Saat dalam perjalanan kereta menuju jogja, Sabtu 21/5/2011 pagi kira-kira pukul 4.30 ada sahabat yang memberitahu via BBM bahwa salah satu ustadzah kami, Yoyoh Yusroh, telah Allah panggil pagi itu setelah terjadi kecelakaan di tol palimanan cirebon. Segera setelah itu seharian hari itu di BBM maupun di milis IKADI, berbagai perkembangan dan info terkait musibah itu terus-menerus update. Saya memang tidak pernah berinteraksi langsung dengan ustadzah satu ini, tapi saya hanya ingat dulu waktu ospek kampus STAN 2007, saya sempat memoderatori suami beliau (Ust. Budi Darmawan) dalam acara itu. Atau sekedar tahu dan mengenal anak-anak beliau yang kuliah di UGM. Atau sekedar menyaksikan dan mendengar suara lantang beliau yg berorasi saat ada aksi untuk Palestina beberapa waktu lalu di silang Monas.
Berita-berita dan informasi-informasi tentang beliau cukup bagi saya untuk menyimpulkan bahwa beliau adalah salah satu dari wanita-wanita hebat yang lahir dari rahim republik ini. Kesedihan saya teramat sangat saat membaca berita-berita seputar beliau yang terus menerus bermunculan. Terakhir, ijinkan saya untuk mengkopi-pastekan sambutan Ust. Hilmi A di hadapan para pentakziyah di masjid komplek rumah dinas DPR Kalibata. Semoga banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup beliau, ustadzah Yoyoh Yusroh. "Allahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wa'fuanha."
-----------------------
Sambutan Ust. Hilmi A
-----------------------
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un tsumma Innalillahi wa inna ilaihi raji’un tsumma Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Alhamdulillah wash sholatu was salamu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi wasohbihi wa ma walah.
Wa qolallahu azza wa jalla fi kitabihil aziz, a’udzubillahi minasy syaitanir rajim, wa likulli ummatin ajal, faidza ja-a ajaluhum la yasta’khiruna saah – wa la yastaqdimun.
wa qola: kullu nafsin dza-iqatul maut, wainnama tuwaffauna ujurakum yaumal qiyamah, fa man zuhziha ‘anin naari wa udkhilal jannata fa qad faza. Wa mal hayatud dunya illa mata’ul ghurur.
wa qola: minal mukminina rijalun shodaqu ma ‘ahadullaha alaihi, fa minhum man qadla nahbahu wa minhum man yantazhir, wa ma baddalu tabdilaa.
Shodaqollahu azhim
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah swt,
Saya diminta untuk mewakili keluarga besar almarhumah ustadzah Yoyoh Yusroh dan keluarga besar ayahanda beliau, ayahanda almarhumah, KH Abdushshomad (alm) dan Hj. Siti Aminah ibunda Yoyoh, begitu juga tiga belas anak-anaknya.
Pertama-tama untuk menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada hadirin-hadirat yang telah meluangkan waktu untuk bertakziyah dan mendoakan almarhumah. Mudah-mudahan doanya insya Allah diterima oleh Allah swt.
Jika sebagai manusia ada kekhilafan, ada kesalahan, ada kelalaian mohon dimaafkan. Begitu juga jika ada hutang-piutang yang tidak diketahui keluarga mohon disampaikan kepada pihak keluarga untuk diselesaikan dan atau kemudian jika tidak sempat menghubungi keluarga mudah-mudahan bisa meridhokan, bisa meridhokan sehingga tidak menjadi beban bagi almarhumah.
Hadrin dan hadirat yang dimuliakan Allah swt,
Selain mewakili keluarga besar almarhumah saya di sini juga mewakili keluarga besar jamaah Partai Keadilan Sejahtera yang pada hari ini merasa kehilangan kader terbaiknya, kader yang merintis dari awal pertumbuhan jamaah dakwah ini, gerakan dakwah ini. Dari awal tahun 80 beliau sudah bergabung dengan aktifitas dakwah ini, bergabung dengan penuh semangat wala’ wal intima', semangat loyalitas dan komitmen. Bergabung dalam gerakan dakwah ini dengan semangat tho’at wat tadlhiyyah. Seluruh hidupnya diwakafkan, diserahkan pada dakwah ini. Seluruh perjalanan hidupnya telah bergabung dengan dakwah ini secara totalitas, diberikan untuk dakwah ini. Dalam hal ini kita merasa kehilangan.
Sesungguhnya yang merasa kehilangan bukan hanya jamaah dakwah Partai Keadilan Sejahtera, bukan hanya bangsa Indonesia, tetapi saya sendiri dari sejak pagi menerima takziyah dari segenap penjuru dunia, dari negara-negara ASEAN, dari negara-negara Timur Tengah menyampaikan takziyah ini. Karena sekali lagi yang kehilangan bukan hanya jamaah dakwah Partai Keadilan Sejahtera, bukan hanya bumi pertiwi Indonesia, tapi ikut kehilangan juga Masjidil Aqsha dengan Baitul Maqdis-nya, seluruh mujahidin-mujahidah di Palestin sudah menyampaikan takziyahnya dan merasa kehilangan.
Bukan hanya bumi Indonesia yang kehilangan amarhumah bahkan bumi di mana terletak Masjidil Aqsha-pun merasa kehilangan, bumi para mujahidin-mujahidah yang sampai hari ini sedang dikepung oleh tentara zionisme Israel turut juga merasa kehilangan. Karena beliau selain mewakili jamaah dakwah Partai Keadilan Sejahtera, sebagai anggota DPR juga mewakili bangsa Indonesia hadir di tengah-tengah pejuang mujahidin di Gaza, sehingga mereka pun ikut merasa kehilangan.
