Jumat, 10 Oktober 2008

Ada Tidak Ada, Sama Saja !

"Ada tidak ada, sama saja. Tidak ada bedanya!" Pagi itu tiba-tiba dari mulut mungil wanita itu keluar ucapan tersebut. Sepertinya dia begitu marah kepada suaminya. Tentu semua itu ada sebabnya. Ada alasannya. Apapun itu. Tapi, merenungkan kalimat tersebut, tetap saja membuat seseorang yang mendengarnya akan berkenyit. Begitukah?

Saya teringat dengan sebuah ungkapan arab, 'wujuduhu ka'adamihi' yang artinya adanya sama dengan tidak adanya. Ungkapan ini sering untuk menggambarkan seseorang yang di komunitasnya tidak membawa nilai lebih apa-apa. Nol. Sehingga digambarkan ada maupun tidak adanya dia, sama saja komunitas tersebut. Gambaran ini untuk memacu kita untuk semestinya menjadi pribadi yang bernilai lebih di komunitas kita, apapun komunitas tersebut. Bukankah Rasulullah mengatakan 'khairukum anfa'uhum linnaas', sebaik-baik kalian adalah yang paling memberi manfaat bagi manusia?

Bagi kita, komunitas yang terkecil kita bernama keluarga. Dan ketika seseorang telah berkeluarga, maka komunitas terkecil kita itu tentu paling tidak terdiri dari dua insan yaitu suami dan istri. Sebaik-baik suami/istri adalah yang paling memberi manfaat kepada keluarga yang dimilikinya, dalam hal ini pasangannya. Tentu juga anak-anaknya. Begitu kira-kira jika hadist tadi diterapkan dalam konteks ini.

Kembali kepada kalimat di awal alinea tadi, adakah sesuatu yang salah? Kenapa wanita tadi berucap seperti itu? Layakkah? Kita tentu ingat dengan sebuah hadist Rasulullah, Diriwayatkan oleh Ibn Abbas (ra):

Nabi (saw) berkata: "Aku melihat surga. Lalu aku memakan setangkai buah-buahannya. Jika kalian mendapatinya, maka kalian akan memakannya selama dunia masih ada. Aku diperlihatkan neraka, maka aku tidak melihat pemandangan yang lebih buruk dari hari itu. Aku melihat kebanyakan penduduknya adalah wanita." Para sahabat bertanya, "Karena apa, wahai Rasulullah?" Rasulullah saw. menjawab, "Karena kekufurannya." Beliau ditannya, "Apakah mereka kafir terhadap Allah?" Rasulullah saw. menjawab, "Mereka mengingkari suami dan mengingkari kebaikan. Jika kalian berbuat baik kepadanya selama setahun penuh, lalu ia melihat darimu sesuatu (keburukan) satu kali, ia akan berkata, "Aku tidak melihat kebaikanmu sama sekali." (Shahih Bukhari, Kitab Al-Kusuf, Bab Shalat al-Kusuf Jama'atan, juz 1, hlm. 331-332, no. hadits 1.052).

Terdapat hadits lain yang diriwayatkan Abu Sa'id al-khudri, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, "Wahai sekalian wanita, bersedekahlah, karena aku diperlihatkan bahwa kaum kalian adalah kebanyakan penghuni neraka." Mereka bertanya, "Karena apa, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Kalian sering sekali melaknat dan mendurhakai suami. Aku tidak melihat kekurangan akal dan agama yang hilang dari otak pria yang kokoh dari salah seorang kalian." Mereka bertanya, "Dan apakah kekurangan agama dan akal kami, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Bukankah kesaksian seorang perempuan setengah dari kesaksian seorang pria?" Mereka menjawab, "Betul." Beliau berkata, "Itulah kekurangan akalnya. Bukankah jika haidh, ia tidak shalat dan puasa?" Mereka menjawab, "Betul." "Itulah kekurangan agamanya." (Shahih Bukhari, Kitab Tarku al-Haidh ash-Shaum, juz 1 hlm. 115, no. hadits 304)

Jelaslah di sini bahwa hadits ini shahih dan tidak perlu diragukan lagi.

Tidak bersyukur seorang hamba kepada Allah, sampai dia bisa bersyukur (berterima kasih) kepada sesama manusia. Begitu Allah memaklumatkan. Paramater syukur seseorang adalah sejauh mana dia bisa berterima kasih kepada sesamanya. Saya jadi teringat salah satu nasehat Aa Gym dalam berinteraksi dengan manusia, 'ingatlah kebaikan-kebaikannya, dan lupakan kesalahan-kesalahannya kepada kita'

Lalu mengapa Rasulullah mengabarkan bahwa penghuni neraka kebanyakan perempuan? Kata Beliau lebih lanjut, "Karena kekufurannya.". "Mereka mengingkari suami dan mengingkari kebaikan. Jika kalian berbuat baik kepadanya selama setahun penuh, lalu ia melihat darimu sesuatu (keburukan) satu kali, ia akan berkata, "Aku tidak melihat kebaikanmu sama sekali." Barangkali memang demikianlah tabiat wanita. Bisa jadi itu bisa dihilangkan. Karenanya Rasulullah menyuruh agar para wanita lebih banyak bersedekah.

Tentu tidak ada suami yang senang dengan mendengarkan ucapan itu. Tapi sekali lagi itu tabiat. Ada baiknya kita belajar dari seorang Umar. Beliaupun pun ada saatnya dimaki-maki oleh istrinya, dan beliau diam saja. Karena beliau tahu, bagaimanapun istrinya telah berbuat kebaikan yang banyak kepada dirinya dengan mengurus kebutuhan dia dan anak-anaknya.

