Senin, 08 September 2008

Mengusahakan Takdir Terbaik

Mengusahakan Takdir Terbaik

Sesungguhnya Allah menguji kita pada titik terlemah diri kita. Saya selalu mencoba mendalami kalimat ini. Bukan untuk mencari pembuktian bahwa Allah telah menguji saya pada titik terlemah diri saya. Tapi lebih kepada pencarian dimana titik terlemah diri saya itu, sehingga saya bisa selalu bersiap untuk datangnya ujian-ujian Allah.

Beberapa minggu yang lalu saya dan sahabat-sahabat baik saya saling bercerita dalam sebuah forum. Tepatnya di suatu sore selepas jam kantor, sambil menunggu berhentinya guyuran hujan dari langit yang merupakan pertanda rahmat Allah sedang tercurah sore itu, hingga waktu sholat maghrib menjelang. Semua mengalir dengan begitu saja. Seakan kejadian setahun sebelumnya kembali terpampang di hadapan kami.

Yang pasti, saya dan sahabat-sahabat saya tidak sedang berkeluh kesah. Cerita itu apa adanya. Cerita itu hanya bagian episode yang kebetulan ingin kami tampilkan di awal episode cerita-cerita kami. Saya malam harinya menyelesaikan cerita-cerita mereka, merangkumnya menjadi sebuah alur cerita yang saling terkait. Inilah salah satu saksi bisu kenangan kebersamaan kami.

Cerita itu apa adanya. Semua berawal dari keprihatinan kami. Apa pun, kami juga hanyalah bagian dari manusia yang juga tak pernah lepas dari sisi-sisi kemanusian kami. Ada idealita yang dulu terbayang indah. Tapi realita kemudian membuat sebagian asa kami terhimpit. Asa itu tetap ada, tidak hilang, hanya ia terhimpit oleh paradoks-paradoks yang begitu tampak nyata di hadapan kami.

Kami tidak lagi bisa bersuara. Hanya sudut-sudut hati kami yang saling berbicara. Dan semua itu bertemu pada satu frase kata. Frase kata yang mewakili satu bagian hidup yang terasa berangsur hilang dalam hati kami. Yah, frase itu bernama 'kehangatan keluarga'. Semenjak kami terjauhkan dari keluarga, suasana itu begitu makin terasa asing.

Kami selalu mencoba untuk selalu berarti bagi sekitar kami, karena dakwah nabi kami mengajarkan kami bahwa yang terbaik di antara manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain. Khairukum anfa'uhum linnaas. Dalam sudut-sudut sepi kami di sini pun, kami selalu diajari untuk memikirkan orang lain. Ya, pikiran kami tidak saja terfokus kepada pekerjaan kami dan keluarga kami, tapi juga kepada sesuatu yang lebih luas dan besar dari pada itu. Sehingga terlalu naif jika kami harus berkeluh kesah apalagi menangis di tengah hal-hal seperti itu.

Cerita itu apa adanya. Sekali lagi bukan keluh kesah. Karena saluran untuk menyampaikan aspirasi itu terasa buntu. Kami berpandangan bahwa harus ada yang mengambil cara yang pahit sekalipun, jika memang itu bisa membuat sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Jika pampangan-pampangan kebijakan para pimpinan telah jelas dan terarah, transparan dan konsisten, maka kami pun yakin di tataran bawah ini akan rela untuk melakukan yang terbaik bagi institusi ini.

Ya, titik itu bernama keluarga. Saya merasa bahwa di titik inilah salah satu titik terlemah diri saya, dari titik-titik lemah yang lain. Entah bagi sahabat-sahabat terbaik saya. Tetapi setidaknya, kami bisa saling beresonansi dalam tulisan-tulisan kami tersebut. Karena dalam keyakinan kami, visi kami dalam berkeluarga adalah sebagaimana termaktub dalam salah satu ayat qur'an. Quu anfusakum wa ahlikum naara. Yaitu menjaga diri kami dan keluarga kami dari api neraka. Sehingga, bagaimana kami bisa optimal melakukan tugas itu, jika keberadaan kami saling berjauhan?

