Pagi ini saya sedang rindu dengannya. Ada sedikit kegalauan ketika akhir pekan kemaren saya meninggalkan dia dan anak-anak. Kutuliskan bait-bait puisi ini khusus untuknya. Sebagai penawar kerinduan dalam dada ini.
Jika engkau bertanya kepadaku
Jika engkau bertanya kepadaku tentang cinta
Aku ingin mengajakmu melihat lilin dan api
Aku rela menjadi lilin itu
Agar api cintamu
terus hangat dan menerangi
Jika engkau bertanya kepadaku tentang cinta
Aku ingin mengajakmu menatap bintang
Aku rela menjadi bintangmu
Yang selalu setia
menemani sang bulan
Dalam malam-malam sepinya
Jika engkau bertanya kepadaku tentang cinta
Aku ingin mengajakmu kepada pelangi
Jangan paksa aku memberimu satu warna
Karena warna-warni pelangi itulah
Yang membuatnya indah
Jika engkau bertanya kepadaku tentang cinta
Aku ingin menggandeng tanganmu untuk melihat mentari pagi
Aku akan menjadi mentari pagimu
Yang terus setia menyapa sang embun pagi
Di setiap paginya
Jakarta Pancoran, 08/05/2008
"Hidup ini seperti aliran air yang akan menuju ke muaranya. Maka jernihkan alirannya..."
Kamis, 08 Mei 2008
Balada Ai Lav Yu
by masker
“Opssss!” Tiba-tiba saja saya mengernyitkan dahi saya ketika sore itu saya melakukan kebiasaan rutin saya, memeriksa buku catatan sekolah Ammar, anak sulung saya yang duduk di bangku kelas satu sekolah dasar.
Bukan karena Ammar mendapat nilai buruk dalam pelajarannya, bukan pula karena ada pesan tertulis dari Bu Guru, yang memang biasanya dituliskan di baris akhir pekerjaan sekolah anak-anak didiknya, sebagai penyemangat atau koreksi pelajaran.
Di sampul buku belakang bagian dalam, kebetulan beberapa lembar lagi buku tulis tersebut hampir habis terpakai, saya menemukan gambar corat-coret kas anak kecil kemudian dalam sebuah kotak tertulis, “Kholis (gambar hati) Haya”. Agak di bawah juga ditulis lagi “Kholis (gambar hati) Arifa”. Dalam hati saya bertanya-tanya, apa kira-kira yang ada di benak anak saya yang belum genap umur 7 tahun itu ketika dia menulisnya.
Malamnya tidak sabar saya sampaikan hal itu ke istri saya, sebagai bahan diskusi. Setelah melihat sebentar, istri saya komentar, “Dulu waktu ummi kelas 6 SD saja ummi belum tahu lho lambang kayak begitu, apalagi maksudnya.”
“Itu dulu Mi, sekarang kan jaman dah lain.” Jawab saya. “Coba ntar kita tanya langsung ke Ammar apa jawabnya. Tapi kita pura-pura gak tahu aja.” Begitu kesepakatan kami malam itu.
Mula-mula istri saya pura-pura membuka buku catatan tersebut di depan anak saya yang sedang bermain-main. “Mas Ammar, kok ini ada gambar bagus ya, ada tulisannya lagi, kho-lis terus gambar hati ha-ya, apasih Mas artinya?” Begitu melihat tulisan tersebut, kelihatan Ammar senyum-senyum malu, “Ya gitu itu maksudnya Mi” jawabnya. “Gitu itu gimana, apa artinya Kholis temennya Haya gitu?” tanya istri lebih lanjut. “Bukan, ya pokoknya gitu.” Jawabnya agak ogah-ogahan.
“Oh iya, mungkin ai-av-yu ya, kayak bantal ai-lav-yu nya Dik Zahra yang warna pink yang Ummi belikan dulu itu?” Istri saya memancing. Saya lihat anak saya cuma mengangguk sambil terus bermain.
