Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2011

Kunjungan Pertama ke Dokter Spesialis Orthopedi

Kunjungan Pertama ke Dokter Spesialis Orthopedi

Kawan, sejak sadar bahwa kebengkokan tulang belakang adalah sumber dari timbulnya rasa nyeri dan berbagai keluhan lainnya di sebagian organ tubuh ini (tahun 2004), aku memang belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke ruang dokter spesialis orthopedi. Dulu sebenarnya oleh dokter Suko Basuki (seorang sahabat yang sedang mengambil spesialis bedang tulang) aku sudah disarankan untuk ke spesialis orthopedi (namanya Dokter Tedjo), namun karena waktu itu masih takut kalo harus dioperasi maka aku dan istri sepakat memutuskan cukup periksa dan konseling ke dokter spesialis syaraf saja.

Awalnya konsultanku adalah dokter Fuad (spesialis syaraf) yang sekaligus menggawangi instalasi rehabilitasi medik. Melalui beberapa jenis terapi berangsur nyeri dan beberapa keluhan di kaki kiri mulai hilang. Seperti biasa, untuk jenis kelainan tulang belakang sepertiku, yang disarankan pertama kali adalah RENANG. Kemudian ada beberapa exercise yang harus rutin aku lakukan setiap hari, selain tentunya agar aku harus lebih berhati-hati dalam menjaga sikap tubuh agar beban tulang punggung tidak berlebih diantaranya adalah anjuran memakai korset.

Lama tidak kambuh, mulai 2008 mulai terasa kembali sedikit demi sedikit rasa nyeri itu (kalo rasa pegal jangan ditanya ya kawan, asal tulang belakang capek rasa pegal itu akan dengan setia datang menemani). Puncaknya di awal tahun 2010. Akhirnya setelah kembali berkunjung ke bagian syaraf RS Sardjito, aku dikenalkan dengan dokter spesialis syaraf yang lain, Bu Indarwati (belakangan aku tahu ternyata beliau kakak kandung dari teman sekantor di Jakarta). Akhirnya saya diminta untuk Rontgen, MRI dan ENMG, hasilnya seperti yang sudah aku tuliskan beberapa waktu lalu. Dan alhamdulillah, semuanya berangsur membaik.

Belakangan aku sadar, kalo sekedar menghilangkan (baca : mengurangi) rasa sakit, mungkin selama ini sudah aku lakukan dan ada hasilnya (meski kemudian sering kambuh lagi). Tapi esensi permasalahannya mungkin justru belum aku sentuh sama sekali. Yaitu kondisi tulang punggungku yang mengalami kebengkokan itu. Secara selama ini anjuran dokter spesialis syaraf tentang renang, senam, terapi, (sekedar) untuk menjaga agar tidak kambuh lagi rasa sakit itu. Maka atas kesadaran ini kemudian aku mencoba berdiskusi dengan istri dan akhirnya kami memutuskan, inilah saatnya aku harus bertemu dokter spesialis orthopedi.

Akhirnya 16 Juli 2011 adalah pertemuan pertamaku dengan Dokter Tedjo di Poli Perjanjian RS Panti Rapih, setelah hunting jadwal piket beliau di hari sebelumnya. Ternyata kawan, ada banyak hal yang sungguh berbeda, antara dokter spesialis orthopedi dan dokter spesialis syaraf. Tapi dua hal tadi bisa aku kompromikan dan pertemukan titik persinggungannya. Berbicara masalah penyebab kebengkokan tulang, aku menemukan hal baru bahwa kebengkokan tulang belakang itu bisa terjadi karena faktor genetis. Ia bisa terjadi karena akumulasi waktu dan kebiasaan dalam waktu yang panjang. (Silakan baca artikel kompas di bawah ini).

Bahkan ketika membaca hasil rontgen tahun 2010 kemarin, jelas disitu saya baca bahwa kebengkokan tulang belakang saya adalah 15°. Dokter Tedjo mencoret-coret kembali gambar rontgen tersebut dan hasilnya adalah bahwa kebengkokan tulang punggung saya bagian atas adalah 28° dan bagian bawah 32°. Karena itulah yang tampak menonjol adalah bagian bawah. “Ini masuk kategori sedang. Kalo bengkoknya di atas 35°, baru itu masuk kategori berat.” Kata beliau. Woooww... itu artinya, lewat 3° lagi aku masuk dalam kategori berat. Duh,...

Maka kesimpulan sumirku kawan, jika dokter spesialis syaraf domainnya adalah bagaimana caranya agar rasa sakit dan nyeri serta keluhan-keluhan itu hilang (baca : berkurang), maka dokter spesialis orthopedi domainnya adalah bagaimana caranya agar tulang yang bengkok itu bisa berkurang kebengkokannya atau paling tidak kebengkokannya tidak bertambah dari waktu ke waktu. Keduanya memang harus bersinergi. Kita tidak bisa lepas dari dua spesialis tadi, jika kita ingin kualitas hidup kita bisa terus kita tingkatkan atau setidaknya kualitas hidup kita tidak menurun secara radikal. Maka kini aku mulai mencicipi menu-menu yang disajikan sang dokter spesialis orthopedi.