Kami yakin, Dzat yang Maha Tahu tentu telah punya skenario untuk itu semua. Tetapi mengusahakan takdir yang terbaik buat diri dan keluarga adalah diperintahkan. Dibalik rasa syukur dan sabar kami, kami mencoba untuk membuat sebuah ikhtiar meraih takdir terbaik untuk kami dan keluarga kami terebut. Semoga Allah yang Maha Mendengar, merahmati dan meridhoi usaha kami. Dan kami akan selalu ikhlas menerima segala ketentuan-Nya.

Ishbir ya akhi... Wa Allahu ma'akum ainama kuntum...

Senin, 01 September 2008

Laskar Senja : Apakah harapan itu masih ada?

Laskar Senja : Apakah harapan itu masih ada?

1 bulan, 2 bulan, 3 bulan.. kami masih semangat. Bahkan kami sempat membuat motto, “from java with spirit from batavia with love”. Tapi menginjak beberapa bulan kemudian kami merasa kerja kami semakin berkurang konsentrasinya, kadang sakit-sakitan. Istri di rumah juga kadang sakit-sakitan karena kecapekan. Bahkan ada di antara kami yang terkena sakit thypus. Pernah dia terjatuh dari motor sampai 2 kali. ”Mungkin karena melamun memikirkan anak-istri” begitu jawabnya saat kami tanyakan.

Sementara teman kami yang lain, istrinya sering kambuh sakit batu empedunya. Ketika konsultasi kepada dokter disarankan untuk jangan terlalu capek dan jangan banyak bawa beban berat. Bagaimana mau tidak capek, wong sehari-hari harus antar jemput anak sendirian, bekerja di kantor, mengurus bayi yang masih kecil, belum lagi menyelesaikan segala macam permasalahan di rumah, mulai dari masalah pembantu yang sering membuat masalah, sampai masalah anak yang terkadang rewel.. Dia bercerita, pernah suatu malam di rumahnya kemasukan ular, akhirnya malam-malam istrinya harus mengetuk pintu tetangga untuk minta tolong mengeluarkan ular dari rumah. Mendengar cerita tersebut, tentu saja perasaan bersalah dan kebingungan harus berkata apa, karena memang ia tidak bisa berbuat banyak untuk meringankan beban istrinya.

Belum lagi godaan di kantor: ditawarin uang, dikasih voucer elektronik, HP dan lain-lain. Sudah 1,5 tahun kami sudah menjalani PP jakarta jogja. Hati kami masih mencoba yakin ini hanya sebentar.

Ada di antara kami yang mempunyai kelainan berupa pembengkokkan tulang punggung. Kondisi yang cukup memberatkan ketika perjalanan-perjalanan panjang selalu dia lakukan tiap pekannya demi anak-anak dan keluarganya. Belum lagi tambahan osteoporosis yang juga telah dialaminya. Terapi-terapi untuk mengurangi progresifitas pembengkokan tulang punggungnya semestinya dia lakukan secara rutin. Akan tetapi, jauhnya dari keluarga membuat hal itu tak lagi bisa dilakukan dengan teratur.

Apalagi kemudian kenyataan kami melihat teman-teman kami yang dulu menghindar dari modernisasi ini justru diangkat dan ditempatkan di daerah kami, makin membuat hati kami berkeping-keping. Kami merasa terdzalimi. Kami telah berpeluh lelah meretas jalan ini dengan melalui test yang panjang dan melelahkan, justru akhirnya harus terjauhkan dari keluarga dan tempat tinggal kami.

Mungkin ada yang menyarankan : ”udah diajak aja anak istri ke Jakarta”. Tapi kami (masih) memilih untuk meninggalkan keluarga di sana. Kami tentu mempunyai alasan masing-masing. Di antara kami ada yang istrinya adalah PNS daerah, ada yang istrinya sudah nyaman di daerah asal dan banyak kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan, ada yang orang tuanya sudah sering sakit-sakitan sementara dia anak bungsu yang diharapkan bisa merawatnya. Tapi salah satu alasan yang utama adalah untuk perkembangan anak-anak kami. Rata-rata anak-anak kami berjumlah 3, ada yang baru satu tapi bahkan ada yang sudah 4. Hampir semua sudah usia sekolah. Jika harus memindahkan sekolah mereka, tentulah membutuhkan biasa yang besar. Belum untuk biaya tempat tinggal. Mencari lingkungan tempat tinggal yang baik. Memproses perpindahan istri, bagi yang istrinya juga bekerja. Ah, memikirkannya saja sudah memberatkan.

Akhirnya, di hati terdalam kami... kami masih berharap bisa kembali ke daerah kami. Agar kami kembali bisa bekerja dalam kondisi yang tenang dan fokus. Agar kontribusi kami ke negara ini menjadi lebih optimal’. Dan teman-teman eks jogja, tolong doakan kami kuat & segera bisa pulang.

Bahkan tidak hanya kepada teman-teman kami minta dido'akan. Kepada ustadz yang mengisi acara masjid kantor pun, kami tak lupa minta didoakan agar segera bisa kembali. Termasuk kadang minta do'a ke WP (mudah-mudahan yang ini tidak termasuk gratifikasi).

Kepada anakku...

Maafkan aku, ya nak. Tidak bisa menemani hari-hari kecilmu, masa-masa indahmu. Nak, bukan maksud Ayah lari dari tanggung jawab mendidik, membersamai, mengayomimu. Sungguh anakku, Ayah di sini sangat tersiksa, selalu kangen dan rindu kepadamu. Ayah ingin sekali membantumu mengerjakan PR. Ingin sekali menidurkanmu, menyelimutimu. Sungguh anakku, ayah menjadi cengeng sekarang nak. Sedikit-sedikit menangis, ketika mengingat kamu. Jangan marahi Ayah, ya Nak...

Kepada Istriku...

Maafkan aku, istriku. Aku tidak bisa lagi bersamamu sepanjang waktu, seperti dulu. Istriku, sungguh bukan maksudku untuk menjadi suami yang tak berperasaan meninggalkanmu sendiri menjalankan roda keluarga kita. Sungguh bukan demikian. Sungguh istriku, aku merasa bersalah meninggalkanmu, aku merasa kasihan padamu. Tentunya engkau capek & lelah mengurus anak-anak & rumah kita. Terima kasih atas semuanya. doaku untukmu. Semoga engkau diberi ketabahan.

Kepada DJP ku...

Maafkan kami, bukan maksud kami untuk bekerja setengah-setengah. Tapi memang kami pun mempunyai hati. Ada kepingan-kepingan hati kami yang tertinggal di kota nun jauh di sana. Rindu, sayang, cinta kami ada di sana. Dan sering perasaan itu mendominasi diri kami. Bukan maksud kami mengelak dari tanggung jawab kalo kami kadang-kadang pulang lebih awal. Tapi semata-mata kami ingin segera bertemu dengan mereka. Kami mohon maaf, kami tidak bisa optimal kerja seperti ini. Sering kami tidak fokus dalam pekerjaan kami. Mungkin banyak pula potensi kami yang tidak bisa kami kembangkan dalam suasana hati kami seperti ini. Kami mohon maaf sekali lagi, sering kami merasa capek, lelah menjalani ini semua. Kadang terpikir oleh kami untuk resign saja, demi anak & keluarga kami. Kami terus berharap semoga kami bisa kembali seperti dulu lagi.

Ya Allah........kumpulkan kami kembali dengan keluarga kami.
Ya Allah...kami tahu bahwa semua ini adalah bagian dari takdir-Mu, yang harus kami terima dengan penuh keikhlasan.
Tapi kami pun tahu Ya Rabb...hanya Engkaulah yang Maha Berkuasa, Maha Menerima permohonan dari hamba-hamba-Mu yang dhoif ini.
Ya Allah...kami berharap Engkau akan mengabulkan permohonan kami, melalui kebijakan dan kebijaksanaan para pimpinan kami di DJP ini.
Ya Allah...kabulkanlah permohonan kami. Amin.

