Tampilkan postingan dengan label Curahan hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curahan hati. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Maret 2015

Menakar dan Mengukur Diri


Aku ingat, dulu sedari waktu kecil hingga beranjak dewasa, jika aku mendapati sebuah masalah, kesulitan, kesempitan atau sekedar ujian kecil berupa sandungan batu dalam langkahku, aku akan segera berhenti dan bergumam, "Kesalahan apakah gerangan yang telah aku lakukan hingga aku bertemu dengan kejadian ini?"

Aku ingat, aku selalu berusaha mencoba menafsirkan hal-hal kecil itu sembari mencoba memposisikan diri ini dalam persepsi terbaikku. Karena, aku pun meyakini bahwa tidak selalu apa yang telah kita anggap terbaik dalam langkah kita, akan mendapatkan respon yang terbaik juga dari berbagai karakter yang ada di sekitar kehidupan kita.

Maka membaca dan merenungi segala tanda yang menghampiri dan berserak di hadapan kita adalah sebuah keniscayaan untuk mengukur dan menakar diri kita. Apakah kita telah benar dalam memposisikan diri kita, ataukah kita justeru terlanjur memberikan angka yang berlebih untuk ukuran yang semestinya dan sewajarnya kita terima.

Senin, 02 Februari 2015

Ayahku

"Ass. Dik, wingi bapak arep tak prisakne ra gelem, tapi arep maghrib simbok ngulon jare gelem. Rencanane mengko arep tak priksakne disik." Kemarin kakak perempuan pertamaku mengabariku. Rencana untuk merayu bapak agar operasi ternyata belum berhasil. Cukup lama kami harus melobi beliau.

Ada benjolan, entah apa, di paha beliau yang menyebabkan beberapa syaraf ke kaki mungkin terjepit sehingga menyebabkan rasa sakit jika berjalan dalam jarak tertentu, atau saat mengangkat beban. Kami sudah menyarankan untuk banyak istirahat, namun tak pernah diindahkannya. Kata simbok, "bapakmu memang atos."

Tadi kakakku berkirim kabar lagi, "Dik, bapak njaluke suk minggu langsung operasi. Aku engko tak janjian karo paryanto disik."  Paryanto kalau tidak salah adalah dokter yang akan mengoperasi bapak nanti. Memang operasi minor, tapi mungkin karena orang tua dan pola pikir desa, menghadapi kata operasi yang terbayang adalah kengerian.

Rabu, 22 April 2009

Ujian Cinta…

Ujian Cinta…

Seiring dengan bertambahnya usia pernikahan, akan selalu ada permasalahan yang datang dalam tiap episodenya. Itulah ujian cinta. Di awal-awal pernikahan barangkali kita akan berkutat pada persoalan bagaimana memadukan selera dan kebiasaan yang sama sekali berbeda. Kemudian ketika buah hati mulai hadir, kita akan disibukkan dengan gaya mendidik dan mengasuh anak yang barangkali juga bertolak belakang. Akan terus seperti itu. Persoalan akan terus berkembang, sesuai dengan kadar hubungan yang kita hadapi.

Di luar itu, ada satu persoalan yang mungkin dia akan bisa muncul kapan saja. Tidak selalu di awal-awal usia pernikahan. Bahkan sangat mungkin ketika usia pernikahan sudah di atas dua digit sekalipun. Persoalan itu bernama cemburu. Saya katakan ini persoalan, karena memang dia butuh jawaban. Dikatakan ’wajar’, memang, tapi ia tetap butuh penyelesaian. Tidak akan berakhir ketika itu hanya didiamkan. Karena jika itu didiamkan, maka ia ibarat bom waktu. Anda harus siap dengan resikonya setelah itu.

Perasaan cemburu adalah anugerah cinta. Tidak ada cinta tanpa rasa cemburu ini. Jika seorang suami tidak mempunyai kecemburuan terhadap istrinya, maka cintanya dipertanyakan. Demikian pula sebaliknya. Karena cemburu ini berhubungan dengan kehormatan. Dia juga berhubungan dengan tanggung jawab cinta, yakni tanggung jawab untuk saling menjaga. Jadi ketika kita sedang ceburu itu bukanlah sikap yang salah. Bukankah Rasulullah telah memaklumatkan diri sebagai sosok yang paling pencemburu?

Ada hal yang harus kita sadari bahwa ketika seseorang dilanda cemburu, sering kali perasaan di atas segala-galanya. Tidak berlaku logika di sana. Tidak akan mempan argumen-argumen sekuat apapun yang engkau berikan untuk meredakannya. Alih-alih reda, mungkin justru omelan dan teriakan yang akan didapat. Yang dapat engkau lakukan adalah diam. Tunggulah saat yang tepat untuk menjelaskan semua itu. Yakinkan dirimu bahwa itu merupakan bentuk ekspresi cintanya untukmu. Engkau begitu dicintanya, tidakkah ini membuat engkau tersanjung? Ini ketika kita di pihak yang dicemburui.

