Ingatkah dirimu
Saat hati-hati kita saling memunggungi ?
Bukan !
Bukan karena tak ada lagi saling cinta
Bahkan sesungguhnya kita saling memeluk rindu
Satu sama lain
Tahukah dirimu
Itu hanyalah bagian dari pelajaran cinta dan rindu kita?
Bahwa semua ada masanya
Ada saatnya kita harus menengok ke belakang
Sekedar menatap kembali jejak-jejak langkah
yang telah kita lalui
Tak ada episode cinta yang selalu merona
Pun tak ada episode rindu yang selalu membiru
Kadang kita butuh sedikit angin yang bertiup agak kencang
Agar bisa kembali saling bergandeng erat
Satu sama lain
Dan memang selalu begitu
Pelajaran cinta dan rindu tak selamanya datar
Pelajaran ini selalu dilengkapi dengan kejutan-kejutan
Yang kadang bahkan
tak pernah kita duga sebelumnya
Menara Jamsostek 06/11/2009 16:40
"Hidup ini seperti aliran air yang akan menuju ke muaranya. Maka jernihkan alirannya..."
Jumat, 06 November 2009
Rabu, 04 November 2009
Tentang Prasangka
Kali ini tentang prasangka. Prasangka itu pada awalnya adalah sesuatu yang netral, tapi pada galibnya dia akan menarik pemiliknya ke kutub-kutub sesuai dengan kondisi hatinya. Pada kutub negatif, dia akan menjelma menjadi buruk sangka dan pada kutub positif, dia akan mewujud dalam bentuk baik sangka. Baik sangka dengan buruk sangka memang berada pada kutub jiwa yang berlainan. Yang berseberangan.
Dahulu, pernah di keremangan cahaya malam di serambi masjidnya, Rasulullah sedang berbincang sesaat dengan salah satu istri beliau setelah istri beliau ini menjenguknya di saat i’tikaf. Sesuatu yang wajar dan biasa saja tentunya. Tiba-tiba ada dua sahabat anshar yang kebetulan hendak melewati beliau, mereka tertegun. Seolah buru-buru, mereka segera bergegas menjauhi beliau.
Sampai di sini seolah tidak ada yang istimewa. Tapi Rasulullah selalu memberikan pelajaran kepada para sahabatnya di saat yang tepat dan dengan cara yang tepat pula. Maka dipanggillah kedua sahabat Beliau tadi. “Pelan-pelanlah! Sesungguhnya wanita ini adalah Shafiyah binti Huyai” kata Beliau. “Subhanallah ! Wahai Rasulullah. Kami tahu itu. Dan kami tadi tidak berpikir macam-macam tentang Engkau.” Begitu sahabat menjelaskan kepada Rasulullah.
Selesaikah fragmen ini? Belum. Di sinilah kemudian kita mendapatkan kecerdasan Rasulullah dalam memberikan pendidikan dan arahan kepada kita semua, umatnya. “Sesungguhnya setan mengalir pada seseorang seperti mengalirnya darah. Dan sungguh aku khawatir kalau setan membisikkan pada hati kalian berdua kejelekan.” Begitulah, Beliau memanggil kembali kedua sahabatnya untuk mendekat dan memberinya penjelasan dalam rangka menutup celah munculnya prasangka di kemudian hari.
Sangat manusiawi sekali. Bisa saja kemudian karena pengaruh bisikan setan, mereka berpikir, “Rasulullah tadi itu bersama siapa ya?” Sangat manusiawi karena rasa penasaran dan keingintahuan. Namun itu akan menggiring siapapun yang mulai berpikiran demikian untuk kemudian mulai melanjutkan jalan pikirannya dengan kalimat, “Jangan-jangan…”. Maka inilah pintu prasangka itu.