Dalam 6 bulan ke depan (hingga Januari 2012), aku harus berenang sepekan 2x, dan melakukan backup dengan berbagai variasinya, sebanyak-banyaknya. Ini adalah 6 bulan masa untuk evaluasi. Januari nanti aku harus melakukan rontgen lagi, untuk menilai apakah kebengkokan tulang punggungku bertambah atau berkurang setelah melakukan berbagai hal tadi. “Ini tulangnya juga tidak bagus (tidak padat). Intinya olah raga. Dengan olah raga, segala sesuatu bisa diselesaikan.” Katanya. Renang? Aku baru mulai belajar kawan. Dibantu seorang instruktur di Kolam Renang Umbang Tirta Kridosono tiap sabtu dan ahad pagi. Back up? Alhamdulillah sudah jalan sejak dokter menyarankan, meski kadang ada yang harus dirapel (sehari 2 kali) akibat lupa.

Bismillah, untuk hidup yang lebih baik, kenapa tidak? Segala upaya harus kita usahakan. Jika tubuh sehat dan bugar, bukankah dalam beraktifitas ibadah juga akan terasa nikmat? Maka benarlah kata Nabi, “Mukmin yang kuat lebih Allah cintai dari pada mukmin yang lemah.” Dengan catatan, kualitas iman mereka sebanding. Maka, dua orang sama-sama kuat imannya, satu diantara mereka yang lebih kuat fisiknya yang lebih Allah cintai. Tetap semrangaaaat, kawan..!

Rabu, 3/8/2011 finished @Gedung Utama lt 19, 09:22 WIB

Faktor Utama Adalah Aktivitas dan Olahraga, Bukan Kalsium
Lukas Adi Prasetya | Minggu, 4 Oktober 2009 | 19:27 WIB


YOGYAKARTA, KOMPAS.com-Kalsium hanya memberi pengaruh 10 persen sebagai penentu kekuatan tulang belakang. Faktor utama adalah kebiasaan manusia beraktivitas, apakah menyamankan tulang atau tidak, juga olahraga. Sayangnya, manusia jarang menyamankan tulang dan jarang berolahraga.

Hal itu disampaikan Tedjo Rukmoyo, dokter spesialis orthopedi (bedah tulang belakang), di sela-sela Seminar Penangangan Terkini Nyeri Tulang Belakang, di Gedung University Club, Universitas Gadjah Mada.

"Jangan percaya pada iklan yang memaparkan bahwa dengan cukup minum susu, maka tulang dan tulang belakang kita akan kuat. Kekuatan tulang ditentukan akitivitas manusia sejak kecil yang dampaknya baru kelihatan ketika tua," kata Tedjo.

Aktivitas dan kebiasaan yang salah sehingga tidak menyamankan tulang, terutama tulang belakang, gampang diamati dari posisi tidur. Posisi tulang belakang yang tidak lurus dan tidak sejajar dengan tulang leher, jelas bukan posisi ideal.

"Hal itu karena busa atau kasur tidak rata, memakai bantal terlalu tebal atau terlalu tipis. Dengan kata lain, nggak apa-apa kok kita punya kebiasaan tidur telentang, tengkurap, atau miring. Tapi jangan sampai tulang belakang tersiksa," ucapnya.

Selain contoh tersebut, banyak aktivitas lain yang salah. Misalnya kebiasaan membungkuk saat naik kendaraan dan membungkuk saat duduk. Terlalu membungkuk dan memaksa diri kala mengangkat benda berat di lantai, juga aktivitas yang salah.

"Ketika mengangkat benda berat dari lantai, ya jangan langsung angkat. Tapi luruskan dulu posisi tubuh sampai tegak, baru angkat. Jika kelewat berat, ya jangan dipaksa. Tulang belakang, ligamen (pengikat tulang), atau otot, bisa putus," kata dia.

Tedjo menambahkan, muara penyelesaian masalah tulang, ialah mengubah kebiasaan aktivitas sehingga tulang belakang tak tersiksa, ditambah berolahraga secara rutin. Jika itu dilakukan sejak dini, maka manusia menabung investasi kesehatan masa depan.

http://nasional.kompas.com/read/2009/10/04/1927575/faktor.utama.adalah.aktivitas.dan.olahraga.bukan.kalsium

Jumat, 06 Mei 2011

HNP -Hernited Nucleus Pulposus- -Syaraf Terjepit-



Mencoba berbagi lagi. Kawan, setahun yang lalu, persisnya 14/5/2010 setelah sakit di punggung bawah yang sedemikian rupa makin terasa mengganggu aktifitasku, aku setelah sebelumnya periksa ke dokter spesialis syaraf ku (dr. Indarwati), direkomendasikan untuk melakukan test MRI dan ENMG. Alhasil, dari tes tersebut disimpulkanlah bahwa aku menderita HNP, herniated nucleus pulposus, meski dalam tahap ringan.



