunya. Bahwa suatu saat nanti, kita - umat islam ini - harus menjadi guru bagi alam semesta ini (ustadziatul alam). Dan jika kita tidak ikut mendekap mimpi-mimpi itu dengan kerja-kerja kita, tentu akan rugilah kita semua.

Maka membungkus mimpi-mimpi itu dengan baju militansi merupakan keniscayaan. Agar mimpi-mimpi itu senantiasa terwariskan ke generasi-generasi setelah kita. Karena kita sadar dan kita tahu, bahwa mimpi-mimpi itu membutuhkan masa yang panjang. Tidak cukup hanya satu generasi untuk mewujudkannya.

Baju militansi setidaknya membutuhkan kombinasi tiga warna dalam diri kita. Yang pertama adalah warnailah dengan izzah. Yaitu keyakinan dan kebanggaan akan fikrah islam yang kita miliki. Saya ingat, ketika seorang ustadz pernah bercerita. Waktu itu ia diminta untuk mengisi acara di lemhanas, dia bukan siapa-siapa. Tidak ada pangkat atau jabatan yang tersemat kepadanya. Bagi kita, mungkin kita pun akan minder ketika harus presentasi di depan pejabat-pejabat itu. Tapi kata beliau, ”yang saya bentuk dalam benak saya kemudian adalah pikiran bahwa saya mempunyai fikrah islam yang tidak mereka punya. Dan inilah kelebihan saya yang tidak mereka punyai. Jadi kenapa saya harus takut?”

Yang kedua adalah warnailah baju militansi kita dengan hamasah. Semangat menggelora untuk mengamalkan Islam dan menyerukannya kepada orang lain. Inilah yang terjadi pada Abu Dzar al Ghifari ketika memaklumatkan keislamannya di hadapan kaum kafir quraisy. Meski ia sebenarnya sadar dengan akibatnya tetapi karena adanya semangat yang menggelora itu, maka ia pun melakukannya.

Dan warna yang ketiga adalah ghirah. Apa itu ghirah? Kecemburuan dan semangat pembelaan terhadap Islam. Seorang Abu Bakar yang sejatinya hatinya teramat sangat lembut, ketika mendengar ada kabilah-kabilah yang menolak untuk membayar zakat sepeninggal Rasulullah, tiba-tiba berketetapan untuk memerangi mereka. Bahkan seorang Umar yang berperangai keras pun awalnya tidak setuju dengan keputusan Abu Bakar itu. Akan tetapi demi menegakkan sendi-sendi agama, Abu Bakar tetap bersikukuh sehingga diperangilah para pembangkang tersebut dan akhirnya terpadamlah api fitnah.

Kombinasi ketiga warna itulah - izzah, hamasah dan ghirah - yang perlu kita bentuk dalam diri kita semua, sehingga pandangan-pandangan dan pikiran-pikiran bahwa militansi itu telah hilang dari diri umat ini tidak menjadi kenyataan. Bahwa sesungguhnya, kapan pun dan dimana pun, militansi itu akan tetap ada dan akan tetap melekat dalam diri kader-kader dakwah ini. Meski mereka barangkali bukan gerbong generasi awal. Meski jumlah kader semakin melimpah dan tersebar merata. Meski kemudahan-kemudahan semakin terbuka lebar. Meski keberlimpahan duniawi bahkan semakin menggoda.

Ya. Semoga Allah mengokohkan langkah-langkah kita semua, agar tetap istiqomah di atas jalan dakwah ini.


@Pancoran :22:45wib 01/06/2009