Lain lagi tentunya ketika kita di pihak yang cemburu, meski ini ekspresi cinta yang wajar, sebisa mungkin kita menempatkan kecemburuan ini pada porsinya. Jika kita masih meyakini cintanya, tentu tidak bijaksana ketika dengan dalih cemburu, kemudian segala gerak-gerik pasangan selalu kita monitor. Bahkan dalam beberapa kasus justru hal ini makin memperuncing hubungan keduanya. Bukan titik temu yang mereka dapatkan, tetapi akhirnya justru persoalan terus berkembang dan ahirnya terjadi budaya saling mencurigai.

Tentu tidak enak hidup dengan saling mencurigai, saling tidak mempercayai. Sekuat apapun komitmen yang dibangun di awal pernikahan, manakala sudah tidak ada iklim saling mempercayai maka tentu perjalanan bahtera keluarga ke depan semakin tidak nyaman. Bahkan terancam goyah.

Bantu aku menjaga hati...

Satu hal yang semestinya kita lakukan ketika kita mencemburui pasangan kita adalah bantulah dia untuk menjaga hatinya. Sikapmu yang berlebihan justru terkadang akan membuatnya semakin kalut. Jangan engkau diamkan dia. Jangan engkau luapkan kemarahanmu berlebihan. Barangkali awalnya dia tidak berlaku seperti yang engkau persepsikan, tapi manakala persepsimu begitu kuat dan didukung dengan ekspresi dan tindakanmu yang berlebih, mulai tumbuh pikiran-pikiran dalam benaknya, menyesuaikan dengan persepsi yang telah engkau bangun.

Sentuhlah jemarinya. Genggamlah tangannya. Perhatian dan kepercayaanmu kepadanya akan mengalihkan perhatiannya dari sosok yang engkau kawatirkan selama ini. Senyum ikhlasmu akan memulihkan hatinya. Bahkan, jika perlu semestinya engkau berikan perhatian untuknya dalam kadar yang lebih dari kadar yang telah engkau berikan selama ini. Dan kunci penyelesaian persoalan ini adalah komunikasi. Ya, komunikasi yang sehat. Bicarakan empat mata, hati boleh panas tapi kepala harus tetap dingin.

Memang persoalan ini kadang kasuistik. Mungkin tidak berlaku pada tiap orang, tapi ini sangat mungkin terjadi.

Kepercayaanmu membuatku nyaman, namun kecurigaanmu justru mendorongku untuk berpikiran lebih...

Menyadari bahwa hati kita tidak seteguh hati para nabi, maka saling menjaga hati kita dengan pasangan kita adalah hal yang mutlak harus kita lakukan. Menumbuhkan sikap saling memahami dan saling mempercayai yang dibangun dalam suasana komunikatif, akan membantu kita melewati episode ujian cinta yang satu ini.

Sekali lagi tidak semua orang akan melewati ujian yang sama. Ujian akan selalu muncul pada titik terlemah diri kita. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi tiap ujian itu sebagai bagian dari karunia Allah untuk mengangkat derajat kita. Dengan membangun sikap ini, maka kita tidak akan pernah meremehkan datangnya ujian itu. Karena ujian itu kadang berupa sesuatu yang Mengenakkan dan melenakan. Semoga kita menjadi pribadi yang semakin baik dan semakin baik, dengan bertambahnya waktu.

Selasa, 13 Januari 2009

Sebuah Jejak Awal

Uhhh... berat juga mengawali untuk menulis kembali di awal tahun ini. Tiba-tiba semua menjadi seperti hilang dari kepala. Blank! Walau sejatinya banyak hal yang ingin aku tuangkan, namun tetap saja berat jari-jari ini untuk segera beranjak ke huruf-huruf di keyboard komputerku.

Biarlah ini menjadi jejak awalku. Tidak mengapa. Meski tidak ada cerita apapun. Setidaknya ini untuk mengingatkanku kembali untuk menulis.

Tetap semangat kawan !

Senin, 15 Desember 2008

Keluarlah dari Rutinitas, Sejenak Saja

Kadang kita hanya perlu keluar sejenak dari rutinitas kita. Meski hanya sesaat. Sesaat saja. Agar bunga-bunga yang lama tersemai di hati kita kembali merona. Istrimu, anakmu, adalah bagian kepingan terindah dalam hatimu. Mereka semua menuntut kehadiran hatimu seutuhnya untuk mereka, meski kamu kadang hanya bisa memberinya sesaat.

