"Ass.
Dik, wingi bapak arep tak prisakne ra gelem, tapi arep maghrib simbok ngulon
jare gelem. Rencanane mengko arep tak priksakne disik." Kemarin kakak
perempuan pertamaku mengabariku. Rencana untuk merayu bapak agar operasi
ternyata belum berhasil. Cukup lama kami harus melobi beliau.
Ada
benjolan, entah apa, di paha beliau yang menyebabkan beberapa syaraf ke kaki
mungkin terjepit sehingga menyebabkan rasa sakit jika berjalan dalam jarak
tertentu, atau saat mengangkat beban. Kami sudah menyarankan untuk banyak
istirahat, namun tak pernah diindahkannya. Kata simbok, "bapakmu memang
atos."
Tadi
kakakku berkirim kabar lagi, "Dik, bapak njaluke suk minggu langsung
operasi. Aku engko tak janjian karo paryanto disik." Paryanto kalau tidak salah adalah dokter yang
akan mengoperasi bapak nanti. Memang operasi minor, tapi mungkin karena orang
tua dan pola pikir desa, menghadapi kata operasi yang terbayang adalah
kengerian.

