dakwatuna.com - Mesir jatuh ke dalam pelukan Islam. Amru bin ‘Ash r.a. ditetapkan Khalifah Umar bin Khaththab sebagai Gubernur di sana. Suatu hari di hari pertama di bulan dalam sistem penanggalan masyarakat setempat, orang-orang datang menemui Amru bin ‘Ash.
Juru bicara mereka berkata, “Wahai Amirul mukminin, Sungai Nil di tempat kami punya kebiasaan tidak mau mengalirkan air kecuali permintaannya dipenuhi.”
“Apa permintaannya?” tanya Amru bin ‘Ash.
“Kalau sudah tanggal 11 bulan ini, kami biasa mencari seorang anak gadis. Setelah kami menjadikan kedua orang tuanya senang dan ridha, maka kami menyuruh gadis itu berdandan dan berhias seelok mungkin. Lalu kami melemparnya ke Sungai Nil sebagai tumbal,” papar mereka.
Amru bin ‘Ash memotong, “perbuatan itu dilarang oleh Islam dan Islam melenyapkan ajaran buruk sebelumnya.”
Karena tidak ada solusi, para penduduk Mesir yang menetap di sekitar Sungai Nil memutuskan untuk menetap sementara seperti biasa. Bila air Sungai Nil tidak mengalir, mereka berencana pindah ke wilayah lain.
Melihat keadaan itu, Amru bin ‘Ash berkirim surat kepada Khalifah Umar bin Khaththab di Madinah. Amru melaporkan peristiwa yang dihadapinya dan meminta nasihat kepada Umar apa yang mesti ia lakukan.
Umar membalas surat Amru. Dalam suratnya Umar menulis, “Tindakanmu benar. Islam memang menghapus kebiasaan buruk sebelumnya. Aku telah mengirim kertas khusus untuk engkau lempar ke Sungai Nil.”
Surat Umar sampai ke tangan Amru. Amru membaca isi surat khusus yang ditulis Umar untuk Sungai Nil. “Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin untuk Nil penduduk Mesir. Amma ba’du. Jika engkau mengalir karena kemauanmu, janganlah engkau mengalir. Tetapi bila engkau mengalir karena diperintah oleh Allah, maka aku meminta kepada Allah Yang Mahaesa lagi Maha Perkasa agar menjadikanmu mengalir.”
Kertas itu dilempar Amru bin ‘Ash ke Sungai Nil sehari sebelum hari raya Nasrani. Saat itu penduduk Mesir tengah bersiap-siap pindah ke negeri lain karena Sungai Nil yang menjadi sumber penghidupan mereka berhenti mengalirkan air.
Setelah surat Umar dilempar, keesokan harinya, di pagi hari di hari raya Nasrani, air Sungai Nil telah mengalir dengan ketinggian 7 meter lebih hanya dalam waktu semalam. Sejak itu adat buruk masyarakat Mesir melempar tumbal seorang gadis hidup-hidup ke tengah Sungai Nil berhenti.
Peristiwa ini tercatat dalam Tafsir Ibnu Katsir (3/480), Tafsir Al-Qurthubi (13/70-71), Tafsir Fakhrur Razi (21/74-75), Tarikh Al-Khulafa karya Asy-Syuyuti, Thabaqat Asy-Syafi’iyah Al-Kubra karya As-Subkiy, dan kitab-kitab masyhur lainnya.
Oleh: Mochamad Bugi
"Hidup ini seperti aliran air yang akan menuju ke muaranya. Maka jernihkan alirannya..."
Jumat, 29 Agustus 2008
Rabu, 27 Agustus 2008
Siapa bilang menikah itu…
Siapa bilang menikah itu Mahal…?
Banyak contoh memperlihatkan pernikahan yang meskipun sederhana, menghasilkan keluarga-keluarga yang barokah. Jika ada modal, tidak masalah membuat walimahan sedikit semarak, tapi jika pilihan jatuh kepada walimahan yang sederhana, menurut saya itu jauh lebih baik dan berkah. Biar yang modalnya pas-pasan tidak merasa pesimis, seperti saya dulu…
Siapa bilang menikah itu Susah…?
