Jumat, 01 Agustus 2008

Sekedar Menapaktilasi Perjalanan

Februari 1998

Akhir ramadhan pada 1418 H kalau tidak salah, atau sekitar bulan Februari 1998, 10 tahun yang lalu. Saya masih ingat di salah satu ruangan Masjid Baitul Mal kampus kami, saya sedang tiduran di tengah aktifitas i’tikaf waktu itu. Ada dua hal yang begitu menggelayuti pikiran saya. Pertama, penempatan kerja yang masih menjadi teka-teki saya. Entah, sepertinya saya merasa yakin akan mendapatkan penempatan di pulau Jawa. Yang kedua, saya sedang menunggu jawaban dari seorang gadis. Ehhmm...

Tiba-tiba salah seorang sahabat saya membangunkan saya. ”Ente penempatan di Palembang. Bareng ama Muji n Tenang.” Oops, Palembang? Padahal si dia kan instansinya bepeka. Palembang sepertinya belum ada bepeka. Begitu pikir saya. Ah, insyaAllah nanti akan ada jalan keluar.

Malam harinya ada telepon buat saya. Ternyata dari murabbiyah gadis tadi. Setelah mengabarkan seperlunya, beliau menanyakan kesiapan saya. “Oke, insyaAllah saya siap ta’aruf mbak. Tolong nanti dikabarkan waktu dan tempatnya.” Begitu jawab saya. Sempat saya sampaikan juga bahwa saya penempatan di Palembang. Persisnya di Kanwil III DJP Sumbagsel. Sebagai bahan pemberitahuan kepada sang gadis juga.

Alhamdulillah, semua dimudahkan. Ternyata di Palembang telah dibuka Bepeka Sub unit Perwakilan Palembang. Proses ta’aruf pun yang sedianya dilakukan di Jakarta akhirnya disepakati langsung di rumah sang gadis, di Semarang. Karena dia sudah terlanjur pulang untuk berlebaran. Tiga hari pasca idul fitri tahun itu saya ta’aruf dengannya sekaligus dengan orang tuanya. Itulah momen pertama kali saya melihat calon istri saya.

Sepekan dari hari itu, saya datang dengan orang tua saya untuk meminang gadis tersebut. Forum yang sederhana, orang tua saya bertemu dengan orang tua dia. Kami akhirnya menetukan hari h pernikahan kami, satu setengah bulan setelah hari itu.

Maret 1998

Awal maret ini, merupakan kali pertama saya menginjakkan kaki di bumi swarnadwipa. Palembang. Dengan menumpang bis Putera Remaja kelas super eksekutif (waktu itu masih Rp. 60.000), merupakan pengalaman tersendiri bagi kami.

05 April 1998

Ini adalah hari pernikahan saya. Awal bulan dzulhijah, seingat saya 2 hari menjelang hari raya idul adha. Ada banyak cerita di momen bersejarah ini, yang menurut saya harus diceritakan dalam cerita tersendiri. Saya langsung dari Palembang menuju Jakarta, berombongan dengan teman-teman berangkat dari arah Jakarta. Sementara sahabat-sahabat dari klaten dan keluarga berangkat dalam dua rombongan.

Saya harus berterima kasih kepada sahabat-sahabat saya yang berkenan menemani saya pada hari pernikahan saya tersebut. Semoga Allah membalas kebaikan antum antunna semua dengan balasan yang jauh lebih baik. Dan semoga Allah senantiasa memberkahi antum dan keluarga.

Jakarta - Palembang

Praktis sepekan setelah akad nikah, saya harus kembali ke Palembang. Istri kemudian mulai proses mengurus kepindahan dari Jakarta ke Palembang. Jeda sampai dengan keluarnya SK kepindahan istri ke Palembang, kami menjalani kehidupan jarak jauh. Sebulan sekali saya berkunjung ke Jakarta. Transportasi yang bisa kami jangkau hanyalah bis. Inilah periode pertama perpisahan saya dan istri.

Dramatis. Barangkali bisa dikatakan demikian. Banyak momen besar terjadi dalam periode ini. Puncak krisis ekonomi di Indonesia. Demo besar-besaran reformasi. Hingga lengsernya Pak harto dari kursi kepresidenan.

Ketika kerusuhan Mei 1998, ketika penjarahan dan pembakaran terjadi di jalanan-jalanan ibu kota. Ketika korban mulai berjatuhan di semanggi dan trisakti. Palembang pun bergolak. Demo, perusakan, dan pembakaran terjadi di beberapa ruas jalan. Sore itu saya harus berangkat ke Jakarta. Bis yang saya naiki harus berputar-putar untuk menghindari kerumunan-kerumunan massa. Kru bis memimpin doa, agar perjalanan sampai Jakarta selamat. Sesuatu yang tidak biasa.

Pagi sesampai di Jakarta, sepanjang jalanan dari atas bis saya hanya bisa melihat bekas-bekas kerusuhan. Puing-puing berserakan di sana-sini. Benar-benar kerusuhan yang luar biasa, hanya itu yang bisa saya bayangkan.

Pagi 20 Mei itu, saya berdua istri hendak berangkat ke monas. Kami tidak tahu jika acara peringatan kebangkitan nasional besar-besaran yang dimotori Pak Amin Rais di monas itu dibatalkan. Yang kami tahu kemudian hanyalah kenyataan bahwa semua akses jalan ke arah monas diblokade. Tentara dan mobil panser ada di mana-mana, hampir di tiap perempatan besar. Akhirnya kami berangkat ke senayan, bergabung dengan para mahasiswa yang telah lebih dulu menduduki senayan. Ah, benar-benar hari yang penuh kenangan.

Inilah bagian dari kenangan-kenangan periode Jakarta-Palembang. Kurang lebih 5 bulan saya harus menjalaninya. Hingga akhirnya istri bisa pindah Palembang pada bulan Juli atau Agustus berikutnya.

