Ada sekeping rindu
Terselip di lubuk hati terdalamku
Hanya untukmu
Jika engkau sadari itu
Ada sebongkah resah
Yang terus mendera
dalam langkah-langkah ini
Wahai bidadariku
Jika engkau berkenan
Maka dengarkan detak rindu itu
Terus mengalun
Dalam sudut-sudut sepi
Di segala relung jiwa ini
Hanya kepadamu
Satu...
"Hidup ini seperti aliran air yang akan menuju ke muaranya. Maka jernihkan alirannya..."
Kamis, 21 Agustus 2008
Tentang Keterdahuluan dan Kebersegeraan
Tentang Keterdahuluan dan Kebersegeraan
Saya tidak tahu dua kosa kata di atas ini sesuai dengan kaidah baku Bahasa Indonesia atau tidak. Akan tetapi, keduanya menghiasi pikiran saya tadi malam setelah sebelumnya saya membaca sebuah taujih dari struktur di wilayah saya.
Dalam generasi Islam, kita mengenal adanya asabiqunal awalun, yaitu generasi pertama yang masuk Islam. Mereka memiliki keutamaan-keutamaan yang tidak dimiliki generasi setelahnya, dan Allah pun memuji mereka dengan sebutan umat terbaik (khairu ummah). Sayyid Qutb pun melabeli mereka dengan sebutan generasi qur�ani yang unik, karena kehidupan mereka seolah-olah seperti pengejawantahan sepenuhnya dari nilai-nilai yang terkandung dalam Al Qur�an. Keunggulan keimanan mereka pun kita tentu tidak perlu menyangsikannya.
Dalam beribadah pun kita dikenalkan nilai-nilai bahwa sholat yang di awal waktu itu lebih utama jika dibanding sholat setelah waktu berikutnya bergulir. Nilai shaf pertama lebih baik dari pada shaf-shaf belakangnya. Pun anjuran-anjuran untuk bersegera dalam melakukan amal-amal kebaikan, banyak kita jumpai dalam Al Qur�an, semisal dalam surat Ali Imran : 133 :
133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
Dalam sebuah hadits Rasulullah juga bersabda, �badiru bi a�mali shalih�� bersegeralah kalian dalam beramal shalih, anjuran sekaligus perintah inipun menegaskan urgensi hal tersebut di atas.
Ikhwati fillah�
Kata kunci yang ingin saya tekankan di sini adalah konsep dua hal di atas tadi, pertama keterdahuluan dan yang kedua adalah kebersegeraan. Dengannya maka akan kita mendapatkan kualitas sesungguhnya dari sesuatu yang kita dahulukan dan kita segerakan tadi.
Kedua hal tadi saling terkait tidak bisa lepas satu sama lain, meski tidak selalu. Untuk menjadi barisan generasi terdahulu, tentu seseorang harus bersegera. Tetapi ada kalanya kita �hanya� perlu bersegera, karena ada barisan generasi yang telah mendahului kita. Tapi kita juga harus ingat bahwa akan generasi berikutnya yang akan mengikutinya sehingga pada saatnya kita juga telah �mendahului� mereka.
Kita tentu bisa melihatnya langsung kepada profil generasi sahabat sebagai generasi terbaik. Mereka generasi pertama dalam dakwah ini, pasti. Respon terhadap seruan-seruan kebaikan dan dakwah pun, mereka selalu berlomba-lomba menjadi yang terdepan memberikan contoh dan tauladan.
Begitulah seharusnya...
Terhadap seruan-seruan dakwah dan kebaikan, hendaklah kita berusaha menjadi yang pertama dan bersegera dalam seruan-seruan itu. Jangan pernah terbesit keraguan, jika itu memang seruan dakwah. Jangan pernah berikan peluang berpikir ulang untuk menunda, jika itu adalah seruan-seruan kebaikan. Sebagaimana ketika adzan berkumandang, maka hendaklah kita bersegera untuk menyambut seruan itu.
Kita tentu tidak ingin seperti kaum yahudi yang dalam Al Qur�an suka menawar-nawar perintah dakwah maupun kebaikan. Bahkan mereka pun terlalu banyak bertanya yang tidak seharusnya sehingga hampir-hampir mereka lupa dan lalai dengan perintah yang sesungguhnya. Dan justru itu kemudian mempersulit diri mereka.
Ikhwati fillah...
Ketika kita memanggil anak kita dan kemudian kita melihat respon anak kita tidak bersegera memenuhi panggilan kita, tentu kita akan kecewa bahkan kadang marah. Kita berpikir bahwa sebagai orang tua yang telah membesarkan mereka, semestinya mereka bersegera merespon dan menghampiri kita begitu kita memanggilnya.
Tentu Allah sebagai Dzat yang telah menciptakan kita dan menguasai hidup dan mati kita, jauh lebih berhak untuk kita dahulukan dan segerakan panggilannya. Seruan-seruan Allah melalui seruan-seruan dakwah, selayaknya kita tempatkan dalam urutan teratas dalam aktifitas hidup kita. Sebagaimana sahabat Handzalah yang bersegera memenuhi seruan jihad yang telah berkumandang, meskipun saat itu dia sedang berbulan madu dengan istrinya. Dia tidak perlu menawar-nawar, dia tidak perlu berpikir ulang, karena itu panggilan dari Allah melalui Rasul-Nya.