Jenak-jenak langkah yang terus tertapak, seringkali membuat hati menjadi jenuh. Kebal rasa. Semua menjadi seakan biasa. Semua menjadi seakan hambar. Tidak ada yang istimewa lagi. Jika demikian, maka segera berhentilah sejenak. Engkau perlu menepi sejenak. Untuk sesaat kembali mengeja langkah-langkah yang telah terlewati. Nafas kita perlu diperbaharui, agar langkah kita kembali segar.

Apakah cukup menepi sejenak? Tidak. Sekali lagi perbaharui nafasmu. Nafas hidupmu. Nafas cintamu. Seperti siang yang ketika beranjak sore menampilkan panorama merah saganya. Selepas mentari ke peraduannya di malam hari maka keluarlah parade bermilyar bintang dengan dikomandoi sang bulan. Hingga kembali semburat merah mewarnai hadirnya sang siang di pagi hari itu. Terus begitu. Berselang-seling. Karena hidup ini adalah perputaran.

Meluangkan sekedar berjalan-jalan bersama di pagi hari yang indah, menikmati sejuknya panorama pedesaan, atau hanya sekedar berkumpul bersama di ruang keluarga sambil menikmati teh bersama, akan membuat nafas hidupmu menjadi segar kembali. Dulu saya suka jika tiap akhir pekan mengajak ketiga anak saya berjalan-jalan menyelusuri desa-desa. Kami menyebutnya : petualangan. Jika melewati jalan kecil dan penuh belukar, atau di samping sebuah sungai yang panjang, atau sekedar melewati sebuah jembatan yang tinggi, membuat kami semua bersorak gembira.

Keluargamu adalah permata hatimu. Sudah semestinya tempat teristimewa di hatimu engkau berikan kepada mereka. Saling mengisi, saling memberi, saling memahami, saling menghargai, saling menerima, semestinya menjadi bagian dari semangat yang tersemai di sana. Tapi ingatlah, jangan menunggu engkau diberi, jangan menuntut engkau dipahami lebih dulu. Berusahalah untuk menjadi pihak pertama yang memberi, memahami, dan menghargai. Maka akan kita dapatkan lebih.

Menjadi pahlawan bagi keluarga mungkin terlalu heroik bagi saya. Cukup merasakan bahwa mereka membutuhkan dan mereka merasakan keberartian, sudah merupakan anugerah yang terindah. Masih banyak celah yang harus saya benahi. Masih banyak tanya yang harus saya jawab agar saya menjadi berarti bagi mereka. Apapun, mereka adalah tanggung jawab dan amanah yang harus dijaga. Engkau adalah nakhoda bagi mereka, maka selamatkan bahteramu meski engkau harus mengorbankan jiwamu. Begitu nasehat itu berputar di kepala saya.

Begitulah kelaziman cinta itu berbicara. Karena ia pun ada nafas.

Jumat, 10 Oktober 2008

Buku harian Mas Bejo : Kisah Si Rubah

Ini kiriman dari sahabat yang lain. Ya, sekedar wacana. Atau mungkin lebih tepatnya sharing yang semoga bisa saling meringankan. Walau solosi mungkin masih jauh panggang dari api.

Buku harian Mas Bejo : Kisah Si Rubah

(Menabunglah dari uang TC dan Gaji karena sewaktu-waktu mutasi bisa keluar dan harus datang pelantikan)

Sampai saat ini Mas Bejo masih terngiang-ngiang sebuah cerita tentang rubah dan kebun anggur. Cerita itu ada di buku paket bahasa inggris SMP tahun 1980 an.
Suatu hari ada seekor rubah yang kurus dan kelaparan sampai di sebuah perkebunan anggur yang sudah berbuah dan matang-matang. Melihat hal tersebut air liur rubah langsung keluar dan harapan hidupnya kembali tumbuh, kini dia bersemangat untuk menikmati buah anggur yang sudah matang tersebut. Namun sayang kebun anggur tersebut telah dikelilingi pagar yang rapat sehingga si rubah tidak bisa masuk. Si rubah dengan penuh semangat mengelilingi pagar kebun tersebut sambil mencari siapa tahu ada lobang/celah sehingga dia bisa masuk ke kebun anggur. Entah sudah berapa lama dia mengelilingi pagar dan semakin lama semakin lemah bahkan dia hampir perputus asa untuk tidak melanjutkan pencarian. Di saat hampir perputus asa si rubah melihat lobang kecil di ujung pagar.