**********************

LASKAR PELANGI
LASKAR SENJA
MERETAS MIMPI
BERALAS TIKAR DI SENJA

**********************

Cerita ini mengalir dari jari jemari
Insan-insan yang sedang di mabuk rindu
Mengalir di sela deras hujan di sore itu
Dari tempat-tempat yang berserak di jantung ibu kota

Dikompilasikan di malam yang sepi
Persembahan untuk orang-orang terkasih

Kru Roker Joglo alias PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad)

Laskar Senja : Gerbong-gerbong penuh "penderitaan"

Laskar Senja : Gerbong-gerbong penuh "penderitaan"

Setiap ahad sore kami pun akhirnya harus senantiasa mengunjungi stasiun agar esok hari bisa bekerja. Betapa kecut hati kami, tak kuasa berbuat apa-apa. Tak terbayangkan sebelumnya harus menjadi anggota roker joglo (rombongan kereta jogja-solo), bukan rombongan G-15 (Gerombolan 15rb) atau pun para sniper gelap. Bawaan seorang roker adalah tas ransel. Jangan dibayangkan isinya macam-macam, di sana hanya berisi koran bekas yang berubah fungsi menjadi alas tidur, bantal tiup unttuk ganjal kepala, sebotol aqua unttuk sedikit menghapus dahaga, sisanya unttuk "bersuci".

Kadang di kereta api pun, meski telah kami pasang "password" (baca : trik-trik) agar wilayah kami tidak direbut gerombolan G-15/Sniper, ternyata mereka memang telah terlatih. Menunggu kelengahan kami, sehingga mereka bisa melonjorkan kaki, sedangkan kami akhirnya mesti menekuk kaki sampai pegal-pegal rasanya pagi harinya.

Pernah sekali waktu ketika ada liburan akhir pekan yang panjang di antara kami mengalami kejadian yang menyebalkan. Kereta amat sangat penuh. Semua gang penuh dengan orang yang duduk di bawah. Jatah kursi kereta teman kami yang seharusnya untuk 4 orang (berhadapan) terpaksa diisi 10 orang : 2 orang di bawah, 7 orang di atas, 1 orang di sandaran tangan tempat duduk. Dan bahkan seorang di antara kami ada yang harus duduk berdesakan dengan wanita yang bukan muhrim, kanan-kiri, depan, semuanya wanita. Begitulah suka duka di kereta.

Belum perjuangan mencari tiket yang kadang harus mengantri berjam-jam berdiri di depan loket. Kadang sudah begitu pun, kami masih tidak memperoleh tiket yang bertempat duduk sehingga harus naik kereta tanpa tempat duduk. Dan memang pada akhirnya kami harus selalu memperhatikan kalender, jika ada liburan panjang maka paling tidak sebulan sebelumnya kami harus sudah mengantri tiket. Agar aktifitas pekanan kami tidak makin melelahkan.

Aktifitas pekanan pulang pergi jakarta selalu membawa pernik-pernik cerita sendiri. Teman kami bercerita, ”ketika aku pamit mau kembali ke jakarta, anak yang paling besar bilang ayah gak usah ke jakarta lagi. Aku mau yang ngantar sekolah ayah. Seperti teman-teman. Aku pun hanya bisa menahan tangis mendengarnya. Ya, Insya Allah. Doakan ayah agar bisa kembali bersama-sama ya.”

Sementara yang lainnya, ”Kalo aku setiap telpon anak, dia bilang ’abah nakal’. Bahkan sekarang gak mau lagi di telpon.”

Setiap telpon anak seringkali bertanya: ayah lagi di stasiun ya, padahal baru sekitar 3 hari kami datang dari jogja. Buka dan sahur ketika puasa pun kami lakukan dalam kereta. Air buat sekedar membasuh muka ketika sahur pun sering kali belum tentu ada.