Untuk pengetahuan kita bersama, di bawah ini saya copas-kan artikel tentang HNP itu. Paling tidak dengan kita mengetahui seputar HNP ini, meski hanya sekilas, bisa membantu mengidentifikasi lebih awal jika terjadi sesuatu di ruas tulang punggung kita, anak-anak kita, atau siapapun yang beresiko terkena kelainan ini. Sehingga langkah2 penyembuhan bisa lebih optimal. Atau bahkan membuat kita menjadi lebih berhati-hati terhadap berbagai aktifitas yang bisa mencederai tulang punggung kita.

Nyeri pinggang merupakan salah satu keluhan yang sering dijumpai di masyarakat. Penelitian menyebutkan bahwa setiap manusia pernah mengalami nyeri pada pinggang suatu kali dalam masa hidupnya. Hal ini pastilah sangat mengganggu, bukan hanya menimbulkan rasa tidak nyaman atau sakit, tapi juga menghambat produktifitas di kehidupan sehari-hari. Banyak sekali penyebab nyeri pinggang pada manusia. Bisa karena infeksi pada otot atau tulang belakang, trauma atau benturan yang hebat pada pinggang, kelainan pada tulang belakang, dll. Salah satu yang sukup sering adalah yang dinamakan Herniated Nucleus Pulposus (HNP).

Sebelum kita mengulas tentang HNP, mari kita pelajari terlebih dahulu sedikit tentang struktur tulang belakang. Tulang belakang terdiri dari 33-34 ruas tulang. 7 di daerah leher, 12 daerah dada, 5 daerah pinggang, 5 daerah sakrum, dan 4-5 tulang ekor. Diantara setiap tulang belakang dari leher hingga pinggang terdapat suatu cakram yang berfungsi untuk membantu tulang belakang menopang beban tubuh, dinamakan intervertebral disk. Pada bagian tengah cakram ini terdapat suatu inti yang dinamakan nucleus pulposus. Cakram ini juga berfungsi sebagai peredam, sama seperti shock breaker pada mobil atau motor.

Penyebab HNP ini berbagai macam. Faktor risikonya antara lain adalah merokok, batuk yang terlalu lama, cara duduk yang salah, menyetir yang terlalu sering, cara mengangkat barang yang salah, dll. Seiring dengan bertambahnya usia, kemampuan cakram untuk menjalankan fungsinya juga menurun. Faktor-faktor diatas dapat menyebabkan terjadinya herniasi, yaitu keluarnya suatu organ melalui suatu celah dalam tubuh. HNP dapat dianalogikan seperti terjadinya “turun bero”, tetapi terjadi pada daerah tulang belakang. Dapat dilihat pada gambar disamping bahwa terjadi penonjolan kebelakang pada cakram yang bawah.

Penonjolan ini kemudian menekan saraf yang berjalan dibelakang. Penekanan inilah yang menimbulkan keluhan. Keluhannya dapat berbagai macam dari nyeri pinggang, kesemutan di tungkai, hingga sakit yang luar biasa pada tungkai hingga berjalanpun sakit sekali. Penanganan dari penyakit ini dapat secara non-operatif, yang terdiri dari obat-obatan dan fisioterapi, atau dengan tindakan operatif.

Dewasa ini, para ahli di bidang bedah sedang berlomba-lomba untuk menciptakan suatu tehnik operasi yang menghasilkan suatu sayatan yang minimal, atau bahkan tanpa sayatan. Tehnik ini dinamakan minimally invasive surgery. Tehnik ini memungkinkan masa perawatan yang jauh lebih cepat daripada operasi terbuka. Dan bagi pasien yang mengutamakan segi estetik, tehnik ini dapat dibuat dengan sayatan dan bekas luka yang sangat kecil. Perkembangan tehnik ini di dunia penyakit HNP menghasilkan berbagai macam tehnik, antara lain nucleotome, laser central decompression, dan directed fragmentectomy.

Setiap tehnik pastinya mempunyai kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Seperti contohnya tehnik central decompression yang salah satunya dapat menggunakan suatu zat kimia bernama cymopapain yang dapat menyebabkan reaksi alergi dan spasme (ketegangan) dari otot. Pada prinsipnya, tehnik minimally invasive ini menggunakan suatu alat yang dinamakan artroskopi. Alat ini merupakan suatu alat yang menggunakan suatu tabung berdiameter kecil yang panjang sehingga memungkinkan untuk dimasukkan kedalam tubuh dengan sayatan yang kecil. Tabung ini dilengkapi dengan alat yang dibutuhkan untuk operasi serta kamera yang memungkinan dokter bedah melihat organ didalam tubuh melalui layar. Keuntungan tehnik ini selain dari kecilnya sayatan yang ditimbulkan, gambar yang terlihat dari layar dapat diperbesar puluhan kali sehingga kelainan yang kecilpun dapat terlihat.