Bahkan, baru saja kita juga menerima takziyah dari kesatuan-kesatuan milliter dan kepolisian Indonesia yang sedang bertugas melaksanakan menjaga perdamaian di Sudan di Darfur pun menyampaikan takziyahnya. Semuanya ini adalah merupakan respon atas kehilangan seorang daiyah seorang mujahid/mujahidah dakwah yang telah memperlihatkan dedikasinya untuk apa yang dia yakini, apa yang dia cita-citakan dan apa yang dia perjungkan.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah swt,
Sekilas bagaimana dakwah ini bertemu dengan beliau, pada akhir tahun – sekitar pertengahan tahun 80 beliau sebagai mahasiswi di IAIN Ciputat, waktu itu masih mahasiswi baru dan kebetulan saya sekali-kali diundang ceramah oleh mahasiswa di sana - mahasiswi di sana, ternyata beliau bukan hanya pendengar ceramah yang baik tapi langsung menginginkan adanya komitmen dengan nilai-nilai yang diceramahkan. Dan sejak saat itulah beliau tidak pernah lepas dengan dakwah ini, dengan segala pengorbanannya. Bahkan ketika rezim Orde Baru memenjarakan saya selama dua tahun beliau terus melakukan langkah-langkah dakwah dan ketika saya keluar dari penjara beliau segera menemui saya lagi dan bergabung lagi, tanpa malu dengan eks tahanan politik. Terus bergabung.
Bahkan ada titik-titik sejarah yang mungkin pada generasi sekarang sulit mengaplikasikannnya. Ketika masuk saatnya beliau harus menikah beliau datang kepada saya dan mengatakan, “Ustadz saya diminta orang tua untuk segera menikah.” Saya katakan, “Insya Allah saya doakan semoga diberikan kemudahan.” “Tapi calonnya minta dicarikan ustadz, saya ingin sesama aktifis dakwah.” “Ada pilihan?” “Tidak ada pilihan. Pilihan jamaah dan pilihan Allah itulah yang akan menjadi pilihan saya.”
Dan segeralah saya mencari-cari siapa yang sudah jadi, sudah tentu pada saat itu masih mahasiswa dan mahasiswi yang iklimnya sulit untuk siap nikah waktu itu. Dalam kesulitan mencari itu akhirnya kita menggunakan logika qum ya Hudzaifah! Lalu yang menyambut panggilan qum ya Hudzaifah, itulah suami beliau yang setia mendampingi beliau sampai sekarang yaitu akhunal fadhil Budi Darmawan. Yang ketika saya minta segera mengasih tahu orang tua beliau di Bandung, bahkan belum tahu nama lengkapnya. Ketika ditanya oleh orang tuanya, “Budi siapa nama calon istrimu?” “Yoyoh.” “Yoyoh apa?” “Belum tahu.” Tapi orang tua Budi Darmawan ini seorang sholih dan sholihah dan menemui saya dan merestui rencana pernikahan bahkan mempersiapkan segala perangkat rumah tangganya dan kemudian sayalah yang melamar beliau kepada KH. Abdushshomad almarhum, yang kemudian juga beberapa hari kemudian menyelenggarakan pernikahannya. Seluruhnya bahkan proses ini sepertinya almarhumah dan akh Budi Darmawan kayaknya belum pernah ketemu sebelum proses ini. Inilah sikap generasi pertama dari yang memegang komitmen dengan dakwah ini. Yang kisah-kisah seperti itu sangat banyak tapi yang sangat menonjol adalah kisah almarhumah ini.
Begitu juga dengan perjuangan-perjuangan, baik sebelum era reformasi dengan segala ketekunannya ekspansi dakwah hampir ke seluruh penjuru Indonesia dan sesudah era reformasi dan kita bersama komponen bangsa yang lain membangun kehidupan berbangsa dan bernegara ini menuju yang lebih baik, almarhumah dengan sangat tekun menjadi legislator dua periode di DPR, Ti Ti...tiga? Tiga periode di DPR, yang periode ketiganya ini belum selesai. Jadi beliau tiga periode ini secara terus menerus berjuang dan membuktikan dedikasi dalam kiprahnya. Bahkan ketika ditugaskan di komisi I, luar biasa perkembangan kiprahnya merambah seluruh dunia yang memerlukan kontribusi Indonesia baik dalam pembebasan Palestina, perdamaian Sudan atau di Lebanon atau di Istanbul hampir tugas-tugas internasional semua beliau laksanakan. Ini sudah barang tentu menjadi suri tauladan bagi kita semua dan beliau tidak pernah dalam melaksankan tugas ini mengeluh biaya dan menanyakan dari mana biayanya? Siapa yang mengurusnya? Tidak! Seluruhnya dimenej dikelola dengan kemampuan semangat ruhul badzlu wat tadlhiyah. Keteladanan inilah yang harus kita ikuti dan kita lanjutkan.
Sudah barang tentu beliau tadi jam 03.30 dipanggil oleh Allah swt untuk insya Allah menikmati pahala dari kerja keras, dari pengorbanan, dari perjuangan, dari jerih payah. Mudah-mudahan insya Allah kita diberi kesempatan oleh Allah swt untuk bergabung dengan beliau kalak di jannatil Firdausi a'la.
Tadi saya bacakan ayat yang menyebutkan minal mukminina rijalun shodaqu ma ‘ahadullaha alaihi, fa minhum man qadla nahbahu wa minhum man yantazhir, dan almarhumah termasuk yang man qadla nahbahu, telah menunaikan tugasnya dan menghadap kepada Allah swt, dan kita termasuk waminhum man yantazhir. Mudah-mudahan kita diberi kekuatan oleh Allah swt utk tetap meneruskan semangat seperti yang dicontohkan oleh almarhumah yaitu semangat wala baddalu tabdilla, tidak pernah mau mengubah keyakinan keimanan dan aqidahnya, tidak pernah mau merubah idealisme sikapnya dan tidak mau merubah minhaj langkah-langkah perjuangannya dan tdk mau merubah ghoyah tujuan perjuangannnya, wa ma baddalu tabdiila, itulah yang diwariskan oleh almarhumah kepada kita. Mudah-mudahan Allah swt pertama-tama menempatkan almarhumah fi maq'adi shidqin ‘inda malikin muqtadir dan mudah-mudahan juga memberikan kepada kita semangat wa ma baddalu tabdiila, istiqomah terus lurus dalam memperjuangkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan oleh Allah swt,
Kisah perjuangan beliau kalau ditulis mungkin berjilid-jilid buku. Silahkan dari saya sebagai pembuka bagi hadirin-hadirat yang mungkin kreatif memunculkan sejarah-sejarah perjuangan dari kader-kader dakwah yang telah qodho nakhbahu yang telah menunaikan tugasnya dengan sungguh benar. Mudah-mudahan insya Allah bisa diwariskan kepada generasi penerusnya terutama putra-putrinya yang insya Allah dalam kesibukannya berjuang tapi insya Allah putra-putrinya tiga belas adalah minash shilihin was sholihat. Dan ini juga membuktikan bahwa kesibukan perjuangan tidak membuat lalai mengurus rumah tangga, begitu juga kesibukan rumah tangga tidak membuat lalai untuk melaksanakan tugas-tugas perjuangan. Ini contoh mempertemukan antara tugas-tugas kerumahtanggaan dan tugas-tugas perjuangan disatupadukan dalam jiwa hidup perjuangan dan pengorbanan yang penuh telah diberikan oleh almarhumah ustadzah Yoyoh Yusroh. Insya Allah, aqulu qouli hadza, astaghfirullaha li wa lakum.
Assalamu ‘alaikum wr wb.
[Translate dari rekaman audio oleh Abu Rasyidah / www.mimbarpenyuluh.com]
Catatan:
Sambutan ini disampaikan dihadapan ratusan pelayat setelah pelaksanaan sholat jenazah atas almarhumah Yoyoh Yusroh di Masjid Komplek Rumah Dinas DPR RI – Kalibata, Sabtu 21 Mei 2011 / 17 J. Tsani 1432, sesaat sebelum diberangkatkan ke Tangerang untuk dimakamkan.
Teks kesaksian ini merupakan hasil translate dari rekaman suara, dan ada beberapa kata yang barangkali tidak sama persis karena suaranya tidak terekam jelas (sepertinya tidak lebih dari 5 kata), tetapi tidak sampai menggangu dari segi isi.
Nada suara ustadz Hilmi Aminudin berat dan beberapa kali sangat nampak kesedihan dan keharuan beliau bahkan hampir pecah tangis.
Dari kalangan jamaah juga sesekali terdengar isak tangis kesedihan dan beberapa kali terdengar takbir mendengar kisah perjuangan almarhum ustadzah Yoyoh Yusroh.
"Hidup ini seperti aliran air yang akan menuju ke muaranya. Maka jernihkan alirannya..."
Kamis, 26 Mei 2011
Jumat, 06 Mei 2011
HNP -Hernited Nucleus Pulposus- -Syaraf Terjepit-

Mencoba berbagi lagi. Kawan, setahun yang lalu, persisnya 14/5/2010 setelah sakit di punggung bawah yang sedemikian rupa makin terasa mengganggu aktifitasku, aku setelah sebelumnya periksa ke dokter spesialis syaraf ku (dr. Indarwati), direkomendasikan untuk melakukan test MRI dan ENMG. Alhasil, dari tes tersebut disimpulkanlah bahwa aku menderita HNP, herniated nucleus pulposus, meski dalam tahap ringan.

Untuk pengetahuan kita bersama, di bawah ini saya copas-kan artikel tentang HNP itu. Paling tidak dengan kita mengetahui seputar HNP ini, meski hanya sekilas, bisa membantu mengidentifikasi lebih awal jika terjadi sesuatu di ruas tulang punggung kita, anak-anak kita, atau siapapun yang beresiko terkena kelainan ini. Sehingga langkah2 penyembuhan bisa lebih optimal. Atau bahkan membuat kita menjadi lebih berhati-hati terhadap berbagai aktifitas yang bisa mencederai tulang punggung kita.
Nyeri pinggang merupakan salah satu keluhan yang sering dijumpai di masyarakat. Penelitian menyebutkan bahwa setiap manusia pernah mengalami nyeri pada pinggang suatu kali dalam masa hidupnya. Hal ini pastilah sangat mengganggu, bukan hanya menimbulkan rasa tidak nyaman atau sakit, tapi juga menghambat produktifitas di kehidupan sehari-hari. Banyak sekali penyebab nyeri pinggang pada manusia. Bisa karena infeksi pada otot atau tulang belakang, trauma atau benturan yang hebat pada pinggang, kelainan pada tulang belakang, dll. Salah satu yang sukup sering adalah yang dinamakan Herniated Nucleus Pulposus (HNP).
Sebelum kita mengulas tentang HNP, mari kita pelajari terlebih dahulu sedikit tentang struktur tulang belakang. Tulang belakang terdiri dari 33-34 ruas tulang. 7 di daerah leher, 12 daerah dada, 5 daerah pinggang, 5 daerah sakrum, dan 4-5 tulang ekor. Diantara setiap tulang belakang dari leher hingga pinggang terdapat suatu cakram yang berfungsi untuk membantu tulang belakang menopang beban tubuh, dinamakan intervertebral disk. Pada bagian tengah cakram ini terdapat suatu inti yang dinamakan nucleus pulposus. Cakram ini juga berfungsi sebagai peredam, sama seperti shock breaker pada mobil atau motor.
