“Mas, sebetulnya umi belum mantab masukin Ghifar ke SD ini.” Deg! Ucapan ini diucapkan istriku pada minggu kedua Ghifar masuk sekolah ini.
Terus terang, sekolah ini memang menjadi prioritas kesekian ketika kami mulai searching SD untuk anak kami Ghifar. Prioritas utama adalah Ghifar sekolah di SD yang sama dengan kedua kakaknya. Tapi lokasi sekolah untuk siswa baru harus di gedung yang baru dan lokasinya menjauh dari arah kantor istri, membuat kami terpaksa urung dari rencana ini. Setelah menimbang beberapa sekolah dan kepraktisan antar jemput Ghifar, akhirnya kami memilih SD ini.
Dulu ketika istri memutuskan untuk memilih SD ini, aku sendiri kurang begitu mantab. Ada beberapa harapan yang mungkin tidak akan ditemukan di sekolah ini. Tapi mengingat beberapa pertimbangan, utamanya agar tidak merepotkan istri dalam antar jemput (maklum sampai saat ini kami masih harus terpisah jarak Jogja-Jakarta), maka aku memantabkan hati ini pada pilihan itu. Aku munculkan sisi-sisi positif dari sekolah ini. Setidaknya yang aku tahu, sekolah ini juga menjadi pilihan para orang tua karena prestasi akademiknya termasuk yang terbaik di kota ini.
Di awal sempat aku dengar kekurangmantapan istriku, tapi setelah kemudian dia terlihat cukup mantab maka aku pun menjadi tenang. Maka ketika istriku tiba-tiba mengucapkan kembali kekurangmantapan itu justru setelah dua minggu masa sekolah mulai berjalan, aku sedikit kaget. Bukan apa-apa, karena pilihan sekolah ini awalnya juga berasal dari istriku. Aku tidak berani mengajukan beberapa pilihan sekolah yang menurutku lebih pas, karena lokasinya yang memang tidak strategis untuk ukuran single fighter seperti istriku saat ini.
Ucapan itu tidak muncul tiba-tiba. Minggu pertama sekolah tidak ada persoalan yang cukup berarti, karena tiga hari pertama sekolah hanya sampai pukul 09.00 sehingga selalu ditungguin istri sampai pulang. Tiga hari berikutnya masih relatif wajar-wajar saja, pagi diantar istriku pulangnya dijemput oleh saudara kami. Alhamdulillah, hari sabtu minggu pertama itu aku sendiri yang menjemput Ghifar ke sekolah, dilanjutkan menjemput kedua kakaknya di sekolah yang lain.
Masalah kecil mulai sedikit muncul ketika kemudian Ghifar mulai berinteraksi dengan teman-temannya yang sebagian besar berasal dari kalangan yang cukup berada, yang tentu mempunyai gaya hidup yang sedikit berbeda. Ada beberapa budaya, cara didik, cara interaksi dan pembiasaan-pembiasaan yang barangkali tidak kami temukan di sekolah kedua kakaknya. Sebagai contoh tentang uang saku anak, tentang penjual yang bisa masuk ke sekolah, tentang kegiatan-kegiatan dan interaksi antara para wali dan orang tua, dan beberapa hal lainnya.
Sedikit banyak, mau tidak mau ini membawa pengaruh bagi perkembangan anak kami Ghifar, yang sebelumnya kami sekolahkan di sebuah TKIT di dekat rumah, di sebuah kampung, yang pola pendidikan dan para pengasuhnya cukup bersahaja. Ada sedikit “kekagetan” budaya yang dialami anak kami, walau sebetulnya aku yakin ini merupakan sebuah proses pembelajaran untuk anak kami juga. Belum lagi gaya hidup dan interaksi antar orang tua dan wali yang kadang membuat kami kurang nyambung. Semua itu pada akhirnya menimbulkan sedikit galau di hati istriku sehingga muncullah kalimat seperti di awal tadi.
Kegalauan istriku (yang juga kemudian menjadi kegalauanku) sebagai orang tua, tentu sesuatu yang wajar. Dalam benak kami, masa depan anak-anak kami nanti tentu lebih berat dari pada masa-masa yang kami hadapi sekarang ini. Sehingga wajar jika kami kemudian berharap anak-anak kami mendapatkan bekal yang cukup dan memadai untuk melewati masa-masanya nanti. Tentu bukan sekedar bekal akademik, tapi juga bekal mental spiritual berupa keyakinan dan keimanan yang memadai. Termasuk budaya dan kebiasaan-kebiasaan yang membangun.
