Tampilkan postingan dengan label Goresan Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Goresan Cinta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Januari 2015

Laki-laki harus Kuat Logikanya

Ketika SD kelas enam, kami diberi tugas untuk menuliskan karangan tentang cita-cita kami. Kelompok belajarku yang terdiri 4 orang, aku, Wid, Tri dan Tejo malam harinya segera menggelar rapat paripurna untuk merumuskan tugas itu. Malam itu rumahku dipakai rapat sebuah organisasi pemuda di desaku, dimana kakak perempuan pertamaku sebagai ketua di organisasi itu. Aku dan kelompok belajarku, belajar di bilik rumahku yang lain. Dengan penerangan seadanya.

Salah seorang pengurus organisasi itu, sebut saja Mas Gepeng, ikut nimbrung di rapat paripurna kami. Ia kuliah di IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) seingatku. Tanpa kami minta, maka kemudian ia diktekan untuk kami kalimat demi kalimat. Cita-citaku, itu judul karangannya. Kalimat pembukanya aku masih ingat, tidak lazim untuk seusia kami. “Sebagai seorang manusia…” Karena, biasanya anak-anak ketika membuat karangan, dimulai dengan kalimat, “Pada suatu hari…” Hee..

Selasa, 09 Agustus 2011

New Serial Cinta Anis Matta

New Serial Cinta Anis Matta

Seperti angin membadai.. kau tak melihatnya, tapi merasakannya. Begitulah cinta, ia ditakdirkan menjadi kata tanpa benda. Seperti banjir menderas, kau tak kuasa mencegahnya dan hanya bisa ternganga saat ia menjamah seluruh permukaan bumi. Demikianlah cinta.

Cinta ditakdirkan menjadi makna paling santun yang menyimpan kekuatan besar. Tak terlihat, hanya terasa. Tapi dahsyat.

Cinta seperti api yang menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Hanya bisa menari saat ia mengunggun. Seperti itulah cinta..

Cinta adalah kata tanpa benda. Mutiara bagi ribuan makna. Wakil dari sebuah kekuatan tak terkira. Tapi ia jelas, sejelas matahari.

Cinta adalah lukisan abadi dalam kanvas kesadaran manusia. Lukisan. Bukan definisi. Ia disentuh sebagai sebuah situasi manusiawi..

Cinta merajut semua emosi manusia.. begitu agung tapi juga terlalu rumit.. begitulah cinta. Cinta adalah makna kebenaran dalam penciptaan.. Cinta tidak tumbuh dalam hati yang dipenuhi keangkuhan, angkara murka dan dendam...

Iman itu laut, cintalah ombaknya.. Iman itu api, cintalah panasnya.. Iman itu angin, cintalah badainya..

Cinta itu memanusiakan manusia dan mendorong kita memperlakukan manusia dengan etika kemanusiaan..

Cinta adalah kegilaan jiwa. Saat ia merasuki jiwa, energimu jadi berlipat, mendidih bak kawah yang siap meledak dan membakar sekelilingnya.

Cinta adalah kekuatan perubahan yang dahsyat. Selalu berusaha memahami dan menghidupkan. Membuat manusia lebih peka dan saling menghargai. Tidak seperti kekerasan, cinta justru butuh kesabaran dan usaha dari dalam. Lebih dari sekedar kekuatan fisik.

Kekuatan cinta mampu membelah badan bulan. Mampu memecahkan tengkorak tanpa pukulan, bahkan menghancurkn tentara Fir'aun tanpa pertempuran.

Saat kamu berperang di bawah bendera kebenaran, cinta mengendalikan motif dan caramu berperang. Meski tetap ada kekerasn dan darah, cinta membuat perang menjadi agung, etis dan manusiawi. Maka mereka yang tak terlibat dalam perang tak boleh dijadikan korban

Saat cinta lenyap dari kehidupan, maka tak ada lagi kedermawan kolektif yang membuat kita mau berbagi. Yang tersisa hanyalah keserakahan. Keserakahan di sisi lain akan menimbulkan kemiskinan. Kemiskinan akan mengubah orang menjadi pendendam dan mencari kambing hitam..

Hanya cinta yang mampu merekatkan dan mengubah dendam dan keserakahan.. Karena hakikat cinta adalah memberi dan berbagi... Cinta jugalah yang mampu mengubah dunia menjadi sepenggal firdaus...

Arafah, inilah potret negeri cinta. Seluruh jiwa menyatu dalam lukisan yang rumit: disatukan oleh kekuatan cinta yang lahir karena kekuatan iman. Arafah adalah potret negeri cinta. Saat pasukan cinta datang membebaskan jiwa-jiwa manusia dari belenggu yang membatasi hidupnya dari sekat tanah dan etnis

Arafah adalah potret negeri cinta. Saat celupan cinta jiwa-jiwa muncul dalam kesamaan-kesamaan yang baru. Keramahan yang tulus, kerendahan hati yang natural. Arafah adalah potret negeri cinta.. Negeri yang menunjukkan bahwa batasan negeri kita adalah ruang hati kita. Seluas apa ruang hati kita dapat menampung orang lain dengan cinta, seluas itulah negeri yang kita huni. Arafah adalah potret negeri cinta yang menunjukkan selama apa cinta dapat bertahan dalam hati kita, selama itulah umur negeri kita

Cinta selalu mampu menjalin setiap jiwa dalam kelembutan yang menyamankan. Cinta juga selalu mampu menampung semua bentuk perbedaan.

Cinta juga melahirkan pertanggungjawaban pada setiap mereka yang selalu bertanya mampukah mempertanggungjawabkan sikapnya di depan Sang Khalik. Cinta juga melahirkan kelembutan. Seperti sapu lidi yang direkatkan oleh cinta untuk membersihkan kehidupan. Tapi ikatan cinta mengatur irama para pencintanya dalam keserasian yang indah. Itulah sebabnya mereka kuat. Juga Nyaman dan abadi.

Taman Hati ialah taman hidup. Meski sempit ruangnya, tapi cinta mampu membuatnya menjadi lapang. Cinta membuatnya nyaman dihuni. Kenyamanan itulah rahasia jiwa yang diciptakan cinta. Ia bisa membuat kita bertahan memikul beban, melampaui gelombang peristiwa dan tetap merasa damai.

Cinta menciptakan kenyamanan yang menyerap semua emosi negatif; masuk dalam serat jiwa melalui himpitan peristiwa kehidupan. Cinta juga mampu mengobati segala luka. Semua luka emosi yang kita alami sepanjang hidup hanya mngkin dirawat di sana, dalam rumah cinta.

Dalam rumah cinta kita menemukan sistem perlindungan emosi yang ampuh. Karena hakikat cinta itu sesungguhnya hanya satu : memberi. Cinta dan memberi itu seperti pohon, mulanya ia menyerap matahari dan air. Kemudian mengeluarkan semua kebajikan yang ada dalam dirinya.

Cinta mengajarkan kita memperoleh hak-hak kita dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban kita pada orang lain. Karena itulah cinta saling menggenapi dan mempertemukan dua kutub jiwa.

Di alam jiwa, sayap cinta sesungguhnya tak pernah patah. Kasihnya pasti akan selalu sampai. Karena bila ada cinta di hati yang satu, pasti ada cinta di hati yang lain. Seperti satu tangan yang takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain

Ketika kasih tak sampai, atau uluran cinta tertolak, sesungguhnya yang terjadi hanyalah kesempatan memberi yang lewat. Karena selama kita memiliki cinta.. kita akan selalu memiliki sesuatu yang kita berikan pada yang lain. Sesungguhnya kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada orang lain yang tidak mencintai kita.

Jalan para nabi kita adalah jalan cinta. Kita adalah anak-anak cinta. Dan cinta adalah ibu kita. Jalan cinta selalu melahirkan perubahan besar dengan cara yang sangat sederhana. Karena ia menjangkau pangkal hati secara langsung.

