Kamis, 27 Juni 2013

Ajining Diri Gumantung Saka Lathi (Kehormatan Diri Tergantung Pada Lisan Kita)

Chirpstories

"Ajining Dhiri Gumantung Saka Lathi, Ajining Raga Gumantung Saka Busana." Edisi memetri ular-ular jawa, yang penuh dengan falsafah hidup.

Ajining Dhiri Gumantung Saka Lathi, menika nggadahi makna bilih sak sinteno kemawon badhe gadah raos wuh pekewuh, raos sungkan...
                 
... lan ngajeni dumateng kulo panjenengan sami menawi sedaya rembag lan wicanten kula panjenengan sami tansah sareh, ugi...

... menawi ngendikan dumateng rencang, sederek ingkang enem utawi ingkah sepuh tansah nglembah manah. #nasehat

Ajining Raga Gumantung Saka Busana, ukara meniko mengku karep bilih raga kula lan penjenengan sami meniko wadahipun rasa. #nasehat

Selasa, 18 Desember 2012

Sakinah Mawaddah Warrahmah




Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri,
 supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,
dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berpikir.
(QS Ar Ruum : 21)

SAKINAH

Bahwa ketika Allah menciptakan untuk kita pasangan hidup kita, maka yang pertama kali harus terwujud dalam rumah tangga kita adalah apa yang disebut dengan as-sakinah. Allah menyebut dalam ayat di atas: “Litaskunu ilaiha”, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Sakinah secara bahasa berarti tenang, bahagia, terhormat, bermartabat dan memperoleh pembelaan. Ketika seseorang laki-laki menyunting perempuan sebagai istrinya, maka faktor yang harus diukur pertama kali adalah litaskunu ilaiha nya ini muncul tidak.

Jumat, 14 Desember 2012

Tetaplah Bertahan Dalam Barisan


Saya ingin mencoba menelisik, kenapa kita ditarbiyah dengan cara dan materi yang sama, dalam rentang waktu yang misal sama juga, tapi bisa memunculkan cara pandang dan penyikapan yang cukup berbeda terhadap suatu masalah yang muncul dalam perjalanan dakwah ini. Ini analisis saya berdasar pengalaman dan pengamatan saya pribadi. Semoga bisa menambah cara pandang kita dalam menyikapi dinamika dakwah. Setidaknya ini akan selalu menjadi pengingat untuk diri saya sendiri.

Suatu saat di rentang tahun 2009-2010, halaqoh kami ada perdebatan cukup hangat antara satu a’dho dengan guru kami, Ust. Amir Faishol Fath. Masalah yang sama, terkait dengan ikhwah kita yang mendapat amanah di dewan maupun walikota. Saya dan beberapa teman lain waktu itu hanya sebatas sebagai pengamat dan mencoba untuk mengambil pelajaran dari diskusi hangat itu. Satu hal yang selalu beliau ulang-ulang waktu itu, “Akhi, hisab kita nanti adalah hisab pribadi. Tidak ada hisab atas nama partai atau golongan. Antum tidak perlu menghabiskan terlalu banyak energi antum untuk menyoroti ‘kelakuan’ atau gaya hidup ikhwah lain. Lakukan yang terbaik dan terbenar yang antum yakini untuk jama’ah ini, selesai.”

Rabu, 18 Juli 2012

Marhaban Yaa Ramadhan : Momentum Tepat Melejitkan Potensi Diri

“Barangsiapa yang bergembira atas datangnya Ramadhan, Allah telah mengharamkan jasadnya dari api neraka“. (HR. An-Nasa’i)

Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk membangun perasaan gembira dengan datangnya bulan ramadhan. Bahkan (‘hanya’ dengan) bergembiranya seorang muslim ketika menyambut bulan ramadhan, Allah hargai dengan mengharamkan jasadnya dari api neraka. Dalam hadits yang lainnya Rasulullah SAW telah berpesan : “Akan segera datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah SWT bersama kalian pada bulan itu, maka diturunkanlah rahmat, diampuni dosa-dosa dan dikabulkan do’a dan permintaan. Allah melihat kalian berlomba-lomba dalam kebaikan, lalu diikutkan bersama kalian malaikat-malaikat. Maka tunjukkanlah kepada Allah kebaikan diri kalian, sesungguhnya orang yang rugi adalah mereka yang tidak mendapatkan rahmat Allah”

Ibarat suatu turnamen, maka Ramadhan adalah pusat pelatihan untuk menghadapi pertandingan sesungguhnya. Satu bulan pelatihan di bulan ramadhan, ia menjadi bekal untuk menghadapi pergulatan kehidupan di 11 bulan berikutnya, begitu seterusnya di setiap tahunnya. Kedatangan bulan Ramadhan hendaknya membawa dampak bagi pribadi muslim. Kenapa bulan Ramadhan disebut dengan Syahrut Tarbiyah (bulan pembinaan dan pendidikan)? Karena pada bulan ini umat Islam dididik langsung oleh Allah SWT dan diajarkan oleh-Nya supaya bisa mengatur waktu dalam kehidupan secara baik; Kapan waktu makan, kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat dan kapan waktu beribadah.

Selasa, 08 November 2011

Menjaga Tradisi Kepahlawanan

Menjaga Tradisi Kepahlawanan


"Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.
dan Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian,
(Asy-Syuara : 83-84)


Keputusan telah dijatuhkan. Ibrahim harus dihukum dengan membakarnya hidup-hidup dalam api yang besar, sebesar dosa yang telah dilakukannya. Maka persiapan upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat terus dilakukan. Tanah lapang tempat pembakaran disediakan, kayu bakar dengan jumlah yang demikian banyaknya terus dikumpulkan. Tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bagian membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat, sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mereka yang telah dihancurkan oleh Ibrahim.

Setelah terkumpul kayu bakar di lapangan yang disediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksana sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan terbentuklah lautan api yang dahsyat. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Ibrahim didatangkan dan dilemparkanlah ia ke dalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu. Maka datanglah kebesaran dan kuasa Allah. "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." (QS. 21:69)

Kisah di atas hanyalah satu episode dari perjalanan panjang kehidupan Nabi Ibrahim yang mendapatkan sebutan sebagai Bapaknya Para Nabi ini. Kisah Nabi Ibrahim memang selalu sarat dengan pelajaran dan hikmah untuk digali setiap saat. Maka itulah salah satu rahasia mengapa Allah mengabadikannya nyaris secara detil episode-episode kehidupan Nabi Ibrahim di dalam Al Qur’an. Dan doa-doanya pun melegenda, melewati batas generasi dan zaman.

Momentum Sejarah

Muhammad al Fatih, sejak kecil ia telah mempelajari Al-Qur’an dan Al-Hadist Rasulullah SAW. Di antara hadist yang disampaikan secara berulang-ulang kepada beliau pada masa kecilnya adalah hadist yang berisi ramalan Rasulullah tentang penaklukan kota Konstantinopel sebagai berikut: “Konstatinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada dibawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad)

Di masa shahabat, pasukan muslim sudah sangat dekat dengan kota itu. Bahkan salah seorang shahabat yaitu Abu Ayyub Al-Anshari ra, yang menjadi anggota pasukannya dikuburkan di seberang pantainya. Tetapi tetap saja kota itu belum pernah jatuh ke tangan umat Islam sampai 800 tahun lamanya sejak era kenabian.

Abu Ayyub Al-Anshari berkata, "Aku mendengar baginda Rasulullah SAW bersabda bahwa ada seorang lelaki shalih akan dikuburkan di bawah tembok tersebut, Dan aku juga ingin mendengar derap tapak kaki kuda yang membawa sebaik-baik raja, yang mana dia akan memimpin sebaik-baik tentara seperti yang telah diisyaratkan oleh baginda".

Konstantinopel adalah sebuah kota yang sangat kuat dan hanya sosok yang kuat pula yang dapat menaklukkannya. Sepanjang sejarah, kota itu menjadi kota pusat peradaban barat dan tidak pernah ada satu pun lawan yang mampu menembus benteng pertahanannya. Benteng Bosporus terlalu tinggi temboknya, terlalu tebal dindingnya. Bahkan benteng itu dikelilingi oleh laut yang membuat musuh yang ingin menerobos selalu gagal.

Namun akhirnya benteng itu terbuka juga dan kota Konstantinopel menyerah. Pahlawan muslim yang ditakdirkan menjadi orang yang telah dikabarkan Rasulullah SAW itu adalah Sultan Muhammad Al-Fatih. Al-Fatih adalah gelar untuk beliau yang maknanya Sang Penakluk. Karena beliau adalah orang yang berhasil membebaskan jantung Eropa itu ke tangan Islam.

Memaksimalkan Peran

Nabiyullah Ibrahim dengan peran kenabiannya yang telah Allah abadikan dalam Al Qur’an, membuat sejarah mencatatnya sebagai peletak kembali pondasi ketauhidan. Muhammad al Fatih yang dengan peran kesultanannya berhasil menaklukkan kota Konstantinopel, telah mencatatkan namanya dalam jajaran para pahlawan Islam yang mengharumkan peradaban bumi ini.

Maka sesungguhnya, tabiat Islam adalah senantiasa mendorong, menumbuhkan dan memunculkan jiwa-jiwa pahlawan pada setiap insan yang secara kaffah mengamalkannya. Yang dituntut hanyalah totalitas kita dalam menjalankan peran-peran yang kita emban. Allah SWT berfirman :

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah : 105)

Dan dalam ayat yang lain Allah berfirman :

Katakanlah: "Hai kaumku, Bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, Sesungguhnya aku akan bekerja (pula), Maka kelak kamu akan mengetahui.” (QS Az-Zumar : 39)

Mengukir Prestasi, Mencatat Prasasti

Apa pun peran kita, yang ada adalah tuntutan totalitas. Pengerahan segala potensi, keterampilan, keahlian bahkan tabiat atau karakter yang kita punyai untuk mendukung peran-peran yang kita emban, InsyaAllah akan menghasilkan prestasi yang terbaik dalam kehidupan kita. Maka sebagaimana doa Nabi Ibrahim di atas, prestasi itu akan terprasastikan dan menjadi buah tutur yang baik bagi generasi berikutnya.

Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalanNya.” (QS Al isra’ : 84)

Maka dengan begitu, negeri ini akan kembali subur melahirkan jiwa-jiwa pahlawan seperti ketika dulu negeri ini melahirkan sosok-sosok besar seperti Imam Bonjol, Teuku Umar dan Pangeran Diponegoro yang menurut laporan sejarah dari orang Belanda sendiri, akibat perlawanan yang bersamaan yang mereka lakukan, 8000 serdadu Belanda tewas dan kehilangan 20 juta gulden habis oleh gerakan yang dipimpin oleh para ulama tersebut lewat satu komando.

Wallahu a’lam bish-shawab.
@Lt 19 Ged Utama, 16.15 WIB. bahan utk buletin