Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Agustus 2021

Kesempatan (mungkin) tidak berulang

Ketika engkau bersepeda, di depanmu ada seranting kayu kering yang terserak di tengah jalan. Apakah kakimu akan kau julurkan, menghalau ranting itu agar jauh ke pinggir jalan?

Ketika engkau berjalan atau berlari. Dan engkau jumpai sebongkah batu terkulai di hadapanmu. Akankah engkau bungkukkan badanmu untuk menyingkirkan batu itu?

Ketika engkau berbelanja di pasar. Dan kau temui seorang nenek tua yang duduk menanti pembeli untuk jualannya yang sangat sederhana, berhentikah engkau untuk membelinya?

Ketika engkau diberikan kesempatan berkunjung ke tanah haram. Akankah engkau maksimalkan waktumu untuk beribadah di baitullah, ataukah mencukupkan diri di hotel?

Sabtu, 07 Agustus 2021

Satu dari kami telah pergi

 "Mbak, kelingan ora dulu kita menggoreng jagung di dapur, sambil pakai payung?" Tanyaku kepadamu saat engkau di Bulan Mei lalu kami paksa pulang ke Klaten untuk dirawat. Pertanyaan itu untuk mengenang jaman 'heroik' dulu. "Hehe.. iyo, bener Ri." Engkau tertawa saat mengenang itu. 

Itu penggal kenangan peristiwa kami hampir empat puluhan tahun yang lalu. Saat itu hujan deras. Sebagai orang desa, yang kami punya jagung hasil petikan dari ladang, yang belum begitu kering. Kami goreng di dapur sambil memakai payung, karena genteng dapur kami banyak bocor di sana-sini.

Engkau kami paksa pulang ke Klaten, karena kami kawatir dengan kondisi psikis dan kesehatanmu. Di awal Februari sebelumnya, engkau ditinggalkan anak gadis pertama kesayanganmu. Aku pun tahu betul masa-masa perjuangan bagaimana engkau merawat dua anak pertamamu.

Kamis, 22 Juli 2021

Pelajaran tentang Komitmen

Suatu saat, kami mengadakan acara mabit di masjid sebuah gedung sekolah islam terpadu di daerah Kalibata. Selepas isya beliau baru sampai di tempat acara diadakan.
"Saya baru datang dari Semarang ini." Ucap beliau selepas mengucap salam. "Oh, ustadz langsung dari bandara ini tadi?" Tanya kami. "Iya, saya datang khusus untuk acara kita ini."
Benar, besoknya pagi-pagi selepas subuh beliau langsung pamit ke bandara lagi untuk kembali ke Semarang. Karena agenda dakwah beliau yang lain telah menanti di sana.

Rabu, 07 Juli 2021

Ini semua tentang Pilihan (3)

Pada akhirnya, pandemi kemudian menyebar ke penjuru dunia. Termasuk Indonesia. Semua proses telah aku lalui. Semua tahapan telah aku selesaikan. Para talent yang lulus periode ini akan ditermpatkan dalam rentang Juni 2020 hingga Mei 2021 nanti. Kalau pun aku misal termasuk dalam Talent Ready Now, harapanku adalah semoga penempatanku di akhir-akhir masa expired dari tahapan manajemen talenta tahun ini. Pandemi membuatku sedikit gigrik.

Dan benar. Bulan Mei berikutnya telah dirilis nama-nama yang lulus dalam proses ini. Ada namaku. Itu artinya sebentar lagi akan ada sebagian dari kami yang lulus ini, terangkat promosi di periode Mei-Juni tahun 2020 ini. Aku banyak berdoa, semoga aku tidak terangkut di periode awal ini, karena saat ini aku dalam tahapan menyelesaikan ujian tesisku. Untuk lolos dari uji plagiarisme sebelum proses ujian tesis tersebut, rupanya cukup menguras tenaga dan emosiku. Wewwww…

Ini semua tentang Pilihan (2)

Mendekati penghujung tahun 2018, persis sepulang aku dari melaksanakan ibadah haji, tahapan perdana dari manajemen talenta mulai diterapkan di instansiku. Unit eselon II di atasku memanggil nama-nama para calon talent yang sebelumnya telah disaring dengan kriteria khusus, untuk dikonfirmasi kesediaannya. Ada sekitar 13 pegawai yang namaku ada di sana. Di sisa cuti besar dalam rangka ibadah haji yang masih aku jalankan, aku dipanggil ke kantor.

“Bersedia tidak, Nama Njenengan dimasukkan sebagai salah satu talent yang siap untuk dipromosikan?” Pertanyaan tanpa basa-basi disampaikan Ibu Pejabat SDM kami waktu itu. Jika bersedia, kami harus menandatangani surat pernyataan bermeterai, yang isinya menyatakan bahwa kami akan taat dan patuh mengikuti tahapan-tahapan yang ada di sana. “Jika iya, bisa langsung tanda tangani surat pernyataan ini. Jika butuh waktu berpikir, kita tunggu sampai sore ini.”

Ini semua tentang Pilihan

Dalam rentang perjalanan hidup kita masing-masing, kita akan selalu dipertemukan dan dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Seringnya, pilihan itu harus dipilih dari dua hal yang terkadang, hampir sama-sama beratnya dari segi risiko, atau sama-sama baiknya dari segi manfaat. Sehingga agama ini mengajarkan agar kita bertanya kepada hati nurani terdalam kita, atau pada titik puncaknya kita diminta untuk istikharah meminta petunjuk kepada Dzat Yang Maha Pemberi Petunjuk.

Entah sudah berapa kali aku bertemu dengan pilihan-pilihan tesebut, yang pasti dalam perjalanan usiaku, salah satu pilihan terberat adalah ketika harus memilih antara karir atau keluarga. Ada beribu pertimbangan yang harus kupilih, sehingga pada akhirnya aku pun harus sampai di titik pencapaian seperti saat ini. Harus mengambil risiko untuk menjauh dari zona nyaman, demi sebuah nilai dan idealita, dan juga tuntutan untuk tetap bertahan atau menyerah.

Kamis, 29 Januari 2015

Bersyukur dengan Cara Sederhana

Dengan sebuah nampan kecil yang telah dilapis beberapa helai daun pisang, sebongkah nasi putih ditaruh di tengah-tengahnya. Di sekeliling nasi itu ditata sayur gudangan lengkap dengan bumbunya. Ada sedikit taburan kedelai yang telah digerus halus. Sebutir atau kadang dua butir telur rebus, diletakkan di salah satu sisinya. Irisan kecil tempe dan tahu yang telah digoreng kering serta sambal kentang menjadi pelengkap berikutnya.

Itu adalah nasi bancakan ala ibuku, seorang perempuan sederhana yang telah melahirkan, membesarkan dan juga mendidikku dengan cara-caranya yang sederhana. Di sore hari itu, Jumat Pahing, ibuku biasanya sudah memanggil teman-teman sebayaku. Kami duduk mengitari nampan tersebut. Ibuku dengan sigap membagi nasi dan gudangan itu ke pincukan-pincukan kecil. Butiran telur yang ada dibagi sejumlah kami yang datang.

Selasa, 27 Januari 2015

Kenangan akan seorang Sahabat sekaligus Guruku

Gtalk 07/04/10

16.12 Ragil Kuncoro: assalamu 'alaikum

16.13 saya: wa'alaikumussalam wrwb. Pripun pak, ada kabar baru? hehe..

16.21 Ragil Kuncoro: apa khabar. kangen sama antum. kangen sama romantisnya. kalau lihat antum pengin segera peluk istri. ha ha ha

Aku tidak ingat persis kapan mengenal beliau. Mungkin di kisaran tahun 2002. Aku pertama kali mengenalnya melalui forum diskusi di instansiku, dimana aku menjadi salah satu moderator di sana. Aku tahu beliau sangat senior di kalangan alumni perguruan tinggi kedinasanku. Meski kami belum pernah saling bertemu, aku sudah merasa amat dekat dengan beliau. Hingga pada suatu kesempatan beliau ke Jogja, beliau memintaku bertemu.

Aku ingat waktu itu, kira-kira tahun 2004, aku mengajak 3 atau 4 temanku untuk membersamai beliau, di RM Pring Sewu di Jalan Magelang. Rupanya beliau juga mengajak temannya, Dr. Catur Sugiyanto (kalo tidak salah nama), teman beliau waktu kuliah S2 di luar negeri dulu. Itu adalah saat aku pertama kali berjumpa dengan beliau, setelah sekian lama berinteraksi berbagai pengalaman di forum dunia maya. Kesan pertamaku, beliau pribadi yang sangat hangat.

Rabu, 21 Januari 2015

Kontemplasi Perjalanan

Sabtu dini hari, 16 Mei 2009, sesaat setelah lepas tengah malam.

Mungkin sekitar jam 2.00 an. Aku tidak tahu persis. Semua penumpang kereta ini dibuai lelap. Tiba-tiba, “Braaaak…..!” Terjadi goncangan hebat, suara besi beradu dengan besi berdecit hebat tanda telah dilakukan pengeremen secara keras dan mendadak. Menciptakan aroma hangus. Tiba-tiba sesaat kemudian udara di gerbong menjadi memutih, seolah asap yang pekat menutup pandanganku yang masih nanar karena mendadak tergagap dari lelapku.

Gelap. Yang ada dalam pikiran para penumpang termasuk aku adalah segera keluar dari gerbong kereta. Sesuatu telah terjadi. Dan bau gosong itu sangat mirip bau sesuatu yang terbakar. Dan sesuatu yang gelap pekat itu tentu asap. Maka kami berebut keluar. Saling mencoba untuk tetap tertib di tengah kepanikan itu. Kereta telah berhenti. Entah dimana, di luar pun tampak gelap. Dan kami harus meloncat cukup tajam ketika keluar dari gerbong kami.

Selasa, 20 Januari 2015

Cara Kembali yang Indah

“Pak, masa sih sarang P*S dipakai untuk acara P*B. Hebaaat sekaliii..” Sekilas aku perhatikan wajahnya di seberang sana tampak masgul. Ia mengirimkan sms saat rapat yang aku pimpin itu. “Tidak apa-apa, Pak. Sy ingin menunjukkan bahwa masjid ini terbuka untuk semua golongan.” Aku jawab sms nya, mencoba menenangkannya. Aku memang sedang merencanakan sebuah kegiatan yang sangat NU, pengajian akbar dengan mengundang seorang Habaib. Aku tantang anak-anak IKRAM, organisasi remaja masjid, untuk menghandle acara itu. Dan mereka sanggup.

Ia sosok yang sederhana. Aku panggil ia, Pak Moh. Rambutnya telah memutih. Di masa mudanya, ia dikenal akrab dengan dunia malam. Tapi yang aku tahu, ia insyaf di masa tuanya. Aku ingat ketika yayasan kami memutuskan mendirikan masjid, dan juga sekolah di dekat lingkungan tempat tinggal kami, ia mengajukan diri agar bisa membantu di sana. Maka kemudian ia menjadi muadzin sekaligus penjaga sekolah. Sampai kemudian periode ketiga ketakmiran aku pegang, ia tetap menjadi muadzin setia kami. Suaranya yang lantang dan merdu menggaung setiap waktu adzan berkumandang.

Senin, 12 Januari 2015

Lampu Hijau Kehidupan

Di perempatan Condongcatur dari jauh, dari jarak sekitar 300 meter, aku melihat lampu itu menyala hijau. Aku hafal jalan ini. Setiap hari aku melewatinya. Maka segera aku naikkan kecepatan kendaraanku. Aku yakin dengan kekuatan dan kecepatan lari motor ini. Aku yakin aku cukup waktu untuk sampai dan melewati lampu itu. Jalanan tidak cukup padat pagi ini. Beberapa pengendara lain telah aku dahului. Di bawah tiang lampu itu sekilas aku liat argo hitungan mundurnya. Di angka 1 menjelang nol. Dan aku berhasil melewatinya.

Aku suka menikmati setiap jenak perjalanan yang aku lakukan. Ada banyak pelajaran dan hikmah selalu aku temukan dalam rentang waktu ini. Ada pelajaran tentang kehati-hatian dan kecerobohan. Ada pelajaran tentang kesabaran dan ketergesaan. Dan pelajaran tentang kedisiplinan, keruwetan, toleransi, kebesaran hati, kearoganan, keegoisan pun lengkap tersaji di jalanan. Tadi aku mendapatkan satu pelajaran penting. Memaknai kesempatan.

Jumat, 14 Desember 2012

Tetaplah Bertahan Dalam Barisan


Saya ingin mencoba menelisik, kenapa kita ditarbiyah dengan cara dan materi yang sama, dalam rentang waktu yang misal sama juga, tapi bisa memunculkan cara pandang dan penyikapan yang cukup berbeda terhadap suatu masalah yang muncul dalam perjalanan dakwah ini. Ini analisis saya berdasar pengalaman dan pengamatan saya pribadi. Semoga bisa menambah cara pandang kita dalam menyikapi dinamika dakwah. Setidaknya ini akan selalu menjadi pengingat untuk diri saya sendiri.

Suatu saat di rentang tahun 2009-2010, halaqoh kami ada perdebatan cukup hangat antara satu a’dho dengan guru kami, Ust. Amir Faishol Fath. Masalah yang sama, terkait dengan ikhwah kita yang mendapat amanah di dewan maupun walikota. Saya dan beberapa teman lain waktu itu hanya sebatas sebagai pengamat dan mencoba untuk mengambil pelajaran dari diskusi hangat itu. Satu hal yang selalu beliau ulang-ulang waktu itu, “Akhi, hisab kita nanti adalah hisab pribadi. Tidak ada hisab atas nama partai atau golongan. Antum tidak perlu menghabiskan terlalu banyak energi antum untuk menyoroti ‘kelakuan’ atau gaya hidup ikhwah lain. Lakukan yang terbaik dan terbenar yang antum yakini untuk jama’ah ini, selesai.”

Kamis, 11 Agustus 2011

Dektektif Kesiangan

Dektektif Kesiangan

Senin pagi itu (25 Juli 2011) kereta api bisnis senja utama solo yang aku tumpangi sampai di Jatinegara relatif pagi, kira-kira pukul 04.30. Ke kost di wilayah pancoran, awalnya aku berencana naik taksi dengan kawan, tapi setelah menunggu cukup lama ternyata dia tidak segera nampak batang hidungnya, segera aku putuskan naik ojek. “Berapa Bang?” tanyaku. “Dua puluh lima.” Katanya. “Tidak dua puluh?” basa-basiku, karena aku sebenarnya paling malas dengan yang namanya tawar menawar. “Jauh bos..” jawabnya. Aku anggukkan saja kepalaku segera mendengar jawabannya itu.

Aku sengaja turun di depan komplek, tidak masuk ke dalam karena pemeriksaan oleh satpam jika suasana pagi-pagi begini sangat detil dan ribet. Sampai di depan rumah tampak suasana di dalam rumah masih gelap. Itu artinya 2 orang sahabatku, Mas Amin dan Mas Joko, yang tinggal bareng di rumah ini belum datang juga dari kampung. Maka setelah aku masuk ke rumah segera aku menuju ke lantai atas, tempat kamarku berada. Rumah ini ada 2 lantai, lantai bawah ada satu kamar utama dan lantai atas ada 4 kamar terdiri dari 3 kamar di ruang utama dan satu kamar di ruang samping. Tampak sekilas dari bawah pintu, salah satu kamar di lantai atas lampu dalam kondisi menyala.

Ketiga kamar diruang utama dalam kondisi tertutup. Memang sabtu-ahad kemaren waktu kami pulang, ada pengerjaan pembetulan beberapa saluran air yang bocor di lantai atas sehingga rembes dan merusak plafon lantai bawah. “Greeegh..!” Ooops.. kenapa jadi terkunci pintu kamarku? Aku coba kamar yang sebelahnya, juga terkunci. Kamar yang tampak menyala lampunya tadi, juga terkunci. Aku mencoba ketok dan ucapkan salam, tetap tak ada jawaban. Itu artinya sekali lagi, kedua temanku belum ada yang datang pagi ini. Wah.. bagaimana aku bisa mandi dan ganti baju pagi ini, padahal sepekan ini ada diklat?

Hmm.. aku mencoba berpikir dan mencari solusi pemecahannya. Sahabatku yang ikut tinggal di kamar lantai atas, Mas Joko, aku sendiri baru bertemu dengannya sekali. Belum begitu mengenal tabiatnya. Aku coba buka laci demi laci dan lemari di lantai atas, siapa tahu kunci ada disimpan di salah satu laci, hasilnya tetap nihil. Bergerak aku ke lantai bawah, kamar utama ternyata tidak terkunci. Begitu masuk beberapa laci aku buka, taraaa.... ! Kunci-kunci kamar atas tadi tetap menjadi misteri. Raib! Aku coba telepon Mas Joko tapi tidak pernah diangkat. Yang aku tahu, selepas sholat subuh di masjid, biasanya dia tepar lagi. O-o...

Berikutnya aku coba hubungi Mas Amin, rupanya ia masih perjalanan kereta dari Surabaya. Sampai rumah diperkirakan jam 9-an. Duh..! Pantang semangat, laci demi laci dan lemari di lantai bawah aku coba telusuri satu demi satu. Dan kunci-kunci itu tetap tidak mau menampakkan dirinya. Haduh.. akhirnya dengan setengah pasrah aku terduduk di sofa ruang tamu lantai bawah. Sebagai langkah antisipasi, aku hubungi teman satu bagian di kantor untuk meminjam baju setidaknya untuk hari ini. Sambil menyalakan televisi di depanku, aku mencoba merangkai memori dari jumat kemaren hingga pagi ini. Siapa tahu ada lompatan informasi baru yang membantuku.

Tiba-tiba pandanganku tertegun. Hai-hai... sepertinya aku merasa ada yang tidak biasa. Jam dinding yang aku letakkan di meja bawah televisi itu sepertinya dalam posisi yang tidak biasanya. Sedikit agak menggantung, dan terkesan seperti disengaja. Ini petunjuk bagiku. Petunjuk pertamaku. Maka aku segera bergerak menggeser jam tadi dan... “Triiinggg” satu buah anak kunci terjatuh di hadapanku. Alhamdulillah, satu rahasia sudah aku pecahkan. Maka aku kemudian teringat dengan petunjuk berikutnya yang justru aku dapati di awal tadi, lampu kamar yang menyala. Petunjuk keduaku. Bergegas aku ke lantai atas menuju kamar tadi.

“Ctrekk...!” Persis seperti yang kuduga. Kunci ini memang untuk pintu kamar yang lampunya sengaja dinyalakan tadi. Rahasia kedua sudah aku ungkap. Sekarang tinggal masalah dimana kunci kedua pintu kamar yang lain disimpan di kamar ini. Aku coba identifikasi kamar ini, pasti ada sesuatu yang tidak biasa. Yup, di atas meja kamar ini, ada satu buah popmie yang seharusnya tidak ada di situ pekan kemaren. Cara menaruhnya pun tidak biasa. Ini dia petunjuk ketigaku. Maka begitu aku dekati, di bawah popmie itulah aku dapati 2 anak kunci yang sedari tadi pagi aku cari. Ugghh... lega sudah perasaanku pagi ini, bisa masuk kamar dan tidak perlu meminjam baju untuk hari ini.

Aku hanya terpikir, ini pasti pekerjaan Mas Joko karena yang terakhir keluar dari rumah ini adalah dia. Tapi kenapa harus main petak umpet begini menyimpannya. Ah.. sudahlah, yang penting aku bisa memecahkan permainannya. Dan lebih penting lagi, aku bisa segera mandi dan berangkat ke kantor secepatnya. Pelajaran yang aku dapat pagi ini, biasakan mengamati dan merekam benda-benda di sekitar tempat dan rumah tinggal kita. Suatu saat itu akan berguna. Perpindahan, perubahan, pergeseran posisi, itu mengabarkan kepada kita bahwa seseorang atau sesuatu telah merubahnya. Bisa jadi kebetulan. Bisa jadi disengaja karena ada sesuatu yang ingin disampaikan melalui perubahan itu.



Finished @lantai 19. 11/8/2011. 15.16
Lagi pengin nulis yang ringan-ringan saja...

Kamis, 12 Maret 2009

Perjalanan Tengah Malam !

Kemaren sore tiba-tiba hatiku suntuk. Tiket untuk kepulangan ke Jogja pekan ini belum beres. Sahabat yang aku titipi untuk membelikan tiket memberikan informasi bahwa tiket telah habis. Bayangan buruk di kereta kemudian berputar di kepalaku. Beli tiket tanpa tempat duduk! Duh, benar-benar terbayang jelas deh seperti apa nanti di kereta jika memang itu terjadi. Bahkan tiket balik ke Jakartanya kembali pun aku belum pegang.

Di kamar kost, aku coba meredakan perasaan itu dengan membaca beberapa lembar Al Qur’an sambil menunggu waktu Sholat Maghrib. Alhamdulillah, selepas adzan berkumandang dan aku mengambil air wudhu, agak lega terasa di dada. Tapi entah, tiap teringat kembali akan tiket itu, hatiku kembali suntuk.

Malam itu ada agenda kajian di rumah seorang sahabat di Jalan Kalibata Utara II, daerah sekitar toko Gema Insani Press. Sengaja aku tidak membawa kendaraan. Selain tidak nyaman memakai kendaraan dinas untuk kepentingan bukan kedinasan dan tidak ingin merepotkan teman dengan meminta tolong untuk menjemput ke kost, juga aku sedang ingin naik bis dan merasakan berjalan kaki ke rumah sahabat tadi.

Jika dengan berkendaraan terasa begitu dekat, kini aku baru tahu bahwa ternyata cukup jauh juga jarak rumah sahabat saya dengan jalan raya. 15 menit lbh berjalan kaki. Cukup capek juga. Tapi terus terang aku puas, cukup menghibur juga ternyata perjalanan malam itu. Acara selesai kurang lebih pukul 00.30. Sejatinya sahabatku telah menawarkan untuk menginap saja, ada kamar kosong jika aku ingin menempatinya. Tapi akhirnya aku putuskan tetap pulang saja, dengan menumpang kendaraan salah seorang teman yang rumahnya satu arah dengan kostku.

Pintu gerbang kostku ditutup jam 23.00. Sesampai di ujung gang ke arah kosku sekitar pukul 01.00, teman saya tadi bertanya : Benar, saya tinggal ini? Saya jawab : Yup. ditinggal aja akh. Kemudian dia melanjutkan perjalanan pulangnya.

Sesampai di depan pintu gerbang kost, kemudian saya menekan tombol bel tamu. Tidak bunyi. Dua kali, tiga kali... tetap tidak bunyi. Hatiku mulai tidak enak. Untuk membangunkan teman sesama kost di dalam sana, aku tidak membawa nomor hp mereka karena tertinggal di Jogja pekan kemaren. Duh.
Berkali-kali aku mencoba mengulang menekan bel tapi tetap tidak bunyi. Hendak berteriak memanggil bapak penjaga kost atau memukul-mukul pintu, takut membuat kegaduhan.

Aku mulai bingung, hendak kembali ke rumah sahabat saya, harus 2x naik kendaraan umum dan berjalan kaki 15 menitan. Malam-malam begini? Mau menghubungi istri agar memanggilkan teman satu kost di dalam sana, mana ada wartel yang buka jam 01.00 lebih begini? Akhirnya aku memutuskan mencoba mencari masjid terdekat. Ya, aku akan tidur di masjid saja.

Masjid pertama yang aku datangi di komplek perdatam, Masjid An Nur namanya, ternyata terkunci rapat. Posisinya dekat jalan raya. Bahkan pintu ke arah teras pun terkunci rapat. Melompatinya jelas bukan tindakan yang aman, mengingat di sekitar masjid masih ada beberapa orang aku lihat berjaga-jaga. Bisa dikira maling aku nanti.

Akhirnya aku berjalan lagi. Aku putuskan untuk mencoba peruntungan ke masjid di belakang kostku. Dengan menyusuri gang-gang kecil, sampailah aku di masjid tersebut. Ah... Hatiku kembali kecut, bahkan untuk sekedar masuk ke terasnya pun kali ini lebih tidak bisa, pintu terkunci rapat. Pagat juga tinggi. Apalagi hendak ke ruang utama. Waktu sudah menujukkan sekitar pukul 01.30an.

Sambil terus berjalan, akhirnya aku putuskan untuk kembali ke kost lagi. Jika terpaksa tetap tidak bisa berbunyi belnya, rencana aku hendak mengetuk pintu warteg langganan di sebelah kost ku. Kenapa baru terpikir sekarang, gumamku. Ah, sudahlah. Sampailah aku di depan gerbang kost. Sejenak menghela nafas, dengan kepasrahan yagn mendalam dan mengucap bismillah, aku kembali menekan bel.

Tuinggg… tinggggg… tungggg… tinggggg… tunggggg….! Hai, bunyi!

Tak henti-henti aku mengucapkan tahmid dalam hati. Sambil menunggu bapak penjaga kost membukakan pintu gerbang, aku amati bel tersebut. Oh, rupanya bel tersebut telah diisolasi sana-sini, sehingga ada kemungkinan waktu aku tekan-tekan tadi dalam kondisi tidak nyambung sehingga tidak berbunyi.

Akhirnya drama malam itu berakhir juga. Aku mencoba mengambil banyak pelajaran dari sepotong episode hidupku kali ini. Setidaknya aku mencoba untuk terus berintrospeksi bahwa barangkali banyak kesalahan yang telah aku lakukan pada hari itu. Dan aku yakin, Allah lah yang menegur dan mengajariku dengan perjalanan malam itu. Agar aku selalu bisa bersabar atas segala sesuatu yang menimpa perjalanan hidupku.

Semoga Allah senantiasa mengarunaiku dengan kesabaran, sehingga bisa mengambil ibroh dari setiap kepingan puzle kehidupanku.

Menara Jamsostek, 14: 40 12/03/2009



* Hari berikutnya cerita dan sedikit masalahku ini aku share dengan sahabat-sahabat baikku. Alhamdulillah, Allah kemudian berikan kemudahan sehingga aku akhirnya bisa mendapatkan tiket untuk kepulangan hari Jumat besok.

Kamis, 12 Februari 2009

Selalu Mencoba Meringankan Selagi Kita Bisa

Ahad sore kemaren (8/2/2009) menjadi petang yang melelahkan bagi saya. Seakan saya berharap agar waktu berhenti sesaat saja. Karena selain saya harus berburu dengan waktu untuk mengejar kegiatan rutin tiap ahad sore yang telah menjadi ritual selama hampir 2 tahun ini, ada satu fragmen kejadian lagi yang membuat saya nervous bukan kepalang.

Waktu itu jam telah menunjukkan pukul 17.00, kurang lebih. Saya segera mandi. Dalam skedul di benak saya, setelah itu saya harus mempersiapkan tas dan segala sesuatu yang akan saya bawa ke Jakarta. Kemudian setelah menunaikan Sholat Maghrib, segera bersiap menunggu jemputan seorang kawan (sekaligus tetangga baik saya) untuk berangkat ke Stasiun Tugu. Tentu setelah sebelumnya berpamitan dengan anak-anak tersayang, dan juga wanita cantik yang paling saya cintai sedunia : istri saya. Cie cie ...!

Belum juga selesai saya mandi, istri saya mendadak mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi, ”Mas, cepetan. Ada yang minta tolong diantar ke rumah sakit. Si Yuli itu lho, mas”

Buru-buru saya selesaikan mandi saya. Dari ruang tamu yang terbuka, terlihat tetangga saya (Mas Joko) telah menunggu di depan jalan. Oh iya, yang sakit ini adalah keponakannya. Tanpa berpikir waktu dan lain-lain, segera saya mengambil kunci kontak dan menyalakan kendaraan di garasi. ”Handphone dan dompet sudah dibawa?” teriak istri saya. ”Sip!” jawab saya singkat.

Sesampai di rumahnya, segera saya menuju ke ruangan (yang dijadikan kamar tidur) tempat anak yang sakit tadi. Di sana rupanya sudah ada Mas Erwin (tetangga terdekat Mas Joko). Awalnya berdua mereka mencoba memapah anak yang sakit tadi menuju kendaraan. Tapi demi melihat sang anak yang mengeluh lemas dan memang saya lihat mukanya yang pucat, maka saya setengah berteriak, ”Sudah mas, kita angkat aja. Kasihan dia lemah sekali.” akhirnya, bertiga kami bopong anak yang tahun ini akan lulus SMK tersebut.

”Ke Puskesma saja mas.” kata Mas Joko. What? Kondisi anak selemah ini dan suhu badannya yang begitu tinggi mau dibawa ke puskesmas? ”Waduh, bagaimana kalau langsung ke rumah sakit saja ya? Biar segera dapat penanganan.” kata saya.

Dari arah depan saya, ibu anak tadi tergopoh-gopoh datang setelah dijemput adik iparnya. Tampak kepanikan di wajahnya. Setelah berdiskusi sebentar, akhirnya kami putuskan untuk langsung membawanya ke RSUD terdekat. Setengah ngebut saya pacu kendaraan saya. Saya tak sempat lagi memikirkan keberangkatan saya ke Jakarta nanti. Yang ada dalam pikiran saya bagaimana anak tadi segera sampai di RS dan mendapatkan penanganan di sana.

Di RS kami langsung menuju ke Instalasi Rawar Darurat (IRD). Sementara sang ibu mengurus administrasi, saya menemani anak tadi ke ruang periksa di IRD. Perawat di sana cukup sigap menurut saya. Setelah ditanya-tanya mengenai riwayat sakitnya, ia mengukur suhu dan tekanan darah anak tadi. Tak lupa kemudian diambilnya sampel darahnya untuk diperiksa di laboratorium. Beberapa saat kemudian kami diminta menunggu hasil lab untuk mendengarkan diagnosa dokter dan memutuskan apakah anak tadi harus opname atau cukup rawat jalan.

Dari pembicaraan-pembicaraan tadi, dugaan kami semua adalah bahwa anak tadi mungkin sakit thypus. Setidaknya gejala thypus. Tidak ada pikiran bahwa ia akan terkena penyakit selain itu. Sama sekali tak terbayang.

Saya tiba-tiba ingat agenda rutin saya. Ya, jam 18.15 tiap ahad petang biasanya saya telah berangkat dari rumah menuju ke stasiun. Saat itu telah pukul 17.45. Saya mengirim sms ke istri saya akan kemungkinan mundurnya keberangkatan saya. Karena masih harus menunggu diagnosa dan keputusan dari dokter nanti.

”Saya dengar bapak mau tindakan? Kalau memang iya, tidak apa kami ditinggal saja. Nanti biar dijemput saudara yang lain.” kata ibu anak tadi saat dia diberitahu Mas Joko bahwa saya petang itu semestinya harus segera bertolak ke Jakarta.

”Oh, tidak apa-apa bu. Biar saya tunggu saja kepastiannya dulu. Paling sebentar lagi kok hasil lab nya kita dapatkan.” kata saya kepada ibu tadi.

Waktu terus berjalan. Hingga adzan maghrib terdengar berkumandang. Saya sebetulnya resah. Tapi dalam hati saya sudah bertekad, jika memang saya harus terlambat tidak terkejar jadwal kereta yang telah saya beli, saya akan naik kereta yang berikutnya atau berangkat esok paginya. Itu pilihan terburuknya.

Pukul 18.15. Istri saya menelepon. ”Gimana mas? Ada dimana sekarang? Nanti kereta jam berapa?” Duh. Bukankah tadi sudah saya sms masalah ini. Saya jelaskan jika saat ini masih menunggu hasil test lab. Dan tiket kereta yang saya beli adalah keberangkatan jam 19.00. Kami terus berdiskusi bagaimana cara saya bisa berangkat ke stasiun sementara yang di rumah sakit tetap terhandle.

Akhirnya sahabat yang biasa mengantar saya ke stasiun, Mas Samidi, menelepon saya. ”Pak, dimana sekarang? Gimana kalo bapak saya jemput saja sekarang terus langsung saya antar ke stasiun. Tas bapak saya bawakan sekarang sekalian, yang mau dibawa apa saja? Terus nanti biar kendaraan diambilkan Pak Sambas. Nanti saya antar dia ke rumah sakitnya untuk ambil kendaraan.” Yup. Akhirnya saya setujui skenario ini. Saya hanya minta agar membawakan tas saya yang ada di rumah.

Bersamaan dengan itu hasil test telah datang. ”Wah, demam berdarah ini. Lihat saja trombositnya Cuma 81. Harus opname ya.” kata dokter.

”Memang normalnya berapa dok, trombosit itu?” tanya saya.

”Ini, minimal 140.” jawabnya sambil menunjukkan range kadar normal trombosit pada orang yang sehat. Akhirnya kami sepakat dengan saran dokter tersebut. Anak tersebut harus diopname.

Pukul 18.35. Mas Samidi sudah sampai di depan RS. “Pak. Saya di depan gerbang RS.” Katanya di telepon. Setelah saya berpamitan dengan ibu anak tadi dan Mas Joko, dan sekaligus menitipkan kunci kendaraan saya kepada Mas Erwin, saya bergegas berangkat ke stasiun diantar Mas Samidi. “Santai aja mas, tidak usah ngebut. Jika tidak terkejar, nanti saya naik kereta yang berikutnya saja.” pesan saya kepadanya.

Saya kemudian mengirimkan sms kepada teman-teman rombongan saya, jika sampai jam keberangkatan kereta saya belum sampai stasiun maka saya tidak usah dihiraukan saja. Saya katakan saya masih jauh di Jalan Magelang. “Yo dicoba dulu dong.” Begitu jawab salah seorang sahabat saya. Dalam hati saya berdoa jika ini memang kebaikan, saya memohon kepada Allah agar masih bisa sampai tepat waktu di stasiun. Jika pun harus terlambat, saya akan sudah bersiap.

Kami terus melaju di jalanan menuju stasiun tugu. Sahabat saya sempat sms, “Sampai Lempuyangan.” Saya mencoba terus menenangkan hati dan pikiran. Sampai di depan stasiun sayup terdengar pengumunan. Saya tidak yakin apakah itu pengumuman kedatangan kereta ataukah keberangkatan kereta yang akan saya naiki malam ini.

Begitu memasuki halaman stasiun, saya perhatikan belum ada kereta. Dan makin jelas bahwa pengumuman tadi adalah pemberitahuan kedatangan kereta yang saya kejar waktunya ini. ”Alhamdulillah mas, kereta baru akan datang. Tidak terlambat kita.” pekik saya kepada Mas Samidi sembari menyalaminya dan mengucapkan terima kasih. ”Iya pak, sama-sama” jawabnya sambil melepas jaketnya untuk saya pinjam. Ya, istri saya lupa membawakan jaket untuk perjalanan saya malam ini.

Segera saya menemui sahabat-sahabat saya. Beberapa detik kemudian kereta memasuki stasiun tugu. Di dalam kereta setelah saling bersalaman dengan para laskar senja, sebutan rombongan kami, kami kemudian berbagi cerita.

Alhamdulillah. Saya tak henti-hentinya bersyukur atas kehebohan sore hingga malam hari ini. Sejenak ketika kereta mulai bergerak, tiba-tiba istri saya telepon. ”Ini Ghifar mau telepon bi, katanya tadi kok belum salaman dengan adek Ghifar, abi kok sudah berangkat ke Jakarta.” begitu istri saya mengawali pembicaraan sebelum handphone beralih ke anak bungsu saya itu.

Begitulah episode ahad sore yang bermakna tersebut. Saya mendapatkan pelajaran tentang makna berbagi dan saling meringankan. Pun tentang makna kepasrahan yang mendalam ketika kita dalam kondisi yang begitu sempit. Dan satu keyakinan saya yang makin mantap dalam hati saya, bahwa dengan terus mencoba memberi dan meringankan orang lain, sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan kita. Yakin bahwa pertolongan Allah itu amat dekat sekali. InsyaAllah.

Menara Jamsostek, Rabu 11/02/2009.

Senin, 02 Februari 2009

Mudah Marah, Memangnya Enak ?

Pertengahan bulan ini, istri saya mendapatkan tugas dari kantornya untuk mengikuti pendidikan dan latihan audit investigasi selama tiga minggu. Lokasi diklat kebetulan dekat dengan kantor saya, daerah seputar perempatan kuningan, tepatnya di gedung diklat bulog. Seperti biasa, bapak mertua saya akhirnya yang menemani anak-anak di Jogja, bersama dengan adik dan seorang khadimat saya.

Pada minggu pertama diklat, akhir pekan saya berdua istri pulang ke Jogja. Ada tanggal merah di hari senin. Sebetulnya untuk urusan pertiketan, saya biasa mempersiapkannya (baca : memesannya) sebulan atau beberapa minggu sebelumnya, apalagi ada tanggal merah di hari seninnya. Alamat kereta akan ramai! Sehingga untuk tanggal itu pun sejatinya saya sudah pegang tiket jauh-jauh hari sebelum ada agenda istri diklat di Jakarta. Tiket dua tempat duduk bersama sahabat saya.

Alhasil, saya harus mengusahakan lagi tiket satu tempat duduk lagi, untuk istri saya. Lewat pemesanan melalui call center saya dapatkan informasi bahwa tiket pada hari pemberangkatan tersebut telah habis. Kawan, berdasarkan pengalaman dan hampir-hampir ini sudah menjadi sebuah rahasia umum, di tangan ‘agen gelap’ tiket yang beroperasi di sekitar stasiun, kamu masih bisa mendapatkan tiket yang katanya ‘telah habis dipesan’ tersebut.

Saya sebenarnya sangat menghindari usaha ini. Jika saya melakukannya, berarti saya mendukung dan menumbuhsuburkan praktek-praktek yang tidak sehat ini. Percaloan. Akan tetapi, ada hal lain yang juga harus saya pastikan bahwa istri saya harus juga mendapatkan tiket. Akhirnya saya menyerah. Ini adalah kali kedua saya harus ‘meminta bantuan’ pada para agen gelap ini.

Singkat cerita, saya akhirnya mendapatkan satu tiket untuk satu tempat duduk dari seorang agen. Tentu saja dengan harga yang melambung. Jika harga resmi yang tertera di tiket adalah 350 ribu, maka dari tangannya saya harus merogoh uang lebih dari 400 ribu. Pengin marah? Pasti. Tapi saya hanya bisa mengutuk dalam hati saya.

Ketika hari pemberangkatan, saya dapati tempat duduk yang saya tempati ternyata pengatur sandaran kursinya sudah tidak berfungsi dengan baik (kawan, baca saja : rusak). Bahkan tombol pengaturnya sudah jebol. Alhasil sandaran tempat duduk tidak bisa diatur dengan sempurna. Padahal saya sudah (rela) bayar mahal bukan? Ah, sudahlah. Saya berusaha merasa nyaman saja. Saya lanjutkan ceritanya ya, masih panjang kok.

Awalnya kereta berangkat tepat waktu dari stasiun gambir, pukul 20.00. Satu hal yang menggembirakan tentunya. Tapi kira-kira baru sekitar daerah cikampek atau lewat sedikit, tiba-tiba kereta berhenti. Cukup lama. Saya sudah berpikir, pasti ada masalah. Ternyata dugaan saya benar, lokomotif mengalami kerusakan. Bukan kali ini saja saya mendapati pengumuman seperti ini, mengingat hampir tiap pekan selama 2 tahun ini saya berkereta Jakarta-Jogja pulang pergi. Lagi-lagi mau marah? Saya hanya bisa menghela nafas sambil mencoba mengeluarkan senyum.

Setibanya di Jogja saya dan istri mempunyai kesibukan sendiri-sendiri. Istri ada kajian, mengisi kajian, syura jama’i di darush-shalihat dan juga spreading. Saya sendiri antar jemput anak kami yang pertama, mencukur rambut, kerja bakti membersihkan masjid, dan selebihnya di rumah menemani anak-anak. Baru ahad siang kami bisa mengadakan acara bersama, family gathering dengan beberapa keluarga teman kantor istri di jambon resto, sebuah rumah makan sederhana yang jaraknya kurang lebih 3 km dari rumah kami. Akhir pekan yang menyenangkan sekaligus melelahkan.

Ahad malamnya kembali kami harus ke Jakarta. Dari sore cuaca terus-terusan hujan, kami akhirnya meminta bantuan seorang teman sekaligus tetangga kami untuk mengantar ke stasiun. Anak-anak semua ikut mengantar. Juga bapak (mertua) saya. Sampai stasiun ternyata kereta telah tersedia di jalur selatan stasiun tugu. Saya dan istripun setelah sempat membeli sebungkus nasi, bergegas masuk ke gerbong dan mencari tempat duduk kami. Tepat pukul 20.00 kereta berangkat dari stasiun tugu.

Biasanya, kereta yang saya tumpangi ini sampai di Stasiun Jatinegara sebelum pukul 05.00 pagi. Bahkan jam kedatangan yang tertera di tiket adalah pukul 04.16, itu pun sudah sampai stasiun gambir. Berarti tiba di stasiun jatinegara mestinya di kisaran pukul 04-an. Tapi pagi itu kereta baru masuk stasiun jatinegara pukul 05.45, hari sudah terang. Mau marah? Entahlah, tidak ada yang harus disalahkan. Di luar, guyuran hujan masih menyisakan gerimis.

Bergegas kami mencari taksi, ternyata sudah jarang. Pasti penumpang tiga kereta di depan saya yang menghabiskan, begitu pikir saya. Ya, sesuai jadwal, di depan kereta yang saya tumpangi, secara berurutan senja jogja – senja solo – argo lawu, telah lebih dulu tiba di stasiun ini. Dalam benak saya saat itu, yang terpikir adalah bahwa saya harus segera sampai kost, kemudian mandi dan selanjutnya berangkat ke kantor. Jangan sampai kami terjebak kemacetan lalu lintas. Benar-benar pagi yang crowded. Fyuuuh…

Akhirnya ada sebuah taksi yang kosong. Saya dan istri bergegas naik. Saya berikan kepada sopir uang untuk parkir (baca : punguntan liar) yang dilakukan oleh ‘penguasa’ di stasiun jatinegara. Ternyata sopir taksi tidak mau memakai argo. Sambil berjalan saya bernegosiasi tarif. Sempat terkaget ketika sopir taksi mengatakan tarif yang diminta, tiba-tiba kemarahan saya tersentak. Saya katakan tarif yang biasa saya dapat di tiap pekannya kepadanya, bahkan saya kemudian sempat berteriak agar menurunkan kami saja jika dia tidak sepakat.

Sempat ragu sejenak, akhirnya sopir taksi mengalah. Saya baru menyadari beberapa saat kemudian bahwa tarif yang saya ajukan itu adalah sebenarnya tarif berdasar argo (plus pungutan liar tadi). Biasanya jika bertiga dengan teman-teman saya satu kost, kami akan langsung sepakat dengan tarif yang kedua yang diajukan oleh sopir taksi tadi.

Istri saya cemberut luar biasa. Di sisi lain tidak enak dengan sopir taksi tadi. Di sisi lain (mungkin) shock dengan sikap saya barusan. Hehehehe… saya sendiri tak habis merenung, kenapa tiba-tiba saya bisa sekonyol itu? Kenapa tiba-tiba akumulasi kemarahan itu seakan mendapatkan pintu keluarnya. Ah, sebenarnya saya ingin minta maaf kepada sopir taksi tadi, tapi pagi itu sulit sekali terucap.

Satu hal yang kemudian bisa saya lakukan, meski sopir tadi akhirnya sepakat dengan tarif yang saya minta, saya membayarnya dengan tarif yang ia tawarkan. Sambil tak lupa saya ucapkan terima kasih dengan suara selembut mungkin. Benar-benar pagi yang melelahkan.

Kawan, sungguh, saya merasakan bahwa kemarahan (yang tidak pada tempatnya) itu akan membuat suasana tidak nyaman. Tidak saja bagi diri orang lain, tapi bahkan bagi diri yang sedang meluapkan amarahnya itu sendiri. Dengan kamu marah apakah kemudian akan terasa lega hatimu? Sejenak mungkin iya. Tapi setelah itu, yakinlah pasti akan muncul penyesalan yang begitu menyesakkan dadamu.

Terkadang kita memang terlalu murah untuk mengobral amarah. Ya, terlalu murah. Hal-hal kecil dan sepele sering membangkitkan amarah kita. Terkadang atas nama ego. Di kali lain atas nama pembenaran sikap-sikap kita. Entah itu kemarahan kepada pasangan kita, kepada anak-anak kita, kepada saudara atau bahkan kepada orang tua kita.

Orang yang murah untuk marah, dia akan kesulitan untuk bisa ramah. Kemarahan dan keramahan memang sesuatu yang bertolak belakang. Pernahkah kamu melihat orang yang marah bisa bersikap ramah? Tentu tidak. Oleh karena itu, inilah yang menunjukkan betapa mahal nilai sebuah kesabaran.

Bahkan Allah menyuruh kita untuk bersabar, sekaligus meneguhkan kesabaran itu, “Ya ayyuhalladzina aamanu ishbiru washabiru warabithu wattaqullaha la’alakum tuflikhun. Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan kuatkan kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah maka kalian akan beruntung. Begitu kata Allah.

Dan ingatlah pula bahwa kesabaran itu akan membimbing kita kepada pertolongan. Dalam firman Allah yang lain Allah telah memaklumatkan : “Wasta’inu bish-shabri wash-sholat.” Dan mohon pertolonganlah dengan cara sabar dan sholat. Dengan kata lain, orang yang sabar – orang yang tidak murah untuk marah – maka ia akan dekat dengan pertolongan-pertolongan.

Pun, salah satu kriteria hamba yang akan diberikan imbalan ampunan dan surga adalah : “wal kadzimiinal ghaidza wal ‘aafiina ‘aninnas” yaitu bagi hambanya yang bisa menahan amarahnya dan senantiasa memaafkan manusia (QS Ali Imran : 133-136). Kawan, semoga Allah mengaruniakan kesabaran kepada kita semua, sehingga kita tidak diperbudak oleh kemarahan-kemarahan kita yang tidak pada tempatnya.

Allahu a’lam bish-shawab.

Pancoran, 31/01/2009

Selasa, 13 Januari 2009

Pena hidup yang terus mengalir

Sebuah jejak awal...

Terlahir menjadi anak keempat setelah ketiga kakak sebelumnya perempuan semua, menjadikan aku anak kesayangan orang tua dan kakak-kakakku. Setidaknya itu yang aku rasakan. Sewaktu masa kecilku, orang tua termasuk kalangan berada. Pedagang pertama yang ada di desa kami, toko kami lumayan besar. Di tambah darah yang mengalir melalui mbah buyut kami yang seorang demang, sebutan jabatan masa lalu, membuat keberadaan keluarga kami cukup dihormati.

Masa kecilku, aku biasa menghabiskan kue bolu yang besarnya selingkar kepala orang dewasa. Sendirian saja. Begitu cerita orang tuaku. Tapi boleh dibilang orang tuaku over protektif sehingga pergaulan masa kecilku tidaklah luas. Hanya ada 2 teman yang aku ingat. Keduanya tetangga kiri dan kananku, selebihnya aku tidak kenal.

Hingga akhirnya orang tuaku ditipu oleh kerabat dekat. Kejadian ini terjadi di awal tahun 1980an. Saat itu aku telah mempunyai adik berumur 2 tahunan. Motor Yamaha L2 Super yang baru kami beli beberapa bulan, tiba-tiba dijual oleh pak likku. Angsuran bank yang dititipkan ke kerabat jauh yang menjadi pegawai di bank tersebut, tak pernah sampai sehingga tiba-tiba orang tua mendapat tagihan yang luar biasa besar. Akhirnya toko kami bangkrut untuk menutup hutang-hutang.

Sejak itu orang tuaku menekuni ladang warisan dari kakekku. Menjadi petani tulen, tak lagi mempunyai modal untuk menjadi pedagang. Hingga kemudian lahir adikku yang kedua. Saat itu kakak pertamaku sudah duduk di bangku SMA, kakak kedua SMP, kakak ketiga dan aku masih duduk di SD. Jarak sekolah antar kami masing-masing 2 atau 3 kelas. Kedua adikku yang masih kecil, belum sekolah

Kehidupan saat itu mulai terasa berat bagi orang tua. Mengandalkan dari pertanian yang panen setahun 2 atau 3 kali, jelas tidak bisa menutup biaya sekolah kami. Apalagi beberapa tahun berikutnya kakak pertamaku mulai kuliah, praktis biaya yang keluar untuk sekolah makin besar. Orang tuaku bersikeras kami semua harus sekolah, agar tidak bodoh dan mudah tertipu seperti mereka. Akhirnya ayahku memulai profesi baru, merantau berjualan es. Aku ingat, perantauan beliau pertama adalah kota Jogja, kota yang sekarang menjadi tempat tinggalku.

Biaya hampir semua tersedot ke kakak kami yang pertama yang sedang kuliah sehingga kami yang duduk di bangku sekolah bawahnya hampir selalu nunggak SPP. Ayah makin jarang pulang, untuk memenuhi kebutuhan kami. Kadang 2 bulan penuh sama sekali tidak pulang. Ketika kakak pertama kami kuliah di tahun ketiga, kakak kedua dan ketiga aku duduk di bangku SMA, aku di bangku SMP dan kedua adikku di bangku SD. Tahun-tahun ini luar biasa berat bagi kami. Enam anak sekolah semua. Ayah aku akhirnya merantau ke Kudus, untuk mencari penghasilan yang lebih baik, Tetap berjualan es. Ibu dibantu kami anak-anaknya, mengurus ladang yang di sela-sela sekolah kami.

Track record sebagai penunggak spp...

Selama 3 tahun di SMP, tanggal 10 tiap bulannya hampir selalu aku menjadi langganan untuk menghadap bendahara sekolah, setelah sebelumnya dalam upacara bendera atau senam pagi daftar nama-nama murid penunggak spp (yang besarnya Rp. 6.000) diumumkan melalui pengeras suara, termasuk aku. Dan aku selalu telah siap dengan sebuah surat tulisanku sendiri dengan tanda tangan orang tua yang aku palsukan, menyatakan kesanggupan untuk membayar spp dalam waktu tertentu. Kami membayar spp biasanya menunggu ayah pulang, atau kiriman dari beliau jika beliau tidak pulang bulan tersebut. Alhamdulillah setidaknya ini bisa menetralisir record buruk aku sebagai langganan penunggak spp.

Kakak kedua selepas SMA memilih tidak melanjutkan kuliah, kemudian mencoba merantau ke Bandung. Ada saudara kami dari bude yang banyak menetap di Bandung. Kakakku sementara menumpang di sana. Keadaan kami belum banyak berubah. Ketika aku masuk SMA, bisa dibilang kondisi ekonomi kami makin berat. Status sebagai penunggak spp tetap aku pertahankan. Padahal waktu SMA aku telah mengajukan pembebasan spp sehingga hanya membayar biaya operasional yang besarnya Rp. 9.000 waktu itu. Ternyata itupun aku harus selalu menunggak. Demikian pula kakak dan kedua adikku.

Ketika aku naik ke kelas 2 SMA, kakak ketiga yang lulus SMEA juga memutuskan tidak melanjutkan kuliah. Dia pun kemudian mencoba merantau ke Bekasi, alhamdulillah langsung mendapatkan pekerjaan di sebuah PT. Kakak pertamaku hampir menjelang selesai kuliah. Akhirnya ayah aku mulai tidak merantau lagi. Kembali menjalani hari-hari sebagai petani. Tapi masalah keuangan tetap belum terselesaikan. Tidak jarang jika pagi kami hanya sarapan nasi dengan garam. Aku berangkat sekolah yang jauhnya hampir 20KM dengan mengendarai sepeda warisan kakakku. Sering aku menambal sendiri ban jika kebetulan bocor.

Tragedi ban sepeda pecah....

Ada cerita yang sampai sekarang masih aku ingat. Waktu itu aku pulang sekolah. Ban luar sepeda aku sudah lama pecah di sana-sini. Sehingga ban dalam menonjol di sana-sini juga. Kami tidak punya uang untuk membeli ban baru. Hingga akhirnya pada satu hari saat pulang sekolah, ”Dorrr...”, ban sepedaku meletus. Aku menuntunnya mencari penambal ban terdekat. “Dek, ini bannya harus dipotong dulu terus disambung. Tidak bisa lagi ditambal.” Begitu katanya. ‘Iya, pak. Disambung saja tidak apa-apa.” Kataku pasrah.

Waktu itu ongkos tambal ban Rp. 300. Jika harus menyambung ban, ongkosnya Rp. 500. Dalam sepekan, ibu aku memberi uang jajan hanya sekali yaitu ketika ada pelajaran olah raga. Uang jajanku kisarannya antara Rp. 300- 500. Hari itu ada pelajaran olah raga, dan paginya ibuku memberi Rp. 500,- untuk uang jajan. Ternyata di kantongku hanya tertinggal Rp. 200.

Begitu selesai, aku langsung memberanikan diri mendekati bapak penambal ban. ”Pak, mohon maaf, saya cuma punya uang Rp. 200.” Wajah saya mungkin begitu kelihatan kusut. Sangat memelas barang kali. ”Ya sudah dik, seadanya saja. Tidak apa-apa.” jawabnya. Berkali-kali aku ucapkan terima kasih kepada bapak tadi, sambil bergegas melanjutkan perjalanan pulang.

(masih panjang sambungannya... ditunggu saja)

Selasa, 23 Desember 2008

SKOLIOSIS : Progresifitas 20 Tahun, Bro!

SKOLIOSISKU : Progresifitas 20 Tahun, Bro!

Esok harinya aku kembali ke RS Dr Sardjito, untuk mengambil hasil rontgenku di bagian radiologi. Siang itu, ba’da sholat dhuhur aku kembali bertemu dengan dr. Agus, karibku, di ruang utama Masjid Mardhiyah.

“Coba saya lihat” katanya. Diambilnya beberapa foto tulang punggungku itu. Sambil sesekali membaca analisa hasil foto yang tertera dalam kertas kecil itu. Kulihat raut mukanya bergidik. Seakan tengah membayangkan sesuatu yang serius tengah mengintai diri saya. Dari helaan nafasnya, aku tahu ia ingin mengatakan sesuatu yang penting.

“Pak, tulang punggung antum sudah bengkok sekali. Lihat ini” ditunjukkannya kelokan tulang punggungku dalam foto itu. Dari atas lurus, kemudian mulai ruas sepertiga bawah, mulai membelok ke arah kiri kemudian berkelok lagi ke arah kanan. Persis huruf S. “Ini namanya skoliosis” tandasnya.

“Sekarang kita ke Bagian Rehabilitasi Medik saja. Antum diterapi saja dulu di sana, untuk menghilangkan rasa sakit antum”. Kami kemudian berjalan menyusuri bangsal-bangsal yang juga penuh dengan antrian pasien. Saya masih mengeja dalam hati, sebegitu seriuskah yang namanya skoliosis itu? Dari SD dulu, saya telah tahu nama beberapa kelainan tulang punggung, ada skoliosis yaitu pembengkokan tulang punggung ke samping yang menyerupai huruf S. Dan ada Kiposis, pembengkokan tulang punggung ke depan atau belakang.

Kami bertemu dengan dr. Fuad. Dia adalah dokter spesialis syaraf yang menggawangi bagian rehabilitasi medik di RS Dr. Sardjito. ”Oh, dr. Agus. Ada ada dok?” sapanya begitu melihat karibku itu memasuki ruangnya. Setelah berbasa-basi sejenak dengannya, diperkenalkanlah aku dengan dr. Fuad. Dijelaskannya problem yang sedang saya hadapi. Dengan wajah serius, dr. Fuad mulai membuka foto hasil rontgenku. Demi melihat foto-foto itu, wajahnya segera menatapku.

”Coba sini berbaring, biar saya periksa. Buka sedikit baju bagian atasnya, saya ingin melihat punggungnya” Diperiksanya punggungku. ”Dimana yang sakit?”

Aku tunjukkan bagian punggungku yang serasa kelu, nyeri, pegal, sebuah rasa yang susah untuk didefinisikan. Terus begitu setiap saat. Hanya saat tidur aku bisa melupakan rasa itu. Bagian itu adalah bagian bawah tulang punggungku yang menonjol ke sebelah kiri. Kemudian dr. Fuad mengukur panjang kakiku. ”Nah, ini panjang sebelah. Kamu dulu pernah jatuh?”

Aku mencoba mengingat kejadian yang lalu. ”Iya, Dok. Tapi sudah lama. Waktu itu saya kelas 2 SMP. Jatuh waktu main bola tangan di lapangan saat pelajaran olah raga dengan posisi pantat terlebih dulu. Karena saat itu habis hujan, licin, saya terpeleset. Pergelangan tangan kiri saya sampai retak.” Aku ceritakan semua yang aku ingat.

”Kalau begitu saya butuh lebih detil lagi foto rontgennya.” Kemudian dr. Fuad membuat surat pengantar ke bagian radiologi. Diantaranya foto tulang punggung tampak depan dan tampak samping kiri dan kanan. Serta foto tulang pinggul. ”Habis foto langsung ke sini lagi ya, besok kalo sudah jadi langsung bawa kemari lagi. Hari ini kamu terapi dulu untuk menghilangkan sakitnya. Dan nanti sekalian saya buatkan resep”

Sambil berjalan ke bagian radiologi, aku berpisah dengan dr. Agus. Di bagian radiologi kembali aku menjalani difoto, kali ini punggung dari arah depan, samping dan juga pinggul. Setelah itu aku kembali ke bagian Rehabilitasi Medik untuk menjalani fisioterapi. Dari keluhan yang aku sampaikan, dr. Fuad memberiku 2 terapi, aku menyebutnya diathermi dan tens. Diathermi : punggungku dialasi handuk, kemudian dipanasi selama 20 menit. Sedang tens adalah mengalirkan listrik tegangan rendah antara betis dan pahaku, kira-kira 10-15 menit.

***

Setelah foto rontgen yang kedua aku ambil, hari berikutnya aku kembali ke bagian Rehabilitasi Medik. Dr. Fuad segera mengamati foto-foto tersebut. Dari pencitraan foto pinggul, dia menjelasakan : ”Coba kamu lihat ini, pinggulmu asimetris. Tinggi sebelah. Ini barangkali diakibatkan waktu kamu jatuh dulu. Karena proses yang panjang dan lama, punggung menjadi terkoreksi mengikuti kondisi pinggul yang asimetris ini”

Aku mencermati setiap penjelasan dari dr. Fuad. Masuk akal, pikirku. ”Ini... ini tulang kamu kelihatan sudah tidak padat lagi. Lihatlah. Kamu mengalami osteoporosis juga...! pekiknya.

Duh! Osteoporosis? ”Pengeroposan kepadatan tulang. Tulangmu telah keropos. Kekurangan kalsium. Ini pula barangkali yang menyebabnya cepatnya pembengkokan tulang punggungmu. Karena tulang kamu tidak padat lagi. Ini pula yang membuatmu merasa sakit sepanjang waktu.”

”Berapa umur kamu?” tiba-tiba dokter bertanya umur.

”Dua puluh enam tahun, dok”

”Dua puluh enam? Osteoporosis ini biasa menimpa orang umur lima puluhan. Kamu sudah mengalaminya. Kamu mengalami progresifitas 20 tahun.” Dr. Fuad menggelengkan kepala.

Progresifitas 20 tahun! Lihatlah kawan, keren bukan? Pantas saja selama ini, aku kadang merasakan tulang-tulangku ngilu. Pegal. Mendengar penjelasan dokter, aku hanya bisa bersabar. Tentu Allah memberiku kondisi seperti ini ada maksudnya. Tentu kondisi ini yang terbaik bagiku. Dia mengujiku agar aku dikaruniai kesabaran.

***

Selasa, 18 November 2008

Cerita Mereka tentang Pernikahan

Ini tulisan seorang sahabat saya di forum pekanan. Lucu sekaligus menghibur. Selamat menikmati, dijamin akan tertawa atau setidaknya tersenyum...

TAHTA KERAMAT MAJAPAHIT

(mohon maaf, judul cerita tidak mewakili isi cerita)

Bagian I. Adhimas Mr. X dari Kadipaten Klaten

Nun jauh di negeri antah barantah, hiduplah seorang pemuda desa yang bersahaja. Sebut saja dia Adhimas Mr. X. Setelah menekuni bidang perpajakan di bangku kuliah wilayah Kadipaten Sleman selama setahun dan mendapat gelar Pelaksono Mudo, dia mendapat tugas sebagai abdi negara di Pusat Kerajaan. d'Djakarta Cities Metropolies. Jauh. Jauh sekali dari tanah kelahirannya kadipaten klaten. Setelah beberapa lama hidup di Pusat Kerajaan d'djakarta, Adhimas Mr. X. merasa ada yang hilang dari kehidupannya. apakah itu?

Bagian II. Pertemuan dengan Adimas Meliyanting

Adhimas Mr.X merasa kehidupannya berubah menjadi sepi. Dahulu, diperguruan perpajakan kadipaten Sleman Adhimas Mr.X bisa berinteraksi dengan teman seperguruan yang aneh, lucu tapi kompak. Hari-hari menimba ilmu Adhimas Mr.X dilalui dengan penuh suka ceria. Tapi di d'djakarta kehilangan semua itu. Dia merasa memasuki kehidupan yang sangat individualis dan matrealistis. Kenyamanannya menjalani kehidupan lambat laun terus menurun sampai ke titik jenuh paling nadir. Seolah hidup di d'djakarta saat itu hanyalah untuk sesuap Burger atau Fried Chiken untuk esok hari. Begitu instan dan menjenuhkan. Sampai pada suatu hari Adhimas Mr.X berkenalan dengan seorang punggawa sesama Pelaksono Mudo yang mengabdi di Kasenopatian sebelah bernama Adhimas Meliyanting. Pertemuan dengan Adhimas Meliyanting ini merubah babak-babak baru dalam kehidupan Adhimas Mr.X.....

Bagian III. Padepokan Ki Ageng Tumengung Masker

Karena merasa senasib dan sama-sama terbuang dari Kampung halaman, singkat cerita Adhimas Mr. X dan Meliyanting menjadi sahabat karib (jangan diplesetin jadi kurab ya !). Pada suatu kesempatan di malam purnama yang gundah gulana, Meliyanting hendak beranjak berguru ke Komplek Katumenggungan. Melihat Adhimas Mr. X yang hanya membisu memandangi purnama dengan sayu, Adhimas Meliyanting mengajak Adhimas Mr. X ikut berguru ilmu. Sekedar pacoban, Adhimas Mr. X akhirnya ikut juga. Oleh Adhimas Meliyanting, Adhimas Mr. X diperkenalkan kepada gurunya Ki Ageng Tumengung Masker. Seorang guru sakti yang ternyata juga berasal dari Kadipaten Klaten. Singkat cerita, Adhimas Mr. X akhirnya menjadi adek seperguruan Adhimas Meliyanting di padepokan Ki Ageng Tumengung Masker.

Bagian IV. AJI GARWO KATRESNAN ADHIMAS IRUL KHOIR

Suatu hari, terjadi kehebohan di Padepokan Ki Ageng Tumengung Masker. Di kabarkan seorang murid senior dari Ki Ageng Tumengung Masker yang bernama Adhimas Irul Khoir secara mendadak telah berhasil mendapatkan sebuah pusaka sakti yang disebut Aji Garwo Katresnan. Pusaka tersebut hanya bisa diperoleh oleh orang-orang yang menguasai ilmu Munakahatan. Ternyata selama ini secara diam-diam Adimas Irul Khoir dibantu oleh Ki Ageng Tumengung Masker telah melakukan ritual khusus yang disebut Tangarufan. Pasca Ritual Munakahatan Adhimas irul Khoir sukses, sebagai seorang guru Ki Ageng Tumengung Masker pun memberi testimoni pada Adhimas irul Khoir dan juga motivasi kepada murid-muridnya yang laen agar segera menyusul kakak seperguruan mereka Adhimas irul Khoir. Beliau berkata, memiliki Aji Garwo Katresnan lebih cepat itu lebih baik dan jangan ditunda-tunda.

Dengan Aji Garwo Katresnan ini orang akan terbebas dari penyakit ‘jomblo mrenges’. Yaitu penyakit dengan gejala ngalamun, nglangut, nglindur dan suka mrenges sendiri. Akhirnya, Ki Ageng Tumengung Masker pun memberi wejangan keramat. Bagi murid-muridnya yang ingin segera mendapatkan Aji Garwo Katresnan maka segera persiapakan ubo-rampe berupa niat jejeg, ati mantep, restu karep, nafkah ajeg dan ikhtiaran nulis serat biodata. Wejangan Ki Ageng Tumengung Masker saat itu begitu membekas di hati Adhimas Mr. X. Sejak saat itu, Adhimas Mr. X sedikit demi sedikit mengumpulkan ubo-rampe yang dibutuhkan untuk mempraktekan ilmu Munakahatan agar bias segera terbebas dari penyakit ‘jomblo mrenges’.

MASIH BERSAMBUNG........ (namanya juga cerbung)

Senin, 01 September 2008

Laskar Senja : Apakah harapan itu masih ada?

Laskar Senja : Apakah harapan itu masih ada?

1 bulan, 2 bulan, 3 bulan.. kami masih semangat. Bahkan kami sempat membuat motto, “from java with spirit from batavia with love”. Tapi menginjak beberapa bulan kemudian kami merasa kerja kami semakin berkurang konsentrasinya, kadang sakit-sakitan. Istri di rumah juga kadang sakit-sakitan karena kecapekan. Bahkan ada di antara kami yang terkena sakit thypus. Pernah dia terjatuh dari motor sampai 2 kali. ”Mungkin karena melamun memikirkan anak-istri” begitu jawabnya saat kami tanyakan.

Sementara teman kami yang lain, istrinya sering kambuh sakit batu empedunya. Ketika konsultasi kepada dokter disarankan untuk jangan terlalu capek dan jangan banyak bawa beban berat. Bagaimana mau tidak capek, wong sehari-hari harus antar jemput anak sendirian, bekerja di kantor, mengurus bayi yang masih kecil, belum lagi menyelesaikan segala macam permasalahan di rumah, mulai dari masalah pembantu yang sering membuat masalah, sampai masalah anak yang terkadang rewel.. Dia bercerita, pernah suatu malam di rumahnya kemasukan ular, akhirnya malam-malam istrinya harus mengetuk pintu tetangga untuk minta tolong mengeluarkan ular dari rumah. Mendengar cerita tersebut, tentu saja perasaan bersalah dan kebingungan harus berkata apa, karena memang ia tidak bisa berbuat banyak untuk meringankan beban istrinya.

Belum lagi godaan di kantor: ditawarin uang, dikasih voucer elektronik, HP dan lain-lain. Sudah 1,5 tahun kami sudah menjalani PP jakarta jogja. Hati kami masih mencoba yakin ini hanya sebentar.

Ada di antara kami yang mempunyai kelainan berupa pembengkokkan tulang punggung. Kondisi yang cukup memberatkan ketika perjalanan-perjalanan panjang selalu dia lakukan tiap pekannya demi anak-anak dan keluarganya. Belum lagi tambahan osteoporosis yang juga telah dialaminya. Terapi-terapi untuk mengurangi progresifitas pembengkokan tulang punggungnya semestinya dia lakukan secara rutin. Akan tetapi, jauhnya dari keluarga membuat hal itu tak lagi bisa dilakukan dengan teratur.

Apalagi kemudian kenyataan kami melihat teman-teman kami yang dulu menghindar dari modernisasi ini justru diangkat dan ditempatkan di daerah kami, makin membuat hati kami berkeping-keping. Kami merasa terdzalimi. Kami telah berpeluh lelah meretas jalan ini dengan melalui test yang panjang dan melelahkan, justru akhirnya harus terjauhkan dari keluarga dan tempat tinggal kami.

Mungkin ada yang menyarankan : ”udah diajak aja anak istri ke Jakarta”. Tapi kami (masih) memilih untuk meninggalkan keluarga di sana. Kami tentu mempunyai alasan masing-masing. Di antara kami ada yang istrinya adalah PNS daerah, ada yang istrinya sudah nyaman di daerah asal dan banyak kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan, ada yang orang tuanya sudah sering sakit-sakitan sementara dia anak bungsu yang diharapkan bisa merawatnya. Tapi salah satu alasan yang utama adalah untuk perkembangan anak-anak kami. Rata-rata anak-anak kami berjumlah 3, ada yang baru satu tapi bahkan ada yang sudah 4. Hampir semua sudah usia sekolah. Jika harus memindahkan sekolah mereka, tentulah membutuhkan biasa yang besar. Belum untuk biaya tempat tinggal. Mencari lingkungan tempat tinggal yang baik. Memproses perpindahan istri, bagi yang istrinya juga bekerja. Ah, memikirkannya saja sudah memberatkan.

Akhirnya, di hati terdalam kami... kami masih berharap bisa kembali ke daerah kami. Agar kami kembali bisa bekerja dalam kondisi yang tenang dan fokus. Agar kontribusi kami ke negara ini menjadi lebih optimal’. Dan teman-teman eks jogja, tolong doakan kami kuat & segera bisa pulang.

Bahkan tidak hanya kepada teman-teman kami minta dido'akan. Kepada ustadz yang mengisi acara masjid kantor pun, kami tak lupa minta didoakan agar segera bisa kembali. Termasuk kadang minta do'a ke WP (mudah-mudahan yang ini tidak termasuk gratifikasi).

Kepada anakku...

Maafkan aku, ya nak. Tidak bisa menemani hari-hari kecilmu, masa-masa indahmu. Nak, bukan maksud Ayah lari dari tanggung jawab mendidik, membersamai, mengayomimu. Sungguh anakku, Ayah di sini sangat tersiksa, selalu kangen dan rindu kepadamu. Ayah ingin sekali membantumu mengerjakan PR. Ingin sekali menidurkanmu, menyelimutimu. Sungguh anakku, ayah menjadi cengeng sekarang nak. Sedikit-sedikit menangis, ketika mengingat kamu. Jangan marahi Ayah, ya Nak...

Kepada Istriku...

Maafkan aku, istriku. Aku tidak bisa lagi bersamamu sepanjang waktu, seperti dulu. Istriku, sungguh bukan maksudku untuk menjadi suami yang tak berperasaan meninggalkanmu sendiri menjalankan roda keluarga kita. Sungguh bukan demikian. Sungguh istriku, aku merasa bersalah meninggalkanmu, aku merasa kasihan padamu. Tentunya engkau capek & lelah mengurus anak-anak & rumah kita. Terima kasih atas semuanya. doaku untukmu. Semoga engkau diberi ketabahan.

Kepada DJP ku...

Maafkan kami, bukan maksud kami untuk bekerja setengah-setengah. Tapi memang kami pun mempunyai hati. Ada kepingan-kepingan hati kami yang tertinggal di kota nun jauh di sana. Rindu, sayang, cinta kami ada di sana. Dan sering perasaan itu mendominasi diri kami. Bukan maksud kami mengelak dari tanggung jawab kalo kami kadang-kadang pulang lebih awal. Tapi semata-mata kami ingin segera bertemu dengan mereka. Kami mohon maaf, kami tidak bisa optimal kerja seperti ini. Sering kami tidak fokus dalam pekerjaan kami. Mungkin banyak pula potensi kami yang tidak bisa kami kembangkan dalam suasana hati kami seperti ini. Kami mohon maaf sekali lagi, sering kami merasa capek, lelah menjalani ini semua. Kadang terpikir oleh kami untuk resign saja, demi anak & keluarga kami. Kami terus berharap semoga kami bisa kembali seperti dulu lagi.

Ya Allah........kumpulkan kami kembali dengan keluarga kami.
Ya Allah...kami tahu bahwa semua ini adalah bagian dari takdir-Mu, yang harus kami terima dengan penuh keikhlasan.
Tapi kami pun tahu Ya Rabb...hanya Engkaulah yang Maha Berkuasa, Maha Menerima permohonan dari hamba-hamba-Mu yang dhoif ini.
Ya Allah...kami berharap Engkau akan mengabulkan permohonan kami, melalui kebijakan dan kebijaksanaan para pimpinan kami di DJP ini.
Ya Allah...kabulkanlah permohonan kami. Amin.

**********************

LASKAR PELANGI
LASKAR SENJA
MERETAS MIMPI
BERALAS TIKAR DI SENJA

**********************

Cerita ini mengalir dari jari jemari
Insan-insan yang sedang di mabuk rindu
Mengalir di sela deras hujan di sore itu
Dari tempat-tempat yang berserak di jantung ibu kota

Dikompilasikan di malam yang sepi
Persembahan untuk orang-orang terkasih

Kru Roker Joglo alias PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad)