Jumat, 07 Mei 2010

Pelajaran dari Seorang Hathib

Suasana di Madinah mendadak mencekam. Kesiagaan terlihat di beberapa sahabat senior. Penjagaan di perbatasan mulai lebih diperketat. Hari itu, syura yang dibimbing oleh wahyu telah memutuskan untuk penaklukan kota Mekkah, segera. Persiapan demi persiapan terus dilakukan. Ini operasi militer terbesar yang akan dilakukan Rasulullah dan para sahabat. Tujuannya satu, membuka kota Mekah al Mukaromah.

Di sebuah sudut kota madinah, seseorang terlihat begitu gundah. Ia adalah Hathib bin Abu Baltha’ah, seorang sahabat senior yang juga ahli badar. Pikirannya terus tertuju kepada sanak saudaranya yang berada di Mekkah. Kekawatiran akan keselamatan mereka membuatnya tidak bisa memejamkan mata barang sejenak. Hatinya bergejolak. Tapi dia juga sadar, operasi militer ini adalah atas perintah Allah melalui nabinya.

Dalam kebuntuannya, dia nekad meminta bantuan seorang wanita bernama Sarrah untuk mengabarkan kepada sanak saudaranya melalui suratnya, tentang rencana Rasulullah memasuki kota Mekkah dengan pasukan yang berjumlah sangat besar. Agar mereka segera bisa menyingkir dari kota Mekkah demi keselamatan mereka, seandainya nanti terjadi pertumpahan darah yang hebat. Maka bergegaslah wanita ini menuju kota Mekkah.

Semua seakan berjalan seperti apa adanya. Kesibukan terjadi di sana sini. Hingga Rasulullah mendapatkan wahyu, agar mengirimkan utusan untuk menghadang dan menangkap seorang wanita dengan ciri-ciri yang spesifik yang akan lewat di sebuah pohon di sebuah lembah bernama Khah. Serta diperintahkanlah untuk merebut surat rahasia yang dia bawa. Maka diutuslah Ali bin Abu Thalib, Zubbair al Awwam dan Abu Murtsid ke lembah itu.

Benarlah semua informasi wahyu yang disampaikan Rasulullah. Tak berapa lama mereka tiba di lembah itu, lewatlah seorang wanita dengan ciri-ciri persis yang digambarkan Rasulullah, persis di bawah pohon tempat mereka menunggu. Setelah melalui proses interogasi, maka didapatlah surat rahasia itu dan sekaligus nama pengirimnya, yaitu Hathib bin Abu Baltha’ah. Bergegas Ali, Zubbair dan Abu Murtsid kembali ke Madinah menemui Rasulullah.

Mendengar laporan itu, Rasulullah segera meminta agar Hathib bin Abu Baltha’ah untuk dihadapkan kepada Beliau. Setibanya Hathib, Rasulullah dengan lembut menanyakan perihal surat rahasia itu. Hathib terperanjat sejenak. Dia tidak pernah mengira apa yang dia lakukan akan diketahui oleh Rasulullah. Maka Hathib memberikan alasan yang bisa diterima Rasulullah. “Wahai Rasulullah, aku hanya ingin memanfaatkan bantuan Quraisy yang dengannya Allah melindungi keluargaku dan harta bendaku.”

Mendengar pengakuan itu, Umar marah. “Wahai Rasulullah, biar aku penggal lehernya.”

Rasulullah hanya tersenyum, “Tidak umar, tidak engkau tahu bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa ahlul badar?”

Ini adalah kisah yang terekam dalam asbabun nuzul awal Surat Al Mumtahanah. Ini adalah cerita perpaduan antara kekuatan langit dan ikhtiar manusia. Ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas. Mari sejenak kita menepi di sini, semoga yang sedikit ini bisa membawa manfaat bagi dakwah ini :

Pelajaran tentang Amniyah

Bahwa tentu ada keputusan-keputusan besar dan strategis dari qiyadah yang masuk dalam kategori amniyah. Tidak boleh sembarang orang mengkonsumsinya. Sebagai bagian dari kalangan yang mendapat informasi itu, tentu sikap yang harus dilakukan adalah tetap menjaga keamniyahan ini. Karena kebocoran atas informasi amniyah itu, akan membawa dampak yang besar dalam proses keberhasilannya.

Lalu bagaimana kalo kita berada pada pihak yang tidak atau belum layak mendapat informasi tersebut? Maka sikap yang perlu kita bangun adalah ketsiqohan. Tapi tsiqah bukankah perlu ilmu? Ya. Tentu selalu ada tanda tanya besar dalam benak kita terkait kebijakan tertentu, maka sikap yang bisa lakukan adalah bertabayun sesuai posisi kita. Penjelasan yang kita dapat dari posisi kita itulah modal kita untuk selalu berada pada posisi tsiqoh.

Pelajaran tentang (perlunya) backup Allah menjadi keberhasilan

Kita bisa melihat kentalnya kekuatan langit berperan dalam menjaga keberhasilan operasi militer Rasulullah ini. Tanpa itu, boleh jadi informasi itu akan bocor sampai ke kota Mekkah dan berantakanllah rencana yang dibangun dengan rapi itu. Apa pun, backup langsung dari Allah sangat kita perlukan. Karenanya menjadi keniscayaan bagi kita untuk selalu menjaga hubungan vertikal kita dengan kekuatan langit, agar aktifitas-aktifitas dakwah kita memberikan daya dobrak yang lebih kuat.

Pelajaran tentang ketaatan kepada qiyadah dan hasil syura

Arti auliya bukan sekedar penolong, dalam bahasa arab ini bisa mengandung arti pemimpin, pemuka, sahabat karib dan orang yang melindungi. Fithrah manusia mencintai kaum kerabatnya..Sayyid Qutb mengatakan inilah sumber kesalahan yang dilakukan oleh seorang Hathib. Meski dia seorang Ahli Badar sekalipun yang kita tahu seperti apa tingkat keimanannya. Dan kesalahan itu bukan bermaksud untuk pembangkangan, tapi karena atas dasar fithrah mahabbah insani. “Aku hanya ingin mendapatkan bantuan Quraisy yang dengannya Allah melindungi keluargaku dan harta bendaku.” Begitu pembelaannya. Kejujuran dan keimanan jelas menghunjam dalam hatinya dari pengakuannya ini.

Tindakannya hampir-hampir saja memporak-porandakan rencana besar itu. Padahal tujuan dia bukan untuk itu. Hanya agar sanak keluarganya tidak menjadi korban. Tapi di sinilah ujian ketaatan itu. Kecintaan kepada Allah, Rasulullah dan jihad di jalan dakwah ini semestinya menempati porsi utama dalam hati kita. Keputusan qiyadah melalui mekanisme syura, itu adalah keputusan tertinggi yang harus menjadi acuan gerak langkah kita dalam dakwah ini selanjutnya.

Pelajaran tentang cara penyelesian terhadap sebuah ‘pembangkangan’

Keindahan dan akhlak Rasulullah tergambar dari bagaimana Rasulullah tidak buru-buru menghukum Hathib walaupun kesalahannya telah begitu jelas. Bahkan beliau memulai dengan bertanya terlebih dulu dengan kasih sayang dan dada yang lapang. Ini harus dicontoh oleh kita sebagai para murobbi, hendaklah kita bertanya terlebih dulu sebelum melakukan konklusi terhadap kesalahan mutarobbbi. Dada yang lapang dan fikiran yang tajam harus selalu kita kedepankan dalam proses ini.

Pelajaran tentang sikap ihtiram terhadap senioritas

Operasi militer Rasulullah ini hanya ada di ring satu. Perintah langsung dari Allah, dan tak boleh ada kebocoran. Maka usaha pembocoran adalah kesalahan besar dan fatal. Boleh jadi kesalahan Hathib ini termasuk pelanggaran kelas berat. Karena akibatnya bisa sangat luar biasa, operasi ini akan gagal !

Tapi Rasulullah bukan pribadi yang tidak bisa menimbang jasa dan pengabdian yang telah diberikan Hathib kepada Islam. Bahkan Allah telah mengampuni dosa para ahli badar, sampai-sampai Rasulullah mengatakan, “I’malu maa syi’tum..” Perbuatlah sesukamu. Karena kalian telah Allah ampuni kalian. Dan tentu para sahabat ahli badar bukan tipe yang dengan jaminan itu kemudian mereka berbuat sesukanya. Tapi justru dengan jaminan itu mereka makin bersyukur dengan semakin memperbanyak amal bagi dakwah islam ini.

Dalam perjalanan dakwah ini, tentu ada orang-orang yang telah lebih dulu bergabung dengan dakwah ini. Mereka bahkan hidup dan beraktifitas di saat-saat dakwah ini belum berkembang dengan pesat seperti sekarang ini. Bahkan di saat-saat tekanan dan keterbatasan terjadi di sana-sini. Mereka juga manusia, bukan malaikat. Mereka pasti sesekali tergelincir dalam sebuah kesalahan. Tapi itu tidak seharusnya hal ini kemudian menjadikan ihtiram kita kepada mereka menjadi hilang.

Sikap hormat harus selalu kita kedepankan, tanpa kemudian menafikan proses hukum atas kesalahan-kesalahan mereka. Bisa jadi kesalahan itu berupa kesalahan yang sifatnya organisatoris. Biarkan prosesnya dijalankan oleh lembaga yang berwenang mengadilinya. Dan boleh jadi kesalahan itu berupa kesalahan seorang hamba kepada Rabbnya, menurut kita. Maka biarlah Allah yang mengadili. Tidak ada hisab yang sifatnya kolektif di akherat sana. Semua akan dimintai pertanggungjawaban secara personal. Dan tak akan ada yang terlewat. Tugas kita hanyalah beramal dan teruslah beramal untuk dakwah ini. Sampai Allah berkenan memanggil kita suatu saat nanti.

Allahu a’lam bish-shawab.

(Gedung utama KPDJP, hari terakhir di lantai 26. 07/05/2010. 11.01)

Senin, 05 April 2010

Menjadi Karder Yang Diparkir?

Saya ini kader yang diparkir !!

Entah mengapa kali ini saya ingin berbicara lain dari biasanya. Biasanya saya paling enjoy menulis tentang kehidupan keluarga, anal-anak, atau hal-hal ringan dalam seputar harmonisasi keluarga. Tapi hari ini saya agak galau. Hari ini saya ingin menasehati diri saya sendiri secara khusus. Ada banyak momentum dan rentetan kejadian belakangan ini yang terus-menerus menggerus nalar sekaligus maknawiyah kita semua.

Dalam perbincangan dengan beberapa ikhwah selepas kami bersilaturahim ke seorang ustadz kami, ada satu istilah yang kemudian menjadi bahan renungan saya berikutnya. “Ana ini sekarang menjadi kader yang diparkir” begitu ucapan ikhwah yang dikutip salah seorang di antara kami. Kosa kata “Kader yang Diparkir” ini beberapa kali menjadi bahan diskusi kami. Menarik karena ini sangat berkaitan dengan kami.

Ini adalah cerita tentang seorang yang “tak lagi dipakai” di dalam struktur sebuah organisasi formal karena tuntutan pengkaderan dan keniscayaan konsep “nudawiluha”, dipergilirkannya suatu amanah kepada kader-kader lain dalam rangka proses pembelajaran. Dahulu dia selalu “dipakai” untuk menduduki suatu pos dalam organisasi itu. Seiring dengan berjalannya waktu, tiba saatnya dia harus digantikan oleh generasi berikutnya untuk keperluan dua hal tadi di atas.

Biasanya, akan ada pos lain di wajihah atau organisasi lain yang bisa menampung kapasitas dan kapabilitas dia. Bisa saja dinaikkan ke tingkat struktur yang lebih tinggi. Atau di wajihah lain yang bisa jadi sama sekali tidak berhubungan secara struktur sebelumnya. Tapi ini tidak selalu. Ada saatnya dia benar-benar free dari jabatan yang sifatnya formal tersebut. Karena itulah muncul istilah ungkapan tadi, “Ana ini sekarang menjadi kader yang diparkir.”

Belajar dari burung hud-hud

Suatu waktu, dalam pertemuan majelisnya Nabi Sulaiman merasa kehilangan salah satu anggotanya : “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir?” tanyanya kepada anggota yang hadir. Bahkan dia pun kemudian mempersiapkan hukuman bagi hud-hud jika kehadirannya bukan karena alasan yang jelas dan kuat. Semua yang hadir serasa kecut, kawatir hukuman apa yang akan diterima burung hud-hud nantinya.

