Tampilkan postingan dengan label Tazkiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Juli 2020

Antara Hidayah dan Taufiq


Di QS Al A'raf : 43 digambarkan, ucapan yang keluar dari penghuni surga ketika masuk surga adalah alhamdulillahilladzi hadana lihadza, wama kunna linahtadiya lauwla an hadanaLlah.

Mereka memuji kepada Allah atas adanya petunjuk (hidayah) yang Allah berikan dan telah mengantarkan mereka ke dalam surga tersebut. ^alhamdulillahilladzi hadana lihadza."

Sy tertarik dengan diskusi tentang hidayah di atas. Dulu pernah ustadz Tifatul menjelaskan kepada tentang makna hidayah dan taufiq secara ringkas dan sederhana.

Rabu, 21 Januari 2015

Kontemplasi Perjalanan

Sabtu dini hari, 16 Mei 2009, sesaat setelah lepas tengah malam.

Mungkin sekitar jam 2.00 an. Aku tidak tahu persis. Semua penumpang kereta ini dibuai lelap. Tiba-tiba, “Braaaak…..!” Terjadi goncangan hebat, suara besi beradu dengan besi berdecit hebat tanda telah dilakukan pengeremen secara keras dan mendadak. Menciptakan aroma hangus. Tiba-tiba sesaat kemudian udara di gerbong menjadi memutih, seolah asap yang pekat menutup pandanganku yang masih nanar karena mendadak tergagap dari lelapku.

Gelap. Yang ada dalam pikiran para penumpang termasuk aku adalah segera keluar dari gerbong kereta. Sesuatu telah terjadi. Dan bau gosong itu sangat mirip bau sesuatu yang terbakar. Dan sesuatu yang gelap pekat itu tentu asap. Maka kami berebut keluar. Saling mencoba untuk tetap tertib di tengah kepanikan itu. Kereta telah berhenti. Entah dimana, di luar pun tampak gelap. Dan kami harus meloncat cukup tajam ketika keluar dari gerbong kami.

Selasa, 20 Januari 2015

Cara Kembali yang Indah

“Pak, masa sih sarang P*S dipakai untuk acara P*B. Hebaaat sekaliii..” Sekilas aku perhatikan wajahnya di seberang sana tampak masgul. Ia mengirimkan sms saat rapat yang aku pimpin itu. “Tidak apa-apa, Pak. Sy ingin menunjukkan bahwa masjid ini terbuka untuk semua golongan.” Aku jawab sms nya, mencoba menenangkannya. Aku memang sedang merencanakan sebuah kegiatan yang sangat NU, pengajian akbar dengan mengundang seorang Habaib. Aku tantang anak-anak IKRAM, organisasi remaja masjid, untuk menghandle acara itu. Dan mereka sanggup.

Ia sosok yang sederhana. Aku panggil ia, Pak Moh. Rambutnya telah memutih. Di masa mudanya, ia dikenal akrab dengan dunia malam. Tapi yang aku tahu, ia insyaf di masa tuanya. Aku ingat ketika yayasan kami memutuskan mendirikan masjid, dan juga sekolah di dekat lingkungan tempat tinggal kami, ia mengajukan diri agar bisa membantu di sana. Maka kemudian ia menjadi muadzin sekaligus penjaga sekolah. Sampai kemudian periode ketiga ketakmiran aku pegang, ia tetap menjadi muadzin setia kami. Suaranya yang lantang dan merdu menggaung setiap waktu adzan berkumandang.

Rabu, 18 Juli 2012

Marhaban Yaa Ramadhan : Momentum Tepat Melejitkan Potensi Diri

“Barangsiapa yang bergembira atas datangnya Ramadhan, Allah telah mengharamkan jasadnya dari api neraka“. (HR. An-Nasa’i)

Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk membangun perasaan gembira dengan datangnya bulan ramadhan. Bahkan (‘hanya’ dengan) bergembiranya seorang muslim ketika menyambut bulan ramadhan, Allah hargai dengan mengharamkan jasadnya dari api neraka. Dalam hadits yang lainnya Rasulullah SAW telah berpesan : “Akan segera datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah SWT bersama kalian pada bulan itu, maka diturunkanlah rahmat, diampuni dosa-dosa dan dikabulkan do’a dan permintaan. Allah melihat kalian berlomba-lomba dalam kebaikan, lalu diikutkan bersama kalian malaikat-malaikat. Maka tunjukkanlah kepada Allah kebaikan diri kalian, sesungguhnya orang yang rugi adalah mereka yang tidak mendapatkan rahmat Allah”

Ibarat suatu turnamen, maka Ramadhan adalah pusat pelatihan untuk menghadapi pertandingan sesungguhnya. Satu bulan pelatihan di bulan ramadhan, ia menjadi bekal untuk menghadapi pergulatan kehidupan di 11 bulan berikutnya, begitu seterusnya di setiap tahunnya. Kedatangan bulan Ramadhan hendaknya membawa dampak bagi pribadi muslim. Kenapa bulan Ramadhan disebut dengan Syahrut Tarbiyah (bulan pembinaan dan pendidikan)? Karena pada bulan ini umat Islam dididik langsung oleh Allah SWT dan diajarkan oleh-Nya supaya bisa mengatur waktu dalam kehidupan secara baik; Kapan waktu makan, kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat dan kapan waktu beribadah.

Rabu, 07 September 2011

Puasa, Takwa, dan Syawal

Puasa, Takwa, dan Syawal

Sudah kita ketahui bahwa ibadah puasa ramadhan untuk membentuk pribadi yang bertakwa, lalu bagaimana kah ciri pribadi yang bertakwa itu selepas bulan ramadhan bisa kita lihat? Maka mari kita lihat QS Ali Imran : 133-135 :

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”


Salah ciri satu orang yang bertakwa di atas, sbg hasil dari tarbiyah ramadan selama sebulan adalah wa afina ‘aninnaas yaitu memaafkan kesalahan orang. Maka untuk mensyiarkan karakter inilah maka terciptalah tradisi halal bi halal yang ada di negara ini. Yang pada intinya adalah untuk saling mengikhlaskan segala keselahan di antara sesama.

Halal bi hala tidak akan lengkap kalo kita tidak membahas tentang silaturahim yang kemudian identik dengan mudik. Banyak di antara kita rela untuk membayar tiket mahal, melewati perjalanan yang panjang dan bermacet ria, demi satu hal yang bernama silaturahim tadi. Maka perlu kita lihat juga, beberapa hadits nabi yang mengabarkan kepada kita tentang pentingnya silaturahim.

1. Orang yang memutus silaturahim tidak akan masuk surga

Hadis riwayat Jubair bin Muth`im ra.:
Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan. (Shahih Muslim No.4636)

2. Silaturahim akan memudahkan rejeki

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung hubungan kekeluargaan (silaturahmi). (Shahih Muslim No.4638)

3. Silaturahim akan memanjangkan umur

Selain hadits di atas (point 2), Keutamaan inipun dikuatkan dengan hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, yang berbunyi :

صِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيْدُ الْعُمُرَ

Artinya: “Silaturahim bisa menambah umur.” [Dikeluarkan oleh Al Qadha’i dalam Musnad Asy Syihab dan dihasankan oleh Al Munawi dalam Faidhul Qadir (4/192) dan Al Albani menshahihkannya dalam Shahihul Jami' no. 3776]

Pertama. Yang dimaksud dengan tambahan (atau dipanjangkan umurnya) di sini, yaitu tambahan berkah dalam umur. Kemudahan melakukan ketaatan dan menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat baginya di akhirat, serta terjaga dari kesia-siaan.

Kedua. Berkaitan dengan ilmu yang ada pada malaikat yang terdapat di Lauh Mahfudz dan semisalnya. Umpama usia si fulan tertulis dalam Lauh Mahfuzh berumur 60 tahun. Akan tetapi jika dia menyambung silaturahim, maka akan mendapatkan tambahan 40 tahun, dan Allah telah mengetahui apa yang akan terjadi padanya (apakah ia akan menyambung silaturahim ataukah tidak). Inilah makna firman Allah Ta’ala :

يَمْحُو اللهُ مَايَشَآءُ وَيُثْبِتُ

Artinya: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).” (QS Ar Ra’d:39).