Bagi anda yang sangat terganggu dengan nyeri pinggang yang disebabkan oleh HNP, anda dapat memikirkan untuk menjalani operasi ini. Tetapi tentunya anda harus menemui dokter spesialis orthopaedi dan traumatologi terlebih dahulu untuk mendiskusikan tentang teknik yang akan dipilih serta mengetahui keuntungan dan risiko dari operasi ini.

Untuk anda yang takut akan di operasi ada banyak cara pengobatan alternatif yang bisa anda pilih.

Rabu, 30 Desember 2009

Membuat Skoliosis Lebih Simetris

(TEMPO Interaktif) Punggung Michele tampak tidak simetris. Pinggang kiri dan kanannya tidak sama alias tinggi sebelah. Kondisi ini diketahui ibunya, Tjahyadi, saat gadis 11 tahun itu mengenakan baju renang. Pada April 2008, dokter mendiagnosis Michele menderita skoliosis, yaitu gejala kelainan bentuk tulang belakang.

Saat itu didapati bagian belikat tulang belakangnya menonjol, dan kemiringannya mencapai 40 derajat. Dari beberapa literatur, kurva kemiringan melebihi 40 derajat termasuk kategori berat. Michele bisa terancam mengalami gangguan saraf, irama jantung, hingga kelumpuhan. Ancaman itu akibat dari jarak antara tulang dada dan tulang belakang yang makin mendekat, sehingga ruang paru-paru di antara dua tulang vital itu menjadi menyempit.

Dengan kurva sedemikian miring, tindakan yang harus diambil adalah melakukan operasi. Demikian menurut konsultan ortopedi tulang belakang Rumah Sakit Internasional Bintaro, Dr Luthfi Gatam, SpOT, Spine Surgeon (K). "Jika kurva kurang dari 20 derajat, tidak perlu dioperasi," ujar Luthfi beberapa bulan lalu di RS Internasional Bintaro, Tangerang.

Waktu itu, dokter yang menangani Michele memang tidak mengambil tindakan operasi. Tapi dia mewajibkan Michele memakai baju penopang berupa cetakan berbentuk tubuh. Baju itu terbuat dari plastik, dan dilengkapi dengan tali serta besi. Tujuannya adalah agar kemiringan tubuh si pasien tidak bertambah. Konon, baju ini beratnya mencapai 6 kilogram dan harganya mencapai belasan juta rupiah.

Baju itu tentu membuat Michele tidak nyaman. Dia harus memakai baju penopang yang cukup berat itu saban hari. Apalagi baju khusus itu juga harus dipakai pada waktu tidur. Namun demi kesembuhan, Michele terus bertahan memakai baju penopang tubuh itu.

Dalam perjalanannya, selain diobati secara medis, Michele ditangani oleh seorang yi seng. Yi seng adalah sebutan untuk ahli pengobatan tradisional Cina. Menurut Nelly Suhirman, pemilik Traditional Medicine & Health Centre, Tung Mei Massage, di Jakarta, yi seng ini mempelajari secara akademik setingkat universitas khusus tulang dan saraf di negeri Cina daratan.

Tung Mei Massage sendiri adalah terapi jasmani perpaduan antara gerakan pijat spesifik anmo massage dan sejenis teknik gerakan chiropatic, seperti menekuk, menarik, serta meregangkan tubuh. Terapi ini tetap memakai panduan medis, seperti hasil roentgen dari penderita skoliosis. "Banyak pasien di sini yang mengkombinasikannya," ujar Nelly saat ditemui di Jakarta pekan lalu.

Selanjutnya, pasien diterapi secara manual menggunakan jari atau lengan di titik-titik sumber penyakit selama 50 menit. Yi seng akan mencari titik-titik sumber penyakit dan menekan titik-titik itu. Selama proses pemijatan, pasien memakai baju dan celana longgar.

Menurut Nelly, pasien disarankan menjalani terapi itu hingga sepuluh kali dengan frekuensi dua kali per pekan. Uniknya, setelah menjalani terapi, pasien tidak dibekali obat-obatan. Pasien juga tidak diminta berpantang makanan apa pun. "Sekali terapi, pasien dikenai biaya Rp 300 ribu," Nelly memberi tahu.

Dalam kasus Michele, bagian tulang belikat yang menonjol didapati sudah semakin rendah--saat memasuki terapi yang ketiga. Malah baju penopang dari besi itu sudah sedikit longgar. Di klinik ini, menurut Nelly, kebanyakan pasiennya adalah remaja perempuan. Pada kebanyakan kasus, penyebab dari skoliosis tidak diketahui atau disebut juga idiopathic.