Palembang

Menempati sebuah rumah petak di daerah dekat sport hall, yang kami sewa Rp. 900rb satu tahun, kami mengawali hidup di Palembang. Di sini pulalah kemudian lahir anak kami yang pertama. Malam itu jam 23.00 istri saya sudah mulai merasa sering kontraksi. Sempat sedikit panik karena saya belum punya kendaraan. Mencari angkutan/taksi adalah hal yang susah di malam seperti ini. Saya mengetuk pintu seorang ikhwah telkom (Pak Hendra Noviar) yang kontrakannya di blok belakang kami. Yang saya tahu dia mempunyai mobil. Ternyata dia mengabarkan bahwa mobilnya telah dia jual.

Saya ingat dengan sahabat lain yang tinggal di komplek PUSRI, namanya M Luthfi. Ya, orang tuanya punya mobil. Dengan pinjaman telepon ikhwah telkom tadi, saya mengontak dia. Alhamdulillah, dia bersedia. Kurang lebih pukul 23.45 mobil datang. Kami segera berangkat ke rumah sakit bersalin. Pukul 00.05 kami telah sampai di rumah sakit. Alhamdulillah, Allah memudahkan semuanya. Kurang lebih 20 menit kemudian anak pertama kami lahir. Hari itu, 16 April 1999, satu tahun sejak pernikahan kami.

September tahun 1999, istri akhirnya harus kuliah S2 di Yogyakarta. Sejatinya dulu ketika awal pernikahan persiapan yang dilakukannya adalah untuk S2 luar negeri, tapi saya tidak mengijinkannya. Jadilah istri dengan anak saya berangkat lebih dulu ke Yogyakarta. Waktu mengantar ke sana, akhirnya kami dapatkan kost di sebuah rumah yang dikontrak bersama beberapa akhwat di sana. Nama kostnya TSABITA.

Palembang – Yogyakarta

Ini periode kedua perpisahan saya dengan istri dan anak. Sebulan sekali saya pulang ke Jogjakarta. Jalur darat dengan bis kurang lebih menempuh waktu 36-40 jam. Perjalanan yang melelahkan. Kesendirian di Palembang cukup menguras pikiran saya. Lebih terasa ketika bulan puasa mulai menjelang. Beruntung ada 2 sahabat saya dari BPKP yang kontrak di sebelah kontarakan saya. Lumayan untuk menemani hari-hari sepi saya.

Menginjak awal tahun 2000 saya menyampaikan kondisi saya ke atasan dan akhirnya mengajukan permohonan pindah ke Yogyakarta pada awal Februari tersebut. Setelah kurang lebih 6 bulan berpisah, akhir Maret keluar SK kepindahan saya ke Yogyakarta. Alhamdulillah Allah mudahkan.

Yogyakarta (1)

Di Yogyakarta kami mengontrak sebuah rumah sederhana, 1,4 juta satu tahun. Sebuah rumah semi permanen. Dinding luar tembok, sekat-sekat di dalam memakai triplek. Sengaja kami mencari lokasi dekat dengan kampus, agar memudahkan istri jika hendak kuliah.

Alhamdulillah, kuliah istri berjalan lancar. Bahkan saat menyusun tesis adalah saat-saat dia mengandung anak kami yang kedua, dia dapat menyelesaikannya dengan baik. Hingga akhirnya istri melahirkan anak kami pada 04 januari 2001. Seorang bayi perempuan. Lengkap sudah kebahagiaan kami dengan dikaruniakannya kepada kami sepasang anak laki-laki dan perempuan.

Sekitar bulan Maret 2001 istri wisuda. Persoalan berikutnya datang, selesai kuliah istri harus kembali ke Palembang. Dan periode ketiga perpisahan saya dengan istri dan anak-anak harus saya jalani.

Yogyakarta – Palembang

Pada awal-awal kembalinya istri ke Palembang, sempat kami berbagi anak. Yang sulung ikut saya di Yogyakarta sementara yang kecil karena masih menyusu, ikut istri ke Palembang. Usianya baru 5 bulanan waktu itu, sedangkan kakaknya usianya 2 tahun.

Setelah sebelumnya sempat menumpang di rumah seorang ikhwah karena belum mendapatkan kontrakan di Palembang, akhirnya istri mendapat sebuah kontrakan tidak jauh dari kontrakan awal kami dulu. Sewanya 1,2 juta satu tahun.

Karena berbagai pertimbangan, akhirnya si sulung saya antarkan ke Palembang juga. Sehingga istri bertiga dengan anak-anak di Palembang, sementara saya sendirian di Yogyakarta. Alhamdulillah, kami akhirnya dapatkan seorang khadimat yang bisa menemani istri dan anak-anak di sana.

Periode ini bagi saya lebih terasa berat lagi. Membayangkan istri dengan dua orang anak di pulau seberang sana, membuat hati ini teriris-iris. Kami kemudian mengupayakan permohonan pindah ke Yogyakarta. Telah beberapa pejabat bepeka kami datangi, tapi berkahir mentok. SK Kepindahan tidak kunjung datang.

Satu atau dua bulan sekali kembali saya harus melewati jarak Yogyakarta-Palembang dengan bis yang menempuh waktu 36 – 40 jam. Satu tahun lebih saya menjalani ini. Cukup melelahkan dan menguras energi. Hingga kemudian ketika ada pergantian sekjen bepeka, ada kebijakan untuk mempermudah kepindahan mengikuti suami. Menjelang akhir tahun 2002 istri bisa mendapatkan SK pindah ke Yogyakarta. Alhamdulillah. Akhirnya kembali kami bisa berkumpul.

Yogyakarta (2)

Tahun 2002, KPP Yogyakarta pecah menjadi dua, KPP Yogyakarta Satu dan KPP Yogyakarta Dua. Saya termasuk satu dari sekian puluh pegawai yang ikut dipindahkan ke KPP Yogyakarta Dua. Menempati sebuah gedung tua eks gedung departemen sosial. Semua serba darurat. Begitulah gambaran kantor kami waktu itu.

Di sisi lain, berkumpul lagi dengan istri membuat produktifitas kami kembali. Tahun 2003 istri kembali hamil dan melahirkan pada 09 Desember 2003. Anak ketiga kami laki-laki. Alhamdulillah.

Tahun-tahun ini adalah DJP memulai modernisasinya. Terutama dimulai dari beberapa kantor di DKI. Membayangkan kantor yang mempunyai sistem yang lebih baik, menjadi obsesi tersendiri bagi saya dan beberapa teman. Tapi untuk meninggalkan keluarga lagi, bagi saya ini sesuatu yang berat dan harus dipikirkan kembali.