Maka sesaat kemudian setelah hud-hud datang, seakan semua menjadi hening. Senyap. Menunggu apa yang akan dilakukan Sulaman. Tidak menunggu waktu, hud-hud segera menyampaikan alasan keterlambatannya. "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini.” Begitu pembelaan hud-hud. Maka Sulaiman yang awalnya hendak marah pun melunak. Mulailah dialog dakwah itu, yang kemudian disusunlah skenario untuk membuat beriman negeri Saba’ itu.

Ini cerita tentang hud-hud. Yang dalam perjalanannya menuju majelis Sulaiman, dia menemukan aktifitas satu kaum yang menggelitik nalurinya sebagi jundi Sulaiman. Dia merasa ini bagian dari hal yang harus dia lakukan. Mungkin Sulaiman tidak pernah menerjemahkan secara detail standar operasional sebagai jundi. Tapi dengan naluri jundinya itu, hud-hud telah melakukan kerja besar yang kemudian diabadikannya Al Qur’an. Bahkan kemudian Negeri Saba’ pun menjadi negeri yang penduduknya beriman dan tunduk kepada dakwah Sulaiman.

Dinamis, kreatif dan inovatif

Salah satu muwashofat profil kader yang pernah dilaunching beberapa tahun lalu, adalah kader yang mempunyai sifat dinamis, kreatif dan inovatif. Terjemah singkat dari profil ini adalah bahwa dakwah ini diharapkan bisa mempersiapkan dan memunculkan kader-kader yang senantiasa mempunyai sikap yakin dan berusaha untuk menemukan cara-cara baru yang lebih baik untuk mengerjakan apa saja demi kepentingan dakwah ini.

Kita bisa belajar dari seekor burung yang bernama hud-hud itu. Kreatifitasnya, telah menuntunnnya untuk berhenti sejenak di negeri Saba’ dalam perjalannya menuju majelis Sulaiman. Berhentinya dia adalah untuk mendalami dan mempelajari perilaku negeri itu. Dia tidak takut akan dihukum oleh Sulaiman yang dikenal tegas. Dia mungkin tak pernah berpikir kelelahan yang menusuk tubuhnya dalam panjang perjalanan itu.

Diparkir atau di Parkiran?

Diparkir atau di parkiran? Ini dua kata yang berbeda. Diparkir, adalah kata kerja pasif. Sedangkan di Parkiran, ini kata yang menunjukkan tempat atau lokasi. Tapi setidaknya akar katanya sama, parkir. Parkir itu artinya berhenti, tidak bergerak, dan tidak dinamis dalam waktu yang relatif lama. Sesuatu yang diparkir berarti identik dengan sesuatu yang “dibuat” tidak bergerak dalam waktu yang tidak tertentu. Sebagai catatan ini, berasal dari obyek yang pasif. Obyek yang diparkir tadi untuk bisa bergerak lagi, sangat tergantung dari yang sesuatu yang memarkirnya.

Sedang kata “di parkiran” menunjukkan sebuah obyek yang berada di lokasi parkir. Tidak selalu dia berupa obyek yang pasif. Bisa jadi dia memang sengaja menempatkan dirinya di lokasi parkir. Barangkali ia sedang ingin pasif. Mugkin dia sedang tidak ingin bergerak. Atau bisa juga dia obyek yang sedang ingin istirahat sejenak saja. Ada banyak kemungkinan di sana.

Saatnya kita memilih bukan?

Jika memang kita disuruh memilih, semestinya kita kebih memilih menjadi kader yang dinamis. Teruslah bergerak dan berhentilah hanya secukupnya dalam rangka mengisi bahan bakar dan mengatur kembali langkah-langkah kita. Berhenti sesaat diperlukan, tapi jika kita sengaja memarkir diri, tidak tahu kapan kita akan bergerak lagi, maka tunggulah mesin ruhani di jiwa akan ikut melemah mendingin.

Apatah lagi menjadi kader yang diparkir. Daya kreatifitas dan innovatifitas kita harus senantiasa terasah. Tak ada alasan untuk menjadi kader yang diparkir. Ada banyak lahan dakwah yang menunggu sentuhan kita. Ada banyak peluang dakwah yang dapat kita ciptakan tanpa harus kita menduduki posisi-posisi yang prestisius di mata kader. Banyak ikhwah yang berdakwah di sudut-sudut sepi, yang jauh dari hiruk-pikuk popularitas, yang juga menopang dakwah ini.