Selain mengatasi skoliosis, Nelly menambahkan, terapi ini bisa mengatasi keluhan nyeri pinggang akibat terjepitnya urat-urat saraf yang melalui tulang belakang--atau dalam istilah medis disebut juga herniated nucleus pulposus.

Agar Tak Kembali Bengkok

1. Bila bangun dari posisi berbaring, dianjurkan memiringkan tubuh terlebih dulu, barulah bangkit perlahan.
2. Tidak boleh membungkukkan badan.
3. Jika membungkukkan badan, posisi tubuh harus jongkok--bila ingin mengambil sesuatu.
4. Tidak boleh mengangkat barang atau beban berat selama menjalani terapi, terutama bila masih ada rasa sakit.
5. Saat kondisi sudah membaik, bukan berarti bisa beraktivitas sembarangan.
6. Herniated nucleus pulposus dan skoliosis tidak bisa sembuh total serta ada risiko terulang lagi bila ada faktor pemicunya, seperti jatuh, mengangkat beban terlalu berat, atau salah melakukan gerakan tubuh.

(sumber : koran tempo edisi Rabu, 30 Desember 2009)

Rabu, 16 Desember 2009

SKOLIOSISKU : Jangan Menyerah


Sudah lama aku tidak melanjutkan cerita tentang hal yang satu ini. Mumpung ada pinjeman modem sehingga bisa untuk meng-upload gambar, berikut ini adalah gambaran tulang belakangku. Foto ini adalah gambaran di tahun 2006. Tiga tahun semenjak aku menyadari keskoliosisanku (2003).

Sampai sekarang aku belum melakukan langkah yang dramatis untuk kondisi skoliosiku ini, selain sekedar exercise yang dilakukan kalo pas pengin aja, plus memakai korset dalam kondisi-kondisi tertentu. Acara les renang yang sebenarnya sering aku agendakan belum pernah sekalipun bisa aku jalankan. Sulit mencari waktu yang pas alias sok sibuk (selain alasan karena aktifitas jarak jauh yang selama 3 tahun belakangan ini aku lakukan : Jogja-Jakarta).

Beberapa pekan kemaren (sampai hari ini masih sedikit terasa), sakit itu kambuh lagi. Masih bisa rukuk, tapi tak sempurna. Kaki harus sedikit menekuk. Seperti biasa juga, berawal dari ketidakdislipanku dalam menjaga aktifitasku. Sebuah aktifitas yang terlalu membebani tulang punggungku sering kali aku lakukan, sehingga seakan tulang punggungku melakukan protes kembali, menginganku !

Yup. Semua ini tak akan menghalangi aku untuk selalu berbuat terbaik. Selagi masih ada nafas di dada ini, sakit ini aku jadikana sebagai teman setia yang selalu menemaniku dalam setiap aktifitas keseharianku. InsyaAllah selalu ada hikmah dari setiap kejadian yang kita alami dan rasakan.

Tetap semangat kawan !

at lantai 26 gedung baru kpdjp. 16/12/2009 : 09.37

Selasa, 12 Mei 2009

Ngunyah Permen Karet

Dalam beberapa kesempatan, saya sering menyaksikan di televisi pelatih sepak bola yang di sela-sela pertandingan, mulutnya terus-menerus sibuk mengunyah. Sambil matanya terus memelototi jalannya pertandingan. Atau juga dalam film-film yang ditayangkan di televisi, tak jarang saya melihat adegan para jagoannya mulutnya juga sibuk mengunyah di tengah-tengah aksi heronya. Duagaan saya, pasti dia mengunyah permen karet. Gak percaya? Coba aja deh tanyakan langsung pada mereka.

Ngomong-ngomong tentang manfaat permen karet, saya mencoba mencari artikel yang menulis tentang itu. Beberapa tahun yang lalu sebenarnya saya juga pernah membaca artikel semacam itu, tapi lupa di mana. Berikut ini saya kopaskan salah satu artikel yang berhasil saya dapat dari tanya-tanya Om Google, saya cari yang paling lengkap dan dari sumber yang lebih kredibel. Semoga bermanfaat :

Manfaat Permen Karet Bagi Kesehatan

Keberadaan permen karet yang dikonsumsi sebagai makanan sambilan mengundang pendapat yang berbeda. Sebagian orang beranggapan, permen karet lebih banyak merugikan, terutama untuk anak-anak yang biasa atau senang mengonsumsi makanan yang manis seperti permen, cokelat dan permen karet.

Sekarang begitu banyak macam permen karet yang beredar di pasaran. Dilihat dari bentuk, rasa kandungannya sampai harganya yang beragam. Permen karet pun terbagi dua berdasarkan kandungannya, yaitu permen karet yang mengandung gula dan yang tidak mengandung gula atau sugar free.

