Selasa, 08 November 2011

Menjaga Tradisi Kepahlawanan

Menjaga Tradisi Kepahlawanan


"Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.
dan Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian,
(Asy-Syuara : 83-84)


Keputusan telah dijatuhkan. Ibrahim harus dihukum dengan membakarnya hidup-hidup dalam api yang besar, sebesar dosa yang telah dilakukannya. Maka persiapan upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat terus dilakukan. Tanah lapang tempat pembakaran disediakan, kayu bakar dengan jumlah yang demikian banyaknya terus dikumpulkan. Tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bagian membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat, sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mereka yang telah dihancurkan oleh Ibrahim.

Setelah terkumpul kayu bakar di lapangan yang disediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksana sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan terbentuklah lautan api yang dahsyat. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Ibrahim didatangkan dan dilemparkanlah ia ke dalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu. Maka datanglah kebesaran dan kuasa Allah. "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." (QS. 21:69)

Kisah di atas hanyalah satu episode dari perjalanan panjang kehidupan Nabi Ibrahim yang mendapatkan sebutan sebagai Bapaknya Para Nabi ini. Kisah Nabi Ibrahim memang selalu sarat dengan pelajaran dan hikmah untuk digali setiap saat. Maka itulah salah satu rahasia mengapa Allah mengabadikannya nyaris secara detil episode-episode kehidupan Nabi Ibrahim di dalam Al Qur’an. Dan doa-doanya pun melegenda, melewati batas generasi dan zaman.

Momentum Sejarah

Muhammad al Fatih, sejak kecil ia telah mempelajari Al-Qur’an dan Al-Hadist Rasulullah SAW. Di antara hadist yang disampaikan secara berulang-ulang kepada beliau pada masa kecilnya adalah hadist yang berisi ramalan Rasulullah tentang penaklukan kota Konstantinopel sebagai berikut: “Konstatinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada dibawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad)

Di masa shahabat, pasukan muslim sudah sangat dekat dengan kota itu. Bahkan salah seorang shahabat yaitu Abu Ayyub Al-Anshari ra, yang menjadi anggota pasukannya dikuburkan di seberang pantainya. Tetapi tetap saja kota itu belum pernah jatuh ke tangan umat Islam sampai 800 tahun lamanya sejak era kenabian.

Abu Ayyub Al-Anshari berkata, "Aku mendengar baginda Rasulullah SAW bersabda bahwa ada seorang lelaki shalih akan dikuburkan di bawah tembok tersebut, Dan aku juga ingin mendengar derap tapak kaki kuda yang membawa sebaik-baik raja, yang mana dia akan memimpin sebaik-baik tentara seperti yang telah diisyaratkan oleh baginda".

Konstantinopel adalah sebuah kota yang sangat kuat dan hanya sosok yang kuat pula yang dapat menaklukkannya. Sepanjang sejarah, kota itu menjadi kota pusat peradaban barat dan tidak pernah ada satu pun lawan yang mampu menembus benteng pertahanannya. Benteng Bosporus terlalu tinggi temboknya, terlalu tebal dindingnya. Bahkan benteng itu dikelilingi oleh laut yang membuat musuh yang ingin menerobos selalu gagal.

Namun akhirnya benteng itu terbuka juga dan kota Konstantinopel menyerah. Pahlawan muslim yang ditakdirkan menjadi orang yang telah dikabarkan Rasulullah SAW itu adalah Sultan Muhammad Al-Fatih. Al-Fatih adalah gelar untuk beliau yang maknanya Sang Penakluk. Karena beliau adalah orang yang berhasil membebaskan jantung Eropa itu ke tangan Islam.

Memaksimalkan Peran

Nabiyullah Ibrahim dengan peran kenabiannya yang telah Allah abadikan dalam Al Qur’an, membuat sejarah mencatatnya sebagai peletak kembali pondasi ketauhidan. Muhammad al Fatih yang dengan peran kesultanannya berhasil menaklukkan kota Konstantinopel, telah mencatatkan namanya dalam jajaran para pahlawan Islam yang mengharumkan peradaban bumi ini.