Semoga Allah, Dzat yang Maha Pemurah, menganugerahi kita semua dengan hati yang peka dengan seruan-seruan-Nya. Sehingga kita bisa menjadi generasi yang selalu terdahulu dan bersegera dalam seruan-seruan itu.
Allahu �alam..
Saya tidak tahu dua kosa kata di atas ini sesuai dengan kaidah baku Bahasa Indonesia atau tidak. Akan tetapi, keduanya menghiasi pikiran saya tadi malam setelah sebelumnya saya membaca sebuah taujih dari struktur di wilayah saya.
Dalam generasi Islam, kita mengenal adanya asabiqunal awalun, yaitu generasi pertama yang masuk Islam. Mereka memiliki keutamaan-keutamaan yang tidak dimiliki generasi setelahnya, dan Allah pun memuji mereka dengan sebutan umat terbaik (khairu ummah). Sayyid Qutb pun melabeli mereka dengan sebutan generasi qur�ani yang unik, karena kehidupan mereka seolah-olah seperti pengejawantahan sepenuhnya dari nilai-nilai yang terkandung dalam Al Qur�an. Keunggulan keimanan mereka pun kita tentu tidak perlu menyangsikannya.
Dalam beribadah pun kita dikenalkan nilai-nilai bahwa sholat yang di awal waktu itu lebih utama jika dibanding sholat setelah waktu berikutnya bergulir. Nilai shaf pertama lebih baik dari pada shaf-shaf belakangnya. Pun anjuran-anjuran untuk bersegera dalam melakukan amal-amal kebaikan, banyak kita jumpai dalam Al Qur�an, semisal dalam surat Ali Imran : 133 :
133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
Dalam sebuah hadits Rasulullah juga bersabda, �badiru bi a�mali shalih�� bersegeralah kalian dalam beramal shalih, anjuran sekaligus perintah inipun menegaskan urgensi hal tersebut di atas.
Ikhwati fillah�
Kata kunci yang ingin saya tekankan di sini adalah konsep dua hal di atas tadi, pertama keterdahuluan dan yang kedua adalah kebersegeraan. Dengannya maka akan kita mendapatkan kualitas sesungguhnya dari sesuatu yang kita dahulukan dan kita segerakan tadi.
Kedua hal tadi saling terkait tidak bisa lepas satu sama lain, meski tidak selalu. Untuk menjadi barisan generasi terdahulu, tentu seseorang harus bersegera. Tetapi ada kalanya kita �hanya� perlu bersegera, karena ada barisan generasi yang telah mendahului kita. Tapi kita juga harus ingat bahwa akan generasi berikutnya yang akan mengikutinya sehingga pada saatnya kita juga telah �mendahului� mereka.
Kita tentu bisa melihatnya langsung kepada profil generasi sahabat sebagai generasi terbaik. Mereka generasi pertama dalam dakwah ini, pasti. Respon terhadap seruan-seruan kebaikan dan dakwah pun, mereka selalu berlomba-lomba menjadi yang terdepan memberikan contoh dan tauladan.
Begitulah seharusnya...
Terhadap seruan-seruan dakwah dan kebaikan, hendaklah kita berusaha menjadi yang pertama dan bersegera dalam seruan-seruan itu. Jangan pernah terbesit keraguan, jika itu memang seruan dakwah. Jangan pernah berikan peluang berpikir ulang untuk menunda, jika itu adalah seruan-seruan kebaikan. Sebagaimana ketika adzan berkumandang, maka hendaklah kita bersegera untuk menyambut seruan itu.
Kita tentu tidak ingin seperti kaum yahudi yang dalam Al Qur�an suka menawar-nawar perintah dakwah maupun kebaikan. Bahkan mereka pun terlalu banyak bertanya yang tidak seharusnya sehingga hampir-hampir mereka lupa dan lalai dengan perintah yang sesungguhnya. Dan justru itu kemudian mempersulit diri mereka.
Ikhwati fillah...
Ketika kita memanggil anak kita dan kemudian kita melihat respon anak kita tidak bersegera memenuhi panggilan kita, tentu kita akan kecewa bahkan kadang marah. Kita berpikir bahwa sebagai orang tua yang telah membesarkan mereka, semestinya mereka bersegera merespon dan menghampiri kita begitu kita memanggilnya.
Tentu Allah sebagai Dzat yang telah menciptakan kita dan menguasai hidup dan mati kita, jauh lebih berhak untuk kita dahulukan dan segerakan panggilannya. Seruan-seruan Allah melalui seruan-seruan dakwah, selayaknya kita tempatkan dalam urutan teratas dalam aktifitas hidup kita. Sebagaimana sahabat Handzalah yang bersegera memenuhi seruan jihad yang telah berkumandang, meskipun saat itu dia sedang berbulan madu dengan istrinya. Dia tidak perlu menawar-nawar, dia tidak perlu berpikir ulang, karena itu panggilan dari Allah melalui Rasul-Nya.