Cinta adalah kutub jiwa yang berlawanan dengan tirani; ia lahir dari respek dan penghargaan kepada manusia. Saat kekuasaan mendapatkan sentuhan cinta,wajahnya berubah: gurat-gurat kekejaman segera berganti menjadi garis-garis kerentaan dari penguasa yang melayani.

Hanya dalam genggaman cinta kekuasaan berubah jadi alat untuk melindungi, melayani dan menyejahterakan rakyatnya. Dengan energi cinta sang penguasa bukan lagi kuda liar yang setiap saat bisa melompat dari kandang dengan energi kekuasaan..

Sang penguasa dalam genggaman cinta adalah mata air kebajikan yang pada satu saat bertemu dengan hujan deras kekuasaan, maka jadilah ia banjir; kebajikan melimpah ruah dalam muara masyarakat manusia. Demikianlah energi cinta memberi dan melayani.

Sebaik-baik pemimpin adalah yang kalian cintai dan ia mencintai kalian. Seburuk-buruknya pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan ia membencimu.

Cinta adalah kata yang mewakili seperangkat kepribadian yang utuh: gagasan, emosi dan tindakan. Tapi kebanyakan orang seringkali hanya mengambil bagian tengah dari cinta: emosi. Dalam kehidupan mereka, cinta adalah gumpalan perasaan yang romantis dan indah. Mereka bahkan menderita untuk menikmati romantika cinta. Itulah karenanya kehidupan mereka tidak berkembang..

Cinta adalah sebuah totalitas. Di sana gagasan, emosi dan tindakan menjdi kesatuan yang utuh dan bekerja bersama demi kebahagiaan orang-orang yang kita cintai. Orang-orang dengan kepribadian yang lemah dan lembek tidak dapat mencintai dengan kuat. Para pencinta sejati selalu datang dari orang-orang dengan kepribadian yang kuat.

Cinta itu indah. Bekerja dalam ruang kehidupan yang luas. Inti pekerjaannya adalah memberi, pada orang-orang yang kita cintai untuk tumbuh menjadi lebih baik. Para pencinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidup mereka: memberi. Terus menerus memberi... begitulah cinta. Menerima? Itu mungkin dan bisa jadi pasti! Tapi itu hanya efek. Seperti cermin kebajikan yang memantulkan kebajikan yang sama.

Pencinta sejati menjadikan dirinya seperti air dan matahari. Ia membuat orang lain tumbuh dan berkembang dengan siraman air dan sinar cahayanya.

Para pecinta sejati tak suka berjanji. Tapi begitu mereka memutuskan mencintai seseorang, mereka segera membuat rencana memberi.

Para pecinta sejati tak suka berjanji. Karena janji menerbitkan harapan. Tapi pemberian melahirkan kepercayaan. Berbeda dengan janji, rencana memberi yang terus terealisasi menciptakan ketergantungan. Ketergantungan yang menghidupkan..

Cinta adalah cerita tentang seni menghidupkan hidup. Mereka menciptakan kehidupan bagi orang-orang untuk hidup. Meski kehidupan yang mereka bangun sering tidak disadari oleh orang-orang yang menikmatinya.

Hadirnya cinta sejati akan sangat terasa begitu ia pergi. Saat itu ada kehilangan menyayat hati. Ada ruang besar kehidupan yang tak berpenghuni

Saat seseorang kehilangan cinta sejati, maka di langit hatinya akan ada mendung pekat yang bisa menurunkan hujan air mata yang amat deras.

Intinya cinta adalah memberi, pemberian pertama seorang pencinta sejati adalah perhatian. Perhatian yang lahir dari lubuk hati paling dalam.

Perhatian adalah pemberian jiwa: sebuah kondisi dimana kamu keluar dari dirimu menuju pada orang lain yang kamu cintai..

Kekuatan para pencinta sejati adalah bahwa mereka pemerhati yang serius. Mereka memperhatikan orang yang mereka cintai secara intens dan menyeluruh.

Perhatian: itulah rahasia agung dari cinta. Saat ia hilang, jiwa orang yang dicintai tersiksa, mungkin ia tak mengatakan, tapi ia merasakan.

Pekerjaan kedua bagi para pecinta sejati setelah memperhatikan, adalah menumbuhkan. Menumbuhkan sang kekasih untuk menjadi lebih baik dan berkembang. Inilah cintanya cinta.

Pertumbuhanlah yang membedakan cinta yang matang dengan cinta seorang melankolik. Penumbuhan memberikan sentuhan edukasi pada hubungn cinta.

Sukses pecinta sejati adalah seperti sukses cinta seorang guru pada muridnya. Saat nafas cintanya meniup kuncup pun mekar menjadi bunga. []


Sumber : Kulwit @Anis Matta

Copas dari http://muchlisin.blogspot.com/search/label/Anis%20Matta

Jumat, 06 November 2009

Selalu Ada Masanya

Ingatkah dirimu
Saat hati-hati kita saling memunggungi ?
Bukan !
Bukan karena tak ada lagi saling cinta
Bahkan sesungguhnya kita saling memeluk rindu
Satu sama lain

Tahukah dirimu
Itu hanyalah bagian dari pelajaran cinta dan rindu kita?
Bahwa semua ada masanya
Ada saatnya kita harus menengok ke belakang
Sekedar menatap kembali jejak-jejak langkah
yang telah kita lalui

Tak ada episode cinta yang selalu merona
Pun tak ada episode rindu yang selalu membiru
Kadang kita butuh sedikit angin yang bertiup agak kencang
Agar bisa kembali saling bergandeng erat
Satu sama lain

Dan memang selalu begitu
Pelajaran cinta dan rindu tak selamanya datar
Pelajaran ini selalu dilengkapi dengan kejutan-kejutan
Yang kadang bahkan
tak pernah kita duga sebelumnya


Menara Jamsostek 06/11/2009 16:40

Selasa, 28 Juli 2009

Gundah

Dia hanya mengirimkan satu kata untukku kemaren. Gundahku. Tidak ada kata-kata lain yang menjelaskan makna itu. Tidak ada rentetan kalimat lain yang menjelaskan apa dan kenapanya. Tapi kata-kata gundahku itu, sungguh telah membuatku gundah.

Aku gundah mengapa dia merasa gundah. Aku selalu gundah jika telah membuat seseorang merasa gundah. Apalagi yang aku buat gundah adalah orang yang terdekat di hatiku. Aku gundah karena tidak mengerti lagi apa yang telah membuatnya gundah.

Sapaanku hari ini masih dibalasnya sekedarnya. Aku tahu, dia masih merasa gundah. Aku selalu merasa akulah yang telah membuatnya gundah. Tapi kegundahannya kali ini membuatku semakin gundah bertalu-talu. Gundah yang tak terperikan.

Mungkin episode kemaren dan ini adalah korelasinya. Aku hanya menduganya karena hanya itu yang bisa kulakukan. Dia masih tetap bergeming dalam diamnya. Seakan memberiku kesempatan untuk merenung dan berpikir. Aku mencoba untuk tetap mengerti.

Selasa, 07 Juli 2009

Aku Hanya Ingin Memberi

Aku Hanya Ingin Memberi

Yang bisa kulakukan hanyalah memberimu dengan apa yang aku mampu. Jika engkau tetap tak mempercayainya, tetap hanya itu yang aku mampu. Selebihnya, semoga Dia yang akan membuat kita kembali saling mengerti. Bahwa aku sesungguhnya hanya laki-laki biasa, dengan sesuatu yang sangat biasa, yang jauh dari keluarbiasaan.

Can, engkau adalah anugerah terindahku. Entah sudah berapa kali tiba-tiba hatiku terasa terkoyak, ketika aku mendapatimu sangat-sangat tidak berkenan dengan sikapku. Aku bahkan tak pernah membayangkan engkau akan seperti itu. Aku bahkan tak pernah terpikirkan untuk berbuat seperti yang engkau bayangkan. Sungguh, aku hanyalah laki-laki biasa dengan pikiran yang sangat biasa, tidak pernah ada kerumitan dalam pikiran-pikiranku. Semoga engkau mengerti.