Maka jika ditawarkan : Mau jadi kader yang diparkir atau di parkiran? Katakanlah : No Way!! Bismillah..


Dinamis, kreatif dan innovatif :

a. Aspek kecerdasan emosional :

1. Hasrat; untuk mengubah hal-hal di sekelilingnya menjadi lebih baik
2. Kepekaan; bersikap terbuka dan tanggap terhadap sesuatu
3. Minat; untuk menggali lebih dalam dari yang tampak di permukaan
4. Rasa ingin tahu; semangat yang tak pernah berhenti untuk mempertanyakan
5. Mendalam dalam berpikir; sikap yang mengarahkan untuk pemahaman lebih mendalam
6. Konsentrasi; mampu menekuni suatu permasalahan hingga menguasai seluruh bagiannya
7. Optimisme; memiliki rasa antusias (kegairahan) ketika memecahkan suatu masalah
8. Tertantang oleh kemajemukan; tertarik pada situasi dan masalah yang rumit dan kompleks
9. Bersifat menghargai; menghargai kritik, bimbingan orang lain, juga menghargai kemampuan dan bakat sendiri
10. Tidak mudah puas; selalu ingin menguji jawaban dan alternatif yang telah dibuat, selalu ingin mencari yang baru dan yang lebih baik, ingin selalu mencari terobosan untuk efektivitas dan efisiensi
11. Siap mencoba dan melaksanakan; bersedia mencurahkan waktu dan tenaga untuk mencari dan mengembangkan suatu metode
12. Kesabaran; ketahanan mental dalam memecahkan masalah
13. Mampu bekerjasama; sanggup berpikir secara produktif bersama orang lain
14. Menghargai humor; mempunya “a good sense of humor”

b. Aspek kecerdasan intelektual :

1. Berpikir lancar; mengajukan banyak pertanyaan, jawaban dan gagasan
2. Berpikir luwes; menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan yang berangkat dari fleksibilitas konsep dan sudut pandang yang berbeda
3. Berpikir orisinal; mampu melahirkan ungkapan, gagasan baru yang unik, yang tidak lazim dipikirkan orang
4. Mengevaluasi; kemampuan membuat patokan penilaian dan mampu mengambil keputusan pada situasi yang ada
5. Kritis; kemampuan untuk mempertanyakan berbagai hal dari sudut pandang
6. Imajinatif; membayangkan berbagai hal yang belum pernah terjadi atau belum terpikirkan sebelumnya.
7. Mendeteksi; mempelajari serta merasakan berbagai kejanggalan yang terjadi
8. Melakukan verifikasi atau pengelompokan; memilah-milah kejanggalan-kejanggalan berdasarkan jenisnya.
9. Melakukan analisis; menguraikan sebab-sebab atau segala sesuatu yang berkenaan dengan kejanggalan-kejanggalan yang ditemukan
10. Melakukan sintesis; kemampuan menghubungkan berbagai hal atau kemungkinan sebahgai langkah lanjut dari analisis

Kamis, 04 Maret 2010

Mengapa Tidak Secerdik Siput

Suatu ketika ada seekor siput yang mencoba naik ke atas pohon. Niatnya mau mengambil buah atau sekadar melihat keindahan bunga. Sepintas tentu kita berpikir tidak ada yang aneh dengan perilaku siput ini.

Namun, masalahnya kali ini siput itu naik menuju puncak saat pohon itu belum berbuah dan belum berbunga karena saat itu sedang musim gugur. Maka sangatlah wajar kalau siput ini mendapat cemoohan dari binatang-binatang lain yang ada di sekitarnya.

"Mau apa kamu hari gini naik ke atas pohon? Apa kamu sudah hilang akal?" Celetukan kelinci tersebut memang beralasan karena pada musim gugur, seluruh pohon dalam keadaan gundul. Jangankan buah atau bunga, daun-daunnya pun berguguran. Yang tertinggal hanyalah dahan-dahan pohon yang meranggas.

“Aku tahu, hari ini pohon belum menghasilkan buah atau bunga setangkai pun. Namun, aku yakin ketika aku sampai di atas, pohon sudah menghasilkan banyak buah dan bunga," jawab siput dengan tenangnya. Kemudian siput itu kembali merayap meneruskan perjalanan panjangnya menuju puncak pohon.