Terdapat isu kesehatan bahwa permen karet tanpa gula memiliki nilai kesehatan. Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari mengunyah permen karet bebas gula. Dalam permen karet ini, unsur pemanis digantikan oleh bahan lain yang disebut xylitol. Xylitol merupakan bahan pemanis alami. Secara alami xytol ditemukan di dalam tanaman, hewan dan manusia. Xylitol murni berupa kristal putih, dengan wujud dan rasa seperti gula. Para produk makanan, xylitol sering dimasukkan sebagai karbohidrat. Xylitol diabsorbsi secara lambat dan hanya sebagian yang dimetabolisme, maka nilai kalorinya 40% lebih kecil dari pada kelompok karbohidrat lainnya atau 2,4 K kalori.

Xylitol merupakan bahan pemain alternatif yang memiliki sifat sangat baik bagi pengembangan produk makanan maupun produk farmasi. Beberapa sifat yang dimiliki adalah memberikan sensasi dingin (cooling sensation) seperti mentol, memiliki tingkat kemanisan yang sama dengan sukrosa (gula tebu), menghasilkan energi hanya 2,4 K kalori/g (cocok bagi penderita obesitas/kegemukan), tidak memerlukan insulin untuk metabolismenya (cocok bagi penderita diabetes), serta bersifat anticariogenic (melindungi dari kerusakan gigi).


Mencegah Kerusakan Gigi

Suatu pembenaran ilmiah menyatakan bahwa mengunyah permen karet bebas gula dapat melindungi gigi dari kerusakan. Selain itu, mengunyah permen karet dapat menggantikan kegiatan menggosok gigi setelah makan. Terlebih bila kita merasa tidak nyaman membawa sikat gigi ke mana-mana.

Waktu orang mengunyah permen karet akan menghasilkan air liur di mulutnya, yang dapat menetralkan asam dan mencegah pengeroposan gigi di atas 40%. Selain itu juga membantu pH (derajat keasaman) mulut yang sesuai. Peningkatan produksi air liur dapat mengurangi endapan sisa makanan. Kerusakan gigi terutama disebabkan oleh banyaknya bakteri yang terakumulasi pada gigi, yang sering disebut plak (plaque) gigi. Pada plak terdapat bakteri-bakteri yang bersifat tahan terhadap asam (aciduric), yang menghasilkan senyawa yang bersifat asam (acidogenic).

Bahan-bahan yang dikandung dalam minuman seperti teh dan kopi, juga asap rokok serta makanan menyebabkan penumpukan plak dan perubahan warna gigi. Bahan spesial yang terkandung dalam permen karet seperti enzim dan bikarbonat dapat membantu mencegah pembentukan bakteri dalam plak dan mempertahankan warna putih gigi. Apabila kita tidak rajin/buruk dalam memelihara gigi, maka sisa makanan terutama kelompok karbohidrat yang masih menempel pada gigi akan difermentasi oleh bakteri plak dan menghasilkan asam format, asetat dan laktat.

Senyawa-senyawa yang bersifat asam ini akan menurunkan pH mulut yang selanjutnya mengakibatkan demineralisasi email gigi dan pembentukan lubang gigi. Bahan pemanis xylitol, merupakan senyawa yang tidak dapat dimetabolisme oleh bakteri perusah gigi tersebut. Oleh karena itu, konsumsi xylitol akan memelihara pH mulut tetap normal. Selain itu, mengunyah permen karet yang mengandung xylitol mampu menstimulasi ekskresi/pengeluaran air liur di dalam mulut. Adanya aliran air liur juga membantu mengurangi endapan sisa makanan dan mengurangi populasi bakteri.

Terdapat laporan bahwa pengeroposan gigi pada anak-anak dapat menurun secara signifikan bila mereka dibiasakan mengunyah permen karet bebas gula. Permen karet yang memiliki efek menghangatkan (balsamic) sampai sekarang hanya dimiliki oleh tablet isap (lozenges). Kandungan mentol dan eucalyptol dalam permen karet menimbulkan efek uap balsamic, yang bila dilepaskan selama pengunyahan akan memperpanjang keefektifannya. Khasiat lainnya, dapat menyegarkan napas dengan menghaluskan dan menyegarkan mulut dan tenggorokan.


Menyehatkan Otak

Mengunyah dapat meningkatkan kinerja berbagai aktivitas yang memerlukan perhatian, konsentrasi dan kewaspadaan. Misalnya pengemudi yang mengunyah permen karet sambil menyetir memiliki respons yang lebih baik dalam berkendaraan. Hal ini dibuktikan oleh penelitian yang menunjukkan, dengan mengunyah permen karet sambil menyetir akan melancarkan aliran darah ke otak, dan dapat juga mengurangi rasa ngantuk. Riset menunjukkan bahwa mengunyah permen karet dapat membantu meningkatkan daya ingat. Kemampuan untuk mengingat kata-kata dapat ditingkatkan sebanyak 35% dari awal mengunyah.

