Rabu, 03 Agustus 2011

Kunjungan Pertama ke Dokter Spesialis Orthopedi

Kunjungan Pertama ke Dokter Spesialis Orthopedi

Kawan, sejak sadar bahwa kebengkokan tulang belakang adalah sumber dari timbulnya rasa nyeri dan berbagai keluhan lainnya di sebagian organ tubuh ini (tahun 2004), aku memang belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke ruang dokter spesialis orthopedi. Dulu sebenarnya oleh dokter Suko Basuki (seorang sahabat yang sedang mengambil spesialis bedang tulang) aku sudah disarankan untuk ke spesialis orthopedi (namanya Dokter Tedjo), namun karena waktu itu masih takut kalo harus dioperasi maka aku dan istri sepakat memutuskan cukup periksa dan konseling ke dokter spesialis syaraf saja.

Awalnya konsultanku adalah dokter Fuad (spesialis syaraf) yang sekaligus menggawangi instalasi rehabilitasi medik. Melalui beberapa jenis terapi berangsur nyeri dan beberapa keluhan di kaki kiri mulai hilang. Seperti biasa, untuk jenis kelainan tulang belakang sepertiku, yang disarankan pertama kali adalah RENANG. Kemudian ada beberapa exercise yang harus rutin aku lakukan setiap hari, selain tentunya agar aku harus lebih berhati-hati dalam menjaga sikap tubuh agar beban tulang punggung tidak berlebih diantaranya adalah anjuran memakai korset.

Lama tidak kambuh, mulai 2008 mulai terasa kembali sedikit demi sedikit rasa nyeri itu (kalo rasa pegal jangan ditanya ya kawan, asal tulang belakang capek rasa pegal itu akan dengan setia datang menemani). Puncaknya di awal tahun 2010. Akhirnya setelah kembali berkunjung ke bagian syaraf RS Sardjito, aku dikenalkan dengan dokter spesialis syaraf yang lain, Bu Indarwati (belakangan aku tahu ternyata beliau kakak kandung dari teman sekantor di Jakarta). Akhirnya saya diminta untuk Rontgen, MRI dan ENMG, hasilnya seperti yang sudah aku tuliskan beberapa waktu lalu. Dan alhamdulillah, semuanya berangsur membaik.

Belakangan aku sadar, kalo sekedar menghilangkan (baca : mengurangi) rasa sakit, mungkin selama ini sudah aku lakukan dan ada hasilnya (meski kemudian sering kambuh lagi). Tapi esensi permasalahannya mungkin justru belum aku sentuh sama sekali. Yaitu kondisi tulang punggungku yang mengalami kebengkokan itu. Secara selama ini anjuran dokter spesialis syaraf tentang renang, senam, terapi, (sekedar) untuk menjaga agar tidak kambuh lagi rasa sakit itu. Maka atas kesadaran ini kemudian aku mencoba berdiskusi dengan istri dan akhirnya kami memutuskan, inilah saatnya aku harus bertemu dokter spesialis orthopedi.

Akhirnya 16 Juli 2011 adalah pertemuan pertamaku dengan Dokter Tedjo di Poli Perjanjian RS Panti Rapih, setelah hunting jadwal piket beliau di hari sebelumnya. Ternyata kawan, ada banyak hal yang sungguh berbeda, antara dokter spesialis orthopedi dan dokter spesialis syaraf. Tapi dua hal tadi bisa aku kompromikan dan pertemukan titik persinggungannya. Berbicara masalah penyebab kebengkokan tulang, aku menemukan hal baru bahwa kebengkokan tulang belakang itu bisa terjadi karena faktor genetis. Ia bisa terjadi karena akumulasi waktu dan kebiasaan dalam waktu yang panjang. (Silakan baca artikel kompas di bawah ini).

Bahkan ketika membaca hasil rontgen tahun 2010 kemarin, jelas disitu saya baca bahwa kebengkokan tulang belakang saya adalah 15°. Dokter Tedjo mencoret-coret kembali gambar rontgen tersebut dan hasilnya adalah bahwa kebengkokan tulang punggung saya bagian atas adalah 28° dan bagian bawah 32°. Karena itulah yang tampak menonjol adalah bagian bawah. “Ini masuk kategori sedang. Kalo bengkoknya di atas 35°, baru itu masuk kategori berat.” Kata beliau. Woooww... itu artinya, lewat 3° lagi aku masuk dalam kategori berat. Duh,...

Maka kesimpulan sumirku kawan, jika dokter spesialis syaraf domainnya adalah bagaimana caranya agar rasa sakit dan nyeri serta keluhan-keluhan itu hilang (baca : berkurang), maka dokter spesialis orthopedi domainnya adalah bagaimana caranya agar tulang yang bengkok itu bisa berkurang kebengkokannya atau paling tidak kebengkokannya tidak bertambah dari waktu ke waktu. Keduanya memang harus bersinergi. Kita tidak bisa lepas dari dua spesialis tadi, jika kita ingin kualitas hidup kita bisa terus kita tingkatkan atau setidaknya kualitas hidup kita tidak menurun secara radikal. Maka kini aku mulai mencicipi menu-menu yang disajikan sang dokter spesialis orthopedi.