Maka sesungguhnya, tabiat Islam adalah senantiasa mendorong, menumbuhkan dan memunculkan jiwa-jiwa pahlawan pada setiap insan yang secara kaffah mengamalkannya. Yang dituntut hanyalah totalitas kita dalam menjalankan peran-peran yang kita emban. Allah SWT berfirman :

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah : 105)

Dan dalam ayat yang lain Allah berfirman :

Katakanlah: "Hai kaumku, Bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, Sesungguhnya aku akan bekerja (pula), Maka kelak kamu akan mengetahui.” (QS Az-Zumar : 39)

Mengukir Prestasi, Mencatat Prasasti

Apa pun peran kita, yang ada adalah tuntutan totalitas. Pengerahan segala potensi, keterampilan, keahlian bahkan tabiat atau karakter yang kita punyai untuk mendukung peran-peran yang kita emban, InsyaAllah akan menghasilkan prestasi yang terbaik dalam kehidupan kita. Maka sebagaimana doa Nabi Ibrahim di atas, prestasi itu akan terprasastikan dan menjadi buah tutur yang baik bagi generasi berikutnya.

Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalanNya.” (QS Al isra’ : 84)

Maka dengan begitu, negeri ini akan kembali subur melahirkan jiwa-jiwa pahlawan seperti ketika dulu negeri ini melahirkan sosok-sosok besar seperti Imam Bonjol, Teuku Umar dan Pangeran Diponegoro yang menurut laporan sejarah dari orang Belanda sendiri, akibat perlawanan yang bersamaan yang mereka lakukan, 8000 serdadu Belanda tewas dan kehilangan 20 juta gulden habis oleh gerakan yang dipimpin oleh para ulama tersebut lewat satu komando.

Wallahu a’lam bish-shawab.
@Lt 19 Ged Utama, 16.15 WIB. bahan utk buletin

Senin, 19 September 2011

Laskar Senja : Syawalan 1432 H

Alhamdulillah, syawalan anggota laskar untuk tahun 1432 H ini terlaksana juga. Momen ini menjadi momen yang sangat langka, karena semua anggota keluarga laskar diusahakan bisa ikut serta sehingga menjadi sarana untuk saling mengenal lebih satu sama lain.

Semoga silaturahim ini terus berlanjut, tidak hanya ketika masih aktid menjadi anggota laskar. Kelak meski harus bertebaran lagi, kita akan usahakan untuk selalu mengadakan even pertemuan anggota laskar maupun alumninya.

Semoga.

Rabu, 07 September 2011

Puasa, Takwa, dan Syawal

Puasa, Takwa, dan Syawal

Sudah kita ketahui bahwa ibadah puasa ramadhan untuk membentuk pribadi yang bertakwa, lalu bagaimana kah ciri pribadi yang bertakwa itu selepas bulan ramadhan bisa kita lihat? Maka mari kita lihat QS Ali Imran : 133-135 :

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”


Salah ciri satu orang yang bertakwa di atas, sbg hasil dari tarbiyah ramadan selama sebulan adalah wa afina ‘aninnaas yaitu memaafkan kesalahan orang. Maka untuk mensyiarkan karakter inilah maka terciptalah tradisi halal bi halal yang ada di negara ini. Yang pada intinya adalah untuk saling mengikhlaskan segala keselahan di antara sesama.

Halal bi hala tidak akan lengkap kalo kita tidak membahas tentang silaturahim yang kemudian identik dengan mudik. Banyak di antara kita rela untuk membayar tiket mahal, melewati perjalanan yang panjang dan bermacet ria, demi satu hal yang bernama silaturahim tadi. Maka perlu kita lihat juga, beberapa hadits nabi yang mengabarkan kepada kita tentang pentingnya silaturahim.