Satu-satunya hiburan kami di stasiun adalah ketika kami berkumpul di depan warung mie langganan kami. Biasanya kami memesan mie rebus/nasi goreng di situ. Tetapi meskipun hanya mie rebus, bagi kami rasanya mak nyos, mungkin perasaan kami yang sumringah karena besok bertemu anak-istri. Mengobrol bersama teman-teman senasib sependeritaan, cukup menghibur hati. Bahkan seringkali kami tidak sempat mandi sore di hari jum'at, karena dari kantor langsung menuju stasiun.

Suara yang paling kami tunggu ketika kami sedang tidur di kereta adalah suara "wer ewer kluwer...lay-lay lay lay lay lay panggil aku si jablay". Ya, itulah suara para waria yang sedang mengamen. Itu tandanya Jogja sudah dekat. Itu menandakan kalau Jogja tinggal sebentar lagi. ”Lanting-lanting..... sebentar lagi yogya”. Tentu bukan dia yang kami liat.. Tapi sekali lagi, itulah saatnya kami akan sebentar lagi bertemu keluarga. Itu berarti bahwa kami sudah sampai stasiun Wates, sekitar 25 menit lagi kami sampai stasiun "pelabuh rindu" stasiun Tugu Jogjakarta.

Sampai di stasiun Tugu, ada di antara kami yang masih harus melanjutkan perjalanannya ke timur kota jogja. ”Wah, mesti ngojek atau taksi argo rombongan nih..’ begitu katanya.

(bersambung)

Laskar Senja : Mengejar Mimpi

Laskar Senja : Mengejar Mimpi
(Modernisasi oh Modernisasi)


Tahun 2005 kami begitu antusias membaca pengumuman di intranet, tepatnya di website kepegawaian waktu itu. Ada semangat yang sejak dulu kami simpan dan terapkan dalam setiap aktivitas kerja kami di kantor. Semangat kami ternyata beresonansi dengan semangat DJP untuk berubah menjadi lebih baik. Sudah lama kami ingin menjadi "modern" dalam artian yang sesungguhnya. “Modern” dalam bekerja dan “modern” dalam berpenghasilan.

Saat kami membaca pengumuman itu, kami sadar ada yang harus kami perjuangan. Pertama ujiannya, kedua tentunya adalah saat nanti kami sudah masuk ke dunia kerja modern, segala aturan dan prosedur sebisa mungkin harus kami lakukan dengan 'modern'. Dan memang, pengumuman itu tampak begitu membujuk dan membuai kami.

Tentu, bukan sekedar ucapan manis di bibir saja. Ketika itu, hati kami begitu bergetar, pikiran menerawang menatap masa depan "DJP" yang lebih “bersih” dan lebih baik. Ya, saat itu adalah saat kami membaca pengumuman test modernisasi itu.

Hati kami pada akhirnya semakin mantab untuk mengikuti peluang emas ini. Pertama, imbalan kerja yang tentunya begitu menarik. Kami bermimpi tentang itu. Kedua, tentu saja ”kebebasan” dan ”ketenangan” dalam bekerja. Kapan lagi kami bisa bekerja dengan tenang, tanpa adanya "tekanan" dari kanan, kiri, atas, dan bawah. Sejuta keinginan berputar-putar di benak kami. Kapan kami bisa memperoleh itu semua dengan hati nyaman dan ikhlas. Ikut test ke Jakarta dengan biaya sendiri pun siap kami jalani demi sebuah perubahan dan idealisme itu.

Ketiga, sungguh kami terbuai dengan pilihan penempatan yang begitu menggiurkan. Kami diberi 3 pilihan penempatan bila lulus nanti. Tentu kami semua membayangkan, akan bisa bekerja dengan lebih tenang dan lebih baik apabila tetap dekat dengan keluarga. Kami pun kemudian memilih pilihan penempatan di kanwil kami sendiri dan kanwil-kanwil terdekat. Dalam benak kami, selain kami bisa tetap dengan keluarga, dekat dengan orang tua (beberapa teman kami orang tuanya sudah sering sakit-sakitan dan mereka merupakan anak terakhir yang diharapkan bisa merawat orangtua di hari tuanya), kami tentu saja ingin tetap bisa mengabdi untuk negara ini di daerah (home base) kami. Siapa lagi kalo bukan kami.