Semoga Allah, Dzat yang Maha Pemurah, menganugerahi kita semua dengan hati yang peka dengan seruan-seruan-Nya. Sehingga kita bisa menjadi generasi yang selalu terdahulu dan bersegera dalam seruan-seruan itu.
Allahu �alam..
Kamis, 07 Agustus 2008
Dasar Pelupa…!
Pagi itu kereta sampai di stasiun tugu lebih cepat dari biasanya. Pukul 04.00 kurang. Langsung saya menemui mas pengojek yang menjadi langganan saya. “Kulo kinten nitih gajayana mas, wau kula tenggo kok mboten ketingal-ketingal” sapanya begitu melihat saya. “Nggih mas, lha angsale tiket malem. Dados nggih sak angsale mawon…” jawab saya.
Menyusuri kawasan jalan magelang, biasanya jika saya pulang dengan naik gajayana yang berarti sampai di jogja sekitar jam 02.00, saya selalu akan menjumpai mobil-mobil parkir berderet. Seakan-akan ada yang sedang punya hajatan pernikahan. Tak kalah motor-motor pun juga berderet di tempat tersendiri. Beginilah kehidupan malam di jogja. Ada dua tempat yang menjadi tempat ’pelepas penat’ di sana, bagi orang-orang bermobil tadi. ”Ya begitu itu mas tiap malam, apalagi kalo akhir pekan begini.” katanya mas ojek ketika saya mengomentari keramaian tersebut.
Saya memang tidak bisa membayangkan, kesenangan macam apa yang orang-orang peroleh di dalam sana. Hanya dalam persepsi saya, setidaknya kehidupan malam di dalam sana biasanya identik dengan musik, minuman keras dan wanita. Ah, semoga saja saya salah. Persepsi itu timbul karena memang saya hanya melihatnya dari tayangan-tayangan di televisi saja.
Tak terasa perjalanan telah sampai di depan rumah saya. Memakan waktu hampir 20 menit. Setelah saya membayar ongkos ojek, langsung saya mengetuk pintu. ”Dek... assalamu’alaikum.” Pelan saya ketok pintu depan rumah saya. ”Wa’alaikumussalam.” sahut istri saya sambil membukakan pintu. Ya, istri saya sudah bangun dan menunggu kedatangan saya. Tadi sewaktu menjelang stasiun tugu, saya sempat ber-sms-an dulu dengannya.
Satu pelukan dan kecupan di keningnya saya persembahkan untuknya. Menu rutin akhir pekan jika saya pulang. Ehmm... sambil mengambilkan segelas air teh hangat, istri saya bertanya, ”Bawa apa Mas...?” ”Ya, paling susu kotak buat anak-anak to.” jawab saya santai. ”Lupa ya..?” lanjutnya. ”Lupa? Memang ada apa? Dek gak ada pesan apa-apa kan kemaren?” saya jadi bertanya-tanya.
Sejenak saya lihat dia memperhatikan tanggal di kalender. Sekali lagi dia berucap, ”Lupa ya..?” sambil tersenyum. Saya masih belum menemukan jawaban pertanyaan tersebut. Dalam kepala saya berputar tiga kata : pulang, lupa, dan kalender. Butuh beberapa saat bagi saya untuk mencari keterkaitkan tiga kata tersebut dengan sikap istri saya. ”Hari ini tanggal berapa?” pancingnya.
Deg. Ternyata saya baru ingat, hari ini adalah milad istri saya. Padahal baru kemaren sore saya menulis perbedaan tanggal lahir saya dan istri yang terbilang mudah di ingat karena tinggal membalikkan saja. Bulan lahir kami pun apalagi sama. ”Memang orang-orang sedunia pada lupa kayaknya...” lanjutnya sambil tersenyum.
Sejenak kembali saya rengkuh dia dalam pelukan saya. ”Afwan ya dek, kelupaan. Selamat milad ya. Semoga di umur yang tersisa semakin membawa berkah. Abi bawa coklat di tas.” kata saya. ”Tapi niatnya buat anak-anak kan?” tanyanya. ”Iya juga sih...” jawab saya sambil tertawa. Istri pun ikut tertawa. Mafhum...
Dari masjid dekat rumah kami, adzan subuh telah berkumandang. Alhamdulillah ya Allah. Kau berikan untukku seorang istri yang menerimaku apa adanya. Karena dalam beberapa hal, saya memang pelupa !
Terima kasih Cinta !
Menyusuri kawasan jalan magelang, biasanya jika saya pulang dengan naik gajayana yang berarti sampai di jogja sekitar jam 02.00, saya selalu akan menjumpai mobil-mobil parkir berderet. Seakan-akan ada yang sedang punya hajatan pernikahan. Tak kalah motor-motor pun juga berderet di tempat tersendiri. Beginilah kehidupan malam di jogja. Ada dua tempat yang menjadi tempat ’pelepas penat’ di sana, bagi orang-orang bermobil tadi. ”Ya begitu itu mas tiap malam, apalagi kalo akhir pekan begini.” katanya mas ojek ketika saya mengomentari keramaian tersebut.