Ini bukan persoalan berandai-andai. Tapi Rasulullah telah mencontohkan tindakan preventif itu untuk menghindarkan agar seseorang terhindar dari berprasangka. Beliau sebagai pihak yang berpotensi untuk diprasangkai, segera menutup celah itu dengan menjelaskan dan mengklarifikasinya. Kedua pihak pun selamat dari tragedi syak wasangka ini. Beliau tidak dipersangkakan, sementara di pihak kedua sahabat tadi mereka selamat dari berprasangka. Penyelesaian yang indah. Kuncinya adalah komunikasi.
Terus bagaimana kalau kedua pihak ini tidak saling bersinggungan? Di sinilah seringnya kemudian muncul persoalan ini. Seseorang akan dengan mudah bisa terjerumus dalam prasangka, terlebih lagi pada buruk sangka. Ini bisa terjadi jika memang tidak ada ruang yang memungkinkan untuk menjalin komunikasi dan melakukan klarifikasi. Sementara di luar itu, terbangun berbagai kemungkinan penafsiran akan suatu kejadian tadi.
Tapi kita sebenarnya tak perlu kuatir. Al Qur’an telah jauh-jauh hari mengingatkan kepada kita untuk menjauhkan diri dari aktifitas berprasangka ini. Kata Allah dalam Surat Al Hujurat ayat 12, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka (dzon), karena sebagian dari berprasangka itu dosa.” Apa yang menarik dari sini? Adalah kalimat “karena sebagian dari berprasangka itu dosa”. Kenapa sebagian? Karena kita masih bisa menumbuhkan prasangka yang tidak membawa konsekuensi dosa yaitu baik sangka (khusnudzon). Sementara jika kita jatuh pada buruk sangka (su’udzon), maka kita akan mudah terjatuh pada dosa.
Selalu membangun prasangka yang baik di benak pikiran kita memang tidak mudah. Ia juga sangat berkaitan dengan kondisi hati kita. Sementara kondisi hati kita, sangat tergantung dengan kedekatan kita dengan Sang Penjaga Hati. Rasulullah mengingatkan kita bahwa kita pun sangat mungkin berprasangka dengan Sang Penjaga Hati ini. Dalam sebuah hadits qudsi Allah mengatakan, “Sesungguhnya Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku.” Maka artinya jika kita ingin agar Sang Penjaga Hati itu dekat dengan kita, maka berprasangkalah bahwa Allah itu dekat dengan kita, bahwa Allah itu selalu mengikuti setiap langkah-langkah kita.
Segala yang berkaitan dengan hati memang terkadang rumit. Karena sifat hati yang mudah berbolak-balik, maka ini pun berbengaruh pada tabiat kita dalam berprasangka. Terkadang kita sangat mudah untuk berbaik sangka. Di lain waktu, begitu mudah pula kita terjatuh pada buruk sangka. Karena itu tak salah jika kemudian kita harus selalu meminta kepada-Nya, agar meneguhkan hati kita pada agamanya dan agar selalu di atas ketaatan kepada-Nya. “Allahumma Ya Muqallibal qulub. Tsabit qalbii ‘ala diinika wa ‘ala tha’atika.”
Semoga Allah senantiasa menganugerahi kita hati yang bersih, sehingga bisa mengarahkan kita untuk selalu bisa berbaik sangka pada kehidupan di sekitar kita. Sehingga dimudahkan-Nya dan disederhanakan pula segala urusan hidup kita. Amin.
@Pancoran, finished at menara jamsostek : 03/11/2009 15:45
Dahulu, pernah di keremangan cahaya malam di serambi masjidnya, Rasulullah sedang berbincang sesaat dengan salah satu istri beliau setelah istri beliau ini menjenguknya di saat i’tikaf. Sesuatu yang wajar dan biasa saja tentunya. Tiba-tiba ada dua sahabat anshar yang kebetulan hendak melewati beliau, mereka tertegun. Seolah buru-buru, mereka segera bergegas menjauhi beliau.