Sehingga seolah-olah di mata manusia, umurnya yang bertambah shg menjadi 100 tahun.

Dan yang ketiga. Yang dimaksud, bahwa namanya tetap diingat dan dipuji. Sehingga seolah-olah ia tidak pernah mati. Demikianlah yang diceritakan oleh Al Qadli, dan riwayat ini dha’if (lemah) atau bathil. Wallahu a’lam. [Shahih Muslim dengan Syarah Nawawi, bab Shilaturrahim Wa Tahrimu Qathi’atiha (16/114)]

Terakhir, sebagai hiburan marilah kita belajar tentang makna ikhlas. Bagaimana seharusnya sikap kita yang harus kita bangun dalam mengikhlaskan segala kesalahan orang lain kepada kita. Ustadz Mujab Mahalli, seorang kyai di bilangan Krapyak Yogyakarta, dalam sebuah bukunya menceritakan tentang contoh sebuah keikhlasan.

Tersebutlah seorang kyai yang mempunyai dua orang santri yang telah lulus dari pondoknya. Kebetulan keduanya bersaudara dan tinggal berdekatan. Sebut saja namanya Karyo dan Kardi. Setelah sekian bulan lamanya mereka tidak bertemu kyai mereka, ada kerinduan dalam diri mereka.

Karyo mengutarakan hal itu kepada istrinya, ”Aku kok kangen sama pak kyai ya, Bune. Bagaimana kalo kita sowan beliau?” ”Ya bagus tho Pakne, saya setuju itu.” jawab istrinya. ”Kita bawa oleh-oleh ya buat beliau, kita punya apa?” tanya Karyo. Mereka hanya seorang petani desa dengan ladang yang tidak begitu luas. ”Ya, cuma ketela di belakang rumah itu, Pakne.” kata istrinya. ”Ya sudah, tujuan kita kan silaturahmi. InsyaAllah beliau berkenan.” kata Karyo mantab.

Singkat cerita, mereka berdua akhirnya sampai di rumah kyai mereka. Kyai dan santri itu banyak berbincang sambil melepas kerinduan mereka. Ketika hari menjelang sore, Karyo dan istrinya berpamitan. ”Tunggu sebentar ya.” kata sang kyai sambil ke ruang dalam mengajak istrinya. ”Nyai, apa yang kita punyai untuk oleh-oleh si Karyo?” tanya kyai kepada istrinya. ”Cuma seekor kambing di belakang itu, kyai.” jawabnya. ”Yo wis, kita bawakan untuk si karyo ya.” kata kyai. Karyo pulang ke desanya sambil menuntun seekor kambing, pemberian sang kyai

Sampai di rumah, demi melihat Karyo menuntun seekor kambing, Kardi bertanya kepadanya, ”Lah, dari mana kamu yo? Kok pulang-pulang membawa seekor kambing?” ”Dari rumah kyai.” jawab karyo singkat. ”Memang kamu bawa oleh-oleh apa tadi?” tanya kardi penasaran. ”Cuma bawa ketela pohon saja.” kata Karyo.

Tiba-tiba pikiran Kardi berhitung matematis. Jika Karyo saja sowan kyai membawa ketela diberi seekor kambing, kalo bawa seekor kambing pasti dapatnya paling tidak seekor sapi.Begitu pikiran dalam benaknya.

Hari berikutnya, segera Kardi mengajak istrinya sowan ke sang kyai. Tidak lupa dia menuntun seekor kambing buat oleh-oleh gurunya itu. Sesampai di rumah kyai, mereka disambut gembira sang kyai. Sama seperti Karyo, mereka berbincang banyak hal sambil melepas kerinduan mereka. Ketika hari beranjak sore, Kardi berpamitan. ”Tunggu sebentar ya.” kata sang kyai. Kyai dan nyai kemudian masuk ke ruang dalam. ”Nyai, kita punya apa buat oleh-oleh si Kardi?” tanya kyai. ”Tinggal ketela yang di dapur itu, kyai. Pemberian Karyo kemaren.” jawab nyai. ”Ya sudah, bawakan buat si Kardi ya.” kata kyai. Akhirnya Kardi pulang dengan hati dongkol karena hanya memperoleh sekarung ketela. Ia tidak mendapatkan oleh-oleh seperti yang dia bayangkan sebelumnya.

Inilah gambaran sederhana dari makna ikhlash. Bahwa keikhlasan itu akan membawa kita kepada sesuatu yang lebih baik. Ketika ada sedikit saja motif yang melenceng dari hati kita, maka kita akan dapati sesuatu yang tidak sesuai dengan maksud sesungguhnya.

@lt 19 jakarta, 7/9/2011 13.25

Selasa, 02 Agustus 2011

Belajar Taqwa di Bulan Ramadan

Belajar Taqwa di Bulan Ramadan

Allah berfirman : “Yaa ayyuhalladziina aamanu kutiba ‘alaikumush-shiyaamu kamaa kutiba ‘alalladziina min qablikum la’alakum tattaquun.” Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS Al Baqarah : 183)

Nabi bersabda : “Ittaqillaha haitsu maa kunta wa’atbi’is-sayyiatal hasanata tamkhuha wa kholiqinnasi bi khuluqin hasan.” Artinya : Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya (perbuatan baik) akan menghapusnya (perbuatan buruk). Dan berperilakulah terhadap sesama manusia dengan akhlak yang baik. (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)

Tujuan dari puasa ramadan sebagaimana tersebut dalam QS Al Baqarah : 183 di atas adalah la’alakum tattaquun yaitu agar kalian bertakwa. Untuk memahami makna dari kata taqwa, ada riwayat dialog antara umar bin khatab dengan sahabat Ubay. Umar bin khatab bertanya. “Wahai Ubay, apa menurutmu taqwa itu?” Ubay menjawab dengan memberikan pertanyaan pada Umar. “Apa yang Anda akan lakukan bila dalam perjalanan Anda banyak menemukan duri yang menghalangi perjalanan.” Umar dengan bijaksana menjawab pertanyaan Ubay. “Saya akan berjalan dengan berhati-hati supaya tidak terkena duri.” Ubay menanggapi jawaban dari umar. “Itulah yang dinamakan taqwa, berhati-hati”.

Dari penggalan kisah tadi bisa kita ambil bahwa taqwa itu berhati-hati dalam melangkah supaya hidup kita selamat dan terhindar dari duri yang bisa mencelakakan kita. Karena Allah sendiri sudah berfirman bahwa sebaik-baik bekal dalam mengarungi kehidupan ini adalah takwa. Lalu, mari kita perhatikan hadits di atas, “Ittaqillaha haitsu maa kunta wa’atbi’is-sayyiatal hasanata tamkhuha wa kholiqinnasi bi khuluqin hasan.”

Ini adalah wasiat Nabi ketika beliau mengantar seorang sahabat ketika hendak berangkat ke suatu tempat. Nabi tidak membekali berupa materi secara khusus, tapi beliau memwasiatkan beberapa pesan dalam kalimat tersebut, hal-hal yang selayaknya kita lakukan dimana pun kita berada. (apalagi dalam konteks pegawai seperti depkeu yang sering mutasi dari tempat satu ke tempat lain). Agar dalam perjalanan kita dimanapun kita berada mendapatkan kebaikan, maka hal-hal yang harus kita lakukan sesuai wasiat nabi di atas adalah :

1. Ittaqillaha haitsu maa kunta. Bertakwalah dimana pun engkau berada. Maka seperti uraian di atas tadi bahwa takwa itu bermakna kehati-hatian, dengan takwa itulah Allah akan menjaga kita, menunjuki langkah-langkah kita dan menyelamatkan kita dari segala macam rintangan dan godaan.

2. wa’atbi’is-sayyiatal hasanata tamkhuha. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya (perbuatan baik) akan menghapusnya (perbuatan buruk). Manusia adalah makhluk tempat berbuat salah. Maka sebagai bentuk ikhtiar kita agar kefitrahan (kesucian) kita senantiasa terjata, maka setiap kita sadar berbuat kesalahan, maka iringilah dengan perbuatan baik agar kesalahan tadi terhapus.

3. wa kholiqinnasi bi khuluqin hasan. Dan berperilakulah terhadap sesama manusia dengan akhlak yang baik. Dalam interaksi dengan berbagai teman dan kolega, tentu akan menimbulkan gesekan. Kita akan bertemu dengan berbagai tipe manusia. Maka hal yang perlu kita lakukan adalah, bergaul dengan mereka dengan akhlak yang baik.

Itulah 3 wasiat yang nabi titipkan kepada kita, agar kita selamat dalam pergaulan sesama manusia, dimanapun kita berada. Teruslah bertakwa (berhati-hati) dimanapun kita berada, ikuti perbuatan buruk dengan perbuatan baik, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik. Insya Allah kita akan diselamatkan dunia dan akhirat. Aamiin.

Jumat, 29/07/2011 @Gedung Utama Lt 19

Kamis, 26 Mei 2011

Selamat Jalan : Ustzh Yoyoh Yusroh

Saat dalam perjalanan kereta menuju jogja, Sabtu 21/5/2011 pagi kira-kira pukul 4.30 ada sahabat yang memberitahu via BBM bahwa salah satu ustadzah kami, Yoyoh Yusroh, telah Allah panggil pagi itu setelah terjadi kecelakaan di tol palimanan cirebon. Segera setelah itu seharian hari itu di BBM maupun di milis IKADI, berbagai perkembangan dan info terkait musibah itu terus-menerus update. Saya memang tidak pernah berinteraksi langsung dengan ustadzah satu ini, tapi saya hanya ingat dulu waktu ospek kampus STAN 2007, saya sempat memoderatori suami beliau (Ust. Budi Darmawan) dalam acara itu. Atau sekedar tahu dan mengenal anak-anak beliau yang kuliah di UGM. Atau sekedar menyaksikan dan mendengar suara lantang beliau yg berorasi saat ada aksi untuk Palestina beberapa waktu lalu di silang Monas.

Berita-berita dan informasi-informasi tentang beliau cukup bagi saya untuk menyimpulkan bahwa beliau adalah salah satu dari wanita-wanita hebat yang lahir dari rahim republik ini. Kesedihan saya teramat sangat saat membaca berita-berita seputar beliau yang terus menerus bermunculan. Terakhir, ijinkan saya untuk mengkopi-pastekan sambutan Ust. Hilmi A di hadapan para pentakziyah di masjid komplek rumah dinas DPR Kalibata. Semoga banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup beliau, ustadzah Yoyoh Yusroh. "Allahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wa'fuanha."

-----------------------
Sambutan Ust. Hilmi A
-----------------------

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un tsumma Innalillahi wa inna ilaihi raji’un tsumma Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Alhamdulillah wash sholatu was salamu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi wasohbihi wa ma walah.

Wa qolallahu azza wa jalla fi kitabihil aziz, a’udzubillahi minasy syaitanir rajim, wa likulli ummatin ajal, faidza ja-a ajaluhum la yasta’khiruna saah – wa la yastaqdimun.

wa qola: kullu nafsin dza-iqatul maut, wainnama tuwaffauna ujurakum yaumal qiyamah, fa man zuhziha ‘anin naari wa udkhilal jannata fa qad faza. Wa mal hayatud dunya illa mata’ul ghurur.

wa qola: minal mukminina rijalun shodaqu ma ‘ahadullaha alaihi, fa minhum man qadla nahbahu wa minhum man yantazhir, wa ma baddalu tabdilaa.

Shodaqollahu azhim

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah swt,
Saya diminta untuk mewakili keluarga besar almarhumah ustadzah Yoyoh Yusroh dan keluarga besar ayahanda beliau, ayahanda almarhumah, KH Abdushshomad (alm) dan Hj. Siti Aminah ibunda Yoyoh, begitu juga tiga belas anak-anaknya.

Pertama-tama untuk menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada hadirin-hadirat yang telah meluangkan waktu untuk bertakziyah dan mendoakan almarhumah. Mudah-mudahan doanya insya Allah diterima oleh Allah swt.

Jika sebagai manusia ada kekhilafan, ada kesalahan, ada kelalaian mohon dimaafkan. Begitu juga jika ada hutang-piutang yang tidak diketahui keluarga mohon disampaikan kepada pihak keluarga untuk diselesaikan dan atau kemudian jika tidak sempat menghubungi keluarga mudah-mudahan bisa meridhokan, bisa meridhokan sehingga tidak menjadi beban bagi almarhumah.

Hadrin dan hadirat yang dimuliakan Allah swt,

Selain mewakili keluarga besar almarhumah saya di sini juga mewakili keluarga besar jamaah Partai Keadilan Sejahtera yang pada hari ini merasa kehilangan kader terbaiknya, kader yang merintis dari awal pertumbuhan jamaah dakwah ini, gerakan dakwah ini. Dari awal tahun 80 beliau sudah bergabung dengan aktifitas dakwah ini, bergabung dengan penuh semangat wala’ wal intima', semangat loyalitas dan komitmen. Bergabung dalam gerakan dakwah ini dengan semangat tho’at wat tadlhiyyah. Seluruh hidupnya diwakafkan, diserahkan pada dakwah ini. Seluruh perjalanan hidupnya telah bergabung dengan dakwah ini secara totalitas, diberikan untuk dakwah ini. Dalam hal ini kita merasa kehilangan.

Sesungguhnya yang merasa kehilangan bukan hanya jamaah dakwah Partai Keadilan Sejahtera, bukan hanya bangsa Indonesia, tetapi saya sendiri dari sejak pagi menerima takziyah dari segenap penjuru dunia, dari negara-negara ASEAN, dari negara-negara Timur Tengah menyampaikan takziyah ini. Karena sekali lagi yang kehilangan bukan hanya jamaah dakwah Partai Keadilan Sejahtera, bukan hanya bumi pertiwi Indonesia, tapi ikut kehilangan juga Masjidil Aqsha dengan Baitul Maqdis-nya, seluruh mujahidin-mujahidah di Palestin sudah menyampaikan takziyahnya dan merasa kehilangan.

Bukan hanya bumi Indonesia yang kehilangan amarhumah bahkan bumi di mana terletak Masjidil Aqsha-pun merasa kehilangan, bumi para mujahidin-mujahidah yang sampai hari ini sedang dikepung oleh tentara zionisme Israel turut juga merasa kehilangan. Karena beliau selain mewakili jamaah dakwah Partai Keadilan Sejahtera, sebagai anggota DPR juga mewakili bangsa Indonesia hadir di tengah-tengah pejuang mujahidin di Gaza, sehingga mereka pun ikut merasa kehilangan.

Bahkan, baru saja kita juga menerima takziyah dari kesatuan-kesatuan milliter dan kepolisian Indonesia yang sedang bertugas melaksanakan menjaga perdamaian di Sudan di Darfur pun menyampaikan takziyahnya. Semuanya ini adalah merupakan respon atas kehilangan seorang daiyah seorang mujahid/mujahidah dakwah yang telah memperlihatkan dedikasinya untuk apa yang dia yakini, apa yang dia cita-citakan dan apa yang dia perjungkan.

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah swt,

Sekilas bagaimana dakwah ini bertemu dengan beliau, pada akhir tahun – sekitar pertengahan tahun 80 beliau sebagai mahasiswi di IAIN Ciputat, waktu itu masih mahasiswi baru dan kebetulan saya sekali-kali diundang ceramah oleh mahasiswa di sana - mahasiswi di sana, ternyata beliau bukan hanya pendengar ceramah yang baik tapi langsung menginginkan adanya komitmen dengan nilai-nilai yang diceramahkan. Dan sejak saat itulah beliau tidak pernah lepas dengan dakwah ini, dengan segala pengorbanannya. Bahkan ketika rezim Orde Baru memenjarakan saya selama dua tahun beliau terus melakukan langkah-langkah dakwah dan ketika saya keluar dari penjara beliau segera menemui saya lagi dan bergabung lagi, tanpa malu dengan eks tahanan politik. Terus bergabung.

Bahkan ada titik-titik sejarah yang mungkin pada generasi sekarang sulit mengaplikasikannnya. Ketika masuk saatnya beliau harus menikah beliau datang kepada saya dan mengatakan, “Ustadz saya diminta orang tua untuk segera menikah.” Saya katakan, “Insya Allah saya doakan semoga diberikan kemudahan.” “Tapi calonnya minta dicarikan ustadz, saya ingin sesama aktifis dakwah.” “Ada pilihan?” “Tidak ada pilihan. Pilihan jamaah dan pilihan Allah itulah yang akan menjadi pilihan saya.”

Dan segeralah saya mencari-cari siapa yang sudah jadi, sudah tentu pada saat itu masih mahasiswa dan mahasiswi yang iklimnya sulit untuk siap nikah waktu itu. Dalam kesulitan mencari itu akhirnya kita menggunakan logika qum ya Hudzaifah! Lalu yang menyambut panggilan qum ya Hudzaifah, itulah suami beliau yang setia mendampingi beliau sampai sekarang yaitu akhunal fadhil Budi Darmawan. Yang ketika saya minta segera mengasih tahu orang tua beliau di Bandung, bahkan belum tahu nama lengkapnya. Ketika ditanya oleh orang tuanya, “Budi siapa nama calon istrimu?” “Yoyoh.” “Yoyoh apa?” “Belum tahu.” Tapi orang tua Budi Darmawan ini seorang sholih dan sholihah dan menemui saya dan merestui rencana pernikahan bahkan mempersiapkan segala perangkat rumah tangganya dan kemudian sayalah yang melamar beliau kepada KH. Abdushshomad almarhum, yang kemudian juga beberapa hari kemudian menyelenggarakan pernikahannya. Seluruhnya bahkan proses ini sepertinya almarhumah dan akh Budi Darmawan kayaknya belum pernah ketemu sebelum proses ini. Inilah sikap generasi pertama dari yang memegang komitmen dengan dakwah ini. Yang kisah-kisah seperti itu sangat banyak tapi yang sangat menonjol adalah kisah almarhumah ini.

Begitu juga dengan perjuangan-perjuangan, baik sebelum era reformasi dengan segala ketekunannya ekspansi dakwah hampir ke seluruh penjuru Indonesia dan sesudah era reformasi dan kita bersama komponen bangsa yang lain membangun kehidupan berbangsa dan bernegara ini menuju yang lebih baik, almarhumah dengan sangat tekun menjadi legislator dua periode di DPR, Ti Ti...tiga? Tiga periode di DPR, yang periode ketiganya ini belum selesai. Jadi beliau tiga periode ini secara terus menerus berjuang dan membuktikan dedikasi dalam kiprahnya. Bahkan ketika ditugaskan di komisi I, luar biasa perkembangan kiprahnya merambah seluruh dunia yang memerlukan kontribusi Indonesia baik dalam pembebasan Palestina, perdamaian Sudan atau di Lebanon atau di Istanbul hampir tugas-tugas internasional semua beliau laksanakan. Ini sudah barang tentu menjadi suri tauladan bagi kita semua dan beliau tidak pernah dalam melaksankan tugas ini mengeluh biaya dan menanyakan dari mana biayanya? Siapa yang mengurusnya? Tidak! Seluruhnya dimenej dikelola dengan kemampuan semangat ruhul badzlu wat tadlhiyah. Keteladanan inilah yang harus kita ikuti dan kita lanjutkan.

Sudah barang tentu beliau tadi jam 03.30 dipanggil oleh Allah swt untuk insya Allah menikmati pahala dari kerja keras, dari pengorbanan, dari perjuangan, dari jerih payah. Mudah-mudahan insya Allah kita diberi kesempatan oleh Allah swt untuk bergabung dengan beliau kalak di jannatil Firdausi a'la.

Tadi saya bacakan ayat yang menyebutkan minal mukminina rijalun shodaqu ma ‘ahadullaha alaihi, fa minhum man qadla nahbahu wa minhum man yantazhir, dan almarhumah termasuk yang man qadla nahbahu, telah menunaikan tugasnya dan menghadap kepada Allah swt, dan kita termasuk waminhum man yantazhir. Mudah-mudahan kita diberi kekuatan oleh Allah swt utk tetap meneruskan semangat seperti yang dicontohkan oleh almarhumah yaitu semangat wala baddalu tabdilla, tidak pernah mau mengubah keyakinan keimanan dan aqidahnya, tidak pernah mau merubah idealisme sikapnya dan tidak mau merubah minhaj langkah-langkah perjuangannya dan tdk mau merubah ghoyah tujuan perjuangannnya, wa ma baddalu tabdiila, itulah yang diwariskan oleh almarhumah kepada kita. Mudah-mudahan Allah swt pertama-tama menempatkan almarhumah fi maq'adi shidqin ‘inda malikin muqtadir dan mudah-mudahan juga memberikan kepada kita semangat wa ma baddalu tabdiila, istiqomah terus lurus dalam memperjuangkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan oleh Allah swt,

Kisah perjuangan beliau kalau ditulis mungkin berjilid-jilid buku. Silahkan dari saya sebagai pembuka bagi hadirin-hadirat yang mungkin kreatif memunculkan sejarah-sejarah perjuangan dari kader-kader dakwah yang telah qodho nakhbahu yang telah menunaikan tugasnya dengan sungguh benar. Mudah-mudahan insya Allah bisa diwariskan kepada generasi penerusnya terutama putra-putrinya yang insya Allah dalam kesibukannya berjuang tapi insya Allah putra-putrinya tiga belas adalah minash shilihin was sholihat. Dan ini juga membuktikan bahwa kesibukan perjuangan tidak membuat lalai mengurus rumah tangga, begitu juga kesibukan rumah tangga tidak membuat lalai untuk melaksanakan tugas-tugas perjuangan. Ini contoh mempertemukan antara tugas-tugas kerumahtanggaan dan tugas-tugas perjuangan disatupadukan dalam jiwa hidup perjuangan dan pengorbanan yang penuh telah diberikan oleh almarhumah ustadzah Yoyoh Yusroh. Insya Allah, aqulu qouli hadza, astaghfirullaha li wa lakum.
Assalamu ‘alaikum wr wb.

[Translate dari rekaman audio oleh Abu Rasyidah / www.mimbarpenyuluh.com]

Catatan:
Sambutan ini disampaikan dihadapan ratusan pelayat setelah pelaksanaan sholat jenazah atas almarhumah Yoyoh Yusroh di Masjid Komplek Rumah Dinas DPR RI – Kalibata, Sabtu 21 Mei 2011 / 17 J. Tsani 1432, sesaat sebelum diberangkatkan ke Tangerang untuk dimakamkan.
Teks kesaksian ini merupakan hasil translate dari rekaman suara, dan ada beberapa kata yang barangkali tidak sama persis karena suaranya tidak terekam jelas (sepertinya tidak lebih dari 5 kata), tetapi tidak sampai menggangu dari segi isi.
Nada suara ustadz Hilmi Aminudin berat dan beberapa kali sangat nampak kesedihan dan keharuan beliau bahkan hampir pecah tangis.
Dari kalangan jamaah juga sesekali terdengar isak tangis kesedihan dan beberapa kali terdengar takbir mendengar kisah perjuangan almarhum ustadzah Yoyoh Yusroh.