Akhirnya ketika ada panggilan untuk test saringan lagi tahun 2005, yang di formulirnya mencantumkan opsi/pilihan untuk penempatannya, ditambah dengan dorongan dari beberapa atasan kami yang telah terlebih dulu ikut modernisasi di wilayah DKI, saya dan beberapa teman mengikuti test seleksi tersebut. Tentu di opsi penempatan itu saya mencantumkan pilihan pertama Kanwil DJP Jabagteng 2 dan pilihan dua Kanwil DJP Jabagteng 1. Saya sudah trauma untuk berpisah lagi dari keluarga. Opsi ketiga saya kosongkan.

Test pertama dan kedua, saya dan beberapa teman yang dari awal mengikutinya alhamdulillah lulus. Sejauh itu kami belum penempatan. Saya tetap optimis dengan penempatan sesuai permintaan, mengingat tidak akan lama lagi modernisasi merambah ke arah jawa tengah dan jawa timur. Hingga gempa Mei 2006, memporakporandakan kantor kami. Hampir 3 bulan kami tidak bisa bekerja. Kantor harus pindah kantor menyewa sebuah gedung bekas sewaan Bank Mandiri.

Februari 2007, ada diklat SAM. Selama sepekan kami mendapatkan diklat seputar modernisasi DJP. Menginjak hari terakhir diklat, kami semua dikejutkan dengan keluarnya SK Mutasi kami. Dari Jogja, satu orang ke Madya Medan, satu orang ke Madya Sidoarjo, satu orang ke Kanwil Makassar, selebihnya sebelas orang ke Jakarta termasuk saya.

Akhirnya, kejadian ini mesti berulang lagi. Saya lagi-lagi harus berpisah dari istri dan anak-anak. Dan inilah memang kenyataan yang harus kami jalani. Dari sekian orang yang mutasi tersebut, hanya teman kami yang mutasi ke Medan yang memboyong serta keluarganya. Selebihnya, dengan berbagai alasan dan pertimbangan dengan berat hati kami tinggalkan keluarga kami di Yogyakarta.

Mulailah periode keempat perpisahan saya dengan istri dan anak-anak. Kehidupan jarak jauh Jakarta – Yogyakarta menjadi menu saya.

Jakarta – Yogyakarta

Bulan Maret 2007. Dimulai dari bulan inilah saya kembali menjalani kehidupan jarak jauh. Awalnya keinginan saya adalah 2 pekan sekali pulang. Ternyata teman-teman lebih atraktif, tiap pekan kita harus pulang. Dan memang kenyataannya, saya akhirnya tidak bisa untuk tidak pulang tiap pekan.

Alhamdulillah, sepekan sekali saya masih bisa pulang ke Yogyakarta. Teman kami yang di Makassar hanya bisa pulang paling cepat 2 pekan sekali. Itu pun ongkosnya luar biasa karena harus tiket pesawar. Kereta api menjadi sarana transportasi langganan kami. Bahkan mungkin sang kondektur sampai-sampai hafal dengan wajah-wajah kami.

Ya, tentunya kami tidak bisa 100% fokus pada akhirnya. Karena akhirnya pikiran kami harus banyak cabangnya. Meski tertatih-tatih, kami mencoba untuk terus melaksanakan amanah yang diberikan kepada kami. Dan kami belum tahu sampai kapan ujung dari periode ini. Satu yang menjadi harapan kami bahwa hidup bersama kembali dengan istri dan anak-anak kami bisa kami rasakan kembali. Meski kami harus bersabar menunggu saat-saat itu kembali.

Semoga...

Selasa, 29 Juli 2008

Mencoba Menepati Janji Yang Berserak…

Pekan pertama bulan Juli kemaren adalah pekan pertama liburan sekolah anak-anak. Sejatinya saya dan istri merencanakan hendak mengajak liburan anak-anak ke Jakarta. Dan anak-anak pun bersemangat. Akan tetapi rencana itu kami putuskan untuk dibatalkan. Tiket kereta minggu-minggu ini begitu susah didapat dan yang pasti harganya lumayan mahal. Akhirnya kami sepakati untuk rihlah di obyek wisata di sekitar Jogja saja. Dan pilihannya adalah Candi Borobudur.

Sejak awal pekan itu, anak bungsu saya badannya panas. Bahkan tengah pekan itu istri saya juga mengeluh mulai panas dingin. Saya memutuskan untuk pulang Jogja pada kamis malam, karena takut terjadi apa-apa pada mereka berdua.

Jum’at pagi setiba di rumah, pagi itu juga saya mengantar anak bungsu dan istri saya ke puskesmas. Jaraknya kurang lebih 2 kiloan dari rumah. Setelah diperiksa dan diberi obat, kami bergegas pulang. Rupanya istri dan anak-anak telah membuat jadwal harian selama liburan pekan tersebut. Jadwal tersebut tertempel di pintu kamar anak-anak. Hmm, sesuai jadwal, Jum’at dan Sabtu itu semestinya agenda rihlah ke Candi Borobudur.

”Mbak, karena adik sakit jadi rihlahnya kita undur ya. Besok kalo adik sudah sehat, kita langsung berangkat.” hati-hati istri menyampaikan ke gadis kecil kami. Karena memang untuk urusan beginian, boleh dibilang dia yang paling suka ’cerewet” berkomentar. ”Ya udah. Tapi janji lho. Masak sudah gak jadi ke Jakartanya, yang ini ntar juga gak jadi lagi.” protesnya. ”InsyaAllah.”

**********

Sabtu pagi, kondisi istri sudah jauh membaik. Akan tetapi si bungsu masih panas. Tapi yang mengherankan, aktifnya tidak berkurang. Tidak seperti anak sakit yang biasanya lesu. Akhirnya pagi itu kami bawa lagi ke puskesmas dan kami minta test darah.

Pukul 10.00 kami kembali ke puskesmas untuk mengambil hasil test darah. “Bapak Ibu, hasil testnya positif thypus. Kami anjurkan untuk diopname ya. Tapi kalo tidak mau diopname, Bapak Ibu harus menandatangani surat pernyataan. Atau kalau mau dirujuk ke RS, akan kami buatkan surat rujukan” Begitu kata dokter. “Maaf Dok, kami mau bermusyawarah sebentar.” Tawar kami.