“Mas Ammar boleh kok nulis kayak gitu, tapi sebelumnya ditulis juga misalnya Ammar (gambar hati) Alloh, Ammar (gambar hati) Rosulullah, Ammar (gambar hati) Ummi dan Abi, Ammar (gambar hati) Adik, Ammar (gambar hati) Kholis, dan seterusnya gitu.” Mendengar istri saya mengatakan “Ammar (gambar hati) Kholis” anak saya protes, “Kholis kan laki-laki.”
“Lah, kan Rosul juga laki-laki, Abi juga laki-laki, Dik Ghifar juga laki-laki. Kan tanda hati itu maksudnya tanda sayang, jadi artinya mas Ammar sayang ama Kholis, karena Kholis teman bermain di sekolahan, begitu.” Jawab Istri saya. “Iya deh, iya” begitu kata Ammar.
Saya berfikir, sungguh perkembangan informasi sekarang ini sangat masif sekali. Kita sebagai orang tua harus terus memantau perkembangan anak-anak kita, bukankah anak-anak kita itu amanah dari Alloh yang harus kita jaga dengan penuh tanggung jawab? Miris hati saya kalo melihat di teve berita-berita tentang perilaku pelajar sekarang yang telah terlalu jauh menyimpang, seperti yang terjadi di cianjur, bandung dan jakarta apalagi.
Ya Alloh, bantulah kami mendidik dan menjaga anak-anak kami, amanah yang telah engkau titipkan kepada kami ini.
(Tulisan 2 tahunan yang lalu, sekitar tahun 2005/2006)
“Opssss!” Tiba-tiba saja saya mengernyitkan dahi saya ketika sore itu saya melakukan kebiasaan rutin saya, memeriksa buku catatan sekolah Ammar, anak sulung saya yang duduk di bangku kelas satu sekolah dasar.
Bukan karena Ammar mendapat nilai buruk dalam pelajarannya, bukan pula karena ada pesan tertulis dari Bu Guru, yang memang biasanya dituliskan di baris akhir pekerjaan sekolah anak-anak didiknya, sebagai penyemangat atau koreksi pelajaran.
Di sampul buku belakang bagian dalam, kebetulan beberapa lembar lagi buku tulis tersebut hampir habis terpakai, saya menemukan gambar corat-coret kas anak kecil kemudian dalam sebuah kotak tertulis, “Kholis (gambar hati) Haya”. Agak di bawah juga ditulis lagi “Kholis (gambar hati) Arifa”. Dalam hati saya bertanya-tanya, apa kira-kira yang ada di benak anak saya yang belum genap umur 7 tahun itu ketika dia menulisnya.
Malamnya tidak sabar saya sampaikan hal itu ke istri saya, sebagai bahan diskusi. Setelah melihat sebentar, istri saya komentar, “Dulu waktu ummi kelas 6 SD saja ummi belum tahu lho lambang kayak begitu, apalagi maksudnya.”
“Itu dulu Mi, sekarang kan jaman dah lain.” Jawab saya. “Coba ntar kita tanya langsung ke Ammar apa jawabnya. Tapi kita pura-pura gak tahu aja.” Begitu kesepakatan kami malam itu.
Mula-mula istri saya pura-pura membuka buku catatan tersebut di depan anak saya yang sedang bermain-main. “Mas Ammar, kok ini ada gambar bagus ya, ada tulisannya lagi, kho-lis terus gambar hati ha-ya, apasih Mas artinya?” Begitu melihat tulisan tersebut, kelihatan Ammar senyum-senyum malu, “Ya gitu itu maksudnya Mi” jawabnya. “Gitu itu gimana, apa artinya Kholis temennya Haya gitu?” tanya istri lebih lanjut. “Bukan, ya pokoknya gitu.” Jawabnya agak ogah-ogahan.
“Oh iya, mungkin ai-av-yu ya, kayak bantal ai-lav-yu nya Dik Zahra yang warna pink yang Ummi belikan dulu itu?” Istri saya memancing. Saya lihat anak saya cuma mengangguk sambil terus bermain.
