Saya ini kader yang diparkir !!
Entah mengapa kali ini saya ingin berbicara lain dari biasanya. Biasanya saya paling enjoy menulis tentang kehidupan keluarga, anal-anak, atau hal-hal ringan dalam seputar harmonisasi keluarga. Tapi hari ini saya agak galau. Hari ini saya ingin menasehati diri saya sendiri secara khusus. Ada banyak momentum dan rentetan kejadian belakangan ini yang terus-menerus menggerus nalar sekaligus maknawiyah kita semua.
Dalam perbincangan dengan beberapa ikhwah selepas kami bersilaturahim ke seorang ustadz kami, ada satu istilah yang kemudian menjadi bahan renungan saya berikutnya. “Ana ini sekarang menjadi kader yang diparkir” begitu ucapan ikhwah yang dikutip salah seorang di antara kami. Kosa kata “Kader yang Diparkir” ini beberapa kali menjadi bahan diskusi kami. Menarik karena ini sangat berkaitan dengan kami.
Ini adalah cerita tentang seorang yang “tak lagi dipakai” di dalam struktur sebuah organisasi formal karena tuntutan pengkaderan dan keniscayaan konsep “nudawiluha”, dipergilirkannya suatu amanah kepada kader-kader lain dalam rangka proses pembelajaran. Dahulu dia selalu “dipakai” untuk menduduki suatu pos dalam organisasi itu. Seiring dengan berjalannya waktu, tiba saatnya dia harus digantikan oleh generasi berikutnya untuk keperluan dua hal tadi di atas.
Biasanya, akan ada pos lain di wajihah atau organisasi lain yang bisa menampung kapasitas dan kapabilitas dia. Bisa saja dinaikkan ke tingkat struktur yang lebih tinggi. Atau di wajihah lain yang bisa jadi sama sekali tidak berhubungan secara struktur sebelumnya. Tapi ini tidak selalu. Ada saatnya dia benar-benar free dari jabatan yang sifatnya formal tersebut. Karena itulah muncul istilah ungkapan tadi, “Ana ini sekarang menjadi kader yang diparkir.”
Belajar dari burung hud-hud
Suatu waktu, dalam pertemuan majelisnya Nabi Sulaiman merasa kehilangan salah satu anggotanya : “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir?” tanyanya kepada anggota yang hadir. Bahkan dia pun kemudian mempersiapkan hukuman bagi hud-hud jika kehadirannya bukan karena alasan yang jelas dan kuat. Semua yang hadir serasa kecut, kawatir hukuman apa yang akan diterima burung hud-hud nantinya.
Maka sesaat kemudian setelah hud-hud datang, seakan semua menjadi hening. Senyap. Menunggu apa yang akan dilakukan Sulaman. Tidak menunggu waktu, hud-hud segera menyampaikan alasan keterlambatannya. "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini.” Begitu pembelaan hud-hud. Maka Sulaiman yang awalnya hendak marah pun melunak. Mulailah dialog dakwah itu, yang kemudian disusunlah skenario untuk membuat beriman negeri Saba’ itu.
Ini cerita tentang hud-hud. Yang dalam perjalanannya menuju majelis Sulaiman, dia menemukan aktifitas satu kaum yang menggelitik nalurinya sebagi jundi Sulaiman. Dia merasa ini bagian dari hal yang harus dia lakukan. Mungkin Sulaiman tidak pernah menerjemahkan secara detail standar operasional sebagai jundi. Tapi dengan naluri jundinya itu, hud-hud telah melakukan kerja besar yang kemudian diabadikannya Al Qur’an. Bahkan kemudian Negeri Saba’ pun menjadi negeri yang penduduknya beriman dan tunduk kepada dakwah Sulaiman.
Dinamis, kreatif dan inovatif
Salah satu muwashofat profil kader yang pernah dilaunching beberapa tahun lalu, adalah kader yang mempunyai sifat dinamis, kreatif dan inovatif. Terjemah singkat dari profil ini adalah bahwa dakwah ini diharapkan bisa mempersiapkan dan memunculkan kader-kader yang senantiasa mempunyai sikap yakin dan berusaha untuk menemukan cara-cara baru yang lebih baik untuk mengerjakan apa saja demi kepentingan dakwah ini.
Kita bisa belajar dari seekor burung yang bernama hud-hud itu. Kreatifitasnya, telah menuntunnnya untuk berhenti sejenak di negeri Saba’ dalam perjalannya menuju majelis Sulaiman. Berhentinya dia adalah untuk mendalami dan mempelajari perilaku negeri itu. Dia tidak takut akan dihukum oleh Sulaiman yang dikenal tegas. Dia mungkin tak pernah berpikir kelelahan yang menusuk tubuhnya dalam panjang perjalanan itu.
Diparkir atau di Parkiran?
Diparkir atau di parkiran? Ini dua kata yang berbeda. Diparkir, adalah kata kerja pasif. Sedangkan di Parkiran, ini kata yang menunjukkan tempat atau lokasi. Tapi setidaknya akar katanya sama, parkir. Parkir itu artinya berhenti, tidak bergerak, dan tidak dinamis dalam waktu yang relatif lama. Sesuatu yang diparkir berarti identik dengan sesuatu yang “dibuat” tidak bergerak dalam waktu yang tidak tertentu. Sebagai catatan ini, berasal dari obyek yang pasif. Obyek yang diparkir tadi untuk bisa bergerak lagi, sangat tergantung dari yang sesuatu yang memarkirnya.
Sedang kata “di parkiran” menunjukkan sebuah obyek yang berada di lokasi parkir. Tidak selalu dia berupa obyek yang pasif. Bisa jadi dia memang sengaja menempatkan dirinya di lokasi parkir. Barangkali ia sedang ingin pasif. Mugkin dia sedang tidak ingin bergerak. Atau bisa juga dia obyek yang sedang ingin istirahat sejenak saja. Ada banyak kemungkinan di sana.
Saatnya kita memilih bukan?
Jika memang kita disuruh memilih, semestinya kita kebih memilih menjadi kader yang dinamis. Teruslah bergerak dan berhentilah hanya secukupnya dalam rangka mengisi bahan bakar dan mengatur kembali langkah-langkah kita. Berhenti sesaat diperlukan, tapi jika kita sengaja memarkir diri, tidak tahu kapan kita akan bergerak lagi, maka tunggulah mesin ruhani di jiwa akan ikut melemah mendingin.