Tetapi itulah sejatinya makna pembelajaran itu. Aku terus belajar untuk mengerti bahwa sungguh penerimaan kita kepada pasangan kita itu tidaklah cukup hanya dengan memberi apa-apa yang dia butuhkan. Kita sering lupa bahwa ada sisi lain yang harus kita perhatikan juga, yaitu penerimaan dalam bentuk penghargaan. Ya, penghargaan. Penghargaan terhadap semua jerih payah pasangan kita. Sekecil apapun itu bentuknya.

Can, sering kita baru tersadar akan kejerihpayahan pasangan kita, saat dia tidak ada. Saat dia tak lagi di samping kita. Sering kita baru tersentak akan keberartian pasangan kita, saat dia jauh dari sisi kita. Itulah ujian tentang makna penghargaan dan keberartian ini. Kita memang tak bisa menghargai karena kita belum bisa merasakan keberartiannya. Bukan dia tidak berarti bagi kita, tapi kita belum bisa merasakannya. Atau bisa jadi, keberartiannya kadang tertutupi oleh sesuatu yang tampak tidak luar biasa.

Ya, sesuatu yang biasa, yang tidak luar biasa, sering menipu kita. Padahal sesungguhnya, dengan itulah dia selama ini mengguyur kita dengan cintanya. Bahwa pemberian yang biasa, yang sering kita terima, yang mungkin nominalnya tidak seberapa, itulah sesungguhnya yang membuat dia menjadi luar biasa. Jika kita mampu menghargainya.

Can, aku sedang belajar menghargai. Lebih menghargai tentang kejerihpayahanmu. Sekecil apapun itu. Bahkan seandainya itu memang kewajiban yang harus engkau tunaikan yang tidak ada hubungannya denganku pun, maka aku akan berusaha menghargainya. Karena engkau adalah anugerah terindahku. Aku ingin terus tumbuh bersamamu. Aku ingin kita terus bersama menyemai taman-taman cinta di hati kita.

Can, maafkan aku akan ketidakluarbiasaanku. Maafkan aku yang lebih menikmati sudut-sudut sepi, yang tak bisa mengimbangimu kecuali dengan bahasa-bahasa hati. InsyaAllah, Dia akan memudahkan usaha kita ke arah yang lebih baik. I Love You.

Jogja, 07072009:01.00

Selasa, 17 Maret 2009

Mari Kita Belajar Mencintai

Oleh Anis Matta

Jika cinta, pada semua jenisnya, adalah kesadaran, adalah perasaan, adalah tindakan, maka cinta pada akhirnya adalah kemampuan yang terintegrasi dalam seluruh aspek kepribadian kita.

Kemampuan seseorang untuk mencintai adalah gambaran paling utuh dari seluruh kapasitas kepribadiannya. Hanya orang-orang dengan kepribadian kuat dan kapasitas besar yang mampu mencintai. Orang-orang lemah, yang setiap saat bisa kita saksikan di sekitar kita, tidak akan pernah mencintai. Bahkan untuk mencintai diri mereka sekalipun. Takdir mereka adalah menantikan cinta dan kasih sayang orang-orang kuat.

Orang-orang kuat mencintai dengan segenap kesadarannya. Maka mereka terus-menerus memproduksi kebajikan demi kebajikan. Sementara orang-orang lemah bahkan tidak memiliki kesadaran untuk mencintai. Maka mereka terus-menerus mengkonsumsi kebajikan orang-orang kuat. Itu sebabnya orang-orang kuat dalam masyarakat selalu merupakan faktor kohesi yang merekatkan masyarakat.

Mereka merekatkan masyarakat dengan cinta dan kebajikan mereka. Makna inilah yang ditebarkan oleh Rasulullah saw begitu beliau tiba di Madinah dan memulai kerja membangun negara baru itu: “Wahai sekalian manusia, tebarkan salam, berikan makan, bangun sholat malam saat orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan penuh damai”.

Ini merupakan penjelasan bagi keterangan selanjutnya. Bahwa untuk bisa mencintai, bahwa untuk menjadi pencinta sejati, kita harus mengembangkan kapasitas dan kepribadian kita. Cinta adalah pelajaran tentang bagaimana mengubah kepribadian kita untuk menjadi lebih baik secara berkesinambungan, pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang produktif untuk bisa memberi, pelajaran tentang bagaimana menjadi orang kuat yang penyayang, pelajaran tentang bagaimana melimpahruahkan kebajikan abadi bagi penumbuhan kehidupan orang-orang di sekitar kita yang kadang berujung tanpa sedikitpun rasa terima kasih, atau bahkan penolakan.

Ini bukan pelajaran tentang teknik atau keterampilan mencintai seperti ketika belajar tentang tehnik berkomunikasi dengan orang lain, atau bagaimana merebut hati seseorang untuk suatu hubungan cinta asmara. Bukan. Sama sekali bukan tentang itu.

Ini adalah pelajaran tentang bagaimana membangun kembali dasar-dasar kepribadian yang kokoh dan tangguh, yang memungkinkan kita mencintai secara sadar, bertanggungjawab dan bertindak produktif untuk membuktikan cinta itu dalam kenyataan. Dan dengan begitu cinta bukan saja berefek pada perbaikan berkesinambungan terhadap hubungan-hubungan kemanusiaan kita, tapi juga terutama pada perbaikan kehidupan kita seluruhnya secara berkesinambungan.

Dan ini mungkin dan terbuka. Semua kita bisa mempelajarinya. Alasannya sangat sederhana. Rasulullah saw bersabda: “Ilmu diperoleh dengan belajar. Kesabaran diperoleh dengan belajar menjadi sabar. Kesantunan diperoleh dengan belajar menjadi santun.”

Ini menjelaskan bahwa di samping karakter-karakter bawaan yang melekat dalam diri kita sebagai warisan genetik, semua karakter lain bisa kita peroleh dengan mempelajari dan mengimplementasikannya dalam kehidupan kita.

Begitu juga cinta. Begitu juga cinta. Semua kita bisa mencintai. Semua kita mungkin menjadi pencinta sejati. Asal kita kita mau belajar. Asal kita mau belajar bagaimana mencintai.

Majalah Tarhawi edisi 148 Th. 8/Muharram 1428 H/1 Februari 2007 M

Jumat, 12 Desember 2008

Apakah Anda Orang Yang Romantis?

Apakah Anda Orang Yang Romantis?

Hari itu adalah hari raya kurban. Seperti di masjid-masjid pada umumnya, masjid di kampung kami pun menyembelih hewan kurban. Alhamdulillah, tahun ini (1429 H) masjid ini bisa menyembelih dua ekor sapi dan 2 ekor kambing. Walaupun sempat butuh extra effort untuk menggenapkan menjadi 2 ekor sapi, karena hingga menjelang 2 pekan hari raya idul kurban untuk kelompok sapi baru mendapatkan 12 nama shahibul kurban, akhirnya atas usaha salah seorang panitia bisa digenapkan menjadi 14 nama.

Ini tadi adalah sekilas tentang idul adha di masjid saya di kampung. Tapi saya tidak sedang ingin menceritakan keutamaan kurban ataupun hiruk pikuknya penyembelihan hewan kurban. Ada sebuah fragmen singkat yang ingin saya angkat di cerita saya kalo ini.

Begini ceritanya. (Ehm, tolong disimak ya :D). Setelah semua hewan kurban disembelih dan dikuliti serta ditimbang perolehan dagingnya, tibalah saatnya membaginya dalam paket-paket plastik untuk didistibusikan kepada jama’ah di sekitar masjid kami. Ada yang bertugas memasukkan ke dalam kantong-kantong plastik, ada yang bertugas menimbang, dan ada yang bertugas memotong-motong daging menjadi potongan-potongan kecil agar mudah untuk membaginya.

