Tampilkan postingan dengan label coretan lepas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label coretan lepas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Agustus 2021

Satu dari kami telah pergi

 "Mbak, kelingan ora dulu kita menggoreng jagung di dapur, sambil pakai payung?" Tanyaku kepadamu saat engkau di Bulan Mei lalu kami paksa pulang ke Klaten untuk dirawat. Pertanyaan itu untuk mengenang jaman 'heroik' dulu. "Hehe.. iyo, bener Ri." Engkau tertawa saat mengenang itu. 

Itu penggal kenangan peristiwa kami hampir empat puluhan tahun yang lalu. Saat itu hujan deras. Sebagai orang desa, yang kami punya jagung hasil petikan dari ladang, yang belum begitu kering. Kami goreng di dapur sambil memakai payung, karena genteng dapur kami banyak bocor di sana-sini.

Engkau kami paksa pulang ke Klaten, karena kami kawatir dengan kondisi psikis dan kesehatanmu. Di awal Februari sebelumnya, engkau ditinggalkan anak gadis pertama kesayanganmu. Aku pun tahu betul masa-masa perjuangan bagaimana engkau merawat dua anak pertamamu.

Jumat, 13 Maret 2015

Pernik Ringan Seorang Ayah

Pulang kantor kemarin, bungsuku Ghifar tampak berbaring malas-malasan di depan televisi sambil berselimut tebal. Sejenak aku temani sambil memeluknya. "Tadi pagi di sekolah perutnya masih sakit, dex?" Tanyaku. "Malah muntah bi, aku." Waduh. "Sekarang abi ambilin nasi ya? Mau abi buatin lauk telur dadar ala warung padang?" Dia cuma mengangguk sambil matanya terus menikmati tayangan di televisi.

Bergegas aku buka kulkas. Aku ambil 2 butir telur, satu batang loncang dan beberapa helai daun selederi. Setelah dicuci bersih, kucacah kecil-kecil loncang dan helai daun selederi itu. Aku potong bawang bombai kurang lebih seperempat bagian dan aku cacah kecil-kecil juga. Fyuuuh... tiba-tiba mataku terasa pedas dan perih. Bawang bombai ini telah sukses membuat mataku menangis bombai. Heee...

Dua butir telur yang telah aku pecah di mangkok plastik, aku campur dan aduk rata dengan cacahan loncang, selederi dan bawang bombai itu. Aku tambahkan garam secukupnya. Sekilas sambil beraktifitas di dapur aku lihat kamar belakang tampak tertutup rapat. Ibuku yang menemaniku di Yogya sepekan terakhir tampaknya sedang istirahat, pikirku. Dari kepulanganku tadi beliau belum nampak keluar kamar.

Selasa, 03 Februari 2015

Tak Ada Judul

Perempuan tua yang kuhormati itu menggeser posisi duduknya lebih mendekat kepadaku. Aku duduk di kursi kayu, sementara Ia duduk di tepian bale-bale kayu di depanku. Maka kini Ia lekat memandangku. Kami berbincang di dapur. Aku menceritakan beberapa hal tentang keadaanku belakangan ini. Ia antusias mendengar. Pandanganku agak menerawang, mungkin itu yang membuatnya ingin mendengar lebih dekat.

Sore itu aku mengantar bapak melakukan operasi pengangkatan daging tumbuh yang berada di pahanya. Selama operasi berlangsung, aku menemani di sampingnya. Melihat secara langsung bagaimana pisau dan gunting bedah secara bergantian membelah kulitnya, memotong  dan menyayat serta mengangkat daging yang tumbuh liar di bawah jaringan kulit yang telah dibelah itu. Hingga kulit itu dijahit rapat kembali.

Bapak sedari awal memang tampak tidak mau dioperasi. Selalu mengulur dan menghindar jika ditawari opsi itu. Pada obrolan dengan perempuan tua yang juga ibuku itu, aku baru ingat, mungkin bapak trauma dengan operasi prostatnya dulu. Hampir setengah hari beliau di karantina di ruang operasi sambil menunggu giliran. Dan operasipun dilakukan dengan bius lokal. Maka bayangan buruk pengalaman operasi itu sangat membekas.

Senin, 02 Februari 2015

Ayahku

"Ass. Dik, wingi bapak arep tak prisakne ra gelem, tapi arep maghrib simbok ngulon jare gelem. Rencanane mengko arep tak priksakne disik." Kemarin kakak perempuan pertamaku mengabariku. Rencana untuk merayu bapak agar operasi ternyata belum berhasil. Cukup lama kami harus melobi beliau.

Ada benjolan, entah apa, di paha beliau yang menyebabkan beberapa syaraf ke kaki mungkin terjepit sehingga menyebabkan rasa sakit jika berjalan dalam jarak tertentu, atau saat mengangkat beban. Kami sudah menyarankan untuk banyak istirahat, namun tak pernah diindahkannya. Kata simbok, "bapakmu memang atos."

Tadi kakakku berkirim kabar lagi, "Dik, bapak njaluke suk minggu langsung operasi. Aku engko tak janjian karo paryanto disik."  Paryanto kalau tidak salah adalah dokter yang akan mengoperasi bapak nanti. Memang operasi minor, tapi mungkin karena orang tua dan pola pikir desa, menghadapi kata operasi yang terbayang adalah kengerian.

Sabtu, 31 Januari 2015

Seni Berbagi

Sahabatku kelas 1 SMA sedari kemarin berkirim sms kepadaku, beberapa kali aku terlambat menjawabnya. Sudah lebih dari 20 tahun kami tidak berjumpa. Bahkan jujur, sampai saat ini aku masih belum terbayang yang mana orangnya. Rupanya ia juga tinggal di Jogja. Di daerah Maguwo tepatnya. Pagi tadi ia bertanya padaku, apakah hari ini aku di rumah. Ia ingin bersilaturahim.

Aku agak keteteran sejak asisten rumah tanggaku mengajukan cuti 3 minggu untuk menikah. Betul aku ditemani bapak mertuaku, namun tetap saja tetek bengek kerumahtanggan harus aku yang handle. Dari kebersihan dan kerapian rumah, mempersiapkan anak-anak sekolah dari membangunkan hingga memastikan sarapannya, dan pernik-pernik kecil lainnya.

Siang selepas menjemput ragilku, aku smptkan membalas sms nya. Aku jelaskan keadaanku bahwa jika hari sabtu, aku disibukkan kegiatan antar jemput anak. Dia maklum. Untuk mengobati rasa bersalahku, maka aku telepon dia. Baru 3 bulan rupanya dia menetap di Jogja. Namanya Hanggoro Cahyo Adi. Setelah sebelumnya sejak tahun 1994 katanya, ia terdampar di Balikpapan.

Kamis, 29 Januari 2015

Bersyukur dengan Cara Sederhana

Dengan sebuah nampan kecil yang telah dilapis beberapa helai daun pisang, sebongkah nasi putih ditaruh di tengah-tengahnya. Di sekeliling nasi itu ditata sayur gudangan lengkap dengan bumbunya. Ada sedikit taburan kedelai yang telah digerus halus. Sebutir atau kadang dua butir telur rebus, diletakkan di salah satu sisinya. Irisan kecil tempe dan tahu yang telah digoreng kering serta sambal kentang menjadi pelengkap berikutnya.

Itu adalah nasi bancakan ala ibuku, seorang perempuan sederhana yang telah melahirkan, membesarkan dan juga mendidikku dengan cara-caranya yang sederhana. Di sore hari itu, Jumat Pahing, ibuku biasanya sudah memanggil teman-teman sebayaku. Kami duduk mengitari nampan tersebut. Ibuku dengan sigap membagi nasi dan gudangan itu ke pincukan-pincukan kecil. Butiran telur yang ada dibagi sejumlah kami yang datang.

Selasa, 27 Januari 2015

Kenangan akan seorang Sahabat sekaligus Guruku

Gtalk 07/04/10

16.12 Ragil Kuncoro: assalamu 'alaikum

16.13 saya: wa'alaikumussalam wrwb. Pripun pak, ada kabar baru? hehe..

16.21 Ragil Kuncoro: apa khabar. kangen sama antum. kangen sama romantisnya. kalau lihat antum pengin segera peluk istri. ha ha ha

Aku tidak ingat persis kapan mengenal beliau. Mungkin di kisaran tahun 2002. Aku pertama kali mengenalnya melalui forum diskusi di instansiku, dimana aku menjadi salah satu moderator di sana. Aku tahu beliau sangat senior di kalangan alumni perguruan tinggi kedinasanku. Meski kami belum pernah saling bertemu, aku sudah merasa amat dekat dengan beliau. Hingga pada suatu kesempatan beliau ke Jogja, beliau memintaku bertemu.

Aku ingat waktu itu, kira-kira tahun 2004, aku mengajak 3 atau 4 temanku untuk membersamai beliau, di RM Pring Sewu di Jalan Magelang. Rupanya beliau juga mengajak temannya, Dr. Catur Sugiyanto (kalo tidak salah nama), teman beliau waktu kuliah S2 di luar negeri dulu. Itu adalah saat aku pertama kali berjumpa dengan beliau, setelah sekian lama berinteraksi berbagai pengalaman di forum dunia maya. Kesan pertamaku, beliau pribadi yang sangat hangat.

Senin, 26 Januari 2015

Pelupa Tingkat Dewa

Aku hendak ke masjid untuk dhuha. Di depan lift, seorang anak muda langsung menghampiriku, "Mas Keri, ya?" langsung dia menyapaku dan menjabat tanganku. 

Aku agak tertegun, dia seperti begitu mengenalku. Aku tahu dia pegawai baru di kantor ini. Kira-kira sebulan ini dia mulai di sini. 

Beberapa hari lalu seseorang teman di kantor mencolekku di line chat kantor kami, “Masker, ada anak baru tuh? Dari Penampilannya keknya anggota pramuka. Kenal gak?” Aku jawab bahwa aku tidak mengenalnya, dan aku janjikan nanti aku akan coba berkenalan dengan anak itu.

Setelah bersalaman aku tarik ke tempat yang agak lega. “Eh iya, kita pernah bertemu ya? Dimana?” aku antusias menyambutnya.

“Iya mas, saya dulu pernah ke rumah Mas Keri?” Gubrak! What?

Selasa, 20 Januari 2015

Cara Kembali yang Indah

“Pak, masa sih sarang P*S dipakai untuk acara P*B. Hebaaat sekaliii..” Sekilas aku perhatikan wajahnya di seberang sana tampak masgul. Ia mengirimkan sms saat rapat yang aku pimpin itu. “Tidak apa-apa, Pak. Sy ingin menunjukkan bahwa masjid ini terbuka untuk semua golongan.” Aku jawab sms nya, mencoba menenangkannya. Aku memang sedang merencanakan sebuah kegiatan yang sangat NU, pengajian akbar dengan mengundang seorang Habaib. Aku tantang anak-anak IKRAM, organisasi remaja masjid, untuk menghandle acara itu. Dan mereka sanggup.

Ia sosok yang sederhana. Aku panggil ia, Pak Moh. Rambutnya telah memutih. Di masa mudanya, ia dikenal akrab dengan dunia malam. Tapi yang aku tahu, ia insyaf di masa tuanya. Aku ingat ketika yayasan kami memutuskan mendirikan masjid, dan juga sekolah di dekat lingkungan tempat tinggal kami, ia mengajukan diri agar bisa membantu di sana. Maka kemudian ia menjadi muadzin sekaligus penjaga sekolah. Sampai kemudian periode ketiga ketakmiran aku pegang, ia tetap menjadi muadzin setia kami. Suaranya yang lantang dan merdu menggaung setiap waktu adzan berkumandang.

Senin, 12 Januari 2015

Lampu Hijau Kehidupan

Di perempatan Condongcatur dari jauh, dari jarak sekitar 300 meter, aku melihat lampu itu menyala hijau. Aku hafal jalan ini. Setiap hari aku melewatinya. Maka segera aku naikkan kecepatan kendaraanku. Aku yakin dengan kekuatan dan kecepatan lari motor ini. Aku yakin aku cukup waktu untuk sampai dan melewati lampu itu. Jalanan tidak cukup padat pagi ini. Beberapa pengendara lain telah aku dahului. Di bawah tiang lampu itu sekilas aku liat argo hitungan mundurnya. Di angka 1 menjelang nol. Dan aku berhasil melewatinya.

Aku suka menikmati setiap jenak perjalanan yang aku lakukan. Ada banyak pelajaran dan hikmah selalu aku temukan dalam rentang waktu ini. Ada pelajaran tentang kehati-hatian dan kecerobohan. Ada pelajaran tentang kesabaran dan ketergesaan. Dan pelajaran tentang kedisiplinan, keruwetan, toleransi, kebesaran hati, kearoganan, keegoisan pun lengkap tersaji di jalanan. Tadi aku mendapatkan satu pelajaran penting. Memaknai kesempatan.

Kamis, 11 Agustus 2011

Dektektif Kesiangan

Dektektif Kesiangan

Senin pagi itu (25 Juli 2011) kereta api bisnis senja utama solo yang aku tumpangi sampai di Jatinegara relatif pagi, kira-kira pukul 04.30. Ke kost di wilayah pancoran, awalnya aku berencana naik taksi dengan kawan, tapi setelah menunggu cukup lama ternyata dia tidak segera nampak batang hidungnya, segera aku putuskan naik ojek. “Berapa Bang?” tanyaku. “Dua puluh lima.” Katanya. “Tidak dua puluh?” basa-basiku, karena aku sebenarnya paling malas dengan yang namanya tawar menawar. “Jauh bos..” jawabnya. Aku anggukkan saja kepalaku segera mendengar jawabannya itu.

Aku sengaja turun di depan komplek, tidak masuk ke dalam karena pemeriksaan oleh satpam jika suasana pagi-pagi begini sangat detil dan ribet. Sampai di depan rumah tampak suasana di dalam rumah masih gelap. Itu artinya 2 orang sahabatku, Mas Amin dan Mas Joko, yang tinggal bareng di rumah ini belum datang juga dari kampung. Maka setelah aku masuk ke rumah segera aku menuju ke lantai atas, tempat kamarku berada. Rumah ini ada 2 lantai, lantai bawah ada satu kamar utama dan lantai atas ada 4 kamar terdiri dari 3 kamar di ruang utama dan satu kamar di ruang samping. Tampak sekilas dari bawah pintu, salah satu kamar di lantai atas lampu dalam kondisi menyala.

Ketiga kamar diruang utama dalam kondisi tertutup. Memang sabtu-ahad kemaren waktu kami pulang, ada pengerjaan pembetulan beberapa saluran air yang bocor di lantai atas sehingga rembes dan merusak plafon lantai bawah. “Greeegh..!” Ooops.. kenapa jadi terkunci pintu kamarku? Aku coba kamar yang sebelahnya, juga terkunci. Kamar yang tampak menyala lampunya tadi, juga terkunci. Aku mencoba ketok dan ucapkan salam, tetap tak ada jawaban. Itu artinya sekali lagi, kedua temanku belum ada yang datang pagi ini. Wah.. bagaimana aku bisa mandi dan ganti baju pagi ini, padahal sepekan ini ada diklat?

Hmm.. aku mencoba berpikir dan mencari solusi pemecahannya. Sahabatku yang ikut tinggal di kamar lantai atas, Mas Joko, aku sendiri baru bertemu dengannya sekali. Belum begitu mengenal tabiatnya. Aku coba buka laci demi laci dan lemari di lantai atas, siapa tahu kunci ada disimpan di salah satu laci, hasilnya tetap nihil. Bergerak aku ke lantai bawah, kamar utama ternyata tidak terkunci. Begitu masuk beberapa laci aku buka, taraaa.... ! Kunci-kunci kamar atas tadi tetap menjadi misteri. Raib! Aku coba telepon Mas Joko tapi tidak pernah diangkat. Yang aku tahu, selepas sholat subuh di masjid, biasanya dia tepar lagi. O-o...