Apatah lagi menjadi kader yang diparkir. Daya kreatifitas dan innovatifitas kita harus senantiasa terasah. Tak ada alasan untuk menjadi kader yang diparkir. Ada banyak lahan dakwah yang menunggu sentuhan kita. Ada banyak peluang dakwah yang dapat kita ciptakan tanpa harus kita menduduki posisi-posisi yang prestisius di mata kader. Banyak ikhwah yang berdakwah di sudut-sudut sepi, yang jauh dari hiruk-pikuk popularitas, yang juga menopang dakwah ini.
Maka jika ditawarkan : Mau jadi kader yang diparkir atau di parkiran? Katakanlah : No Way!! Bismillah..
Dinamis, kreatif dan innovatif :
a. Aspek kecerdasan emosional :
1. Hasrat; untuk mengubah hal-hal di sekelilingnya menjadi lebih baik
2. Kepekaan; bersikap terbuka dan tanggap terhadap sesuatu
3. Minat; untuk menggali lebih dalam dari yang tampak di permukaan
4. Rasa ingin tahu; semangat yang tak pernah berhenti untuk mempertanyakan
5. Mendalam dalam berpikir; sikap yang mengarahkan untuk pemahaman lebih mendalam
6. Konsentrasi; mampu menekuni suatu permasalahan hingga menguasai seluruh bagiannya
7. Optimisme; memiliki rasa antusias (kegairahan) ketika memecahkan suatu masalah
8. Tertantang oleh kemajemukan; tertarik pada situasi dan masalah yang rumit dan kompleks
9. Bersifat menghargai; menghargai kritik, bimbingan orang lain, juga menghargai kemampuan dan bakat sendiri
10. Tidak mudah puas; selalu ingin menguji jawaban dan alternatif yang telah dibuat, selalu ingin mencari yang baru dan yang lebih baik, ingin selalu mencari terobosan untuk efektivitas dan efisiensi
11. Siap mencoba dan melaksanakan; bersedia mencurahkan waktu dan tenaga untuk mencari dan mengembangkan suatu metode
12. Kesabaran; ketahanan mental dalam memecahkan masalah
13. Mampu bekerjasama; sanggup berpikir secara produktif bersama orang lain
14. Menghargai humor; mempunya “a good sense of humor”
b. Aspek kecerdasan intelektual :
1. Berpikir lancar; mengajukan banyak pertanyaan, jawaban dan gagasan
2. Berpikir luwes; menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan yang berangkat dari fleksibilitas konsep dan sudut pandang yang berbeda
3. Berpikir orisinal; mampu melahirkan ungkapan, gagasan baru yang unik, yang tidak lazim dipikirkan orang
4. Mengevaluasi; kemampuan membuat patokan penilaian dan mampu mengambil keputusan pada situasi yang ada
5. Kritis; kemampuan untuk mempertanyakan berbagai hal dari sudut pandang
6. Imajinatif; membayangkan berbagai hal yang belum pernah terjadi atau belum terpikirkan sebelumnya.
7. Mendeteksi; mempelajari serta merasakan berbagai kejanggalan yang terjadi
8. Melakukan verifikasi atau pengelompokan; memilah-milah kejanggalan-kejanggalan berdasarkan jenisnya.
9. Melakukan analisis; menguraikan sebab-sebab atau segala sesuatu yang berkenaan dengan kejanggalan-kejanggalan yang ditemukan
10. Melakukan sintesis; kemampuan menghubungkan berbagai hal atau kemungkinan sebahgai langkah lanjut dari analisis
"Hidup ini seperti aliran air yang akan menuju ke muaranya. Maka jernihkan alirannya..."
Senin, 05 April 2010
Kamis, 04 Maret 2010
Mengapa Tidak Secerdik Siput
Suatu ketika ada seekor siput yang mencoba naik ke atas pohon. Niatnya mau mengambil buah atau sekadar melihat keindahan bunga. Sepintas tentu kita berpikir tidak ada yang aneh dengan perilaku siput ini.
Namun, masalahnya kali ini siput itu naik menuju puncak saat pohon itu belum berbuah dan belum berbunga karena saat itu sedang musim gugur. Maka sangatlah wajar kalau siput ini mendapat cemoohan dari binatang-binatang lain yang ada di sekitarnya.
"Mau apa kamu hari gini naik ke atas pohon? Apa kamu sudah hilang akal?" Celetukan kelinci tersebut memang beralasan karena pada musim gugur, seluruh pohon dalam keadaan gundul. Jangankan buah atau bunga, daun-daunnya pun berguguran. Yang tertinggal hanyalah dahan-dahan pohon yang meranggas.
“Aku tahu, hari ini pohon belum menghasilkan buah atau bunga setangkai pun. Namun, aku yakin ketika aku sampai di atas, pohon sudah menghasilkan banyak buah dan bunga," jawab siput dengan tenangnya. Kemudian siput itu kembali merayap meneruskan perjalanan panjangnya menuju puncak pohon.
Ibrah yang bisa diambil
Mungkin bagi sebagian orang, cerita ini hanya rekaan saja. Tidak ada nilainya apa-apa. Tapi kawan, mari kita sejenak merenungkannya dan mari kita coba gali, hikmah seperti apa yang bisa saja terkandung dari cerita rekaan di atas.
Siput, kita tahu adalah binatang yang bergerak lambat. Apalagi bagi kita yang terbiasa berkendaraan di atas 60 KM/jam, maka itu menjadi sangat lambat sekali tentunya. Untuk jarak 10 M saja dia mungkin butuh waktu lebih dari 10 menit. Hampir pasti setiap kita mendengar kata siput, maka yang ada di benak kita pertama kali adalah bahwa ia binatang yang lamban.
Kawan, orang terkadang tidak sabar ketika berhadapan dengan orang yang lambat. Seperti siput itu, meski dicekik sekalipun, tidak tidak akan mungkin bisa bergerak secepat kucing apalagi panther. Tapi siput dalam kisah di atas menunjukkan kecerdikannya dan kesungguhannya.
Dia tahu dan sadar betul apa kelebihan dan kekurangannya. Dia juga mengetahui bagaimana cara menutupi kekurangannya. Ketika dia paham bahwa ia "dikarunia" gerak yang lambat, maka itu berarti dia harus "mencuri start" dalam bertindak. Tidak mungkin dia bisa bersaing dengan binatang-binatang lain dalam hal kecepatan gerak, jika dia memulai bersama mereka.
Kesadaran dan penerimaan diri
Pertama, ini adalah kisah tentang kesadaran dan penerimaan diri. Setiap orang punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Maka yang diperlukan pertama kali adalah kesadaran akan dirinya tersebut sekaligus penerimaan. Jangan pernah kita merasa rendah dengan kemampuan tertentu yang tidak kita punyai, karena kita masih bisa menggali kemampuan yang lain yang ada dalam diri kita.
Boleh jadi kita tidak pandai merangkai kata dalam berpidato atau berceramah, tapi tidak mustahil kita justru mempunyai kemampuan lebih dalam hal menulis. Boleh jadi kita lemah dalam sisi matematis tapi sangat mungkin kita bisa menemukan kehalusan sentuhan kita dalam hal seni. Intinya adalah, jangan pernah kita merasa lelah untuk menggali potensi diri kita.
Kesabaran dan kecerdikan
Yang kedua, ini juga cerita tentang kesabaran dan kecerdikan membaca peluang. Siput memiliki kesabaran dalam menerima kondisinya. Di sisi lain dia bisa mengakali keadaanya dengan kecerdikannya. Dia telah berhitung bahwa dengan dia mencuri start terlebih dahulu di saat binatang lain bahkan belum sempat memikirkannya, maka dia bisa sampai di puncak pohon di saat pohon sudah berbuah dan musim telah berganti menjadi semi.
Begitulah, dengan kesabaran dalam menerima kondisi yang dimiliki dan kecerdasan yang dimiliki itulah, seseorang akan bisa menuju puncak di saat yang tepat. Kelebihan dan kelemahan manusia tidak akan pernah sama. Selalu berbeda-beda. Maka usaha yang ditempuh untuk mencapai puncak kehidupan pun bisa berbeda-beda.
Peluang dan kemampuan
Kata kuncinya ada pada kata "PELUANG" dan "KEMAMPUAN". Sejauh mana seseorang bisa mempertemukan sekaligus memadukan antara peluang yang ada di hadapannya dengan kemampuan yang dipunyainya, maka yakinlah ia akan bisa mencapai puncak kehidupannya dengan selamat.
Dalam kaitannya dengan dunia dakwah, korelasi dengan bahasan di atas maka kita bisa memulainya dengan menggali semangat dari Qur’an Surat Al Anfal ayat ke-60 :
• • •
“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”
Di sini secara terang dan jelas Allah telah memerintahkan kita untuk senantiasa mempersiapkan kekuatan apa saja yang kita sanggupi dan kita punyai, untuk menggetarkan musuh-musuh Allah. Yang Allah sebut adalah “Maa istatho’tum min quwwah”, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Dengan kata lain, potensi dan kemampuan apapun yang kamu punyai, maka persiapkanlah untuk dakwah ini. Untuk menggetarkan musuh-musuh dakwah ini.
Oleh karena itu, semestinya bagi seorang ikhwah tidak ada lagi istilah bahwa ia tidak mampu untuk memulai dakwah ‘hanya’ karena ia merasa tidak mempunyai kemampuan untuk itu. Bahwa ia merasa mempunyai banyak keterbatasan-keterbatasan di sana. Mari mengingat kembali kisah siput di atas, kelemahan dan keterbatasan yang ia punyai mampu ia tuntaskan dengan kecerdikannya membaca peluang, bukan?
Nahnu du’at qabla kulli syai’in
Nahnu du’at qabla kulli syai’in. Kita adalah da’i sebelum segala status yang melekat dalam diri kita. Status da’i kita, melekat dalam diri kita sebelum status-status yang lain kita sematkan dalam diri kita. Maka sebagai seorang PNS, kita adalah da’i yang PNS. Potensi apa pun yang kita punyai, kesanggupan apa pun yang kita miliki, maka sudah semestinya kita gunakan dan kita arahkan untuk menopang dakwah ini.
Ketika kita bernafas, maka mari kita bernafas bersama dakwah ini. Saat kita berjalan, mari kita tetap berjalan bersama dakwah ini. Saat kita berlari, maka teruslah berlari bersama dakwah ini. Sampai saatnya kita harus berhenti pun, maka berhentilah dalam rangka membela dakwah ini.
Allahu a’lam bish-shawab.
Finished @ pancoran : 03/03/2010:21.50. Great thank for Fita
Namun, masalahnya kali ini siput itu naik menuju puncak saat pohon itu belum berbuah dan belum berbunga karena saat itu sedang musim gugur. Maka sangatlah wajar kalau siput ini mendapat cemoohan dari binatang-binatang lain yang ada di sekitarnya.
"Mau apa kamu hari gini naik ke atas pohon? Apa kamu sudah hilang akal?" Celetukan kelinci tersebut memang beralasan karena pada musim gugur, seluruh pohon dalam keadaan gundul. Jangankan buah atau bunga, daun-daunnya pun berguguran. Yang tertinggal hanyalah dahan-dahan pohon yang meranggas.
“Aku tahu, hari ini pohon belum menghasilkan buah atau bunga setangkai pun. Namun, aku yakin ketika aku sampai di atas, pohon sudah menghasilkan banyak buah dan bunga," jawab siput dengan tenangnya. Kemudian siput itu kembali merayap meneruskan perjalanan panjangnya menuju puncak pohon.
Ibrah yang bisa diambil
Mungkin bagi sebagian orang, cerita ini hanya rekaan saja. Tidak ada nilainya apa-apa. Tapi kawan, mari kita sejenak merenungkannya dan mari kita coba gali, hikmah seperti apa yang bisa saja terkandung dari cerita rekaan di atas.
Siput, kita tahu adalah binatang yang bergerak lambat. Apalagi bagi kita yang terbiasa berkendaraan di atas 60 KM/jam, maka itu menjadi sangat lambat sekali tentunya. Untuk jarak 10 M saja dia mungkin butuh waktu lebih dari 10 menit. Hampir pasti setiap kita mendengar kata siput, maka yang ada di benak kita pertama kali adalah bahwa ia binatang yang lamban.
Kawan, orang terkadang tidak sabar ketika berhadapan dengan orang yang lambat. Seperti siput itu, meski dicekik sekalipun, tidak tidak akan mungkin bisa bergerak secepat kucing apalagi panther. Tapi siput dalam kisah di atas menunjukkan kecerdikannya dan kesungguhannya.
Dia tahu dan sadar betul apa kelebihan dan kekurangannya. Dia juga mengetahui bagaimana cara menutupi kekurangannya. Ketika dia paham bahwa ia "dikarunia" gerak yang lambat, maka itu berarti dia harus "mencuri start" dalam bertindak. Tidak mungkin dia bisa bersaing dengan binatang-binatang lain dalam hal kecepatan gerak, jika dia memulai bersama mereka.
Kesadaran dan penerimaan diri
Pertama, ini adalah kisah tentang kesadaran dan penerimaan diri. Setiap orang punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Maka yang diperlukan pertama kali adalah kesadaran akan dirinya tersebut sekaligus penerimaan. Jangan pernah kita merasa rendah dengan kemampuan tertentu yang tidak kita punyai, karena kita masih bisa menggali kemampuan yang lain yang ada dalam diri kita.
Boleh jadi kita tidak pandai merangkai kata dalam berpidato atau berceramah, tapi tidak mustahil kita justru mempunyai kemampuan lebih dalam hal menulis. Boleh jadi kita lemah dalam sisi matematis tapi sangat mungkin kita bisa menemukan kehalusan sentuhan kita dalam hal seni. Intinya adalah, jangan pernah kita merasa lelah untuk menggali potensi diri kita.
Kesabaran dan kecerdikan
Yang kedua, ini juga cerita tentang kesabaran dan kecerdikan membaca peluang. Siput memiliki kesabaran dalam menerima kondisinya. Di sisi lain dia bisa mengakali keadaanya dengan kecerdikannya. Dia telah berhitung bahwa dengan dia mencuri start terlebih dahulu di saat binatang lain bahkan belum sempat memikirkannya, maka dia bisa sampai di puncak pohon di saat pohon sudah berbuah dan musim telah berganti menjadi semi.
Begitulah, dengan kesabaran dalam menerima kondisi yang dimiliki dan kecerdasan yang dimiliki itulah, seseorang akan bisa menuju puncak di saat yang tepat. Kelebihan dan kelemahan manusia tidak akan pernah sama. Selalu berbeda-beda. Maka usaha yang ditempuh untuk mencapai puncak kehidupan pun bisa berbeda-beda.
Peluang dan kemampuan
Kata kuncinya ada pada kata "PELUANG" dan "KEMAMPUAN". Sejauh mana seseorang bisa mempertemukan sekaligus memadukan antara peluang yang ada di hadapannya dengan kemampuan yang dipunyainya, maka yakinlah ia akan bisa mencapai puncak kehidupannya dengan selamat.
Dalam kaitannya dengan dunia dakwah, korelasi dengan bahasan di atas maka kita bisa memulainya dengan menggali semangat dari Qur’an Surat Al Anfal ayat ke-60 :
• • •
“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”
Di sini secara terang dan jelas Allah telah memerintahkan kita untuk senantiasa mempersiapkan kekuatan apa saja yang kita sanggupi dan kita punyai, untuk menggetarkan musuh-musuh Allah. Yang Allah sebut adalah “Maa istatho’tum min quwwah”, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Dengan kata lain, potensi dan kemampuan apapun yang kamu punyai, maka persiapkanlah untuk dakwah ini. Untuk menggetarkan musuh-musuh dakwah ini.
Oleh karena itu, semestinya bagi seorang ikhwah tidak ada lagi istilah bahwa ia tidak mampu untuk memulai dakwah ‘hanya’ karena ia merasa tidak mempunyai kemampuan untuk itu. Bahwa ia merasa mempunyai banyak keterbatasan-keterbatasan di sana. Mari mengingat kembali kisah siput di atas, kelemahan dan keterbatasan yang ia punyai mampu ia tuntaskan dengan kecerdikannya membaca peluang, bukan?
Nahnu du’at qabla kulli syai’in
Nahnu du’at qabla kulli syai’in. Kita adalah da’i sebelum segala status yang melekat dalam diri kita. Status da’i kita, melekat dalam diri kita sebelum status-status yang lain kita sematkan dalam diri kita. Maka sebagai seorang PNS, kita adalah da’i yang PNS. Potensi apa pun yang kita punyai, kesanggupan apa pun yang kita miliki, maka sudah semestinya kita gunakan dan kita arahkan untuk menopang dakwah ini.
Ketika kita bernafas, maka mari kita bernafas bersama dakwah ini. Saat kita berjalan, mari kita tetap berjalan bersama dakwah ini. Saat kita berlari, maka teruslah berlari bersama dakwah ini. Sampai saatnya kita harus berhenti pun, maka berhentilah dalam rangka membela dakwah ini.
Allahu a’lam bish-shawab.
Finished @ pancoran : 03/03/2010:21.50. Great thank for Fita
Rabu, 30 Desember 2009
Membuat Skoliosis Lebih Simetris
(TEMPO Interaktif) Punggung Michele tampak tidak simetris. Pinggang kiri dan kanannya tidak sama alias tinggi sebelah. Kondisi ini diketahui ibunya, Tjahyadi, saat gadis 11 tahun itu mengenakan baju renang. Pada April 2008, dokter mendiagnosis Michele menderita skoliosis, yaitu gejala kelainan bentuk tulang belakang.
Saat itu didapati bagian belikat tulang belakangnya menonjol, dan kemiringannya mencapai 40 derajat. Dari beberapa literatur, kurva kemiringan melebihi 40 derajat termasuk kategori berat. Michele bisa terancam mengalami gangguan saraf, irama jantung, hingga kelumpuhan. Ancaman itu akibat dari jarak antara tulang dada dan tulang belakang yang makin mendekat, sehingga ruang paru-paru di antara dua tulang vital itu menjadi menyempit.
Dengan kurva sedemikian miring, tindakan yang harus diambil adalah melakukan operasi. Demikian menurut konsultan ortopedi tulang belakang Rumah Sakit Internasional Bintaro, Dr Luthfi Gatam, SpOT, Spine Surgeon (K). "Jika kurva kurang dari 20 derajat, tidak perlu dioperasi," ujar Luthfi beberapa bulan lalu di RS Internasional Bintaro, Tangerang.
Waktu itu, dokter yang menangani Michele memang tidak mengambil tindakan operasi. Tapi dia mewajibkan Michele memakai baju penopang berupa cetakan berbentuk tubuh. Baju itu terbuat dari plastik, dan dilengkapi dengan tali serta besi. Tujuannya adalah agar kemiringan tubuh si pasien tidak bertambah. Konon, baju ini beratnya mencapai 6 kilogram dan harganya mencapai belasan juta rupiah.
Baju itu tentu membuat Michele tidak nyaman. Dia harus memakai baju penopang yang cukup berat itu saban hari. Apalagi baju khusus itu juga harus dipakai pada waktu tidur. Namun demi kesembuhan, Michele terus bertahan memakai baju penopang tubuh itu.
Dalam perjalanannya, selain diobati secara medis, Michele ditangani oleh seorang yi seng. Yi seng adalah sebutan untuk ahli pengobatan tradisional Cina. Menurut Nelly Suhirman, pemilik Traditional Medicine & Health Centre, Tung Mei Massage, di Jakarta, yi seng ini mempelajari secara akademik setingkat universitas khusus tulang dan saraf di negeri Cina daratan.
Tung Mei Massage sendiri adalah terapi jasmani perpaduan antara gerakan pijat spesifik anmo massage dan sejenis teknik gerakan chiropatic, seperti menekuk, menarik, serta meregangkan tubuh. Terapi ini tetap memakai panduan medis, seperti hasil roentgen dari penderita skoliosis. "Banyak pasien di sini yang mengkombinasikannya," ujar Nelly saat ditemui di Jakarta pekan lalu.
Selanjutnya, pasien diterapi secara manual menggunakan jari atau lengan di titik-titik sumber penyakit selama 50 menit. Yi seng akan mencari titik-titik sumber penyakit dan menekan titik-titik itu. Selama proses pemijatan, pasien memakai baju dan celana longgar.
Menurut Nelly, pasien disarankan menjalani terapi itu hingga sepuluh kali dengan frekuensi dua kali per pekan. Uniknya, setelah menjalani terapi, pasien tidak dibekali obat-obatan. Pasien juga tidak diminta berpantang makanan apa pun. "Sekali terapi, pasien dikenai biaya Rp 300 ribu," Nelly memberi tahu.
Dalam kasus Michele, bagian tulang belikat yang menonjol didapati sudah semakin rendah--saat memasuki terapi yang ketiga. Malah baju penopang dari besi itu sudah sedikit longgar. Di klinik ini, menurut Nelly, kebanyakan pasiennya adalah remaja perempuan. Pada kebanyakan kasus, penyebab dari skoliosis tidak diketahui atau disebut juga idiopathic.
Selain mengatasi skoliosis, Nelly menambahkan, terapi ini bisa mengatasi keluhan nyeri pinggang akibat terjepitnya urat-urat saraf yang melalui tulang belakang--atau dalam istilah medis disebut juga herniated nucleus pulposus.
Agar Tak Kembali Bengkok
1. Bila bangun dari posisi berbaring, dianjurkan memiringkan tubuh terlebih dulu, barulah bangkit perlahan.
2. Tidak boleh membungkukkan badan.
3. Jika membungkukkan badan, posisi tubuh harus jongkok--bila ingin mengambil sesuatu.
4. Tidak boleh mengangkat barang atau beban berat selama menjalani terapi, terutama bila masih ada rasa sakit.
5. Saat kondisi sudah membaik, bukan berarti bisa beraktivitas sembarangan.
6. Herniated nucleus pulposus dan skoliosis tidak bisa sembuh total serta ada risiko terulang lagi bila ada faktor pemicunya, seperti jatuh, mengangkat beban terlalu berat, atau salah melakukan gerakan tubuh.
(sumber : koran tempo edisi Rabu, 30 Desember 2009)
Saat itu didapati bagian belikat tulang belakangnya menonjol, dan kemiringannya mencapai 40 derajat. Dari beberapa literatur, kurva kemiringan melebihi 40 derajat termasuk kategori berat. Michele bisa terancam mengalami gangguan saraf, irama jantung, hingga kelumpuhan. Ancaman itu akibat dari jarak antara tulang dada dan tulang belakang yang makin mendekat, sehingga ruang paru-paru di antara dua tulang vital itu menjadi menyempit.
Dengan kurva sedemikian miring, tindakan yang harus diambil adalah melakukan operasi. Demikian menurut konsultan ortopedi tulang belakang Rumah Sakit Internasional Bintaro, Dr Luthfi Gatam, SpOT, Spine Surgeon (K). "Jika kurva kurang dari 20 derajat, tidak perlu dioperasi," ujar Luthfi beberapa bulan lalu di RS Internasional Bintaro, Tangerang.
Waktu itu, dokter yang menangani Michele memang tidak mengambil tindakan operasi. Tapi dia mewajibkan Michele memakai baju penopang berupa cetakan berbentuk tubuh. Baju itu terbuat dari plastik, dan dilengkapi dengan tali serta besi. Tujuannya adalah agar kemiringan tubuh si pasien tidak bertambah. Konon, baju ini beratnya mencapai 6 kilogram dan harganya mencapai belasan juta rupiah.
Baju itu tentu membuat Michele tidak nyaman. Dia harus memakai baju penopang yang cukup berat itu saban hari. Apalagi baju khusus itu juga harus dipakai pada waktu tidur. Namun demi kesembuhan, Michele terus bertahan memakai baju penopang tubuh itu.
Dalam perjalanannya, selain diobati secara medis, Michele ditangani oleh seorang yi seng. Yi seng adalah sebutan untuk ahli pengobatan tradisional Cina. Menurut Nelly Suhirman, pemilik Traditional Medicine & Health Centre, Tung Mei Massage, di Jakarta, yi seng ini mempelajari secara akademik setingkat universitas khusus tulang dan saraf di negeri Cina daratan.
Tung Mei Massage sendiri adalah terapi jasmani perpaduan antara gerakan pijat spesifik anmo massage dan sejenis teknik gerakan chiropatic, seperti menekuk, menarik, serta meregangkan tubuh. Terapi ini tetap memakai panduan medis, seperti hasil roentgen dari penderita skoliosis. "Banyak pasien di sini yang mengkombinasikannya," ujar Nelly saat ditemui di Jakarta pekan lalu.
Selanjutnya, pasien diterapi secara manual menggunakan jari atau lengan di titik-titik sumber penyakit selama 50 menit. Yi seng akan mencari titik-titik sumber penyakit dan menekan titik-titik itu. Selama proses pemijatan, pasien memakai baju dan celana longgar.
Menurut Nelly, pasien disarankan menjalani terapi itu hingga sepuluh kali dengan frekuensi dua kali per pekan. Uniknya, setelah menjalani terapi, pasien tidak dibekali obat-obatan. Pasien juga tidak diminta berpantang makanan apa pun. "Sekali terapi, pasien dikenai biaya Rp 300 ribu," Nelly memberi tahu.
Dalam kasus Michele, bagian tulang belikat yang menonjol didapati sudah semakin rendah--saat memasuki terapi yang ketiga. Malah baju penopang dari besi itu sudah sedikit longgar. Di klinik ini, menurut Nelly, kebanyakan pasiennya adalah remaja perempuan. Pada kebanyakan kasus, penyebab dari skoliosis tidak diketahui atau disebut juga idiopathic.
Selain mengatasi skoliosis, Nelly menambahkan, terapi ini bisa mengatasi keluhan nyeri pinggang akibat terjepitnya urat-urat saraf yang melalui tulang belakang--atau dalam istilah medis disebut juga herniated nucleus pulposus.
Agar Tak Kembali Bengkok
1. Bila bangun dari posisi berbaring, dianjurkan memiringkan tubuh terlebih dulu, barulah bangkit perlahan.
2. Tidak boleh membungkukkan badan.
3. Jika membungkukkan badan, posisi tubuh harus jongkok--bila ingin mengambil sesuatu.
4. Tidak boleh mengangkat barang atau beban berat selama menjalani terapi, terutama bila masih ada rasa sakit.
5. Saat kondisi sudah membaik, bukan berarti bisa beraktivitas sembarangan.
6. Herniated nucleus pulposus dan skoliosis tidak bisa sembuh total serta ada risiko terulang lagi bila ada faktor pemicunya, seperti jatuh, mengangkat beban terlalu berat, atau salah melakukan gerakan tubuh.
(sumber : koran tempo edisi Rabu, 30 Desember 2009)
Rabu, 16 Desember 2009
SKOLIOSISKU : Jangan Menyerah

Sudah lama aku tidak melanjutkan cerita tentang hal yang satu ini. Mumpung ada pinjeman modem sehingga bisa untuk meng-upload gambar, berikut ini adalah gambaran tulang belakangku. Foto ini adalah gambaran di tahun 2006. Tiga tahun semenjak aku menyadari keskoliosisanku (2003).
Sampai sekarang aku belum melakukan langkah yang dramatis untuk kondisi skoliosiku ini, selain sekedar exercise yang dilakukan kalo pas pengin aja, plus memakai korset dalam kondisi-kondisi tertentu. Acara les renang yang sebenarnya sering aku agendakan belum pernah sekalipun bisa aku jalankan. Sulit mencari waktu yang pas alias sok sibuk (selain alasan karena aktifitas jarak jauh yang selama 3 tahun belakangan ini aku lakukan : Jogja-Jakarta).
Beberapa pekan kemaren (sampai hari ini masih sedikit terasa), sakit itu kambuh lagi. Masih bisa rukuk, tapi tak sempurna. Kaki harus sedikit menekuk. Seperti biasa juga, berawal dari ketidakdislipanku dalam menjaga aktifitasku. Sebuah aktifitas yang terlalu membebani tulang punggungku sering kali aku lakukan, sehingga seakan tulang punggungku melakukan protes kembali, menginganku !
Yup. Semua ini tak akan menghalangi aku untuk selalu berbuat terbaik. Selagi masih ada nafas di dada ini, sakit ini aku jadikana sebagai teman setia yang selalu menemaniku dalam setiap aktifitas keseharianku. InsyaAllah selalu ada hikmah dari setiap kejadian yang kita alami dan rasakan.
Tetap semangat kawan !
at lantai 26 gedung baru kpdjp. 16/12/2009 : 09.37
Selasa, 01 Desember 2009
Perbanyak saat-saat indah dalam kenangan mereka
Selepas Sholat Isya’ di masjid dekat kost, sesampai di kamar kulihat ada 2 panggilan tak terjawab di hp fleksiku. Begitu juga di hp simpatiku. “Ini pasti ada yang penting.” Pikirku. Kutelepon balik nomor itu. Sesaat nada telepon diangkat, segera kuucapkan salam. Seseorang menjawab salamku dengan nada tertahan. Terisak. Otakku langsung bekerja untuk mengidentifikasi pemilik suara ini. “Hallo, siapa ini? Zahra ya?” tanyaku. “Iya..” jawabnya setengah terisak. Ah, gadis kecilku rupanya. Ada apa gerangan dia sampai meneleponku 4 kali? ‘Ada apa sayang? Umi kemana?” aku mulai menelisiknya. “Gak apa-apa. Umi lagi ke masjid, pengajian.” Jawabnya masih dengan suara tertahan.
Aku paling tahu sifat gadis kecilku ini. “Tadi yang nelepon abi sampai 4 kali siapa?” desakku. “Aku.” Jawabnya singkat. “Jadi ada apa sayang? Kok menangis” tanyaku lagi. “Tidak ada apa-apa.” Lagi-lagi dia tidak menjawab. Tapi nada suaranya makin tergugu. Ah, anak kecil ini makin membuatku penasaran. Walau kadang sifat cengengnya ini membuatku sering kali kelabakan, tapi kali ini aku harus menenangkannya.
“Mas Ammar kemana?” tanyaku. “Ikut umi ke masjid” “Dik Ghifar?” tanyaku lagi. “Ikut umi juga.” “Terus Zahra di rumah sama mbah? Ngapain kok gak ikut umi?” desakku. “Iya. Lagi ngerjain PR.” Hmm.. Jawaban terakhir inilah yang kemudian menjadi kunci bagiku untuk menelisik kenapa gadis kecilku ini menangis. Aku segera tahu, pasti ada persoalan dengan PR nya. Yang aku hafal, jika ada kaitannya dengan pelajaran bahasa arab atau matematika, dia lebih suka bertanya kepadaku.
“Ada kesulitan? Apa yang tidak bisa, coba tanyakan ke abi, sayang.” Bujukku setengah merayu. Setelah itu, suaranya kudengar berangsur tenang. Tak ada lagi isak tertahan. Hingga akhirnya bisa aku dengarkan suaranya benar-benar jernih dan renyah kembali, seperti biasanya. “Jadi 975 dibagi 25 berapa, bi?” tanyanya. “Kamu masih ingat diagramnya tho? Mula-mula 97 dibagi 25 dulu, didapat angka 3. Terus 3 kali 25 ada 75 kan? Nah 97 tadi dikurangin 75, hasilnya 22. Terus angka 5 dari 975 tadi diturunkan, dapat angka 225. 225 dibagi 25 ada 9 tho? 9 kali 25 sama dengan 225. 225 dikurangin 225 sama dengan 0. Selesai deh. Jadi 975 dibagi 25 ada 39.” Aku jelaskan satu soal itu.
Alhamdulillah, Allah karuniai aku anak yang cerdas. Cukup satu itu aku jelaskan dan ingatkan kembali, soal-soal yang lainnya yang senada sudah bisa dia kerjakan sendiri. Dia juga sampaikan satu pertanyaan tentang pelajaran PKn, “Dah bi itu aja, ntar yang lainnya tak tanya mbah aja.” Katanya. Aku rasa dia hanya butuh perhatian. Di saat mengerjakan PR-nya, biasanya dia didampingi uminya. Tapi tadi uminya harus ke masjid karena ada pengajian rutin ibu-ibu. Sehingga sedikit kesulitan tadi telah membuatnya galau. Saat meneleponku berkali-kali dan terus-terusan missed call, makin membuatnya galau dan kemudian menangis.
Ini hanya cerita lain tentang tabiat gadis kecilku itu, di luar kegemarannya dalam membaca. “Dia paling mirip denganmu.” Kata istriku jika mengomentari sifat-sifat dan tabiat yang dia punyai. Ya, ketiga anak kami memang membawa sifat, tabiat dan karakter yang saling berlainan. Masing-masing membutuhkan sentuhan yang berlainan. Ada saatnya sifat-sifat mereka itu saling bertemu, tapi di lain waktu karakter dan tabiat itu seolah tak bisa disatukan. Hingga rumah kami laksana kapal pecah. Benar-benar berantakan.
Dunia anak memang dunia warna-warni. Inilah saat tepat memberikan mereka warna sesuai yang kita inginkan. Ketika kita terlewat dalam memaksimalkan peran kita dalam fase ini, maka bersiap-siaplah untuk menyesal. Fase ini tak mungkin bisa kita ulangi lagi, sebagaimana waktu dan umur kita jika telah berlalu maka dia hanya bisa kita kenang atau kita ratapi. Tak akan pernah bisa kita putar ulang kembali.
“Bi, gendong. Aku ngantuk” pinta si bungsu saat kami selesai dari pengajian idul adha malam itu. ‘Ntar kalo abi makin peyok gimana?” tanyaku. “Tapi aku ngantuk.” Akhirnya aku tak kuasa menolak permintaanya. Kapan lagi aku bisa menggendongnya, saat-saat seperti ini akan cepat berlalu, hingga tahu-tahu dia sudah besar nanti. Dan tentunya, aku makin tak akan mampu menggendongnya. Begitu yang aku pikirkan. Hingga setelah kira-kira setengah perjalanan sampai rumah, dia aku turunkan, “Dah ya, punggung abi dah mulai sakit.”
Perbanyak saat-saat indah dalam hidup mereka, anak-anak kita. Penuhi memori mereka dengan kenangan-kenangan indah, itu akan sangat membantunya saat mereka besar nanti. Aku yakin itu. “Mi, tadi malam abi nggendong ghifar.” Anak gadisku mengadukanku tentang kejadian itu. Istriku hanya bisa memandangku tak mengerti, seperti biasa ia tahu, aku selalu melanggar pantangan itu. “Lha dia ngantuk. Kasihan. Mumpung masih kecil.” Begitu pembelaanku.
Suatu saat, punggungku kambuh. Akhir pekanku bersama keluarga tidak maksimal. Biasanya hari sabtu aku antar jemput anak sekolah, dan ahadnya mengantar mereka les renang. Tapi itu tidak bisa aku lakukan. Hampir 2 hari itu aku hanya istirahat di rumah. Menjelang keberangkatanku kembali ke ibukota, saat kami makan bersama, istriku berpesan : “Baik-baik ya, jaga kesehatan.” “Iya, abi gak boleh sakit. Nanti gak bisa main sama anak-anak kalo sakit.” Sambung sulungku sambil makan. Deg! Aku dan istriku saling menatap. Haru.
Begitulah. Yang aku yakini, masa-masa kecil mereka sebentar lagi akan berlalu. Mereka akan cepat menjelma menjadi manusia dewasa. Oleh karena itu, aku tak boleh melewatkan saat-saat ini. Inilah masa-masa mereka masih sangat membutuhkan kami, orang tuanya. Bukan berarti setelah dewasa mereka tidak akan membutuhkan kami. Tapi aku yakin masa-masa itu akan menjadi masa yang rumit bagi mereka. Justru mereka akan makin membutuhkan kami. padahal dekat tidaknya mereka nanti dengan kami, harus kami bangun sedari mereka kecil inilah.
Kawan, semoga jauhnya jarak kita dengan anak-anak kita tak membuat mereka merasa jauh dari kita, orang tuanya. Semoga sedikit dan terbatasnya kedekatan fisik kita dengan mereka, justru membangun dan makin mempererat kedekatan psikis kita dengan mereka. Hanya kepada Allah lah, Sang Penjaga Hidup kita, kita memohon bimbingan dan arahannya agar bisa membesarkan dan mendidik anak-anak kita dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah senantisa memudahkan dan menyederhanakan segala urusan kita.
Pancoran, 30/11/2009 23.40
Aku paling tahu sifat gadis kecilku ini. “Tadi yang nelepon abi sampai 4 kali siapa?” desakku. “Aku.” Jawabnya singkat. “Jadi ada apa sayang? Kok menangis” tanyaku lagi. “Tidak ada apa-apa.” Lagi-lagi dia tidak menjawab. Tapi nada suaranya makin tergugu. Ah, anak kecil ini makin membuatku penasaran. Walau kadang sifat cengengnya ini membuatku sering kali kelabakan, tapi kali ini aku harus menenangkannya.
“Mas Ammar kemana?” tanyaku. “Ikut umi ke masjid” “Dik Ghifar?” tanyaku lagi. “Ikut umi juga.” “Terus Zahra di rumah sama mbah? Ngapain kok gak ikut umi?” desakku. “Iya. Lagi ngerjain PR.” Hmm.. Jawaban terakhir inilah yang kemudian menjadi kunci bagiku untuk menelisik kenapa gadis kecilku ini menangis. Aku segera tahu, pasti ada persoalan dengan PR nya. Yang aku hafal, jika ada kaitannya dengan pelajaran bahasa arab atau matematika, dia lebih suka bertanya kepadaku.
“Ada kesulitan? Apa yang tidak bisa, coba tanyakan ke abi, sayang.” Bujukku setengah merayu. Setelah itu, suaranya kudengar berangsur tenang. Tak ada lagi isak tertahan. Hingga akhirnya bisa aku dengarkan suaranya benar-benar jernih dan renyah kembali, seperti biasanya. “Jadi 975 dibagi 25 berapa, bi?” tanyanya. “Kamu masih ingat diagramnya tho? Mula-mula 97 dibagi 25 dulu, didapat angka 3. Terus 3 kali 25 ada 75 kan? Nah 97 tadi dikurangin 75, hasilnya 22. Terus angka 5 dari 975 tadi diturunkan, dapat angka 225. 225 dibagi 25 ada 9 tho? 9 kali 25 sama dengan 225. 225 dikurangin 225 sama dengan 0. Selesai deh. Jadi 975 dibagi 25 ada 39.” Aku jelaskan satu soal itu.
Alhamdulillah, Allah karuniai aku anak yang cerdas. Cukup satu itu aku jelaskan dan ingatkan kembali, soal-soal yang lainnya yang senada sudah bisa dia kerjakan sendiri. Dia juga sampaikan satu pertanyaan tentang pelajaran PKn, “Dah bi itu aja, ntar yang lainnya tak tanya mbah aja.” Katanya. Aku rasa dia hanya butuh perhatian. Di saat mengerjakan PR-nya, biasanya dia didampingi uminya. Tapi tadi uminya harus ke masjid karena ada pengajian rutin ibu-ibu. Sehingga sedikit kesulitan tadi telah membuatnya galau. Saat meneleponku berkali-kali dan terus-terusan missed call, makin membuatnya galau dan kemudian menangis.
Ini hanya cerita lain tentang tabiat gadis kecilku itu, di luar kegemarannya dalam membaca. “Dia paling mirip denganmu.” Kata istriku jika mengomentari sifat-sifat dan tabiat yang dia punyai. Ya, ketiga anak kami memang membawa sifat, tabiat dan karakter yang saling berlainan. Masing-masing membutuhkan sentuhan yang berlainan. Ada saatnya sifat-sifat mereka itu saling bertemu, tapi di lain waktu karakter dan tabiat itu seolah tak bisa disatukan. Hingga rumah kami laksana kapal pecah. Benar-benar berantakan.
Dunia anak memang dunia warna-warni. Inilah saat tepat memberikan mereka warna sesuai yang kita inginkan. Ketika kita terlewat dalam memaksimalkan peran kita dalam fase ini, maka bersiap-siaplah untuk menyesal. Fase ini tak mungkin bisa kita ulangi lagi, sebagaimana waktu dan umur kita jika telah berlalu maka dia hanya bisa kita kenang atau kita ratapi. Tak akan pernah bisa kita putar ulang kembali.
“Bi, gendong. Aku ngantuk” pinta si bungsu saat kami selesai dari pengajian idul adha malam itu. ‘Ntar kalo abi makin peyok gimana?” tanyaku. “Tapi aku ngantuk.” Akhirnya aku tak kuasa menolak permintaanya. Kapan lagi aku bisa menggendongnya, saat-saat seperti ini akan cepat berlalu, hingga tahu-tahu dia sudah besar nanti. Dan tentunya, aku makin tak akan mampu menggendongnya. Begitu yang aku pikirkan. Hingga setelah kira-kira setengah perjalanan sampai rumah, dia aku turunkan, “Dah ya, punggung abi dah mulai sakit.”
Perbanyak saat-saat indah dalam hidup mereka, anak-anak kita. Penuhi memori mereka dengan kenangan-kenangan indah, itu akan sangat membantunya saat mereka besar nanti. Aku yakin itu. “Mi, tadi malam abi nggendong ghifar.” Anak gadisku mengadukanku tentang kejadian itu. Istriku hanya bisa memandangku tak mengerti, seperti biasa ia tahu, aku selalu melanggar pantangan itu. “Lha dia ngantuk. Kasihan. Mumpung masih kecil.” Begitu pembelaanku.
Suatu saat, punggungku kambuh. Akhir pekanku bersama keluarga tidak maksimal. Biasanya hari sabtu aku antar jemput anak sekolah, dan ahadnya mengantar mereka les renang. Tapi itu tidak bisa aku lakukan. Hampir 2 hari itu aku hanya istirahat di rumah. Menjelang keberangkatanku kembali ke ibukota, saat kami makan bersama, istriku berpesan : “Baik-baik ya, jaga kesehatan.” “Iya, abi gak boleh sakit. Nanti gak bisa main sama anak-anak kalo sakit.” Sambung sulungku sambil makan. Deg! Aku dan istriku saling menatap. Haru.
Begitulah. Yang aku yakini, masa-masa kecil mereka sebentar lagi akan berlalu. Mereka akan cepat menjelma menjadi manusia dewasa. Oleh karena itu, aku tak boleh melewatkan saat-saat ini. Inilah masa-masa mereka masih sangat membutuhkan kami, orang tuanya. Bukan berarti setelah dewasa mereka tidak akan membutuhkan kami. Tapi aku yakin masa-masa itu akan menjadi masa yang rumit bagi mereka. Justru mereka akan makin membutuhkan kami. padahal dekat tidaknya mereka nanti dengan kami, harus kami bangun sedari mereka kecil inilah.
Kawan, semoga jauhnya jarak kita dengan anak-anak kita tak membuat mereka merasa jauh dari kita, orang tuanya. Semoga sedikit dan terbatasnya kedekatan fisik kita dengan mereka, justru membangun dan makin mempererat kedekatan psikis kita dengan mereka. Hanya kepada Allah lah, Sang Penjaga Hidup kita, kita memohon bimbingan dan arahannya agar bisa membesarkan dan mendidik anak-anak kita dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah senantisa memudahkan dan menyederhanakan segala urusan kita.
Pancoran, 30/11/2009 23.40
Langganan:
Postingan (Atom)