Sabtu, 04 Juli 2020

Antara Hidayah dan Taufiq

Di QS Al A'raf : 43 digambarkan, ucapan yang keluar dari penghuni surga ketika masuk surga adalah alhamdulillahilladzi hadana lihadza, wama kunna linahtadiya lauwla an hadanaLlah.

Mereka memuji kepada Allah atas adanya petunjuk (hidayah) yang Allah berikan dan telah mengantarkan mereka ke dalam surga tersebut. ^alhamdulillahilladzi hadana lihadza."

Sy tertarik dengan diskusi tentang hidayah di atas. Dulu pernah ustadz Tifatul menjelaskan kepada tentang makna hidayah dan taufiq secara ringkas dan sederhana.

Kamis, 25 Juni 2020

Cerita Haji 2018: Ali, Sahabat Haji dari Pakistan






[22:46, 6/22/2020] Ali Pakistan: Assalamu Alekum dear

Di saat musim haji, hari jumat menjadi salah satu hari yang heroik. Istimewa. Apalagi ketika hari jumat yang mendekati prosesi armina, ketika bis-bis yang disediakan pemerintah untuk menjadi angkutan antar jemput jamaah haji yang jarak penginapan di atas 1,5 KM, mulai dihentikan. Jamaah haji yang ingin tetap sholat jumat ke masjidil haram, harus menempuhnya dengan berjalan kaki. Pulang pergi. Berangkat sepagi mungkin, biasanya jam 08.00 paling tidak harus sudah berangkat, pulang di saat terik mentari begitu mempesona. Sangat istimewa.

Saya termasuk yang selalu berusaha untuk tidak kehilangan momen-momen istimewa tersebut, yang barangkali sulit untuk bisa terulang kembali dalam episode hidup ini. Berangkat sepagi mungkin agar mendapat tempat di dalam area masjid. Bertahan sekuat mungkin untuk duduk dan menjaga wudhu sedari pukul 09.00 sampai paling tidak pukul 13.00. Biasanya para jamaah haji mengisi waktu sepanjang itu dengan membaca al qur’an. Sesekali kami berkenalan dan berbincang dengan jamaah haji di kanan kiri kami. Yang seringnya mereka tidak setanah air.

Senin, 30 Januari 2017

Sejarah Ada Karena Tulisan


Siapa tidak kenal Ibnu Batutah, ia sampai di pesisir Pasai setelah menempuh perjalanan laut selama 25 hari dari India. “Pulau itu hijau dan subur.” tulisnya, sebagaimana dikutip dalam buku The Indonesia Reader, History, Culture, Politics.  Ibnu Batutah, pria asal Maroko,  adalah penjelajah dunia yang pernah singgah ke Nusantara. Ia singgah di Pasai pada abad ke-14 dan membuat catatan kehidupan negeri tersebut. Dari catatan-catatannya itulah ia makin dikenal.

Siapa tidak kenal Imam Syafi’i, “Ia ibarat matahari bagi bumi, dan kesehatan bagi badan. Maka adakah yang bisa menggantikan keduanya?” Begitulah Imam Ahmad bin Hambal menggambarkan gurunya  itu Imam Asy-Syaf’i, yang memiliki keluasan ilmu, kecerdasan dan kekuatan hafalan yang luar biasa. Ia memang telah dididik sejak kecil oleh ibundanya untuk mencintai ilmu. Namun melaui kitab-kitabnya yang ia tuliskan, telah ia wariskan ilmu yang berguna sepanjang masa.

Jumat, 13 Maret 2015

Pernik Ringan Seorang Ayah

Pulang kantor kemarin, bungsuku Ghifar tampak berbaring malas-malasan di depan televisi sambil berselimut tebal. Sejenak aku temani sambil memeluknya. "Tadi pagi di sekolah perutnya masih sakit, dex?" Tanyaku. "Malah muntah bi, aku." Waduh. "Sekarang abi ambilin nasi ya? Mau abi buatin lauk telur dadar ala warung padang?" Dia cuma mengangguk sambil matanya terus menikmati tayangan di televisi.

Bergegas aku buka kulkas. Aku ambil 2 butir telur, satu batang loncang dan beberapa helai daun selederi. Setelah dicuci bersih, kucacah kecil-kecil loncang dan helai daun selederi itu. Aku potong bawang bombai kurang lebih seperempat bagian dan aku cacah kecil-kecil juga. Fyuuuh... tiba-tiba mataku terasa pedas dan perih. Bawang bombai ini telah sukses membuat mataku menangis bombai. Heee...

Dua butir telur yang telah aku pecah di mangkok plastik, aku campur dan aduk rata dengan cacahan loncang, selederi dan bawang bombai itu. Aku tambahkan garam secukupnya. Sekilas sambil beraktifitas di dapur aku lihat kamar belakang tampak tertutup rapat. Ibuku yang menemaniku di Yogya sepekan terakhir tampaknya sedang istirahat, pikirku. Dari kepulanganku tadi beliau belum nampak keluar kamar.

Kamis, 12 Maret 2015

Menakar dan Mengukur Diri

Aku ingat, dulu sedari waktu kecil hingga beranjak dewasa, jika aku mendapati sebuah masalah, kesulitan, kesempitan atau sekedar ujian kecil berupa sandungan batu dalam langkahku, aku akan segera berhenti dan bergumam, "Kesalahan apakah gerangan yang telah aku lakukan hingga aku bertemu dengan kejadian ini?"

Aku ingat, aku selalu berusaha mencoba menafsirkan hal-hal kecil itu sembari mencoba memposisikan diri ini dalam persepsi terbaikku. Karena, aku pun meyakini bahwa tidak selalu apa yang telah kita anggap terbaik dalam langkah kita, akan mendapatkan respon yang terbaik juga dari berbagai karakter yang ada di sekitar kehidupan kita.

Maka membaca dan merenungi segala tanda yang menghampiri dan berserak di hadapan kita adalah sebuah keniscayaan untuk mengukur dan menakar diri kita. Apakah kita telah benar dalam memposisikan diri kita, ataukah kita justeru terlanjur memberikan angka yang berlebih untuk ukuran yang semestinya dan sewajarnya kita terima.