Seandainya pun anda harus mendengar ucapan tersebut, maka tersenyumlah. Bersikaplah sebagaimana seorang Umar bersikap. Dorong istri anda untuk banyak bersedekah sebagaimana wasiat Rasulullah. Masih banyak sisi kebaikan dan kelebihan yang dia punyai untuk selalu anda ingat. Cintai dia dengan sepenuh hati anda.

Semoga Allah mengumpulkan kita dan keluarga kita di Jannah-Nya kelak, bukan sekedar di dunia yang sungguh amat fana ini. Tentu dengan cinta yang lebih abadi. Amin.

Buku harian Mas Bejo : Kisah Si Rubah

Ini kiriman dari sahabat yang lain. Ya, sekedar wacana. Atau mungkin lebih tepatnya sharing yang semoga bisa saling meringankan. Walau solosi mungkin masih jauh panggang dari api.

Buku harian Mas Bejo : Kisah Si Rubah

(Menabunglah dari uang TC dan Gaji karena sewaktu-waktu mutasi bisa keluar dan harus datang pelantikan)

Sampai saat ini Mas Bejo masih terngiang-ngiang sebuah cerita tentang rubah dan kebun anggur. Cerita itu ada di buku paket bahasa inggris SMP tahun 1980 an.
Suatu hari ada seekor rubah yang kurus dan kelaparan sampai di sebuah perkebunan anggur yang sudah berbuah dan matang-matang. Melihat hal tersebut air liur rubah langsung keluar dan harapan hidupnya kembali tumbuh, kini dia bersemangat untuk menikmati buah anggur yang sudah matang tersebut. Namun sayang kebun anggur tersebut telah dikelilingi pagar yang rapat sehingga si rubah tidak bisa masuk. Si rubah dengan penuh semangat mengelilingi pagar kebun tersebut sambil mencari siapa tahu ada lobang/celah sehingga dia bisa masuk ke kebun anggur. Entah sudah berapa lama dia mengelilingi pagar dan semakin lama semakin lemah bahkan dia hampir perputus asa untuk tidak melanjutkan pencarian. Di saat hampir perputus asa si rubah melihat lobang kecil di ujung pagar.

Semangatnya kembali bangkit dan dengan susah payah si rubah memasuki lobang kecil tersebut. Karena si rubah badannya sangat kurus akhirnya berhasillah dia memasuki kebun. Horeeeee teriak si rubah. Dengan lahapnya si rubah makan anggur. Setelah kekenyangan si rubah tidur. Begitulah kebiasaan si rubah saat ini. Hari-harinya diisi dengan makan enak dan tidur. Tanpa disadari tubuh si rubah telah berubah menjadi bersih dan gemuk. Si rubah sekarang tidak lincah lagi karena jarang berolah raga (OR-nya ya versi rubah) dan kerjanya makan dan tidur. Bobotnya sudah naik 2 kali lipat. Si rubah menyadiri perubahan yang ada pada dirinya, kini dia merindukan keluarganya dan merindukan komunitasnya.

Kini si rubah sedang mencari lobang dimana dulu dia masuk. Setelah dicari kesana dan kemari akhirnya ditemukanlah lobang tersebut. Si rubah berusaha sekuat tenaga untuk keluar melalui lobang tersebut. Tubuhnya yang gemuk kini sudah tidak muat lagi. Akhirnya ……. terserah si rubah. Kalau dia akan keluar maka dia harus puasa lagi agar tubuhnya kembali kurus seperti semula ketika dia dating, tapi kalau tidak keluar dia merindukan keluarganya, komunitasnya. Belum lagi resiko menghadapi pemilik kebun.

Ingat kisah ini Mas Bejo jadi teringat nasibnya, ingat tentang modern, ingat tentang gaji dan tunjangannya yang sudah setingkat manager, tapi juga ingat mutasi yang bisa datang sewaktu-waktu tanpa permisi lebih dulu ditambah ketidak jelasan kemana Mas Bejo dimutasi. Belum lagi efek samping dari mutasi: Mas Bejo harus datang untuk pelantikan dengan membayar transport dari uang pribadi. Mas Bejo harus cari penginapan sementara dengan biaya pribadi juga. Setelah itu Mas Bejo harus berfikir apakah nyari (dan menganggarkan dana) kontrakan rumah atau kos-kosan, anggaran rutin bolak-balik (jika masih bisa dijangkau bisa seminggu sekali, bisa dua minggu sekali, bisa sebulan sekali, bisa tiga bulan sekali bahkan bisa enam bulan sekali), anggaran makan (catering di kantor, warteg dll) dan iuran kantor untuk dirinya sendiri, anggaran sekolah anak-anaknya, anggaran belanja istri dan anak-anaknya, anggaran rutin lainnya.

Nyambung ke kisah di atas, Mas Bejo ibaratnya rubah yang telah gemuk (gaji dan tc sudah tinggi) tapi dia harus mempersiapkan untuk menjadi kurus. Sebab dia harus menabung bukan untuk investasi tapi menabung (sebenarnya tidak tepat istilah menabung, yang tepat mungkin harus mengurangi jatah) untuk jaga-jaga jika sewaktu-waktu ada mutasi lagi, itupun jika saat ini masih ada yang tersisa…..

Suatu kali Mas Bejo mutasi, tetangganya mengucapkan selamat. Mas Bejo hanya mengucapkan terima kasih dengan senyum yang dipaksakan (karena hatinya sedang merasakan kegetiran). Tetangganya pasti berfikir kalau seseorang dimutasi pasti rumah dinas sudah ada, uang transport sudah disiapkan, gaji dan tunjangan naik dan fasilitas lainnya tersedia dan semuanya itu sudah ada yang mengurus. Sebenarnya Mas Bejo mau menjelaskan ke tetangga tersebut bahwa kalau di mutasi kita pakai uang sendiri dulu, nanti sebulan atau dua bulan berikutnya baru dapat uang jalan dan ongkos nginap 3 hari. Itupun harus selalu ada yang “mantau” di keuangan. Gara-gara mikir ini Mas Bejo jadi kreatif sambil iseng, katanya istilah MUTASI tidak tepat, yang tepat adalah AMPUTASI.

Kalau ingat ini Mas Bejo pinginnya ya ditempatkan di daerah di mana dia sudah ada rumah meskipun sederhana, kumpul bersama istri dan anak-anak. Rasa iri Mas Bejo kadang timbul juga (Mas Bejo juga manusia) ketika melihat ibu-bu yang karirnya bagus dan hanya ditempatkan mutar-mutar di satu kota saja. Orang-orang seperti ini kalau lagi ngisi sosialisasi atau penataran atau apalah namanya ngomongnya “renyah” sekali, enak didengar, lantang bak pahlawan. Gimana ngggak “renyah” keluarga ngumpul, gaji tinggi dan fasilitas ada dan nggak pernah merasakan mutasi (adanya promosi).

Mas Bejo jadi meragukan iktikad baik aktifis pembela kesetaraan gender. Mestinya mereka konsekuen juga, mutasi perempuan yaa harus sama dengan yang mutasi laki-laki, bukankah kalau laki-laki di mutasi dia akan meninggalkan perempuan???? Atau setidak-tidaknya ada saluran aspirasi untuk pegawai untuk mengajukan permohonan ke mana saja tempat yang diinginkan mutasi. 18-09-08


Mutasi oh mutasi ……
(Episode: Ternyata pisah keluarga itu nggak enak)

Sapa Laskar Angin kepada Laskar Senja

Ini adalah tulisan salah satu rekan kami, entah siapa. Menamakan diri sebagai laskar angin. Dikirimkan kepada para sahabatnya yang menamakan diri laskar senja.

Assalamu' alaikum

Rekan-rekan Laskar Pelangi dan rekan-rekan senasib....

Beberapa minggu yang lalu saya menerima email dari rekan-rekan yang menyebut dirinya sebagai Laskar Pelangi, Laskar Senja atau PJKA (Pulang Jumat kembali Ahad). Dalam emailnya, para laskar ini menyampaikan rintihan hati (kalo ndak mau disebut keluh kesah). Rekan-rekan ini pun menyebut dirinya sebagai korban modernisasi Direktorat Jenderal Pajak (mungkin sangking kesalnya atau saking beratnya mereka menjalani roda kehidupan mereka setelah mereka dimutasi sebagai AR di Jakarta , padahal tempat tinggal di Jogya). Mereka pun tiap Jum'at (di senja hari) hari berangkat menemui istri dan anak-anak mereka (yang masih kecil) untuk kembali mendapatkan butiran semangat untuk kembali bekerja di seminggu kedepan, bahkan semangat untuk tetap bergabung dengan DJP, karena ada diantara mereka yang sempat berpikir untuk keluar dari DJP. Hari ahad (di senja pula) mereka pun kembali ke tempat kerja. Oleh karena itu pula mungkin mereka menyebut dirinya sebagai laskar senja. Tapi apakah setelah menemui anak dan istri mereka lantas mereka menemukan semangat untuk bekerja? Setahu saya setelah pulang, berat hati ini untuk melangkahkan kaki ini untuk kembali ke tempat kerja. Bahkan kian lama kita jalani rutinitas pulang pergi itu, kian lama kita rasakan kian bertambah capek ya capek fisik dan capek pikiran kita).

Rekan-rekan , saya pun mengalami hal serupa. Kalo rekan-rekan-rekan laskar pelangi bisa pulang tiap minggu, kami kadang harus satu bulan baru pulang (ada temen saya yang lebih dari satu bulan). Oleh karena dari segi jarak kami lebih jauh dan dari segi biaya lebih banyak. Perjalananpun tidak bisa kami tempuh melalui darat dan harus perjalanan udara. Mungkin kalo rekan-rekan menyebut sebagai laskar pelangi, ijinkan kami menyebut kami sebagai laskar angin atau laskar awan (asal jangan disebut laskar topan atau badai ) karena itu merusak. Karena kami tidak ingin merusak semangat DJP yang ingin modern, bahkan saya sangat bersyukur akhirnya DJP bisa memasuki era ini. Hanya kami inginkan bahwa perubahan juga diterapkan pada sistem mutasi kita. Harapan kami agar semua juga merasakan kepedihan yang kita alami. Dengan gaji yang sama, sangat tidak adil apabila kita yang jauh harus berada dikejauhan dan bahkan semakin jauh semakin tidak dilihat. Kita ini juga manusia yang juga punya keinginan hidup layaknya mereka sekarang yang tempat kerjanya dekat dengan rumah. Dengan gaji modern seperti sekarang mereka bisa mengurus pendidikan anak dengan baik, bahkan mereka kemudian bisa men-cicil (bukan mecicil dlm bhs jawa) rumah bagi yang belum punya rumah, merenovasi rumah yang telah mereka beli sekarang, atau bahkan dari fordis yang ada di intranet kita, banyak diantara mereka yang telah memikirkan investasi. Kami pun juga punya planing seperti itu, tapi kenyataannya tidak bisa. Bisa saving sedikit saja untuk sekedar berjaga-jaga apabila keluarga kami sewaktu-waktu sakit, harus kami lakukan dengan rit-ngirit. Untuk ini harus betul-betul kami lakukan. Karena saya tidak ingin belas kasihan apalagi hanya komentar "kasihan" dari temen2 kita bila mendengar kesulitan kita.