Dalam 6 bulan ke depan (hingga Januari 2012), aku harus berenang sepekan 2x, dan melakukan backup dengan berbagai variasinya, sebanyak-banyaknya. Ini adalah 6 bulan masa untuk evaluasi. Januari nanti aku harus melakukan rontgen lagi, untuk menilai apakah kebengkokan tulang punggungku bertambah atau berkurang setelah melakukan berbagai hal tadi. “Ini tulangnya juga tidak bagus (tidak padat). Intinya olah raga. Dengan olah raga, segala sesuatu bisa diselesaikan.” Katanya. Renang? Aku baru mulai belajar kawan. Dibantu seorang instruktur di Kolam Renang Umbang Tirta Kridosono tiap sabtu dan ahad pagi. Back up? Alhamdulillah sudah jalan sejak dokter menyarankan, meski kadang ada yang harus dirapel (sehari 2 kali) akibat lupa.

Bismillah, untuk hidup yang lebih baik, kenapa tidak? Segala upaya harus kita usahakan. Jika tubuh sehat dan bugar, bukankah dalam beraktifitas ibadah juga akan terasa nikmat? Maka benarlah kata Nabi, “Mukmin yang kuat lebih Allah cintai dari pada mukmin yang lemah.” Dengan catatan, kualitas iman mereka sebanding. Maka, dua orang sama-sama kuat imannya, satu diantara mereka yang lebih kuat fisiknya yang lebih Allah cintai. Tetap semrangaaaat, kawan..!

Rabu, 3/8/2011 finished @Gedung Utama lt 19, 09:22 WIB

Faktor Utama Adalah Aktivitas dan Olahraga, Bukan Kalsium
Lukas Adi Prasetya | Minggu, 4 Oktober 2009 | 19:27 WIB


YOGYAKARTA, KOMPAS.com-Kalsium hanya memberi pengaruh 10 persen sebagai penentu kekuatan tulang belakang. Faktor utama adalah kebiasaan manusia beraktivitas, apakah menyamankan tulang atau tidak, juga olahraga. Sayangnya, manusia jarang menyamankan tulang dan jarang berolahraga.

Hal itu disampaikan Tedjo Rukmoyo, dokter spesialis orthopedi (bedah tulang belakang), di sela-sela Seminar Penangangan Terkini Nyeri Tulang Belakang, di Gedung University Club, Universitas Gadjah Mada.

"Jangan percaya pada iklan yang memaparkan bahwa dengan cukup minum susu, maka tulang dan tulang belakang kita akan kuat. Kekuatan tulang ditentukan akitivitas manusia sejak kecil yang dampaknya baru kelihatan ketika tua," kata Tedjo.

Aktivitas dan kebiasaan yang salah sehingga tidak menyamankan tulang, terutama tulang belakang, gampang diamati dari posisi tidur. Posisi tulang belakang yang tidak lurus dan tidak sejajar dengan tulang leher, jelas bukan posisi ideal.

"Hal itu karena busa atau kasur tidak rata, memakai bantal terlalu tebal atau terlalu tipis. Dengan kata lain, nggak apa-apa kok kita punya kebiasaan tidur telentang, tengkurap, atau miring. Tapi jangan sampai tulang belakang tersiksa," ucapnya.

Selain contoh tersebut, banyak aktivitas lain yang salah. Misalnya kebiasaan membungkuk saat naik kendaraan dan membungkuk saat duduk. Terlalu membungkuk dan memaksa diri kala mengangkat benda berat di lantai, juga aktivitas yang salah.

"Ketika mengangkat benda berat dari lantai, ya jangan langsung angkat. Tapi luruskan dulu posisi tubuh sampai tegak, baru angkat. Jika kelewat berat, ya jangan dipaksa. Tulang belakang, ligamen (pengikat tulang), atau otot, bisa putus," kata dia.

Tedjo menambahkan, muara penyelesaian masalah tulang, ialah mengubah kebiasaan aktivitas sehingga tulang belakang tak tersiksa, ditambah berolahraga secara rutin. Jika itu dilakukan sejak dini, maka manusia menabung investasi kesehatan masa depan.

http://nasional.kompas.com/read/2009/10/04/1927575/faktor.utama.adalah.aktivitas.dan.olahraga.bukan.kalsium

Selasa, 02 Agustus 2011

Belajar Taqwa di Bulan Ramadan

Belajar Taqwa di Bulan Ramadan

Allah berfirman : “Yaa ayyuhalladziina aamanu kutiba ‘alaikumush-shiyaamu kamaa kutiba ‘alalladziina min qablikum la’alakum tattaquun.” Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS Al Baqarah : 183)

Nabi bersabda : “Ittaqillaha haitsu maa kunta wa’atbi’is-sayyiatal hasanata tamkhuha wa kholiqinnasi bi khuluqin hasan.” Artinya : Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya (perbuatan baik) akan menghapusnya (perbuatan buruk). Dan berperilakulah terhadap sesama manusia dengan akhlak yang baik. (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)

Tujuan dari puasa ramadan sebagaimana tersebut dalam QS Al Baqarah : 183 di atas adalah la’alakum tattaquun yaitu agar kalian bertakwa. Untuk memahami makna dari kata taqwa, ada riwayat dialog antara umar bin khatab dengan sahabat Ubay. Umar bin khatab bertanya. “Wahai Ubay, apa menurutmu taqwa itu?” Ubay menjawab dengan memberikan pertanyaan pada Umar. “Apa yang Anda akan lakukan bila dalam perjalanan Anda banyak menemukan duri yang menghalangi perjalanan.” Umar dengan bijaksana menjawab pertanyaan Ubay. “Saya akan berjalan dengan berhati-hati supaya tidak terkena duri.” Ubay menanggapi jawaban dari umar. “Itulah yang dinamakan taqwa, berhati-hati”.

Dari penggalan kisah tadi bisa kita ambil bahwa taqwa itu berhati-hati dalam melangkah supaya hidup kita selamat dan terhindar dari duri yang bisa mencelakakan kita. Karena Allah sendiri sudah berfirman bahwa sebaik-baik bekal dalam mengarungi kehidupan ini adalah takwa. Lalu, mari kita perhatikan hadits di atas, “Ittaqillaha haitsu maa kunta wa’atbi’is-sayyiatal hasanata tamkhuha wa kholiqinnasi bi khuluqin hasan.”

Ini adalah wasiat Nabi ketika beliau mengantar seorang sahabat ketika hendak berangkat ke suatu tempat. Nabi tidak membekali berupa materi secara khusus, tapi beliau memwasiatkan beberapa pesan dalam kalimat tersebut, hal-hal yang selayaknya kita lakukan dimana pun kita berada. (apalagi dalam konteks pegawai seperti depkeu yang sering mutasi dari tempat satu ke tempat lain). Agar dalam perjalanan kita dimanapun kita berada mendapatkan kebaikan, maka hal-hal yang harus kita lakukan sesuai wasiat nabi di atas adalah :

1. Ittaqillaha haitsu maa kunta. Bertakwalah dimana pun engkau berada. Maka seperti uraian di atas tadi bahwa takwa itu bermakna kehati-hatian, dengan takwa itulah Allah akan menjaga kita, menunjuki langkah-langkah kita dan menyelamatkan kita dari segala macam rintangan dan godaan.

2. wa’atbi’is-sayyiatal hasanata tamkhuha. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya (perbuatan baik) akan menghapusnya (perbuatan buruk). Manusia adalah makhluk tempat berbuat salah. Maka sebagai bentuk ikhtiar kita agar kefitrahan (kesucian) kita senantiasa terjata, maka setiap kita sadar berbuat kesalahan, maka iringilah dengan perbuatan baik agar kesalahan tadi terhapus.

3. wa kholiqinnasi bi khuluqin hasan. Dan berperilakulah terhadap sesama manusia dengan akhlak yang baik. Dalam interaksi dengan berbagai teman dan kolega, tentu akan menimbulkan gesekan. Kita akan bertemu dengan berbagai tipe manusia. Maka hal yang perlu kita lakukan adalah, bergaul dengan mereka dengan akhlak yang baik.

Itulah 3 wasiat yang nabi titipkan kepada kita, agar kita selamat dalam pergaulan sesama manusia, dimanapun kita berada. Teruslah bertakwa (berhati-hati) dimanapun kita berada, ikuti perbuatan buruk dengan perbuatan baik, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik. Insya Allah kita akan diselamatkan dunia dan akhirat. Aamiin.

Jumat, 29/07/2011 @Gedung Utama Lt 19

Jumat, 29 Juli 2011

Prasangka baik thd ketentuan Allah

Prasangka baik thd ketentuan Allah

Sebelum kita bicara jauh tentang makna prasangka baik kepada ketentuan Allah, maka mari kita simak dulu kisah rekaan berikut. Alkisah, ada seorang raja di sebuah negeri antah berantah yang memerintah sebuah kerajaan yang besar. Sang Raja mempunyai kebiasaan berburu ke hutan, bahkan hingga sampai jauh ke dalam hutan. Dalam setiap berburu, Raja selalu ditemani oleh seorang penasehat yang bijak. Seringkali mereka berdua saja ketika melakukan perburuan ke hutan tanpa pengawalan. Selebihnya selalu dikawal oleh pasukan kerajaan.

Suatu saat ketika melakukan perburuan ke hutan, Jari kelingking Sang Raja digigit oleh serangga yang beracun, mengalami pembengkakan dan membusuk sehingga diputuskan harus segera diamputasi. Penasehat Raja dengan hati-hati menyampaikan perihal tersebut. Mendengar hal tersebut Sang Raja sangat marah, sungguh ia tidak mau jari kelingkingnya diamputasi. “Ini aib!” kata Sang Raja. Penasehat raja berusaha menasehati Sang Raja dengan baik, “Paduka Raja, jari kelingking paduka harus segera diamputasi. Kalo tidak ia akan menjalar dan membahayakan jiwa paduka. Barang kali nanti akan ada hikmah dan pelajaran besar dari peristiwa ini, paduka. Mohon maaf paduka raja.”