Di luar kami cukup tegang juga, kami membicarakan anak teman kami yang beberapa minggu sebelumnya pernah dirawat di puskesmas tersebut dan pada akhirnya minta dirujuk ke RS Sarjito. Akhirnya saya telepon dia untuk konfirmasi penyebabnya kenapa minta dipindah ke RS Sarjito. “Hasil testnya tidak akurat bro, lagian selama 3 hari di situ anak saya tidak diapa-apain. Malah anak stress kelihatannya.” Begitu kata teman saya di telepon.

Akhirnya kami sepakati untuk minta dirujuk ke RS Sarjito saja. Sampai rumah, kami menawar lagi ke anak-anak, “Anak-anak, ini adik tadi diminta opname sama puskesmas. Sekarang mau dibawa ke Sarjito. Nanti kalo benar-benar harus diopname, rihlahnya diundur pekan depan ya.” Sambil kami menyiapkan beberapa baju ke dalam tas. “Ya, ndak papa deh. Terserah umi” Jawab mereka kelihatan pasrah.

Dari rumah kami ke RS Sarjito kurang lebih berjarak 7KM. Di IRD RS Sarjito, setelah menunggu pendaftaran beberapa saat si bungsu mulai diperiksa. Yang saya tahu, yang menangani pasien anak-anak di sini pastinya adalah para residen/calon dokter spesialis anak yang telah senior. Dokter yang menangani si bungsu kebetulan wanita. Setelah kami jelaskan kronologisnya, kami ditanyakan beberapa hal termasuk riwayat panasnya.

Di luar dugaan kami, ternyata dokter hanya menganjurkan obat jalan. “Bu, ini nanti kami beri resep untuk obat jalan saja. Tidak perlu diopname. Tapi kalo sampai hari senin nanti masih panas, mohon segera dibawa kembali ke sini ya.” Pesan dokter tersebut. Akhirnya drama ketegangan hari itu mulai menurun. ”Alhamdulillah dek, kamu gak jadi diopname.” kata istri saya kepada si bungsu.

Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit dan apotek setelah beli obat sebelumnya, waktu telah menunjukkan sekitar jam 14.00. Saya sampaikan ke istri, ”Dek, kalo bisa janji ke anak-anak jangan sampai tidak jadi lagi. Takut jadi preseden buruk aja. Takut mereka tidak lagi percaya dengan kita.” Istri akhirnya mengiyakan perkataan saya.

”Mi, gimana jadi gak rihlahnya?” tanya anak-anak setelah kami sampai di rumah. ”Tanya abi tuh..” Kata istri saya. Anak-anak hanya melihat ke arah saya. ”Ya, jadi” jawab saya singkat. ”Nanti ba’da ashar kita berangkat.” lanjut saya.

Sesaat kemudian kami sibuk berkemas. Membawa bekal dan baju secukupnya. Kami berencana mencari penginapan yang murah di sekitar sana. Ini juga bagian janji yang kami sepakati dengan anak-anak, yang tentunya harus kami tepati juga.

**********

Berenam (saya, istri, tiga anak beserta khadimat) kami berangkat sore itu. Perjalanan ke Candi Borobudur ternyata cukup lama karena ada titik-titik yang lalu lintasnya padat merayap. Menjelang lokasi, ada seorang sahabat lama yang menelepon ke hp. Karena saya di depan kemudi tadinya panggilan itu hendak saya abaikan. Tapi istri segera mengangkatnya dan menempelkan hp ke telinga saya. Jadilah saya berbincang dengannya sambil mengemudi.

Dia adalah salah satu sahabat terbaik saya. Banyak cerita dan kenangan kami buat bersama. Jika ada kesempatan ingin saya menuliskannya. Boleh dibilang sangat jarang sekali kami bisa bertemu. Yang saya ingat, setelah lulus kuliah saya tahun 1997, kami hanya bertemu dalam 5 momen : (1) waktu pernikahan saya di Semarang, (2) waktu awal-awal saya pindah ke Jogja (dia sempat berkunjung ke kontrakan saya di Pogung Lor hanya saya lupa atas keperluan apa waktu itu), (3) waktu pernikahan dia di Bantul, (4) waktu kelahiran anak pertamanya di Queen Latifa. Terakhir adalah momen lebaran kemaren.

Menjelang pintu parkir ada kesibukan tersendiri. Atas inisiatif istri hp sementara dimatikan, karena keperluan saya dengan petugas pintu masuk. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Batas akhir penutupan tiket masuk ke candi borobudur 15 menit lagi. Lewat pengeras suara, petugas memberitahukan kepada pengunjung yang baru datang untuk segera ke loket pembelian tiket masuk.

Karena hari telah sore menjelang maghrib, akhirnya kami putuskan untuk mencari penginapan terlebih dahulu. Ke candinya besok pagi saja.

Perjalanan mencari penginapan yang representatif menjadi perjuangan tersendiri. Penginapan yang kami telepon pertama kali menginformasikan bahwa malam itu telah full booking karena malam itu kebetulan ada pementasan sendra tari di halaman candi sehingga banyak wisatawan berdatangan.

Kami terus berputar dengan kendaraan dari satu penginapan ke penginapan di sekitar candi. Dan semuanya telah penuh dibooking. Tak terasa telah jauh dari lingkaran candi. ”Kalo ndak dapat penginapan kita pulang saja ya.” kata istri. ”Ya ndak lah, kita sekarang cari saja ke Magelang. Penginapan yang biasa dipakai pegawai BPK kalo lagi audit ada kan?” kata saya. Kami melaju ke arah Magelang, hari memasuki waktu sholat maghrib.

Perjalanan semakin sore semakin macet saja. Kendaraan hanya bisa merayap pelan. Sekitar pukul 18.00 kami sampai di penginapan yang dituju, sebuah penginapan menjelang ’kota’ Magelang. ”Wah, maaf mbak. Sudah penuh juga di sini.” petugas di penginapan itu memberitahukan kepada kami. Shock juga kami mendengar jawaban tersebut. Kami akhirnya istirahat dulu beberapa saat.