Rekan-rekan Laskar Pelangi, sebenarnya sejak kami dimutasi ke luar jawa , waktu itupun kami ingin mengungkapkan segala macam unek2 kami dan berbagai kesulitan kami seperti rekan-rekan. Tapi kami selalu menahannya karena kami pikir kalo saya mengunkapkan kondisi kita, paling yang kita terima hanya komentar "kasihan" atau kalo masih punya nurani mereka hanya bilang "sabar'. Hari pun kami lalui dengan suatu harapan akan ada perbaikan dalam sistem mutasi kita. Untuk membesarkan harapan kami maka kami pun berpikiran positif. Ya mungkin ini suatu penghargaan bagi kita yang lulus test modern , sehingga harus merasakan modernisasi duluan. Karena saya yakin kami yang ikut test betul-betul punya niat untuk modern. Banyak diantara temen-temen pada waktu itu tidak mau ikut test. Ndak usaha ditutup-tutupi lagi, pertimbangan utama mereka adalah apakah gaji setelah modern nanti melebihi dari pendapatan mereka sekarang (terutama mereka yang menguasai seksi teknis). Jelas mereka tidak ingin modern sama sekali, dan kalo sekarang mereka modern, bisakah mereka memegang kode etik? No comment. Saya sering bicara dengan mereka ini. Saya tanya kepada mereka apabila sudah modern, apakah sampean masih masih menerima juga uang dari wajib pajak. Jawabnya; yang penting saya kan ndak minta. Tapi kenyataanya mereka pun akhirnya merasakan modernisasi dalam hal gaji, dengan tempat kerja ya di situ-situ saja (dekat rumah atau bahkan tetap di KPP asal). Inikah Modernisasi yang dibanggakan Direktorat Jenderal Pajak?.

Sekali lagi, unek2 ini sudah lama kami pendam, ya, lama sekali, saat saya di awal Maret 2007 saya di mutasi di luar jawa (bukan promosi tapi di mutasi jadi AR di luar jawa). Kita pun yang dipindah di luar jawa, meski dengan berat kami terima. Ya mungkin setelah modern ini mutasi AR harus nasional. Ok kami terima. Tapi kemudian modernisasi di DJP terus bergulir dengan modernisasi di KPP Pratama di Jawa diikuti dengan penempatan para AR-nya yang notabene tidak ikut test (atau tidak mau modern) dengan tempat di situ-situ aja , bahkan tidak pindah kantor sama sekali.. Inilah biang yang membuat kami merasa kecewa dengan modernisasi di DJP. Setelah itu penempatan para fungsional yang juga 98% disitu-situ juga. Apakah sistem mutasi yang dipakai bagian kepegawai DJP masih seperti sebelum modern? Ndak ada pola yang jelas, sistem up line atau down line (emang DJP perusahaan multi level). Saya ndak berpikir buruk tapi jangan biarkankan orang berpikir begitu dengan membuat sistem yang tidak jelas.

Saya tidak mau asal ngritik, tapi ndak ada penyelesaian. Agar modernisasi bisa dirasakan adil bagi semua pegawai, maka sistem mutasi harus jelas. Bikin pola yang baku. Jadi siapapun yang ada di kepegawaian kalo tidak melaksanakan aturan itu harus dikenakan sanksi, dan bagi pegawai yang seharusnya kena mutasi tapi tidak dimutasi segera dimutasi, pegawai yang yang seharusnya tidak kena mutasi dan kemudian dimutasi harus dikembalikan. Bagi pegawi yang seharusnya mutasi dan dimutasi namun tidak sesuai dengan pola, harus dikembalikan. Lalu polanyanya gimana? Terserah yang penting baku. Agar aturan lebih mengikat seharusnya aturan tsb minimal dalam bentuk Per Men Keu. Bisa saja dibuat per jabatan, pelaksana, AR, eselon IV eselon III atau eselon II. Misal untuk pelaksana hanya regional ya ndak apa2 tapi tetap ada polanya. Kalo regional tsb dalam arti satu kanwil maka mutasi harus meliputi kota2 di wilayah kanwl ybs. Untuk kanwil2 yang ada di DKI bisa saja regional tsb ditentukan tersendiri meliputi DKI , Propinsi Banten, dan Jawa Barat. Jangka waktu maksimal menduduki suatu posisi/kota juga harus ditentukan, misal maksimal 2 th. Jadi ndak ada lagi orang sampe tua disitu-situ aja. Apalagi sekarang gajinya gede.

Untuk AR bisa aturan itu dibuat menyesuaikan, kalo harus nasional, maka bisa saja ditentukan 2 tahun diluar pulau , 2 tahun di daerah domisili. Begitu juga untuk eselon IV. Untuk promosi bisa dibuat aturan tersendiri. Untuk eselon III dan II juga bisa dibuat aturan tersendiri. Yang penting harus ada aturan jelas dan aturan harus ditaati kalo tidak yang yang membuat mutasi dikenakan sanksi dan yang dimutasi harus dikemblikan sesuai aturannya. Jadi ndak ada lagi pegawai dengan tempat kerja jauh dari domisili (di luar pulau) lebih dari 3 th. Otomatis begitu 2 th kembali ke domisili dan begitu seterusnya. Ndak ada lagi pegawai yang mengajukan surat permohonan pindah tempat kerja di daerah domisili (yang menurut orang kepegwaian sendiri surat macam gini sekarang numpuk)

Pola aturan mutasi yang jelas tsb diatas diperlukan agar :
1. Mutasi lebih adil. Sehubungan dengan setelah modern (asumsi) gaji dimana mana sama.
2. Menghindari dari KKN. Mutasi tidak lagi memperhitungkan faktor kenal-mengenal ( up line dan down line) tidak ada patokan harga lagi (pokoknya faktor KKN juga dapat dihindari)
3. Bagi pegawai yang ada dikepegawaian juga bisa terhindar dari fitnah yang bisa menyebabkan dosa. Ingat jabatan adalah amanah termasuk sampean2 yang ada dikepegawaian. Tatkala sampean harus me-mutasi orang lain dengan dasar yang tidak obyektif (tidak menurut aturan ) sampean sudah berbuat dzolim bagi pegawai yang sampean mutasi, Bukan itu saja sampean juga sudah berbuta dzolim kepada anak dan isteri pegawai yang sampean mutasi.