1. Orang yang memutus silaturahim tidak akan masuk surga

Hadis riwayat Jubair bin Muth`im ra.:
Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan. (Shahih Muslim No.4636)

2. Silaturahim akan memudahkan rejeki

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung hubungan kekeluargaan (silaturahmi). (Shahih Muslim No.4638)

3. Silaturahim akan memanjangkan umur

Selain hadits di atas (point 2), Keutamaan inipun dikuatkan dengan hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, yang berbunyi :

صِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيْدُ الْعُمُرَ

Artinya: “Silaturahim bisa menambah umur.” [Dikeluarkan oleh Al Qadha’i dalam Musnad Asy Syihab dan dihasankan oleh Al Munawi dalam Faidhul Qadir (4/192) dan Al Albani menshahihkannya dalam Shahihul Jami' no. 3776]

Pertama. Yang dimaksud dengan tambahan (atau dipanjangkan umurnya) di sini, yaitu tambahan berkah dalam umur. Kemudahan melakukan ketaatan dan menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat baginya di akhirat, serta terjaga dari kesia-siaan.

Kedua. Berkaitan dengan ilmu yang ada pada malaikat yang terdapat di Lauh Mahfudz dan semisalnya. Umpama usia si fulan tertulis dalam Lauh Mahfuzh berumur 60 tahun. Akan tetapi jika dia menyambung silaturahim, maka akan mendapatkan tambahan 40 tahun, dan Allah telah mengetahui apa yang akan terjadi padanya (apakah ia akan menyambung silaturahim ataukah tidak). Inilah makna firman Allah Ta’ala :

يَمْحُو اللهُ مَايَشَآءُ وَيُثْبِتُ

Artinya: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).” (QS Ar Ra’d:39).

Sehingga seolah-olah di mata manusia, umurnya yang bertambah shg menjadi 100 tahun.

Dan yang ketiga. Yang dimaksud, bahwa namanya tetap diingat dan dipuji. Sehingga seolah-olah ia tidak pernah mati. Demikianlah yang diceritakan oleh Al Qadli, dan riwayat ini dha’if (lemah) atau bathil. Wallahu a’lam. [Shahih Muslim dengan Syarah Nawawi, bab Shilaturrahim Wa Tahrimu Qathi’atiha (16/114)]

Terakhir, sebagai hiburan marilah kita belajar tentang makna ikhlas. Bagaimana seharusnya sikap kita yang harus kita bangun dalam mengikhlaskan segala kesalahan orang lain kepada kita. Ustadz Mujab Mahalli, seorang kyai di bilangan Krapyak Yogyakarta, dalam sebuah bukunya menceritakan tentang contoh sebuah keikhlasan.

Tersebutlah seorang kyai yang mempunyai dua orang santri yang telah lulus dari pondoknya. Kebetulan keduanya bersaudara dan tinggal berdekatan. Sebut saja namanya Karyo dan Kardi. Setelah sekian bulan lamanya mereka tidak bertemu kyai mereka, ada kerinduan dalam diri mereka.

Karyo mengutarakan hal itu kepada istrinya, ”Aku kok kangen sama pak kyai ya, Bune. Bagaimana kalo kita sowan beliau?” ”Ya bagus tho Pakne, saya setuju itu.” jawab istrinya. ”Kita bawa oleh-oleh ya buat beliau, kita punya apa?” tanya Karyo. Mereka hanya seorang petani desa dengan ladang yang tidak begitu luas. ”Ya, cuma ketela di belakang rumah itu, Pakne.” kata istrinya. ”Ya sudah, tujuan kita kan silaturahmi. InsyaAllah beliau berkenan.” kata Karyo mantab.

Singkat cerita, mereka berdua akhirnya sampai di rumah kyai mereka. Kyai dan santri itu banyak berbincang sambil melepas kerinduan mereka. Ketika hari menjelang sore, Karyo dan istrinya berpamitan. ”Tunggu sebentar ya.” kata sang kyai sambil ke ruang dalam mengajak istrinya. ”Nyai, apa yang kita punyai untuk oleh-oleh si Karyo?” tanya kyai kepada istrinya. ”Cuma seekor kambing di belakang itu, kyai.” jawabnya. ”Yo wis, kita bawakan untuk si karyo ya.” kata kyai. Karyo pulang ke desanya sambil menuntun seekor kambing, pemberian sang kyai

Sampai di rumah, demi melihat Karyo menuntun seekor kambing, Kardi bertanya kepadanya, ”Lah, dari mana kamu yo? Kok pulang-pulang membawa seekor kambing?” ”Dari rumah kyai.” jawab karyo singkat. ”Memang kamu bawa oleh-oleh apa tadi?” tanya kardi penasaran. ”Cuma bawa ketela pohon saja.” kata Karyo.