Semangatnya kembali bangkit dan dengan susah payah si rubah memasuki lobang kecil tersebut. Karena si rubah badannya sangat kurus akhirnya berhasillah dia memasuki kebun. Horeeeee teriak si rubah. Dengan lahapnya si rubah makan anggur. Setelah kekenyangan si rubah tidur. Begitulah kebiasaan si rubah saat ini. Hari-harinya diisi dengan makan enak dan tidur. Tanpa disadari tubuh si rubah telah berubah menjadi bersih dan gemuk. Si rubah sekarang tidak lincah lagi karena jarang berolah raga (OR-nya ya versi rubah) dan kerjanya makan dan tidur. Bobotnya sudah naik 2 kali lipat. Si rubah menyadiri perubahan yang ada pada dirinya, kini dia merindukan keluarganya dan merindukan komunitasnya.

Kini si rubah sedang mencari lobang dimana dulu dia masuk. Setelah dicari kesana dan kemari akhirnya ditemukanlah lobang tersebut. Si rubah berusaha sekuat tenaga untuk keluar melalui lobang tersebut. Tubuhnya yang gemuk kini sudah tidak muat lagi. Akhirnya ……. terserah si rubah. Kalau dia akan keluar maka dia harus puasa lagi agar tubuhnya kembali kurus seperti semula ketika dia dating, tapi kalau tidak keluar dia merindukan keluarganya, komunitasnya. Belum lagi resiko menghadapi pemilik kebun.

Ingat kisah ini Mas Bejo jadi teringat nasibnya, ingat tentang modern, ingat tentang gaji dan tunjangannya yang sudah setingkat manager, tapi juga ingat mutasi yang bisa datang sewaktu-waktu tanpa permisi lebih dulu ditambah ketidak jelasan kemana Mas Bejo dimutasi. Belum lagi efek samping dari mutasi: Mas Bejo harus datang untuk pelantikan dengan membayar transport dari uang pribadi. Mas Bejo harus cari penginapan sementara dengan biaya pribadi juga. Setelah itu Mas Bejo harus berfikir apakah nyari (dan menganggarkan dana) kontrakan rumah atau kos-kosan, anggaran rutin bolak-balik (jika masih bisa dijangkau bisa seminggu sekali, bisa dua minggu sekali, bisa sebulan sekali, bisa tiga bulan sekali bahkan bisa enam bulan sekali), anggaran makan (catering di kantor, warteg dll) dan iuran kantor untuk dirinya sendiri, anggaran sekolah anak-anaknya, anggaran belanja istri dan anak-anaknya, anggaran rutin lainnya.

Nyambung ke kisah di atas, Mas Bejo ibaratnya rubah yang telah gemuk (gaji dan tc sudah tinggi) tapi dia harus mempersiapkan untuk menjadi kurus. Sebab dia harus menabung bukan untuk investasi tapi menabung (sebenarnya tidak tepat istilah menabung, yang tepat mungkin harus mengurangi jatah) untuk jaga-jaga jika sewaktu-waktu ada mutasi lagi, itupun jika saat ini masih ada yang tersisa…..

Suatu kali Mas Bejo mutasi, tetangganya mengucapkan selamat. Mas Bejo hanya mengucapkan terima kasih dengan senyum yang dipaksakan (karena hatinya sedang merasakan kegetiran). Tetangganya pasti berfikir kalau seseorang dimutasi pasti rumah dinas sudah ada, uang transport sudah disiapkan, gaji dan tunjangan naik dan fasilitas lainnya tersedia dan semuanya itu sudah ada yang mengurus. Sebenarnya Mas Bejo mau menjelaskan ke tetangga tersebut bahwa kalau di mutasi kita pakai uang sendiri dulu, nanti sebulan atau dua bulan berikutnya baru dapat uang jalan dan ongkos nginap 3 hari. Itupun harus selalu ada yang “mantau” di keuangan. Gara-gara mikir ini Mas Bejo jadi kreatif sambil iseng, katanya istilah MUTASI tidak tepat, yang tepat adalah AMPUTASI.

Kalau ingat ini Mas Bejo pinginnya ya ditempatkan di daerah di mana dia sudah ada rumah meskipun sederhana, kumpul bersama istri dan anak-anak. Rasa iri Mas Bejo kadang timbul juga (Mas Bejo juga manusia) ketika melihat ibu-bu yang karirnya bagus dan hanya ditempatkan mutar-mutar di satu kota saja. Orang-orang seperti ini kalau lagi ngisi sosialisasi atau penataran atau apalah namanya ngomongnya “renyah” sekali, enak didengar, lantang bak pahlawan. Gimana ngggak “renyah” keluarga ngumpul, gaji tinggi dan fasilitas ada dan nggak pernah merasakan mutasi (adanya promosi).