Rekan-rekan laskar pelangi, untuk point yang ke-3 tsb, pada awalnya kami tidak merasa didzolimi, tapi kemudian melihat pola mutasi setelah kita (KPP Pratama) yang demikian itu, maka kamipun punya rasa seperti itu, tapi kami kita harus tetap menerima bahwa semua ini tetap atas kehendak Alloh. Namun sesuai Al Qur'an Surat Asy Syura Ayat 39-43 disebutkan bahwa :

- ayat 39 artinya : Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan dzalim mereka membela diri
- ayat 40 artinya : Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Alloh Sesuangguhnya Dia tidak menyukai orang2 yang dzalim
- ayat 41 artinya : Dan sesungguhnya orang2 yang membela diri sesudah teraniaya tidak ada satu dosapun atas mereka.
- ayat 42 artinya : Sesungguhnya dosa itu atas orang2 yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.
- ayat 43 artinya : Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal2 yang diutamakan.

Dari ayat tsb kita seharusnya tidak bisa tinggal diam melihat sistem mutasi yang sudah banyak mendzolimi orang lain. Tapi kita pun juga harus memaafkan mereka agar mereka tehindar dari azab yang pedih. Masalahnya apa yang perlu dimaafkan, wong mereka tidak merasa bersalah.

Kamis, 18 September 2008

Semoga Hidayah Itu Kekal

Sebut saya namanya Mas Darso. Seorang lelaki sederhana tetangga rumah di kampung saya. Pekerjaan utamanya adalah tukang batu. Orangnya sederhana dan tidak neko-neko. Untuk kegiatan kemasyarakatan hampir selalu dia menjadi kelompok yang terdepan. Di lingkup RW dia cukup berperan, di lingkup RT lebih lagi. Orangnya tidak banyak biocara tapi jika sudah bekerja seperti tidak kenal lelah.

Dua kali saya meminta keahliannya untuk membenahi rumah saya. Pertama kali adalah saat merapikan kamar mandi rumah saya. Dan yang adalah kedua saat membuat garasi di samping rumah. Pekerjaannya halus. Kerjanya rapi. Masalah jam kerja pun bahkan untuk ukuran orang desa, dia layak diacungi jempol. Pagi belum jam 08.00 dia sudah datang. Saat istirahat siang, dia hanya sekedar menggunakan waktu secukupnya untuk pulang makan siang dan istirahat sejenak. dan belum pukul 13.00 sesudahnya dia sudah datang lagi untuk bekerja sampai pukul 16.00 sore. Ketika minggu pertama tahu upah yang sengaja saya berikan di atas rata-rata upah tukang, pekan berikutnya dia menambah jam kerja bahkan sampai pukul 17.00.

Di lingkup tetangga dia dikenal juga sebagai orang yang ringan tangan. Jika ada yang membutuhkan bantuannya maka ia segera menyanggupinya, sepanjang dia mampu. Pernah ketika awal saya pindah di kampung ini, waktu itu jam menunjukkan pukul 02.00 dinihari. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah saya. Di tengah keterkejutan saya, ketika pintu terbuka yang terlihat adalah wajah dia.

”Mohon maaf, Pak. Maaf mengganggu istirahatnya.” katanya sopan, dengan bahasa jawa halus.

”Oh, tidak apa-apa, Mas. Ada apakah gerangan?” tanya saya.

”Begini Pak. Mas Joko malam ini batu ginjalnya kambuh. Harus segera di bawah ke rumah sakit. Minta bantuan Bapak untuk mengantar ke rumah sakit.” jelasnya.

Mas Joko adalah salah satu tetangga kami. Jarak rumah saya dengan rumah Mas Joko di bandingkan dengan jarak rumah Mas Darso ke rumah Mas Joko, hampir sama. Rupanya istri Mas Joko yang meminta tolong ke Mas Darso untuk memintakan tolong ke saya agar bersedia mengantar ke rumah sakit. Dan karena Mas Darso lah, akhirnya saya berkesempatan untuk melakukan amal baik di pagi buta itu.

Mas Darso termasuk orang yang suka melawak. Dari sisi usia mungkin usianya di atas saya 2 atau 3 tahunan. Kalo bicara kadang tidak basa-basi. Apa adanya. Bahkan dengan saya pun semenjak saat itu makin akrab saya. Sering saya diledeknya, misal saat bertemu saya di jalan di suatu malam, ketika saya tidak datang rapat RT karena lebih berat untuk mengisi liqo’. “Mau dicoret dari daftar warga RT 07 apa ya?” ledeknya waktu itu. Saya hanya menanggapinya dengan tertawa.

Dari semua itu, hanya satu hal yang sangat ingin saya saksikan. Yaitu melihat dia sholat. Saya tidak tahu persis di rumah dia sholat atau tidak. Tapi dari sahabat dekatnya, menginformasikan bahwa dia belum menjalankannya. Selama ini bukan dia tidak mau datang ke mesjid yang kebetulan jaraknya 30 meteran dari rumahnya. Bahkan ketika rapat-rapat pembentukan panitia ramadhan, panitia idul qur’ban, atau ketika rapat untuk pembangunan ataupun perbaikan masjid, hampir dia selalu datang dan berpartisipasi. Tapi untuk sholat atau sekedar datang kajian, saya belum pernah melihatnya.