Tiba-tiba pikiran Kardi berhitung matematis. Jika Karyo saja sowan kyai membawa ketela diberi seekor kambing, kalo bawa seekor kambing pasti dapatnya paling tidak seekor sapi.Begitu pikiran dalam benaknya.

Hari berikutnya, segera Kardi mengajak istrinya sowan ke sang kyai. Tidak lupa dia menuntun seekor kambing buat oleh-oleh gurunya itu. Sesampai di rumah kyai, mereka disambut gembira sang kyai. Sama seperti Karyo, mereka berbincang banyak hal sambil melepas kerinduan mereka. Ketika hari beranjak sore, Kardi berpamitan. ”Tunggu sebentar ya.” kata sang kyai. Kyai dan nyai kemudian masuk ke ruang dalam. ”Nyai, kita punya apa buat oleh-oleh si Kardi?” tanya kyai. ”Tinggal ketela yang di dapur itu, kyai. Pemberian Karyo kemaren.” jawab nyai. ”Ya sudah, bawakan buat si Kardi ya.” kata kyai. Akhirnya Kardi pulang dengan hati dongkol karena hanya memperoleh sekarung ketela. Ia tidak mendapatkan oleh-oleh seperti yang dia bayangkan sebelumnya.

Inilah gambaran sederhana dari makna ikhlash. Bahwa keikhlasan itu akan membawa kita kepada sesuatu yang lebih baik. Ketika ada sedikit saja motif yang melenceng dari hati kita, maka kita akan dapati sesuatu yang tidak sesuai dengan maksud sesungguhnya.

@lt 19 jakarta, 7/9/2011 13.25

Kamis, 11 Agustus 2011

Dektektif Kesiangan

Dektektif Kesiangan

Senin pagi itu (25 Juli 2011) kereta api bisnis senja utama solo yang aku tumpangi sampai di Jatinegara relatif pagi, kira-kira pukul 04.30. Ke kost di wilayah pancoran, awalnya aku berencana naik taksi dengan kawan, tapi setelah menunggu cukup lama ternyata dia tidak segera nampak batang hidungnya, segera aku putuskan naik ojek. “Berapa Bang?” tanyaku. “Dua puluh lima.” Katanya. “Tidak dua puluh?” basa-basiku, karena aku sebenarnya paling malas dengan yang namanya tawar menawar. “Jauh bos..” jawabnya. Aku anggukkan saja kepalaku segera mendengar jawabannya itu.

Aku sengaja turun di depan komplek, tidak masuk ke dalam karena pemeriksaan oleh satpam jika suasana pagi-pagi begini sangat detil dan ribet. Sampai di depan rumah tampak suasana di dalam rumah masih gelap. Itu artinya 2 orang sahabatku, Mas Amin dan Mas Joko, yang tinggal bareng di rumah ini belum datang juga dari kampung. Maka setelah aku masuk ke rumah segera aku menuju ke lantai atas, tempat kamarku berada. Rumah ini ada 2 lantai, lantai bawah ada satu kamar utama dan lantai atas ada 4 kamar terdiri dari 3 kamar di ruang utama dan satu kamar di ruang samping. Tampak sekilas dari bawah pintu, salah satu kamar di lantai atas lampu dalam kondisi menyala.

