Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Juli 2020

Antara Hidayah dan Taufiq


Di QS Al A'raf : 43 digambarkan, ucapan yang keluar dari penghuni surga ketika masuk surga adalah alhamdulillahilladzi hadana lihadza, wama kunna linahtadiya lauwla an hadanaLlah.

Mereka memuji kepada Allah atas adanya petunjuk (hidayah) yang Allah berikan dan telah mengantarkan mereka ke dalam surga tersebut. ^alhamdulillahilladzi hadana lihadza."

Sy tertarik dengan diskusi tentang hidayah di atas. Dulu pernah ustadz Tifatul menjelaskan kepada tentang makna hidayah dan taufiq secara ringkas dan sederhana.

Sabtu, 31 Januari 2015

Seni Berbagi

Sahabatku kelas 1 SMA sedari kemarin berkirim sms kepadaku, beberapa kali aku terlambat menjawabnya. Sudah lebih dari 20 tahun kami tidak berjumpa. Bahkan jujur, sampai saat ini aku masih belum terbayang yang mana orangnya. Rupanya ia juga tinggal di Jogja. Di daerah Maguwo tepatnya. Pagi tadi ia bertanya padaku, apakah hari ini aku di rumah. Ia ingin bersilaturahim.

Aku agak keteteran sejak asisten rumah tanggaku mengajukan cuti 3 minggu untuk menikah. Betul aku ditemani bapak mertuaku, namun tetap saja tetek bengek kerumahtanggan harus aku yang handle. Dari kebersihan dan kerapian rumah, mempersiapkan anak-anak sekolah dari membangunkan hingga memastikan sarapannya, dan pernik-pernik kecil lainnya.

Siang selepas menjemput ragilku, aku smptkan membalas sms nya. Aku jelaskan keadaanku bahwa jika hari sabtu, aku disibukkan kegiatan antar jemput anak. Dia maklum. Untuk mengobati rasa bersalahku, maka aku telepon dia. Baru 3 bulan rupanya dia menetap di Jogja. Namanya Hanggoro Cahyo Adi. Setelah sebelumnya sejak tahun 1994 katanya, ia terdampar di Balikpapan.

Kamis, 29 Januari 2015

Bersyukur dengan Cara Sederhana

Dengan sebuah nampan kecil yang telah dilapis beberapa helai daun pisang, sebongkah nasi putih ditaruh di tengah-tengahnya. Di sekeliling nasi itu ditata sayur gudangan lengkap dengan bumbunya. Ada sedikit taburan kedelai yang telah digerus halus. Sebutir atau kadang dua butir telur rebus, diletakkan di salah satu sisinya. Irisan kecil tempe dan tahu yang telah digoreng kering serta sambal kentang menjadi pelengkap berikutnya.

Itu adalah nasi bancakan ala ibuku, seorang perempuan sederhana yang telah melahirkan, membesarkan dan juga mendidikku dengan cara-caranya yang sederhana. Di sore hari itu, Jumat Pahing, ibuku biasanya sudah memanggil teman-teman sebayaku. Kami duduk mengitari nampan tersebut. Ibuku dengan sigap membagi nasi dan gudangan itu ke pincukan-pincukan kecil. Butiran telur yang ada dibagi sejumlah kami yang datang.

Rabu, 21 Januari 2015

Kontemplasi Perjalanan

Sabtu dini hari, 16 Mei 2009, sesaat setelah lepas tengah malam.

Mungkin sekitar jam 2.00 an. Aku tidak tahu persis. Semua penumpang kereta ini dibuai lelap. Tiba-tiba, “Braaaak…..!” Terjadi goncangan hebat, suara besi beradu dengan besi berdecit hebat tanda telah dilakukan pengeremen secara keras dan mendadak. Menciptakan aroma hangus. Tiba-tiba sesaat kemudian udara di gerbong menjadi memutih, seolah asap yang pekat menutup pandanganku yang masih nanar karena mendadak tergagap dari lelapku.

Gelap. Yang ada dalam pikiran para penumpang termasuk aku adalah segera keluar dari gerbong kereta. Sesuatu telah terjadi. Dan bau gosong itu sangat mirip bau sesuatu yang terbakar. Dan sesuatu yang gelap pekat itu tentu asap. Maka kami berebut keluar. Saling mencoba untuk tetap tertib di tengah kepanikan itu. Kereta telah berhenti. Entah dimana, di luar pun tampak gelap. Dan kami harus meloncat cukup tajam ketika keluar dari gerbong kami.

Selasa, 20 Januari 2015

Cara Kembali yang Indah

“Pak, masa sih sarang P*S dipakai untuk acara P*B. Hebaaat sekaliii..” Sekilas aku perhatikan wajahnya di seberang sana tampak masgul. Ia mengirimkan sms saat rapat yang aku pimpin itu. “Tidak apa-apa, Pak. Sy ingin menunjukkan bahwa masjid ini terbuka untuk semua golongan.” Aku jawab sms nya, mencoba menenangkannya. Aku memang sedang merencanakan sebuah kegiatan yang sangat NU, pengajian akbar dengan mengundang seorang Habaib. Aku tantang anak-anak IKRAM, organisasi remaja masjid, untuk menghandle acara itu. Dan mereka sanggup.

Ia sosok yang sederhana. Aku panggil ia, Pak Moh. Rambutnya telah memutih. Di masa mudanya, ia dikenal akrab dengan dunia malam. Tapi yang aku tahu, ia insyaf di masa tuanya. Aku ingat ketika yayasan kami memutuskan mendirikan masjid, dan juga sekolah di dekat lingkungan tempat tinggal kami, ia mengajukan diri agar bisa membantu di sana. Maka kemudian ia menjadi muadzin sekaligus penjaga sekolah. Sampai kemudian periode ketiga ketakmiran aku pegang, ia tetap menjadi muadzin setia kami. Suaranya yang lantang dan merdu menggaung setiap waktu adzan berkumandang.

Jumat, 16 Januari 2015

Ikatlah Dengan Menuliskannya

“Le, aku ninggal bubur karo sayur neng kursi ya.” Dari ruang tengah, suara seorang ibu-ibu yang sangat aku kenal terdengar dari terasku pagi tadi. Pagi-pagi sekali. Aku sedang mempersiapkan ragilku untuk mandi. “Nggih, nuwun nggih, bu.” Saya coba mengejarnya dengan membuka pintu secepatnya, tapi sosoknya sudah di kejauhan. Maka aku tenteng ke dalam satu bungkusan keresek, berisi sayur satu plastik dan bubur dua bungkus. Semua masih hangat.

Ini sudah yang kedua kali pemberian di pagi buta itu dalam beberapa hari terakhir ini, dengan mengantarkannya ke teras rumahku. Pemberian secara langsung dengan mencegatku sepulang sholat subuh aku bahkan lupa menghitungnya sudah berapa kali. Kadang buah-buahan, di lain waktu lauk-pauk, dan tak jarang sekedar jajanan atau makanan kecil. Anak dan menantu beliau adalah Pembina yayasan tempat aku ikut sedikit berperan di sana dulu.

Dst.. Dst.. Dst.. (memberilah maka engkau akan mendapat lebih)

Senin, 12 Januari 2015

Lampu Hijau Kehidupan

Di perempatan Condongcatur dari jauh, dari jarak sekitar 300 meter, aku melihat lampu itu menyala hijau. Aku hafal jalan ini. Setiap hari aku melewatinya. Maka segera aku naikkan kecepatan kendaraanku. Aku yakin dengan kekuatan dan kecepatan lari motor ini. Aku yakin aku cukup waktu untuk sampai dan melewati lampu itu. Jalanan tidak cukup padat pagi ini. Beberapa pengendara lain telah aku dahului. Di bawah tiang lampu itu sekilas aku liat argo hitungan mundurnya. Di angka 1 menjelang nol. Dan aku berhasil melewatinya.

Aku suka menikmati setiap jenak perjalanan yang aku lakukan. Ada banyak pelajaran dan hikmah selalu aku temukan dalam rentang waktu ini. Ada pelajaran tentang kehati-hatian dan kecerobohan. Ada pelajaran tentang kesabaran dan ketergesaan. Dan pelajaran tentang kedisiplinan, keruwetan, toleransi, kebesaran hati, kearoganan, keegoisan pun lengkap tersaji di jalanan. Tadi aku mendapatkan satu pelajaran penting. Memaknai kesempatan.

Jumat, 14 Desember 2012

Tetaplah Bertahan Dalam Barisan


Saya ingin mencoba menelisik, kenapa kita ditarbiyah dengan cara dan materi yang sama, dalam rentang waktu yang misal sama juga, tapi bisa memunculkan cara pandang dan penyikapan yang cukup berbeda terhadap suatu masalah yang muncul dalam perjalanan dakwah ini. Ini analisis saya berdasar pengalaman dan pengamatan saya pribadi. Semoga bisa menambah cara pandang kita dalam menyikapi dinamika dakwah. Setidaknya ini akan selalu menjadi pengingat untuk diri saya sendiri.

Suatu saat di rentang tahun 2009-2010, halaqoh kami ada perdebatan cukup hangat antara satu a’dho dengan guru kami, Ust. Amir Faishol Fath. Masalah yang sama, terkait dengan ikhwah kita yang mendapat amanah di dewan maupun walikota. Saya dan beberapa teman lain waktu itu hanya sebatas sebagai pengamat dan mencoba untuk mengambil pelajaran dari diskusi hangat itu. Satu hal yang selalu beliau ulang-ulang waktu itu, “Akhi, hisab kita nanti adalah hisab pribadi. Tidak ada hisab atas nama partai atau golongan. Antum tidak perlu menghabiskan terlalu banyak energi antum untuk menyoroti ‘kelakuan’ atau gaya hidup ikhwah lain. Lakukan yang terbaik dan terbenar yang antum yakini untuk jama’ah ini, selesai.”

Rabu, 25 Juni 2008

Nasehat Itu Bernama Sakit

Ahad pagi kemaren, tiba-tiba saja kepala saya pusing. Pandangan berputar, bumi seperti dibolak-balik. Kemudian pusing itu hilang. Tapi beberapa saat kemudian kejadian itu berulang beberapa kali. Sampai saya sedikit berteriak dan menggapai-gapai istri saya untuk saya berpegangan padanya. "Mungkin
migrain seperti biasanya itu mas?" tanya istri. "Bukan, yang ini tidak seperti itu rasanya. Ini mungkin seperti vertigo" Saya jelaskan apa yang saya rasakan.

Pagi itu juga, sejatinya anak perempuan saya latihan pentas di sekolah, untuk acara tutup tahun kenaikan kelas sabtu depan. Karena saya kurang sehat, dan dia sendiri dari bangun tidur mengeluh sakit tenggorokan,
akhirnya istri menelepon ibu gurunya untuk mengijinkan tidak ikut latihan. Dan pagi itu juga kami ada janji dengan seorang dokter, untuk mengkhitan anak pertama kami. Akhirnya saya minta istri untuk ngerokin punggung dan leher saya, siapa tahu bisa sembuh.

Pukul 10.00 dokter tersebut datang. Begitu saya keluar menyambutnya, dalam pikiran saya mengatakan kalo saya sepertinya pernah bertemu dengan orang ini. Ternyata dia juga mempunya pikiran yang sama. Setelah berbincang di ruang tamu, "Sepertinya lebih dari sekali kita pernah bertemu pak. Tapi di acara apa ya?" katanya. Setelah ditelusuri, ternyata dia teman satu angkatan adik saya di pesantren daaru hira' dulu, sebuah pesantren mahasiswa di kota jogja. Ah, memang terlalu terbatas ingatan kita ini.

Beberapa saat kemudian dokter tadi telah selesai mengkhitan anak saya. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Istri, yang selama proses khitan itu sengaja mengungsikan kedua anak saya yang lain ke rumah tetangga, segera
saya telepon untuk pulang. Ternyata suhu badan anak perempuan saya tetap tinggi. Siang itu juga sepulang sholat dhuhur, segera saya mencari apotek sekitar rumah untuk membeli obat penurun panas, sekaligus membeli bakso untuk sekeluarga. Tiga apotek telah saya datangi dan tutup, akhirnya saya urungkan dulu usaha saya membeli obat penurun panas dan segera bergegas pulang.

Selepas santap bakso, saya minum sebutir obat untuk menghilangkan pusing kepala. Kemudian bergegas tidur. Tumben, kedua anak saya siang itu juga mau untuk tidur siang. Padahal biasanya susah sekali untuk tidur siang.
Sementara sang kakak yang habis dikhitan, masih belum bisa tidur karena kondisinya barangkali. Kami terbangun sudah selepas sholat ashar. Kepala saya masih sesekali serasa berputar. Badan anak perempuan saya masih tetap panas.

Sore itu setelah beres-beres, kami putuskan untuk periksa ke puskesmas terdekat. Kebetulan ada dokter jaganya meskipun libur. Dengan mengendarai motor, pukul 17.00 kami telah sampai di puskesmas. Dokter jaga dan kru di sana masih sibuk menangani berkas seorang pasien yang telah lebih dulu datang. Hampir setengah jam kami menunggu tidak disapa dan tidak dilayani, akhirnya saya berkata ke istri, "Sudah lah dek, nanti ke dokter umum yang praktek aja ya. Tidak usah menunggu di sini. Soalnya sebentar lagi sudah harus ke stasiun nih." Kami putuskan untuk urung periksa di puskesmas tersebut. Duh, kenapa juga pelayanan di lembaga pemerintah ini masih saja belum baik dan profesional, gumam kami.

Ya, petang itu juga sesampai di rumah, setelah menunaikan sholat maghrib dan mempersiapkan barang-barang untuk ke Jakarta, berboncengan dengan istri saya berangkat ke stasiun, untuk menuju medan amal berikutnya. Dalam perjalanan saya agak sedikit begumam dalam hati, kenapa tadi lupa beli minuman buat di perjalanan. Apalagi kondisi fisik agak drop seperti ini, biasanya sebotol pocari sweat cukup membantu.

Sebelumnya saya sempat bersms ria dengan Akh Heru. Ternyata dia naik kereta yang sama, bahkan di gerbong yang sama hanya berbeda nomor tempat duduk. Sesampai di dalam kereta, selepas bertemu dengan roker joglo (rombongan kereta jogja-solo), Akhuna Heru datang menghampiri dan memberikan sebotol pocari sweat, "Pak, ini buat antum." Ah, ternyata Allah sangat dekat sekali. Bahkan lintasan dalam hati pun segera dipenuhi-Nya. Alhamdulillah wa subhanallah.

Malam itu, saat beranjak tidur dengan gelaran tikar di sela tempat duduk kereta, sesekali kepala saya masih berputar. "Dek, mungkin darah rendahku kumat. Besok pagi kalo belum baikan, tak periksa ke dokter deh" begitu sms saya ke istri malam itu. Menghabiskan sebotol pocari sweat, akhirnya saya tertidur dengan doa harapan esok paginya bangun dengan kondisi yang lebih baik.

Ikhwati fiillah. Alhamdulillah wa syukurillah, senin kemaren sampai dengan hari ini, saya telah bisa beraktifitas seperti biasa. Tanpa diganggu oleh pusing yang pada hari ahad kemaren begitu mengganggu. Maka, mari kita
syukuri masa-masa sehat kita dengan senantiasa membuat amal kebaikan. Karena sungguh, hanya saat sakit datanglah kita biasanya baru bisa merasakan betapa mahalnya nikmat kesehatan, yang terkadang sering kita lupakan dan lupa kita syukuri keberadaanya.

Bagi yang kemaren juga sedang sakit. Akh Norman, Akh Gita, Akh Heru, dan juga Akh Saleh. Akh Pani beberapa saat yang lalu. Semoga sakit kita menjadi bagian bagi gugurnya dan diangkatnya sebagian dosa-dosa kita. Amien.

Barakallahu lakum. Ukhibbukum fiillah.