Berikutnya aku coba hubungi Mas Amin, rupanya ia masih perjalanan kereta dari Surabaya. Sampai rumah diperkirakan jam 9-an. Duh..! Pantang semangat, laci demi laci dan lemari di lantai bawah aku coba telusuri satu demi satu. Dan kunci-kunci itu tetap tidak mau menampakkan dirinya. Haduh.. akhirnya dengan setengah pasrah aku terduduk di sofa ruang tamu lantai bawah. Sebagai langkah antisipasi, aku hubungi teman satu bagian di kantor untuk meminjam baju setidaknya untuk hari ini. Sambil menyalakan televisi di depanku, aku mencoba merangkai memori dari jumat kemaren hingga pagi ini. Siapa tahu ada lompatan informasi baru yang membantuku.

Tiba-tiba pandanganku tertegun. Hai-hai... sepertinya aku merasa ada yang tidak biasa. Jam dinding yang aku letakkan di meja bawah televisi itu sepertinya dalam posisi yang tidak biasanya. Sedikit agak menggantung, dan terkesan seperti disengaja. Ini petunjuk bagiku. Petunjuk pertamaku. Maka aku segera bergerak menggeser jam tadi dan... “Triiinggg” satu buah anak kunci terjatuh di hadapanku. Alhamdulillah, satu rahasia sudah aku pecahkan. Maka aku kemudian teringat dengan petunjuk berikutnya yang justru aku dapati di awal tadi, lampu kamar yang menyala. Petunjuk keduaku. Bergegas aku ke lantai atas menuju kamar tadi.

“Ctrekk...!” Persis seperti yang kuduga. Kunci ini memang untuk pintu kamar yang lampunya sengaja dinyalakan tadi. Rahasia kedua sudah aku ungkap. Sekarang tinggal masalah dimana kunci kedua pintu kamar yang lain disimpan di kamar ini. Aku coba identifikasi kamar ini, pasti ada sesuatu yang tidak biasa. Yup, di atas meja kamar ini, ada satu buah popmie yang seharusnya tidak ada di situ pekan kemaren. Cara menaruhnya pun tidak biasa. Ini dia petunjuk ketigaku. Maka begitu aku dekati, di bawah popmie itulah aku dapati 2 anak kunci yang sedari tadi pagi aku cari. Ugghh... lega sudah perasaanku pagi ini, bisa masuk kamar dan tidak perlu meminjam baju untuk hari ini.

Aku hanya terpikir, ini pasti pekerjaan Mas Joko karena yang terakhir keluar dari rumah ini adalah dia. Tapi kenapa harus main petak umpet begini menyimpannya. Ah.. sudahlah, yang penting aku bisa memecahkan permainannya. Dan lebih penting lagi, aku bisa segera mandi dan berangkat ke kantor secepatnya. Pelajaran yang aku dapat pagi ini, biasakan mengamati dan merekam benda-benda di sekitar tempat dan rumah tinggal kita. Suatu saat itu akan berguna. Perpindahan, perubahan, pergeseran posisi, itu mengabarkan kepada kita bahwa seseorang atau sesuatu telah merubahnya. Bisa jadi kebetulan. Bisa jadi disengaja karena ada sesuatu yang ingin disampaikan melalui perubahan itu.



Finished @lantai 19. 11/8/2011. 15.16
Lagi pengin nulis yang ringan-ringan saja...

Rabu, 25 Februari 2009

Ada dan Dekat

Ada dan dekat
selalu membuatmu tenang
Karena keberadaan dan kedekatan
adalah dua hal yang semestinya
selalu bersanding

Ada namun tidak berdekatan
akan membuatmu gelisah
Namun dekat tapi tidak (terasa) ada
juga hanya akan menimbulkan
kegundahanmu

Dirimu dan dirinya
seumpama dua sisi kepingan uang
selalu saling membutuhkan agar bernilai
itu jika memang
hatimu dan hatinya
telah berpaut erat

Seorang pecinta
selalu ingin hadir dengan keberadaannya
agar sang kekasih hati
tak pernah gelisah asanya
dan juga gundah hatinya

Ada dan dekat
selalu akan membuatmu merasa nyaman
dan juga dirinya
karena memang tidak cukup
hanya dengan kedekatan hati saja

raga pun
selalu butuh kedekatan
selalu ingin ada dan dekat
dengan kekasih hatinya

Menara Jamsostek, 25/02/2009