Saya memang tidak bisa membayangkan, kesenangan macam apa yang orang-orang peroleh di dalam sana. Hanya dalam persepsi saya, setidaknya kehidupan malam di dalam sana biasanya identik dengan musik, minuman keras dan wanita. Ah, semoga saja saya salah. Persepsi itu timbul karena memang saya hanya melihatnya dari tayangan-tayangan di televisi saja.
Tak terasa perjalanan telah sampai di depan rumah saya. Memakan waktu hampir 20 menit. Setelah saya membayar ongkos ojek, langsung saya mengetuk pintu. ”Dek... assalamu’alaikum.” Pelan saya ketok pintu depan rumah saya. ”Wa’alaikumussalam.” sahut istri saya sambil membukakan pintu. Ya, istri saya sudah bangun dan menunggu kedatangan saya. Tadi sewaktu menjelang stasiun tugu, saya sempat ber-sms-an dulu dengannya.
Satu pelukan dan kecupan di keningnya saya persembahkan untuknya. Menu rutin akhir pekan jika saya pulang. Ehmm... sambil mengambilkan segelas air teh hangat, istri saya bertanya, ”Bawa apa Mas...?” ”Ya, paling susu kotak buat anak-anak to.” jawab saya santai. ”Lupa ya..?” lanjutnya. ”Lupa? Memang ada apa? Dek gak ada pesan apa-apa kan kemaren?” saya jadi bertanya-tanya.
Sejenak saya lihat dia memperhatikan tanggal di kalender. Sekali lagi dia berucap, ”Lupa ya..?” sambil tersenyum. Saya masih belum menemukan jawaban pertanyaan tersebut. Dalam kepala saya berputar tiga kata : pulang, lupa, dan kalender. Butuh beberapa saat bagi saya untuk mencari keterkaitkan tiga kata tersebut dengan sikap istri saya. ”Hari ini tanggal berapa?” pancingnya.
Deg. Ternyata saya baru ingat, hari ini adalah milad istri saya. Padahal baru kemaren sore saya menulis perbedaan tanggal lahir saya dan istri yang terbilang mudah di ingat karena tinggal membalikkan saja. Bulan lahir kami pun apalagi sama. ”Memang orang-orang sedunia pada lupa kayaknya...” lanjutnya sambil tersenyum.
Sejenak kembali saya rengkuh dia dalam pelukan saya. ”Afwan ya dek, kelupaan. Selamat milad ya. Semoga di umur yang tersisa semakin membawa berkah. Abi bawa coklat di tas.” kata saya. ”Tapi niatnya buat anak-anak kan?” tanyanya. ”Iya juga sih...” jawab saya sambil tertawa. Istri pun ikut tertawa. Mafhum...
Dari masjid dekat rumah kami, adzan subuh telah berkumandang. Alhamdulillah ya Allah. Kau berikan untukku seorang istri yang menerimaku apa adanya. Karena dalam beberapa hal, saya memang pelupa !
Terima kasih Cinta !
Selasa, 05 Agustus 2008
Belajar Ikhlas
Hari Selasa pekan yang lalu, kajian di kantor saya diisi oleh Ust. Sukeri Abdillah. Wajah beliau sudah saya kenali sedari beliau menjadi presenter acara kajian pagi di salah satu stasiun televisi swasta, beberapa tahun yang lalu. Di Jakarta pun, saya pernah sekali sholat Juma’at dengan khatib beliau.
Hari sebelumnya teman-teman sudah senyum-senyum jika bertemu dengan saya, “Ustadz, besok mau mengisi kajian ya?” ledek mereka. Hanya karena nama saya mempunyai kesamaan dengannya. Bahkan pagi menjelang acara dimulai, ada yang iseng menjemput ke meja saya. “Ustadz, acara sudah hendak dimulai. Ustadz dimohon segera ke mushola.” Dan saya pun tidak kalah menggoda, “Oh iya? Kalo begitu kita harus segera ke sana.”
Mushola kami berada di lantai 7. Untuk menuju ke sana kami harus melalui lift, atau kalau mau olah raga sedikit bisa lewat tangga darurat. Ketika memasuki lift, masih saja teman-teman bercanda, ”Ayo, ustadz buruan.” Tiba-tiba pandangan saya tertuju kepada sosok di hadapan saya yang langsung saya kenali. ”Lha ini ustadznya sudah ada. Maaf ustadz, ini temen-temen pada bercanda.” langsung saya salami beliau. ”Oh iya, memang kenapa?” tanyanya langsung nyambung. ”Ini, kebetulan nama kita ada kesamaannya. Cuma kalo saya gak pakai abdillah.” jawab saya. ”Oh, begitu.”