Sampai di sini seolah tidak ada yang istimewa. Tapi Rasulullah selalu memberikan pelajaran kepada para sahabatnya di saat yang tepat dan dengan cara yang tepat pula. Maka dipanggillah kedua sahabat Beliau tadi. “Pelan-pelanlah! Sesungguhnya wanita ini adalah Shafiyah binti Huyai” kata Beliau. “Subhanallah ! Wahai Rasulullah. Kami tahu itu. Dan kami tadi tidak berpikir macam-macam tentang Engkau.” Begitu sahabat menjelaskan kepada Rasulullah.
Selesaikah fragmen ini? Belum. Di sinilah kemudian kita mendapatkan kecerdasan Rasulullah dalam memberikan pendidikan dan arahan kepada kita semua, umatnya. “Sesungguhnya setan mengalir pada seseorang seperti mengalirnya darah. Dan sungguh aku khawatir kalau setan membisikkan pada hati kalian berdua kejelekan.” Begitulah, Beliau memanggil kembali kedua sahabatnya untuk mendekat dan memberinya penjelasan dalam rangka menutup celah munculnya prasangka di kemudian hari.
Sangat manusiawi sekali. Bisa saja kemudian karena pengaruh bisikan setan, mereka berpikir, “Rasulullah tadi itu bersama siapa ya?” Sangat manusiawi karena rasa penasaran dan keingintahuan. Namun itu akan menggiring siapapun yang mulai berpikiran demikian untuk kemudian mulai melanjutkan jalan pikirannya dengan kalimat, “Jangan-jangan…”. Maka inilah pintu prasangka itu.
Ini bukan persoalan berandai-andai. Tapi Rasulullah telah mencontohkan tindakan preventif itu untuk menghindarkan agar seseorang terhindar dari berprasangka. Beliau sebagai pihak yang berpotensi untuk diprasangkai, segera menutup celah itu dengan menjelaskan dan mengklarifikasinya. Kedua pihak pun selamat dari tragedi syak wasangka ini. Beliau tidak dipersangkakan, sementara di pihak kedua sahabat tadi mereka selamat dari berprasangka. Penyelesaian yang indah. Kuncinya adalah komunikasi.
Terus bagaimana kalau kedua pihak ini tidak saling bersinggungan? Di sinilah seringnya kemudian muncul persoalan ini. Seseorang akan dengan mudah bisa terjerumus dalam prasangka, terlebih lagi pada buruk sangka. Ini bisa terjadi jika memang tidak ada ruang yang memungkinkan untuk menjalin komunikasi dan melakukan klarifikasi. Sementara di luar itu, terbangun berbagai kemungkinan penafsiran akan suatu kejadian tadi.
Tapi kita sebenarnya tak perlu kuatir. Al Qur’an telah jauh-jauh hari mengingatkan kepada kita untuk menjauhkan diri dari aktifitas berprasangka ini. Kata Allah dalam Surat Al Hujurat ayat 12, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka (dzon), karena sebagian dari berprasangka itu dosa.” Apa yang menarik dari sini? Adalah kalimat “karena sebagian dari berprasangka itu dosa”. Kenapa sebagian? Karena kita masih bisa menumbuhkan prasangka yang tidak membawa konsekuensi dosa yaitu baik sangka (khusnudzon). Sementara jika kita jatuh pada buruk sangka (su’udzon), maka kita akan mudah terjatuh pada dosa.
Selalu membangun prasangka yang baik di benak pikiran kita memang tidak mudah. Ia juga sangat berkaitan dengan kondisi hati kita. Sementara kondisi hati kita, sangat tergantung dengan kedekatan kita dengan Sang Penjaga Hati. Rasulullah mengingatkan kita bahwa kita pun sangat mungkin berprasangka dengan Sang Penjaga Hati ini. Dalam sebuah hadits qudsi Allah mengatakan, “Sesungguhnya Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku.” Maka artinya jika kita ingin agar Sang Penjaga Hati itu dekat dengan kita, maka berprasangkalah bahwa Allah itu dekat dengan kita, bahwa Allah itu selalu mengikuti setiap langkah-langkah kita.