“Mas Ammar boleh kok nulis kayak gitu, tapi sebelumnya ditulis juga misalnya Ammar (gambar hati) Alloh, Ammar (gambar hati) Rosulullah, Ammar (gambar hati) Ummi dan Abi, Ammar (gambar hati) Adik, Ammar (gambar hati) Kholis, dan seterusnya gitu.” Mendengar istri saya mengatakan “Ammar (gambar hati) Kholis” anak saya protes, “Kholis kan laki-laki.”
“Lah, kan Rosul juga laki-laki, Abi juga laki-laki, Dik Ghifar juga laki-laki. Kan tanda hati itu maksudnya tanda sayang, jadi artinya mas Ammar sayang ama Kholis, karena Kholis teman bermain di sekolahan, begitu.” Jawab Istri saya. “Iya deh, iya” begitu kata Ammar.
Saya berfikir, sungguh perkembangan informasi sekarang ini sangat masif sekali. Kita sebagai orang tua harus terus memantau perkembangan anak-anak kita, bukankah anak-anak kita itu amanah dari Alloh yang harus kita jaga dengan penuh tanggung jawab? Miris hati saya kalo melihat di teve berita-berita tentang perilaku pelajar sekarang yang telah terlalu jauh menyimpang, seperti yang terjadi di cianjur, bandung dan jakarta apalagi.
Ya Alloh, bantulah kami mendidik dan menjaga anak-anak kami, amanah yang telah engkau titipkan kepada kami ini.
(Tulisan 2 tahunan yang lalu, sekitar tahun 2005/2006)
Energi = m.g.h
By masker
Masih ingat rumus fisika ini waktu kita di bangku sekolah dulu? Energi adalah hasil dari perkalian massa (m) dan grafitasi (g) dengan faktor ketinggian (h). Biasanya massa dan grafitasi diasumsikan tetap atau konstan sehingga di sini berlaku bahwa energi (E) suatu obyek akan tergantung dan berbanding lurus dengan faktor ketinggian obyek tersebut.
Saya tidak hendak menguji kemampuan fisika anda karena barangkali itu sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan yang anda jalani sekarang. Saya juga tidak sedang bernostalgia dengan nilai fisika saya yang sangat bagus kala di kelas satu dan buruk di dua tingkat berikutnya, waktu saya sma dulu.
Saya hanya ingin sedikit mengajak anda untuk membaca rumus ini dengan kacamata yang lain. Energi (E) di sini saya baca sebagai energi kebaikan yang bersemayam dalam diri kita, yaitu energi dakwah dan energi keshalihan kita. Faktor berikutnya adalah m (maknawiyah), g (ghiroh), serta h (rentang waktu kita beraktifitas dakwah).
Ikhwah sekalian, sebagaimana rumus asalnya, saya berasumsi bahwa anda semua adalah orang-orang yang bisa menjaga kestabilan maknawiyah dan ghiroh keislaman anda. Jika ini benar, maka sesungguhnya semakin jauh dan semakin lama anda menapaki jalan dakwah ini maka seharusnya ia akan melahirkan energi dakwah yang semakin besar pula dalam diri anda. Energi ini adalah energi untuk selalu melahirkan kebaikan di lingkungan kita. Energi yang akan mendorong kita untuk tetap tegar di jalan dakwah para nabi ini, walau mungkin berbagai caci maki dan fitnah datang menghadang.
Saya hanya kembali terbayang dengan para sahabat nabi yang ketika usia mereka yang semakin tua sehingga kekuatan mereka pun tidak seperti di kala mudanya, namun tetap mempunyai energi dan semangat untuk selalu berdakwah dan berjihad di jalan ALLOH. Ingat sebuah kisah ketika ada mobilisasi jihad di masa kekhalifahan, seorang bapak yang sudah uzur usianya sampai harus berdebat dengan anak-anaknya hanya untuk menentukan siapa yang layak berangkat? Masing-masing ngotot ingin berangkat berperang, sehingga akhirnya dengan berat hati anak-anaknya tersebut merelakan sang bapak yang berangkat.
Atau pun para salafus shalih, ulama-ulama terdahulu dan juga ulama-ulama mujahid yang datang kemudian, yang saya banyak menemukan pribadi-pribadi yang sampai masa senjanya mereka selalu bisa menjaga energi keshalihannya. Seiring dengan semakin bertambahnya usia identik dengan semakin bertambahnya pengalaman seseorang dalam bergelut dengan asam garam perjuangan. Sehingga ketika hal ini ditopang dengan kondisi maknawiyah yang kokoh dan terjaga, sekaligus dipupuk dengan ghiroh yang senantiasa menyala dalam dada, inilah kiranya rahasia para mujahid tersebut dalam memelihara energi kebaikannya.
Jika semakin usia kita bertambah ternyata energi kebaikan dan keshalihan kita ternyata tak kunjung meningkat atau bahkan malah semakin surut, maka waspadalah. Waspadalah. Waspadalah. Boleh jadi kekonsistenan anda dalam menjaga kestabilan faktor m dan g dalam diri anda masih kurang. Mari kita berbenah kembali.
(dieja lagi saat langkah-langkah sedang memberat)
Masih ingat rumus fisika ini waktu kita di bangku sekolah dulu? Energi adalah hasil dari perkalian massa (m) dan grafitasi (g) dengan faktor ketinggian (h). Biasanya massa dan grafitasi diasumsikan tetap atau konstan sehingga di sini berlaku bahwa energi (E) suatu obyek akan tergantung dan berbanding lurus dengan faktor ketinggian obyek tersebut.
Saya tidak hendak menguji kemampuan fisika anda karena barangkali itu sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan yang anda jalani sekarang. Saya juga tidak sedang bernostalgia dengan nilai fisika saya yang sangat bagus kala di kelas satu dan buruk di dua tingkat berikutnya, waktu saya sma dulu.
Saya hanya ingin sedikit mengajak anda untuk membaca rumus ini dengan kacamata yang lain. Energi (E) di sini saya baca sebagai energi kebaikan yang bersemayam dalam diri kita, yaitu energi dakwah dan energi keshalihan kita. Faktor berikutnya adalah m (maknawiyah), g (ghiroh), serta h (rentang waktu kita beraktifitas dakwah).
Ikhwah sekalian, sebagaimana rumus asalnya, saya berasumsi bahwa anda semua adalah orang-orang yang bisa menjaga kestabilan maknawiyah dan ghiroh keislaman anda. Jika ini benar, maka sesungguhnya semakin jauh dan semakin lama anda menapaki jalan dakwah ini maka seharusnya ia akan melahirkan energi dakwah yang semakin besar pula dalam diri anda. Energi ini adalah energi untuk selalu melahirkan kebaikan di lingkungan kita. Energi yang akan mendorong kita untuk tetap tegar di jalan dakwah para nabi ini, walau mungkin berbagai caci maki dan fitnah datang menghadang.
Saya hanya kembali terbayang dengan para sahabat nabi yang ketika usia mereka yang semakin tua sehingga kekuatan mereka pun tidak seperti di kala mudanya, namun tetap mempunyai energi dan semangat untuk selalu berdakwah dan berjihad di jalan ALLOH. Ingat sebuah kisah ketika ada mobilisasi jihad di masa kekhalifahan, seorang bapak yang sudah uzur usianya sampai harus berdebat dengan anak-anaknya hanya untuk menentukan siapa yang layak berangkat? Masing-masing ngotot ingin berangkat berperang, sehingga akhirnya dengan berat hati anak-anaknya tersebut merelakan sang bapak yang berangkat.
Atau pun para salafus shalih, ulama-ulama terdahulu dan juga ulama-ulama mujahid yang datang kemudian, yang saya banyak menemukan pribadi-pribadi yang sampai masa senjanya mereka selalu bisa menjaga energi keshalihannya. Seiring dengan semakin bertambahnya usia identik dengan semakin bertambahnya pengalaman seseorang dalam bergelut dengan asam garam perjuangan. Sehingga ketika hal ini ditopang dengan kondisi maknawiyah yang kokoh dan terjaga, sekaligus dipupuk dengan ghiroh yang senantiasa menyala dalam dada, inilah kiranya rahasia para mujahid tersebut dalam memelihara energi kebaikannya.
Jika semakin usia kita bertambah ternyata energi kebaikan dan keshalihan kita ternyata tak kunjung meningkat atau bahkan malah semakin surut, maka waspadalah. Waspadalah. Waspadalah. Boleh jadi kekonsistenan anda dalam menjaga kestabilan faktor m dan g dalam diri anda masih kurang. Mari kita berbenah kembali.
(dieja lagi saat langkah-langkah sedang memberat)
Selasa, 06 Mei 2008
Kelelahan Jiwa
Kelelahan Jiwa
Jika hati lelah
Maka sempatkan untuk memandang
bintang gemintang yang bertaburan
di atas sana
maka yakinlah
akan kau dapatkan
secercah lapang dalam hatimu
luasnya hamparan yang terbentang
di hadapanmu
seakan membuka kembali
mata hatimu
bahwa
betapa agung dan luas kekuasaan-Nya
Jiwaku
Keletihan yang kini kau rasa
Tak sebanding dengan
Kemurahan yang telah kau dapat
Dari-Nya
Lelahku
Biarlah engkau menjadi saksi
Bahwa
Perjalanan ini memang harus dilewati
Bukan untuk dihindari
Lelah
Jiwa
Pandanglah bintang
Di atas sana
Jakarta, 16:30 06/05/2008
Jika hati lelah
Maka sempatkan untuk memandang
bintang gemintang yang bertaburan
di atas sana
maka yakinlah
akan kau dapatkan
secercah lapang dalam hatimu
luasnya hamparan yang terbentang
di hadapanmu
seakan membuka kembali
mata hatimu
bahwa
betapa agung dan luas kekuasaan-Nya
Jiwaku
Keletihan yang kini kau rasa
Tak sebanding dengan
Kemurahan yang telah kau dapat
Dari-Nya
Lelahku
Biarlah engkau menjadi saksi
Bahwa
Perjalanan ini memang harus dilewati
Bukan untuk dihindari
Lelah
Jiwa
Pandanglah bintang
Di atas sana
Jakarta, 16:30 06/05/2008
Menulislah…
Menulislah…
Ya, menulislah kawan. Karena dengan menulis, sungguh engkau akan merasa hidup terus. Tulisan mewakili apa yang berputar dalam pikiran dan hati kita. Dengan menulis, maka ia seakan menjadi prasasti yang siap membawa pikiran dan hati kita ke dimensi waktu yang akan datang.
Bukan perkara yang sulit. Tapi juga bukan perkara yang enteng. Yang dibutuhkan adalah kemauan. Karena memang, untuk menuangkan sebuah ide menjadi tulisan dibutuhkan keseriusan tersendiri dengan ditambahi sedikit mood.
Dengan menulis, semua yang terpendam dalam benak pikiran dan tersimpan jauh dalam relung hati kita terdalam, dapat mengalir tanpa harus ada ganjalan. Selalu ada perasaan tersendiri ketika semua yang tidak bisa terucap dengan lisan, bisa kita tuangkan dalam bentuk tulisan.
Dengan menulis, orang pun akan paham dengan pola pikir kita. Dengan karakter kita. Bahkan mungkin sifat dan kecenderungan kita pun akan terbaca dari tulisan-tulisan kita. Ibaratnya, tulisan kita mencerminkan ruh yang bersemayam dalam raga kita.
Anda bisa melihat, orang-orang hebat bisa terlihat dari apa yang mereka tulis. Karena itulah gagasan-gagasan mereka. Karena itulah pikiran dan ide-ide mereka. Karena itulah letupan-letupan semangat dan asa yang ada dalam jiwa mereka.
Dengan menulis, pun kita bisa berlatih mengontrol dan mengevaluasi kepribadian kita. Karena tulisan-tulisan yang terdokumentasi, akan menjadi bukti otentik cerminan keadaan jiwa kita saat itu. Sehingga bisa kita evaluasi kembali.
Dan ingat pula, dengan menulis anda punya kesempatan untuk memberi pencerahan kepada banyak orang dan lebih banyak orang. Bahkan bisa jadi lintas generasi. Lihatlah para ulama yang telah meninggalkan warisan dalam bentuk ilmu-ilmu melalui kitab-kitab karangan mereka. Betapa mencengangkan kalo kita membayangkan pahala yang akan mereka peroleh karena amal berupa ilmu yang bermanfaat itu.
Karena itu, jangan ragu menulis. Tuangkan ide-ide, gagasan-gagasan, mimpi-mimpi, keinginan-keinginan anda segera. Karena boleh jadi, kesuksesan kita di masa datang sedang kita rancang dan bangun melalui kerangka-kerangka sederhana ini.
Mari mencoba.
Ya, menulislah kawan. Karena dengan menulis, sungguh engkau akan merasa hidup terus. Tulisan mewakili apa yang berputar dalam pikiran dan hati kita. Dengan menulis, maka ia seakan menjadi prasasti yang siap membawa pikiran dan hati kita ke dimensi waktu yang akan datang.
Bukan perkara yang sulit. Tapi juga bukan perkara yang enteng. Yang dibutuhkan adalah kemauan. Karena memang, untuk menuangkan sebuah ide menjadi tulisan dibutuhkan keseriusan tersendiri dengan ditambahi sedikit mood.
Dengan menulis, semua yang terpendam dalam benak pikiran dan tersimpan jauh dalam relung hati kita terdalam, dapat mengalir tanpa harus ada ganjalan. Selalu ada perasaan tersendiri ketika semua yang tidak bisa terucap dengan lisan, bisa kita tuangkan dalam bentuk tulisan.
Dengan menulis, orang pun akan paham dengan pola pikir kita. Dengan karakter kita. Bahkan mungkin sifat dan kecenderungan kita pun akan terbaca dari tulisan-tulisan kita. Ibaratnya, tulisan kita mencerminkan ruh yang bersemayam dalam raga kita.
Anda bisa melihat, orang-orang hebat bisa terlihat dari apa yang mereka tulis. Karena itulah gagasan-gagasan mereka. Karena itulah pikiran dan ide-ide mereka. Karena itulah letupan-letupan semangat dan asa yang ada dalam jiwa mereka.
Dengan menulis, pun kita bisa berlatih mengontrol dan mengevaluasi kepribadian kita. Karena tulisan-tulisan yang terdokumentasi, akan menjadi bukti otentik cerminan keadaan jiwa kita saat itu. Sehingga bisa kita evaluasi kembali.
Dan ingat pula, dengan menulis anda punya kesempatan untuk memberi pencerahan kepada banyak orang dan lebih banyak orang. Bahkan bisa jadi lintas generasi. Lihatlah para ulama yang telah meninggalkan warisan dalam bentuk ilmu-ilmu melalui kitab-kitab karangan mereka. Betapa mencengangkan kalo kita membayangkan pahala yang akan mereka peroleh karena amal berupa ilmu yang bermanfaat itu.
Karena itu, jangan ragu menulis. Tuangkan ide-ide, gagasan-gagasan, mimpi-mimpi, keinginan-keinginan anda segera. Karena boleh jadi, kesuksesan kita di masa datang sedang kita rancang dan bangun melalui kerangka-kerangka sederhana ini.
Mari mencoba.
Langganan:
Postingan (Atom)