Ibrah yang bisa diambil

Mungkin bagi sebagian orang, cerita ini hanya rekaan saja. Tidak ada nilainya apa-apa. Tapi kawan, mari kita sejenak merenungkannya dan mari kita coba gali, hikmah seperti apa yang bisa saja terkandung dari cerita rekaan di atas.

Siput, kita tahu adalah binatang yang bergerak lambat. Apalagi bagi kita yang terbiasa berkendaraan di atas 60 KM/jam, maka itu menjadi sangat lambat sekali tentunya. Untuk jarak 10 M saja dia mungkin butuh waktu lebih dari 10 menit. Hampir pasti setiap kita mendengar kata siput, maka yang ada di benak kita pertama kali adalah bahwa ia binatang yang lamban.

Kawan, orang terkadang tidak sabar ketika berhadapan dengan orang yang lambat. Seperti siput itu, meski dicekik sekalipun, tidak tidak akan mungkin bisa bergerak secepat kucing apalagi panther. Tapi siput dalam kisah di atas menunjukkan kecerdikannya dan kesungguhannya.

Dia tahu dan sadar betul apa kelebihan dan kekurangannya. Dia juga mengetahui bagaimana cara menutupi kekurangannya. Ketika dia paham bahwa ia "dikarunia" gerak yang lambat, maka itu berarti dia harus "mencuri start" dalam bertindak. Tidak mungkin dia bisa bersaing dengan binatang-binatang lain dalam hal kecepatan gerak, jika dia memulai bersama mereka.

Kesadaran dan penerimaan diri

Pertama, ini adalah kisah tentang kesadaran dan penerimaan diri. Setiap orang punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Maka yang diperlukan pertama kali adalah kesadaran akan dirinya tersebut sekaligus penerimaan. Jangan pernah kita merasa rendah dengan kemampuan tertentu yang tidak kita punyai, karena kita masih bisa menggali kemampuan yang lain yang ada dalam diri kita.

Boleh jadi kita tidak pandai merangkai kata dalam berpidato atau berceramah, tapi tidak mustahil kita justru mempunyai kemampuan lebih dalam hal menulis. Boleh jadi kita lemah dalam sisi matematis tapi sangat mungkin kita bisa menemukan kehalusan sentuhan kita dalam hal seni. Intinya adalah, jangan pernah kita merasa lelah untuk menggali potensi diri kita.

Kesabaran dan kecerdikan

Yang kedua, ini juga cerita tentang kesabaran dan kecerdikan membaca peluang. Siput memiliki kesabaran dalam menerima kondisinya. Di sisi lain dia bisa mengakali keadaanya dengan kecerdikannya. Dia telah berhitung bahwa dengan dia mencuri start terlebih dahulu di saat binatang lain bahkan belum sempat memikirkannya, maka dia bisa sampai di puncak pohon di saat pohon sudah berbuah dan musim telah berganti menjadi semi.

Begitulah, dengan kesabaran dalam menerima kondisi yang dimiliki dan kecerdasan yang dimiliki itulah, seseorang akan bisa menuju puncak di saat yang tepat. Kelebihan dan kelemahan manusia tidak akan pernah sama. Selalu berbeda-beda. Maka usaha yang ditempuh untuk mencapai puncak kehidupan pun bisa berbeda-beda.

Peluang dan kemampuan

Kata kuncinya ada pada kata "PELUANG" dan "KEMAMPUAN". Sejauh mana seseorang bisa mempertemukan sekaligus memadukan antara peluang yang ada di hadapannya dengan kemampuan yang dipunyainya, maka yakinlah ia akan bisa mencapai puncak kehidupannya dengan selamat.

Dalam kaitannya dengan dunia dakwah, korelasi dengan bahasan di atas maka kita bisa memulainya dengan menggali semangat dari Qur’an Surat Al Anfal ayat ke-60 :

  •         •  •                     

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

Di sini secara terang dan jelas Allah telah memerintahkan kita untuk senantiasa mempersiapkan kekuatan apa saja yang kita sanggupi dan kita punyai, untuk menggetarkan musuh-musuh Allah. Yang Allah sebut adalah “Maa istatho’tum min quwwah”, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Dengan kata lain, potensi dan kemampuan apapun yang kamu punyai, maka persiapkanlah untuk dakwah ini. Untuk menggetarkan musuh-musuh dakwah ini.