Alhamdulillah, semua tadi ternyata merupakan bentuk “kekagetan-kekagetan” kami sebagai orang tua, sebagaimana ‘kekagetan-kekagetan’ itu sebetulnya telah dirasakan dan dilewati anak kami sebelumnya. Maka aku menganggapnya itu sebagai proses pembelajaran dan pendewasaan anak kami untuk menghadapi masanya nanti, dan sekaligus merupakan bentuk pembelajaran dan pendewasaan kami sebagai orang tua untuk terus mengawal, mengarahkan, dan mendidik anak-anak kami. Bahwa kapan pun, pasti mereka akan bertemu dengan keadaan seperti itu. Dan yang diperlukan adalah ilmu bagaimana menghadapi kondisi dan keadaan seperti itu.
Melepas anak ke sebuah sekolah, adalah sebuah pilihan. Maka kita harus siap dengan segala konsekuensinya. Tentu kita telah mengkalkulasi untung dan ruginya. Tentu kita telah mempertimbangkan keunggulan dan kelemahan sekolah tersebut. Yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah mengoptimalkan keunggulan-keunggulan sekolah tersebut bagi perkembangan anak kita dan di saat yang bersamaan kita tutupi kelemahan-kelemahan sekolah tersebut dengan program-program keluarga yang bisa diterima dan dijalankan anak kita. InsyaAllah dengan demikian, dimanapun kita menyekolahkan anak kita, maka mereka akan mendapatkan bekal yang cukup dan memadai untuk masa depannya nanti.
"Yesterday is History, Tomorrow a Mystery, Today is a Gift, Thats why it's called the Present"
Finished @Gedung Utama lt. 19. March 17, 2011. 10.55 WIB.
"Hidup ini seperti aliran air yang akan menuju ke muaranya. Maka jernihkan alirannya..."
Kamis, 17 Maret 2011
Kamis, 23 Desember 2010
Taburkan Cinta, Kamu Menuai Cinta (Lanjutan tulisan sebelumnya)
Taburkan Cinta, Kamu Menuai Cinta (Lanjutan tulisan sebelumnya)
Suatu saat Abu Sufyan berkata, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang mencintai seseorang seperti cinta sahabat kepada Muhammad.” Selalu kita saksikan dalam perjalanan dakwah dan hidup Rasulullah, betapa para sahabat begitu sangat mencintai beliau. Jiwa dan raga mereka, bahkan kedua orang tua mereka pun siap dipertaruhkan demi Rasulullah. Kecintaan para sahabat itu tumbuh dan berkembang, karena terlebih dulu Rasulullah menunjukkan kecintaan yang tulus kepada para sahabatnya, kepada umatnya. Tak pernah lelah. Ya, Rasulullah Saw senantiasa mencurahkan cintanya kepada para sahabat dan umatnya, serta kepada seluruh umat manusia.
Begitu cintanya kepada umatnya, hingga suatu hari ketika Jibril turun pada Rasulullah dan mendapati Beliau sedang menangis, Jibril bertanya, “Apa yang kamu tangisi?” Rasulullah menjawab, “Umatku wahai Jibril.” Maka Jibril memberinya kabar gembira dari Allah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang, “Kami meridhaimu, terhadap umatmu dan kami tidak menyedihkanmu.” (HR. Muslim). Cinta Rasululullah Saw. pada umatnya amat besar. Sampai-sampai menempatkannya dalam posisi yang lebih dekat kepada mereka dari pada diri mereka sendiri. Kasih sayang beliau telah terpatri dalam hati mereka. Sehingga anggota badan mereka terbius oleh cintanya dan lidah mereka berucap karena kekuatan cinta beliau.
Inilah dakwah. Inilah tabiat cinta. Alangkah indahnya perkataan yang penuh hikmah berikut, “Tidak ada yang menguatkan cinta kecuali cinta. Setiap kali engkau mencintai seseorang dan memberikannya dengan sepenuh hati, berarti engkau telah menambah darah baru dalam hatinya.” Maka, dakwah itu cinta. Selalu sediakan dan kembangkan energi cinta dalam dirimu. Dakwah itu mentransformasikan semua potensi dan energi cinta itu ke dalam aktifitas-aktifitas perbaikan, dan memformulasikannya dalam bentuk kebaikan-kebaikan.
Pada perjalanan dinas selama sepekan di Surabaya bulan lalu, aku bertemu dengan orang-orang yang penuh cinta. Bahkan sebagian besar dari mereka belum pernah bertemu muka denganku sama sekali. Ya, dakwahlah yang telah mempertemukan kami. Kepada mereka, meski hanya sesaat, aku sempatkan untuk mengunjungi ruangan-ruangan mereka. Dengan diantar oleh seorang ikhwah, yang bahkan harus datang dari kantor lain untuk menyempatkan diri bertemu muka, kami berjaulah dari ruang ke ruang. Aku temukan wajah-wajah cerah itu, wajah-wajah yang penuh optimisme. Ah, dakwah itu memang indah. Hampir di setiap tempat aku mempunyai pengalaman seperti ini.
Kawan, aku yakin kita semua sering mendapatkan pengalaman yang sejenis, dan itu adalah berkah dari dakwah ini. Aku yakin ada cerita-cerita yang jauh lebih heroik dan sangat berkesan di dasar hati kita semua. Sahabat-sahabatku yang pernah atau sedang merasakan penempatan di luar jawa, pasti mempunyai cerita-cerita dakwah yang sulit untuk dilupakan. Ya. Selalu ada warna dalam perjalanan dan pengalaman dakwah kita. Dan karena ini pulalah salah satunya yang membuatku semakin jatuh hati dengan dakwah ini. Bagiku, berpisah dengan dakwah ini laksana pohon yang tak lagi berbuah : hampa. Semoga kita semua selalu di-istiqomah-kan di atas jalan ini. Amin.
Suatu saat Abu Sufyan berkata, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang mencintai seseorang seperti cinta sahabat kepada Muhammad.” Selalu kita saksikan dalam perjalanan dakwah dan hidup Rasulullah, betapa para sahabat begitu sangat mencintai beliau. Jiwa dan raga mereka, bahkan kedua orang tua mereka pun siap dipertaruhkan demi Rasulullah. Kecintaan para sahabat itu tumbuh dan berkembang, karena terlebih dulu Rasulullah menunjukkan kecintaan yang tulus kepada para sahabatnya, kepada umatnya. Tak pernah lelah. Ya, Rasulullah Saw senantiasa mencurahkan cintanya kepada para sahabat dan umatnya, serta kepada seluruh umat manusia.
Begitu cintanya kepada umatnya, hingga suatu hari ketika Jibril turun pada Rasulullah dan mendapati Beliau sedang menangis, Jibril bertanya, “Apa yang kamu tangisi?” Rasulullah menjawab, “Umatku wahai Jibril.” Maka Jibril memberinya kabar gembira dari Allah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang, “Kami meridhaimu, terhadap umatmu dan kami tidak menyedihkanmu.” (HR. Muslim). Cinta Rasululullah Saw. pada umatnya amat besar. Sampai-sampai menempatkannya dalam posisi yang lebih dekat kepada mereka dari pada diri mereka sendiri. Kasih sayang beliau telah terpatri dalam hati mereka. Sehingga anggota badan mereka terbius oleh cintanya dan lidah mereka berucap karena kekuatan cinta beliau.
Inilah dakwah. Inilah tabiat cinta. Alangkah indahnya perkataan yang penuh hikmah berikut, “Tidak ada yang menguatkan cinta kecuali cinta. Setiap kali engkau mencintai seseorang dan memberikannya dengan sepenuh hati, berarti engkau telah menambah darah baru dalam hatinya.” Maka, dakwah itu cinta. Selalu sediakan dan kembangkan energi cinta dalam dirimu. Dakwah itu mentransformasikan semua potensi dan energi cinta itu ke dalam aktifitas-aktifitas perbaikan, dan memformulasikannya dalam bentuk kebaikan-kebaikan.
Pada perjalanan dinas selama sepekan di Surabaya bulan lalu, aku bertemu dengan orang-orang yang penuh cinta. Bahkan sebagian besar dari mereka belum pernah bertemu muka denganku sama sekali. Ya, dakwahlah yang telah mempertemukan kami. Kepada mereka, meski hanya sesaat, aku sempatkan untuk mengunjungi ruangan-ruangan mereka. Dengan diantar oleh seorang ikhwah, yang bahkan harus datang dari kantor lain untuk menyempatkan diri bertemu muka, kami berjaulah dari ruang ke ruang. Aku temukan wajah-wajah cerah itu, wajah-wajah yang penuh optimisme. Ah, dakwah itu memang indah. Hampir di setiap tempat aku mempunyai pengalaman seperti ini.
Kawan, aku yakin kita semua sering mendapatkan pengalaman yang sejenis, dan itu adalah berkah dari dakwah ini. Aku yakin ada cerita-cerita yang jauh lebih heroik dan sangat berkesan di dasar hati kita semua. Sahabat-sahabatku yang pernah atau sedang merasakan penempatan di luar jawa, pasti mempunyai cerita-cerita dakwah yang sulit untuk dilupakan. Ya. Selalu ada warna dalam perjalanan dan pengalaman dakwah kita. Dan karena ini pulalah salah satunya yang membuatku semakin jatuh hati dengan dakwah ini. Bagiku, berpisah dengan dakwah ini laksana pohon yang tak lagi berbuah : hampa. Semoga kita semua selalu di-istiqomah-kan di atas jalan ini. Amin.
Seperti Pohon yang tak lagi Berbuah : Hampa
Dakwah itu cinta. Kalimat pendek dari judul tulisan ustadz yang digelari syaikut tarbiyah ini, sungguh teramat mengesankanku. Suatu saat dalam perenunganku, pernah terbesik dalam keinginanku untuk membuat buku dengan judul singkat itu : Dakwah itu cinta. Ada banyak ekspresi cinta bisa dihubungkan dengan perjalanan bersama dakwah ini. Semua berkelibat penuh dalam kepala ini, tapi sampai sekarang tak pernah tuntas untuk dituangkan ke dalam tulisan. Semua seakan cukup menjadi hiasan indah dalam kepala ini. Tak mengapa.
Dakwah itu cinta. Melalui dakwah inilah aku dikenalkan kepada cinta yang sesungguhnya. Selalu ada banyak warna dalam perjalanan cinta seseorang. Dulu, murabbi pertamaku telah menuntunku dengan penuh cinta, di saat bahkan aku membaca Al Qur’an saja masih sangat terbata-bata. Darinya aku mulai merasa mesra dan dekat dengan Al Qur’an. Mengejanya dan mentadaburinya ayat demi ayat, meski tertatih-tatih, sungguh itu sangat menentramkanku. Aku masih ingat jika giliran tilawah sampai di depanku, aku akan selalu merasa panas dingin. Tapi dia tak pernah mencela bacaanku.
Dakwah ini juga telah menuntun dan mengarahkan orientasi cintaku. Dengan penuh kerelaan. Bukan perkara mudah, ketika kita harus berani memutus sesuatu yang telah lama terjalin di hati kita, kemudian mengarahkan kepada sesuatu yang lebih bersih dan diridhoi. Maka jangan heran ketika kemudian muncul nasyid dengan judul “Langgam kenangan muda” nya Suara Persaudaraan. Secara kebetuan nasyid itu muncul pada masa-masa pengenalan orientasi cintaku. Sampai kini bahkan nasyid itu masih membekas dalam ingatanku. Ah, cinta itu kadang memang aneh bagiku.
Dakwah ini telah mempertemukanku dengan orang-orang yang lembut dan penuh cinta. Tak pernah ada batasan usia di antara kita untuk saling mengekspresikan cinta. Tak pernah ada dinding status yang membentengi di antara kita untuk saling mengungkapkan rindu. Kelembutan dan cinta itu seakan lekat. Senyum dan sapa mereka selalu khas. Dari sinilah pula aku berlatih tentang ukhuwah dan makna berlapang dada. Semua itu membuatku makin nyaman dengan dakwah ini. Selalu ada kerinduan yang membuncah, ketika lama tidak berinteraksi dengan aktifitas-aktifitas di dalamnya.
Dakwah itu cinta. Dakwah itu mengajak dengan cinta, bukan dengan kebencian dan caci maki. Selalu ada cinta untuk disemai. Seorang dai, ketika melihat kemungkaran, maka energi cintanya akan menuntun untuknya agar sebisa mungkin mencegah kemungkaran tersebut. Apatah lagi untuk mengajak dan memulai kebaikan, ajakan dengan penuh cinta lah yang akan mudah untuk mendapatkan sambutan. Karena ajakan dengan cinta itu adalah ajakan akan ketulusan. Dan ketulusan itu berawal dari hati. Maka ajakan dengan hati, tentulah akan direspon dengan sambutan dari hati juga.
(bersambung - masih dengan dakwah itu cinta)
Dakwah itu cinta. Melalui dakwah inilah aku dikenalkan kepada cinta yang sesungguhnya. Selalu ada banyak warna dalam perjalanan cinta seseorang. Dulu, murabbi pertamaku telah menuntunku dengan penuh cinta, di saat bahkan aku membaca Al Qur’an saja masih sangat terbata-bata. Darinya aku mulai merasa mesra dan dekat dengan Al Qur’an. Mengejanya dan mentadaburinya ayat demi ayat, meski tertatih-tatih, sungguh itu sangat menentramkanku. Aku masih ingat jika giliran tilawah sampai di depanku, aku akan selalu merasa panas dingin. Tapi dia tak pernah mencela bacaanku.
Dakwah ini juga telah menuntun dan mengarahkan orientasi cintaku. Dengan penuh kerelaan. Bukan perkara mudah, ketika kita harus berani memutus sesuatu yang telah lama terjalin di hati kita, kemudian mengarahkan kepada sesuatu yang lebih bersih dan diridhoi. Maka jangan heran ketika kemudian muncul nasyid dengan judul “Langgam kenangan muda” nya Suara Persaudaraan. Secara kebetuan nasyid itu muncul pada masa-masa pengenalan orientasi cintaku. Sampai kini bahkan nasyid itu masih membekas dalam ingatanku. Ah, cinta itu kadang memang aneh bagiku.
Dakwah ini telah mempertemukanku dengan orang-orang yang lembut dan penuh cinta. Tak pernah ada batasan usia di antara kita untuk saling mengekspresikan cinta. Tak pernah ada dinding status yang membentengi di antara kita untuk saling mengungkapkan rindu. Kelembutan dan cinta itu seakan lekat. Senyum dan sapa mereka selalu khas. Dari sinilah pula aku berlatih tentang ukhuwah dan makna berlapang dada. Semua itu membuatku makin nyaman dengan dakwah ini. Selalu ada kerinduan yang membuncah, ketika lama tidak berinteraksi dengan aktifitas-aktifitas di dalamnya.
Dakwah itu cinta. Dakwah itu mengajak dengan cinta, bukan dengan kebencian dan caci maki. Selalu ada cinta untuk disemai. Seorang dai, ketika melihat kemungkaran, maka energi cintanya akan menuntun untuknya agar sebisa mungkin mencegah kemungkaran tersebut. Apatah lagi untuk mengajak dan memulai kebaikan, ajakan dengan penuh cinta lah yang akan mudah untuk mendapatkan sambutan. Karena ajakan dengan cinta itu adalah ajakan akan ketulusan. Dan ketulusan itu berawal dari hati. Maka ajakan dengan hati, tentulah akan direspon dengan sambutan dari hati juga.
(bersambung - masih dengan dakwah itu cinta)
Kamis, 25 November 2010
POSISI TEMPAT DUDUK TANGGAL २३ & 26 DESEMBER 2010
POSISI TEMPAT DUDUK TANGGAL 23 DESEMBER 2010 (Senja Jogja)……
GERBONG 3….
1 Kumendan G3 5A
2 Kumendan G3 5B
3 Mr. Santos G3 5C
4 Mars G3 5D
5 Ofiq G3 6A
6 Nuno G3 6B
7 Warit G3 6C
8 Farh G3 13B
9 DNiken G3 13C
10 Temen Sug-TNA3 G3 14B
GERBONG 6….
1 Temen Adik-1 G6 1A
2 Temen Adik-2 G6 1B
3 Nady W G6 2A
4 Denn G6 2B
5 Temen Rakh-1 G6 2C
6 Temen Rakh-2 G6 2D
7 Haryn G6 3A
8 Teg G6 3B
9 Temen Farh-1 G6 3C
10 Temen Farh-2 G6 3D
11 Agus G6 4A
12 Hikmah G6 4B
13 Anang G6 4C
14 Sutart G6 4D
15 Supri G6 5A
16 Masker G6 5B
17 Ishary G6 5C
18 Rahmat-Mampang G6 5D
19 Sug TA3 G6 6A
20 Dewi G6 6B
21 Ana G6 6C
22 Temen Mars G6 6D
23 Rakh a G6 7A
24 Tjan G6 7B
25 Kunc G6 7C
26 Budi G6 7D
27 Mansur G6 8A
28 Agung-Sra G6 8B
29 Hadi n G6 8C
30 Erwan G6 8D
31 Joko k G6 9A
32 Aditya G6 9B
33 Didik G6 9C
34 Robi G6 9D
35 Anjar G6 10A
36 Tata G6 10B
37 Ari W G6 10C
38 Herry N G6 10D
catatan : tolong masing-masing ingat pasangannya ya…..soalnya 1 tiket 4 TDD…..
Tanggal 26 Desember :
Senja Solo Gerbong 6
1. Sug 10 A
2. Farh 10 B
3. Agung 10 C
4. Anang 9 A
5. Tarta 9 B
6. Ari 8 A
7. Adit 8 B
8. Supri 8 C
9. Masker 8 D
10.Agush 7 A
11.Nadyan 7 B
12.Deny 7 C
13.Rahmad 7 D
14.Tjan 6 A
15.Maskun 6 B
16.Robbi 6 C
17.Irawan 6 D
18.Teguh 5 A
19.Erwan 5 B
20.Joko 5 C
21.Didik 5 D
22.Mansyur 4 D
23.Tata 4 C
24.HerryN 4 B
Senja Solo Gerbong 5
1. Pak Haji 2 A
GERBONG 3….
1 Kumendan G3 5A
2 Kumendan G3 5B
3 Mr. Santos G3 5C
4 Mars G3 5D
5 Ofiq G3 6A
6 Nuno G3 6B
7 Warit G3 6C
8 Farh G3 13B
9 DNiken G3 13C
10 Temen Sug-TNA3 G3 14B
GERBONG 6….
1 Temen Adik-1 G6 1A
2 Temen Adik-2 G6 1B
3 Nady W G6 2A
4 Denn G6 2B
5 Temen Rakh-1 G6 2C
6 Temen Rakh-2 G6 2D
7 Haryn G6 3A
8 Teg G6 3B
9 Temen Farh-1 G6 3C
10 Temen Farh-2 G6 3D
11 Agus G6 4A
12 Hikmah G6 4B
13 Anang G6 4C
14 Sutart G6 4D
15 Supri G6 5A
16 Masker G6 5B
17 Ishary G6 5C
18 Rahmat-Mampang G6 5D
19 Sug TA3 G6 6A
20 Dewi G6 6B
21 Ana G6 6C
22 Temen Mars G6 6D
23 Rakh a G6 7A
24 Tjan G6 7B
25 Kunc G6 7C
26 Budi G6 7D
27 Mansur G6 8A
28 Agung-Sra G6 8B
29 Hadi n G6 8C
30 Erwan G6 8D
31 Joko k G6 9A
32 Aditya G6 9B
33 Didik G6 9C
34 Robi G6 9D
35 Anjar G6 10A
36 Tata G6 10B
37 Ari W G6 10C
38 Herry N G6 10D
catatan : tolong masing-masing ingat pasangannya ya…..soalnya 1 tiket 4 TDD…..
Tanggal 26 Desember :
Senja Solo Gerbong 6
1. Sug 10 A
2. Farh 10 B
3. Agung 10 C
4. Anang 9 A
5. Tarta 9 B
6. Ari 8 A
7. Adit 8 B
8. Supri 8 C
9. Masker 8 D
10.Agush 7 A
11.Nadyan 7 B
12.Deny 7 C
13.Rahmad 7 D
14.Tjan 6 A
15.Maskun 6 B
16.Robbi 6 C
17.Irawan 6 D
18.Teguh 5 A
19.Erwan 5 B
20.Joko 5 C
21.Didik 5 D
22.Mansyur 4 D
23.Tata 4 C
24.HerryN 4 B
Senja Solo Gerbong 5
1. Pak Haji 2 A
Selasa, 19 Oktober 2010
Mendung di Wajah Bidadariku
Ahad sore itu, sepulang dari sebuah kajian tiba-tiba wajah bidadariku begitu mendung. Aku dibuatnya serba salah. Diam atau menyapanya. “Ini pasti ada sesuatu yang salah” pikirku. Ini memang bukan kali pertama. Duluuuu sekali pernah sekali dua kali ini terjadi. Ini biasa dalam sebuah perjalanan rumah tangga. Tapi tetap saja setiap kali hal ini muncul, aku suka salah tingkah.
Aku bertahan untuk tidak terpancing olehnya. Kutemani sebentar si sulung mengerjakan soal-soal try out yang ia dapat dari bimbel primagama, setelah kemudian mendadak penglihatan saya mulai kabur dan tidak fokus. “Uups, alamat migrain nih.” Segera aku ambil minyak kayu putih dan bergegas ke kamar untuk tiduran. Ini adalah jurus ampuhku selama ini dalam menangkal migrain yang kadang mendadak datangnya. Aku lupakan sejenak soal mendung di wajah bidadariku, karena sore itu aku harus ke Jakarta lagi.
Tiba-tiba saja waktu telah menjelang pukul 18.00. Adzan maghrib telah terdengar berkumandang. “Alhamdulillah, migrain kali ini tidak parah, meski sedikit menggangguku.” Bidadariku menghampiriku dengan membawa sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauknya, untukku. Aku menggeleng pelan, “Sebentar, sholat maghrib dulu saja.” Maka disiapkanlah untukku meja kecil dan tak lupa diseduhkan segelas teh hangat untuk menemani sepiring nasi tadi. Wajahnya tetap dingin. Sapanya tetap datar. “Hmmm…” Pikirku.
Selepas sholat maghrib berjamaah dengan istri dan anak-anak, segera aku benahi tas dan semua perlengkapan yang akan aku bawa nanti di kereta. Dompet beserta isinya, tiket, selimut, koran, obat-obatan, semua telah siap. Selama itu, temu papas kami berdua berlalu begitu saja. “Ini memang tidak seperti biasanya.” Setelah itu segera aku santap hidangan yang telah disiapkannya untukku tadi, plus sebutir paramex. Ia duduk di sebelahku, tapi kami tetap saling diam. Dari sudut sempit mataku, sempat aku lirik dia dalam diamnya. “Hmm..”
Akhirnya keberangkatanku ke Jakarta malam itu sedikit hambar. Aku tatap matanya, aku ucapkan salam dan kami berlalu begitu saja. Padahal baru pekan sebelumnya dia kirim email untukku, “Luv u mas,.......
Semakin ke sini semakin berat melepas mas tiap pekan ke jakarta.” What happened? Aku masih mencoba menebaknya, tapi aku tidak begitu yakin. Tapi setidaknya aku masih terhibur dengan sikap anak-anakku yang melepasku dengan hangat.
Di kereta aku sempatkan mengirimkan sms permintaan maaf dan ucapan terima kasih untuknya. Sempat terbesit kekawatiran dia tidak mau menjawab sms itu. Alhamdulillah, ada jawaban. Begitu juga selanjutnya sms-sms di hari berikutnya. Tidak sesering sms hari-hari sebelumnya memang. Terasa formal, kurang begitu lekat. Ah.. mungkin memang hanya perasaanku saja barangkali. Tapi komunikasi kami tetap jalan seperti biasanya.
Ba’da sholat subuh hari kedua di Jakarta aku coba chat dengan bidadariku. Kebetulan dia terlihat online gtalknya. Katanya ada slide yang harus dia siapkan buat mengajar di sore harinya. Setelah berbasa-basi ini itu, aku tanyakan kepadanya : “Dek, kenapa sih ahad sore kemaren ada mendung di wajahmu?” aku tunggu responnya.
Maka mengalirlah cerita tentang sore itu. Saat kedatangannya yang aku tidak menyambutnya seperti biasanya. Rumah kami kecil. Maka ketika aku atau bidadariku datang dari bepergian, suara motor kami bisa jelas kami dengar dari dalam. Aku jika sedang di rumah, kebiasaanku adalah membukakan pintu untuknya, dan memarkirkan motor untuknya. Sedang jika bidadariku yang di rumah, biasa dia menyambutku di pintu rumah dan dengan sigap menyiapkan minum teh hangat untukku. Atau kadang kami biasa dengan sambutan si bungsu dengan mimik lucunya, bersembunyi di balik pintu untuk kemudian berulah mengejutkan kami.
Ini sudah menjadi tradisi kami. Aku sendiri lupa sejak kapan itu dimulai. Aku pun pernah beberapa kali protes ketika keberangkatanku ahad malam tidak dilepas oleh bidadariku sampai teras depan rumah. Ada yang kurang. Dan inilah mungkin yang dirasakannya sore itu. “Ah.. aku jadi merasa bersalah kepada bidadariku.” Hmm.. Aku sampaikan beberapa alasan kenapa aku ‘lupa’ tidak melakukan itu. Sekaligus permintaan maafku. “Ya udah, lain kali jangan diulangi lagi ya. Miss u.” Tulisnya. Dan binar cintanya kembali menghangatkan hatiku.
Waktu-waktu kebersamaan kami memang terbatas, maka kami dipaksa dan dibiasakan untuk menjaga kualitas waktu kebersamaan kami. Hal itu membuat ambang sensitifitas kami menjadi samakin peka. Sedikit saja ada yang kurang dari biasanya, akan memunculkan reaksi. Dan dialog yang sehat menjadi kunci dalam melewati pernik-pernik kecil itu. Bentuk perhatian kita kepada pasangan memang bisa apa saja. Tergantung daya kreatifitas masing-masing. Tergantung kesepakatan bersama. Dan bagi kami, episode tersebut di atas adalah salah satu contoh bentuk ekspresi saling perhatian kami. Semoga Allah senantiasa mengokohkan ikatan ini. Amin.
Aku bertahan untuk tidak terpancing olehnya. Kutemani sebentar si sulung mengerjakan soal-soal try out yang ia dapat dari bimbel primagama, setelah kemudian mendadak penglihatan saya mulai kabur dan tidak fokus. “Uups, alamat migrain nih.” Segera aku ambil minyak kayu putih dan bergegas ke kamar untuk tiduran. Ini adalah jurus ampuhku selama ini dalam menangkal migrain yang kadang mendadak datangnya. Aku lupakan sejenak soal mendung di wajah bidadariku, karena sore itu aku harus ke Jakarta lagi.
Tiba-tiba saja waktu telah menjelang pukul 18.00. Adzan maghrib telah terdengar berkumandang. “Alhamdulillah, migrain kali ini tidak parah, meski sedikit menggangguku.” Bidadariku menghampiriku dengan membawa sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauknya, untukku. Aku menggeleng pelan, “Sebentar, sholat maghrib dulu saja.” Maka disiapkanlah untukku meja kecil dan tak lupa diseduhkan segelas teh hangat untuk menemani sepiring nasi tadi. Wajahnya tetap dingin. Sapanya tetap datar. “Hmmm…” Pikirku.
Selepas sholat maghrib berjamaah dengan istri dan anak-anak, segera aku benahi tas dan semua perlengkapan yang akan aku bawa nanti di kereta. Dompet beserta isinya, tiket, selimut, koran, obat-obatan, semua telah siap. Selama itu, temu papas kami berdua berlalu begitu saja. “Ini memang tidak seperti biasanya.” Setelah itu segera aku santap hidangan yang telah disiapkannya untukku tadi, plus sebutir paramex. Ia duduk di sebelahku, tapi kami tetap saling diam. Dari sudut sempit mataku, sempat aku lirik dia dalam diamnya. “Hmm..”
Akhirnya keberangkatanku ke Jakarta malam itu sedikit hambar. Aku tatap matanya, aku ucapkan salam dan kami berlalu begitu saja. Padahal baru pekan sebelumnya dia kirim email untukku, “Luv u mas,.......
Semakin ke sini semakin berat melepas mas tiap pekan ke jakarta.” What happened? Aku masih mencoba menebaknya, tapi aku tidak begitu yakin. Tapi setidaknya aku masih terhibur dengan sikap anak-anakku yang melepasku dengan hangat.
Di kereta aku sempatkan mengirimkan sms permintaan maaf dan ucapan terima kasih untuknya. Sempat terbesit kekawatiran dia tidak mau menjawab sms itu. Alhamdulillah, ada jawaban. Begitu juga selanjutnya sms-sms di hari berikutnya. Tidak sesering sms hari-hari sebelumnya memang. Terasa formal, kurang begitu lekat. Ah.. mungkin memang hanya perasaanku saja barangkali. Tapi komunikasi kami tetap jalan seperti biasanya.
Ba’da sholat subuh hari kedua di Jakarta aku coba chat dengan bidadariku. Kebetulan dia terlihat online gtalknya. Katanya ada slide yang harus dia siapkan buat mengajar di sore harinya. Setelah berbasa-basi ini itu, aku tanyakan kepadanya : “Dek, kenapa sih ahad sore kemaren ada mendung di wajahmu?” aku tunggu responnya.
Maka mengalirlah cerita tentang sore itu. Saat kedatangannya yang aku tidak menyambutnya seperti biasanya. Rumah kami kecil. Maka ketika aku atau bidadariku datang dari bepergian, suara motor kami bisa jelas kami dengar dari dalam. Aku jika sedang di rumah, kebiasaanku adalah membukakan pintu untuknya, dan memarkirkan motor untuknya. Sedang jika bidadariku yang di rumah, biasa dia menyambutku di pintu rumah dan dengan sigap menyiapkan minum teh hangat untukku. Atau kadang kami biasa dengan sambutan si bungsu dengan mimik lucunya, bersembunyi di balik pintu untuk kemudian berulah mengejutkan kami.
Ini sudah menjadi tradisi kami. Aku sendiri lupa sejak kapan itu dimulai. Aku pun pernah beberapa kali protes ketika keberangkatanku ahad malam tidak dilepas oleh bidadariku sampai teras depan rumah. Ada yang kurang. Dan inilah mungkin yang dirasakannya sore itu. “Ah.. aku jadi merasa bersalah kepada bidadariku.” Hmm.. Aku sampaikan beberapa alasan kenapa aku ‘lupa’ tidak melakukan itu. Sekaligus permintaan maafku. “Ya udah, lain kali jangan diulangi lagi ya. Miss u.” Tulisnya. Dan binar cintanya kembali menghangatkan hatiku.
Waktu-waktu kebersamaan kami memang terbatas, maka kami dipaksa dan dibiasakan untuk menjaga kualitas waktu kebersamaan kami. Hal itu membuat ambang sensitifitas kami menjadi samakin peka. Sedikit saja ada yang kurang dari biasanya, akan memunculkan reaksi. Dan dialog yang sehat menjadi kunci dalam melewati pernik-pernik kecil itu. Bentuk perhatian kita kepada pasangan memang bisa apa saja. Tergantung daya kreatifitas masing-masing. Tergantung kesepakatan bersama. Dan bagi kami, episode tersebut di atas adalah salah satu contoh bentuk ekspresi saling perhatian kami. Semoga Allah senantiasa mengokohkan ikatan ini. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)