Mendengar argumentasi tersebut Sang Raja justru makin marah, maka dipecatlah sang penasehat tersebut. Meskipun akhirnya Sang Raja tetap harus merelakan jari kelingkingnya diamputasi, tapi terhadap penjelasan penasehatnya ia tetap tidak bisa menerima sedikitpun. Maka Sang Raja kemudian mengangkat penasehat baru. Waktu terus berlalu, Sang Raja tetap menekuni hobi berburunya, ditemani penasehat barunya. Tetap seperti biasanya, terkadang dia hanya berdua saja dengan penasehatnya, terkadang dengan pengawalan pasukan kerajaan.

Suatu saat ketika sedang berburu dan hanya ditemani penasehatnya saja, saking asiknya mengejar hewan buruan, Sang Raja terpisah dari penasehatnya dan tersesat hingga masuk ke dalam hutan. Sang Raja tidak menyadari bahwa ia telah masuk ke wilayah sebuah suku yang primitif. Suku yang belum pernah tersentuh oleh kerajaan selama ini. Tanpa ia sadari, puluhan mata terus mengawasi dan mengikuti mereka. Hingga pada akhirnya Sang Raja jatuh dan terperangkap dalam sebuah jebakan yang telah disiapkan oleh suku tersebut. Maka tertawanlah Sang Raja.

Sudah menjadi kebiasaan di suku itu, bila ada orang asing yang tertawan maka diadakanlah sidang rakyat. Ketua suku meminta pendapat para warganya terkait tindakan hendak diapakan tawanan itu. Maka diputuskanlah bahwa tawanan itu akan dijadikan korban untuk sesembahan kepada para arwah leluhur mereka. Maka segera dipersiapkanlah proses upacara persembahan itu. Semua warga laki-laki dan perempuan, dewasa maupun anak-anak semua telah berkumpul di seputar tempat persembahan.

Maka Sang Raja segera dia dihadapkan di depan tempat persembahan. Ada ritual khusus sebelum acara persembahan, yaitu sang kepala suku akan melakukan pemeriksaan secara detil terhadap tubuh calon korban. Karena calon korban harus benar-benar sempurna fisiknya. Tidak boleh ada cacat. Demikain pula dengan Sang Raja, maka kepala suku mulai memeriksa satu persatu anggota tubuh Sang Raja. Sang Raja terlihat sudah pasrah dan putus asa. “Tamatlah riwayatku.” Pikirnya. Tiba-tiba dahi sang kepala suku mengernyit, “Wahai rakyatku, aku temukan ternyata orang ini jari kelingkingnya telah putus. Ia cacat, maka ia tidak layak untuk dijadikan korban. Lepaskan saja orang ini.”

Kaget sekaligus gembira, sang raja tidak mampu berkata apa-apa. Singkat cerita, Sang Raja kemudian dilepaskan kembali setelah diantarkan cukup jauh dari area suku agar dia tidak bisa mencari kembali keberadaan suku itu. Sang Raja tak henti-hentinya bersyukur dengan selamatnya dia. Dalam perjalanan itu, tiba-tiba Sang Raja teringat kembali dengan pesan dari penasehat lamanya, “Barang kali nanti akan ada hikmah dan pelajaran besar dari peristiwa ini, paduka.” Sesampai di kerajaan, rakyat bergembira dengan telah kembalinya raja mereka yang hilang hingga sebulan itu. Maka diadakanlah pesta rakyat. Dalam pesta rakyat itu, Sang Raja memutuskan untuk memanggil kembali penasehat lamanya.

Ini mungkin hanya cerita rekaan, tapi semangat dan pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas adalah :

1. Pentingnya kita untuk selalu berprasangka baik dengan ketentuan-ketentuan Allah. Firman Allah dalam sebuah ayat dalam Al Qur’an : “Boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, sedangkan engkau tidak mengetahui apa-apa.” (QS Al Baqarah : 216). Kita hanya perlu bersabar sejenak, terus berdoa dan bertawakal, maka Allah akan berikan perlajaran besar terhadap ketentuan yg telah terjadi itu.

Boleh jadi kita beranggapan bahwa sesuatu itu tidak baik untuk kita, padahal kalo kita coba renungkan sejenak, boleh jadi itu justru yang terbaik menurut Allah. Dan sebaliknya sesuatu yang sangat kita inginkan dan kita anggap terbaik bagi kita, ternyata itu justru buruk di mata Allah. Maka kita harus selalu meminta petunjuk kepada Allah Yang Maha Tahu.

2. Bersama kesulitan selalu ada kemudahan-kemudahan. Firman Allah : “Fa inna ma’al ‘usri yusro. Inna ma’al ‘usri yusro.” Artinya maka sungguh bersamaan dengan kesulitan itu akan ada kemudahan-kemudahan. Sungguh bersamaan dengan kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan. Dalam ayat ini Allah menyebutkan kata ma’a yang artinya bersama. Al ‘usri artinya kesulitan Allah sebut dalam makna tunggal sedang yusron yang artinya kemudahan-kemudahan Allah sebutkan dalam makna jamak.

Itu berarti dalam sebuah kesulitan, Allah persiapkan banyak kemudahan-kemudahan yang bisa kita gali dan temukan.

3. Dengan selalu berprasangka baik kepada Allah, maka hati menjadi tenang dan senantiasa ridho dengan ketentuan Allah.


Finished @ Lantai 19 Gedung Utama. 29/07/2011. 14.36 WIB

Kamis, 26 Mei 2011

Selamat Jalan : Ustzh Yoyoh Yusroh

Saat dalam perjalanan kereta menuju jogja, Sabtu 21/5/2011 pagi kira-kira pukul 4.30 ada sahabat yang memberitahu via BBM bahwa salah satu ustadzah kami, Yoyoh Yusroh, telah Allah panggil pagi itu setelah terjadi kecelakaan di tol palimanan cirebon. Segera setelah itu seharian hari itu di BBM maupun di milis IKADI, berbagai perkembangan dan info terkait musibah itu terus-menerus update. Saya memang tidak pernah berinteraksi langsung dengan ustadzah satu ini, tapi saya hanya ingat dulu waktu ospek kampus STAN 2007, saya sempat memoderatori suami beliau (Ust. Budi Darmawan) dalam acara itu. Atau sekedar tahu dan mengenal anak-anak beliau yang kuliah di UGM. Atau sekedar menyaksikan dan mendengar suara lantang beliau yg berorasi saat ada aksi untuk Palestina beberapa waktu lalu di silang Monas.

Berita-berita dan informasi-informasi tentang beliau cukup bagi saya untuk menyimpulkan bahwa beliau adalah salah satu dari wanita-wanita hebat yang lahir dari rahim republik ini. Kesedihan saya teramat sangat saat membaca berita-berita seputar beliau yang terus menerus bermunculan. Terakhir, ijinkan saya untuk mengkopi-pastekan sambutan Ust. Hilmi A di hadapan para pentakziyah di masjid komplek rumah dinas DPR Kalibata. Semoga banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup beliau, ustadzah Yoyoh Yusroh. "Allahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wa'fuanha."

-----------------------
Sambutan Ust. Hilmi A
-----------------------

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un tsumma Innalillahi wa inna ilaihi raji’un tsumma Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Alhamdulillah wash sholatu was salamu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi wasohbihi wa ma walah.

Wa qolallahu azza wa jalla fi kitabihil aziz, a’udzubillahi minasy syaitanir rajim, wa likulli ummatin ajal, faidza ja-a ajaluhum la yasta’khiruna saah – wa la yastaqdimun.

wa qola: kullu nafsin dza-iqatul maut, wainnama tuwaffauna ujurakum yaumal qiyamah, fa man zuhziha ‘anin naari wa udkhilal jannata fa qad faza. Wa mal hayatud dunya illa mata’ul ghurur.

wa qola: minal mukminina rijalun shodaqu ma ‘ahadullaha alaihi, fa minhum man qadla nahbahu wa minhum man yantazhir, wa ma baddalu tabdilaa.

Shodaqollahu azhim

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah swt,
Saya diminta untuk mewakili keluarga besar almarhumah ustadzah Yoyoh Yusroh dan keluarga besar ayahanda beliau, ayahanda almarhumah, KH Abdushshomad (alm) dan Hj. Siti Aminah ibunda Yoyoh, begitu juga tiga belas anak-anaknya.

Pertama-tama untuk menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada hadirin-hadirat yang telah meluangkan waktu untuk bertakziyah dan mendoakan almarhumah. Mudah-mudahan doanya insya Allah diterima oleh Allah swt.

Jika sebagai manusia ada kekhilafan, ada kesalahan, ada kelalaian mohon dimaafkan. Begitu juga jika ada hutang-piutang yang tidak diketahui keluarga mohon disampaikan kepada pihak keluarga untuk diselesaikan dan atau kemudian jika tidak sempat menghubungi keluarga mudah-mudahan bisa meridhokan, bisa meridhokan sehingga tidak menjadi beban bagi almarhumah.

Hadrin dan hadirat yang dimuliakan Allah swt,

Selain mewakili keluarga besar almarhumah saya di sini juga mewakili keluarga besar jamaah Partai Keadilan Sejahtera yang pada hari ini merasa kehilangan kader terbaiknya, kader yang merintis dari awal pertumbuhan jamaah dakwah ini, gerakan dakwah ini. Dari awal tahun 80 beliau sudah bergabung dengan aktifitas dakwah ini, bergabung dengan penuh semangat wala’ wal intima', semangat loyalitas dan komitmen. Bergabung dalam gerakan dakwah ini dengan semangat tho’at wat tadlhiyyah. Seluruh hidupnya diwakafkan, diserahkan pada dakwah ini. Seluruh perjalanan hidupnya telah bergabung dengan dakwah ini secara totalitas, diberikan untuk dakwah ini. Dalam hal ini kita merasa kehilangan.

Sesungguhnya yang merasa kehilangan bukan hanya jamaah dakwah Partai Keadilan Sejahtera, bukan hanya bangsa Indonesia, tetapi saya sendiri dari sejak pagi menerima takziyah dari segenap penjuru dunia, dari negara-negara ASEAN, dari negara-negara Timur Tengah menyampaikan takziyah ini. Karena sekali lagi yang kehilangan bukan hanya jamaah dakwah Partai Keadilan Sejahtera, bukan hanya bumi pertiwi Indonesia, tapi ikut kehilangan juga Masjidil Aqsha dengan Baitul Maqdis-nya, seluruh mujahidin-mujahidah di Palestin sudah menyampaikan takziyahnya dan merasa kehilangan.

Bukan hanya bumi Indonesia yang kehilangan amarhumah bahkan bumi di mana terletak Masjidil Aqsha-pun merasa kehilangan, bumi para mujahidin-mujahidah yang sampai hari ini sedang dikepung oleh tentara zionisme Israel turut juga merasa kehilangan. Karena beliau selain mewakili jamaah dakwah Partai Keadilan Sejahtera, sebagai anggota DPR juga mewakili bangsa Indonesia hadir di tengah-tengah pejuang mujahidin di Gaza, sehingga mereka pun ikut merasa kehilangan.

Bahkan, baru saja kita juga menerima takziyah dari kesatuan-kesatuan milliter dan kepolisian Indonesia yang sedang bertugas melaksanakan menjaga perdamaian di Sudan di Darfur pun menyampaikan takziyahnya. Semuanya ini adalah merupakan respon atas kehilangan seorang daiyah seorang mujahid/mujahidah dakwah yang telah memperlihatkan dedikasinya untuk apa yang dia yakini, apa yang dia cita-citakan dan apa yang dia perjungkan.

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah swt,

Sekilas bagaimana dakwah ini bertemu dengan beliau, pada akhir tahun – sekitar pertengahan tahun 80 beliau sebagai mahasiswi di IAIN Ciputat, waktu itu masih mahasiswi baru dan kebetulan saya sekali-kali diundang ceramah oleh mahasiswa di sana - mahasiswi di sana, ternyata beliau bukan hanya pendengar ceramah yang baik tapi langsung menginginkan adanya komitmen dengan nilai-nilai yang diceramahkan. Dan sejak saat itulah beliau tidak pernah lepas dengan dakwah ini, dengan segala pengorbanannya. Bahkan ketika rezim Orde Baru memenjarakan saya selama dua tahun beliau terus melakukan langkah-langkah dakwah dan ketika saya keluar dari penjara beliau segera menemui saya lagi dan bergabung lagi, tanpa malu dengan eks tahanan politik. Terus bergabung.

Bahkan ada titik-titik sejarah yang mungkin pada generasi sekarang sulit mengaplikasikannnya. Ketika masuk saatnya beliau harus menikah beliau datang kepada saya dan mengatakan, “Ustadz saya diminta orang tua untuk segera menikah.” Saya katakan, “Insya Allah saya doakan semoga diberikan kemudahan.” “Tapi calonnya minta dicarikan ustadz, saya ingin sesama aktifis dakwah.” “Ada pilihan?” “Tidak ada pilihan. Pilihan jamaah dan pilihan Allah itulah yang akan menjadi pilihan saya.”

Dan segeralah saya mencari-cari siapa yang sudah jadi, sudah tentu pada saat itu masih mahasiswa dan mahasiswi yang iklimnya sulit untuk siap nikah waktu itu. Dalam kesulitan mencari itu akhirnya kita menggunakan logika qum ya Hudzaifah! Lalu yang menyambut panggilan qum ya Hudzaifah, itulah suami beliau yang setia mendampingi beliau sampai sekarang yaitu akhunal fadhil Budi Darmawan. Yang ketika saya minta segera mengasih tahu orang tua beliau di Bandung, bahkan belum tahu nama lengkapnya. Ketika ditanya oleh orang tuanya, “Budi siapa nama calon istrimu?” “Yoyoh.” “Yoyoh apa?” “Belum tahu.” Tapi orang tua Budi Darmawan ini seorang sholih dan sholihah dan menemui saya dan merestui rencana pernikahan bahkan mempersiapkan segala perangkat rumah tangganya dan kemudian sayalah yang melamar beliau kepada KH. Abdushshomad almarhum, yang kemudian juga beberapa hari kemudian menyelenggarakan pernikahannya. Seluruhnya bahkan proses ini sepertinya almarhumah dan akh Budi Darmawan kayaknya belum pernah ketemu sebelum proses ini. Inilah sikap generasi pertama dari yang memegang komitmen dengan dakwah ini. Yang kisah-kisah seperti itu sangat banyak tapi yang sangat menonjol adalah kisah almarhumah ini.

Begitu juga dengan perjuangan-perjuangan, baik sebelum era reformasi dengan segala ketekunannya ekspansi dakwah hampir ke seluruh penjuru Indonesia dan sesudah era reformasi dan kita bersama komponen bangsa yang lain membangun kehidupan berbangsa dan bernegara ini menuju yang lebih baik, almarhumah dengan sangat tekun menjadi legislator dua periode di DPR, Ti Ti...tiga? Tiga periode di DPR, yang periode ketiganya ini belum selesai. Jadi beliau tiga periode ini secara terus menerus berjuang dan membuktikan dedikasi dalam kiprahnya. Bahkan ketika ditugaskan di komisi I, luar biasa perkembangan kiprahnya merambah seluruh dunia yang memerlukan kontribusi Indonesia baik dalam pembebasan Palestina, perdamaian Sudan atau di Lebanon atau di Istanbul hampir tugas-tugas internasional semua beliau laksanakan. Ini sudah barang tentu menjadi suri tauladan bagi kita semua dan beliau tidak pernah dalam melaksankan tugas ini mengeluh biaya dan menanyakan dari mana biayanya? Siapa yang mengurusnya? Tidak! Seluruhnya dimenej dikelola dengan kemampuan semangat ruhul badzlu wat tadlhiyah. Keteladanan inilah yang harus kita ikuti dan kita lanjutkan.

Sudah barang tentu beliau tadi jam 03.30 dipanggil oleh Allah swt untuk insya Allah menikmati pahala dari kerja keras, dari pengorbanan, dari perjuangan, dari jerih payah. Mudah-mudahan insya Allah kita diberi kesempatan oleh Allah swt untuk bergabung dengan beliau kalak di jannatil Firdausi a'la.

Tadi saya bacakan ayat yang menyebutkan minal mukminina rijalun shodaqu ma ‘ahadullaha alaihi, fa minhum man qadla nahbahu wa minhum man yantazhir, dan almarhumah termasuk yang man qadla nahbahu, telah menunaikan tugasnya dan menghadap kepada Allah swt, dan kita termasuk waminhum man yantazhir. Mudah-mudahan kita diberi kekuatan oleh Allah swt utk tetap meneruskan semangat seperti yang dicontohkan oleh almarhumah yaitu semangat wala baddalu tabdilla, tidak pernah mau mengubah keyakinan keimanan dan aqidahnya, tidak pernah mau merubah idealisme sikapnya dan tidak mau merubah minhaj langkah-langkah perjuangannya dan tdk mau merubah ghoyah tujuan perjuangannnya, wa ma baddalu tabdiila, itulah yang diwariskan oleh almarhumah kepada kita. Mudah-mudahan Allah swt pertama-tama menempatkan almarhumah fi maq'adi shidqin ‘inda malikin muqtadir dan mudah-mudahan juga memberikan kepada kita semangat wa ma baddalu tabdiila, istiqomah terus lurus dalam memperjuangkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan oleh Allah swt,

Kisah perjuangan beliau kalau ditulis mungkin berjilid-jilid buku. Silahkan dari saya sebagai pembuka bagi hadirin-hadirat yang mungkin kreatif memunculkan sejarah-sejarah perjuangan dari kader-kader dakwah yang telah qodho nakhbahu yang telah menunaikan tugasnya dengan sungguh benar. Mudah-mudahan insya Allah bisa diwariskan kepada generasi penerusnya terutama putra-putrinya yang insya Allah dalam kesibukannya berjuang tapi insya Allah putra-putrinya tiga belas adalah minash shilihin was sholihat. Dan ini juga membuktikan bahwa kesibukan perjuangan tidak membuat lalai mengurus rumah tangga, begitu juga kesibukan rumah tangga tidak membuat lalai untuk melaksanakan tugas-tugas perjuangan. Ini contoh mempertemukan antara tugas-tugas kerumahtanggaan dan tugas-tugas perjuangan disatupadukan dalam jiwa hidup perjuangan dan pengorbanan yang penuh telah diberikan oleh almarhumah ustadzah Yoyoh Yusroh. Insya Allah, aqulu qouli hadza, astaghfirullaha li wa lakum.
Assalamu ‘alaikum wr wb.

[Translate dari rekaman audio oleh Abu Rasyidah / www.mimbarpenyuluh.com]

Catatan:
Sambutan ini disampaikan dihadapan ratusan pelayat setelah pelaksanaan sholat jenazah atas almarhumah Yoyoh Yusroh di Masjid Komplek Rumah Dinas DPR RI – Kalibata, Sabtu 21 Mei 2011 / 17 J. Tsani 1432, sesaat sebelum diberangkatkan ke Tangerang untuk dimakamkan.
Teks kesaksian ini merupakan hasil translate dari rekaman suara, dan ada beberapa kata yang barangkali tidak sama persis karena suaranya tidak terekam jelas (sepertinya tidak lebih dari 5 kata), tetapi tidak sampai menggangu dari segi isi.
Nada suara ustadz Hilmi Aminudin berat dan beberapa kali sangat nampak kesedihan dan keharuan beliau bahkan hampir pecah tangis.
Dari kalangan jamaah juga sesekali terdengar isak tangis kesedihan dan beberapa kali terdengar takbir mendengar kisah perjuangan almarhum ustadzah Yoyoh Yusroh.

Jumat, 06 Mei 2011

HNP -Hernited Nucleus Pulposus- -Syaraf Terjepit-



Mencoba berbagi lagi. Kawan, setahun yang lalu, persisnya 14/5/2010 setelah sakit di punggung bawah yang sedemikian rupa makin terasa mengganggu aktifitasku, aku setelah sebelumnya periksa ke dokter spesialis syaraf ku (dr. Indarwati), direkomendasikan untuk melakukan test MRI dan ENMG. Alhasil, dari tes tersebut disimpulkanlah bahwa aku menderita HNP, herniated nucleus pulposus, meski dalam tahap ringan.



Untuk pengetahuan kita bersama, di bawah ini saya copas-kan artikel tentang HNP itu. Paling tidak dengan kita mengetahui seputar HNP ini, meski hanya sekilas, bisa membantu mengidentifikasi lebih awal jika terjadi sesuatu di ruas tulang punggung kita, anak-anak kita, atau siapapun yang beresiko terkena kelainan ini. Sehingga langkah2 penyembuhan bisa lebih optimal. Atau bahkan membuat kita menjadi lebih berhati-hati terhadap berbagai aktifitas yang bisa mencederai tulang punggung kita.

Nyeri pinggang merupakan salah satu keluhan yang sering dijumpai di masyarakat. Penelitian menyebutkan bahwa setiap manusia pernah mengalami nyeri pada pinggang suatu kali dalam masa hidupnya. Hal ini pastilah sangat mengganggu, bukan hanya menimbulkan rasa tidak nyaman atau sakit, tapi juga menghambat produktifitas di kehidupan sehari-hari. Banyak sekali penyebab nyeri pinggang pada manusia. Bisa karena infeksi pada otot atau tulang belakang, trauma atau benturan yang hebat pada pinggang, kelainan pada tulang belakang, dll. Salah satu yang sukup sering adalah yang dinamakan Herniated Nucleus Pulposus (HNP).

Sebelum kita mengulas tentang HNP, mari kita pelajari terlebih dahulu sedikit tentang struktur tulang belakang. Tulang belakang terdiri dari 33-34 ruas tulang. 7 di daerah leher, 12 daerah dada, 5 daerah pinggang, 5 daerah sakrum, dan 4-5 tulang ekor. Diantara setiap tulang belakang dari leher hingga pinggang terdapat suatu cakram yang berfungsi untuk membantu tulang belakang menopang beban tubuh, dinamakan intervertebral disk. Pada bagian tengah cakram ini terdapat suatu inti yang dinamakan nucleus pulposus. Cakram ini juga berfungsi sebagai peredam, sama seperti shock breaker pada mobil atau motor.

Penyebab HNP ini berbagai macam. Faktor risikonya antara lain adalah merokok, batuk yang terlalu lama, cara duduk yang salah, menyetir yang terlalu sering, cara mengangkat barang yang salah, dll. Seiring dengan bertambahnya usia, kemampuan cakram untuk menjalankan fungsinya juga menurun. Faktor-faktor diatas dapat menyebabkan terjadinya herniasi, yaitu keluarnya suatu organ melalui suatu celah dalam tubuh. HNP dapat dianalogikan seperti terjadinya “turun bero”, tetapi terjadi pada daerah tulang belakang. Dapat dilihat pada gambar disamping bahwa terjadi penonjolan kebelakang pada cakram yang bawah.

Penonjolan ini kemudian menekan saraf yang berjalan dibelakang. Penekanan inilah yang menimbulkan keluhan. Keluhannya dapat berbagai macam dari nyeri pinggang, kesemutan di tungkai, hingga sakit yang luar biasa pada tungkai hingga berjalanpun sakit sekali. Penanganan dari penyakit ini dapat secara non-operatif, yang terdiri dari obat-obatan dan fisioterapi, atau dengan tindakan operatif.

Dewasa ini, para ahli di bidang bedah sedang berlomba-lomba untuk menciptakan suatu tehnik operasi yang menghasilkan suatu sayatan yang minimal, atau bahkan tanpa sayatan. Tehnik ini dinamakan minimally invasive surgery. Tehnik ini memungkinkan masa perawatan yang jauh lebih cepat daripada operasi terbuka. Dan bagi pasien yang mengutamakan segi estetik, tehnik ini dapat dibuat dengan sayatan dan bekas luka yang sangat kecil. Perkembangan tehnik ini di dunia penyakit HNP menghasilkan berbagai macam tehnik, antara lain nucleotome, laser central decompression, dan directed fragmentectomy.

Setiap tehnik pastinya mempunyai kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Seperti contohnya tehnik central decompression yang salah satunya dapat menggunakan suatu zat kimia bernama cymopapain yang dapat menyebabkan reaksi alergi dan spasme (ketegangan) dari otot. Pada prinsipnya, tehnik minimally invasive ini menggunakan suatu alat yang dinamakan artroskopi. Alat ini merupakan suatu alat yang menggunakan suatu tabung berdiameter kecil yang panjang sehingga memungkinkan untuk dimasukkan kedalam tubuh dengan sayatan yang kecil. Tabung ini dilengkapi dengan alat yang dibutuhkan untuk operasi serta kamera yang memungkinan dokter bedah melihat organ didalam tubuh melalui layar. Keuntungan tehnik ini selain dari kecilnya sayatan yang ditimbulkan, gambar yang terlihat dari layar dapat diperbesar puluhan kali sehingga kelainan yang kecilpun dapat terlihat.

Bagi anda yang sangat terganggu dengan nyeri pinggang yang disebabkan oleh HNP, anda dapat memikirkan untuk menjalani operasi ini. Tetapi tentunya anda harus menemui dokter spesialis orthopaedi dan traumatologi terlebih dahulu untuk mendiskusikan tentang teknik yang akan dipilih serta mengetahui keuntungan dan risiko dari operasi ini.

Untuk anda yang takut akan di operasi ada banyak cara pengobatan alternatif yang bisa anda pilih.