Teman-teman mendadak menjadi kikuk. Mungkin merasa tidak enak saja. Perjalanan menuju mushola kami hanya sempet ngobrol beberapa kata. ”Memang antum dari mana asalnya?” tanya beliau. ”Klaten ustadz.” Jawab saya. ”Oh, kalo saya dari Tegal.” Kata beliau. Hmm...
Pengajian siang hari itu kemudian segera dimulai. Beliau memaparkan tentang makna keikhlasan dalam bekerja. Untuk mencapai keikhlasan, maka ada beberapa hal yang harus kita persiapkan :
1. quwwatul ghoyah wal istiqomah (kekuatan orientasi dan konsistensi)
2. al afwu (meringankan kesalahan orang lain)
3. itsarul amal (mendahulukan kepentingan orang lain)
4. al mujahadah (bersungguh-sungguh)
Saya tidak ingin menguraikan satu per satu poin-poin di atas. Yang ingin saya garis bawahi adalah bahwa ikhlash merupakan sesuatu yang mudah diucapkan, tapi berat dan susah dalam pengamalannya. Ustadz Mujab Mahalli, seorang kyai di bilangan Krapyak Yogyakarta, dalam sebuah bukunya menceritakan tentang contoh sebuah keikhlasan.
Tersebutlah seorang kyai yang mempunyai dua orang santri yang telah lulus dari pondoknya. Kebetulan keduanya bersaudara dan tinggal berdekatan. Sebut saja namanya Karyo dan Kardi. Setelah sekian bulan lamanya mereka tidak bertemu kyai mereka, ada kerinduan dalam diri mereka.
Karyo mengutarakan hal itu kepada istrinya, ”Aku kok kangen sama pak kyai ya, Bune. Bagaimana kalo kita sowan beliau?” ”Ya bagus tho Pakne, saya setuju itu.” jawab istrinya. ”Kita bawa oleh-oleh ya buat beliau, kita punya apa?” tanya Karyo. Mereka hanya seorang petani desa dengan ladang yang tidak begitu luas. ”Ya, cuma ketela di belakang rumah itu, Pakne.” kata istrinya. ”Ya sudah, tujuan kita kan silaturahmi. InsyaAllah beliau berkenan.” kata Karyo mantab.
Singkat cerita, mereka berdua akhirnya sampai di rumah kyai mereka. Kyai dan santri itu banyak berbincang sambil melepas kerinduan mereka. Ketika hari menjelang sore, Karyo dan istrinya berpamitan. ”Tunggu sebentar ya.” kata sang kyai sambil ke ruang dalam mengajak istrinya. ”Nyai, apa yang kita punyai untuk oleh-oleh si Karyo?” tanya kyai kepada istrinya. ”Cuma seekor kambing di belakang itu, kyai.” jawabnya. ”Yo wis, kita bawakan untuk si karyo ya.” kata kyai. Karyo pulang ke desanya sambil menuntun seekor kambing, pemberian sang kyai.
Sampai di rumah, demi melihat Karyo menuntun seekor kambing, Kardi bertanya kepadanya, ”Lah, dari mana kamu yo? Kok pulang-pulang membawa seekor kambing?” ”Dari rumah kyai.” jawab karyo singkat. ”Memang kamu bawa oleh-oleh apa tadi?” tanya kardi penasaran. ”Cuma bawa ketela pohon saja.” kata Karyo.
Tiba-tiba pikiran Kardi berhitung matematis. Jika Karyo saja sowan kyai membawa ketela diberi seekor kambing, kalo bawa seekor kambing pasti dapatnya paling tidak seekor sapi.Begitu pikiran dalam benaknya.
Hari berikutnya, segera Kardi mengajak istrinya sowan ke sang kyai. Tidak lupa dia menuntun seekor kambing buat oleh-oleh gurunya itu. Sesampai di rumah kyai, mereka disambut gembira sang kyai. Sama seperti Karyo, mereka berbincang banyak hal sambil melepas kerinduan mereka. Ketika hari beranjak sore, Kardi berpamitan. ”Tunggu sebentar ya.” kata sang kyai. Kyai dan nyai kemudian masuk ke ruang dalam. ”Nyai, kita punya apa buat oleh-oleh si Kardi?” tanya kyai. ”Tinggal ketela yang di dapur itu, kyai. Pemberian Karyo kemaren.” jawab nyai. ”Ya sudah, bawakan buat si Kardi ya.” kata kyai. Akhirnya Kardi pulang dengan hati dongkol karena hanya memperoleh sekarung ketela. Ia tidak mendapatkan oleh-oleh seperti yang dia bayangkan sebelumnya.
Inilah gambaran sederhana dari makna ikhlash. Bahwa keikhlasan itu adalah manakala dalam beramal maupun beraktifitas, tidak ada pamrih lain yang mengotori niat awal kita.
Apalagi kemudian ketika kita kaitkan dengan hidup kita. Bahwa sesungguhnya misi utama kita diciptakan adalah untuk beribadah kepada-Nya. (lihat QS Adz-Dzariyat : 56). Ini mengandung arti bahwa semestinya semua akfitas keseharian kita ghoyahnya (orientasinya) adalah ’hanya’ untuk beribadah kepada-Nya. Ini dahulu yang perlu diluruskan. Sehingga kemudian dalam perjalanannya, pamrih-pamrih dan kepentingan-kepentingan manusiawi kita semestinya tidaklah yang menjadi orientasi hidup kita.