Di sisi lain, ternyata banyak teman-teman kami yang ternyata sama sekali tidak tertarik untuk mendaftarkan diri. Ah, biarlah... Mungkin mereka punya alasan masing-masing atas kepasifannya. Mungkin tidak siap dengan biaya sendiri yang harus dikeluarkan untuk mengikuti tes, atau mungkin tidak siap dengan “resiko” modernisasi. Astaghfirullah...barangkali kemungkinan kedua hanyalah pikiran buruk (su’udzan) kami saja. Setidaknya dalam benak kami saat itu, terbayang bahwa kami ingin dan akan menjadi pioneer perubahan DJP di tempat/kantor pilihan kami, dan kami merasa sangat siap untuk mengemban amanah itu.

Selanjutnya kami isi formulir & kelengkapannya dengan semangat juang bak para pahlawan. Untuk menghadapi tes pun, kami berusaha melakukan persiapan yang matang. Membeli dan meminjam buku-buku psikotes dan TPA.

Mandi di stasiun pun akhirnya kami jalani demi psikotest di KPDJP waktu itu. Ketika tes di Jakarta, melihat teman-teman sesama peserta tes, kami temukan wajah-wajah cerah menyongsong perubahan DJP. Ya, kami semua ingin menjadi pegawai yang baik, yang siap menjemput dan menyambut ajakan "yang berwenang memindahkan kami" ke kantor yang lebih baik sistemnya nanti tentunya.

Singkat cerita kami pun lulus ujian tertulis. Alhamdulillah. Kami sangat bersyukur, karena banyak dari teman-teman kami yang tidak lulus. Pun ketika kami lulus ujian wawancara yang sangat menegangkan, kembali rasa syukur kami lafadzkan dari lisan-lisan kami.


Hingga, tibalah saatnya diklat SAM harus kami jalani dengan semangat. Kami dipanggil ikut diklat SAM di hotel Santika, hotel yang megah (begitu teman kami menyebutnya, maklum sebagai “wong ndeso” baru kali ini kami “belajar” dan makan di hotel). Niat baik kami, dalam benak kami, tentu akan berbalas dengan sangat indah. Sungguh nasib memang tidak bisa dielak. Tetapi sebagai manusia biasa kami punya hati yang juga berharap. Hari-hari diklat kami lalui dengan penuh kebahagiaan karena mendapatkan banyak wawasan baru.

Ya, hingga kemudian datang hari itu, sehari menjelang diklat berakhir, ketika diklat belum selesai kami dikejutkan dengan pengumuman penempatan di kantor modern yang belum terbayangkan oleh kami sebelumnya. Beberapa dari kami ditempatkan di Jakarta, ada yang ke Sidoarjo, Medan dan bahkan hingga Makassar dan Balikpapan. Hari terakhir diklat kami sudah tidak bisa konsentrasi lagi. Hati ini bergetar, lisan seakan terkunci, kami bingung harus berkata apa.

Seorang teman kami menceritakan, ”Hari itu, jam 10 malam saya mendapat telpon dari Mas X kalau ada pengumuman penempatan AR. Saya sempat bertanya, ‘Mas ada isyu mutasi AR ya?’ Beliau menjawab, ‘bukan isyu lagi tapi sudah penempatan.’ Hati ini deg-degan juga mendengar hal itu, karena terus terang saya belum siap mental dan dana kalau harus mutasi jauh-jauh. Dan ternyata saya ‘terlempar’ ke Jakarta. Tapi, alhamdulillah saya masih penempatan di Jakarta. Kasihan juga teman-teman yang terlempar ke luar pulau.”