Ketiga kamar diruang utama dalam kondisi tertutup. Memang sabtu-ahad kemaren waktu kami pulang, ada pengerjaan pembetulan beberapa saluran air yang bocor di lantai atas sehingga rembes dan merusak plafon lantai bawah. “Greeegh..!” Ooops.. kenapa jadi terkunci pintu kamarku? Aku coba kamar yang sebelahnya, juga terkunci. Kamar yang tampak menyala lampunya tadi, juga terkunci. Aku mencoba ketok dan ucapkan salam, tetap tak ada jawaban. Itu artinya sekali lagi, kedua temanku belum ada yang datang pagi ini. Wah.. bagaimana aku bisa mandi dan ganti baju pagi ini, padahal sepekan ini ada diklat?

Hmm.. aku mencoba berpikir dan mencari solusi pemecahannya. Sahabatku yang ikut tinggal di kamar lantai atas, Mas Joko, aku sendiri baru bertemu dengannya sekali. Belum begitu mengenal tabiatnya. Aku coba buka laci demi laci dan lemari di lantai atas, siapa tahu kunci ada disimpan di salah satu laci, hasilnya tetap nihil. Bergerak aku ke lantai bawah, kamar utama ternyata tidak terkunci. Begitu masuk beberapa laci aku buka, taraaa.... ! Kunci-kunci kamar atas tadi tetap menjadi misteri. Raib! Aku coba telepon Mas Joko tapi tidak pernah diangkat. Yang aku tahu, selepas sholat subuh di masjid, biasanya dia tepar lagi. O-o...

Berikutnya aku coba hubungi Mas Amin, rupanya ia masih perjalanan kereta dari Surabaya. Sampai rumah diperkirakan jam 9-an. Duh..! Pantang semangat, laci demi laci dan lemari di lantai bawah aku coba telusuri satu demi satu. Dan kunci-kunci itu tetap tidak mau menampakkan dirinya. Haduh.. akhirnya dengan setengah pasrah aku terduduk di sofa ruang tamu lantai bawah. Sebagai langkah antisipasi, aku hubungi teman satu bagian di kantor untuk meminjam baju setidaknya untuk hari ini. Sambil menyalakan televisi di depanku, aku mencoba merangkai memori dari jumat kemaren hingga pagi ini. Siapa tahu ada lompatan informasi baru yang membantuku.

Tiba-tiba pandanganku tertegun. Hai-hai... sepertinya aku merasa ada yang tidak biasa. Jam dinding yang aku letakkan di meja bawah televisi itu sepertinya dalam posisi yang tidak biasanya. Sedikit agak menggantung, dan terkesan seperti disengaja. Ini petunjuk bagiku. Petunjuk pertamaku. Maka aku segera bergerak menggeser jam tadi dan... “Triiinggg” satu buah anak kunci terjatuh di hadapanku. Alhamdulillah, satu rahasia sudah aku pecahkan. Maka aku kemudian teringat dengan petunjuk berikutnya yang justru aku dapati di awal tadi, lampu kamar yang menyala. Petunjuk keduaku. Bergegas aku ke lantai atas menuju kamar tadi.

“Ctrekk...!” Persis seperti yang kuduga. Kunci ini memang untuk pintu kamar yang lampunya sengaja dinyalakan tadi. Rahasia kedua sudah aku ungkap. Sekarang tinggal masalah dimana kunci kedua pintu kamar yang lain disimpan di kamar ini. Aku coba identifikasi kamar ini, pasti ada sesuatu yang tidak biasa. Yup, di atas meja kamar ini, ada satu buah popmie yang seharusnya tidak ada di situ pekan kemaren. Cara menaruhnya pun tidak biasa. Ini dia petunjuk ketigaku. Maka begitu aku dekati, di bawah popmie itulah aku dapati 2 anak kunci yang sedari tadi pagi aku cari. Ugghh... lega sudah perasaanku pagi ini, bisa masuk kamar dan tidak perlu meminjam baju untuk hari ini.