Ketika orientasi telah benar-benar untuk mengabdi kepada-Nya, dan kita bisa konsisten di sana, maka kembangan-kembangan tadi – kepentingan-kepentingan manusiawi kita baik berupa jabatan, harta, penghargaan, dll – itu adalah pekerjaan-Nya. Dia yang akan mencukupkan kita, sejauh yang menjadi hak kita. Dan manakala Dia telah mencukupkan kita, banyak sedikit rejeki atau hasil yang kita dapat dari-Nya tidaklah penting. Yang terpenting adalah ketika semua itu menjadi berkah bagi hidup kita.
Terus, kesimpulannya ikhlash itu seperti apa? Silakan disimpulkan masing-masing. Saya tidak ingin menyempitkan pandangan kita tentang ikhlash. Yang terpenting adalah bagaimana kita mencoba terus belajar ikhlash, ikhlash, dan ikhlash. Termasuk ikhlash terhadap ketentuan-ketentuan (baik qadha maupun qadar) yang Allah tetapkan atas hidup kita. Dengan terus berkarya dengan sesuatu yang terbaik. Sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.
Allahu a’lam bish-shawab.
Hari sebelumnya teman-teman sudah senyum-senyum jika bertemu dengan saya, “Ustadz, besok mau mengisi kajian ya?” ledek mereka. Hanya karena nama saya mempunyai kesamaan dengannya. Bahkan pagi menjelang acara dimulai, ada yang iseng menjemput ke meja saya. “Ustadz, acara sudah hendak dimulai. Ustadz dimohon segera ke mushola.” Dan saya pun tidak kalah menggoda, “Oh iya? Kalo begitu kita harus segera ke sana.”
Mushola kami berada di lantai 7. Untuk menuju ke sana kami harus melalui lift, atau kalau mau olah raga sedikit bisa lewat tangga darurat. Ketika memasuki lift, masih saja teman-teman bercanda, ”Ayo, ustadz buruan.” Tiba-tiba pandangan saya tertuju kepada sosok di hadapan saya yang langsung saya kenali. ”Lha ini ustadznya sudah ada. Maaf ustadz, ini temen-temen pada bercanda.” langsung saya salami beliau. ”Oh iya, memang kenapa?” tanyanya langsung nyambung. ”Ini, kebetulan nama kita ada kesamaannya. Cuma kalo saya gak pakai abdillah.” jawab saya. ”Oh, begitu.”
Teman-teman mendadak menjadi kikuk. Mungkin merasa tidak enak saja. Perjalanan menuju mushola kami hanya sempet ngobrol beberapa kata. ”Memang antum dari mana asalnya?” tanya beliau. ”Klaten ustadz.” Jawab saya. ”Oh, kalo saya dari Tegal.” Kata beliau. Hmm...
Pengajian siang hari itu kemudian segera dimulai. Beliau memaparkan tentang makna keikhlasan dalam bekerja. Untuk mencapai keikhlasan, maka ada beberapa hal yang harus kita persiapkan :
1. quwwatul ghoyah wal istiqomah (kekuatan orientasi dan konsistensi)
2. al afwu (meringankan kesalahan orang lain)
3. itsarul amal (mendahulukan kepentingan orang lain)
4. al mujahadah (bersungguh-sungguh)
Saya tidak ingin menguraikan satu per satu poin-poin di atas. Yang ingin saya garis bawahi adalah bahwa ikhlash merupakan sesuatu yang mudah diucapkan, tapi berat dan susah dalam pengamalannya. Ustadz Mujab Mahalli, seorang kyai di bilangan Krapyak Yogyakarta, dalam sebuah bukunya menceritakan tentang contoh sebuah keikhlasan.
Tersebutlah seorang kyai yang mempunyai dua orang santri yang telah lulus dari pondoknya. Kebetulan keduanya bersaudara dan tinggal berdekatan. Sebut saja namanya Karyo dan Kardi. Setelah sekian bulan lamanya mereka tidak bertemu kyai mereka, ada kerinduan dalam diri mereka.
Karyo mengutarakan hal itu kepada istrinya, ”Aku kok kangen sama pak kyai ya, Bune. Bagaimana kalo kita sowan beliau?” ”Ya bagus tho Pakne, saya setuju itu.” jawab istrinya. ”Kita bawa oleh-oleh ya buat beliau, kita punya apa?” tanya Karyo. Mereka hanya seorang petani desa dengan ladang yang tidak begitu luas. ”Ya, cuma ketela di belakang rumah itu, Pakne.” kata istrinya. ”Ya sudah, tujuan kita kan silaturahmi. InsyaAllah beliau berkenan.” kata Karyo mantab.
Singkat cerita, mereka berdua akhirnya sampai di rumah kyai mereka. Kyai dan santri itu banyak berbincang sambil melepas kerinduan mereka. Ketika hari menjelang sore, Karyo dan istrinya berpamitan. ”Tunggu sebentar ya.” kata sang kyai sambil ke ruang dalam mengajak istrinya. ”Nyai, apa yang kita punyai untuk oleh-oleh si Karyo?” tanya kyai kepada istrinya. ”Cuma seekor kambing di belakang itu, kyai.” jawabnya. ”Yo wis, kita bawakan untuk si karyo ya.” kata kyai. Karyo pulang ke desanya sambil menuntun seekor kambing, pemberian sang kyai.
Sampai di rumah, demi melihat Karyo menuntun seekor kambing, Kardi bertanya kepadanya, ”Lah, dari mana kamu yo? Kok pulang-pulang membawa seekor kambing?” ”Dari rumah kyai.” jawab karyo singkat. ”Memang kamu bawa oleh-oleh apa tadi?” tanya kardi penasaran. ”Cuma bawa ketela pohon saja.” kata Karyo.
Tiba-tiba pikiran Kardi berhitung matematis. Jika Karyo saja sowan kyai membawa ketela diberi seekor kambing, kalo bawa seekor kambing pasti dapatnya paling tidak seekor sapi.Begitu pikiran dalam benaknya.
Hari berikutnya, segera Kardi mengajak istrinya sowan ke sang kyai. Tidak lupa dia menuntun seekor kambing buat oleh-oleh gurunya itu. Sesampai di rumah kyai, mereka disambut gembira sang kyai. Sama seperti Karyo, mereka berbincang banyak hal sambil melepas kerinduan mereka. Ketika hari beranjak sore, Kardi berpamitan. ”Tunggu sebentar ya.” kata sang kyai. Kyai dan nyai kemudian masuk ke ruang dalam. ”Nyai, kita punya apa buat oleh-oleh si Kardi?” tanya kyai. ”Tinggal ketela yang di dapur itu, kyai. Pemberian Karyo kemaren.” jawab nyai. ”Ya sudah, bawakan buat si Kardi ya.” kata kyai. Akhirnya Kardi pulang dengan hati dongkol karena hanya memperoleh sekarung ketela. Ia tidak mendapatkan oleh-oleh seperti yang dia bayangkan sebelumnya.
Inilah gambaran sederhana dari makna ikhlash. Bahwa keikhlasan itu adalah manakala dalam beramal maupun beraktifitas, tidak ada pamrih lain yang mengotori niat awal kita.
Apalagi kemudian ketika kita kaitkan dengan hidup kita. Bahwa sesungguhnya misi utama kita diciptakan adalah untuk beribadah kepada-Nya. (lihat QS Adz-Dzariyat : 56). Ini mengandung arti bahwa semestinya semua akfitas keseharian kita ghoyahnya (orientasinya) adalah ’hanya’ untuk beribadah kepada-Nya. Ini dahulu yang perlu diluruskan. Sehingga kemudian dalam perjalanannya, pamrih-pamrih dan kepentingan-kepentingan manusiawi kita semestinya tidaklah yang menjadi orientasi hidup kita.
Ketika orientasi telah benar-benar untuk mengabdi kepada-Nya, dan kita bisa konsisten di sana, maka kembangan-kembangan tadi – kepentingan-kepentingan manusiawi kita baik berupa jabatan, harta, penghargaan, dll – itu adalah pekerjaan-Nya. Dia yang akan mencukupkan kita, sejauh yang menjadi hak kita. Dan manakala Dia telah mencukupkan kita, banyak sedikit rejeki atau hasil yang kita dapat dari-Nya tidaklah penting. Yang terpenting adalah ketika semua itu menjadi berkah bagi hidup kita.
Terus, kesimpulannya ikhlash itu seperti apa? Silakan disimpulkan masing-masing. Saya tidak ingin menyempitkan pandangan kita tentang ikhlash. Yang terpenting adalah bagaimana kita mencoba terus belajar ikhlash, ikhlash, dan ikhlash. Termasuk ikhlash terhadap ketentuan-ketentuan (baik qadha maupun qadar) yang Allah tetapkan atas hidup kita. Dengan terus berkarya dengan sesuatu yang terbaik. Sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.
Allahu a’lam bish-shawab.
Jumat, 01 Agustus 2008
Berawal dari kemudahan-kemudahan…
“Akh, bagaimana kalo calon antum umurnya lebih tua dari antum?” Tanya Mas Sam, salah satu personel group nasyid Najmuddin. Murabbi saya yang waktu itu belum menikah, mengamanahkan proses perjodohan saya kepada Mas Sam ini. Saya tahu, banyak akhwat kakak kelas yang masih menunggu ikhwan datang melamarnya. Cerita ini sudah sering saya dengar. “InsyaAllah, saya siap dan tsiqoh.” Jawab saya mantab.
Potongan dialog ini terjadi di sebuah pagi di awal bulan ramadhan, di sebuah rumah kontrakan di dalam kawasan PJMI. Itu adalah awal skenario bertemunya saya dan calon istri. Setelah calon istri saya menerima bio data saya dan tidak ada keberatan, beberapa hari berikutnya saya menerima biodata dia. Sebuah pesan menggantung di sekretariat masjid MBM, ”To Pak Keri : Segera ke rumah saya. Saya tunggu. Sam” Begitu bunyi pesannya.
Harap maklum, komunikasi waktu itu hanya via telepon. Atau catatan-catatan seperti itu. Sehingga kemungkinan infonya akan kadaluarsa amat besar. Tidak seperti sekarang, komunikasi begitu lancarnya baik via hp maupun email.
Pesan itu adalah pesan untuk mengambil bio data. Berjalan kaki, dengan semangat ’45 saya susuri jalanan dari MBM ke PJMI, melewati gang-gang di Pondok Jengkol yang jika musim hujan beceknya minta ampun. Jika melewatinya waktu ba’da Maghrib, maka di sela-sela deretan kamar-kamar kost anak STAN itu, akan kita dengarkan alunan ayat-ayat Al Qur’an dari mereka. Menyejukkan hati.
Dari rumah Mas Sam setelah mengambil bio data, saya kembali ke MBM. Seusai sholat Dhuhur, tidak sabar saya kembali ke kost dulu agar bisa kosentrasi membuka bio data tersebut. Saya belum berani membuka fotonya. Dari bio datanya, saya tahu dia lebih tua dari saya 3 tahun. Kami lahir di bulan yang sama, hanya tanggal yang sedikit dibalik. Jika saya lahir tanggal 20, maka dia dilahirkan tanggal 02. Setelah membaca semuanya akhirnya saya beranikan melihat fotonya dari dalam amplop. Hmmm...
Malam itu, jadwal saya i’tikaf di Masjid Al Hikmah. Saya memang membagi waktu iktikaf beberapa malam di MBM dan beberapa malam berikutnya Al Hikmah. Tak lupa saya bawa amplop tersebut dalam tas saya. Alhamdulillah, Allah makin berikan kemantapan dalam hati untuk menikahinya. Beberapa hari hari kemudian saya kabarkan kemantapan itu kepada Mas Sam, untuk kemudian disampaikan ke calon istri saya.
Itulah kemudian menjadi bagian dari awal-awal kemudahan kami berikutnya. Sampai kemudian akad nikah kami pun bisa berjalan dengan lancar. Semoga Allah senantiasa menyederhanakan dan memudahkan urusan kita.
Potongan dialog ini terjadi di sebuah pagi di awal bulan ramadhan, di sebuah rumah kontrakan di dalam kawasan PJMI. Itu adalah awal skenario bertemunya saya dan calon istri. Setelah calon istri saya menerima bio data saya dan tidak ada keberatan, beberapa hari berikutnya saya menerima biodata dia. Sebuah pesan menggantung di sekretariat masjid MBM, ”To Pak Keri : Segera ke rumah saya. Saya tunggu. Sam” Begitu bunyi pesannya.
Harap maklum, komunikasi waktu itu hanya via telepon. Atau catatan-catatan seperti itu. Sehingga kemungkinan infonya akan kadaluarsa amat besar. Tidak seperti sekarang, komunikasi begitu lancarnya baik via hp maupun email.
Pesan itu adalah pesan untuk mengambil bio data. Berjalan kaki, dengan semangat ’45 saya susuri jalanan dari MBM ke PJMI, melewati gang-gang di Pondok Jengkol yang jika musim hujan beceknya minta ampun. Jika melewatinya waktu ba’da Maghrib, maka di sela-sela deretan kamar-kamar kost anak STAN itu, akan kita dengarkan alunan ayat-ayat Al Qur’an dari mereka. Menyejukkan hati.
Dari rumah Mas Sam setelah mengambil bio data, saya kembali ke MBM. Seusai sholat Dhuhur, tidak sabar saya kembali ke kost dulu agar bisa kosentrasi membuka bio data tersebut. Saya belum berani membuka fotonya. Dari bio datanya, saya tahu dia lebih tua dari saya 3 tahun. Kami lahir di bulan yang sama, hanya tanggal yang sedikit dibalik. Jika saya lahir tanggal 20, maka dia dilahirkan tanggal 02. Setelah membaca semuanya akhirnya saya beranikan melihat fotonya dari dalam amplop. Hmmm...
Malam itu, jadwal saya i’tikaf di Masjid Al Hikmah. Saya memang membagi waktu iktikaf beberapa malam di MBM dan beberapa malam berikutnya Al Hikmah. Tak lupa saya bawa amplop tersebut dalam tas saya. Alhamdulillah, Allah makin berikan kemantapan dalam hati untuk menikahinya. Beberapa hari hari kemudian saya kabarkan kemantapan itu kepada Mas Sam, untuk kemudian disampaikan ke calon istri saya.
Itulah kemudian menjadi bagian dari awal-awal kemudahan kami berikutnya. Sampai kemudian akad nikah kami pun bisa berjalan dengan lancar. Semoga Allah senantiasa menyederhanakan dan memudahkan urusan kita.
Langganan:
Postingan (Atom)