Oleh karena itu, semestinya bagi seorang ikhwah tidak ada lagi istilah bahwa ia tidak mampu untuk memulai dakwah ‘hanya’ karena ia merasa tidak mempunyai kemampuan untuk itu. Bahwa ia merasa mempunyai banyak keterbatasan-keterbatasan di sana. Mari mengingat kembali kisah siput di atas, kelemahan dan keterbatasan yang ia punyai mampu ia tuntaskan dengan kecerdikannya membaca peluang, bukan?

Nahnu du’at qabla kulli syai’in

Nahnu du’at qabla kulli syai’in. Kita adalah da’i sebelum segala status yang melekat dalam diri kita. Status da’i kita, melekat dalam diri kita sebelum status-status yang lain kita sematkan dalam diri kita. Maka sebagai seorang PNS, kita adalah da’i yang PNS. Potensi apa pun yang kita punyai, kesanggupan apa pun yang kita miliki, maka sudah semestinya kita gunakan dan kita arahkan untuk menopang dakwah ini.

Ketika kita bernafas, maka mari kita bernafas bersama dakwah ini. Saat kita berjalan, mari kita tetap berjalan bersama dakwah ini. Saat kita berlari, maka teruslah berlari bersama dakwah ini. Sampai saatnya kita harus berhenti pun, maka berhentilah dalam rangka membela dakwah ini.

Allahu a’lam bish-shawab.

Finished @ pancoran : 03/03/2010:21.50. Great thank for Fita

Rabu, 30 Desember 2009

Membuat Skoliosis Lebih Simetris

(TEMPO Interaktif) Punggung Michele tampak tidak simetris. Pinggang kiri dan kanannya tidak sama alias tinggi sebelah. Kondisi ini diketahui ibunya, Tjahyadi, saat gadis 11 tahun itu mengenakan baju renang. Pada April 2008, dokter mendiagnosis Michele menderita skoliosis, yaitu gejala kelainan bentuk tulang belakang.

Saat itu didapati bagian belikat tulang belakangnya menonjol, dan kemiringannya mencapai 40 derajat. Dari beberapa literatur, kurva kemiringan melebihi 40 derajat termasuk kategori berat. Michele bisa terancam mengalami gangguan saraf, irama jantung, hingga kelumpuhan. Ancaman itu akibat dari jarak antara tulang dada dan tulang belakang yang makin mendekat, sehingga ruang paru-paru di antara dua tulang vital itu menjadi menyempit.

Dengan kurva sedemikian miring, tindakan yang harus diambil adalah melakukan operasi. Demikian menurut konsultan ortopedi tulang belakang Rumah Sakit Internasional Bintaro, Dr Luthfi Gatam, SpOT, Spine Surgeon (K). "Jika kurva kurang dari 20 derajat, tidak perlu dioperasi," ujar Luthfi beberapa bulan lalu di RS Internasional Bintaro, Tangerang.

Waktu itu, dokter yang menangani Michele memang tidak mengambil tindakan operasi. Tapi dia mewajibkan Michele memakai baju penopang berupa cetakan berbentuk tubuh. Baju itu terbuat dari plastik, dan dilengkapi dengan tali serta besi. Tujuannya adalah agar kemiringan tubuh si pasien tidak bertambah. Konon, baju ini beratnya mencapai 6 kilogram dan harganya mencapai belasan juta rupiah.

Baju itu tentu membuat Michele tidak nyaman. Dia harus memakai baju penopang yang cukup berat itu saban hari. Apalagi baju khusus itu juga harus dipakai pada waktu tidur. Namun demi kesembuhan, Michele terus bertahan memakai baju penopang tubuh itu.

Dalam perjalanannya, selain diobati secara medis, Michele ditangani oleh seorang yi seng. Yi seng adalah sebutan untuk ahli pengobatan tradisional Cina. Menurut Nelly Suhirman, pemilik Traditional Medicine & Health Centre, Tung Mei Massage, di Jakarta, yi seng ini mempelajari secara akademik setingkat universitas khusus tulang dan saraf di negeri Cina daratan.

Tung Mei Massage sendiri adalah terapi jasmani perpaduan antara gerakan pijat spesifik anmo massage dan sejenis teknik gerakan chiropatic, seperti menekuk, menarik, serta meregangkan tubuh. Terapi ini tetap memakai panduan medis, seperti hasil roentgen dari penderita skoliosis. "Banyak pasien di sini yang mengkombinasikannya," ujar Nelly saat ditemui di Jakarta pekan lalu.