Anda tinggal ‘mengadu’ kepada murabbi/yah anda, maka akan ada seribu jalan menuju ke sana. Murabbi/yah anda insyaAllah akan berusaha mencarikan yang terbaik buat anda. Bantulah mereka dengan doa-doa anda, insyaAllah akan diberikan yang terbaik. Belum punya murabbi/yah? Ya segera cari, donk.
Belum juga dapat murabbi/yah? Cape deh… hari gini masih susah dapatin murabbi/yah? Apa kata dunia…
Siapa bilang menikah itu Rumit…?
Tidak. Bagi ikhwan, anda hanya butuh menyiapkan mahar (sesuai kesepakatan) dengan calon pasangan anda, kemudian menghafal beberapa patah kata ijab-kabul, maka tidak sampai hitungan 15detik, anda telah sah menjadi seorang suami.
Bagi akhwat, anda cukup sedikit ’memaksa’ calon pasangan anda untuk bersama membuat ’keputusan gila’ (ini bahasanya Mr. X), maka orang tua anda tidak ada kata lain kecuali harus segera menikahkan anda.
Siapa bilang menikah itu Menakutkan…?
Banyak sudah orang membuktikan bahwa membuat orang menjadi pemberani. Kalo anda masih taku-takut, berarti anda memang penakut. Bahkan saking pemberaninya, ada yang melakukannya bahkan lebih dari sekali. Berarti tidak menakutkan bukan?
Tidak percaya? Coba saja tanya yang barusan menikah, dijamin jawabannya mereka memang menyesal. Menyesal mengapa tidak menikah sedari dulu.
Siapa bilang menikah itu Beban…?
Justru dengan anda tidak segera menikah, setidaknya anda menjadi beban (baca : tanggung jawab) orang tua antum untuk ikut memikirkan jodoh anda. Jika anda bersegera menikah, berarti anda telah ikut meringankan beban tanggung jawab orang tua anda. Tentu juga murabbi/murabbiyah anda.
Dan yakinlah dengan menikah pula, justru ribuan beban yang seakan menghimpit ruang dada anda, akan segera terlepaskan.
Siapa bilang menikah itu membuat anda tidak kreatif…?
Tidak benar. Justru sebaliknya, menikah membuat anda makin kreatif. Jika anda seorang istri, setidaknya anda akan makin kreatif memilih dan membuat menu masakan, kreatif memilih dan memilah baju yang mesti dipakai, kreatif merajuk kepada suami anda, dan lain-lainnya.
Jika anda seorang suami, anda setidaknya akan semakin kreatif untuk memilih dan mengolah kata, menyusun syair atau sedikit puisi, merangkai kata-kata yang kadang dipaksakan untuk terdengar romantis. Setidaknya seperti yang sedang menulis kalimat-kalimat ini, hehehehe
Banyak contoh memperlihatkan pernikahan yang meskipun sederhana, menghasilkan keluarga-keluarga yang barokah. Jika ada modal, tidak masalah membuat walimahan sedikit semarak, tapi jika pilihan jatuh kepada walimahan yang sederhana, menurut saya itu jauh lebih baik dan berkah. Biar yang modalnya pas-pasan tidak merasa pesimis, seperti saya dulu…
Siapa bilang menikah itu Susah…?
Anda tinggal ‘mengadu’ kepada murabbi/yah anda, maka akan ada seribu jalan menuju ke sana. Murabbi/yah anda insyaAllah akan berusaha mencarikan yang terbaik buat anda. Bantulah mereka dengan doa-doa anda, insyaAllah akan diberikan yang terbaik. Belum punya murabbi/yah? Ya segera cari, donk.
Belum juga dapat murabbi/yah? Cape deh… hari gini masih susah dapatin murabbi/yah? Apa kata dunia…
Siapa bilang menikah itu Rumit…?
Tidak. Bagi ikhwan, anda hanya butuh menyiapkan mahar (sesuai kesepakatan) dengan calon pasangan anda, kemudian menghafal beberapa patah kata ijab-kabul, maka tidak sampai hitungan 15detik, anda telah sah menjadi seorang suami.
Bagi akhwat, anda cukup sedikit ’memaksa’ calon pasangan anda untuk bersama membuat ’keputusan gila’ (ini bahasanya Mr. X), maka orang tua anda tidak ada kata lain kecuali harus segera menikahkan anda.