Segala yang berkaitan dengan hati memang terkadang rumit. Karena sifat hati yang mudah berbolak-balik, maka ini pun berbengaruh pada tabiat kita dalam berprasangka. Terkadang kita sangat mudah untuk berbaik sangka. Di lain waktu, begitu mudah pula kita terjatuh pada buruk sangka. Karena itu tak salah jika kemudian kita harus selalu meminta kepada-Nya, agar meneguhkan hati kita pada agamanya dan agar selalu di atas ketaatan kepada-Nya. “Allahumma Ya Muqallibal qulub. Tsabit qalbii ‘ala diinika wa ‘ala tha’atika.”
Semoga Allah senantiasa menganugerahi kita hati yang bersih, sehingga bisa mengarahkan kita untuk selalu bisa berbaik sangka pada kehidupan di sekitar kita. Sehingga dimudahkan-Nya dan disederhanakan pula segala urusan hidup kita. Amin.
@Pancoran, finished at menara jamsostek : 03/11/2009 15:45
Rabu, 28 Oktober 2009
Sungguh, dekapan itu menenangkannya..
Tergopoh-gopoh laki-laki mulia itu melangkah ke rumahnya. Ada kecemasan dan ketakutan yang amat sangat tergambar jelas di wajahnya. Dia baru saja mengalami kejadian luar biasa, yang kelak ini merupakan titik awal dimulainya perjuangan risalah Beliau. “Ada apa gerangan, kakanda. Mengapa badanmu menggigil sedemikian rupa?” Sambut sang istri, sang legenda wanita agung ini, dengan penuh ketenangan. Diselimutilah tubuh beliau. Direngkuhnya laki-laki mulia itu ke dalam dekapannya.
Maka mengalirlah cerita kegundahan dan kecemasan dari lisan laki-laki mulia ini. Kejadian yang baru saja dialaminya di tempatnya menepi dan melakukan perenungan, benar-benar telah menggoncangkan sendi-sendi jiwanya. “Sesungguhnya aku khawatir terhadap diriku sendiri.” Kata laki-laki itu. Wanita agung itu menjawab, “Tidak! Bergembiralah Kakanda! Demi Allah, Allah sama sekali tidak akan membuat Kakanda kecewa. Kakanda seorang yang bersikap baik kepada kaum kerabat, selalu berbicara benar, membantu yang lemah, menolong yang sengsara, menghormati tamu, dan membela orang yang berdiri di atas kebenaran.” Mendengar ucapan itu, maka perlahan, berangsur hati laki-laki mulia itu menjadi lebih tenang. Beban berat yang seakan terbebankan di pundaknya, perlahan menjadi meringan kapas, seolah tak lagi ada tersisa di sana.
Ini adalah potongan salah satu episode romantis perjalanan laki-laki mulia itu, Muhammad saw. Kehidupan beliau dan istri beliau ini, Khadijah ra, begitu melegenda. Bahkan kecintaan beliau kepadanya, tak pernah lekang dimakan zaman. Sepeninggalnya, laki-laki mulia ini selalu mengingat akan semua ketulusan dan kebaikannya, juga ketegarannya dalam mendampingi perjuangan risalah yang diembannya.
Kisah ini selalu membuat kita terpesona setiap kali membacanya. Inilah romantika yang sebenarnya. Romantisme itu semestinya menguatkan, bukan malah membuat kita rapuh. Bukankah saat itu umur beliau adalah 40 tahun dan khadijah 55 tahun? Bukankah mereka telah 15 tahun menjalani kehidupan rumah tangga itu? Dan justru mulai umur itulah, kemudian kita mengetahui bahwa ujian-ujian yang jauh lebih berat mulai mendatangi kehidupan beliau.
Selalu begitu. Perjalanan cinta boleh jadi mengalami pasang surut. Bukan karena cinta itu menipis. Bukan pula karena cinta itu tak lagi membiru. Tapi justru karena adanya ujian yang makin mendera dari luar sana. Apa pun bentuk ujian itu, bisa jadi mempengaruhi gairah cinta itu. Rutinitas yang padat, sempitnya waktu, kepenatan yang mendera, jarak yang tiba-tiba terbentang memisahkan, ataupun berbagai bentuk kesempitan lainnya, ia bisa hadir dalam perjalanan rumah tangga kita.
Oleh karena itu, romantisme harus selalu dihadirkan dalam perjalanan epsiode cinta kita. Romantisme tentu bukan monopoli pasangan yang baru menikah.Seiring berjalannya usia pernikahan, justru dia harus senantiasa dipupuk. Romantisme itu hanya masalah persepsi, jika kita bersepakat dengan pasangan kita bahwa sebuah aktifitas itu kita anggap romantis, maka romantislah dia. Jangan hiraukan dunia akan mengatakan apa.
Suatu saat, di sebuah sudut jalan di Jogja, seorang lelaki setengah baya menarik gerobak berisi sampah. Di sebelahnya berjalan sang istri. Penampilan mereka bagi orang mungkin jauh dari kesan keren. Sesekali di jalanan yang sepi, mereka bergandengan tangan. Bercanda. Beberapa pengguna jalan terlihat risi melihat mereka. Menyebalkan, bikin jalan macet aja, begitu pikir mereka barangkali. Tapi bagiku itu luar biasa. Romantisme bukan hanya monopoli mereka yang berpunya, bukan?
Romantisme sekali lagi, hanya masalah kesepakatan. Hanya terletak pada bagaimana kita mempersepsikannya. Tidak selalu harus mahal dan formal. Tidak selalu harus dramatis dan rumit. Tidak harus selalu diskenariokan sebagaimana sebuah drama. Tadi pagi sempat membaca tulisan seorang senior, umurnya telah di atas 40 tahun. Kata beliau, merasakan belaian tangan istri baginya merupakan hal yang membuatnya tentram. Sederhana bukan?
Romantisme kadang memang harus diciptakan. Mungkin sedikit dipaksakan. Tak mengapa. Yang terpenting kemudian adalah adanya kesepakatan dan kerelaan di antara kedua belah pihak. Saya terkadang meminta istri untuk sekedar mencari uban di kepala saya. Bukan apa-apa, saya memang menikmati kepala saya diacak-acak olehnya. Bagiku itu sangat menentramkan. Semua itu, bagiku cukup untuk memupuk rasa di hati ini agar selalu berkembang tunasnya.
Begitulah, energi romantisme ini akan mempengaruhi daya juang kita kemudian. Setiap kita mampu untuk melakukannya. Yang ada tinggal tekad untuk mewujudkannya. Bahkan dalam setiap saat, sesungguhnya bisa dijadikan momen untuk membuat romantika episode hidup kita kembali merona. Sekali lagi, tinggal kita mau atau tidak.
Pancoran, finished at menara jamsostek 28/10/09
Maka mengalirlah cerita kegundahan dan kecemasan dari lisan laki-laki mulia ini. Kejadian yang baru saja dialaminya di tempatnya menepi dan melakukan perenungan, benar-benar telah menggoncangkan sendi-sendi jiwanya. “Sesungguhnya aku khawatir terhadap diriku sendiri.” Kata laki-laki itu. Wanita agung itu menjawab, “Tidak! Bergembiralah Kakanda! Demi Allah, Allah sama sekali tidak akan membuat Kakanda kecewa. Kakanda seorang yang bersikap baik kepada kaum kerabat, selalu berbicara benar, membantu yang lemah, menolong yang sengsara, menghormati tamu, dan membela orang yang berdiri di atas kebenaran.” Mendengar ucapan itu, maka perlahan, berangsur hati laki-laki mulia itu menjadi lebih tenang. Beban berat yang seakan terbebankan di pundaknya, perlahan menjadi meringan kapas, seolah tak lagi ada tersisa di sana.
Ini adalah potongan salah satu episode romantis perjalanan laki-laki mulia itu, Muhammad saw. Kehidupan beliau dan istri beliau ini, Khadijah ra, begitu melegenda. Bahkan kecintaan beliau kepadanya, tak pernah lekang dimakan zaman. Sepeninggalnya, laki-laki mulia ini selalu mengingat akan semua ketulusan dan kebaikannya, juga ketegarannya dalam mendampingi perjuangan risalah yang diembannya.
Kisah ini selalu membuat kita terpesona setiap kali membacanya. Inilah romantika yang sebenarnya. Romantisme itu semestinya menguatkan, bukan malah membuat kita rapuh. Bukankah saat itu umur beliau adalah 40 tahun dan khadijah 55 tahun? Bukankah mereka telah 15 tahun menjalani kehidupan rumah tangga itu? Dan justru mulai umur itulah, kemudian kita mengetahui bahwa ujian-ujian yang jauh lebih berat mulai mendatangi kehidupan beliau.
Selalu begitu. Perjalanan cinta boleh jadi mengalami pasang surut. Bukan karena cinta itu menipis. Bukan pula karena cinta itu tak lagi membiru. Tapi justru karena adanya ujian yang makin mendera dari luar sana. Apa pun bentuk ujian itu, bisa jadi mempengaruhi gairah cinta itu. Rutinitas yang padat, sempitnya waktu, kepenatan yang mendera, jarak yang tiba-tiba terbentang memisahkan, ataupun berbagai bentuk kesempitan lainnya, ia bisa hadir dalam perjalanan rumah tangga kita.
Oleh karena itu, romantisme harus selalu dihadirkan dalam perjalanan epsiode cinta kita. Romantisme tentu bukan monopoli pasangan yang baru menikah.Seiring berjalannya usia pernikahan, justru dia harus senantiasa dipupuk. Romantisme itu hanya masalah persepsi, jika kita bersepakat dengan pasangan kita bahwa sebuah aktifitas itu kita anggap romantis, maka romantislah dia. Jangan hiraukan dunia akan mengatakan apa.
Suatu saat, di sebuah sudut jalan di Jogja, seorang lelaki setengah baya menarik gerobak berisi sampah. Di sebelahnya berjalan sang istri. Penampilan mereka bagi orang mungkin jauh dari kesan keren. Sesekali di jalanan yang sepi, mereka bergandengan tangan. Bercanda. Beberapa pengguna jalan terlihat risi melihat mereka. Menyebalkan, bikin jalan macet aja, begitu pikir mereka barangkali. Tapi bagiku itu luar biasa. Romantisme bukan hanya monopoli mereka yang berpunya, bukan?
Romantisme sekali lagi, hanya masalah kesepakatan. Hanya terletak pada bagaimana kita mempersepsikannya. Tidak selalu harus mahal dan formal. Tidak selalu harus dramatis dan rumit. Tidak harus selalu diskenariokan sebagaimana sebuah drama. Tadi pagi sempat membaca tulisan seorang senior, umurnya telah di atas 40 tahun. Kata beliau, merasakan belaian tangan istri baginya merupakan hal yang membuatnya tentram. Sederhana bukan?
Romantisme kadang memang harus diciptakan. Mungkin sedikit dipaksakan. Tak mengapa. Yang terpenting kemudian adalah adanya kesepakatan dan kerelaan di antara kedua belah pihak. Saya terkadang meminta istri untuk sekedar mencari uban di kepala saya. Bukan apa-apa, saya memang menikmati kepala saya diacak-acak olehnya. Bagiku itu sangat menentramkan. Semua itu, bagiku cukup untuk memupuk rasa di hati ini agar selalu berkembang tunasnya.
Begitulah, energi romantisme ini akan mempengaruhi daya juang kita kemudian. Setiap kita mampu untuk melakukannya. Yang ada tinggal tekad untuk mewujudkannya. Bahkan dalam setiap saat, sesungguhnya bisa dijadikan momen untuk membuat romantika episode hidup kita kembali merona. Sekali lagi, tinggal kita mau atau tidak.
Pancoran, finished at menara jamsostek 28/10/09
Jumat, 25 September 2009
Tradisi Saling Memaafkan (Selamat Hari Raya Ied 1430 H)
Selagi ada waktu
Selagi aku teringat
Selagi Allah masih mengijinkan kita bersua
Di bulan yang baik ini
Ijinkan aku beserta segenap keluarga
Mengucapkan :
Taqabbalallahu minna wa minkum
Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua
Selamat Hari Raya idul fitri 1430 H
Mohon maaf lahir dan batin
Mari terus budayakan tradisi saling memaafkan ini
Terima kasih.
Selagi aku teringat
Selagi Allah masih mengijinkan kita bersua
Di bulan yang baik ini
Ijinkan aku beserta segenap keluarga
Mengucapkan :
Taqabbalallahu minna wa minkum
Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua
Selamat Hari Raya idul fitri 1430 H
Mohon maaf lahir dan batin
Mari terus budayakan tradisi saling memaafkan ini
Terima kasih.
Kamis, 20 Agustus 2009
Buah Mengembalikan Urusan Kepada Allah dan Bersabar
Dalam hidup ini setiap muslim kadang menghadapi ujian, cobaan dan bencana. Karena itu, ketika diuji, hendaknya ia bersabar dan mengharapkan pahala kepada Allah atas musibahnya. Jika demikian, tentu Allah tidak akan menyia-nyikan sesuatu pun untuknya, bahkan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang hilang darinya.
Dalam Shahih-nya, Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah ra, bahwasanya ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw, 'Tidaklah seorang muslim yang tertimpa suatu musibah, lalu ia mengatakan apa yang diperintahkan Allah, 'Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah aku pahala karena musibah ini, dan gantikanlah untukku sesuatu yang lebih baik darinya,' kecuali Allah akan memberinya ganti yang lebih baik.' Ummu Salamah berkata, 'Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku berkata, 'Siapakah orang Islam yang lebih baik dari Abu Salamah?, (penghuni) rumah yang pertama kali hijrah kepada Rasulullah saw? Lalu aku mengucapkan perkataan diatas, kemudian Allah menggantikan untukku Rasulullah saw sebagai suami'."
Wahai ummat Islam, ketahuilah! Sesungguhnya barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari padanya. Siapa yang meninggalkan dari menampar pipi sendiri, mengoyak-ngoyak pakaian dan berteriak-teriak meratap serta kemungkaran yang sejenisnya, kemudian ia memohon pahala di sisi Allah atas musibahnya serta mengembalikan semuanya kepada Allah, niscaya Allah akan menggantikanya dan sungguh Allah adalah sebaik-baik Pemberi ganti.
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Dalam Shahih-nya, Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah ra, bahwasanya ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw, 'Tidaklah seorang muslim yang tertimpa suatu musibah, lalu ia mengatakan apa yang diperintahkan Allah, 'Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah aku pahala karena musibah ini, dan gantikanlah untukku sesuatu yang lebih baik darinya,' kecuali Allah akan memberinya ganti yang lebih baik.' Ummu Salamah berkata, 'Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku berkata, 'Siapakah orang Islam yang lebih baik dari Abu Salamah?, (penghuni) rumah yang pertama kali hijrah kepada Rasulullah saw? Lalu aku mengucapkan perkataan diatas, kemudian Allah menggantikan untukku Rasulullah saw sebagai suami'."
Wahai ummat Islam, ketahuilah! Sesungguhnya barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari padanya. Siapa yang meninggalkan dari menampar pipi sendiri, mengoyak-ngoyak pakaian dan berteriak-teriak meratap serta kemungkaran yang sejenisnya, kemudian ia memohon pahala di sisi Allah atas musibahnya serta mengembalikan semuanya kepada Allah, niscaya Allah akan menggantikanya dan sungguh Allah adalah sebaik-baik Pemberi ganti.
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)