Di sebuah pojok sempit tempat kami semua mengambil satu peran dari tugas-tugas tadi, saya dan istri berduet, memotong-motong daging menjadi potongan-potongan kecil. Saya yang memegang daging, sementara istri yang memotongnya dengan pisau. Sambil sesekali ngobrol dan berbisik ringan. Sebuah kejadian yang sederhana bukan? Tapi dari awal memang saya menikmatinya.

Kami semua berbaur. Di sekeliling onggokan daging sapi dan kambing kurang lebih 200an kilogram itu, bapak-bapak dan ibu-ibu mengambil peran. Sebagian besar ibu-ibu memang. Di satu sisi mengelompok ibu-ibu mengiris-iris dan memotong daging, di sisi lain beberapa bapak-bapak memisahkan daging dari tulangnya, atau memotong-motong tulang dalam potongan-potongan kecil.

Beberapa saat kemudian, seorang ibu, beliau adalah tetangga seberang rumah saya, berteriak keras sambil berpura-pura pegang kamera, “Wah, yang di pojok itu harusnya di foto nih. Dari tadi saya lihat berdua terus. Romantis tenan.”

Saya dan istri hanya bisa tersenyum. “Biasa saja kok, bu” Jawab saya sekenanya.

“Weh, itu sudah sejak dari tadi malam je. Jam 12 malam tadi pas kami masih takbiran di sini, berduaan naik sepeda kemari. Ndemenakne tenan je.” Tambah Pak Sambas, suami dari ibu tadi, meledek. Suasana makin hangat.

“Iya lho, saya dari tadi juga mengamati. Saya Cuma mbatin, Bu Agus sama Pak Keri ini kok romantis banget.” Seorang ibu yang lain ikut berkomentar. Seorang ibu yang sebenarnya sudah cukup sepuh juga, kira-kira di atas 45 tahun umurnya.

Yah, kami hanya bisa tersenyum-senyum. Bagi kami, apa yang kami lakukan ini sebenarnya biasa-biasa saja. Sangat wajar. Dekat, iya. Bahkan kami pun tak menampilkan kemesraan. Ini belum demonstratif, halah. Maklum, saat jalan berduaan di kampung ini, saya suka menggandeng atau merangkul pundak istri saya. Ini baru demonstratif. Makanya istri kadang sering menolaknya, ”Sssttt, malu. Ini di kampung.”

Bu Beni, seseorang yang pernah menemani kami saat-saat kami belum mendapatkan khadimat dulu, mendekat ke tempat kami. ”Duh, Bu Agus ini dari tadi deketan terus ama Pak Keri. Mesra sekali saya perhatikan dari tadi.”

”Ah, bilang saja pengin. Nanti pulang minta ama Mas Beni.” Kata Bu Panggih menggoda. Riuh. Heboh. Itu yang saya tangkap dari komentar-komentar ibu-ibu tadi. Ada sesuatu yang ’luar biasa’ bagi mereka yang siang itu mereka lihat, walau itu bagi saya dan istri bahkan ’hanya’ suatu kebiasaan yang sungguh-sungguh sangat biasa.

Kawan, saya hidup di tengah kampung. Sebahagian besar penduduk di sini adalah bertani, sambil memelihara berternak. Beberapa memang berprofesi sebagai guru. Tapi sungguh, nuansa hubungan suami-istri di kampung memang seringkali terkadang monoton. Itu setidaknya pengamatan saya. Mungkin salah satunya masih kuatnya feodalisme dan primordialisme, di mana kedudukan suami sungguh-sungguh harus selalu di atas istri, sehingga mengharuskan suami menjaga wibawa di hadapan suami. Demikian pula istri, tidak berani mengekspresikan keinginan-keinginannya di hadapan suami.

Saya ingat ketika malam takbir sebelumnya, sebut saja Mbah War putri, menanyakan kepada suaminya membawa korek api atau tidak, karena dibutuhkan untuk menyalakan api di tungku depan masjid. Ya, ibu-ibu di depan masjid malam itu ada yang bertugas memasak air, merebus kacang dan menggoreng camilan buat peserta takbiran. Mbah kakung menyerahkan korek api tadi dengan dilempar, tanpa ekspresi. Ternyata lemparannya membentur hijab setinggi 60cm. Tidak sampai di hadapan mbah putri yang berdiri di seberang hijab. Sambil beringsut dengan agak kesal, dipungutnya korek tadi. Mbah putri sejatinya ada di hadapannya dengan tangan menengadah. Tapi oleh mbah kakung, korek tadi ternyata tetap dilemparkannya. Korek jatuh di hadapan mbah putri yang kemudian bergegas memungutnya.

Kawan, apakah menurutmu itu hal biasa? Tenanglah, bagi warga di sini, hal seperti itu mungkin jamak. Sangat biasa. Bagi pasangan suami istri di kampung kami ini, kejadian seperti ini tidak berarti apa-apa. Tapi entah bagi saya pribadi, ada sesuatu yang ‘luar biasa’. Aneh. Kurang nyaman. Blas tidak romantis. Kenapakah tidak bisa dengan cara yang lebih nyaman di hati? Begitu kalo saya berpikir.

Saya ingat anak terkecil saya (5th), suka berkomentar jika melihat kami berduaan ngobrol, “Uuhh, abi ama ummi ini sukanya pacaran.” Awalnya saya agak kaget dengan komentar anak kami ini.

“Pacaran itu apa tho dek?” tanya saya.

“Lha itu, suka ngobrol berdua aja.” Jawabnya singkat.

Kawan, pelajaran yang saya dapatkan dari hal-hal sederhana ini adalah bahwa sebenarnya untuk menjadi romantis itu mudah dan murah. Sederhana. Pun tidak neko-neko. Cukup engkau berikan perhatian terhadap istri/suami-mu, luangkan dengan ngobrol atau jalan kaki berdua sambil ke masjid, atau berboncengan sepeda ke warung, itu sudah romantis. Tidak perlu pake bunga. Tidak perlu berbuih-buih dengan ucapan-ucapan yang puistis seperti di sinetron-sinetron.

Mudah bukan? Jadi, engkau siap jadi pasangan yang romantis sekarang, bukan?



Catatan :
Romantis : bersifat seperti dalam cerita roman (percintaan), bersifat mesra, mengasyikkan.

Jumat, 21 November 2008

Cinta adalah sebuah gagasan

Pada sebagian tabiatnya yang paling murni, cinta menyerupai air. Air adalah sumber kehidupan. Semua mahlukhidup tercipta dari air. Air mempunyai mata dan selalu bergerak dari hulu ke hilir. Ia mengalir tak henti-henti. Ia bergerak tak selesai-selesai. Setiap sungai dan kali mengalir dan bergerak pada jalur-jalurnya. Tapi mereka semua kemudian bertemu pada satu titik, pada sebuah muara besar. Mata air. Mengalir. Bergerak. Tak henti-henti. Tak lelah. Tak selesai-selesai. Menuju muara. Muara besar. Hampir tak terbatas. Jauh sejauh mata memandang. Jauh seperti memandang. Jauh seperti menyentuh kaki langit. Itu sebabnya bumi kita diisi lebih banyak oleh air. Karena Tuhan ingin menyemai kehidupan disini.

Diantara mata air yang kecil kepada muara yang besar ada aliran. Ada gerak. Ada riak. Ada gelombang. Ada gemuruh. Ada debur. Ada percikan. Ada gelora. Ada gairah. Ada dinamika. Selalu begitu. Senantiasa seperti itu. Tak ada penghentian. Tak ada stagnasi. Tak ada diam. Ia membludak jika ditahan. Ia membuncah jika dibendung. Ia membanjir pada puncak dinamikanya. Tapi ia selalu membersihkan semua kotoran yang dilaluinya. Seperti hujan mengusir mendung yang mengotori biru langit.

Begitulah cinta. Ia adalah sebuah gagasan yang murni tentang kehidupan yang lapang. Mata airnya adalah niat baik dari hati murni. Muara adalah kehidupan yang lebih baik. Alirannya adalah gerakan amal dan kerja memberi yang tak henti- henti. Cinta adalah gagasan tentang penciptaan kehidupan setelah kehidupan tercipta. Maka kata Muhammad Iqbal, “Engkau menciptakan hutan belantara. Dan aku menciptakan taman”.

Begitu ada niat baik dan ada muara kehidupan yang lapang yang hendak kita ciptakan, maka cinta ciptakan, maka cinta menjadi nyata saat ia mengalir. Saat ia bergerak. Aliran dan gerakan itulah yang melahirkan debur, gemuruh, riak dan ombak. Gairah dan dinamika yan membuatnya ada, nyata dan hidup.

Seperti air yang berhenti mengalir, kehidupan juga akan berhenti bergerak jika ia tidak mengarah pada sebuah muara besar. Air yang tergenang selalu mengalami pembusukan. Begitu juga kehidupan yang tidak bergerak kehilangan dinamika dan serta merta menjadi rusak. Bukan. Bukan Cuma rusak. Tapi bahkan merusak lingkungan disekitarnya.

Begitu juga cinta ketika ia hanya sebuah perasaan. Bukan sebuah gagasan. Sebab perasaan adalah bagian dari aliran. Bukan aliran itu sendiri. Bukan muara. Begitu juga cinta ketika ia hanya sebuah ruh. Bukan sebuah gagasan. Sebab ruh adalah mata air. Bukan muara. Begitu juga cinta ketika ia hanya sebuah raga. Bukan sebuah gagasan. Apalagi raga; ia hanya riak, hanya gelombang, hanya debur, hanya gemuruh. Ia ada karena aliran. Ada gerakan. Perasaanlah yang memberinya rasa dan nuansa; keindahan. Tapi keindahan ini tak pernah berdiri sendiri.

Gagasan. Gagasanlah yang mengubah cinta menjadi sebuah keseluruhan, sesuatu yang utuh, semacam kumpulan kata-kata yang membentuk kalimat dan melahirkan makna. Yaitu gagasan tentang bagaimana menciptakan kehidupan yang lebih baik, tentang berapa besar energi yang kita perlukan untuk menyelesaikannya, tentang rincian tindakan yang harus dilakukan dari awal hingga akhir. Dalam gagasan itu jiwa, raga dan ruh menyatu; membuncahkan mata air kebajikan, mengaliri setiap sudut kehidupan menuju muara kebahagiaan yang lapang. Disini jiwa, raga dan ruh menuaikan fungsi-fungsinya. Dan pada penuaian fungsi itu ada pesona yang memercikan keindahan.

Ust. Anis Matta

Selasa, 18 November 2008

Love : The Art of Balancing

Obrolan santai dengan seorang sahabat tadi malam, secara tidak sengaja berbicara tengang makna keseimbangan. Dalam islam kita mengenal konsep tawazun. Dalam dunia yoga ada istilah ying-yang. Dan dalam ilmu managemen maka kita pun mengenal istilah the art of balancing. Maka dalam dunia cinta mencintai, kita menemukan kaidah keselarasan dan keserasian.

Semua berada dalam alur yang sama, bahwa untuk mencapai kondisi yang baik dan ideal maka diperlukan konsep keseimbangan. Segala sesuatu hanya akan berada dalam titik kestabilan manakala terjadi keseimbangan di sana.

Alam semesta yang begitu luas ini dengan gugusan galaksi-galaksinya, yang merupakan pertautan dari berjuta-juta tata surya, terus bergerak dalam kestabilan karena terjadi keseimbangan di sana. Jika kita kembali mengingat tentang ekosistem, maka mata rantai kehidupan di alam ini hanya akan terus eksis manakala terjadi keseimbangan di mata rantai-mata rantai itu. Satu mata rantai saja hilang, maka ekosistem itu akan bergolak, mencari keseimbangan baru.

Dalam hubungan dengan sesama manusia pun, agar kita mendapatkan relasi yang selaras dan serasi, maka perlu ada keseimbangan di sana. Seimbang dalam menerapkan hak dan kewajiban. Seimbang dalam hal memberi dan menerima. Bisa menempatkan diri di hadapan orang sekaligus memandang keberadaan dan keadaan orang lain dengan kaca mata diri kita. Maka dalam ungkapan jawa kita mengenal tepa selira, yang kemudian mengejawantah dalam definisi tenggang rasa.

Untuk mencapai keselarasan, maka segala sesuatu akan bergerak mencari titik keseimbangan. Seperti teori harga, ia akan bertemu pada titik keseimbangan : pertemuan antara permintaan dan penawaran. Ketika kedua hal itu belum bertemu, akan terus terjadi koreksi di kedua pihak. Jika tidak ada yang mau untuk mengoreksi diri, jangan harap akan terjadi keseimbangan di sana. Inilah seni keseimbangan alam semesta.

Jika kamu mencintai seseorang, agar terjadi keselarasan dan keserasian, maka dibutuhkan keseimbangan di sana. Di satu sisi kamu menuntut cintanya maka kamu harus memberikan perhatian kepadanya. Di lain waktu kamu ingin dia memperhatikanmu, maka tunjukkan cinta dan sayangmu padanya. Harus selalu ada keseimbangan, agar serasi dan selaras.

Jiwamu dan jiwanya tak mungkin akan pernah bertemu dalam cinta, mana kala yang kamu tawarkan kepadanya tidak sesuai yang sedang ia butuhkan. Atau dia meminta darimu sesuatu, tapi kamu enggan untuk memberinya. Semua harus bersambut. Seperti tangan yang jika bertepuk maka harus ada tangan satunya. Maka pintanya adalah untuk menyeimbangkan pemberianmu. Maka pemberiannya adalah untuk mencapai titik keseimbangan akan keinginanmu. Harus ada saling mengisi di sana.

Seorang pencinta sejati, maka ia akan rela mengoreksi standar nilai dalam dirinya, agar tercapai keselarasan dan keserasian dengan pasangannya. Menaikkannya atau bahkan menurunkannya sekali pun. Nilai apa pun itu. Bisa selera. Cita rasa. Hobi. Yang ia butuhkan adalah bertemu jiwa dengan kekasihnya dalam titik keseimbangan itu. Tidak ada ego di sini. Semua akan luntur atas nama cinta jiwa. Di sinilah kamu akan mendapatkan makna pengorbanan yang luar biasa. Yang terkadang tidak bisa diurai dalam kata-kata.

To My Love : Love U So Much...

Jumat, 17 Oktober 2008

Tentang Puisi Itu

“Adek sudah baca…” tiba-tiba istri saya mengatakan kalimat itu, sambil menatap saya. “Baca apa, Dek?” Tanya saya tidak mengerti. ”Puisi, yang di blog itu” Jawabnya tanpa melihat ke arah saya. Saya mencoba mengingat, puisi mana yang dimaksud itu. Sengaja. Kadang saya membuat puisi, atau sekedar tulisan tentangnya, di blog maupun di komputer saya. Tidak saya beritahukan. Agar ia menemukan sendiri tulisan-tulisan itu. Seperti saat itu.

”Memang untuk siapa puisi itu?” tanyanya. ”Lah, memang kira-kira untuk siapa” Jawab saya mencoba mencari tatap jujur di matanya. ”Ya, ndak tahu. Wong bukan Dek yang nulis” kata istri saya tidak mau kalah.

Hening. Saya tidak ingin menjawabnya segera. Saya hanya ingin melilhat dia penasaran. Saya tahu, sebenarnya dia telah tahu untuk siapa puisi itu dibuat. Saya yakin, perasaannya telah menemukan kepada siapa tulisan itu sebenarnya dicurahkan. Tapi begitulah dia. Dia selalu ingin penegasan. Dia selalu butuh pengakuan secara verbal dari saya.

”Tentu saja puisi itu ditulis untukmu, sayang” begitu jawab saya. Benar. Dia hanya butuh pengakuan dari mulut saya. Penegasan. ”Terima kasih ya...” Ada binar di matanya. ”Adek juga cinta, Mas” Ucapnya sambil tersenyum ke arah saya. Selalu begitu. Entah berapa puluh atau ratus kali, dia selalu minta penegasan-penegasan tentang perasaan saya. Dulu, lidah saya begitu kelu untuk mengucap kata-kata semacam itu. Dulu, saya bukanlah seorang yang biasa mencurahkan perasaan dengan kata-kata. Biarlah terpendam. Begitulah.

Tapi sekarang, wanita ini banyak mengajarkan saya untuk saling terbuka. Terbuka untuk saling mengungkapkan perasaan kami. Ya. Karena kami sadar, cinta itu harus terus dipupuk dan disirami. Agar terus bersemai dan berbunga.

Ada Sekeping Rindu

Ada sekeping rindu
Terselip di lubuk hati terdalamku
Hanya untukmu
Jika engkau sadari itu

Ada sebongkah resah
Yang terus mendera
dalam langkah-langkah ini
Wahai bidadariku

Jika engkau berkenan
Maka dengarkan detak rindu itu
Terus mengalun
Dalam sudut-sudut sepi
Di segala relung jiwa ini

Hanya kepadamu
Satu...

Jumat, 10 Oktober 2008

Ada Tidak Ada, Sama Saja !

"Ada tidak ada, sama saja. Tidak ada bedanya!" Pagi itu tiba-tiba dari mulut mungil wanita itu keluar ucapan tersebut. Sepertinya dia begitu marah kepada suaminya. Tentu semua itu ada sebabnya. Ada alasannya. Apapun itu. Tapi, merenungkan kalimat tersebut, tetap saja membuat seseorang yang mendengarnya akan berkenyit. Begitukah?

Saya teringat dengan sebuah ungkapan arab, 'wujuduhu ka'adamihi' yang artinya adanya sama dengan tidak adanya. Ungkapan ini sering untuk menggambarkan seseorang yang di komunitasnya tidak membawa nilai lebih apa-apa. Nol. Sehingga digambarkan ada maupun tidak adanya dia, sama saja komunitas tersebut. Gambaran ini untuk memacu kita untuk semestinya menjadi pribadi yang bernilai lebih di komunitas kita, apapun komunitas tersebut. Bukankah Rasulullah mengatakan 'khairukum anfa'uhum linnaas', sebaik-baik kalian adalah yang paling memberi manfaat bagi manusia?

Bagi kita, komunitas yang terkecil kita bernama keluarga. Dan ketika seseorang telah berkeluarga, maka komunitas terkecil kita itu tentu paling tidak terdiri dari dua insan yaitu suami dan istri. Sebaik-baik suami/istri adalah yang paling memberi manfaat kepada keluarga yang dimilikinya, dalam hal ini pasangannya. Tentu juga anak-anaknya. Begitu kira-kira jika hadist tadi diterapkan dalam konteks ini.

Kembali kepada kalimat di awal alinea tadi, adakah sesuatu yang salah? Kenapa wanita tadi berucap seperti itu? Layakkah? Kita tentu ingat dengan sebuah hadist Rasulullah, Diriwayatkan oleh Ibn Abbas (ra):

Nabi (saw) berkata: "Aku melihat surga. Lalu aku memakan setangkai buah-buahannya. Jika kalian mendapatinya, maka kalian akan memakannya selama dunia masih ada. Aku diperlihatkan neraka, maka aku tidak melihat pemandangan yang lebih buruk dari hari itu. Aku melihat kebanyakan penduduknya adalah wanita." Para sahabat bertanya, "Karena apa, wahai Rasulullah?" Rasulullah saw. menjawab, "Karena kekufurannya." Beliau ditannya, "Apakah mereka kafir terhadap Allah?" Rasulullah saw. menjawab, "Mereka mengingkari suami dan mengingkari kebaikan. Jika kalian berbuat baik kepadanya selama setahun penuh, lalu ia melihat darimu sesuatu (keburukan) satu kali, ia akan berkata, "Aku tidak melihat kebaikanmu sama sekali." (Shahih Bukhari, Kitab Al-Kusuf, Bab Shalat al-Kusuf Jama'atan, juz 1, hlm. 331-332, no. hadits 1.052).

Terdapat hadits lain yang diriwayatkan Abu Sa'id al-khudri, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, "Wahai sekalian wanita, bersedekahlah, karena aku diperlihatkan bahwa kaum kalian adalah kebanyakan penghuni neraka." Mereka bertanya, "Karena apa, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Kalian sering sekali melaknat dan mendurhakai suami. Aku tidak melihat kekurangan akal dan agama yang hilang dari otak pria yang kokoh dari salah seorang kalian." Mereka bertanya, "Dan apakah kekurangan agama dan akal kami, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Bukankah kesaksian seorang perempuan setengah dari kesaksian seorang pria?" Mereka menjawab, "Betul." Beliau berkata, "Itulah kekurangan akalnya. Bukankah jika haidh, ia tidak shalat dan puasa?" Mereka menjawab, "Betul." "Itulah kekurangan agamanya." (Shahih Bukhari, Kitab Tarku al-Haidh ash-Shaum, juz 1 hlm. 115, no. hadits 304)

Jelaslah di sini bahwa hadits ini shahih dan tidak perlu diragukan lagi.

Tidak bersyukur seorang hamba kepada Allah, sampai dia bisa bersyukur (berterima kasih) kepada sesama manusia. Begitu Allah memaklumatkan. Paramater syukur seseorang adalah sejauh mana dia bisa berterima kasih kepada sesamanya. Saya jadi teringat salah satu nasehat Aa Gym dalam berinteraksi dengan manusia, 'ingatlah kebaikan-kebaikannya, dan lupakan kesalahan-kesalahannya kepada kita'

Lalu mengapa Rasulullah mengabarkan bahwa penghuni neraka kebanyakan perempuan? Kata Beliau lebih lanjut, "Karena kekufurannya.". "Mereka mengingkari suami dan mengingkari kebaikan. Jika kalian berbuat baik kepadanya selama setahun penuh, lalu ia melihat darimu sesuatu (keburukan) satu kali, ia akan berkata, "Aku tidak melihat kebaikanmu sama sekali." Barangkali memang demikianlah tabiat wanita. Bisa jadi itu bisa dihilangkan. Karenanya Rasulullah menyuruh agar para wanita lebih banyak bersedekah.

Tentu tidak ada suami yang senang dengan mendengarkan ucapan itu. Tapi sekali lagi itu tabiat. Ada baiknya kita belajar dari seorang Umar. Beliaupun pun ada saatnya dimaki-maki oleh istrinya, dan beliau diam saja. Karena beliau tahu, bagaimanapun istrinya telah berbuat kebaikan yang banyak kepada dirinya dengan mengurus kebutuhan dia dan anak-anaknya.

Seandainya pun anda harus mendengar ucapan tersebut, maka tersenyumlah. Bersikaplah sebagaimana seorang Umar bersikap. Dorong istri anda untuk banyak bersedekah sebagaimana wasiat Rasulullah. Masih banyak sisi kebaikan dan kelebihan yang dia punyai untuk selalu anda ingat. Cintai dia dengan sepenuh hati anda.

Semoga Allah mengumpulkan kita dan keluarga kita di Jannah-Nya kelak, bukan sekedar di dunia yang sungguh amat fana ini. Tentu dengan cinta yang lebih abadi. Amin.

Selasa, 01 Juli 2008

Terpautnya Dua Hati

Berikut ini adalah tulisan istri saya beberapa tahun yang lalu
Kurang lebih 10 tahun yang lalu
Lebih tepatnya beberapa lama setelah kami menikah 05/04/1998

Terpautnya Dua Hati

Namaku Ummu Jundi, umurku dua puluh empat tahun lebih, suamiku Abu Jundi, aku ingin bercerita tentang pertemuanku dengan suamiku tercinta.