Penelitian bersama University of Northumbria dan Cognitive Research Unit (Reading) di Inggris, membuktikan bahwa mengunyah permen karet berefek positif pada tugas-tugas kognitif seperti berpikir dan mengingat. Pengunyah permen karet ternyata bisa mengingat lebih banyak kata dan tampil lebih baik dalam uji ingatan. Ahli dari University of Northumbria berpatokan pada 2 teori. Pertama, bahwa mengunyah akan meningkatkan detak jantung, menyebabkan lebih banyak O2, dan nutria yang dipompa ke otak. Kedua, mengunyah akan meningkatkan produksi insulin, merangsang bagian otak yang berhubungan dengan daya ingat.

Manfaat lainnya, mengunyah akan merangsang sinyal di bagian otak tengah. Dalam hal ini kuncinya adalah gerakan ritmiknya yang berulang-ulang. Tidak ada bedanya permen karet dengan berbagai macam rasa, yang penting adalah perulangan gerakan mengunyahnya dan kandungan dari permen karet tersebut yang mendukung pemeliharaan kesehatan gigi khususnya.

Hampir di setiap penerbangan, penumpangnya selalu diberikan permen/permen karet untuk mencegah gangguan pada telinga yang diakibatkan suara dari mesin pesawat terbang.


Manfaat Bagi Kesehatan

Suatu penelitian menunjukkan bahwa mengunyah permen karet akan mengurangi ketegangan pada otot. Karena kemampuannya yang dapat membuat lebih waspada sekaligus melemaskan otot yang tegang, angkatan perang Amerika menyediakan permen karet untuk pasukannya sejak Perang Dunia I, bahkan sampai sekarang. Begitu pula setiap atlet selalu mengunyah permen karet pada saat berlatih atau saat bertanding. Hasil penelitian lain menyebutkan dengan mengunyah permen karet selama 1/2 jam setelah makan dapat meringankan gejala perubahan derajat keasaman tubuh. Asam diesophagus dapat diturunkan dan gejala panas dalam akan berkurang. Rangsangan yang diberikan oleh air liur, yang lebih bersifat basa, membantu menetralisasi asam di saluran pencernaan (esophagus).

Menurut studi yang dilakukan klinik penelitian di Roclester US, menggerakan tulang selama 1 jam dengan mengunyah permen karet dapat meningkatkan metabolisme tubuh sebanyak 20% dan membakar 11 kalori. Peneliti memperhitungkan dengan mengunyah permen karet setiap bangun pagi dapat membakar 5 kg kalori selama setahun. Tapi hati-hati, mengunyah permen karet setiap hari secara rutin dalam periode waktu yang panjang dapat membuat perut kejang dan pencernaan jadi berlebihan, yang dapat meningkatkan pembakaran dalam perut, usus, dan berisiko kanker. Permen karet yang mengandung nikotin akan melepaskan nikotin dalam jumlah sedikit ke dalam tubuh. Hal ini akan mengurangi kecanduan merokok.

Sekian banyak manfaat dari mengunyah permen karet, hanya dapat diperoleh apabila permen karetnya bebas gula atau sugar free. Sebaiknya, kita mengonsumsi permen karet yang mengandung xylitol. Mengingat begitu banyak kelebihannya bila dibandingkan dengan pemanis yang lain, walaupun di Indonesia kendala yang mungkin dihadapi adalah harga xylitol yang masih tinggi. Jadi pilihlah permen karet yang mengandung xylitol, meski harus membayar sedikit lebih mahal. Keuntungannya berlangsung panjang, yaitu mulut dan gigi tetap sehat sampai tua.

Bahkan sejumlah penelitian menyebutkan, xylitol juga mampu menghambat laju osteoporosis, mencegah sakit telinga pada anak-anak (acute otitis media) dan dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Nasihat lama "jangan mengunyah permen karet nanti giginya habis", dapat direformasi menjadi "kunyahlah permen karet ber-xylitol agar gigimu sehat dan kuat."***

Senin, 22 Desember 2008

SKOLIOSIS : Aku Tidak Bisa Rukuk !

Waktu itu, kakak iparku hendak melangsungkan pernikahan. Tahun 2003. Aku, istriku yang sedang hamil anak kami ketiga, dan kedua anakku pulang ke Semarang, rumah mertuaku. Kakak iparku –Mas Sugeng- menikah dengan gadis satu kampung. Kisah cinta mereka heroik. Dibumbui ketidaksetujuan ibuku, ibu mertuaku. Bapak sendiri tidak begitu mempermasalahkan. Hanya akhirnya mereka memang harus mengalah dengan kekuatan cinta anaknya. Lebih tepatnya adalah, kenekadan anak laki-laki sulungnya itu.

Pagi itu, aku berinisiatif mengisi bak mandi kami dengan menimba dari air sumur. Manual. Mesin pompa kami sudah rusak, belum sempat untuk diperbaiki. Aktifitas ini biasa aku lakukan waktu SMA dulu. Hampir tiap pagi saya menimba setidaknya 20 ember untuk memenuhi bak kamar mandiku. Sampai luber. Aku memang selalu menghitungnya. Agar aku tahu bahwa aku telah menimba setidaknya 15 ember, maka beberapa ember lagi luberlah bak kamar mandiku.

Pagi itu tidak kurang telah 30 ember air aku timba dari sumur itu. Tapi belum penuh. Volume ember di rumah mertuaku ini memang lebih kecil, sehingga untuk ukuran bak kamar mandi yang sebenarnya hampir sama dengan bak kamar mandi di rumahku dulu, butuh lebih dari 30 ember. Sampai kemudian ibuku, ibu mertuaku, menggantikanku untuk memenuhi bak kamar mandi kami.

Awalnya biasa, tidak ada keluhan dari dalam tubuhku. Hanya kemudian selepas aktifitas seharian hari itu, ketika aku melaksanakan sholat maghrib aku merasakan ada yang salah dalam tubuhku. Aku tidak bisa melakukan gerakan rukuk. Tiap kali punggungku dipaksa untuk membungkuk rukuk, baru gerakan awal saja mendadak tulang-tulang punggungku terasa begitu sakit. Ngilu tak terperikan. Semua gerakan yang melibatkan punggung, tak bisa lagi kulakukan karena ia akan selalu mengakibatkan satu hal yang selalu sama, sakit. Berjalan pun harus tertatih. Duduk berdiri harus perlahan, sambil memegangi pinggang. Persis seperti aki-aki yang telah genap berumur 99 tahun. Renta.

Sekembaliku dan keluargaku ke Jogja, derita itu tetap menemaniku. Walau sedikit berkurang, namun aku tetap tidak sanggup untuk melakukan gerakan rukuk dalam sholat-sholatku. Hanya satu pikiranku : ada yang salah di tulang punggungku. Persisnya, aku tidak tahu.

Aku mengadu kepada seorang sahabatku, seorang dokter yang sedang mengambil spesialis bedah di RS Dr Sardjito. Namanya dr. Agus. Setelah berjanji melalui pesan singkat, kami bertemu selepas sholat jumat di Masjid Mardhiyah –masjid legendaris di kampus UGM yang terletak di selatan RS Dr Sardjito.

”Kenapa? Ada apa? Apa keluhannya?” pertanyaan khas seorang dokter.

Di ruang utama masjid itu, mulai aku ceritakan asal muasal rasa sakit di punggungku itu. Hingga akhirnya dia memintaku, ”Coba berbalik sebentar”. Aku berbalik, duduk membelakanginya. Dari atas bajuku, tangannya mulai meraba tulang punggungku dari mulai tengkuk, terus merambat ke bawah hingga mendekati tulang ekorku.

Terhenyak. ”lho lho lho, kok begini. Ckk.. ckk.. ckk..” seakan tak percaya dengan apa yang baru dirabanya, diulanginya lagi meraba tulang punggungku dari atas ke bawah, kembali lagi ke atas. Sambil terus bergumam. ”Bengkoknya nemen gini, pak”

”Wah, Pak. Sudah lama antum merasakan tulang antum bengkok ini?”tanyanya.

Aku ceritakan bahwa sebenarnya punggungku ini telah aku rasakan bengkok sejak menginjak SMA dulu! Ya, sejak tahun 1991. 12 tahun yang lalu. Tapi bagiku selama ini, itu hanyalah kelainan kecil yang mungkin diakibatkan posisi belajarku yang salah. Tidak lebih dari itu.

”Harus di rontgen, akh. Ayuk, kita ke Sardjito. Kita temui dr. Dayat untuk mengambil gambar tulang punggung antum.”

Berdua kami bergegas menemui dr. Dayat di bagian rontgen. Aku lihat dr. Agus sempat beberapa saat bicara dengan dr. Dayat. Serius. Sambil sesekali mereka berdua melihat ke arahku yang menunggu di luar, di ruang tunggu. Dr. Agus kemudian membuat semacam rekomendasi, sebagai pengantar untuk dilakukan foto rontgen punggungku.

Setelah menyelesaikan masalah administrasi sebentar, aku kemudian diantar ke ruang foto rontgen. ”Besok setelah mengambil hasil fotonya, kita ketemu kembali di Masjid Mardhiyah. Ba’da sholat dhuhur” katanya. Aku iyakan sambil melangkahkan kembali kakiku ke pelataran parkir depan Masjid Mardhiyah. Pulang ke kantor.

***

(bersambung)