Aku hanya terpikir, ini pasti pekerjaan Mas Joko karena yang terakhir keluar dari rumah ini adalah dia. Tapi kenapa harus main petak umpet begini menyimpannya. Ah.. sudahlah, yang penting aku bisa memecahkan permainannya. Dan lebih penting lagi, aku bisa segera mandi dan berangkat ke kantor secepatnya. Pelajaran yang aku dapat pagi ini, biasakan mengamati dan merekam benda-benda di sekitar tempat dan rumah tinggal kita. Suatu saat itu akan berguna. Perpindahan, perubahan, pergeseran posisi, itu mengabarkan kepada kita bahwa seseorang atau sesuatu telah merubahnya. Bisa jadi kebetulan. Bisa jadi disengaja karena ada sesuatu yang ingin disampaikan melalui perubahan itu.



Finished @lantai 19. 11/8/2011. 15.16
Lagi pengin nulis yang ringan-ringan saja...

Rabu, 10 Agustus 2011

Keutamaan Menuntut Ilmu

Al ilmu Nuurun” Ilmu itu Cahaya. Maka Allah selalu akan menampakkan orang yang berilmu itu seperti cahaya di tengah kegelapan. Kita bisa membayangkan saat kita berjalan di tengah kegelapan malam yang gulita, jika tanpa ada cahaya penerang, maka tentu kita akan mudah tersesat, mungkin kita akan terperosok ke dalam lubang, bisa jadi akan terpeleset jatuh, atau paling tidak kaki kita akan terantuk sesuatu.

Jika Nabi saja mengibaratkan kehidupan kita di dunia ini (hanyalah) seperti musafir, yaitu orang yang melakukan perjalanan (dengan tujuan akhir akhirat), kita akan menemukan keniscayaan bahwa perjalanan itu akan melalui waktu siang dan malam. Perjalanan akan selalu melalui saat terang dan gelapnya suasana. Maka kembali seperti pada perumpamaan di atas tadi, saat kita bertemu kondisi gelap, sudah barang tentu kita sangat memerlukan cahaya utk memandu langkah dan perjalanan kita agar sampai tujuan dengan selamat

Ada sebuah kisah tentang pentingnya ilmu, dalam hadits diceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat marah dengan seseorang yang berfatwa tanpa ilmu. Dari Jabir dia berkata; Kami pernah keluar dalam sebuah perjalanan, lalu salah seorang di antara kami terkena batu pada kepalanya yang membuatnya terluka serius. Kemudian dia bermimpi junub, maka dia bertanya kepada para sahabatnya; Apakah ada keringanan untukku agar cukup bertayammum saja? Mereka menjawab; Kami tidak mendapatkan keringanan untukmu sementara kamu mampu untuk menggunakan air.

Maka orang itupun lalu (terpaksa) mandi dan langsung meninggal. Ketika kami sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau diberitahukan tentang kejadian tersebut, maka beliaupun bersabda: “Mereka telah membunuhnya, “semoga” Allah membunuh mereka! Tidakkah mereka bertanya apabila mereka tidak mengetahui, karena obat dari kebodohan adalah bertanya! Sebenarnya cukuplah baginya untuk bertayammum dan memeras – atau membalut lukanya – Musa ragu-ragu – kemudian mengusapnya saja dan membasuh bagian tubuhnya yang lain.” (HR. Abu Dawud).

Karena begitu pentingnya kebutuhan kita akan ilmu, maka kemudian islam menetapkan bahwa menuntut ilmu itu wajib hukumnya. Salah satu dasar kewajiban menuntut ilmu adalah sebuah hadits nabi yang berbunyi : “Tholabul ‘ilmi faridhotun ‘ala kulli muslimin”. Artinya : menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim.

Keutamaan ilmu ada beberapa di antaranya:

1. Allah memudahkan langkah-langkah menuju surga bagi para penuntut ilmu

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dan barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya”. (HR. Muslim).

2. Orang yang berilmu lebih ditakuti syetan

Dalam sebuah hadits lain Rasulullah juga mengabarkan bahwa tidurnya orang yang berilmu lebih ditakuti syaitan dari pada bangunnya orang yang tidak berilmu (bodoh).

3. Allah mengangkat derajat orang yang berilmu

“Hai orang-orang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majlis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Mujadilah : 11)

Masih banyak keutamaan lain, insyaAllah bisa disambung di lain waktu.