Pagi yang cerah, langit berselimutkan cahya mentari yang merona, mega berarak putih. Namun keindahan itu tak terhiraukan oleh lalu lalangnya manusia-manusia yang sibuk dengan urusan masing-masing. Raung kendaraan yang mengeluarkan asap hitam menambah pikuknya kata ini. Inilah Jakarta yang menjadi ladang impian bagi berjuta-juta manusia, pun aku. Keramaian Jakarta tidak membuat perasaanku turut ramai, saat ini aku justru merasa sendiri, benar-benaaar sendiri. Aku merasa butuh seseorang yang menemaniku, menemani hari-hariku, tempatku menumpahkan segala isi hatiku. Siapakah dia? Entah, aku tak berharap selain apa yang ditetapkan oleh Rabbku.

"Kolong-kolong." Suara kondektur menghentikan lamunanku. Aku turun, berjalan menuju ke kantorku, rutinitasku, tempat aku berjuang mempertahankan idealismeku (yang kadang terdengar klasik dan berlebihan) dan tempat yang sering memenjarakanku pada kesendirian.

Ramadhan pagi ini aku lebih bersemangat dibanding pagi-pagi sebelumnya. Hari ini sebelum ke kantar aku harus menemui seniorku di sebuah masjid. Beberapa hari yang lalu beliau menitipkan pesan kepada salah seorang rekanku di kantar agar aku menemuinya untuk sesuatu urusan, penting katanya. Sejak dalam perjalanan tadi pikiraan-pikiran berkecamuk di kepalaku. Mengapa beliau memintaku menemuinya, mengapa harus aku, mengapa di masjid, ada perlu pentingkah. Jangan-jangan ..... ah, aku tak berani meneruskan, berusaha kutepiskan semua pikiran-pikiran itu ketika aku mendapati masjid yang ditetapkan. Kucari beliau, ternyata tak kujumpai, terlalu pagi mungkin. Kulirik Albaku, setengah jam lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Sementara menunggu, kubuka Al-Qur'anku.

"Assalamu 'alaikum." Seseorang menyapaku.

"wa 'alaikum salam." Jawabku sambil kuulurkan tanganku.

"Sudah lama menunggu?" Tanya beliau. "Lumayan” Anggukku.

Kami mengobrol tentang bagaimana Ramadhan ini, tentang pekerjaan dan sampai akhirnya ...

"Gimana, masih tetap siap menikah?" Tanya beliau.

"InsyaAllah, mbak." Robbi, inikah jawaban atas apa yang berkecamuk di fikiranku, inilah awalnya.

"Ini, ada seorang abdullah yang sedang mencari pendamping. Saya berusaha menjodohkannya denganmu, fikirkan dan renungkan sebelum engkau membuat keputusan” Jelas beliau.

Kuterima sebuah amplop dari beliau. Kami berpisah di pelataran masjid. Aku meneruskan perjalanan ke kantor. Sepanjang perjalananku pikiranku terus tertuju ke amplop itu. Aku ingin segera mengetahui isinya. Sebelum aku mengetahuinya, aku telah bertekad bahwa siapapun dia, apakah dia dari kasta brahmana atau kasta sudra, apakah dia pemikir atau pekerja, apakah dia Yusuf atau Bilal, yang terpenting dia berislam dan memegang keislamannya.

Aku tak sabar menunggu sampai di rumah. Sesampai di kantor kubuka amplop itu. Robbi aku telah memutuskan untuk menerimanya. Ada beberapa hal yang membuatku sangat tertarik dengan abdullah, yakni latar belakang keluarganya dan saat ketika ia dilahirkan, nyaris mirip denganku. Robbi inilah awal dari persamaan-persamaan selanjutnya. Aku yakin dia belum mengatahui bahwa akulah yang dipilihkan untuknya, dia pasti belum mengetahui aku. Sementara hari bertambah hari, bertambah keyakinanku bahwa aku menerimanya, tidak ada ganjalan sedikitpun tentangnya. Setiap keyakinanku muncul, muncul pertanyaan apakah aku tidak bertepuk sebelah tangan, apakah dia juga menerimaku, menerima segala kekuranganku setidaknya untuk saat ini.

Kulalui sisa Ramadhan ini dengan lebih mendekatkan diri pada Robbku dengan kepasrahan total. Aku ingin keputusan ini bukan karena nafsuku, tetapi benar-bener karena kehendak Robbku. Ya Robbi, kalau dia baik bagi dinku, bagi keluargaku dan bagiku, maka dekatkanlah ia padaku, kalau tidak maka jauhkanlah ia dariku. Do'a itulah yang selalu kupanjatkan di akhir shalat-shalatku, bahkan dalam perjalanan-perjalananku aku berdzikir dengan itu.

Kepulanganku ke Semarang untuk lebaran tahun ini berbeda dengan kepulangan-kepulanganku sebelumnya. Kali ini ada suatu misi yang herus kusampaikan kepada orang tuaku meski pada diriku pun masih berkecamuk pertanyaan apakah dia juga menerimaku. Memiklikan dia membuatku berdiri di antara harapan dan kecemasan, sampai suatu hari ... "Assalamu 'alaikum. Mbak, afwan saya baru nelfon sekarang. Saya sudah di Semarang nih." Kubagikan kabar dengan beliau.

"Wah, kebetulan nih, dari dia sudah ada kabar."

"Oh, ya mbak." Harapku.

"Dia menerima engkau, mungkin dalam waktu dekat ini dia akan berkunjung ke rumahmu untuk mengenalkan diri ke orang tua. lnsyaAllah tiga hari setelah lebaran, bagaimana ?"

"Alhamdulillah, InsyaAllah saya menanti kunjungannya, mbak." Robbi, sudahkah aku mendekati apa yang aku harapkan selama ini? Apakah jodoh yang engkau janjikan telah begitu dekat padaku. Hanya Engkau tempat aku berharap. Menanti kedatangannya adalah antara harapan dan kecemasan yang lain. Akankah ia benar-benar menerimaku setelah bertemu denganku, melihat keluargaku, atau .... Robbi, berikanlah yang terbaik untukku.

Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ...

Takbir bergema di hari kemenangan. Kupanjatkan syukurku bahwa aku dapat melewati Ramadhan tahun ini. Robbi pertemukanlah aku dengan Ramadhan tahun depan. Aku mengevaluasi tentang hatiku selama Ramadhan ini dan satu hal yang membuatku bahagia adalah kepasrahanku. Kepasrahan tentang apakah si abdullah akan menerimaku atau memang dia bukan yang terbaik untukku. Dengan kepasrahan semua menjadi mudah bagiku. Kala harapan dan kecemasan itu muncul, aku yakin bahwa di situlah kupahami hakekat kemanusiaanku, bahwa selamanya aku butuh bersandar pada-Nya.

Lebaran membuat keluargaku menyempatkan tinggal sejenak di rumah untuk saling memaafkan sebelum kami kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Juga lebaran membuat rumah kami diramaikan oleh tamu-tamu yang silarutahim ke rumah semenjak bapak ditunjuk sebagai sesepuh di kampung. Begitu juga dengan lebaran kali ini.

"Wah, Mbak Ummu, bagaimana kabarnya di Jakarta, kapan nih ?." Canda seorang ibu kepadaku ketika bersilaturahim ke rumah kami.

"lnsyaAllah secepatnya." Jawabku sambil berdoa pada Robbku. Meski selalu itu jawabanku setiap kali pertanyaan tersebut dilontarkan padaku. Namun kali ini pertanyaan itu begitu menyentuh lubuk hatiku.

Di kali yang lain ...

"Ummu, kapan ?" Bulek mencandaiku.

"Tunggu undangannya yang lek'" Balasku, dadaku berdegup lebih kencang.

Di hari ketika aku berpapasan dengan tetangga ...

"Ummu, bagaimana kabarnya, kapan menikah, sekaohnya katanya sudah selesai, sudah bekerja kan tinggal menyenangkan hati orang tua dengan cucu." Begitu berondong seorang ibu kepadaku.