Mas Bejo jadi meragukan iktikad baik aktifis pembela kesetaraan gender. Mestinya mereka konsekuen juga, mutasi perempuan yaa harus sama dengan yang mutasi laki-laki, bukankah kalau laki-laki di mutasi dia akan meninggalkan perempuan???? Atau setidak-tidaknya ada saluran aspirasi untuk pegawai untuk mengajukan permohonan ke mana saja tempat yang diinginkan mutasi. 18-09-08


Mutasi oh mutasi ……
(Episode: Ternyata pisah keluarga itu nggak enak)

Sapa Laskar Angin kepada Laskar Senja

Ini adalah tulisan salah satu rekan kami, entah siapa. Menamakan diri sebagai laskar angin. Dikirimkan kepada para sahabatnya yang menamakan diri laskar senja.

Assalamu' alaikum

Rekan-rekan Laskar Pelangi dan rekan-rekan senasib....

Beberapa minggu yang lalu saya menerima email dari rekan-rekan yang menyebut dirinya sebagai Laskar Pelangi, Laskar Senja atau PJKA (Pulang Jumat kembali Ahad). Dalam emailnya, para laskar ini menyampaikan rintihan hati (kalo ndak mau disebut keluh kesah). Rekan-rekan ini pun menyebut dirinya sebagai korban modernisasi Direktorat Jenderal Pajak (mungkin sangking kesalnya atau saking beratnya mereka menjalani roda kehidupan mereka setelah mereka dimutasi sebagai AR di Jakarta , padahal tempat tinggal di Jogya). Mereka pun tiap Jum'at (di senja hari) hari berangkat menemui istri dan anak-anak mereka (yang masih kecil) untuk kembali mendapatkan butiran semangat untuk kembali bekerja di seminggu kedepan, bahkan semangat untuk tetap bergabung dengan DJP, karena ada diantara mereka yang sempat berpikir untuk keluar dari DJP. Hari ahad (di senja pula) mereka pun kembali ke tempat kerja. Oleh karena itu pula mungkin mereka menyebut dirinya sebagai laskar senja. Tapi apakah setelah menemui anak dan istri mereka lantas mereka menemukan semangat untuk bekerja? Setahu saya setelah pulang, berat hati ini untuk melangkahkan kaki ini untuk kembali ke tempat kerja. Bahkan kian lama kita jalani rutinitas pulang pergi itu, kian lama kita rasakan kian bertambah capek ya capek fisik dan capek pikiran kita).

Rekan-rekan , saya pun mengalami hal serupa. Kalo rekan-rekan-rekan laskar pelangi bisa pulang tiap minggu, kami kadang harus satu bulan baru pulang (ada temen saya yang lebih dari satu bulan). Oleh karena dari segi jarak kami lebih jauh dan dari segi biaya lebih banyak. Perjalananpun tidak bisa kami tempuh melalui darat dan harus perjalanan udara. Mungkin kalo rekan-rekan menyebut sebagai laskar pelangi, ijinkan kami menyebut kami sebagai laskar angin atau laskar awan (asal jangan disebut laskar topan atau badai ) karena itu merusak. Karena kami tidak ingin merusak semangat DJP yang ingin modern, bahkan saya sangat bersyukur akhirnya DJP bisa memasuki era ini. Hanya kami inginkan bahwa perubahan juga diterapkan pada sistem mutasi kita. Harapan kami agar semua juga merasakan kepedihan yang kita alami. Dengan gaji yang sama, sangat tidak adil apabila kita yang jauh harus berada dikejauhan dan bahkan semakin jauh semakin tidak dilihat. Kita ini juga manusia yang juga punya keinginan hidup layaknya mereka sekarang yang tempat kerjanya dekat dengan rumah. Dengan gaji modern seperti sekarang mereka bisa mengurus pendidikan anak dengan baik, bahkan mereka kemudian bisa men-cicil (bukan mecicil dlm bhs jawa) rumah bagi yang belum punya rumah, merenovasi rumah yang telah mereka beli sekarang, atau bahkan dari fordis yang ada di intranet kita, banyak diantara mereka yang telah memikirkan investasi. Kami pun juga punya planing seperti itu, tapi kenyataannya tidak bisa. Bisa saving sedikit saja untuk sekedar berjaga-jaga apabila keluarga kami sewaktu-waktu sakit, harus kami lakukan dengan rit-ngirit. Untuk ini harus betul-betul kami lakukan. Karena saya tidak ingin belas kasihan apalagi hanya komentar "kasihan" dari temen2 kita bila mendengar kesulitan kita.

Rekan-rekan Laskar Pelangi, sebenarnya sejak kami dimutasi ke luar jawa , waktu itupun kami ingin mengungkapkan segala macam unek2 kami dan berbagai kesulitan kami seperti rekan-rekan. Tapi kami selalu menahannya karena kami pikir kalo saya mengunkapkan kondisi kita, paling yang kita terima hanya komentar "kasihan" atau kalo masih punya nurani mereka hanya bilang "sabar'. Hari pun kami lalui dengan suatu harapan akan ada perbaikan dalam sistem mutasi kita. Untuk membesarkan harapan kami maka kami pun berpikiran positif. Ya mungkin ini suatu penghargaan bagi kita yang lulus test modern , sehingga harus merasakan modernisasi duluan. Karena saya yakin kami yang ikut test betul-betul punya niat untuk modern. Banyak diantara temen-temen pada waktu itu tidak mau ikut test. Ndak usaha ditutup-tutupi lagi, pertimbangan utama mereka adalah apakah gaji setelah modern nanti melebihi dari pendapatan mereka sekarang (terutama mereka yang menguasai seksi teknis). Jelas mereka tidak ingin modern sama sekali, dan kalo sekarang mereka modern, bisakah mereka memegang kode etik? No comment. Saya sering bicara dengan mereka ini. Saya tanya kepada mereka apabila sudah modern, apakah sampean masih masih menerima juga uang dari wajib pajak. Jawabnya; yang penting saya kan ndak minta. Tapi kenyataanya mereka pun akhirnya merasakan modernisasi dalam hal gaji, dengan tempat kerja ya di situ-situ saja (dekat rumah atau bahkan tetap di KPP asal). Inikah Modernisasi yang dibanggakan Direktorat Jenderal Pajak?.

Sekali lagi, unek2 ini sudah lama kami pendam, ya, lama sekali, saat saya di awal Maret 2007 saya di mutasi di luar jawa (bukan promosi tapi di mutasi jadi AR di luar jawa). Kita pun yang dipindah di luar jawa, meski dengan berat kami terima. Ya mungkin setelah modern ini mutasi AR harus nasional. Ok kami terima. Tapi kemudian modernisasi di DJP terus bergulir dengan modernisasi di KPP Pratama di Jawa diikuti dengan penempatan para AR-nya yang notabene tidak ikut test (atau tidak mau modern) dengan tempat di situ-situ aja , bahkan tidak pindah kantor sama sekali.. Inilah biang yang membuat kami merasa kecewa dengan modernisasi di DJP. Setelah itu penempatan para fungsional yang juga 98% disitu-situ juga. Apakah sistem mutasi yang dipakai bagian kepegawai DJP masih seperti sebelum modern? Ndak ada pola yang jelas, sistem up line atau down line (emang DJP perusahaan multi level). Saya ndak berpikir buruk tapi jangan biarkankan orang berpikir begitu dengan membuat sistem yang tidak jelas.

Saya tidak mau asal ngritik, tapi ndak ada penyelesaian. Agar modernisasi bisa dirasakan adil bagi semua pegawai, maka sistem mutasi harus jelas. Bikin pola yang baku. Jadi siapapun yang ada di kepegawaian kalo tidak melaksanakan aturan itu harus dikenakan sanksi, dan bagi pegawai yang seharusnya kena mutasi tapi tidak dimutasi segera dimutasi, pegawai yang yang seharusnya tidak kena mutasi dan kemudian dimutasi harus dikembalikan. Bagi pegawi yang seharusnya mutasi dan dimutasi namun tidak sesuai dengan pola, harus dikembalikan. Lalu polanyanya gimana? Terserah yang penting baku. Agar aturan lebih mengikat seharusnya aturan tsb minimal dalam bentuk Per Men Keu. Bisa saja dibuat per jabatan, pelaksana, AR, eselon IV eselon III atau eselon II. Misal untuk pelaksana hanya regional ya ndak apa2 tapi tetap ada polanya. Kalo regional tsb dalam arti satu kanwil maka mutasi harus meliputi kota2 di wilayah kanwl ybs. Untuk kanwil2 yang ada di DKI bisa saja regional tsb ditentukan tersendiri meliputi DKI , Propinsi Banten, dan Jawa Barat. Jangka waktu maksimal menduduki suatu posisi/kota juga harus ditentukan, misal maksimal 2 th. Jadi ndak ada lagi orang sampe tua disitu-situ aja. Apalagi sekarang gajinya gede.

Untuk AR bisa aturan itu dibuat menyesuaikan, kalo harus nasional, maka bisa saja ditentukan 2 tahun diluar pulau , 2 tahun di daerah domisili. Begitu juga untuk eselon IV. Untuk promosi bisa dibuat aturan tersendiri. Untuk eselon III dan II juga bisa dibuat aturan tersendiri. Yang penting harus ada aturan jelas dan aturan harus ditaati kalo tidak yang yang membuat mutasi dikenakan sanksi dan yang dimutasi harus dikemblikan sesuai aturannya. Jadi ndak ada lagi pegawai dengan tempat kerja jauh dari domisili (di luar pulau) lebih dari 3 th. Otomatis begitu 2 th kembali ke domisili dan begitu seterusnya. Ndak ada lagi pegawai yang mengajukan surat permohonan pindah tempat kerja di daerah domisili (yang menurut orang kepegwaian sendiri surat macam gini sekarang numpuk)

Pola aturan mutasi yang jelas tsb diatas diperlukan agar :
1. Mutasi lebih adil. Sehubungan dengan setelah modern (asumsi) gaji dimana mana sama.
2. Menghindari dari KKN. Mutasi tidak lagi memperhitungkan faktor kenal-mengenal ( up line dan down line) tidak ada patokan harga lagi (pokoknya faktor KKN juga dapat dihindari)
3. Bagi pegawai yang ada dikepegawaian juga bisa terhindar dari fitnah yang bisa menyebabkan dosa. Ingat jabatan adalah amanah termasuk sampean2 yang ada dikepegawaian. Tatkala sampean harus me-mutasi orang lain dengan dasar yang tidak obyektif (tidak menurut aturan ) sampean sudah berbuat dzolim bagi pegawai yang sampean mutasi, Bukan itu saja sampean juga sudah berbuta dzolim kepada anak dan isteri pegawai yang sampean mutasi.

Rekan-rekan laskar pelangi, untuk point yang ke-3 tsb, pada awalnya kami tidak merasa didzolimi, tapi kemudian melihat pola mutasi setelah kita (KPP Pratama) yang demikian itu, maka kamipun punya rasa seperti itu, tapi kami kita harus tetap menerima bahwa semua ini tetap atas kehendak Alloh. Namun sesuai Al Qur'an Surat Asy Syura Ayat 39-43 disebutkan bahwa :

- ayat 39 artinya : Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan dzalim mereka membela diri
- ayat 40 artinya : Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Alloh Sesuangguhnya Dia tidak menyukai orang2 yang dzalim
- ayat 41 artinya : Dan sesungguhnya orang2 yang membela diri sesudah teraniaya tidak ada satu dosapun atas mereka.
- ayat 42 artinya : Sesungguhnya dosa itu atas orang2 yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.
- ayat 43 artinya : Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal2 yang diutamakan.

Dari ayat tsb kita seharusnya tidak bisa tinggal diam melihat sistem mutasi yang sudah banyak mendzolimi orang lain. Tapi kita pun juga harus memaafkan mereka agar mereka tehindar dari azab yang pedih. Masalahnya apa yang perlu dimaafkan, wong mereka tidak merasa bersalah.

Senin, 08 September 2008

Mengusahakan Takdir Terbaik

Mengusahakan Takdir Terbaik

Sesungguhnya Allah menguji kita pada titik terlemah diri kita. Saya selalu mencoba mendalami kalimat ini. Bukan untuk mencari pembuktian bahwa Allah telah menguji saya pada titik terlemah diri saya. Tapi lebih kepada pencarian dimana titik terlemah diri saya itu, sehingga saya bisa selalu bersiap untuk datangnya ujian-ujian Allah.

Beberapa minggu yang lalu saya dan sahabat-sahabat baik saya saling bercerita dalam sebuah forum. Tepatnya di suatu sore selepas jam kantor, sambil menunggu berhentinya guyuran hujan dari langit yang merupakan pertanda rahmat Allah sedang tercurah sore itu, hingga waktu sholat maghrib menjelang. Semua mengalir dengan begitu saja. Seakan kejadian setahun sebelumnya kembali terpampang di hadapan kami.

Yang pasti, saya dan sahabat-sahabat saya tidak sedang berkeluh kesah. Cerita itu apa adanya. Cerita itu hanya bagian episode yang kebetulan ingin kami tampilkan di awal episode cerita-cerita kami. Saya malam harinya menyelesaikan cerita-cerita mereka, merangkumnya menjadi sebuah alur cerita yang saling terkait. Inilah salah satu saksi bisu kenangan kebersamaan kami.

Cerita itu apa adanya. Semua berawal dari keprihatinan kami. Apa pun, kami juga hanyalah bagian dari manusia yang juga tak pernah lepas dari sisi-sisi kemanusian kami. Ada idealita yang dulu terbayang indah. Tapi realita kemudian membuat sebagian asa kami terhimpit. Asa itu tetap ada, tidak hilang, hanya ia terhimpit oleh paradoks-paradoks yang begitu tampak nyata di hadapan kami.

Kami tidak lagi bisa bersuara. Hanya sudut-sudut hati kami yang saling berbicara. Dan semua itu bertemu pada satu frase kata. Frase kata yang mewakili satu bagian hidup yang terasa berangsur hilang dalam hati kami. Yah, frase itu bernama 'kehangatan keluarga'. Semenjak kami terjauhkan dari keluarga, suasana itu begitu makin terasa asing.

Kami selalu mencoba untuk selalu berarti bagi sekitar kami, karena dakwah nabi kami mengajarkan kami bahwa yang terbaik di antara manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain. Khairukum anfa'uhum linnaas. Dalam sudut-sudut sepi kami di sini pun, kami selalu diajari untuk memikirkan orang lain. Ya, pikiran kami tidak saja terfokus kepada pekerjaan kami dan keluarga kami, tapi juga kepada sesuatu yang lebih luas dan besar dari pada itu. Sehingga terlalu naif jika kami harus berkeluh kesah apalagi menangis di tengah hal-hal seperti itu.

Cerita itu apa adanya. Sekali lagi bukan keluh kesah. Karena saluran untuk menyampaikan aspirasi itu terasa buntu. Kami berpandangan bahwa harus ada yang mengambil cara yang pahit sekalipun, jika memang itu bisa membuat sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Jika pampangan-pampangan kebijakan para pimpinan telah jelas dan terarah, transparan dan konsisten, maka kami pun yakin di tataran bawah ini akan rela untuk melakukan yang terbaik bagi institusi ini.

Ya, titik itu bernama keluarga. Saya merasa bahwa di titik inilah salah satu titik terlemah diri saya, dari titik-titik lemah yang lain. Entah bagi sahabat-sahabat terbaik saya. Tetapi setidaknya, kami bisa saling beresonansi dalam tulisan-tulisan kami tersebut. Karena dalam keyakinan kami, visi kami dalam berkeluarga adalah sebagaimana termaktub dalam salah satu ayat qur'an. Quu anfusakum wa ahlikum naara. Yaitu menjaga diri kami dan keluarga kami dari api neraka. Sehingga, bagaimana kami bisa optimal melakukan tugas itu, jika keberadaan kami saling berjauhan?

Kami yakin, Dzat yang Maha Tahu tentu telah punya skenario untuk itu semua. Tetapi mengusahakan takdir yang terbaik buat diri dan keluarga adalah diperintahkan. Dibalik rasa syukur dan sabar kami, kami mencoba untuk membuat sebuah ikhtiar meraih takdir terbaik untuk kami dan keluarga kami terebut. Semoga Allah yang Maha Mendengar, merahmati dan meridhoi usaha kami. Dan kami akan selalu ikhlas menerima segala ketentuan-Nya.

Ishbir ya akhi... Wa Allahu ma'akum ainama kuntum...

Kamis, 21 Agustus 2008

Ada Sekeping Rindu

Ada sekeping rindu
Terselip di lubuk hati terdalamku
Hanya untukmu
Jika engkau sadari itu

Ada sebongkah resah
Yang terus mendera
dalam langkah-langkah ini
Wahai bidadariku

Jika engkau berkenan
Maka dengarkan detak rindu itu
Terus mengalun
Dalam sudut-sudut sepi
Di segala relung jiwa ini

Hanya kepadamu
Satu...

Jumat, 13 Juni 2008

Modern itu…

Sungguh, tadinya saya hanya terinspirasi ketika membaca Puisi yang dibacakan oleh Dedy Mizwar di telivisi. Ada semangat dan optimisme yang luar biasa di sana. Dan semua itu adalah bagian dari upaya untuk kembali membangkitkan negeri ini dari keterpurukan.

Tiba-tiba saja jari ini sudah mengetikkan kata-kata di bawah ini, sebagai bagian dari ekspresi diri untuk mengungkapkan bagian dari sisi lain para penglajo sejati.
Bukan untuk mencibir, tapi sekedar melepaskan perasaan yang barangkali, juga dirasakan teman-teman penglajo yang lain.


Modern itu…

Modern itu Susah …
Susah karena harus jauh dari keluarga
Tiap pekan naik senja utama

Modern itu Takut …
Takut kalau tidak dapat tiket kereta
Sehingga tidak bisa pulang kampung

Modern itu Malu …
Malu karena banyak hutang
Yang tidak segera lunas karena habis di ongkos

Modern itu Marah …
Marah jika kereta terlambat
Sehingga harus dipotong absen

Modern itu Mencuri …
Mencuri-curi waktu sedikit
Untuk sekali-kali bisa pulang cepat

Modern itu tidak ada …
Tidak ada kata menyerah
Tidak ada kata putus asa
Pulang terus tiap pekan

Modern itu aku…
Aku capek dan lelah….







Hueheheheehe..
Just Kidding
Dari pada bengong getooo...