Empat tahun saya tinggal di kampung ini, belum pernah sekalipun saya menjumpainya sholat. Meski sekedar sholat jumat. Atau pun sholat idul raya. Hingga akhirnya, saat sabtu kemaren kami mengadakan buka puasa bersama di masjid kami. Alhamdulillah Allah berikan saya dan istri rejeki sehingga bisa ikut membantu program kegiatan masjid hari itu. Saya tidak tahu bagaimana ucapan panitia ketika mengundang jama’ah untuk hadir pada acara buka puasa itu. Yang pasti, Mas Darso tiba-tiba bersedia hadir di kajian buka puasa sore itu. Hati saya sedikit gerimis. Dari luar beberapa kali saya perhatikan dia tekun memperhatikan tausiyah dari pembicara.

Kejadian itu berlanjut malam harinya. Saat sholat isya’ dan taraweh ternyata saya menemukan wajahnya di antara jama’ah malam itu. Seusai sholat dia sempat mendatangi dan menyalami saya. Dalam hari saya hanya bisa berdoa, semoga apa yang dia awali di ramadhan ini terus dia jaga. Semoga hidayah yang telah dia dia rintis di bulan ini akan terus tersemai di bulan-bulan mendatang.

             •  • 
"Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)".

Mengapa Harus Satu Juz Setiap Hari ?

"Hendaklah Anda memiliki wirid harian membaca al-Qur'an
minimal satu juz setiap hari, dan berusahalah sungguh-sungguh agar
jangan sampai mengkhatamkan al-Qur'an melewati satu bulan."
(Hasan al-Banna dalam Majmuatur Rasail –risalah pergerakan- )

Saudaraku, sadarkah kita bahwa al-Qur'an diturunkan oleh Allah kepada manusia agar menjadi sumber tazwid (pembekalan) bagi peningkatan ruhiy (spiritualitas), fikri (pemikiran) serta minhaji (metodologi da'wah) ? Sehingga jika sehari saja kita jauh dari al-Qur'an, berarti terputuslah dalam diri kita proses tazwid tersebut? Sadarkah kita bahwa yang akan terjadi adalah proses tazwid dari selain wahyu Allah; baik itu dari televisi koran, majalah, maupun yang lainnya yang sesungguhnya akan menyebabkan ruh yang ringkih dan keyakinan yang melemah terhadap fikroh dan minhaj ? Padahal tiga unsur ini sesungguhnya menjadi sumber energi untuk berdakwah dan berharokah. Sehingga melemahlah semangat beramal saleh dan hadir dalam halaqoh, padahal halaqoh merupakan pertemuan untuk komitmen beramal saleh.

Dapat dibayangkan bagaimana jadinya kalau proses tazwid itu telah terputus sepekan, dua pekan, bahkan berbulan-bulan. Semoga Allah menjaga kita dari sikap menjadikan al-Qur'an sebagai sesuatu yang mahjuran (ditinggalkan).

   •      

Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang ditinggalkan ". (Q.S. Al-Furqan ayat 30)

Sesungguhnya ibadah tilawah satu juz ini sudah tertuntut kepada manusia sejak dia menjadi seorang muslim. Oleh karena itu, cukup banyak orang-orang yang tanpa tarbiyah atau halaqoh, namun memiliki komitmen tilawah satu juz setiap hari, sehingga setahun khatam 12 kali (bahkan lebih, karena saat bulan Ramadhan dapat khatam lebih dari sekali).

Lalu, bagaimana dengan kita, ashhabul (aktifis) harokah wad da'wah ? Sudahkah keislaman kita membentuk kesadaran iltizam (komitmen) dengan ibadah ini ? Ketika kita melalaikannya, dapat diyakini bahwa kendalanya adalah dha'ful himmah (lemah dan kurangnya kemauan), bukan karena tidak mampu melafalkan ayat-ayat al-Qur'an seperti anggapan kita selama ini. Yang harus dibentuk dalam hal ini bukanlah hanya sebatas mampu membaca, namun lebih dari itu, bagaimana membentuk kemampuan ini menjadi sebuah moralitas ta'abbud (penghambaan) kepada Allah, sehingga hal ini menjadi sebuah proses tazwid yang berkesinambungan sesuai dengan jauhnya perjalanan da'wah ini !

Dari sini kita menjadi faham, bahwa ternyata tarbiyah adalah sebuah proses perjalanan yang beribu-ribu mil jauhnya. Entah berapa langkah yang sudah kita lakukan. Semoga belum mampunya kita dalam beriltizam dengan ibadah ini adalah karena masih sedikitnya jarak yang kita tempuh. Jadi yakinlah, selama kita komitmen dengan proses tarbiyah, dengan seizin Allah kita akan sampai kepada kemampuan ibadah ini. Dan sekali-kali janganlah kita menutupi ketidak mampuan kita terhadap ibadah ini dengan berlindung di bawah waswas syaithan dengan bahasa sibuk, tidak sempat, acara terlalu padat dan lain sebagainya.

Sadarilah bahwa kesibukan kita pasti akan berlangsung sepanjang hidup kita. Apakah berarti sepanjang hidup kita, kita tidak melakukan ibadah ini hanya karena kesibukan yang tak pernah berakhir ?

Kita harus berfikir serius terhadap tilawah satu juz ini, karena ia merupakan mentalitas 'ubudiyah (penghambaan), disiplin dan menambah tsaqofah. Apalagi ketika kita sudah memiliki kesadaran untuk membangun Islam di muka bumi ini, maka kita harus menjadi batu bata yang kuat dalam bangunan ini. Al Ustadz Asy Syahid Hasan Al-Banna Rahimahullah begitu yakinnya dengan sisi ini, sehingga beliau menjadikan kemampuan membaca al-Qur'an satu juz ini sebagai syarat pertama bagi seseorang yang berkeinginan membangun masyarakat Islam.