Siapa bilang menikah itu Menakutkan…?
Banyak sudah orang membuktikan bahwa membuat orang menjadi pemberani. Kalo anda masih taku-takut, berarti anda memang penakut. Bahkan saking pemberaninya, ada yang melakukannya bahkan lebih dari sekali. Berarti tidak menakutkan bukan?
Tidak percaya? Coba saja tanya yang barusan menikah, dijamin jawabannya mereka memang menyesal. Menyesal mengapa tidak menikah sedari dulu.
Siapa bilang menikah itu Beban…?
Justru dengan anda tidak segera menikah, setidaknya anda menjadi beban (baca : tanggung jawab) orang tua antum untuk ikut memikirkan jodoh anda. Jika anda bersegera menikah, berarti anda telah ikut meringankan beban tanggung jawab orang tua anda. Tentu juga murabbi/murabbiyah anda.
Dan yakinlah dengan menikah pula, justru ribuan beban yang seakan menghimpit ruang dada anda, akan segera terlepaskan.
Siapa bilang menikah itu membuat anda tidak kreatif…?
Tidak benar. Justru sebaliknya, menikah membuat anda makin kreatif. Jika anda seorang istri, setidaknya anda akan makin kreatif memilih dan membuat menu masakan, kreatif memilih dan memilah baju yang mesti dipakai, kreatif merajuk kepada suami anda, dan lain-lainnya.
Jika anda seorang suami, anda setidaknya akan semakin kreatif untuk memilih dan mengolah kata, menyusun syair atau sedikit puisi, merangkai kata-kata yang kadang dipaksakan untuk terdengar romantis. Setidaknya seperti yang sedang menulis kalimat-kalimat ini, hehehehe
Lebih hebat dari serangan pasukan Ghassan
”Lebih hebat dari serangan pasukan Ghassan...”
Begitulah bahasa seorang sahabat dari kalangan Anshar, ketika hendak mengabarkan kemelut yang sedang terjadi di rumah tangga Rasulullah. Ketika itu tersiar kabar bahwa Rasulullah memarahi para istrinya dengan mendiamkannya. Hal itu terjadi karena adanya kecemburuan di antara istri-istri Beliau.
Di dalam Tafsir Fi Dzilalil Qur’an, Sayyid Qutb menukil kisah tersebut sebagai bagian dari asbabun nuzul dalam Surat At Tahrim. Ada dua riwayat lain yang juga beliau sampaikan, akan tetapi riwayat ini (lihat HR Muslim : 1428 yang saya kopi paste di bawah ini), terdapat kalimat yang begitu berkesan di benak saya. Kalimat itu merupakan penggambaran yang apik berkaitan dengan ’adanya’ kemelut dalam keluarga Rasulullah.
Digambarkan oleh Umar bahwa saat itu kamu muslimin sedang berjaga-jaga terhadap seorang raja di antara raja-raja Ghassan, yang bermaksud hendak menyerang. Hati dan fikiran kamu muslimin ketika itu sesungguhnya banyak terpusat kepada masalah serangan Bani Ghassan itu. Tiba-tiba mereka mendengar ada ’gonjang-ganjing’ dalam keluarga Rasulullah. Tiba-tiba tersebar kabar bahwa Rasulullah menjauhkan diri dari para isteri beliau. Maka spontan kalimat yang terucap dari mulut sahabat tadi adalah bahwa hal itu ”Lebih hebat dari serangan pasukan Ghassan...”
Memandang dengan kaca mata lain
Ikhwati fillah...
Dalam hal ini Rasulullah adalah profil idaman keluarga dakwah. Posisi beliau sebagai qiyadah dakwah saat itu, tentu menjadi peran sentral dalam dakwah beliau. Semua mata tertuju kepada keharmonisan maupun pernak-pernik kecil keluarga beliau. Inilah bukti nyata bahwa keluarga berada dalam posisi yang strategis dalam pencitraan peran dakwah ini. Kegoncangan yang terjadi dalam keluarga Rasulullah membawa imbas kepada para jundiyahnya, dalam hal ini kepada para sahabat Beliau.
Inilah hakikat itu, kenapa Hasan al Bana memasukkan takwinul baitul muslim (membentuk keluarga muslim) dalam tahapan amal (maratibul ’amal), sebagai salah satu tahapan dari tahapan-tahapan untuk mewujudkan mimpi besar kita semua, yaitu agar Islam ini kembali menjadi ustadziatul alam, guru bagi alam semesta ini.
Ikhwati fillah...
Peran-peran kita selalu bergulir seperti kepingan mata uang. Di sisi lain kita akan berperan sebagai anak dari orang tua kita, tapi di sisi lain kita adalah orang tua dari anak-anak kita. Pun dalam perjalanan dakwah ini, kita harus siap berperan sebagai mutarobbi, sekaligus murabbi di waktu yang lain. Ada kalanya sebagai qiyadah, tapi di lain waktu kita juga sebagai seorang jundiyah.
Maka berkaca dari gambaran sirah di atas, sudah semestinya kita harus selalu berusaha untuk membungkus keluarga kita dengan citra yang baik dan islami. Karena bagaimana pun, kondisi keluarga seorang aktivis dakwah akan selalu menjadi perhatian masyarakat di sekitarnya. Baik buruk dakwah ini bagi mereka akan mereka ukur dari bagaimana kondisi keluarga pendakwahnya, begitu setidaknya.
Kestabilan dari perjalanan dakwah ini, sedikit banyak akan terukur dari seperti apakah kestabilan keluarga para pendakwahnya. Hanya, Rasulullah dan para sahabat dahulu selalu mendapat bimbingan Allah langsung jika ada masalah yang mereka hadapi. Sedang kita? Harus banyak belajar dan mengambil pelajaran dari para pendahulu kita. Sambil terus berdoa agar Allah terus mengokokohkan dakwah ini, salah satunya dengan melalui usaha-usaha kita untuk terus mengokohkan peran-peran strategis keluarga kita. Semoga Allah membimbing dan merahmati kita semua.
Dan inilah hadist yang saya maksud di atas :
HR Muslim (1428)
Dari 'Abdullah bin 'Abbas r.a., katanya: "Telah setahun lamanya aku hendak bertanya kepada 'Umar bin Khaththab tentang makna sebuah ayat, tetapi aku tak berani menanyakan karena hormat ku kepadanya. Setelah musim haji tiba, beliau pergi haji dan aku pun pergi pula bersama-sama dengannya. Ketika kami dalam perjalanan pulang, beliau pernah menyimpang jalan untuk buang hajat dan aku menunggunya hingga beliau selesai.
Kemudian aku berjalan pula kembali bersamanya. Ketika itulah aku bertanya kepada beliau, "Ya, Amirul Mukminan! Siapakah dua orang wanita di antara para isteri Rasulullah saw. yang bekerja sama menentang kebijaksanaan beliau?" Jawab beliau, "Mereka adalah Hafshah dan 'Aisyah." Lalu kata ku, "Demi Allah! Aku bermaksud menanyakan masalah ini kepada anda sejak setahun yang lalu. Tetapi aku tidak berani karena menghormati kehebatan anda." Jawab Umar, "Jangan begitu! Apa yang engkau duga bahwa aku mengetahuinya, tanyalah langsung kepada ku; jika ternyata aku memang mengetahuinya, akan ku jelaskan padamu."
Kata 'Umar selanjutnya, "Di masa jahiliyah, kami tidak pernah mengikut sertakan wanita dalam suatu urusan, sehingga tiba waktunya Allah menentukan kedudukan dan peranan mereka, seperti tersebut dalam firmanNya. Maka pada suatu waktu, ketika aku sedang memikirkan suatu urusan, tiba-tiba isteri ku berkata, "Bagaimana kalau anda buat begini dan begitu?" Lalu kata ku kepadanya, "Mana engkau tahu. Engkau tidak usah turut campur dan jangan susah-susah memikirkan urusan ku." Jawabnya, "Anda ini sangat aneh, hai anak Khaththab! Anda tidak mau bertukar fikiran dengan ku, padahal puterimu (Hafshah) selalu bertukar fikiran dengan Rasulullah saw., sehingga pernah sehari semalam dia bermarahan."
Mendengarkan hal itu, lalu ku kenakan pakaian ku, sesudah itu aku pergi ke rumah Hafshah. Sesampai di rumah Hafshah aku berkata kepadanya, "Hai, puteri ku! Betulkah engkau suka membantah Rasulullah saw. sehingga sehari semalam bermarahan?" Jawab Hafshah, "Demi Allah! Kami hanya bertukar fikiran." Lalu kata ku, "Ketahuilah hai anakku! Aku peringatkan kepada mu siksa Allah dan kemarahan Rasul-Nya. Sekali-kali janganlah engkau terpengaruh dengan kebanggaan seseorang karena kecantikannya dan karena cinta Rasulullah kepadanya." Kemudian aku pergi dan singgah di rumah Ummu Salamah, karena Ummu Salamah itu kerabat ku. Kepadanya kuceritakan hal tersebut di atas. Jawab Ummu Salamah, ”Anda keterlaluan hai anak Khaththab! Anda masuki segala urusan, sampai-sampai kepada urusan rumah tangga Rasulullah saw. dengan para isteri beliau." Ucapan Ummu Salamah itu menyinggung perasaanku, sehingga sangat berkesan di hati ku. Karena itu aku pergi meninggalkannya.
Dan aku mempunyai seorang sahabat dari kalangan Ansar, yang selalu saling memberi informasi satu sama lain antara kami berdua. Saat itu kami sedang berjaga-jaga terhadap seorang raja di antara raja-raja Ghassan, yang bermaksud hendak menyerang kami. Hati dan fikiran kami ketika itu sesungguhnya banyak terpusat kepada masalah serangan Bani Ghassan ini. Tiba-tiba sahabat Ansar ku datang mengetuk pintu seraya katanya, "Buka pintu, buka!" Aku bertanya, "Apakah pasukan Bani Ghassan telah datang?" Jawabnya, "Lebih hebat dari serangan pasukan Ghassan. Rasulullah saw. menjauhkan diri dari para isteri beliau." "Celaka si Hafshah dan 'Aisyah," bisik ku.
Kemudian ku kenakan baju ku, lalu aku pergi menemui Rasulullah saw. Kiranya beliau berada di gudang simpanan barang-barang yang dapat dinaiki dengan tangga. Seorang pelayan Nabi saw. berkulit hitam sedang berada di kepala tangga. Aku berkata kepadanya, "Aku ini 'Umar!" Lalu aku diizinkannya masuk, dan ku ceritakan kepada Rasulullah saw. Hal yang baru ku dengar dan ku alami. Ketika aku menceritakan pertemuan ku dengan Ummu Salamah. Rasulullah saw. tersenyum. Beliau tidur di tikar tanpa alas, pakai bantal kulit berisi sabut. Dekat kaki beliau terletak selonggok biji qarazh dan di dekat kepalanya tergantung kulit yang baru disamak. Aku melihat bekas tikar berkesan di punggun beliau. Karena itu aku menangis sambil berkata, "Ya, Rasulullah Kisra Persia dan Kaisar Rumawi bermewah-mewah di istana mereka dengan apa yang dimilikinya. Anda adalah Rasulullah." Sabda Rasulullah saw., "Apakah engkau tidak rela keduanya memiliki dunia, sedangkan engkau memiliki akhirat?"
Begitulah bahasa seorang sahabat dari kalangan Anshar, ketika hendak mengabarkan kemelut yang sedang terjadi di rumah tangga Rasulullah. Ketika itu tersiar kabar bahwa Rasulullah memarahi para istrinya dengan mendiamkannya. Hal itu terjadi karena adanya kecemburuan di antara istri-istri Beliau.
Di dalam Tafsir Fi Dzilalil Qur’an, Sayyid Qutb menukil kisah tersebut sebagai bagian dari asbabun nuzul dalam Surat At Tahrim. Ada dua riwayat lain yang juga beliau sampaikan, akan tetapi riwayat ini (lihat HR Muslim : 1428 yang saya kopi paste di bawah ini), terdapat kalimat yang begitu berkesan di benak saya. Kalimat itu merupakan penggambaran yang apik berkaitan dengan ’adanya’ kemelut dalam keluarga Rasulullah.
Digambarkan oleh Umar bahwa saat itu kamu muslimin sedang berjaga-jaga terhadap seorang raja di antara raja-raja Ghassan, yang bermaksud hendak menyerang. Hati dan fikiran kamu muslimin ketika itu sesungguhnya banyak terpusat kepada masalah serangan Bani Ghassan itu. Tiba-tiba mereka mendengar ada ’gonjang-ganjing’ dalam keluarga Rasulullah. Tiba-tiba tersebar kabar bahwa Rasulullah menjauhkan diri dari para isteri beliau. Maka spontan kalimat yang terucap dari mulut sahabat tadi adalah bahwa hal itu ”Lebih hebat dari serangan pasukan Ghassan...”
Memandang dengan kaca mata lain
Ikhwati fillah...
Dalam hal ini Rasulullah adalah profil idaman keluarga dakwah. Posisi beliau sebagai qiyadah dakwah saat itu, tentu menjadi peran sentral dalam dakwah beliau. Semua mata tertuju kepada keharmonisan maupun pernak-pernik kecil keluarga beliau. Inilah bukti nyata bahwa keluarga berada dalam posisi yang strategis dalam pencitraan peran dakwah ini. Kegoncangan yang terjadi dalam keluarga Rasulullah membawa imbas kepada para jundiyahnya, dalam hal ini kepada para sahabat Beliau.
Inilah hakikat itu, kenapa Hasan al Bana memasukkan takwinul baitul muslim (membentuk keluarga muslim) dalam tahapan amal (maratibul ’amal), sebagai salah satu tahapan dari tahapan-tahapan untuk mewujudkan mimpi besar kita semua, yaitu agar Islam ini kembali menjadi ustadziatul alam, guru bagi alam semesta ini.
Ikhwati fillah...
Peran-peran kita selalu bergulir seperti kepingan mata uang. Di sisi lain kita akan berperan sebagai anak dari orang tua kita, tapi di sisi lain kita adalah orang tua dari anak-anak kita. Pun dalam perjalanan dakwah ini, kita harus siap berperan sebagai mutarobbi, sekaligus murabbi di waktu yang lain. Ada kalanya sebagai qiyadah, tapi di lain waktu kita juga sebagai seorang jundiyah.
Maka berkaca dari gambaran sirah di atas, sudah semestinya kita harus selalu berusaha untuk membungkus keluarga kita dengan citra yang baik dan islami. Karena bagaimana pun, kondisi keluarga seorang aktivis dakwah akan selalu menjadi perhatian masyarakat di sekitarnya. Baik buruk dakwah ini bagi mereka akan mereka ukur dari bagaimana kondisi keluarga pendakwahnya, begitu setidaknya.
Kestabilan dari perjalanan dakwah ini, sedikit banyak akan terukur dari seperti apakah kestabilan keluarga para pendakwahnya. Hanya, Rasulullah dan para sahabat dahulu selalu mendapat bimbingan Allah langsung jika ada masalah yang mereka hadapi. Sedang kita? Harus banyak belajar dan mengambil pelajaran dari para pendahulu kita. Sambil terus berdoa agar Allah terus mengokokohkan dakwah ini, salah satunya dengan melalui usaha-usaha kita untuk terus mengokohkan peran-peran strategis keluarga kita. Semoga Allah membimbing dan merahmati kita semua.
Dan inilah hadist yang saya maksud di atas :
HR Muslim (1428)
Dari 'Abdullah bin 'Abbas r.a., katanya: "Telah setahun lamanya aku hendak bertanya kepada 'Umar bin Khaththab tentang makna sebuah ayat, tetapi aku tak berani menanyakan karena hormat ku kepadanya. Setelah musim haji tiba, beliau pergi haji dan aku pun pergi pula bersama-sama dengannya. Ketika kami dalam perjalanan pulang, beliau pernah menyimpang jalan untuk buang hajat dan aku menunggunya hingga beliau selesai.
Kemudian aku berjalan pula kembali bersamanya. Ketika itulah aku bertanya kepada beliau, "Ya, Amirul Mukminan! Siapakah dua orang wanita di antara para isteri Rasulullah saw. yang bekerja sama menentang kebijaksanaan beliau?" Jawab beliau, "Mereka adalah Hafshah dan 'Aisyah." Lalu kata ku, "Demi Allah! Aku bermaksud menanyakan masalah ini kepada anda sejak setahun yang lalu. Tetapi aku tidak berani karena menghormati kehebatan anda." Jawab Umar, "Jangan begitu! Apa yang engkau duga bahwa aku mengetahuinya, tanyalah langsung kepada ku; jika ternyata aku memang mengetahuinya, akan ku jelaskan padamu."
Kata 'Umar selanjutnya, "Di masa jahiliyah, kami tidak pernah mengikut sertakan wanita dalam suatu urusan, sehingga tiba waktunya Allah menentukan kedudukan dan peranan mereka, seperti tersebut dalam firmanNya. Maka pada suatu waktu, ketika aku sedang memikirkan suatu urusan, tiba-tiba isteri ku berkata, "Bagaimana kalau anda buat begini dan begitu?" Lalu kata ku kepadanya, "Mana engkau tahu. Engkau tidak usah turut campur dan jangan susah-susah memikirkan urusan ku." Jawabnya, "Anda ini sangat aneh, hai anak Khaththab! Anda tidak mau bertukar fikiran dengan ku, padahal puterimu (Hafshah) selalu bertukar fikiran dengan Rasulullah saw., sehingga pernah sehari semalam dia bermarahan."
Mendengarkan hal itu, lalu ku kenakan pakaian ku, sesudah itu aku pergi ke rumah Hafshah. Sesampai di rumah Hafshah aku berkata kepadanya, "Hai, puteri ku! Betulkah engkau suka membantah Rasulullah saw. sehingga sehari semalam bermarahan?" Jawab Hafshah, "Demi Allah! Kami hanya bertukar fikiran." Lalu kata ku, "Ketahuilah hai anakku! Aku peringatkan kepada mu siksa Allah dan kemarahan Rasul-Nya. Sekali-kali janganlah engkau terpengaruh dengan kebanggaan seseorang karena kecantikannya dan karena cinta Rasulullah kepadanya." Kemudian aku pergi dan singgah di rumah Ummu Salamah, karena Ummu Salamah itu kerabat ku. Kepadanya kuceritakan hal tersebut di atas. Jawab Ummu Salamah, ”Anda keterlaluan hai anak Khaththab! Anda masuki segala urusan, sampai-sampai kepada urusan rumah tangga Rasulullah saw. dengan para isteri beliau." Ucapan Ummu Salamah itu menyinggung perasaanku, sehingga sangat berkesan di hati ku. Karena itu aku pergi meninggalkannya.
Dan aku mempunyai seorang sahabat dari kalangan Ansar, yang selalu saling memberi informasi satu sama lain antara kami berdua. Saat itu kami sedang berjaga-jaga terhadap seorang raja di antara raja-raja Ghassan, yang bermaksud hendak menyerang kami. Hati dan fikiran kami ketika itu sesungguhnya banyak terpusat kepada masalah serangan Bani Ghassan ini. Tiba-tiba sahabat Ansar ku datang mengetuk pintu seraya katanya, "Buka pintu, buka!" Aku bertanya, "Apakah pasukan Bani Ghassan telah datang?" Jawabnya, "Lebih hebat dari serangan pasukan Ghassan. Rasulullah saw. menjauhkan diri dari para isteri beliau." "Celaka si Hafshah dan 'Aisyah," bisik ku.
Kemudian ku kenakan baju ku, lalu aku pergi menemui Rasulullah saw. Kiranya beliau berada di gudang simpanan barang-barang yang dapat dinaiki dengan tangga. Seorang pelayan Nabi saw. berkulit hitam sedang berada di kepala tangga. Aku berkata kepadanya, "Aku ini 'Umar!" Lalu aku diizinkannya masuk, dan ku ceritakan kepada Rasulullah saw. Hal yang baru ku dengar dan ku alami. Ketika aku menceritakan pertemuan ku dengan Ummu Salamah. Rasulullah saw. tersenyum. Beliau tidur di tikar tanpa alas, pakai bantal kulit berisi sabut. Dekat kaki beliau terletak selonggok biji qarazh dan di dekat kepalanya tergantung kulit yang baru disamak. Aku melihat bekas tikar berkesan di punggun beliau. Karena itu aku menangis sambil berkata, "Ya, Rasulullah Kisra Persia dan Kaisar Rumawi bermewah-mewah di istana mereka dengan apa yang dimilikinya. Anda adalah Rasulullah." Sabda Rasulullah saw., "Apakah engkau tidak rela keduanya memiliki dunia, sedangkan engkau memiliki akhirat?"
Kamis, 21 Agustus 2008
Ramadhan Mubarak
Wahai diri...
Sudahkah engkau mempersiapkan diri akan datangnya syahrul mubarak ini
Masih ada waktu tersisa untuk bersiap
Maka, gunakan segera
Lembar Mutaba'ah Harian
Edisi Ramadhan 1429 H
------------------------------------------------------------
No Aktifitas Syiar Yaumiyan Target Harian
------------------------------------------------------------
1 Tilawah Al Qur'an 2 Juz
2 Menghafal Juz 28 3 ayat
3 Sholat Maghrib Berjama'ah di Masjid 1x
4 Sholat Isya' Berjama'ah di Masjid 1x
5 Sholat Subuh Berjama'ah di Masjid 1x
6 Sholat Dhuhur Berjama'ah di Masjid 1x
7 Sholat Ashar Berjama'ah di Masjid 1x
8 Sholat Taraweh 1x
9 Qiyamul Lail 1x
10 Sholat Dhuha 1x
11 I'tikaf
12 Infak dan Shodaqoh
13 Membaca Buku Islami
14 Taklim/Tatsqif/Kajian
15 Mengisi Halaqoh
16 Mengisi taklim/kultum
17 Menghafal Hadist
18 Membaca Dzikir Ma'tsurat 2x
-----------------------------------------------------------
Jadikan Ramadhan kali ini
Yang terindah dalam hidupmu
Sudahkah engkau mempersiapkan diri akan datangnya syahrul mubarak ini
Masih ada waktu tersisa untuk bersiap
Maka, gunakan segera
Lembar Mutaba'ah Harian
Edisi Ramadhan 1429 H
------------------------------------------------------------
No Aktifitas Syiar Yaumiyan Target Harian
------------------------------------------------------------
1 Tilawah Al Qur'an 2 Juz
2 Menghafal Juz 28 3 ayat
3 Sholat Maghrib Berjama'ah di Masjid 1x
4 Sholat Isya' Berjama'ah di Masjid 1x
5 Sholat Subuh Berjama'ah di Masjid 1x
6 Sholat Dhuhur Berjama'ah di Masjid 1x
7 Sholat Ashar Berjama'ah di Masjid 1x
8 Sholat Taraweh 1x
9 Qiyamul Lail 1x
10 Sholat Dhuha 1x
11 I'tikaf
12 Infak dan Shodaqoh
13 Membaca Buku Islami
14 Taklim/Tatsqif/Kajian
15 Mengisi Halaqoh
16 Mengisi taklim/kultum
17 Menghafal Hadist
18 Membaca Dzikir Ma'tsurat 2x
-----------------------------------------------------------
Jadikan Ramadhan kali ini
Yang terindah dalam hidupmu
Ada Sekeping Rindu
Ada sekeping rindu
Terselip di lubuk hati terdalamku
Hanya untukmu
Jika engkau sadari itu
Ada sebongkah resah
Yang terus mendera
dalam langkah-langkah ini
Wahai bidadariku
Jika engkau berkenan
Maka dengarkan detak rindu itu
Terus mengalun
Dalam sudut-sudut sepi
Di segala relung jiwa ini
Hanya kepadamu
Satu...
Terselip di lubuk hati terdalamku
Hanya untukmu
Jika engkau sadari itu
Ada sebongkah resah
Yang terus mendera
dalam langkah-langkah ini
Wahai bidadariku
Jika engkau berkenan
Maka dengarkan detak rindu itu
Terus mengalun
Dalam sudut-sudut sepi
Di segala relung jiwa ini
Hanya kepadamu
Satu...
Langganan:
Postingan (Atom)