Penyebab HNP ini berbagai macam. Faktor risikonya antara lain adalah merokok, batuk yang terlalu lama, cara duduk yang salah, menyetir yang terlalu sering, cara mengangkat barang yang salah, dll. Seiring dengan bertambahnya usia, kemampuan cakram untuk menjalankan fungsinya juga menurun. Faktor-faktor diatas dapat menyebabkan terjadinya herniasi, yaitu keluarnya suatu organ melalui suatu celah dalam tubuh. HNP dapat dianalogikan seperti terjadinya “turun bero”, tetapi terjadi pada daerah tulang belakang. Dapat dilihat pada gambar disamping bahwa terjadi penonjolan kebelakang pada cakram yang bawah.
Penonjolan ini kemudian menekan saraf yang berjalan dibelakang. Penekanan inilah yang menimbulkan keluhan. Keluhannya dapat berbagai macam dari nyeri pinggang, kesemutan di tungkai, hingga sakit yang luar biasa pada tungkai hingga berjalanpun sakit sekali. Penanganan dari penyakit ini dapat secara non-operatif, yang terdiri dari obat-obatan dan fisioterapi, atau dengan tindakan operatif.
Dewasa ini, para ahli di bidang bedah sedang berlomba-lomba untuk menciptakan suatu tehnik operasi yang menghasilkan suatu sayatan yang minimal, atau bahkan tanpa sayatan. Tehnik ini dinamakan minimally invasive surgery. Tehnik ini memungkinkan masa perawatan yang jauh lebih cepat daripada operasi terbuka. Dan bagi pasien yang mengutamakan segi estetik, tehnik ini dapat dibuat dengan sayatan dan bekas luka yang sangat kecil. Perkembangan tehnik ini di dunia penyakit HNP menghasilkan berbagai macam tehnik, antara lain nucleotome, laser central decompression, dan directed fragmentectomy.
Setiap tehnik pastinya mempunyai kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Seperti contohnya tehnik central decompression yang salah satunya dapat menggunakan suatu zat kimia bernama cymopapain yang dapat menyebabkan reaksi alergi dan spasme (ketegangan) dari otot. Pada prinsipnya, tehnik minimally invasive ini menggunakan suatu alat yang dinamakan artroskopi. Alat ini merupakan suatu alat yang menggunakan suatu tabung berdiameter kecil yang panjang sehingga memungkinkan untuk dimasukkan kedalam tubuh dengan sayatan yang kecil. Tabung ini dilengkapi dengan alat yang dibutuhkan untuk operasi serta kamera yang memungkinan dokter bedah melihat organ didalam tubuh melalui layar. Keuntungan tehnik ini selain dari kecilnya sayatan yang ditimbulkan, gambar yang terlihat dari layar dapat diperbesar puluhan kali sehingga kelainan yang kecilpun dapat terlihat.
Bagi anda yang sangat terganggu dengan nyeri pinggang yang disebabkan oleh HNP, anda dapat memikirkan untuk menjalani operasi ini. Tetapi tentunya anda harus menemui dokter spesialis orthopaedi dan traumatologi terlebih dahulu untuk mendiskusikan tentang teknik yang akan dipilih serta mengetahui keuntungan dan risiko dari operasi ini.
Untuk anda yang takut akan di operasi ada banyak cara pengobatan alternatif yang bisa anda pilih.
Kamis, 17 Maret 2011
Melepas Anak Sekolah
“Mas, sebetulnya umi belum mantab masukin Ghifar ke SD ini.” Deg! Ucapan ini diucapkan istriku pada minggu kedua Ghifar masuk sekolah ini.
Terus terang, sekolah ini memang menjadi prioritas kesekian ketika kami mulai searching SD untuk anak kami Ghifar. Prioritas utama adalah Ghifar sekolah di SD yang sama dengan kedua kakaknya. Tapi lokasi sekolah untuk siswa baru harus di gedung yang baru dan lokasinya menjauh dari arah kantor istri, membuat kami terpaksa urung dari rencana ini. Setelah menimbang beberapa sekolah dan kepraktisan antar jemput Ghifar, akhirnya kami memilih SD ini.
Dulu ketika istri memutuskan untuk memilih SD ini, aku sendiri kurang begitu mantab. Ada beberapa harapan yang mungkin tidak akan ditemukan di sekolah ini. Tapi mengingat beberapa pertimbangan, utamanya agar tidak merepotkan istri dalam antar jemput (maklum sampai saat ini kami masih harus terpisah jarak Jogja-Jakarta), maka aku memantabkan hati ini pada pilihan itu. Aku munculkan sisi-sisi positif dari sekolah ini. Setidaknya yang aku tahu, sekolah ini juga menjadi pilihan para orang tua karena prestasi akademiknya termasuk yang terbaik di kota ini.
Di awal sempat aku dengar kekurangmantapan istriku, tapi setelah kemudian dia terlihat cukup mantab maka aku pun menjadi tenang. Maka ketika istriku tiba-tiba mengucapkan kembali kekurangmantapan itu justru setelah dua minggu masa sekolah mulai berjalan, aku sedikit kaget. Bukan apa-apa, karena pilihan sekolah ini awalnya juga berasal dari istriku. Aku tidak berani mengajukan beberapa pilihan sekolah yang menurutku lebih pas, karena lokasinya yang memang tidak strategis untuk ukuran single fighter seperti istriku saat ini.
Ucapan itu tidak muncul tiba-tiba. Minggu pertama sekolah tidak ada persoalan yang cukup berarti, karena tiga hari pertama sekolah hanya sampai pukul 09.00 sehingga selalu ditungguin istri sampai pulang. Tiga hari berikutnya masih relatif wajar-wajar saja, pagi diantar istriku pulangnya dijemput oleh saudara kami. Alhamdulillah, hari sabtu minggu pertama itu aku sendiri yang menjemput Ghifar ke sekolah, dilanjutkan menjemput kedua kakaknya di sekolah yang lain.
Masalah kecil mulai sedikit muncul ketika kemudian Ghifar mulai berinteraksi dengan teman-temannya yang sebagian besar berasal dari kalangan yang cukup berada, yang tentu mempunyai gaya hidup yang sedikit berbeda. Ada beberapa budaya, cara didik, cara interaksi dan pembiasaan-pembiasaan yang barangkali tidak kami temukan di sekolah kedua kakaknya. Sebagai contoh tentang uang saku anak, tentang penjual yang bisa masuk ke sekolah, tentang kegiatan-kegiatan dan interaksi antara para wali dan orang tua, dan beberapa hal lainnya.
Sedikit banyak, mau tidak mau ini membawa pengaruh bagi perkembangan anak kami Ghifar, yang sebelumnya kami sekolahkan di sebuah TKIT di dekat rumah, di sebuah kampung, yang pola pendidikan dan para pengasuhnya cukup bersahaja. Ada sedikit “kekagetan” budaya yang dialami anak kami, walau sebetulnya aku yakin ini merupakan sebuah proses pembelajaran untuk anak kami juga. Belum lagi gaya hidup dan interaksi antar orang tua dan wali yang kadang membuat kami kurang nyambung. Semua itu pada akhirnya menimbulkan sedikit galau di hati istriku sehingga muncullah kalimat seperti di awal tadi.
Kegalauan istriku (yang juga kemudian menjadi kegalauanku) sebagai orang tua, tentu sesuatu yang wajar. Dalam benak kami, masa depan anak-anak kami nanti tentu lebih berat dari pada masa-masa yang kami hadapi sekarang ini. Sehingga wajar jika kami kemudian berharap anak-anak kami mendapatkan bekal yang cukup dan memadai untuk melewati masa-masanya nanti. Tentu bukan sekedar bekal akademik, tapi juga bekal mental spiritual berupa keyakinan dan keimanan yang memadai. Termasuk budaya dan kebiasaan-kebiasaan yang membangun.
Alhamdulillah, semua tadi ternyata merupakan bentuk “kekagetan-kekagetan” kami sebagai orang tua, sebagaimana ‘kekagetan-kekagetan’ itu sebetulnya telah dirasakan dan dilewati anak kami sebelumnya. Maka aku menganggapnya itu sebagai proses pembelajaran dan pendewasaan anak kami untuk menghadapi masanya nanti, dan sekaligus merupakan bentuk pembelajaran dan pendewasaan kami sebagai orang tua untuk terus mengawal, mengarahkan, dan mendidik anak-anak kami. Bahwa kapan pun, pasti mereka akan bertemu dengan keadaan seperti itu. Dan yang diperlukan adalah ilmu bagaimana menghadapi kondisi dan keadaan seperti itu.
Melepas anak ke sebuah sekolah, adalah sebuah pilihan. Maka kita harus siap dengan segala konsekuensinya. Tentu kita telah mengkalkulasi untung dan ruginya. Tentu kita telah mempertimbangkan keunggulan dan kelemahan sekolah tersebut. Yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah mengoptimalkan keunggulan-keunggulan sekolah tersebut bagi perkembangan anak kita dan di saat yang bersamaan kita tutupi kelemahan-kelemahan sekolah tersebut dengan program-program keluarga yang bisa diterima dan dijalankan anak kita. InsyaAllah dengan demikian, dimanapun kita menyekolahkan anak kita, maka mereka akan mendapatkan bekal yang cukup dan memadai untuk masa depannya nanti.
"Yesterday is History, Tomorrow a Mystery, Today is a Gift, Thats why it's called the Present"
Finished @Gedung Utama lt. 19. March 17, 2011. 10.55 WIB.
Terus terang, sekolah ini memang menjadi prioritas kesekian ketika kami mulai searching SD untuk anak kami Ghifar. Prioritas utama adalah Ghifar sekolah di SD yang sama dengan kedua kakaknya. Tapi lokasi sekolah untuk siswa baru harus di gedung yang baru dan lokasinya menjauh dari arah kantor istri, membuat kami terpaksa urung dari rencana ini. Setelah menimbang beberapa sekolah dan kepraktisan antar jemput Ghifar, akhirnya kami memilih SD ini.
Dulu ketika istri memutuskan untuk memilih SD ini, aku sendiri kurang begitu mantab. Ada beberapa harapan yang mungkin tidak akan ditemukan di sekolah ini. Tapi mengingat beberapa pertimbangan, utamanya agar tidak merepotkan istri dalam antar jemput (maklum sampai saat ini kami masih harus terpisah jarak Jogja-Jakarta), maka aku memantabkan hati ini pada pilihan itu. Aku munculkan sisi-sisi positif dari sekolah ini. Setidaknya yang aku tahu, sekolah ini juga menjadi pilihan para orang tua karena prestasi akademiknya termasuk yang terbaik di kota ini.
Di awal sempat aku dengar kekurangmantapan istriku, tapi setelah kemudian dia terlihat cukup mantab maka aku pun menjadi tenang. Maka ketika istriku tiba-tiba mengucapkan kembali kekurangmantapan itu justru setelah dua minggu masa sekolah mulai berjalan, aku sedikit kaget. Bukan apa-apa, karena pilihan sekolah ini awalnya juga berasal dari istriku. Aku tidak berani mengajukan beberapa pilihan sekolah yang menurutku lebih pas, karena lokasinya yang memang tidak strategis untuk ukuran single fighter seperti istriku saat ini.
Ucapan itu tidak muncul tiba-tiba. Minggu pertama sekolah tidak ada persoalan yang cukup berarti, karena tiga hari pertama sekolah hanya sampai pukul 09.00 sehingga selalu ditungguin istri sampai pulang. Tiga hari berikutnya masih relatif wajar-wajar saja, pagi diantar istriku pulangnya dijemput oleh saudara kami. Alhamdulillah, hari sabtu minggu pertama itu aku sendiri yang menjemput Ghifar ke sekolah, dilanjutkan menjemput kedua kakaknya di sekolah yang lain.
Masalah kecil mulai sedikit muncul ketika kemudian Ghifar mulai berinteraksi dengan teman-temannya yang sebagian besar berasal dari kalangan yang cukup berada, yang tentu mempunyai gaya hidup yang sedikit berbeda. Ada beberapa budaya, cara didik, cara interaksi dan pembiasaan-pembiasaan yang barangkali tidak kami temukan di sekolah kedua kakaknya. Sebagai contoh tentang uang saku anak, tentang penjual yang bisa masuk ke sekolah, tentang kegiatan-kegiatan dan interaksi antara para wali dan orang tua, dan beberapa hal lainnya.
Sedikit banyak, mau tidak mau ini membawa pengaruh bagi perkembangan anak kami Ghifar, yang sebelumnya kami sekolahkan di sebuah TKIT di dekat rumah, di sebuah kampung, yang pola pendidikan dan para pengasuhnya cukup bersahaja. Ada sedikit “kekagetan” budaya yang dialami anak kami, walau sebetulnya aku yakin ini merupakan sebuah proses pembelajaran untuk anak kami juga. Belum lagi gaya hidup dan interaksi antar orang tua dan wali yang kadang membuat kami kurang nyambung. Semua itu pada akhirnya menimbulkan sedikit galau di hati istriku sehingga muncullah kalimat seperti di awal tadi.
Kegalauan istriku (yang juga kemudian menjadi kegalauanku) sebagai orang tua, tentu sesuatu yang wajar. Dalam benak kami, masa depan anak-anak kami nanti tentu lebih berat dari pada masa-masa yang kami hadapi sekarang ini. Sehingga wajar jika kami kemudian berharap anak-anak kami mendapatkan bekal yang cukup dan memadai untuk melewati masa-masanya nanti. Tentu bukan sekedar bekal akademik, tapi juga bekal mental spiritual berupa keyakinan dan keimanan yang memadai. Termasuk budaya dan kebiasaan-kebiasaan yang membangun.
Alhamdulillah, semua tadi ternyata merupakan bentuk “kekagetan-kekagetan” kami sebagai orang tua, sebagaimana ‘kekagetan-kekagetan’ itu sebetulnya telah dirasakan dan dilewati anak kami sebelumnya. Maka aku menganggapnya itu sebagai proses pembelajaran dan pendewasaan anak kami untuk menghadapi masanya nanti, dan sekaligus merupakan bentuk pembelajaran dan pendewasaan kami sebagai orang tua untuk terus mengawal, mengarahkan, dan mendidik anak-anak kami. Bahwa kapan pun, pasti mereka akan bertemu dengan keadaan seperti itu. Dan yang diperlukan adalah ilmu bagaimana menghadapi kondisi dan keadaan seperti itu.
Melepas anak ke sebuah sekolah, adalah sebuah pilihan. Maka kita harus siap dengan segala konsekuensinya. Tentu kita telah mengkalkulasi untung dan ruginya. Tentu kita telah mempertimbangkan keunggulan dan kelemahan sekolah tersebut. Yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah mengoptimalkan keunggulan-keunggulan sekolah tersebut bagi perkembangan anak kita dan di saat yang bersamaan kita tutupi kelemahan-kelemahan sekolah tersebut dengan program-program keluarga yang bisa diterima dan dijalankan anak kita. InsyaAllah dengan demikian, dimanapun kita menyekolahkan anak kita, maka mereka akan mendapatkan bekal yang cukup dan memadai untuk masa depannya nanti.
"Yesterday is History, Tomorrow a Mystery, Today is a Gift, Thats why it's called the Present"
Finished @Gedung Utama lt. 19. March 17, 2011. 10.55 WIB.
Kamis, 23 Desember 2010
Taburkan Cinta, Kamu Menuai Cinta (Lanjutan tulisan sebelumnya)
Taburkan Cinta, Kamu Menuai Cinta (Lanjutan tulisan sebelumnya)
Suatu saat Abu Sufyan berkata, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang mencintai seseorang seperti cinta sahabat kepada Muhammad.” Selalu kita saksikan dalam perjalanan dakwah dan hidup Rasulullah, betapa para sahabat begitu sangat mencintai beliau. Jiwa dan raga mereka, bahkan kedua orang tua mereka pun siap dipertaruhkan demi Rasulullah. Kecintaan para sahabat itu tumbuh dan berkembang, karena terlebih dulu Rasulullah menunjukkan kecintaan yang tulus kepada para sahabatnya, kepada umatnya. Tak pernah lelah. Ya, Rasulullah Saw senantiasa mencurahkan cintanya kepada para sahabat dan umatnya, serta kepada seluruh umat manusia.
Begitu cintanya kepada umatnya, hingga suatu hari ketika Jibril turun pada Rasulullah dan mendapati Beliau sedang menangis, Jibril bertanya, “Apa yang kamu tangisi?” Rasulullah menjawab, “Umatku wahai Jibril.” Maka Jibril memberinya kabar gembira dari Allah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang, “Kami meridhaimu, terhadap umatmu dan kami tidak menyedihkanmu.” (HR. Muslim). Cinta Rasululullah Saw. pada umatnya amat besar. Sampai-sampai menempatkannya dalam posisi yang lebih dekat kepada mereka dari pada diri mereka sendiri. Kasih sayang beliau telah terpatri dalam hati mereka. Sehingga anggota badan mereka terbius oleh cintanya dan lidah mereka berucap karena kekuatan cinta beliau.
Inilah dakwah. Inilah tabiat cinta. Alangkah indahnya perkataan yang penuh hikmah berikut, “Tidak ada yang menguatkan cinta kecuali cinta. Setiap kali engkau mencintai seseorang dan memberikannya dengan sepenuh hati, berarti engkau telah menambah darah baru dalam hatinya.” Maka, dakwah itu cinta. Selalu sediakan dan kembangkan energi cinta dalam dirimu. Dakwah itu mentransformasikan semua potensi dan energi cinta itu ke dalam aktifitas-aktifitas perbaikan, dan memformulasikannya dalam bentuk kebaikan-kebaikan.
Pada perjalanan dinas selama sepekan di Surabaya bulan lalu, aku bertemu dengan orang-orang yang penuh cinta. Bahkan sebagian besar dari mereka belum pernah bertemu muka denganku sama sekali. Ya, dakwahlah yang telah mempertemukan kami. Kepada mereka, meski hanya sesaat, aku sempatkan untuk mengunjungi ruangan-ruangan mereka. Dengan diantar oleh seorang ikhwah, yang bahkan harus datang dari kantor lain untuk menyempatkan diri bertemu muka, kami berjaulah dari ruang ke ruang. Aku temukan wajah-wajah cerah itu, wajah-wajah yang penuh optimisme. Ah, dakwah itu memang indah. Hampir di setiap tempat aku mempunyai pengalaman seperti ini.
Kawan, aku yakin kita semua sering mendapatkan pengalaman yang sejenis, dan itu adalah berkah dari dakwah ini. Aku yakin ada cerita-cerita yang jauh lebih heroik dan sangat berkesan di dasar hati kita semua. Sahabat-sahabatku yang pernah atau sedang merasakan penempatan di luar jawa, pasti mempunyai cerita-cerita dakwah yang sulit untuk dilupakan. Ya. Selalu ada warna dalam perjalanan dan pengalaman dakwah kita. Dan karena ini pulalah salah satunya yang membuatku semakin jatuh hati dengan dakwah ini. Bagiku, berpisah dengan dakwah ini laksana pohon yang tak lagi berbuah : hampa. Semoga kita semua selalu di-istiqomah-kan di atas jalan ini. Amin.
Suatu saat Abu Sufyan berkata, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang mencintai seseorang seperti cinta sahabat kepada Muhammad.” Selalu kita saksikan dalam perjalanan dakwah dan hidup Rasulullah, betapa para sahabat begitu sangat mencintai beliau. Jiwa dan raga mereka, bahkan kedua orang tua mereka pun siap dipertaruhkan demi Rasulullah. Kecintaan para sahabat itu tumbuh dan berkembang, karena terlebih dulu Rasulullah menunjukkan kecintaan yang tulus kepada para sahabatnya, kepada umatnya. Tak pernah lelah. Ya, Rasulullah Saw senantiasa mencurahkan cintanya kepada para sahabat dan umatnya, serta kepada seluruh umat manusia.
Begitu cintanya kepada umatnya, hingga suatu hari ketika Jibril turun pada Rasulullah dan mendapati Beliau sedang menangis, Jibril bertanya, “Apa yang kamu tangisi?” Rasulullah menjawab, “Umatku wahai Jibril.” Maka Jibril memberinya kabar gembira dari Allah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang, “Kami meridhaimu, terhadap umatmu dan kami tidak menyedihkanmu.” (HR. Muslim). Cinta Rasululullah Saw. pada umatnya amat besar. Sampai-sampai menempatkannya dalam posisi yang lebih dekat kepada mereka dari pada diri mereka sendiri. Kasih sayang beliau telah terpatri dalam hati mereka. Sehingga anggota badan mereka terbius oleh cintanya dan lidah mereka berucap karena kekuatan cinta beliau.
Inilah dakwah. Inilah tabiat cinta. Alangkah indahnya perkataan yang penuh hikmah berikut, “Tidak ada yang menguatkan cinta kecuali cinta. Setiap kali engkau mencintai seseorang dan memberikannya dengan sepenuh hati, berarti engkau telah menambah darah baru dalam hatinya.” Maka, dakwah itu cinta. Selalu sediakan dan kembangkan energi cinta dalam dirimu. Dakwah itu mentransformasikan semua potensi dan energi cinta itu ke dalam aktifitas-aktifitas perbaikan, dan memformulasikannya dalam bentuk kebaikan-kebaikan.
Pada perjalanan dinas selama sepekan di Surabaya bulan lalu, aku bertemu dengan orang-orang yang penuh cinta. Bahkan sebagian besar dari mereka belum pernah bertemu muka denganku sama sekali. Ya, dakwahlah yang telah mempertemukan kami. Kepada mereka, meski hanya sesaat, aku sempatkan untuk mengunjungi ruangan-ruangan mereka. Dengan diantar oleh seorang ikhwah, yang bahkan harus datang dari kantor lain untuk menyempatkan diri bertemu muka, kami berjaulah dari ruang ke ruang. Aku temukan wajah-wajah cerah itu, wajah-wajah yang penuh optimisme. Ah, dakwah itu memang indah. Hampir di setiap tempat aku mempunyai pengalaman seperti ini.
Kawan, aku yakin kita semua sering mendapatkan pengalaman yang sejenis, dan itu adalah berkah dari dakwah ini. Aku yakin ada cerita-cerita yang jauh lebih heroik dan sangat berkesan di dasar hati kita semua. Sahabat-sahabatku yang pernah atau sedang merasakan penempatan di luar jawa, pasti mempunyai cerita-cerita dakwah yang sulit untuk dilupakan. Ya. Selalu ada warna dalam perjalanan dan pengalaman dakwah kita. Dan karena ini pulalah salah satunya yang membuatku semakin jatuh hati dengan dakwah ini. Bagiku, berpisah dengan dakwah ini laksana pohon yang tak lagi berbuah : hampa. Semoga kita semua selalu di-istiqomah-kan di atas jalan ini. Amin.
Seperti Pohon yang tak lagi Berbuah : Hampa
Dakwah itu cinta. Kalimat pendek dari judul tulisan ustadz yang digelari syaikut tarbiyah ini, sungguh teramat mengesankanku. Suatu saat dalam perenunganku, pernah terbesik dalam keinginanku untuk membuat buku dengan judul singkat itu : Dakwah itu cinta. Ada banyak ekspresi cinta bisa dihubungkan dengan perjalanan bersama dakwah ini. Semua berkelibat penuh dalam kepala ini, tapi sampai sekarang tak pernah tuntas untuk dituangkan ke dalam tulisan. Semua seakan cukup menjadi hiasan indah dalam kepala ini. Tak mengapa.
Dakwah itu cinta. Melalui dakwah inilah aku dikenalkan kepada cinta yang sesungguhnya. Selalu ada banyak warna dalam perjalanan cinta seseorang. Dulu, murabbi pertamaku telah menuntunku dengan penuh cinta, di saat bahkan aku membaca Al Qur’an saja masih sangat terbata-bata. Darinya aku mulai merasa mesra dan dekat dengan Al Qur’an. Mengejanya dan mentadaburinya ayat demi ayat, meski tertatih-tatih, sungguh itu sangat menentramkanku. Aku masih ingat jika giliran tilawah sampai di depanku, aku akan selalu merasa panas dingin. Tapi dia tak pernah mencela bacaanku.
Dakwah ini juga telah menuntun dan mengarahkan orientasi cintaku. Dengan penuh kerelaan. Bukan perkara mudah, ketika kita harus berani memutus sesuatu yang telah lama terjalin di hati kita, kemudian mengarahkan kepada sesuatu yang lebih bersih dan diridhoi. Maka jangan heran ketika kemudian muncul nasyid dengan judul “Langgam kenangan muda” nya Suara Persaudaraan. Secara kebetuan nasyid itu muncul pada masa-masa pengenalan orientasi cintaku. Sampai kini bahkan nasyid itu masih membekas dalam ingatanku. Ah, cinta itu kadang memang aneh bagiku.
Dakwah ini telah mempertemukanku dengan orang-orang yang lembut dan penuh cinta. Tak pernah ada batasan usia di antara kita untuk saling mengekspresikan cinta. Tak pernah ada dinding status yang membentengi di antara kita untuk saling mengungkapkan rindu. Kelembutan dan cinta itu seakan lekat. Senyum dan sapa mereka selalu khas. Dari sinilah pula aku berlatih tentang ukhuwah dan makna berlapang dada. Semua itu membuatku makin nyaman dengan dakwah ini. Selalu ada kerinduan yang membuncah, ketika lama tidak berinteraksi dengan aktifitas-aktifitas di dalamnya.
Dakwah itu cinta. Dakwah itu mengajak dengan cinta, bukan dengan kebencian dan caci maki. Selalu ada cinta untuk disemai. Seorang dai, ketika melihat kemungkaran, maka energi cintanya akan menuntun untuknya agar sebisa mungkin mencegah kemungkaran tersebut. Apatah lagi untuk mengajak dan memulai kebaikan, ajakan dengan penuh cinta lah yang akan mudah untuk mendapatkan sambutan. Karena ajakan dengan cinta itu adalah ajakan akan ketulusan. Dan ketulusan itu berawal dari hati. Maka ajakan dengan hati, tentulah akan direspon dengan sambutan dari hati juga.
(bersambung - masih dengan dakwah itu cinta)
Dakwah itu cinta. Melalui dakwah inilah aku dikenalkan kepada cinta yang sesungguhnya. Selalu ada banyak warna dalam perjalanan cinta seseorang. Dulu, murabbi pertamaku telah menuntunku dengan penuh cinta, di saat bahkan aku membaca Al Qur’an saja masih sangat terbata-bata. Darinya aku mulai merasa mesra dan dekat dengan Al Qur’an. Mengejanya dan mentadaburinya ayat demi ayat, meski tertatih-tatih, sungguh itu sangat menentramkanku. Aku masih ingat jika giliran tilawah sampai di depanku, aku akan selalu merasa panas dingin. Tapi dia tak pernah mencela bacaanku.
Dakwah ini juga telah menuntun dan mengarahkan orientasi cintaku. Dengan penuh kerelaan. Bukan perkara mudah, ketika kita harus berani memutus sesuatu yang telah lama terjalin di hati kita, kemudian mengarahkan kepada sesuatu yang lebih bersih dan diridhoi. Maka jangan heran ketika kemudian muncul nasyid dengan judul “Langgam kenangan muda” nya Suara Persaudaraan. Secara kebetuan nasyid itu muncul pada masa-masa pengenalan orientasi cintaku. Sampai kini bahkan nasyid itu masih membekas dalam ingatanku. Ah, cinta itu kadang memang aneh bagiku.
Dakwah ini telah mempertemukanku dengan orang-orang yang lembut dan penuh cinta. Tak pernah ada batasan usia di antara kita untuk saling mengekspresikan cinta. Tak pernah ada dinding status yang membentengi di antara kita untuk saling mengungkapkan rindu. Kelembutan dan cinta itu seakan lekat. Senyum dan sapa mereka selalu khas. Dari sinilah pula aku berlatih tentang ukhuwah dan makna berlapang dada. Semua itu membuatku makin nyaman dengan dakwah ini. Selalu ada kerinduan yang membuncah, ketika lama tidak berinteraksi dengan aktifitas-aktifitas di dalamnya.
Dakwah itu cinta. Dakwah itu mengajak dengan cinta, bukan dengan kebencian dan caci maki. Selalu ada cinta untuk disemai. Seorang dai, ketika melihat kemungkaran, maka energi cintanya akan menuntun untuknya agar sebisa mungkin mencegah kemungkaran tersebut. Apatah lagi untuk mengajak dan memulai kebaikan, ajakan dengan penuh cinta lah yang akan mudah untuk mendapatkan sambutan. Karena ajakan dengan cinta itu adalah ajakan akan ketulusan. Dan ketulusan itu berawal dari hati. Maka ajakan dengan hati, tentulah akan direspon dengan sambutan dari hati juga.
(bersambung - masih dengan dakwah itu cinta)
Langganan:
Postingan (Atom)