Dalam nasihatnya beliau mengatakan, "Wahai saudaraku yang jujur dengan janjinya, sesungguhnya imanmu dengan bai'at (perjanjian) ini mengharuskanmu melaksanakan kewajiban-kewajiban ini agar kamu menjadi batu bata yang kuat, (untuk itu) : "Hendaklah Anda memiliki wirid harian membaca al-Qur'an minimal satu juz setiap hari, dan berusahalah sungguh-sungguh agar jangan sampai mengkhatamkan al-Qur'an melewati satu bulan."

Sebagaimana kita saat melakukan hijrah dari kehidupan Jahiliyyah kepada kehidupan Islamiyah harus banyak menelan pil pahit selama proses tarbiyah, maka jika kita sudah ber'azam (bertekad) untuk meningkat kepada kehidupan yang ta'abbudi (penuh nilai ibadah), maka kita harus kembali menelan banyak pil pahit tersebut. Kita harus sadar bahwa usia dakwah yang semakin dewasa, penyebarannya yang semakin meluas dan tantangannya yang semakin variatif sangat membutuhkan manusia-manusia yang Labinatan Qowiyyatan (laksana batu bata yang kuat). Dan hal tersebut kuncinya terdapat di dalam interaksi dengan al-Qur'an !

Sebuah proses tarbiyah yang semakin matang, dengan indikasi hati dan jiwa yang semakin bersih, secara otomatis akan menjadikan kebutuhan terhadap al-Qur'an mengalami proses peningkatan. Sejarah mencatat bahwa para sahabat dan salafusshalih ketika mendengar Rasulullah SAW bersabda, "bacalah al-Qur'an dalam satu bulan", maka begitu banyak yang menyikapinya sebagai sesuatu yang minimal.

Bayangkan dengan diri kita yang sering menganggap tilawah satu juz itu sebagai sesuatu yang maksimal ! Maka tugas yang sangat minimal inipun sangat sering terkurangi, bahkan tidak teramalkan dengan baik. Bagaimana mungkin kita dapat mengulang kesuksesan para sahabat dalam membangun Islam ini, jika kita tidak melakukan apa yang telah mereka lakukan (walaupun kita sadar bahwa ibadah satu juz ini bukan satu-satunya usaha di dalam berdakwah) ?

Sebutlah Utsman Ibn Affan, Abdullah Ibn Amr Ibn Ash, Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi'i Radiyallahu Anhum. Mereka adalah contoh orang-orang yang terbiasa menyelesaikan bacaan al-Qur'annya dalam waktu tiga hari sampai satu pekan. Karena bagi mereka khatam sebulan terlalu lama untuk bertemu dengan ayat-ayat Allah. Jadi, jika seseorang rutin setiap bulan khatam, berarti hanya sekali dalam sebulan ia bertemu dengan surat Maryam, misalnya.

Dapat kita bayangkan seandainya kita berlama-lama dalam mengkhatamkan al-Qur'an. Berarti kita akan sangat jarang bertemu dengan setiap surat dari al-Qur'an !

Kalau saja tarbiyyah qur'aniyyah kita telah matang, kita akan dapat merasakan bahwa sentuhan tarbawi (pendidikan) surat al-Baqarah berbeda dengan surat Ali Imran. Begitu juga beda antara an-Nisaa, al-Maidah dengan surat yang lainnya. Sehingga ketika seseorang sedang membaca an-Nisaa, pasti dia akan merindukan al-Maidah. Inilah suasana tarbiyyah yang belum kita miliki yang harus dengan serius kita bangun dalam diri kita. Kita harus waspada, jangan sampai hidup ini berakhir dengan kondisi kita melalaikan ibadah tilawah satu juz. Sehingga hidup berakhir dengan kenangan penyesalan. Padahal sesungguhnya kita mampu kalau saja kita mau menambah sedikit saja mujahadah (kesungguhan) dalam tarbiyyah ini.

Kiat Mujahadah dalam Bertilawah Satu Juz :
1. Berusahalah melancarkan tilawah jika Anda termasuk orang yang belum lancar bertilawah, karena ukuran normal tilawah satu juz adalah 30 – 40 menit. Jika lebih dari itu, Anda harus lebih giat berusaha melancarkan bacaan. Jika melihat durasi waktu di atas, sangat logis untuk melakukan tilawah satu juz setiap hari dari waktu dua puluh empat jam yang kita miliki. Masalahnya, bagaima kita dapat membangun kemauan untuk 40 menit bersama Allah, sementara kita sudah terbiasa 40 menit atau lebih bersama televisi, ngobrol dengan teman dan lain sebagainya.
2. Aturlah dalam satu halaqah, kesepakatan bersama menciptakan komitmen ibadah satu juz ini. Misalnya, bagi anggota halaqah yang selama sepekan kurang dari tujuh juz, maka saat bubar halaqah ia tidak boleh pulang kecuali telah menyelesaikan sisa juz yang belum terbaca. Kiat ini terbukti lebih baik daripada 'iqob (hukuman) yang terkadang hilang ruh tarbawi nya dan tidak menghasilkan mujahadah yang berarti.
3. Lakukanlah qadha tilawah setiap kali program ini tidak berjalan ! Misalnya, carilah tempat-tempat yang kondusif untuk konsentrasi bertilawah. Misalnya di masjid atau tempat yang bagi diri kita asing. Kondisi ini akan menjadikan kita lebih sejenak untuk hidup dengan diri sendiri membangun tarbiyyah qur'aniyyah di dalam diri kita.
4. Sering-seringlah mengadukan keinginan untuk dapat bertilawah satu juz sehari ini kepada Allah yang memiliki al-Qur'an ini. Pengaduan kita kepada Allah yang sering, insya Allah menunjukkan kesungguhan kita dalam melaksanakan ibadah ini. Disinilah akan datang pertolongan Allah yang akan memudahkan pelaksanaan ibadah ini.
5. Perbanyaklah amal saleh, karena setiap amal saleh akan melahirkan energi baru untuk amal saleh berikutnya. Sebagaimana satu maksiat akan menghasilkan maksiat yang llain jika kita tidak segera bertaubat kepada Allah. Jika kita saat ini sering berbicara tentang ri'ayah maknawiyyah (memperkaya jiwa), maka sesungguhnya pesan Imam Syahid ini adalah cara me- ri'ayah maknawiyyah yang paling efektif dan dapat kita lakukan kapan saja dan dimana saja. Ditinjau dari segi apapun, ibadah ini harus dilakukan. Bagi yang yakin akan pahala Allah, maka tilawah al-Qur'an merupakan sumber pahala yang sangat besar. Bagi yang sedang berjihad, dimana dia membutuhkan tsabat (keteguhan hati), nashrullah (pertolongan Allah), istiqomah, sabar dan lain sebagainya, al-Qur'an tempat meraih semua ini. Kita harus serius melihat kemampuan tarbawi dan ta'abbudi ini, agar kita tergugah untuk bangkit dari kelemahan ini,