Sementara seorang teman yang lain bercerita ”Aku lihat mendung hitam menggelayut di wajah teman-temanku. Sampai rumah tak kuasa bibir ini untuk mengatakan kepada istri. Hanya air mata yang membuat istri bingung, ada apa gerangan? Antara sedih, kecewa, "harus" ikhlas menerima kenyataan, "harus" siap berkorban, dan entah perasaan apa lagi yang ada dalam dada ini.”

Teman satu lagi berkata ” Saya memang pernah penampatan jauh di Pontianak, tetapi untuk saat ini saya belum siap kalau harus jauh dari keluarga dan anak-anak yang masih kecil, serta orang tua yang sudah sering sakit-sakitan”

Kami semua memang masih terpana dengan penempatan tersebut. ”Sabar ya..” Beberapa SMS yang kami terima bernada demikian. Dan beberapa hari selanjutnya adalah hari-hari pengkondisian keluarga kami yaitu anak-anak dan istri. Di antara teman-teman kami ada yang baru merintis membuat rumah atau pun baru mulai mencicil rumah. Bahkan ada yang baru mendapat anugerah bayi kecil beberapa hari umurnya.

“Keluargaku belum siap menerima kenyataan ini. Kulihat wajah ketiga anakku yang masih kecil-kecil dan butuh perhatian penuh dari ayah dan ibunya. Ketika tidur tak bosan-bosannya kupandangi wajah mereka. Selama beberapa hari terakhir di kantor yang akan kami tinggalkan, kerja tidak konsentrasi, di rumah pun makan tidak enak, tidur pun tidak nyenyak.” Ah, begitulah teman kami yang lain menimpali.

”Aku juga tak tega melihat wajah istriku berlama-lama, membayangkan beban berat yang harus dia tanggung. Tiap pekan harus berdesak-desakan ria memesan tiket kereta api untuk perjalanan pulang pekan depannya. Apalagi istriku belum cukup mahir naik motor, harus kerja naik apa nanti. Mengasuh ketiga "malaikat kecil" ku sendirian, antar jemput sekolah, menemani belajar. Anak yang seharusnya sudah sekolah pun akhirnya harus ditunda dulu karena belum ada yang mengantar.” lanjutnya.

Begitulah kegundahan demi kegundahan menghiasi hari-hari kami waktu itu. Kadang terbesit pikiran nakal dalam benak kami, kenapa dulu kami harus ikut test modernisasi jika akhirnya harus begini. Aduhai, mungkin inilah ujian yang harus kami jalani. Bahkan saat itu, ada teman kami yang rumahnya yang dia tempati hendak digusur, sehingga mau tidak mau harus segera mencari kontrakan baru.

Apapun, Akhirnya kami tetap harus berangkat ke Jakarta juga. Episode berikutnya adalah perjuangan kami serombongan, untuk mengais asa modern di Jakarta. Tidak pernah terbayang dalam benak kami sebelumnya, stasiun-stasiun ini akan kami kunjungi setiap pekannya.

Kali pertama meninggalkan keluarga kami adalah momen yang begitu berat bagi kami. Kalau bukan karena semangat hendak melaksanakan tugas negara, mungkin kami memutuskan lebih baik tidak berangkat. Tapi kami terus mencoba memunculkan pikiran-pikiran positif kami, bahwa mimpi-mimpi yang kami pancangkan dulu mungkin memang sekaranglah saatnya harus kami buktikan.

Teman kami menggambarkan perpisahannya dengan keluarganya, ”Menjelang hari keberangkatanku ke Jakarta, aku dan istriku pergi ke dealer motor, membeli motor dengan cara kredit. Saat keluarga mengantar untuk melepas kepergian ke Jakarta, tak kuasa air mata ini menetes. Kulihat wajah istri dan anak-anak yang sembab. Linangan air mata keluar dari kedua pelupuk mata istriku, dan tentu saja mataku. ’Sayang, jaga anak kita baik-baik ya. Maafkan aku, nggak bisa banyak membantu lagi. Anak-anakku, kalian harus sholih ya, sayang sama ummi. harus bisa bantu ibu(ummi). Ayah harus pergi jauh. Maafkan ayah ya bila ada salah. Sayang maafkan aku ya.’"

Sore itu menjadi sore yang menyedihkan dalam hidup kami. Anak-anak kami mendekap kami dengan sangat erat, seolah kami akan berpisah dalam waktu yang lama. Mungkin karena selama ini kami bisa membersamai mereka dalam kesehariannya. Belajar, bermain.. tapi kini telah berakhir. Hanya sabtu minggu. Dua hari satu malam, kami bisa bersama mereka.

(bersambung)

Jumat, 29 Agustus 2008

Hai Nil, Mengalirlah!

dakwatuna.com - Mesir jatuh ke dalam pelukan Islam. Amru bin ‘Ash r.a. ditetapkan Khalifah Umar bin Khaththab sebagai Gubernur di sana. Suatu hari di hari pertama di bulan dalam sistem penanggalan masyarakat setempat, orang-orang datang menemui Amru bin ‘Ash.

Juru bicara mereka berkata, “Wahai Amirul mukminin, Sungai Nil di tempat kami punya kebiasaan tidak mau mengalirkan air kecuali permintaannya dipenuhi.”

“Apa permintaannya?” tanya Amru bin ‘Ash.

“Kalau sudah tanggal 11 bulan ini, kami biasa mencari seorang anak gadis. Setelah kami menjadikan kedua orang tuanya senang dan ridha, maka kami menyuruh gadis itu berdandan dan berhias seelok mungkin. Lalu kami melemparnya ke Sungai Nil sebagai tumbal,” papar mereka.

Amru bin ‘Ash memotong, “perbuatan itu dilarang oleh Islam dan Islam melenyapkan ajaran buruk sebelumnya.”

Karena tidak ada solusi, para penduduk Mesir yang menetap di sekitar Sungai Nil memutuskan untuk menetap sementara seperti biasa. Bila air Sungai Nil tidak mengalir, mereka berencana pindah ke wilayah lain.

Melihat keadaan itu, Amru bin ‘Ash berkirim surat kepada Khalifah Umar bin Khaththab di Madinah. Amru melaporkan peristiwa yang dihadapinya dan meminta nasihat kepada Umar apa yang mesti ia lakukan.

Umar membalas surat Amru. Dalam suratnya Umar menulis, “Tindakanmu benar. Islam memang menghapus kebiasaan buruk sebelumnya. Aku telah mengirim kertas khusus untuk engkau lempar ke Sungai Nil.”

Surat Umar sampai ke tangan Amru. Amru membaca isi surat khusus yang ditulis Umar untuk Sungai Nil. “Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin untuk Nil penduduk Mesir. Amma ba’du. Jika engkau mengalir karena kemauanmu, janganlah engkau mengalir. Tetapi bila engkau mengalir karena diperintah oleh Allah, maka aku meminta kepada Allah Yang Mahaesa lagi Maha Perkasa agar menjadikanmu mengalir.”

Kertas itu dilempar Amru bin ‘Ash ke Sungai Nil sehari sebelum hari raya Nasrani. Saat itu penduduk Mesir tengah bersiap-siap pindah ke negeri lain karena Sungai Nil yang menjadi sumber penghidupan mereka berhenti mengalirkan air.

Setelah surat Umar dilempar, keesokan harinya, di pagi hari di hari raya Nasrani, air Sungai Nil telah mengalir dengan ketinggian 7 meter lebih hanya dalam waktu semalam. Sejak itu adat buruk masyarakat Mesir melempar tumbal seorang gadis hidup-hidup ke tengah Sungai Nil berhenti.

Peristiwa ini tercatat dalam Tafsir Ibnu Katsir (3/480), Tafsir Al-Qurthubi (13/70-71), Tafsir Fakhrur Razi (21/74-75), Tarikh Al-Khulafa karya Asy-Syuyuti, Thabaqat Asy-Syafi’iyah Al-Kubra karya As-Subkiy, dan kitab-kitab masyhur lainnya.

Oleh: Mochamad Bugi