Selanjutnya, pasien diterapi secara manual menggunakan jari atau lengan di titik-titik sumber penyakit selama 50 menit. Yi seng akan mencari titik-titik sumber penyakit dan menekan titik-titik itu. Selama proses pemijatan, pasien memakai baju dan celana longgar.

Menurut Nelly, pasien disarankan menjalani terapi itu hingga sepuluh kali dengan frekuensi dua kali per pekan. Uniknya, setelah menjalani terapi, pasien tidak dibekali obat-obatan. Pasien juga tidak diminta berpantang makanan apa pun. "Sekali terapi, pasien dikenai biaya Rp 300 ribu," Nelly memberi tahu.

Dalam kasus Michele, bagian tulang belikat yang menonjol didapati sudah semakin rendah--saat memasuki terapi yang ketiga. Malah baju penopang dari besi itu sudah sedikit longgar. Di klinik ini, menurut Nelly, kebanyakan pasiennya adalah remaja perempuan. Pada kebanyakan kasus, penyebab dari skoliosis tidak diketahui atau disebut juga idiopathic.

Selain mengatasi skoliosis, Nelly menambahkan, terapi ini bisa mengatasi keluhan nyeri pinggang akibat terjepitnya urat-urat saraf yang melalui tulang belakang--atau dalam istilah medis disebut juga herniated nucleus pulposus.

Agar Tak Kembali Bengkok

1. Bila bangun dari posisi berbaring, dianjurkan memiringkan tubuh terlebih dulu, barulah bangkit perlahan.
2. Tidak boleh membungkukkan badan.
3. Jika membungkukkan badan, posisi tubuh harus jongkok--bila ingin mengambil sesuatu.
4. Tidak boleh mengangkat barang atau beban berat selama menjalani terapi, terutama bila masih ada rasa sakit.
5. Saat kondisi sudah membaik, bukan berarti bisa beraktivitas sembarangan.
6. Herniated nucleus pulposus dan skoliosis tidak bisa sembuh total serta ada risiko terulang lagi bila ada faktor pemicunya, seperti jatuh, mengangkat beban terlalu berat, atau salah melakukan gerakan tubuh.

(sumber : koran tempo edisi Rabu, 30 Desember 2009)

Rabu, 16 Desember 2009

SKOLIOSISKU : Jangan Menyerah


Sudah lama aku tidak melanjutkan cerita tentang hal yang satu ini. Mumpung ada pinjeman modem sehingga bisa untuk meng-upload gambar, berikut ini adalah gambaran tulang belakangku. Foto ini adalah gambaran di tahun 2006. Tiga tahun semenjak aku menyadari keskoliosisanku (2003).

Sampai sekarang aku belum melakukan langkah yang dramatis untuk kondisi skoliosiku ini, selain sekedar exercise yang dilakukan kalo pas pengin aja, plus memakai korset dalam kondisi-kondisi tertentu. Acara les renang yang sebenarnya sering aku agendakan belum pernah sekalipun bisa aku jalankan. Sulit mencari waktu yang pas alias sok sibuk (selain alasan karena aktifitas jarak jauh yang selama 3 tahun belakangan ini aku lakukan : Jogja-Jakarta).

Beberapa pekan kemaren (sampai hari ini masih sedikit terasa), sakit itu kambuh lagi. Masih bisa rukuk, tapi tak sempurna. Kaki harus sedikit menekuk. Seperti biasa juga, berawal dari ketidakdislipanku dalam menjaga aktifitasku. Sebuah aktifitas yang terlalu membebani tulang punggungku sering kali aku lakukan, sehingga seakan tulang punggungku melakukan protes kembali, menginganku !

Yup. Semua ini tak akan menghalangi aku untuk selalu berbuat terbaik. Selagi masih ada nafas di dada ini, sakit ini aku jadikana sebagai teman setia yang selalu menemaniku dalam setiap aktifitas keseharianku. InsyaAllah selalu ada hikmah dari setiap kejadian yang kita alami dan rasakan.

Tetap semangat kawan !

at lantai 26 gedung baru kpdjp. 16/12/2009 : 09.37