Kendala yang Harus Diwaspadai
1. Perasaan menganggap sepele apabila sehari tidak membaca al-Qur'an, sehingga berdampak tidak ada keinginan untuk segera kembali kepada al-Qur'an.
2. Lemahnya pemahaman mengenai keutamaan membaca al-Qur'an. Sehingga tidak termotivasi untuk mujahadah dalam istiqomah membaca al-Qur'an.
3. Tidak memiliki waktu wajib bersama al-Qur'an dan terbiasa membaca al-Qur'an sesempatnya, sehingga ketika merasa tidak sempat ditinggalkannyalah al-Qur'an.
4. Lemahnya keinginan untuk memiliki kemampuan ibadah ini, sehingga tidak pernah memohon kepada Allah agar dimudahkan tilawah al-Qur'an setiap hari. Materi do'a hanya berputar-putar pada kebutuhan keduniaan saja.
5. Terbawa oleh lingkungan di sekelilingnya yang tidak memiliki perhatian terhadap ibadah al-Qur'an ini. Rasulullah bersabda, "Kualitas dien seseorang sangat tergantung pada teman akrabnya."
6. Tidak tertarik dengan majlis-majlis yang menghidupkan al-Qur'an. Padahal menghidupkan majlis-majlis al-Qur'an adalah cara yang direkomendasikan Rasulullah agar orang beriman memiliki gairah berinteraksi dengan al-Qur'an.

Akibat dari Tidak Serius Menjalankannya
1. Sedikitnya barokah dakwah atau amal jihadi kita, karena hal ini menjadi indikasi lemahnya hubungan seorang jundi pada Allah. Sehingga boleh jadi nampak berbagai macam produktivitas dakwah dan amal jihadi kita, namun dikhawatirkan keberhasilan itu justru berdampak menjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
2. Kemungkinan yang lain, bahkan lebih besar, adalah tertundanya pertolongan Allah SWT dalam amal jihadi ini. Kalau jihad salafusshalih saja tertunda kemenangannya hanya karena meninggalkan sunnah bersiwak (menggosok gigi), apalagi karena meninggalkan suatu amal yang bobotnya jauh lebih besar dari itu ? Oleh karena itu, masalah berinteraksi dengan al-Quran selalu disinggung dengan ayat-ayat jihad, seperti surat al-Anfaal dan al-Qitaal
3. Terjauhkannya sebuah asholah (keaslian/orisinalitas) dakwah. Sejak awal dakwah ini dikumandangkan, semangatnya adalah dakwah bil qur'an. Bagaimana mungkin kita mengumandangkan dakwah bil qur'an kalau interaksi kita dengan al-Qur'an sangat lemah? Bahkan sampai tak mencapai tingkat interaksi yang paling minim, sekedar bertilawah satu juz saja ?
4. Terjauhkannya sebuah dakwah yang memiliki jawwul 'ilmi (nuansa keilmuan). Hakikat dakwah adalah meningkatkan kualitas keilmuan umat yang sumber utamanya dari al-Qur'an. Maka minimnya kita dengan pengetahuan ke –al-Qur'an- an akan sangat berdampak pada lemahnya bobot ilmiyyah diniyyah (keilmuan agama) kita. Dapat dibayangkan kalau saja setiap kader beriltizam dengan manhaj tarbiyyah yang sudah ada. Lebih khusus pada kader senior. Pasti kita akan melihat potret harokah dakwah ini jauh lebih cantik dan lebih ilmiyyah.
5. Terjauhkannya sebuah dakwah yang jauh dari asholatul manhaj. Bacalah semua kitab yang menjelaskan manhaj dakwah ini. Khususnya kitab Majmu'atur rosail (diterjemahkan oleh Ustadz Anis Matta dalam bahasa Indonesia dengan judul "Risalah Pergerakan") ! Anda akan dapatkan begitu kental dakwah ini memberi perhatian terhadap interaksi dengan al-Qur'an. Tidakkah kita malu ber-intima' (menyandarkan diri) pada dakwatul ikhwah, namun kondisi kita jauh dari manhaj-nya ?

Semoga kita tergugah dengan tulisan ini, agar kita lebih serius lagi melaksanakan poin pertama daripada wajibatul akh (kewajiban aktifis muslim) ini.

Al-Ustadz Al-Hafidz Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc.