"Mbak,
kelingan ora dulu kita menggoreng jagung di dapur, sambil pakai payung?"
Tanyaku kepadamu saat engkau di Bulan Mei lalu kami paksa pulang ke
Klaten untuk dirawat. Pertanyaan itu untuk mengenang jaman 'heroik' dulu.
"Hehe.. iyo, bener Ri." Engkau tertawa saat mengenang itu.
Itu penggal kenangan peristiwa kami hampir empat puluhan tahun yang lalu. Saat itu hujan deras. Sebagai orang desa, yang kami punya jagung hasil petikan dari ladang, yang belum begitu kering. Kami goreng di dapur sambil memakai payung, karena genteng dapur kami banyak bocor di sana-sini.
Engkau kami paksa pulang ke Klaten, karena kami kawatir dengan kondisi psikis dan kesehatanmu. Di awal Februari sebelumnya, engkau ditinggalkan anak gadis pertama kesayanganmu. Aku pun tahu betul masa-masa perjuangan bagaimana engkau merawat dua anak pertamamu.