"InsyaAllah secepatnya." Jawabku penuh harap.

Jika pertanyaan-pertanyaan mereka diutarakan dulu mungkin aku tidak melankolis seperti sekarang ini, tapi kini di saat aku berharap.

Tiga hari berlalu dari lebaran, namun gaungnya masih terasa, satu dua orang tamu masih ada yang silaturahim ke rumah. Sementara pikiranku tak juga lepas dari si abdullah, terlebih hari ini, aku menunggu kedatangannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku mengharapkan kedatangan seorang laki-laki. Pagi sekali aku sudah memikirkan apa-apa yang harus kusiapkan dan apa-apa yang akan aku utarakan kepadanya. Waktu terasa berjalan sangat lambat sampai adzan Dhuhur berkumandang. Kuambil air wudhu, aku butuh menenangkan hatiku, aku butuh mengadu. Kututup shalatku dengan do'a Ya Robbi kalau dia baik bagi dinku, bagi keluargaku dan bagiku mudakanlah jalannya menuju rumahku.

Ketika aku beranjak untuk tidur untuk mengistirahatkan perasaanku, terdengar pintu kamarku diketuk bapak.

”Ummu, ada tamu mencarimu."

Robbi, .... diakah si abdullah itu ? Hatiku berdegup makin kencang.

"Assalamu 'alaikum," sapanya.

'Wa 'alaikum salam," balasku. Untuk kali yang pertama kutatap wajahnya. Robbi, dia terlihat bersahaja. Abdullah seandainya aku diijinkan aku ingin engkau meraba dadaku untuk mengetahui betapa cepat detak jantungku menatap saratmu.

Kami ngobrol ditemani bapak, kadang-kadang Ibu dan adikku turut hadir di antara kami. Ada kecanggungan di antara kami, meski sebetulnya banyak hal yang ingin kuutarakan namun aku tak berani bahkan untuk menatap wajahnya.

Lima hari setelah perjumpaan kami yang pertama, disusul dengan perjumpaan kami berikutnya. Kali ini dia datang ditemani ayahnya, beliaukah calon mertuaku. Sejak pagi kami mempersiapkan menyambut kedatangannya.

"Bu, dia akan mengajakku pergi jauh dari ibu nantinya." Pintaku pada ibu.

"Mengapa tidak, selama dia adalah suamimu," jawab ibu melegakanku.

Kira-kira tengah hari dia datang bersama ayahnya. Kunjungannya kali ini untuk membicarakan hari pernikahan kami. Semua pembicaraan berjalan lancar. Robbi, ini adalah awal yang mudah, beginilah seterusnya, pintaku. Aku dapat merasakan semburat kebahagiaan yang terpancar dari wajah orang tuaku.

Satu setengah bulan menjelang pernikahan kumanfaatkan untuk memupuk cintaku padanya. Menurutku dalam penikahan persamaan din adalah terpenting dan cinta menempati posisi yang penting, karenanya saat-saat inilah waktu yang tepat untuk memupuknya. Selama waktu itu kami terpisahkan oleh jarak sehingga komunikasi kami lakukan melalui telfon. Aku selalu sengaja mencari-cari alasan untuk bisa mendengar suaranya. Aku merasakan kedekatanku dengannya bertambah, entah dia, kecanggunganku berangsur-angsur mencair, sampai suatu saat ...

"Aak, saya merasa berdebar-debar menjelang pernikahan kita," aduku padanya.

"Sama, Aak juga merasakannya, dan perasaan itu selalu dialami oleh calon pengantin, insyaAllah semuanya akan lebih baik." Nasehatnya menenangkan.

Hari bersejarah itu tibalah kini. Aku begitu gugup, berbagai perasaan berbaur di hatiku, ada harapan, kecemasan, kebahagiaan dan kesedihan. Ada kebahagiaan yang menyusup di antara debar jantungku ketika mendengar dia mengucapkan ikrarnya, ada kesedihan tatkala aku memohon ijin kedapa bapak agar dinikahkan dengannya. Dan kini semua pertanyaan telah terjawab.

Untuk pertama kalinya tangannya meraih tanganku, mendo'akanku. Kami saling tatap, ternyata ada sejuta kerinduan. Rindu yaang sekian lama terpendam .. Satu kecupannya di keningku tak cukup untuk menawarkan kerinduan kami, ketika dia merengkuhku ke dalam pelukannya, kami ingin mencairkan kerinduan ini.

Namaku Ummu Jundi, usiaku dua puluh lima tahun. Aku bahagia bersuamikan Abu Jundi.

Senin, 30 Juni 2008

Kado Spesial Buat Istriku

Dulu...
Sesaat setelah akad nikah
Saya hulurkan sebuah amplop putih ke tangan istri saya
Sebuah amplop yang saya harapkan bisa menjadi sebuah prasasti
bukti harapan-harapan yang tersemai di hati
Dan semoga senantiasa terjaga hingga kini dan masa yang akan datang

Tulisan itu adalah sebagaimana saya pindai kembali dari kertas aslinya
yang hasilnya adalah seperti di bawah ini.

April 05, 1998

KADO SPESIAL BUAT ISTERIKU TERCINTA

Segala puji hanya milik Allah Penguasa alam semesta. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan atas Junjungan dan Qudwah kita, RasullAllah Muhammad saw beserta keluarga, sahabat dan umatnya yang selalu Iitizam di jalan-Nya hingga yaumil akhir.

Isteriku tercinta ...

Disaat yang bahagia ini, ingin kusampaikan beberapa patah kata sebagai ungkapan hati ini. Sungguh ... hanya karena ijin Allah semata hari ini kita bisa mengikrarkan sebuah ikatan yang teramat suci, yang akan bisa membentengi hati kita dari maksiyat hati. Semoga... ridho-Nya pun akan selalu menaungi langkah-Iangkah kita nantinya.

Isteriku tersayang ...

Allah telah menghalalkan engkau menjadi pendamping hidupku dan kau pun telah mengikhlaskanku menjadi pendampingmu. Aku berharap bahwa keikhlasanmu akan tetap adanya walaupun mungkin akan kautemui hal-hal dalam diriku ini yang mengecewakanmu di kemudian hari, yang tidak sesuai dengan apa yang engkau dambakan. Mudah-mudahan Allah meluruskan niat di hati kita masing-masing.

Isteriku terkasih ...

Kuucapkan terima kasihku dengan setulus-tulusnya atas kesediaan-mu untuk menemani langkah-Iangkah perjuanganku. Semoga Allah membalasnya dengan surga yang telah la janjikan. Isteriku ... , Berbagai rasa terangkum dalam kalbu ini. Marilah kita mantapkan azam dihati kita untuk bersama membina keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah ... yang Allah senantiasa mencurahkan berkahnya dalam hari-hari kita nanti.

Isteriku ...

Engkau telah tahu, bagaimana keadaan diri ini. Kuharap engkau menerimanya dengan penuh keikhlasan. Semuga Allah melapangkan dada kita dan membesarkan hati kita untuk dapat saling menerima segala kekurangan dan kelebihan kita masing-masing. Bantulah aku untuk menerimamu dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Kusadar, menerima kelebihan-kelenihan yang ada pad a dirimu jauh lebih berat daripada menerima kekurangannkekuranganmu. Tapi ... marilah kita atur langkah kita untuk tidak saling menonjolkan kelebihan di antara kita dan tidak mencari-cari kekurangan di antara kita.

Isteriku sayang ...

Hanya kepada Allah-Iah muara hidup kita. Jadikan hari-hari kita sebagai media untuk menggapai ridho-Nya. Satukan cinta kita untuk meraih Cinta disisiiNya ... cinta yang tidak terkotori oleh hawa dan nafsu. Allahu ... ,bimbinglah kami untuk meniti jalan ridho-Mu ... turunkan ketenangan dalam hati-hati kami ... anugerahkan kepada kami keturunan yang sholeh dan sholehah ... Allahumma amien.