Selepas Sholat Isya’ di masjid dekat kost, sesampai di kamar kulihat ada 2 panggilan tak terjawab di hp fleksiku. Begitu juga di hp simpatiku. “Ini pasti ada yang penting.” Pikirku. Kutelepon balik nomor itu. Sesaat nada telepon diangkat, segera kuucapkan salam. Seseorang menjawab salamku dengan nada tertahan. Terisak. Otakku langsung bekerja untuk mengidentifikasi pemilik suara ini. “Hallo, siapa ini? Zahra ya?” tanyaku. “Iya..” jawabnya setengah terisak. Ah, gadis kecilku rupanya. Ada apa gerangan dia sampai meneleponku 4 kali? ‘Ada apa sayang? Umi kemana?” aku mulai menelisiknya. “Gak apa-apa. Umi lagi ke masjid, pengajian.” Jawabnya masih dengan suara tertahan.
Aku paling tahu sifat gadis kecilku ini. “Tadi yang nelepon abi sampai 4 kali siapa?” desakku. “Aku.” Jawabnya singkat. “Jadi ada apa sayang? Kok menangis” tanyaku lagi. “Tidak ada apa-apa.” Lagi-lagi dia tidak menjawab. Tapi nada suaranya makin tergugu. Ah, anak kecil ini makin membuatku penasaran. Walau kadang sifat cengengnya ini membuatku sering kali kelabakan, tapi kali ini aku harus menenangkannya.
“Mas Ammar kemana?” tanyaku. “Ikut umi ke masjid” “Dik Ghifar?” tanyaku lagi. “Ikut umi juga.” “Terus Zahra di rumah sama mbah? Ngapain kok gak ikut umi?” desakku. “Iya. Lagi ngerjain PR.” Hmm.. Jawaban terakhir inilah yang kemudian menjadi kunci bagiku untuk menelisik kenapa gadis kecilku ini menangis. Aku segera tahu, pasti ada persoalan dengan PR nya. Yang aku hafal, jika ada kaitannya dengan pelajaran bahasa arab atau matematika, dia lebih suka bertanya kepadaku.
“Ada kesulitan? Apa yang tidak bisa, coba tanyakan ke abi, sayang.” Bujukku setengah merayu. Setelah itu, suaranya kudengar berangsur tenang. Tak ada lagi isak tertahan. Hingga akhirnya bisa aku dengarkan suaranya benar-benar jernih dan renyah kembali, seperti biasanya. “Jadi 975 dibagi 25 berapa, bi?” tanyanya. “Kamu masih ingat diagramnya tho? Mula-mula 97 dibagi 25 dulu, didapat angka 3. Terus 3 kali 25 ada 75 kan? Nah 97 tadi dikurangin 75, hasilnya 22. Terus angka 5 dari 975 tadi diturunkan, dapat angka 225. 225 dibagi 25 ada 9 tho? 9 kali 25 sama dengan 225. 225 dikurangin 225 sama dengan 0. Selesai deh. Jadi 975 dibagi 25 ada 39.” Aku jelaskan satu soal itu.
Alhamdulillah, Allah karuniai aku anak yang cerdas. Cukup satu itu aku jelaskan dan ingatkan kembali, soal-soal yang lainnya yang senada sudah bisa dia kerjakan sendiri. Dia juga sampaikan satu pertanyaan tentang pelajaran PKn, “Dah bi itu aja, ntar yang lainnya tak tanya mbah aja.” Katanya. Aku rasa dia hanya butuh perhatian. Di saat mengerjakan PR-nya, biasanya dia didampingi uminya. Tapi tadi uminya harus ke masjid karena ada pengajian rutin ibu-ibu. Sehingga sedikit kesulitan tadi telah membuatnya galau. Saat meneleponku berkali-kali dan terus-terusan missed call, makin membuatnya galau dan kemudian menangis.
Ini hanya cerita lain tentang tabiat gadis kecilku itu, di luar kegemarannya dalam membaca. “Dia paling mirip denganmu.” Kata istriku jika mengomentari sifat-sifat dan tabiat yang dia punyai. Ya, ketiga anak kami memang membawa sifat, tabiat dan karakter yang saling berlainan. Masing-masing membutuhkan sentuhan yang berlainan. Ada saatnya sifat-sifat mereka itu saling bertemu, tapi di lain waktu karakter dan tabiat itu seolah tak bisa disatukan. Hingga rumah kami laksana kapal pecah. Benar-benar berantakan.
Dunia anak memang dunia warna-warni. Inilah saat tepat memberikan mereka warna sesuai yang kita inginkan. Ketika kita terlewat dalam memaksimalkan peran kita dalam fase ini, maka bersiap-siaplah untuk menyesal. Fase ini tak mungkin bisa kita ulangi lagi, sebagaimana waktu dan umur kita jika telah berlalu maka dia hanya bisa kita kenang atau kita ratapi. Tak akan pernah bisa kita putar ulang kembali.
“Bi, gendong. Aku ngantuk” pinta si bungsu saat kami selesai dari pengajian idul adha malam itu. ‘Ntar kalo abi makin peyok gimana?” tanyaku. “Tapi aku ngantuk.” Akhirnya aku tak kuasa menolak permintaanya. Kapan lagi aku bisa menggendongnya, saat-saat seperti ini akan cepat berlalu, hingga tahu-tahu dia sudah besar nanti. Dan tentunya, aku makin tak akan mampu menggendongnya. Begitu yang aku pikirkan. Hingga setelah kira-kira setengah perjalanan sampai rumah, dia aku turunkan, “Dah ya, punggung abi dah mulai sakit.”
Perbanyak saat-saat indah dalam hidup mereka, anak-anak kita. Penuhi memori mereka dengan kenangan-kenangan indah, itu akan sangat membantunya saat mereka besar nanti. Aku yakin itu. “Mi, tadi malam abi nggendong ghifar.” Anak gadisku mengadukanku tentang kejadian itu. Istriku hanya bisa memandangku tak mengerti, seperti biasa ia tahu, aku selalu melanggar pantangan itu. “Lha dia ngantuk. Kasihan. Mumpung masih kecil.” Begitu pembelaanku.
Suatu saat, punggungku kambuh. Akhir pekanku bersama keluarga tidak maksimal. Biasanya hari sabtu aku antar jemput anak sekolah, dan ahadnya mengantar mereka les renang. Tapi itu tidak bisa aku lakukan. Hampir 2 hari itu aku hanya istirahat di rumah. Menjelang keberangkatanku kembali ke ibukota, saat kami makan bersama, istriku berpesan : “Baik-baik ya, jaga kesehatan.” “Iya, abi gak boleh sakit. Nanti gak bisa main sama anak-anak kalo sakit.” Sambung sulungku sambil makan. Deg! Aku dan istriku saling menatap. Haru.
Begitulah. Yang aku yakini, masa-masa kecil mereka sebentar lagi akan berlalu. Mereka akan cepat menjelma menjadi manusia dewasa. Oleh karena itu, aku tak boleh melewatkan saat-saat ini. Inilah masa-masa mereka masih sangat membutuhkan kami, orang tuanya. Bukan berarti setelah dewasa mereka tidak akan membutuhkan kami. Tapi aku yakin masa-masa itu akan menjadi masa yang rumit bagi mereka. Justru mereka akan makin membutuhkan kami. padahal dekat tidaknya mereka nanti dengan kami, harus kami bangun sedari mereka kecil inilah.
Kawan, semoga jauhnya jarak kita dengan anak-anak kita tak membuat mereka merasa jauh dari kita, orang tuanya. Semoga sedikit dan terbatasnya kedekatan fisik kita dengan mereka, justru membangun dan makin mempererat kedekatan psikis kita dengan mereka. Hanya kepada Allah lah, Sang Penjaga Hidup kita, kita memohon bimbingan dan arahannya agar bisa membesarkan dan mendidik anak-anak kita dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah senantisa memudahkan dan menyederhanakan segala urusan kita.
Pancoran, 30/11/2009 23.40
"Hidup ini seperti aliran air yang akan menuju ke muaranya. Maka jernihkan alirannya..."
Selasa, 01 Desember 2009
Ukhuwah yang Serasa Hilang
Sekilas, aku melihat cairan bening menggenang di sudut mata beliau. Dengan sedikit tercekat beliau berkata, “Akhi, saya akan bicara jujur kepada kalian. Tidak akan saya tutupi.” Kami mengira apa yang akan beliau katakan adalah bagian taushiyah untuk kami. Ya, kami malam itu sedang melakukan program silaturahim tokoh. Kami silaturahim ke salah seorang guru kami di sana. Program ini bahkan telah kami rancang sejak dua pekan sebelumnya.
Beliau melanjutkan, “Tadi siang adalah hari yang unik. Dan saya yakin ini atas skenario Allah juga, antum malam ini datang ke rumah kami. Padahal siang tadi saya dan istri merencanakan bepergian. Saya bilang ke umminya, ‘Mi, ayo kita pergi. Kemana enaknya menurutmu?’ Istri saya menjawab, ‘Silaturahim’. Saya tanya lagi, jawabnya tetap sama, ‘Silaturahim. Pokoknya silaturahim.’”
Kami belum bisa menebak ke arah mana beliau akan bercerita. Karena sebelumnya kami membahas tentang makanan ahli surga. Tentang kehidupan para ahli surga. Beliau tadi menjelaskan tafsir lain beliau tentang sifat dan makanan ahli surga. Tentang penafsiran mengapa ahli surga nanti bisa melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri. Ah, sesuatu yang baru, yang sangat mencerahkan pemahaman kami tentunya.
“Padahal awalnya maksud saya hendak mengajak istri makan di luar.” Beliau menghela nafas sejenak. “Mendengar jawaban istri saya itu, lalu saya katakan, ‘Mi, kita tak punya saudara lagi di kota ini. Ikhwah ini, dia bukan saudara kita lagi. Ikhwah itu, ah dia juga bukan saudara kita lagi. Atau ikhwah yang di sana, rasanya dia bukan saudara kita juga. Rasanya, tak ada ikhwah lagi yang mau menjadi saudara kita di kota ini.’ Suara beliau sedikit bergetar. Kami pun tak kalah bergetar. Kami semua tersentak mendengar penuturan ustadz tadi.
Masih dengan nada sedikit parau beliau berkata, “Maka istri saya kemudian menangis. Saya pun menangis. Begitulah, siang tadi akhirnya kami menangis berdua. Rupanya Allah hendak menjawab galau kami dengan kedatangan antum semua. Allah ingin menunjukkan bahwa masih ada saudara kami di kota ini. Jazakumullah atas kehadiran antum semua malam ini.” Suasana hening dan haru tiba-tiba menyeruak di dada-dada kami. Kami semua tertunduk, terpekur, merenungkan sebuah kata yang bagi kami kini serasa di awang-awang. Kata itu adalah ukhuwah.
Kawan, ini memang hanya cerita kecil tentang sebuah episode di desa agak terpencil, di daerah dekat kaki gunung merapi sana. Episode sepi. Di tempat yang sungguh-sungguh sepi. Tentang seorang yang merasa kesepian di saat dakwah ini justru tengah memasuki hingar bingar keramaian. Sebuah paradoks yang menyentuh hati kami. Dalam perjalanan pulang dari rumah beliau, kami berenam saling introspeksi. Dua dari tiga nama yang beliau sebutkan, ada di antara kami.
Muara kami bertemu pada satu kata tadi, ukhuwah. Entahlah, barangkali salah satu wasilah menjaga ukhuwah yang asasi yang sering kita tinggalkan itu adalah bernama silaturahim. Lidah kita fasih mengucapkannya. Tangan kita lancar menuliskan keutamaan-keutamaannya. Tapi seringkali langkah kita tertahan oleh kesibukan, kepenatan, kesempitan waktu atau pun dalih-dalih yang lain.
Siapa yang pernah menyangka, seorang ustadz seperti beliau sampai pada kesimpulan seperti itu : tak ada lagi saudara kami di kota ini! Kesibukan beliau memang praktis agak menurun sejak tidak menjadi aleg. Pesantren yang dulu beliau kelola sebelumnya dan cukup dikenal di daerahnya kini tidak berkembang. Kini fisik beliau pun diuji dengan penyakit gula dan jantung. Aduhai, pertemuan-pertemuan kami selama ini memang hanya saat-saat formal saja, di tempat-tempat kajian, di jalan, di kantor dakwah, atau di tempat dan even yang senada. Dan kawan, itu tidak cukup. Untuk memaknai sebuah ukhuwah, semua itu tidak cukup!
Karenanya, salah satu syiar yaumiyan yang ada dalam panduan aktifitas harian kita ada yang namanya aktifitas silaturahim. Benar-benar silaturahim. Benar-benar kunjungan atas nama silaturahim. Bukan karena ada kewajiban kita mengembalikan buku yang pernah kita pinjam misal. Bukan pula karena keterpaksaan kita karena hendak meminta suatu pertolongan. Atau kepentingan-kepentingan yang lain. Karena dengan berkunjung, dengan silaturahim, kita bisa menguak hal-hal yang seringkali tidak tersampaikan dalam saat-saat formal tadi.
Banyak keutamaan dari silaturahim ini. Diriwayatkan dari Anas r.a, bahwa Rasulullah Saw, bersabda: “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah ia menyambung silaturrahim.” (H.R. Muttafaqun alaihi)
Ternyata, silaturrahim membawa keberkahan dalam rezeki dan umur seseorang yang suka menyambungnya. Ibnu Umar r.a berkata: “Barang siapa yang bertaqwa kepada Tuhannya dan menyambung silaturrahim, akan dipanjangkan umurnya, diperluas rezekinya, dan dicintai oleh keluarganya.” (H.R. Bukhari)
Orang yang suka menyambung silaturrahim akan mendapatkan keberkahan dalam rezeki dan bertambah umurnya. Rahmat Allah akan senantiasa tercurah kepadanya di dunia dan di akhirat. Ia akan dicintai oleh manusia dan dihormati. Sebaliknya, orang yang suka memutuskan tali silaturrahim akan mendapatkan kesengsaraan, bencana, dan kebencian dari Allah dan manusia. Di akhirat nanti, ia akan dijauhkan dari surga.
Cukuplah bagi orang yang memutuskan tali silaturrahim merasakan kesengsaraan dan bencana apabila mendengar sabda Rasulullah Saw: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturrahim.” (H.R. Muttafaqun alaihi).
Semoga kita dimudahkan untuk memperbanyak silaturahim, sehingga cerita-cerita haru seperti episode di awal tulisan ini tak banyak terjadi di sekitar kita. Di komunitas yang sangat-sangat menjaga makna ukhuwah ini.
Finished at menara jamsostek, 24/11/2009 14:40
Beliau melanjutkan, “Tadi siang adalah hari yang unik. Dan saya yakin ini atas skenario Allah juga, antum malam ini datang ke rumah kami. Padahal siang tadi saya dan istri merencanakan bepergian. Saya bilang ke umminya, ‘Mi, ayo kita pergi. Kemana enaknya menurutmu?’ Istri saya menjawab, ‘Silaturahim’. Saya tanya lagi, jawabnya tetap sama, ‘Silaturahim. Pokoknya silaturahim.’”
Kami belum bisa menebak ke arah mana beliau akan bercerita. Karena sebelumnya kami membahas tentang makanan ahli surga. Tentang kehidupan para ahli surga. Beliau tadi menjelaskan tafsir lain beliau tentang sifat dan makanan ahli surga. Tentang penafsiran mengapa ahli surga nanti bisa melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri. Ah, sesuatu yang baru, yang sangat mencerahkan pemahaman kami tentunya.
“Padahal awalnya maksud saya hendak mengajak istri makan di luar.” Beliau menghela nafas sejenak. “Mendengar jawaban istri saya itu, lalu saya katakan, ‘Mi, kita tak punya saudara lagi di kota ini. Ikhwah ini, dia bukan saudara kita lagi. Ikhwah itu, ah dia juga bukan saudara kita lagi. Atau ikhwah yang di sana, rasanya dia bukan saudara kita juga. Rasanya, tak ada ikhwah lagi yang mau menjadi saudara kita di kota ini.’ Suara beliau sedikit bergetar. Kami pun tak kalah bergetar. Kami semua tersentak mendengar penuturan ustadz tadi.
Masih dengan nada sedikit parau beliau berkata, “Maka istri saya kemudian menangis. Saya pun menangis. Begitulah, siang tadi akhirnya kami menangis berdua. Rupanya Allah hendak menjawab galau kami dengan kedatangan antum semua. Allah ingin menunjukkan bahwa masih ada saudara kami di kota ini. Jazakumullah atas kehadiran antum semua malam ini.” Suasana hening dan haru tiba-tiba menyeruak di dada-dada kami. Kami semua tertunduk, terpekur, merenungkan sebuah kata yang bagi kami kini serasa di awang-awang. Kata itu adalah ukhuwah.
Kawan, ini memang hanya cerita kecil tentang sebuah episode di desa agak terpencil, di daerah dekat kaki gunung merapi sana. Episode sepi. Di tempat yang sungguh-sungguh sepi. Tentang seorang yang merasa kesepian di saat dakwah ini justru tengah memasuki hingar bingar keramaian. Sebuah paradoks yang menyentuh hati kami. Dalam perjalanan pulang dari rumah beliau, kami berenam saling introspeksi. Dua dari tiga nama yang beliau sebutkan, ada di antara kami.
Muara kami bertemu pada satu kata tadi, ukhuwah. Entahlah, barangkali salah satu wasilah menjaga ukhuwah yang asasi yang sering kita tinggalkan itu adalah bernama silaturahim. Lidah kita fasih mengucapkannya. Tangan kita lancar menuliskan keutamaan-keutamaannya. Tapi seringkali langkah kita tertahan oleh kesibukan, kepenatan, kesempitan waktu atau pun dalih-dalih yang lain.
Siapa yang pernah menyangka, seorang ustadz seperti beliau sampai pada kesimpulan seperti itu : tak ada lagi saudara kami di kota ini! Kesibukan beliau memang praktis agak menurun sejak tidak menjadi aleg. Pesantren yang dulu beliau kelola sebelumnya dan cukup dikenal di daerahnya kini tidak berkembang. Kini fisik beliau pun diuji dengan penyakit gula dan jantung. Aduhai, pertemuan-pertemuan kami selama ini memang hanya saat-saat formal saja, di tempat-tempat kajian, di jalan, di kantor dakwah, atau di tempat dan even yang senada. Dan kawan, itu tidak cukup. Untuk memaknai sebuah ukhuwah, semua itu tidak cukup!
Karenanya, salah satu syiar yaumiyan yang ada dalam panduan aktifitas harian kita ada yang namanya aktifitas silaturahim. Benar-benar silaturahim. Benar-benar kunjungan atas nama silaturahim. Bukan karena ada kewajiban kita mengembalikan buku yang pernah kita pinjam misal. Bukan pula karena keterpaksaan kita karena hendak meminta suatu pertolongan. Atau kepentingan-kepentingan yang lain. Karena dengan berkunjung, dengan silaturahim, kita bisa menguak hal-hal yang seringkali tidak tersampaikan dalam saat-saat formal tadi.
Banyak keutamaan dari silaturahim ini. Diriwayatkan dari Anas r.a, bahwa Rasulullah Saw, bersabda: “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah ia menyambung silaturrahim.” (H.R. Muttafaqun alaihi)
Ternyata, silaturrahim membawa keberkahan dalam rezeki dan umur seseorang yang suka menyambungnya. Ibnu Umar r.a berkata: “Barang siapa yang bertaqwa kepada Tuhannya dan menyambung silaturrahim, akan dipanjangkan umurnya, diperluas rezekinya, dan dicintai oleh keluarganya.” (H.R. Bukhari)
Orang yang suka menyambung silaturrahim akan mendapatkan keberkahan dalam rezeki dan bertambah umurnya. Rahmat Allah akan senantiasa tercurah kepadanya di dunia dan di akhirat. Ia akan dicintai oleh manusia dan dihormati. Sebaliknya, orang yang suka memutuskan tali silaturrahim akan mendapatkan kesengsaraan, bencana, dan kebencian dari Allah dan manusia. Di akhirat nanti, ia akan dijauhkan dari surga.
Cukuplah bagi orang yang memutuskan tali silaturrahim merasakan kesengsaraan dan bencana apabila mendengar sabda Rasulullah Saw: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturrahim.” (H.R. Muttafaqun alaihi).
Semoga kita dimudahkan untuk memperbanyak silaturahim, sehingga cerita-cerita haru seperti episode di awal tulisan ini tak banyak terjadi di sekitar kita. Di komunitas yang sangat-sangat menjaga makna ukhuwah ini.
Finished at menara jamsostek, 24/11/2009 14:40
Rabu, 11 November 2009
Tiba-tiba Muncul Rindu Itu…
Tangan ini tiba-tiba bergerak ingin mengetikkan kata, ‘Yuswar Hidayatullah’ di search engine google. Tiba-tiba saja. Entah mengapa pagi ini muncul kerinduan akan wajah orang-orang yang telah lama tidak berjumpa. Meski hanya sekedar tulisan atau berita tentang mereka, cukup melegakanku. Apalagi kemudian ditemani dengan alunan nasyid Rabithahnya Izzatul Islam. Ah.. Rasanya aku juga jadi rindu dengan sang penggubah lagu dalam nasyid ini.
Benar-benar ukhuwah ini telah membuatku makin kecanduan terhadap dakwah ini. Di sini aku hampir selalu bertemu dengan orang-orang hebat yang tawadhu’. Orang-orang cerdas yang tidak angkuh. Semuanya terasa setara. Yang ada adalah suasana saling memberi dan menerima. Maka, dalam forum mana lagikah kita bisa menemukan seorang anggota DPR, wakil gubernur, bupati atau seorang ustadz kondang duduk bersama dalam satu lingkaran dengan orang-orang yang barangkali biasa-biasa saja? Selain dalam halaqoh-halaqoh dakwah ini? Rutin, pekanan, dan dalam suasana kekeluargaan. Tak perlu protokoler.
Aku jadi ingat figur seorang ustadz di sebuah pesantren di Ogan Komering Ilir Palembang dulu, Ust. Sholihin Hasibuan. Semoga Allah senantiasa merahmatinya. Letak pesantren ini jauh di luar kota Palembang. Kira-kira hampir 2 jam waktu tempuhnya dengan perjalanan yang lancar di bumi sumatera. Suatu saat, berdua dengan seorang ikhwah kami kemalaman ketika sampai di pesantren tersebut. Ada acara di pagi harinya, dan kami memutuskan untuk mabit saja di sana. Bingung. Akhirnya kami memutuskan menuju rumah ustadz ini.
Inilah ukhuwah yang tidak memandang umur. Tidak memandang kasta ilmu. Tidak memandang suku. Tidak memandang terminologi penduduk asli atau pendatang. Beliau menyambut kami dengan ceria. Dipeluknya kami satu per satu. Sempat berbasa-basi dengan kami sebentar di ruang tamu rumah beliau, kemudian beliau pamit ke belakang. Dari samping rumah kelihatan beliau menyusup di kegelapan malam. Beberapa saat kemudian telah datang dengan membawa sesuatu di tangannya.
Rupanya beliau menyempatkan keluar rumah untuk membeli santapan malam buat kami. Setelah itu pun, beliau mengantarkan kami ke ruang inap di dekat masjid. Lengkap dengan peralatan mabitnya. Semua dilakukannya dengan riang, seolah menyambut kami seperti saudara yang lama tak bersua. Kami menjadi merasa kikuk. Tapi itulah hebatnya ukhuwah yang ikatannya tak lain karena ikatan iman semata. Semua berjalan apa adanya.
Ya, forum sederhana itu memang jauh dari forum-forum lain yang mempunyai nilai prestise. Forum kecil itu memang tidak glamour. Tak perlu pamflet atau iklan untuk mengadakannya. Ikatannya hanya iman dan ukhuwah. Tak ada hura-hura di sana. Semua tampil tawadhu. Forum- inilah yang selalu aku rindukan setiap saat. Seorang ustadz di Jogja bahkan mempersiapkan pertemuan itu dengan persiapan fisik secara matang sejak dari siang harinya. Tak kan dibiarkannya fisiknya terkuras oleh kegiatan yang tidak perlu di siang harinya, agar malamnya dia bisa datang dengan fisik yang segar. Ah, aku jadi malu.
Ya, dari forum sederhana inilah lahir pribadi-pribadi yang cemerlang. Seolah di negeri dongeng. Dari forum inilah tertelorkan program dan kerja dakwah yang tak pernah kehilangan inovasi dan kreatifitas. Mengalir tak pernah henti untuk terus menyemai kebaikan bagi umat ini. Maka tak heran kemudian ketika Muasis dakwah ini menyebutnya : Antum ar ruhul jadid fi jasadil ummah. Kalian ini semangat baru, ruh baru, yang lahir di tengah umat ini.
Maka jika forum ini tak lagi kita rindukan, maka kemana lagi kita akan dapatkan ukhuwah yang indah itu? Kemana lagi akan kita dapatkan pelajaran amal jama’i yang efektif ini? Kemana lagi kita akan dapatkan komunitas yang siap menjadi kontrol dan pengawas bagi semua aktifitas kita, karena memang kita sering lemah ketika kita sendiri? Forum ini memang bukan segalanya. Tapi segalanya bisa diawali dari forum yang kecil ini, forum yang sederhana dan berkah ini. InsyaAllah
Maka dalam doa-doaku, aku mencoba sebisa mungkin menghadirkan wajah-wajah saudaraku dalam lintasan-lintasan hatiku. Semoga Allah selalu memudahkan segala urusan dan memberkahi langkah-langkahnya. Dan senantiasa mempersatukan kami semua dalam langkah-langkah di jalan dakwah ini.
Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini tlah berpadu
berhimpun dalam naungan cinta-Mu
bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan
menegakkan syariat dalam kehidupan
*Kuatkanlah ikatannya
Kekalkanlah cintanya
Tunjukilah jalan-jalannya
terangilah dengan cahya-Mu
yang tiada pernah padam
Lapangkanlah dada kami
dengan karunia iman
dan indahnya tawakkal pada-Mu
Hidupkan dengan ma'rifat-Mu
matikan dalam syahid di jalan-Mu
Engkaulah pelindung dan Pembela
Ya Robbi, Bimbinglah kami.....
Mohon maaf, ini bukan taujih. Ini sekedar lintasan hati di hari yang indah ini. Aku tuliskan untuk saudaraku semua di forum yang tak kalah berkah ini, sebagai wujud cintaku untuk antum semua. Bahwa sungguh aku merindukan antum semua. Walau ada di antara kita yang belum pernah bertemu fisik sekalipun. Tapi antum semua terasa begitu dekat di hati ini.
Kita semua punya cerita dan kenangan tentang forum itu. Tentang orang-orang dalam forum itu. Tentang kerja-kerja dalam forum itu. Semua pasti mencerahkan. Maka tak salah jika kita berbagi. Maka tak salah jika kita saling memberi. Bukan untuk unjuk kelebihan, karena kita hanyalah makhluk-makhluk yang tak pernah akan bisa sempurna.
Jamsostek, 11/11/2009 : 11.00
Benar-benar ukhuwah ini telah membuatku makin kecanduan terhadap dakwah ini. Di sini aku hampir selalu bertemu dengan orang-orang hebat yang tawadhu’. Orang-orang cerdas yang tidak angkuh. Semuanya terasa setara. Yang ada adalah suasana saling memberi dan menerima. Maka, dalam forum mana lagikah kita bisa menemukan seorang anggota DPR, wakil gubernur, bupati atau seorang ustadz kondang duduk bersama dalam satu lingkaran dengan orang-orang yang barangkali biasa-biasa saja? Selain dalam halaqoh-halaqoh dakwah ini? Rutin, pekanan, dan dalam suasana kekeluargaan. Tak perlu protokoler.
Aku jadi ingat figur seorang ustadz di sebuah pesantren di Ogan Komering Ilir Palembang dulu, Ust. Sholihin Hasibuan. Semoga Allah senantiasa merahmatinya. Letak pesantren ini jauh di luar kota Palembang. Kira-kira hampir 2 jam waktu tempuhnya dengan perjalanan yang lancar di bumi sumatera. Suatu saat, berdua dengan seorang ikhwah kami kemalaman ketika sampai di pesantren tersebut. Ada acara di pagi harinya, dan kami memutuskan untuk mabit saja di sana. Bingung. Akhirnya kami memutuskan menuju rumah ustadz ini.
Inilah ukhuwah yang tidak memandang umur. Tidak memandang kasta ilmu. Tidak memandang suku. Tidak memandang terminologi penduduk asli atau pendatang. Beliau menyambut kami dengan ceria. Dipeluknya kami satu per satu. Sempat berbasa-basi dengan kami sebentar di ruang tamu rumah beliau, kemudian beliau pamit ke belakang. Dari samping rumah kelihatan beliau menyusup di kegelapan malam. Beberapa saat kemudian telah datang dengan membawa sesuatu di tangannya.
Rupanya beliau menyempatkan keluar rumah untuk membeli santapan malam buat kami. Setelah itu pun, beliau mengantarkan kami ke ruang inap di dekat masjid. Lengkap dengan peralatan mabitnya. Semua dilakukannya dengan riang, seolah menyambut kami seperti saudara yang lama tak bersua. Kami menjadi merasa kikuk. Tapi itulah hebatnya ukhuwah yang ikatannya tak lain karena ikatan iman semata. Semua berjalan apa adanya.
Ya, forum sederhana itu memang jauh dari forum-forum lain yang mempunyai nilai prestise. Forum kecil itu memang tidak glamour. Tak perlu pamflet atau iklan untuk mengadakannya. Ikatannya hanya iman dan ukhuwah. Tak ada hura-hura di sana. Semua tampil tawadhu. Forum- inilah yang selalu aku rindukan setiap saat. Seorang ustadz di Jogja bahkan mempersiapkan pertemuan itu dengan persiapan fisik secara matang sejak dari siang harinya. Tak kan dibiarkannya fisiknya terkuras oleh kegiatan yang tidak perlu di siang harinya, agar malamnya dia bisa datang dengan fisik yang segar. Ah, aku jadi malu.
Ya, dari forum sederhana inilah lahir pribadi-pribadi yang cemerlang. Seolah di negeri dongeng. Dari forum inilah tertelorkan program dan kerja dakwah yang tak pernah kehilangan inovasi dan kreatifitas. Mengalir tak pernah henti untuk terus menyemai kebaikan bagi umat ini. Maka tak heran kemudian ketika Muasis dakwah ini menyebutnya : Antum ar ruhul jadid fi jasadil ummah. Kalian ini semangat baru, ruh baru, yang lahir di tengah umat ini.
Maka jika forum ini tak lagi kita rindukan, maka kemana lagi kita akan dapatkan ukhuwah yang indah itu? Kemana lagi akan kita dapatkan pelajaran amal jama’i yang efektif ini? Kemana lagi kita akan dapatkan komunitas yang siap menjadi kontrol dan pengawas bagi semua aktifitas kita, karena memang kita sering lemah ketika kita sendiri? Forum ini memang bukan segalanya. Tapi segalanya bisa diawali dari forum yang kecil ini, forum yang sederhana dan berkah ini. InsyaAllah
Maka dalam doa-doaku, aku mencoba sebisa mungkin menghadirkan wajah-wajah saudaraku dalam lintasan-lintasan hatiku. Semoga Allah selalu memudahkan segala urusan dan memberkahi langkah-langkahnya. Dan senantiasa mempersatukan kami semua dalam langkah-langkah di jalan dakwah ini.
Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini tlah berpadu
berhimpun dalam naungan cinta-Mu
bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan
menegakkan syariat dalam kehidupan
*Kuatkanlah ikatannya
Kekalkanlah cintanya
Tunjukilah jalan-jalannya
terangilah dengan cahya-Mu
yang tiada pernah padam
Lapangkanlah dada kami
dengan karunia iman
dan indahnya tawakkal pada-Mu
Hidupkan dengan ma'rifat-Mu
matikan dalam syahid di jalan-Mu
Engkaulah pelindung dan Pembela
Ya Robbi, Bimbinglah kami.....
Mohon maaf, ini bukan taujih. Ini sekedar lintasan hati di hari yang indah ini. Aku tuliskan untuk saudaraku semua di forum yang tak kalah berkah ini, sebagai wujud cintaku untuk antum semua. Bahwa sungguh aku merindukan antum semua. Walau ada di antara kita yang belum pernah bertemu fisik sekalipun. Tapi antum semua terasa begitu dekat di hati ini.
Kita semua punya cerita dan kenangan tentang forum itu. Tentang orang-orang dalam forum itu. Tentang kerja-kerja dalam forum itu. Semua pasti mencerahkan. Maka tak salah jika kita berbagi. Maka tak salah jika kita saling memberi. Bukan untuk unjuk kelebihan, karena kita hanyalah makhluk-makhluk yang tak pernah akan bisa sempurna.
Jamsostek, 11/11/2009 : 11.00
Jadilah seperti Cinta Khadijah
Cinta khadijah, cinta yang tak tergantikan meski rasulullah memiliki sejumlah istri sepeninggal khadijah, termasuk istri yang cantik, masih gadis dan cerdas, namun tidak bisa mengganti kedudukan khadijah di hati Rasulullah saw. Ini membuktikan bahwa cinta sejati tidak mengenal usia dan kecantikan, juga tidak mengenal status gadis atau janda.
Jadilah seperti khadijah, yang bisa mengisi ruang hati rasul secara penuh, sehingga tidak ada orang yang bisa menggantinya. Kepada Para istri yg (sudah) merasa tua, tidak cantik, sehingga khawatir (bahwa) suaminya akan 'meninggalkan'nya dan tidak mencintainya lagi, maka, jadilah Anda seperti Khadijah al kubra, tidak perlu 'menuntut macam-macam' terhadap suami (seperti menuntut setia, menuntut utk selaslu mencintainya, dsb), cukuplah bersikap sebagaimana sikap Khadijah terhadap Rasulullah.
Berikanlah totalitas cintamu kepada suamimu sebagaimana Khadijah memberikan totalitas cintanya kepada Rasulullah saw. Biarlah wanita-wanita lain cemburu kepadamu sebagai mana istri Rasul yang lain yang cemburu kepada Khadijah, meski Khadijah sudah lama wafat. Karena Khadijah memberikan cinta sejati (true love), dan cinta sejati akan selalu abadi.
(tulisan mas fathur izis yang sedikit diedit dan dirapikan)
Jadilah seperti khadijah, yang bisa mengisi ruang hati rasul secara penuh, sehingga tidak ada orang yang bisa menggantinya. Kepada Para istri yg (sudah) merasa tua, tidak cantik, sehingga khawatir (bahwa) suaminya akan 'meninggalkan'nya dan tidak mencintainya lagi, maka, jadilah Anda seperti Khadijah al kubra, tidak perlu 'menuntut macam-macam' terhadap suami (seperti menuntut setia, menuntut utk selaslu mencintainya, dsb), cukuplah bersikap sebagaimana sikap Khadijah terhadap Rasulullah.
Berikanlah totalitas cintamu kepada suamimu sebagaimana Khadijah memberikan totalitas cintanya kepada Rasulullah saw. Biarlah wanita-wanita lain cemburu kepadamu sebagai mana istri Rasul yang lain yang cemburu kepada Khadijah, meski Khadijah sudah lama wafat. Karena Khadijah memberikan cinta sejati (true love), dan cinta sejati akan selalu abadi.
(tulisan mas fathur izis yang sedikit diedit dan dirapikan)
Jumat, 06 November 2009
Selalu Ada Masanya
Ingatkah dirimu
Saat hati-hati kita saling memunggungi ?
Bukan !
Bukan karena tak ada lagi saling cinta
Bahkan sesungguhnya kita saling memeluk rindu
Satu sama lain
Tahukah dirimu
Itu hanyalah bagian dari pelajaran cinta dan rindu kita?
Bahwa semua ada masanya
Ada saatnya kita harus menengok ke belakang
Sekedar menatap kembali jejak-jejak langkah
yang telah kita lalui
Tak ada episode cinta yang selalu merona
Pun tak ada episode rindu yang selalu membiru
Kadang kita butuh sedikit angin yang bertiup agak kencang
Agar bisa kembali saling bergandeng erat
Satu sama lain
Dan memang selalu begitu
Pelajaran cinta dan rindu tak selamanya datar
Pelajaran ini selalu dilengkapi dengan kejutan-kejutan
Yang kadang bahkan
tak pernah kita duga sebelumnya
Menara Jamsostek 06/11/2009 16:40
Saat hati-hati kita saling memunggungi ?
Bukan !
Bukan karena tak ada lagi saling cinta
Bahkan sesungguhnya kita saling memeluk rindu
Satu sama lain
Tahukah dirimu
Itu hanyalah bagian dari pelajaran cinta dan rindu kita?
Bahwa semua ada masanya
Ada saatnya kita harus menengok ke belakang
Sekedar menatap kembali jejak-jejak langkah
yang telah kita lalui
Tak ada episode cinta yang selalu merona
Pun tak ada episode rindu yang selalu membiru
Kadang kita butuh sedikit angin yang bertiup agak kencang
Agar bisa kembali saling bergandeng erat
Satu sama lain
Dan memang selalu begitu
Pelajaran cinta dan rindu tak selamanya datar
Pelajaran ini selalu dilengkapi dengan kejutan-kejutan
Yang kadang bahkan
tak pernah kita duga sebelumnya
Menara Jamsostek 06/11/2009 16:40
Langganan:
Postingan (Atom)