”Mbak, ada 4 kamar kosong sebenarnya. Tapi tidak pakai AC. Kalau mau, akan kami persiapkan dahulu.” seorang petugas mendekati kami. ”Oh, ya mas. Ndak papa.” jawab saya. ”Berapa kamar?”. ”Dua kamar saja mas.” Jawab kami. Alhamdulillah, akhirnya dapat juga tempat menginap.

Sambil menunggu, kami bergegas menunaikan sholat maghrib di mushola penginapan tersebut. Akhirnya malam itu kami menginap di penginapan tersebut.

**********

Pagi-pagi sekali kami sudah bangun. Karena kemaren tidak sempat belanja bekal yang memadai, saya dan istri dan si bungsu berangkat ke pasar. Sementara anak pertama dan kedua dengan diawasi khadimat berenang di halaman penginapan. Si bungsu sebenarnya ingin ikut berenang, tapi karena masih agak panas tubuhnya jadinya kami larang.

Sepulang dari pasar, si bungsu terus memaksa ingin mencebur ke kolam. Karena merengek terus, akhirnya saya kabulkan keinginannya. Paling kuat hanya beberapa menit, pikir saya. Masih memakai baju dan kaos dalam, si bungsu saya tuntun masuk ke kolam yang terdangkal. Seperti dugaan saya. Baru beberapa menit, sudah mengajak naik.

Setelah berbenah, sarapan pagi, dan menyelesaikan persoalan administrasi di penginapan, kurang lebih pukul 09.00 kami berangkat kembali ke Candi Borobudur. Alhamdulillah, perjalanan pagi itu begitu lancar. Kurang dari satu jam kami telah sampai di pelataran candi borobudur.

Menuju puncak candi borobudur sambil mengawasi anak-anak di tengah berjubelnya pengunjung, cukup membuat kami kerepotan. Beberapa saat sesampai di atas kami gunakan untuk istirahat sambil menikmati pemandangan candi dan alam sekitar. Ya, tujuan kami membawa anak-anak rihlah ke sini salah satunya adalah mengenalkan mereka dengan monumen budaya bangsa dan alam sekitar.

Puas menikmati suasana di atas candi, kami menuruni candi dari sebelah utara. Di bawah telah menanti gajah-gajah yang siap disewakan untuk dinaiki dalam satu putaran kecil. Si bungsu dan kakak perempuannya mengangguk ketika oleh istri ditawarkan untuk naik gajah tersebut. Ditemani istri, mereka berdua mengendarai gajah tersebut. Alhamdulillah, senang saja melihat mereka bergembira.

Selesai itu, waktu telah menjelang tengah hari. Kami putuskan untuk segera pulang. Sore hari ini saya harus kembali ke Jakarta. Rutinitas pekanan yang makin lama terasa makin menguras tenaga dan pikiran juga.

Alhamdulillah, janji yang sempat terucap ke anak-anak telah dapat kami penuhi. Meskipun harus sedikit berpayah-payah, semoga ini menjadi wahana pembelajaran bagi mereka kelak. Saya membayangkan, sesampai di kereta nanti langsung tidur. Semoga bisa....

**********

Di kereta...

Kereta senja malam itu begitu penuh. Kami bertiga. Saya mengalah untuk duduk terpisah. Di samping saya seorang ibu-ibu dengan bawaan seabrek di depan kami. Duh, saya tidak bisa istirahat total nih. Benar saja, semalaman saya tidak bisa tidur. Padahal kepala mulai terasa panas...

**********

Di Jakarta...

Pekan ini terasa berat. Hampir satu pekan terkapar. Flu dan demam menemani setia hari-hari di sini. Saya hanya ingat perkataan Rasulullah, ”La ba’tsa. Thahurun insyaAllah.” (Tidak mengapa. (Sakit ini) membersihkan dosa, jika Allah ijinkan)

Jumat, 25 Juli 2008

Kenapa Kepercayaan itu Harus Ditumbuhkan…? (Terakhir)

Karena Rasa Aman itu Mahal

Yogyakarta….

Kurang lebih dua pekan yang lalu, saya mengantar istri membeli sesuatu yang sebelumnya telah saya janjikan melalui telepon, sebagai hadiah buatnya. Sengaja saya tidak membelikan langsung karena sering kali hasilnya tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya dia inginkan. Karenanya saya lebih memilih agar dia sendiri yang menentukan pilihannya.

Selesai dengan keperluan kami, bergegas kami kembali ke kendaraan. Tiba-tiba ada seorang ibu yang mendekati saya. Dengan sedikit memelas dia mengutarakan maksudnya, “Nak, bisa minta tolong dismskan ke anak saya. Tolong pesankan padanya bahwa saya telah di Jalan Magelang. Ini nomor hp anak saya.”

Entahlah. Yang pasti di kota ini, hati saya merasa tenang untuk mengiyakan permintaannya. “Oh silakan bu. Atau ibu bicara langsung saja ya dengan anak ibu. Ini saya teleponkan.” Saya ambil sobekan kertas kecil dari tangannya untuk kemudian menghubungi nomor yang tertulis di sana. Setelah tersambung, saya sodorkan hp saya kepada sang ibu tadi untuk kemudian dia mulai berbicara dengan anaknya di ujung sana.

“Terima kasih nak ya” Ucapnya denga muka penuh kelegaan. “Sama-sama bu, semoga bisa membantu.” Segera saya melangkah menuju kendaraan. Alhamdulillah, lega hati saya bisa memberi sedikit kemudahan bagi ibu tadi.

Jakarta….

Hari-hari pertama kembali menghirup udara kota Jakarta dan merasakan hiruk pikuk dan panasnya suasana keseharian, terus terang membuat saya sedikit paranoid. Dalam benak saya, telah menggumpal persepsi bahwa Jakarta bukan kota yang ramah. Kejahatan telah menjelma dengan berbagai bentuknya.

Di sebuah perempatan besar di daerah Slipi ketika saya menjejakkan kaki dari atas bis untuk kemudian menunggu bis jurusan selanjutnya, tiba-tiba seorang laki-laki mendekati saya dan mencolek saya, ”Mas, ada uang kecil. Saya kehabisan uang. Tolong.” katanya agak pelan.

Refleks tubuh saya menjauh darinya. ”Maaf, gak ada Mas..” Bergegas saya menuju bis yang saya tunggu yang kebetulan telah berhenti di depan saya. Berbagai pikiran buruk menjejali benak saya. Jangan-jangan kalo saya keluarkan dompet nanti dia akan merebutnya. Jangan-jangan dia hanya berpura-pura minta bantuan. Ah, itulah bagian dari keparanoidan saya.

Di suatu siang, saya berjalan di salah satu ruas jalan di perempatan Pancoran. Saat berjalan, dari arah depan saya ada seorang laki-laki yang menghentikan saya. ”Bang, bisa minta uang receh. Buat ongkos bang.” Lagi-lagi cerita-cerita sisi buruk ibu kota yang begitu sering saya dengar, membuat mulut saya akhirnya berucap, ”Maaf, tidak ada.” Dingin.

Yah. Saya merasakan bahwa hidup dalam komunitas di Jakarta ini harus selalu dalam kewaspadaan. Betapa rasa aman terasa begitu mahal di sini, setidaknya bagi saya. Sehinggal dalam beberapa hal, sering kali buruk sangka tiba-tiba lebih dulu muncul dari hati terdalam saya. Saya hanya bisa beristighfar kepada Allah jika telah demikian.

Saya hanya teringat cerita akan seorang Khalifah Umar bin Khathab. Waktu itu ada utusan dari Persia yang hendak menghadapnya. Setelah dicari ke rumah Beliau dan ke Masjid ternyata mereka tidak menemuinya, mereka mendatangi sebuah pohon di luar kota Madinah, ternyata beliau berada di situ. Beliau tertidur di bawah pohon itu.

Utusan Persia ini tercengang dan semakin takut. Mereka membangunkan Umar. Ketika beliau bangun, beliau bertanya: “Siapa ini ?” Mereka mengatakan: “Ini adalah Hurmuzan dan rombongannya, datang untuk berunding dengan anda, wahai Amirul Mukminin.” Orang Persia tersebut berkata: “Anda telah berhukum dengan adil sehingga anda merasa aman dan bisa tidur.”

Kesimpulan saya, rasa aman inilah yang kemudian membuat seseorang merasa tenang untuk melakukan segala aktifitas.

Tarbiyah....

Dalam proses dan komunitas tarbiyah pun dibutuhkan rasa aman ini. Para anggota halaqoh berhak mendapatkan rasa aman dalam halaqohnya. Baik dia mutarabbi maupun murabbi sekalipun. Rasa aman ini membawa kepada ketenangan. Ketika rasa aman dan tenang ini telah terbentuk, niscaya kerja-kerja amal bisa mereka optimalkan.

Ini semua akan terwujud salah satunya adalah dengan menumbuhkan sikap saling percaya di antara mereka. Ya, iklim saling mempercayai. Sehingga tidak ada peluang tumbuhnya perasaan ghill/dengki di antara hati-hati mereka, sebagaimana doa para sahabat yang Allah abadikan dalam QS Al Hasyr : 10 :

”Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

Jadi kenapa kepercayaan itu harus ditumbuhkan?

Karena darinya akan tumbuh rasa aman dan ketenangan. Karena dengannya akan muncul suasana saling menyayangi dan menghargai. Jika ingin tarbiyah ini menjadi kebutuhan dalam tiap diri anggota halaqoh, maka tumbuhkan kepercayaan di sana...!

Semoga. Selamat berpekan tarbiyah. Semoga kita bisa mewarisi ruh dan semangat dakwah yang ditinggalkan salah satu syekh kita, ustadz Rahmat Abdullah.

Tiada Kemuliaan Tanpa Islam

Umar bin Khaththab semoga Allah meridloinya mengatakan: “Kita adalah umat yang telah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berikan kemuliaan dengan Islam, maka bagaimanapun cara kita mencari kemuliaan tanpa Islam maka Allah akan tetap menjadikannya sebagai kehinaan.”

Kapan Umar mengatakan ungkapan ini ? Kapan Umar menyusun perkataan ini?

Umar mengatakan ini pada moment yang agung dan pada satu periode yang mulia dalam Islam. Beliau mengatakan ini ketika beliau berangkat untuk membuka Baitul Maqdis, untuk mengambil kunci-kunci Baitul maqdis yang telah kita abaikan karena kita mengabaikan Islam.

Umar berangkat ke sana untuk mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis. Kemudian orang-orang Nashara mendengar kedatangan Umar yang namanya telah menguncang dunia, yang jika nama Umar disebut di majlis Kisra dan Kaisar, maka kedua raja ini hampir pingsan mendengarnya, karena takut.

Umar yang tidur di pelepah kurma, tetapi hati para taghut yang berada di atas singgasana ketakutan. Umar yang hanya makan gandum, tetapi para bangsawan yang memiliki emas dan perak gemetar jika melihatnya. Umar yang jika berjalan di suatu jalan, maka syetan akan memilih jalan lain. Umar yang sudah dikenal di kalangan muslimin Melayu, India, Iraq, Sudan, Andalus, dan akan dikenal dunia.

Ketika orang-orang Nashara mendengar Umar akan datang untuk mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis, mereka keluar dengan jumlah yang sangat besar. Para wanita keluar di atap-atap rumah, anak-anak keluar di berbagai jalan dan gang.

Sedangkan pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh tiga panglima, mereka kaluar dalam konvoi pasukan yang belum pernah didengar dunia.

Bagaimana pengawal yang mengiringi Umar yang akan mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis ?

Tidak ada iring-iringan yang mengawal ! Orang-orang mengira beliau akan datang dengan para pembesar shahabat, para pembesar Anshar dan Muhajirin dari para ulama dan orang-orang shalehnya, tetapi beliau datang hanya dengan mengendarai satu unta dan ditemani seorang pembantunya. Kadang Umar yang menuntun unta dan pembantunya naik dan kadang Umar yang naik unta dan pembantunya yang menuntun !

Ketika mendekati Baitul Maqdis, para pejabat muslimin bertanya-tanya:
“Siapa itu ? Mungkin salah saeorang tentara yang memberi tahu kedatangan Amirul Mukminin.

Ketika pasukan itu mendekat, ternyata orang tersebut adalah Umar bin Khaththab ! Ketika beliau sampai di Baitul Maqdis, tiba giliran beliau menuntun unta dan pembantunya yang berada di atas unta.

Amr bin Ash mengatakan: “Wahai Amirul Mukminin, orang-orang menanti kehadiran anda, penghuni dunia keluar untuk menyambut kehadiran anda dan orang-orang mendengar tentang anda tetapi anda datang dengan penampilan seperti ini ?”

Kemudian Umar mengatakan perkataannya yang sangat terkenal, yang tetap diingat sepanjang masa: “Kita adalah umat yang telah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berikan kemuliaan dengan Islam, maka bagaimanapun juga jika kita mencari kejayaan dengan yang lain, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.”

Kita membangun peradaban kita dari nol dengan satu modal; Laa ilaaha illallaah.

Pasukan Umar bin Khaththab keluar dengan 30.000 orang yang bertauhid.

Setiap orang yang bertauhid sama dengan 3 juta tentara dunia sekarang. Mereka keluar untuk berperang melawan Persia, berperang untuk melawan Kisra yang kafir dan sesat. Ketika mereka tiba di Qadisiyah, Kisra ingin melakukan perundingan dengan Umar karena takut mati. Maka ia mengutus Hurmuzan -salah seorang menterinya- untuk mendatangi Madinah Nabawiyah kota Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam untuk duduk bersama Umar Al Faruq di meja perundingan.

Utusan tersebut keluar dengan rombongan yang besar untuk menemui Umar,dengan hati yang hampir robek karena takut…Mengapa? Karena dia ragu-ragu. Bagaimana ia akan bicara dengan Umar bin Khaththab ? Apakah ia akan berbicara secara langsung atau melalui perantara ? Apakah ia akan duduk bersama di atas tanah ? Apakah ia dapat melihat Umar secara langsung tanpa alat dan pengeras suara ?

Maka ia memakai perhiasan, sutra, emas dan perak. Ia menembus jalan dari Iraq menuju Madinah.

Ketika ia masuk Madinah, ia bertanya: “Dimana istana Khalifah Umar?”
Para shahabat mengatakan: “Umar tidak punya istana.”

Ia bertanya: “Bagaimana ia memimpin kalian ?”
Mereka berkata: “Beliau memimpin kami di atas tanah.”

Ia bertanya: “Di mana rumahnya ? Apakah rumahnya memiliki keistimewaan ?”
Mereka menjawab: “ Rumahnya seperti rumah kita.”

Ia berkata: “Tolong tunjukkan pada saya rumahnya.”
Mereka berangkat dan berjalan di gang-gang kota Madinah yang sempit, hingga mereka sampai di sebuah rumah yang kecil miskin yang hanya dibangun dari tanah biasa.

Ia bertanya: “Apakah ini rumahnya ?”
Mereka mengatakan: “Ya”
Ia bertambah takut dan gemetar, ia bertanya: “Apakah ini rumahnya ?”
Mereka mengatakan: “Kita akan tanya keluarganya”

Kemudian mereka mengetuk pintu rumah. Putranya keluar, mereka bertanya: “Apakah Amirul Mukminin ada di rumah ?”
Beliau menjawab: “Beliau sedang tidak di rumah, silahkan anda cari di masjid “

Kantor, istana dan tempat duduknya di masjid. Utusan ini segera berangkat ke masjid. Anak-anak berjalan di belakang utusan, beberapa wanita melihat dari atap rumah dan dari balik pintu, untuk melihat orang yang datang dengan sutra dan emas yang bersinar karena pantulan sinar matahari.

Utusan tersebut mencari Umar. Mereka pergi dan memasuki masjid, mengamati orang-orang yang tidur -karena beliau tidur di masjid- maka mereka tidak menemukan. Mereka mengatakan: “Kita cari di tempat lain. Maka mereka mencari lagi.

Mereka mendatangi sebuah pohon di luar kota Madinah, ternyata beliau berada di situ. Beliau tertidur di bawah pohon.

Utusan Persia ini tercengang dan semakin takut.

Mereka membangunkan Umar. Ketika beliau bangun, beliau bertanya: “Siapa ini ?”

Mereka mengatakan: “Ini adalah Hurmuzan dan rombongannya, datang untuk berunding dengan anda, wahai Amirul Mukminin.”

Orang Persia tersebut berkata: “Anda telah berhukum dengan adil sehingga anda merasa aman dan bisa tidur.”

Jadi kita adalah umat yang telah Allah berikan kejayaan dengan Islam, maka jika kita mencari kejayaan dengan selain Islam, Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Pada saat kita mencari kejayaan dengan pakaian dan penampilan, bukan dengan agama, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Pada saat kita merasa bangga dengan rumah dan istana, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Pada saat kita merasa bangga dengan berbagai kendaraan, kakayaan dam makanan dan merasa bangga dengan Islam maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita. Karena kita adalah umat yang telah Allah berikan kejayaan dengan Islam, maka kalau kita mencari kemuliaan dengan selain Islam Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Mengapa kita tidak merasa bangga, wahai para pemuda dan orang tua, mengapa kita tidak merasa bangga dengan Islam ?

Ya… ada di tengah-tengah kita, orang yang tidak ingin masuk lebih dalam pada agama. Dia ingin Islam yang biasa-biasa saja, shalat dan puasa saja.

Sedangkan dakwah dan istiqamah adalah sesuatu yang dia tidak inginkan. Mengapa ?

Karena zionisme internasional telah menamakan para da’i dengan istilah fundamentalis dan berbagai istilah menakutkan lainnya…maka orang-orang yang kurang wawasan, sedikit pengetahuan dan lemah mental (imannya) merasa berat jika dikatakan seperti itu.

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa membagi manusia menjadi dua bagian, Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman, yang artinya :

“Maka apakah patut kami menjadikan orang-orang islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir) ? Mengapa kamu (berbuat demikian) bagaimanakah kamu mengambil keputusan” (QS Al Qalam: 35-36)

Pilihannya hanya satu dari dua, muslim atau mujrim (orang yang berbuat dosa)… orang yang baik atau jelek… sesat atau dapat petunjuk… shaleh atau merusak… taat atau ma’siyat. Tidak ada pilihan ketiga.

“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat ?” (QS Shaad ayat 28)

Saran kita bagi setiap orang biasa yang ingin hidup biasa dalam Islam agar bergabung dengan para wali Allah, orang-orang pilihan, orang-orang yang istiqamah, karena agamawan dalam Islam tidak sama dengan agamawan dalam Nashrani.. tidak..pilihan kita hanya satu, menjadi orang yang istiqamah sukses bahagian atau sesat bodoh dan gagal dalam hidup.

Dalam agama kita hanya ada satu pilihan, menjadi orang yang baik, bertaqwa, wara’ (hati-hati) dan menghadapkan diri kepada Allah atau menjadi orang yang celaka, lalai, sesat yang akan dikembalikan ke neraka yang menyala-nyala.

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

“Demikianlah Kami (Allah) jadikan kalian umat wasath (pertengahan)”. (QS Al Baqarah 143)

Betapa indah ungkapan wasath (pertengahan). Apa yang dimaksud dengan wasath ? Banyak dari para ahli tafsir yang mengatakan bahwa maksudnya adalah umat pilihan. Sebagian yang lain mengatakan maksudnya: pertengahan dalam segala sesuatu.”

Kedua makna ini benar. Alhamdulillah kita ini umat Islam memiliki aqidah pertengahan. Kita tidak hidup tanpa aqidah seperti orang-orang yang tidak punya pegangan. Kita tidak hidup dengan hati kosong, jiwa kosong, tetapi kita punya aqidah. Namun kita juga bukan yang berlebihan dalam beribadah sampai-sampai menyembah segala sesuatu, menyembah batu, pohon, bintang, bulan, sapi, harta, pakaian…tidak…tetapi kita beribadah kepada Dzat yang memang berhak dijadikan tujuan ibadah.

“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu”.(QS Muhammad: 19)

[pks-anz.org]

Kamis, 24 Juli 2008

Kenapa Kepercayaan itu Harus Ditumbuhkan…? (Part 4)

Kenapa Kepercayaan itu Harus Ditumbuhkan…? (Part 4)

Minggu ini kondisi fisik benar-benar agak teler. Selasa malam saya paksakan untuk hadir dalam pertemuan pekanan kami. Bersyukur acara pukul 22.30 sudah selesai. Akan tetapi pagi tadi, hidung makin mampet dan terasa panas. Kepala juga semakin tidak nyaman. Suara terdengar sengau dan sedikit bindheng. Tubuh pun panas dingin.

Ba’da Subuh ada teman satu liqo yang datang ke kost. Mengobrol beberapa saat, sekitar pukul 06.15 dia beranjak pulang. Saya paksakan untuk berangkat kantor, karena ada beberapa berkas yang harus segera disentuh. Mempertimbangkan kondisi fisik dan suara yang tidak prima, saya kirim email ke salah satu binaan saya :

”Akh, antum buku materi/madah tarbiyah?
Tolong nanti malam antum bedah materi "Mahabatullah" ya...
Antum bisa mencari pengayaan dari internet misal
Dicetak dan diperbanyak sekalian ya...

Nanti setelah itu kita diskusikan
Suara saya sedang bariton nih... flu gak habis-habis

Jazakallah...”

Sengaja saya memilih dia karena bagi saya penugasan seperti ini bisa dengan melihat latar belakang dia sebelumnya. Dia sewaktu SMA aktifitas telah banyak bersinggungan dengan dakwah, aktif di rohis dan pernah menjabat sebagai ketua di salah satu periodenya. Kebetulan saat ini sedang proses menikah, harapan saya dengan dia yang memaparkan dan mendalami materi tersebut bisa lebih memantabkan pemahaman karena ada pada saat momen yang tepat, setidaknya itu pertimbangan saya.

Pukul 10.45 akhirnya setelah membuat beberapa surat permintaan data, saya putuskan pulang sebentar ke kost sekedar merebahkan badan. Hawa dingin di ruangan membuat tubuh terasa tidak karuan.

Beberapa saat di kamar kost, terdengar nada sms masuk di hp. Rupanya juga dari binaan di Jogja dulu. Anak sastra UGM. Sekarang sudah kembali ke Semarang. Anaknya memang energik. Mobilitasnya luar biasa. Selepas dari UGM, bersama teman-temannya dia membuat sebuah lembaga pengembangan SDM dan diberinya nama Vista Development Centre. Di sana dia menjadi salah satu trainernya.

”Assalamualaikum. Bro, pa kabar? Mlm ini ane ke jkrta, ada acara di JIC... Eh, subhanallah, ta’aruf ***** berakhir, pihak ortu akhwat berubah pikiran, utk menunggu koas slesai. Oleh krn itu, lbh baik brakhir meski peluang msih terbuka dan harapan itu masih ada. Ada solusi? Hehe, tetap semangat. Jazakallah khoiron.” Tulisnya di sms.

Meski saya tidak lagi membersamai di halaqohnya, anak ini hampir selalu kirim kabar. Beberapa kali jika ada acara di Jakarta dia sempatkan main atau menginap di kost saya. Bahkan pernah mampir ke kantor. Termasuk proses pencarian jodohnya pun, tak lupa diceritakannya ke saya tiap ada perkembangannya.

Saya tidak menawarkan solusi yang jitu ke dia sebagai jawaban smsnya. Hanya saya doakan bahwa apapun keputusan yang dia ambil, semoga itu menjadi yang terbaik baginya. Satu atau dua bulan yang lalu saat berkesempatan ke Jogja, dia minta ijin untuk silaturahim ke rumah. Pada saat itu telah dia ceritakan semua prosesnya. Dan sekarang adalah bagian dari rangkaian proses tersebut, meskipun pada akhirnya keputusannya adalah untuk mengakhiri proses tersebut.

Saling menceritakan keadaan kita. Saling berbagi kabar. Saling menyapa meski sekedar sms atau email. Ternyata bisa membangun kedekatan hati. Kedekatan hati itulah salah satu wasilah yang kemudian akan menumbuhkan kepercayaan. Selanjutnya, terserah anda. Semoga....

Menara Jamsostek, 16.20 : 23/07/2008
Saat sekeping hati itu begitu dirindukan...